Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab04

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 4



Esok harinya, sekali lagi kami ogah-ogahan menunggu di depan stasiun. Kali ini, tapinya, alih-alih tiga anggota Brigade SOS, kudapati diriku berdiri bersama wajah-wajah baru. Apa yang disebut "tokoh antek" oleh Haruhi.

"Hei, Kyon, ini beda nih sama yang loe bilang,"

Protes Taniguchi dan berujar,

"Mana si cantik Asahina-san? Kita cuman datang lantaran elo bilang dia bakalan ngejemput kita! Tapi gue ga liat dia dimana-mana."

Pastinya, sudah lewat dari waktu janjian dan Asahina-san belum datang. Dia mungkin sembunyi di rumahnya ingin mangkir datang hari ini, setelah melalui begitu banyak selama dua hari ini.

"Gue cuman datang biar gue bisa muasin hasrat visual gue, tapi apaan nih? Sejauh ini yang udah gue liat cuman si Suzumiya marah-marah. Tipu ini!"

Berhenti ngomel ah! Kenapa loe ga ngecengin Nagato aja?

"Bener juga, kostum Nagato cocok banget sama dia ya."

Ini Kunikida bicara santai, karena dia terpilih sebagai antek nomor dua setelah Taniguchi. Haruhi kemarin malam meneleponku selagi aku sedang mandi. Mengambil pesawat telepon yang adikku serahkan, kucuci rambutku sambil kudengar omongannya lewat telepon,

"Si idiot Taniguchi itu dan cowo satunya lagi......aku ga inget namanya... Apalah itu, mereka teman kamu. Bawa mereka berdua besok. Aku ingin pake mereka jadi antek."

Setelah bilang begitu, dia langsung menutup teleponnya. Elo seharusnya paling engga bilang "Hai!" gitu. Pas minta tolong elo seharusnya minta dengan sopan gitu, bukan main perintah aja! Kayak gimana Asahina-san minta tolong gitu.

Aku tak tahu apa rencana Taniguchi dan Kunikida di hari libur mereka, jadinya kutelepon HP mereka setelah mandi. Kedua figuran dengan banyak waktunya langsung setuju mau datang. Emangnya mereka ngapain sih pas liburan omong-omong?

Mungkin dia pikir dua cowok tidak cukup, karena Haruhi membawa figuran lain. Si figuran ini melengkung ke depan seakan-akan dia sedang membungkuk dan memeriksa Nagato, yang matanya ditutupi topi lebar. Dia menyampirkan rambut sangat panjangnya dan tersenyum padaku,

"Kyon-kun, Mikuru gimana?"

Tsuruya adalah nama gadis enerjik ini, yang kebetulan teman sekelas Asahina-san. Menurut Asahina-san, dia itu... "Temanku di masa ini", jadi kuduga seharusnya tak ada hal-hal aneh soal dia. Waktu di bulan Juni, ketika Haruhi ingin ikutan turnamen baseball, Asahina-san membawa si anak kelas dua ini buat bantu-bantu menggenapi jumlah. Oh iya, Taniguchi dan Kunikida juga disana, dan bahkan adikku datang.

Tsuruya-san dengan murah hati memperlihatkan gigi putih berkilaunya dan berkata,

"Jadhi hari ini kita ngapain? Dhia nyuruh aku dhatang kalo aku punya waktu, jadhinya aku dhatang. Ban lengan di lengan Suzumiya-san itu soal opo to? Kamera genggam itu buat opo to? Dhan kostum Yuki maksudnya opo to?"

Dia memberondongku dengan pertanyaan demi pertanyaan. Tepat saat aku mau menjawabnya, Tsuruya-san sudah berjalan menuju Koizumi,

"Wow, Itsuki-kun! Kamu keliatan mantap kayak biasanya hari ini!"

Dia emang sibuk banget ya.

Haruhi sama enerjiknya, saat dia berteriak di nada memekakkan ke HPnya pagi ini,

"Apa!? Kamu tuh protagonisnya! 30% kesuksesan film tergantung sama kamu! Tentu aja, aku yang bertanggungjawab 70% sisanya, tapi itu ga masalah! Kamu ngomong apa? Sakit perut? Jangan becanda ah! Cuman anak SD yang pake alasan begituan! Kuberi kamu tiga puluh detik buat langsung datang ke sini!"

Kayaknya Asahina-san udah mulai ngunci dirinya sendiri, kayak hikkikomori aja. Pas dia sadar dia harus ngelakuin hal yang sama hari ini, wajar aja dia sakit perut gara-gara dorongan mental. Dia kan orang berhati lemah, mau gimana juga.

Dia memberondongku dengan pertanyaan demi pertanyaan. Tepat saat aku mau menjawabnya, Tsuruya-san sudah berjalan menuju Koizumi...

"Beneran deh!"

Haruhi marah-marah menutup teleponnya, lalu menunjukkan pelototan mengancam yang telihat seperti butler mau memarahi anak kecil yang tak tahu sikap waktu makan,

"Dia pantas dapat beberapa hukuman!"

Seharusnya loe ga bilang begitu. Asahina-san itu ga kayak elo. Dia cuman pengen hidup damai, ato paling engga istirahat di hari Minggu pas ga sekolah. Bahkan gue juga mikir kayak gitu.

Tentu saja, Haruhi takkan mengijinkan pemeran utama wanita untuk absen. Sutradara yang menuntut begitu banyak dari pemeran utama wanita yang bahkan tanpa menggajinya apapun berkata,

"Aku pergi jemput dia. Pinjemin aku tas itu buat sekarang."

Haruhi menyabet tas berisi baju-baju dan langsung buru-buru ke pangkalan taksi. Kemudian dia mengetuk jendela taksi yang diparkir di depan, supir membuka pintu, dan setelah dia cepat-cepat menyelam ke dalam taksi, taksi langsung jalan.

Baru kepikiran sekarang, akupun tak tahu dimana Asahina-san tinggal, walau aku sudah ke tempat Nagato beberapa kali...

"Saya bisa mengerti perasaan Asahina-san."

Bahkan tanpa kusadari, Koizumi sedang berdiri di sampingku dan berbicara denganku.

Tsuruya-san sekarang menyapa dua idiot kelasku non-stop dan berkata, "Yo, lama ndak ketemu!" Koizumi tersenyum akan pemandangan tersebut, kemudian berkata,

"Saya punya firasat dia akan benar-benar jadi gadis magis yang bertransformasi bila sesuatunya terus seperti sekarang ini. Betapapun juga, dia bahkan menembak laser beam. Sudah mulai konyol."

"Apalagi yang lebih konyol dari ini?"

"Anda benar. Bila dia disuruh memuntahkan api dari mulutnya, takkan terlalu sulit untuk melatih..."

Asahina-san bukan monster. Juga bukan pemain sirkus, ato bahkan pegulat jahat. Bakal gimana ntar kalo dia ngebakar bibir imutnya? Siapa yang bakal tanggungjawab? Jangan bilang loe mau tanggungjawab.

"Tidak, kalau ada sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan olehku, itu adalah berdiri diam sampai para Avatar mulai mengacau. Untungnya, sesuatunya masih belum memburuk sampai pada tingkatan seperti itu... Itu hanya terjadi sekali, saya kira. Saya amat bersyukur anda kembali waktu itu. Berkat anda, bencananya dicegah dan dikendalikan."

Kira-kira setengah tahun lalu, dunia hampir dihancurkan berkat Haruhi. Berkat kerja keras dan kelelahan mentalku lah umat manusia dapat bertahan. Kurasa takkan terlalu berlebihan bila semua kepala negara di seluruh dunia memberiku surat terimakasih. Selama ini aku belum dikunjungi duta besar diplomatik asing apapun. Hhh, di lain pihak, kalaupun mereka datang mereka hanya akan menambah kesengsaraanku saja, jadi aku tak berharap mereka datang. Ganjaran yang kuterima hanyalah didekap oleh Asahina-san yang berlinang airmata, namun waktu kupikirkan lagi, itu lebih dari cukup bagiku. Jadi aku tak merasa gembira Koizumi berterimakasih padaku.

"Soal Mikuru Be..."

Jangan panggil dia dengan nama depannya; bikin gue kesel aja.

"Maafkan saya. Sekarang ini kita seharusnya dapat mencegah Asahina-san menembakkan beam-beam aneh lagi."

Gimana caranya? Apa loe mesti seoptimis ini hanya karena si Haruhi ga bawa lensa kontak berwarna kali ini?

"Tidak, kami telah mengeliminasi faktor itu. Saya meminta Nagato-san buat bantu-bantu sedikit."

Kutolehkan pandanganku ke arah cewek yang berdiri diam dan menatap toko-toko depan stasiun, lalu kembali melihat Koizumi lagi,

"Asahina-san loe apain?"

"Janganlah segugup itu, kami hanya menghapus kemampuannya untuk menembak laser. Saya tak terlalu yakin bagaimana caranya, karena tak seperti antarmuka TFEI lainnya, Nagato-san takkan bilang apapun. Saya hanya memintanya mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh Asahina-san ke nol."

"TFEI itu apaan sih?"

"Hanya singkatan yang kami gunakan di antara kami saja, anda tak harus tahu apa kepanjangannya. Saya merasa Nagato-san adalah yang paling ulung di antara 'mereka'. Saya penasaran, apa lagi tanggungjawabnya selain jadi antarmuka komunikasi biasa?"

Apa yang dia maksud adalah - Apa lagi yang dilakukan cewek pendiam pecinta baca ini selain mengobservasi Haruhi? Beberapa orang masih menyayangkan Asakura Ryouko menghilang, walau diriku pribadi tak merasa sedih sama sekali.



Sekitar tiga puluh menit kemudian, taksi yang membawa Haruhi telah kembali, juga di dalamnya ada Asahina-san mengenakan kostum pelayannya. Seperti kemarin, dia masih kelihatan suram. Haruhi minta bon pada si supir, barangkali dia ingin minta penggantian buat pengeluarannya.

Taniguchi dan Kunikida melihat mereka dan bergumam,

"Satu malem pas baru pulang dari toko kelontong, gue pas-pasan sama taksi,"

"Terus?"

"Terus bukannya lampu 'Buat Disewa' diatasnya, gue malah ngeliat lampu taksi yang tulisannya 'Mobil Cinta'."

"Pastinya kamu kaget dong?"

"Sebelum bisa gue konfirmasi, taksinya udah jalan. Baru waktu itu gue nyadar, bukannya cinta yang gue kurang sekarang?"

"Apa benar tuh taksi beneran punya lampu 'Mobil Cinta'? Pastinya semacam taksi custom made."

Aku tak bisa apa-apa kecuali terheran-heran akan percakapan kedua idiot ini, dan aku punya firasat bahwa kekurangan bakat menjadi amat serius. Jikalau Taniguchi dan Kunikida adalah logam campuran nikel, maka Tsuruya-san adalah platinum. Perbedaan mereka antara kembang api dan pesawat luar angkasa Apollo 11.

"Ah, Mikuru dhatang pake taksi! Eh? Siapa kamu?"

Titinada Tsuruya-san sangat tinggi. Suara titinada sedikit menengah-keatasnya mungkin hanya satu titinada lebih rendah dari titinada alami tinggi tak normalnya Haruhi. Walau Tsuruya-san seharusnya ada di batas dunia normal sih.

"Wow! Seksi sekalee! Mikuru kerja dhimana? Bukannya kamu harus seenggaknya dhelapan belas taun? Lho? Bukannya kamu cuman tujuh belas taun? Oh, jangan kuatir, lagian kita ini bukan pelanggan kok."

Mata berlinang Asahina-san kini menunjukkan warna alaminya. Tampaknya ada kekurangan lensa kontak berwarna.

Haruhi kini menyeret si pelayan mungil keluar mobil.

"Apa maksudmu sakit? Aku ga bakalan biarin kamu pake alasan begitu! Kita mau lanjutin syutingnya! Selanjutnya adegan menegangkan Mikuru-chan! Ini semua kan buat Brigade SOS! Ga peduli di usia berapa mereka, penonton itu selalu tergugah sama tindakan ngorbanin diri!"

Kalo gitu korbanin diri loe sendiri sana!

"Di dunia ini, cuman ada satu protagonis perempuan. Jujur aja, aku pengen jadi orang itu, tapi kali ini aku udah murah hati ngerelain kamu mainin peran itu, paling engga sampe festival sekolah beres lah!"

Di dunia ini, ga ada yang bakalan ngakuin elo jadi protagonis cewe!

Tsuruya-san menepuk pundak Asahina-san dengan kedua tangannya, menyebabkannya batuk-batuk panik.

"Kostum apa ini? Cewe racer? Meranin apa? Ah bener! Kamu bole pake itu di warung mie goreng pas festival sekolah! Aku yakin bakal narik buanyak pelanggan!"

Aku memang benar-benar mengerti keinginan Asahina-san untuk jadi seorang pertapa. Ketika berhadapan dengan serangan sengit bertubi-tubi, tak seorangpun akan berdiri di gundukan pitcher dan jadi pitchernya.

Asahina-san perlahan mengangkat kepalanya, lalu dengan paras seseorang yang mau mati demi agamanya, dia melihatku seakan-akan memohon pertolongan, kemudian berpaling. Dia perlahan menafaskan desahan lirih, tapi dia masih berhasil memberi senyum lemah dan berjalan lebar menuju padaku.

"Maaf saya telat."

Kulihat ke atas kepala Asahina-san, yang diturunkan, dan berkata,

"Ga papa kok, aku ga gitu keberatan."

"Kutraktir makan siang..."

"Ga perlu kok, ga usah dipikirin."

"Maaf banget ya soal kemarin, kayaknya saya mendadak nembak senjata optik..."

"Ga apa-apa, toh aku ga luka..."

Kuintip ke sekitarku. Nagato berdiri sambil menatap kosong dan membawa tongkat dengan bintang tertempel di ujungnya. Asahina-san melihatku, melirihkan suara sudah lirihnya dan berkata,

"Saya digigit."

Dia mengusap-usap pergelangan tangan kirinya.

"Digigit apa?"

"Sama Nagato-san. Kudengar itu buat suntikan semacam nanomesin... Tapi, mataku kayaknya ga bisa nembak apapun lagi, jadi saya lega."

Berkat ini, gue ga perlu kuatir soal dipotong-potong jadi beberapa bagian... ya kan? Omong-omong, kudapati pemandangan Nagato menggigit Asahina-san agak sulit divisualisasikan. Dia nyuntik apaan ya?

"Kejadiannya kemaren malam, pas dia datang sama Koizumi-kun ke rumahku..."

Koizumi, yang bertanggungjawab menjaga peralatan, kini sedang bicara dengan Haruhi. Gue juga pengen pergi kemarin malam! Dia seharusnya ngajak gue ikutan! Ngunjungin Asahina-san pastinya lebih asik daripada ditipu masuk Dimensi Tertutup.

"Kalian berdhua ngobrol apa?"

Tsuruya-san membelitkan lengan halus kecilnya ke leher Asahina-san,

"Mikuru, kamu imut banget sih! Pengen banget aku bikin kamu jadhi binatang piaraan! Kyon-kun, kalian berdhua rukun-rukun?"

Duh bener-bener deh...

Si dua idiot Taniguchi dan Kunikida kini sedang melihat Asahina-san dengan mulut menganga lebar. Hey, berhenti liat-liat! Loe mau ngapain kalo dia kehilangan sepotong kostumnya? Saat kupikirkan ini, Haruhi berseru,

"Tempatnya udah ditentuin!"

Tempat apaan?

"Buat syuting outdoor!"

Begitukah? Gue lupa melulu kita lagi bikin film. Tak tahu kenapa, aku hanya ingin melupakannya. Juga, entah kenapa, aku tak bisa apa-apa kecuali merasa bahwa lokasi syutingnya buat semacam DVD idola-pop murahan.

"Ada kolam gede deket rumah Koizumi, jadi kita mulai syuting filmnya di sana hari ini!"

Hampir dalam sekejap mata, Haruhi cepat-cepat mengambil bendera plastik yang bertuliskan "pemeran dan kru film" dan memimpin jalan ke depan.

Kupanggil Taniguchi dan Kunikida; yang masih menatap Asahina-san dengan mata menatap, kotor mereka, dan dengan murah hati kubagi bawaan tas dan perlengkapan yang kubawa dengan mereka.



Kami berjalan sekitar tiga puluh menit sebelum datang ke pinggir kolam. Lokasinya di suatu tempat di tengah bukit, yang pada dasarnya tepat di tengah-tengah distrik perumahan. Sementara mungkin dibilang kolam, jumlah airnya lumayan besar. Begitu besar sampai-sampai burung yang bermigrasi mungkin akan ramai-ramai kumpul di sana waktu musim dingin. Menurut Koizumi, bebek dan burung walet seharusnya terbang ke sana sebentar lagi.

Kolamnya dikelilingi pagar logam, yang lumayan memberitahu orang-orang untuk jangan masuk tanpa izin. Itu pemahaman umum, kan? Mungkin ada hubungannya dengan bagaimana orang dibesarkan. Akhir-akhir ini, bahkan anak SD pun takkan main sekitar sini, kecuali orang-orang yang punya penyakit jiwa.

"Nunggu apa kalian? Cepetan panjat!"

Aku lupa bahwa Haruhi memang, sebetulnya, orang yang sungguh-sungguh gila; saat dia menempatkan kakinya pada pagar dan melambaikan tangannya. Asahina-san menempatkan kedua tangannya pada rok luar biasa pendeknya dan tampaknya sangat merana. Tsuruya-san berdiri di sebelah dan cekikikan,

"He? Kita ke sini mau ngapain to? Hei! Apa Mikuru mau berenang?"

Asahina-san menggelengkan kepalanya cepat sekali, mendesah, dan menatap permukaan kolam yang hijau seolah-olah dia baru saja melihat darah.

"Bukankah menurut anda pagar ini sedikit terlalu tinggi bagi kita untuk dipanjat?"

Koizumi tidak berbicara kepadaku, tapi ke Nagato. Loe buang-buang waktu aja nyoba ngobrol bareng dia. Paling dia ngasih jawaban simpel "ya" atau "tidak", atau dia bakal memulai untaian jargon yang ga bisa dimengerti.

"..."

Walau Nagato tetap bungkam, dia bereaksi ganjil. Dia menempatkan jarinya di atas pagar dan perlahan menariknya keluar. Entah bagaimana, pagar logam, yang seharusnya tertancap kuat di tanah, kini bengkok dengan lembut seperti toffee ditempatkan di bawah matahari, kemudian perlahan membeku di bentuk bengkoknya.

Dia sama elegan kayak biasanya. Dengan panik aku berputar dan melihat reaksi yang lainnya, barangkali aku terlalu kuatir.

"Heh? Pagar ini keliatannya udah lumayan tua."

Kata Kunikida seakan-akan dia tahu semuanya.

"Emangnya gue meranin apa sih? Dia ga bisa bikin gue meranin kappa..."

Gumam Taniguchi saat dia berjalan melewati celah pagar bengkok dan terus menuju kolam.

Tsuruya-san mengikuti di belakangnya, berpegangan tangan dengan Asahina-san, yang enggan dituntun menuju kolam dimana Haruhi sedang menunggu.

Aku begitu lega para trio figuran tak punya sebegitu banyak kecerdasan.

Koizumi tersenyum padaku dan Nagato, lalu meluncurkan badannya melewati celah pagar, sementara Nagato, si penyihir hitam, juga berjalan melewatiku seperti hantu.

Yah udahlah, yok cepetan kita beresin! Sebelum ada orang nemu properti publik udah dirusak, tapinya.



Asahina-san dan Nagato berdiri berhadap-hadapan lagi, sepertinya ini mau jadi adegan kelahi lainnya. Aku benar-benar berpikir apa Haruhi sungguh-sungguh sudah nulis naskahnya. Kapan si Koizumi muncul? Masih mengenakan seragam sekolahnya hari ini, Koizumi berdiri di belakangku dan meneruskan perannya sebagai pemegang papan pemantul.

Haruhi menempatkan kursi sutradara di atas tanah dan mencorat-coret apa yang mungkin jadi dialog di buku sketsa.

"Adegan ini akan nunjukin Mikuru lagi dipaksa ke situasi gawat, dengan beam mata birunya udah ditiadakan."

Haruhi berhenti menulis dengan spidolnya dan tersenyum, kelihatan puas.

"Sip, bakalan bisa nih. Kamu di sana, pegang ini dan berdiri di sana."

Dan jadinya, Taniguchi diserahi tanggungjawab mengangkat plakat dialog. Kedua aktris mulai membaca plakat yang diangkat oleh seorang Taniguchi yang jelas bersungut-sungut:

"Saya tidak akan terhalangi oleh penyudutan ini! K-kau Yuki si alien jahat! C-c-cepetan minggat dari Bumi sekarang juga...! Mmm... sori..."

Asahina-san tak bisa apa-apa kecuali minta maaf tanpa alasan setelah membaca dialognya, Nagato si penyihir alien jahat lalu berkata,

"...Begitukah?"

Dengan santai dia menganggukkan kepalanya dan membaca dialognya mengikuti instruksi Haruhi.

"Kamulah yang seharusnya menghilang dari periode waktu ini. Dia punyaku. Itulah sebagaimana berharganya dia bagi kami. Walau dia belum menemukan kekuatannya, itu adalah kekuatan yang amat berharga. Kami butuh kekuatan tersebut supaya dapat menginvasi Bumi."

Bergerak dua-duaan dengan Haruhi mengayunkan toanya, Nagato mengayunkan tongkat sihir berbentuk bintangnya dan mengarahkannya ke wajah Asahina-san.

"S-s-saya takkan membiarkan kamu begitu saja! Kalaupun itu berarti mempertaruhkan nyawaku."

"Bila begitu, maka bersiaplah untuk mati."

"Cut!" Seru Haruhi dan berdiri, dia lalu berlari ke antara keduanya dan berkata,

"Kalian berdua perlu bikin suasananya! Ya, suasana kayak sekarang ini, tapi jangan nyimpang dari naskah. Dan Mikuru-chan, ke sini kamu."

Sutradara dan pemeran wanita utama meninggalkan kami dan berbalik. Kuturunkan kamera dan menggaruk-garuk leherku. Mereka lagi ngomongin apa sih?

Tsuruya-san tak bisa menahannya lagi dan mulai tertawa terbahak-bahak,

"Film opo to iki? Yang kayak gini bisa dhibilang film? Gyahahaha! Terlalu lucu iki!"

Selain kamu, kuduga cuman Haruhi yang nganggap ini lucu.

Taniguchi dan Kunikida berdiri tanpa arah dengan ekspresi "Kita dipanggil ke sini buat apaan?". Nagato berdiri di sisi, seolah-olah tak ada hubungannya dengan ini. Sementara Koizumi berdiri wajar dan melihat pinggiran kolam. Kukeluarkan kasetnya, yang hampir penuh, dan menggantinya dengan kaset baru. Aku punya firasat kalau aku sedang membuat sampah tiada guna.

Tsuruya-san melihat perlengkapan yang kubawa dengan minat,

"Hmm, ini toh yang mereka pake buat bikin vidheo sekarang-sekarang? Penuh gambar-gambar lucu Mikuru, ya? Bisa ga aku liat nanti? Kayaknya bakalan lumayan lucu deh."

Ga ada yang lucu, beneran. Nyebarin selebaran pake baju bunny girl cuman makan waktu sehari, walau film konyol lucu ini akan bertahan sampai hari sebelum festival sekolah. Kita bisa jadi bolos pelajaran sampai bolos sekolah sekalian. Repot banget nih buat gue, abisnya gue ga bakalan bisa minum teh enak. Teh Nagato bakalan hambar, sementara teh Haruhi bakalan pahit karena hukum-hukum fisika. Mengesampingkan teh Koizumi, kalo gue akhirnya harus bikin teh buat gue sendiri, mendingan gue minum air keran.

"Sori dah pada nungguin!"

Emang, kami udah nunggu lumayan lama. Waktunya loe balik, abisnya gue ga mau ngerusak pemandangan indah alami dekat kolam lagi.

"Klimaks benerannya mau mulai, liat baik-baik ya!"

Haruhi mendorong Asahina-san ke depan. kalaupun loe ga minta, gue toh bakalan ngeliat dia tiap hari dengan mata kebuka lebar! Liat tuh? Kayak biasanya, Asahina-san keliatan sama manisnya, cantiknya dan...

"Heh?"

Warna salah satu matanya telah berubah, kali ini mata kanannya. Mata peraknya melihat menyesal padaku dan bergerak ke antara aku dan tanah di bawah.

"Nah, Mikuru-chan, tembakin Mikuru Beam R mantapmu dan semburin macam-macam yang luar biasa atau apa ajalah, pokoknya serang!"

Tak mungkin aku bisa menghentikannya kali ini, dan kalaupun bisa, aku akan sudah jadi terpotong-potong ke beberapa bagian. Omong-omong, ini terjadi terlalu mendadak, Haruhi memberinya perintah mengerikan, Asahina-san berkedip kelihatan ngeri, dan...

Nagato mendorong jatuh Asahina-san ke dekat pinggiran kolam; kemunculan siluet hitamnya memang terlalu tiba-tiba.

Adegan kemarin diulang kembali hari ini, seperti menonton ulang kaset rekaman. Nagato memamerkan kebolehan bergerak seketika luar biasanya.

Dalam seketika, hanya topinya yang tetap dimana ia tadinya berdiri, kemudian perlahan berkibar menuju tanah. Badan yang mengenakan topi telah bergerak beberapa meter hanya dalam kedipan mata (kira-kira 0,2 detik), dan memanjat ke atas Asahina-san, menggenggam keningnya...

"Na-Na-Nagato-san... KYAA!!!"

Dengan ekspresi kosong, Nagato mengabaikan jerit memilukan Asahina-san, rambut pendeknya berayun kesana kemari saat dia duduk di atas Asahina-san.

"Tunggu bentar!" Haruhi segera sadar.

"Yuki! Kamu kan penyihir! Kamu seharusnya ga bagus tarung jarak-dekat menurut naskahku! Gulat-lumpur di tempat ini lagi..."

Haruhi mengatakan itu, kemudian menutup mulutnya. Dia berpikir kira-kira selama tiga detik lalu berujar,

"Ah, oke lah, kayaknya ini juga bisa. Bisa jadi nilai jual yang lain, kan? Kyon! Rekam semua ini! Ini adalah momen kejayaan langka Yuki!"

Kupikir ini sama sekali bukan momen kejayaan. Dia hanya bereaksi keluar dari naluri buat mengkonter ancaman yang disebabkan oleh lensa kontak. Asahina-san barangkali mengerti juga, tapi dia tak bisa apa-apa kecuali menjerit dan menggoyang-goyangkan kakinya nonstop gara-gara syok. Gue sakit banget sih. Sekarang bukan waktunya gue ngeliat pemandangan kayak beginian.

Saat ini, suara gedebuk terdengar. Selain dua aktris, yang lain semuanya berputar dan melihat ke belakang.

Suaranya berasal dari celah pagar kolam dimana Haruhi meloncatinya dan dimana kami berjalan melewatinya. Celah yang dibikin Nagato kini membukakan lubang besar, pagarnya dipotong ke bentuk V dan jatuh keluar ke arah jalan, seolah-olah ditembak oleh laser tak kasat mata.

Kupalingkan mataku kembali ke adegan kriminal, dan melihat Nagato menggigit pergelangan Asahina-san seperti vampir anemia.



"Saya teledor."

Kata Nagato herannya, seakan-akan dia telah membuat kesalahan,

"Awalnya kubuat laser berpencar tanpa membahayakan manusia, tapi kali ini beamnya terkomposisi atas partikel-partikel getaran hiper..."

Dia mengatakan semua ini dalam satu nafas saja. Koizumi mengulurkan topi yang dia ambil dari tanah dan berkata,

"Sesuatu seperti fiber optik? Tapi pisau partikel semacam ini tak kasat mata dan tak berberat, kan?"

Nagato menerima topinya dan segera menempatkannya di kepala dan berkata,

"Saya merasakan sejumlah massa yang amat kecil, sekitar sepuluh pangkat negatif empat-satu gram."

"Bahkan lebih kecil dari neutron?"

Nagato tak berkata apa-apa dan hanya melihat mata Asahina-san, mata kanan si pelayan masih berwarna perak.

"Umm..."

Asahina-san mengusap-usap pergelangan tergigitnya dan bertanya dengan suara takut,

"Kamu baru masukin apa ke badan saya...?"

Pinggiran topi runcing miring kira-kira lima milimeter ke depan. Bagiku, itu adalah tanda Nagato kelihatan kesulitan. Mungkin dia lagi berpikir bagaimana menyampaikannya dengan benar. Sudah diduga, Nagato lalu berkata,

"Dengan mengubah periode getaran dimensional, medan gravitasi baru bisa dibuat pada permukaan objek."

Tampaknya dia berusaha amat keras untuk menjelaskan fakta yang sulit dijelaskan ini. Sementara aku bisa mengerti bahwa dia barangkali meniadakan beam pembunuh tak kasat mata, apa yang tak bisa kumengerti adalah bagaimana keduanya sepertinya dapat mengerti apa yang dia baru katakan. Koizumi berkata, "Saya mengerti, jadi getarannya disebabkan oleh gravitasi?" Dia menanyakan pertanyaan yang kedengarannya tak relevan sama sekali. Nagato mungkin berpikiran sama juga, karena dia tetap bungkam.

Koizumi mengangkat bahunya bagaikan itu adalah gerakan khasnya,

"Tapi kita memang benar-benar teledor, saya kira saya seharusnya mengambil sebagian tanggungjawabnya juga. Saya selalu berpikir bahwa mata itu hanya bisa menembak beam laser. Apa bisa mata itu betulan menembak apapun yang seperti Suzumiya-san deskripsikan, asalkan dari luar dunia ini? Sungguh mustahil mengejar cara berpikir Suzumiya-san, saya kagum."

Ga mungkin kita bisa ngejar, dia udah lari jauh di depan ngelewatin seluruh umat manusia sebanyak tiga putaran penuh. Gue bahkan bisa merasa dia nyusul di belakang gue sekarang, walau pas gue lihat baik-baik, seolah-olah dia lari di lingkaran yang sama, ngasih satu ilusi bahwa dia belum lari maju sama sekali, yang persis itulah dia bagusnya apa. Dan bukan itu aja, cuman kita doang yang dipaksa lari di trek melingkar bareng dia bisa ngerti perasaan ini.

Alasan kenapa si Haruhi lari begitu cepat adalah dia ga peduli apakah treknya trek bentuk S atau trek nyilang tiga-dimensi, dia cuman bakalan ngegempur maju ga pake mikir. Belum lagi, dia pas sama mesin kompresi, artinya dia bisa terus maju selamanya. Dengan cepat dia bisa ngarang-ngarang aturan yang mustahil diikuti, ga peduli segimana pengennya seseorang, dan dia, dirinya, ga sadar kalau ini bukan balapan beneran. Simpelnya dia itu di luar kendali.

"Ini tak terlalu buruk," kata Koizumi, "Kita akan biarkan pihak berwajib daerah disalahkan karena melalaikan pemeliharaan kualitas pagar, saya yakin masyarakat akan percaya cerita ini. Yang penting tiada yang terluka."

Kuintip wajah pucat yang sembunyi di balik topi lebar. Barusan kulihat luka bacokan besar pada telapak tangan Nagato seperti dia baru saja menangkap arit dengan tangan kosong. Betapa aku ingin menunjukkan ini pada si biang kerok, walau luka bacokan tersebut kini sudah disembuhkan seolah-olah tak pernah ada.

Kulihat kelompok kedua yang berdiri tak jauh dari kami. Haruhi dan tiga figuran kini sedang melihat video di kamera, kemudian mereka menjerit... sori, hanya Tsuruya-san yang menjerit.

"Kita harus ngapain? Gue punya firasat sesuatu buruk banget bakal kejadian kalo kita terus syuting film."

"Tapi kita tak bisa hanya berhenti di sini saja. Bila kita menolak patuh, menurut anda apa yang Suzumiya-san akan lakukan?"

"Dia bakal ngamuk-ngamuk"

"Saya berpikir begitu juga. Kalaupun dia sendiri tidak mengamuk, saya yakin Avatar akan ada di Dimensi Tertutup."

Berhenti ngingetin gue soal tempat ngeri itu lagi. Gue ga mau ke sana lagi, dan gue ga mau ngelakuin itu lagi.

"Barangkali Suzumiya-san bahagia dengan bagaimana keadaannya kini. Dia membuat film dia sendiri dengan imajinasi dia sendiri, dan setiap langkahnya seperti Tuhan. Anda seharusnya tahu juga, dia amat frustasi bagaimana realitas tak selaras dengan cara berpikirnya. Walau dia tak menunjukkannya di luar, karena dia sendiri tak menyadarinya, hasil akhirnya sama saja. Namun, di dunia film, ceritanya bergerak menurut keinginannya, jadi apapun itu mungkin. Suzumiya-san berusaha membuat dunia lain menggunakan film sebagai medium."

Udah diduga dari orang egois, kecuali dia punya sejumlah uang dan kekuasaan tertentu, hampir mustahil bisa berbuat semuanya semaunya. Mendingan dia jadi politikus aja.

Saat aku gonta-ganti berbagai wajah bersungut-sungut, Koizumi tetap tersenyum dan melanjutkan,

"Tentu saja, Suzumiya-san tak menyadari semua ini. Dari awalnya dia lagi membuat dunia fiksi, yang menunjukkan sebagaimana banyak semangatnya dengan film ini. Saya pikir dia mungkin terlalu bersemangat, dan tanpa disadari dia telah mempengaruhi dunia nyata sebagai hasilnya."

Sama halnya dengan dadu yang hanya punya nilai negatif, tak peduli seberapa banyak kau melempar, kau akan tetap kalah pada akhirnya. Makin lama film ini berlanjut, akan makin lepas kendali Haruhi, tapi adalah gagasan lebih buruk untuk membuatnya menghentikan proyek ini, jadi akan kupilih yang kurang buruk saja dari dua pilihan buruk.

"Bila saya tak punya pilihan kecuali melempar dadu, maka saya akan memilih untuk terus melempar."

Dan kenapa tuh?

"Habisnya saya sudah capek menumpas Avatar... Bercanda... Maafkan. Lagipula, dibandingkan dengan membolehkan dunia dibikin ulang semuanya, kemungkinan bertahan hidup kita lebih tinggi jikalau kita membolehkan beberapa perubahan kecil terjadi di dunia ini."

Maksud loe dunia dimana Asahina-san jadi orang kayak Wonder Woman?

"Kali ini, perubahannya berskala kecil dibandingkan dengan kemunculan Avatar. Dan Nagato-san akan menempatkan langkah pengobatan untuk kita, jadi masalahnya tak begitu besar, bukan? Bukankah anda pikir memberesi kejadian-kejadian paranormal ini di satu waktu saja lebih baik ketimbang berusaha menyelamatkan dunia dari diciptakan ulang dari awal?"

Masih bermasalah mau gimanapun cara loe mandangnya. Gimana kalo nyergap Haruhi dari belakang dan mentung dia jadi ga sadar sampe festival sekolah?

"Itu terlalu tak terbayangkan. Bila anda mau bertanggungjawab untuk itu, maka saya takkan menghentikan anda."

"Mikul takdir dunia sendirian juga terlalu berat buat pundak gue,"

Jawabku dan melihat Asahina-san, yang mengorek tanah dari seragam pelayannya dengan jari-jarinya. Tampaknya dia lumayan menyerah, tapi ketika dia menyadari aku sedang melihatnya, dia berujar mendesak,

"Oh, tolong jangan mengkhawatirkan saya, saya ga papa. Saya bakalan mikirin cara buat nahan ini..."

Dia terlalu menawan, walau dia tak kelihatan baik sama sekali. Barangkali dia harus menghadapi kemungkinan digigit Nagato setiap kali sesuatu terjadi. Walau bekas gigitannya akan menghilang setelah beberapa saat, hanya tak nyaman saja digigit olehnya karena, semisal Nagato bawa sabit besar bukannya tongkat sihir di kostum itu, maka dia akan seperti kartu tarot ketigabelas - Death. Begitu, atau dia akan jadi vampir luar angkasa abadi. Hanya dengan digigit seseorang pakai kostum begitu cukup untuk mengirim roh orang ke dunia lain.

Walaupun Asahina-san diseret ke semua ini berlawanan dengan keinginannya, buat penjelajah waktu dari masa depan, dia emang kurang ngerasain bahaya. Atau mungkin karena dia ga pernah sungguh-sungguh ngasih tau gue apa yang sebenarnya dia pikirin soal ini, abisnya dunia dia penuh pembatasan rahasia sih.

Ah udahlah. Gue yakin dia bakalan bilang ke gue nantinya. Ingin banget kita di ruangan sempit pas dia bilang itu.



Akhirnya tiba waktunya buat Taniguchi dan Kunikida, juga Tsuruya-san untuk penampilan pertama mereka.

Haruhi mengumumkan peran yang mereka akan mainkan di film; dari dulu sudah diputuskan tigaan ini adalah karakter ikan teri. Mereka akan memerankan "manusia yang diubah jadi zombie tak berakal oleh penyihir alien jahat".

"Dengan kata lain," kata Haruhi dengan senyum menggelisahkan, "karena Mikuru ada di sisi keadilan, ga mungkin dia nyentuh penduduk tak berdosa, dan Yuki udah ngambil keuntungan dari kelemahan tersebut. Dia ngontrol manusia-manusia ini pake hipnotis, dan Mikuru akhirnya bakal dipukulin abis-abisan, abisnya dia ga bisa balas ngehajar manusia-manusia yang nyerang dia."

Aku berpikir sendiri, Mau segimana banyak sih loe nyiksa Asahina-san? Haruhi lalu berkata,

"Kalian mulai dengan ngedorong Mikuru ke kolam."

"EH!?"

Hanya Asahina-san yang memekik ngeri, sementara Tsuruya-san ngikik tak terkendali. Taniguchi dan Kunikida bertukar pandang satu sama lain, lalu melihat Asahina-san dengan ekspresi kesulitan.

"Hei."

Taniguchi bertanya dengan wajah setengah tersenyum,

"Dorong dia ke kolam? Cuacanya mungkin hangat, tapi ini udah musim gugur! Soal kualitas airnya, mau gimana loe ngeliatnya juga, airnya ga keliatan bersih."

"Su-Su-Suzumiya-san, paling engga kita seharusnya nyari kolam renang indoor atau apa gitu..."

Asahina-san juga protes dengan seluruh kekuatannya, matanya hampir menangis. Bahkan Kunikida memihak Asahina-san.

"Dia benar! Ntar gimana kalo rawa ini ga berdasar? Dia ga akan balik ngambang abis jatuh. Dan lihat, ada banyak ikan black bass berenang-renang di sana."

Berhenti ngomong sesuatu yang bakalan bikin Asahina-san pingsan ah! Tapi dari pengalaman yang lama-lama, makin ditentang, makin keras kepala si Haruhi. Dia memberi tanggapan Haruhi banget,

"Diem! Dengar! Pengorbanan itu perlu demi realisme, tadinya aku pengen syuting adegan ini dengan Monster Loch Ness! Tapi kita kurang waktu dan uang buat ngelakuinnya. Adalah misi kita sebagai manusia buat bikin barang bagus di bawah resource dan waktu terbatas, jadi kita ga ada pilihan selain pake kolam ini aja."

Logika macam mana tuh!? Loe niat bikin Asahina-san tenggelam gitu aja? Bukannya bisa loe ngeganti ini dengan latar belakang lain?

Saat aku menimbang-nimbang apakah ikut dalam argumentasi juga, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berputar dan melihat Koizumi tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan tenang. Gue tau. Gue tau kalo Haruhi ga berbuat semaunya, sesuatu yang ganjil bakalan kejadian. Kalo Asahina-san akhirnya muntahin plasma, Angkatan Bersenjata mungkin harus nganggap dia makhluk ancaman.

"S-s-saya lakukan!"

Umum Asahina-san dengan ekspresi amat berduka, dia sudah lebih dari putus asa sekarang. Si gadis malang sudah memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri untuk perdamaian dunia. Sesuatunya telah berkembang ke tingkat dimana tak lagi mungkin untuk dihentikan. Tapi kali aja ini momen paling klimaks di film, kan? Mendingan gue rekam nih di film.

Haruhi tentu saja gembira,

"Mantap, Mikuru-chan! Kamu keliatan mengagumkan sekarang ini! Itu baru anggota Brigade SOS yang aku pilih! Kamu udah dewasa ya!"

Gue pikir ini ga ada hubungannya sama jadi dewasa, tapi hasil belajar dari pengalaman sebelumnya.

"Kalo gitu sekarang, kalian berdua disana megang lengan Mikuru-chan, Tsuruya-san, pegang kakinya. Siapakan diri kalian, begitu kukasih aba-aba, lempar dia ke kolam sekuat tenaga."

Adegan berikut terjadi kemudian di bawah arahan Haruhi.

Si tiga antek mulai dengan berbaris rapi di depan Nagato, ketika si penyihir hitam melambai-lambaikan tongkat sihirnya, mereka menundukkan kepala mereka seolah-olah sedang berdoa di kuil shinto. Nagato melambaikan tongkat sihirnya seperti pendeta sedang mengusir roh jahat dengan ekspresi kosong, sedikit banyak, dia tampak persis seperti gadis kuil.

Lalu, setelah menerima gelombang psikis Nagato, si tiga antek mulai bergerak kaku menuju Asahina-san seolah-olah mereka adalah zombie yang sedang mencari daging hidup.

"Sori, Mikuru, aku ndak mau berbuat begini. Tapi aku ndak isa ngontrol dhiriku sendhiri, sori banget ya."

Kata Tsuruya-san kelihatan sangat senang saat dia berjalan menuju si pelayan. Taniguchi, yang akan meringkuk dalam keadaan darurat, tak tahu mau bilang apa, sementara Kunikida menggaruk kepalanya saat dia berjalan menuju Asahina-san yang kelihatan semakin pucat.

"Dua idiot di sana! Serius dong!"

Elo yang idiot tau! Kutarik kembali apa yang mau kukatakan dan terus memutar kamera. Asahina-san perlahan mundur menuju pinggiran kolam terlihat ketakukan.

"Bersiaplah untuk mati~~."

Dengan gembira Tsuruya-san mendorong jatuh Asahina-san dan menangkap sisi kaki gemuk panjangnya. Bagaimana ya? Pemandangan ini terlihat terlalu berbahaya.

"Kyaa..."

Asahina-san kelihatannya benar-benar ketakutan, saat Taniguchi dan Kunikida menggenggam kedua lengannya.

"Tu...tunggu bentar, saya masih... A-apa ini perlu?"

Mengabaikan teriakan, Haruhi menganggukkan kepalanya dan berkata,

"Ini buat bikin adegan terbaik, semua ini untuk seni!"

Kedengarannya bagus, tapi apa hubungannya film busuk ini sama seni!?

Haruhi memberi perintah,

"Siap! SEKARANG!"

Byur! Buih air terciprat keluar dari permukaan, mengganggu kehidupan air yang hidup dalam kolam.

"Ah... Tolong... Wah..."

Akting tenggelam ini terlalu realistis, Asahina-san. Engga, bentar... Kok kelihatannya kayak beneran tenggelam?

"Kakiku... Ga nyampe... Kya...!"

Untunglah ini bukan sungai Amazon, atau dia akan jadi target ideal buat piranha, mencipak-cipak permukaan air dengan panik begitu. Gue penasaran apa black bass nyerang manusia ya? pikirku saat kulihat melalui lensa kamera. Sekarang inilah kusadari bahwa bukan hanya Asahina-san yang mencipak-cipakkan air.

"Argh! Gue nelan airnya!"

Taniguchi juga tenggelam. Barangkali dia melempar Asahina-san terlalu kuat dan menjatuhi dirinya ke kolam juga. Kuputuskan untuk mengabaikan si idiot ini.

"Ngapain si bego itu?"

Haruhi tiba pada kesimpulan yang sama seperti yang kumiliki. Mengabaikan si bego, dia menunjukkan toa ke arah Koizumi.

"Koizumi-kun, giliran kamu muncul! Pergi selamatin Mikuru!"

Pemeran utama pria, yang bertanggungjawab akan pencahayaan semenjak awal, memberi senyum elegan dan menyerahkan papan pemantul ke Nagato. Dia lalu berjalan ke sisi kolam dan mengulurkan tangannya.

"Pegang tanganku. Tenang, pastikan anda tidak menjatuhkan saya juga."

Seperti korban kapal karam, Asahina-san menggenggam erat tangan Koizumi seperti sepotong papan kayu. Koizumi dengan santai menarik si basah kuyup pelayan tempur keluar air. Kemudian dia memapahnya dengan berpegangan erat-erat padanya. Woi! Loe megangnya kedeketan!

"Anda baik-baik saja?"

"...Uuuu... Dinginnya..."

Sebagai hasil jadi basah kuyup oleh air, seragam pelayan yang ketat kini lebih ketat lagi membungkus tubuh Asahina-san. Kalo gue anggota Asosiasi Film, gue ga akan ragu ngasih nih film rating R15+. Jujur aja, gue punya firasat kita mungkin ditahan gara-gara ini.

"Ya, sempurna."

Haruhi menepuk toanya keras dan memberi desahan puas. Tak menaruh perhatian pada Taniguchi, yang masih mencipak-cipak air, kupencet tombol "stop" pada kamera.



Kini kita udah punya cukup rongsokan buat buka warung, tapi ga satupun handuk bisa ditemukan. Ada apaan sih ini?

Asahina-san membiarkan Tsuruya-san mengelap wajahnya dengan saputangan saat dia terus menutup matanya. Kutahan nafasku saat aku berdiri dekat Haruhi, yang mengkaji cuplikan rekaman dengan paras serius.

"Hmm, lumayan."

Setelah menonton Asahina-san jatuh ke air tiga kali, Haruhi mengangguk dan melanjutkan,

"Adegan lumayan buat pertemuan pertama kali protagonis pria dan wanita. Itsuki dan Mikuru udah sempurna nyampein rasa malu, canggung itu. Mantap banget."

Oh begitukah? Koizumi keliatan biasa buat gue di adegan itu.

"Kita pergi ke adegan selanjutnya, dimana abis nyelamatin Mikuru, Itsuki mutusin buat nyembunyiin dia di rumahnya. Adegan selanjutnya akan mulai di sana."

Bukannya itu ngeganggu kelanjutan ceritanya? Kemana Nagato kabur abis ngontrol Taniguchi dkk? Soal zombie-zombienya gimana? Gimana caranya mereka dikalahin? Walaupun cuman antek, kalo keberadaan mereka ga diperhitungkan selayaknya, penonton ga bakalan ngerti ceritanya.

"Kau ini cerewet ya! Toh orang bakalan nebak juga apa yang terjadi kalaupun adegan itu ga difilmin! Kita bisa lewatin yang kecil-kecil ga penting!"

Sialan! Maksudnya selama ini loe cuman pengen filmin Asahina-san dilempar ke air!?

Saat aku mau menyahut, Tsuruya-san mengangkat tangannya dan berkata,

"Anu, Mikuru mungkin bisa kena flu, jadi bisa ndak kubawa dhia ke rumahku jadhi dhia bisa ganti baju? Rumahku dhekat kok."

"Mantap banget itu!" kata Haruhi ke Tsuruya-san dengan mata berkilau,

"Bisa pinjem kamar Tsuruya-san? Aku pengen ngerekam adegan dimana Itsuki dan Mikuru jadi akrab satu sama lain. Ini terlalu mulus! Film ini bakalan sukses berat!"

Buat orang yang lebih suka sesuatunya itu mudah, sesuatunya sudah berjalan mulus bagi Haruhi. Namun aku tak bisa membuang keraguan dalam pikiranku - gue curiga Tsuruya-san tahu Haruhi pengen ngerekam adegan kayak gitu sebelum bikin saran begitu. Karena Haruhi udah ngasih peran Tsuruya-san jadi antek, gue yakin Tsuruya-san seharusnya orang normal kayak kita-kita, tapi...

"Kita gimana?"

Tanya Kunikida. Taniguchi berdiri di samping gemetaran sambil membalut dirinya dengan jaket basahnya.

"Kalian bisa pulang sekarang."

Umum Haruhi dengan dingin.

"Kerja bagus. Dadah, kami mungkin ga butuh kalian lagi."

Dan jadinya, nama dan eksistensi kedua teman sekelas ini menghilang dari alam bawah sadar Haruhi. Tanpa melihat pada Kunikida yang terpaku dan Taniguchi yang mengeleng-gelengkan rambut basahnya seperti anjing, Haruhi menunjuk Tsuruya-san sebagai guide kami dan berjalan pergi dalam langkah lebar. Kalian berdua beneran beruntung, ga perlu lagi nahan bencana lebih banyak. Buat Haruhi, mungkin kalian ini sama bergunanya dengan peluru BB bekas. Kalian ga bisa jadi lebih beruntung dari itu.

Entah kenapa, Tsuruya-san memekik senang,

"Oke dheh~~! Semuanya, lewat sini!"

Dia pergi ke depan rombongan dan melambai-lambaikan bendera.



Sikap sukar dikendalikan Haruhi tidak mulai dari kemarin. Aku yakin dia lahir seperti itu. Bahkan, dalam lima ratus tahun, barangkali mereka punya legenda soal proklamasi Haruhi jadi satu-satunya yang dimuliakan oleh Bumi dan Langit disaat ia dilahirkan, tapi itu cerita lain.

Aku tak tahu kapan mulainya, tapi Tsuruya-san kelihatannya akrab sekali dengan Haruhi, saat mereka jalan bersama di depan rombongan, menyanyikan ref "18 'Till I Die"nya Bryan Adams. Berjalan di belakang mereka, malu sekali aku mengenal mereka.

Nagato, si penyihir hitam, mengekor diam-diam di belakang mereka, diikuti oleh Koizumi, si koordinator pencahayaan juga pemeran utama pria. Tampaknya tak ada yang terlalu risau. Kalian berdua seharusnya belajar dari Asahina-san, ngegantung bahunya dan nundukin kepalanya sedikit. Dan paling engga bantuin gue bawain sebagian perlengkapan, kita udah nanjakin landaian dari tadi dan gue mulai ngerti perasaan kuda balap yang dilatih lari naik bukit.

"Dhan kita nyampe! Ini rumahku!"

Seru Tsuruya-san dan berhenti di luar kediaman. Suaranya mengesankan, bahkan rumahnya pun mengesankan. Sori, maksudku royal. Aku tak bisa lihat keseluruhan rumah dari gerbang masuk, jadi aku tak tahu seberapa besarnya, tapi itu cukup bagiku untuk menyebut rumah ini besar. Hampir tak ada rumah lain dapat dilihat dari gerbang utama, yang berarti lumayan jauhnya dari gerbang utama ke rumah tetangga terdekat. Kulihat ke sekeliling dan menyadari bahwa tanahnya dikelilingi tembok amat besar, seperti mansion-mansion kelas samurai itu. Emangnya dia kelibat tindakan kriminal macam apa sih biar bisa tinggal di rumah sebegini besarnya?

"Yok masuk!"

Haruhi dan Nagato tampaknya tak punya konsep tata krama biasa, saat mereka melangkah masuk rumah seolah-olah rumah mereka sendiri. Asahina-san tampaknya sudah pernah datang ke sini sebelumnya, saat dia sama sekali tak kelihatan takjub, sementara didorong masuk Tsuruya-san.

"Sungguh rumah yang kelihatan nostalgia. Sungguh gedung yang dibangun dengan sangat baik. Jadi inikah yang mereka sebut sebagai bangunan dengan rasa arsitektur? Bangunan kontemporer yang lumayan."

Kata Koizumi dengan nada berseru, tanpa membawa ekspresi apapun pada wajahnya. Loe sales rumah ya?

Kami berjalan melewati tempat luas yang cukup untuk bermain baseball di dalamnya, kemudian tiba di aula masuk. Setelah membawa Asahina-san ke kamar mandi, Tsuruya-san menggiring kami ke kamarnya.

Kamarku seperti tempat tidur anak kucing dibandingkan kamar ini. Kami dipimpin ke kamartidur luas bergaya jepang. Kamarnya begitu luas sampai-sampai aku tak tahu dimana mau duduk, tapi tampaknya hanya aku yang kesusahan karena itu. Nagato, Koizumi dan bahkan Haruhi tampaknya tak kelihatan cemas.

"Kamar hebat banget. Kita bahkan bisa syuting adegan outdoor di sini. Oke, ini diset jadi kamar Koizumi-kun kalo gitu. Kita bakalan syuting adegan Koizumi-kun dan Mikuru-chan jadi akrab di sini."

Haruhi duduk di bantal duduk dan mengamati kamar melalui jarinya, yang disilangkan jadi persegi. Tata ruang kamar Tsuruya-san sederhana, kamartidur simpel bergaya jepang hanya dengan tatami dan perapian.

Kuikuti contoh Nagato di sebelahku dan duduk dengan gaya tradisional, tapi aku tak tahan lagi setelah tiga menit, dan harus membebaskan kakiku. Haruhi, duduk bersila sedari awal, berbisik ke telinga Tsuruya-san.

"Hee hee! Ah, bakalan seru tuh! Tunggu bentar!"

Tsuruya-san meninggalkan kamar membawa tawa yang sangat keras dan menyenangkan.

Aku terus berpikir, Apa Tsuruya-san betulan orang normal? Bisa akrab begitu dengan Haruhi, seseorang musti luar biasa ganjil atau secara harfiah dari dunia lain. Tapi mungkin juga mereka hanya merasa simpati atau antusias satu sama lain.

Setelah menunggu beberapa menit, Tsuruya-san kembali. Oleh-oleh yang dia bawa serta adalah Asahina-san, dan bukan Asahina-san biasa, tapi Asahina-san yang baru saja mandi. Dia mengenakan kaos longgar yang mungkin punya Tsuruya-san. Bagaimana bilangnya ya? Dia hanya pakai kaos.

"Ah... Ma-Maaf udah pada nungguin..."

Kata Asahina-san, rambutnya masih kelihatan basah sementara kulitnya merah terang saat dia malu-malu sembunyi di belakang Tsuruya-san ketika memasuki kamar, kemudian menggeliat kuat-kuat saat dia duduk. Kaos dan lengan bajunya terlalu panjang buat Asahina-san, daripada menyebutnya kaos, rok terusan adalah deskripsi yang lebih baik. Ini hanya meningkatkan pesonanya saja. Lensa kontak di mata kanannya, yang lupa ia lepas, terus berpendar warna perak, membuatku waspada sejenak. Walau tampaknya takkan lagi bisa menembak beam atau sinar apapun, jadi aku lega. Aku ingin sekali menempatkan Nagato, yang masih mengenakan topi runcingnya dan duduk berlutut, di kuil Shinto dan memujanya.

"Monggo dhinikmati."

Tsuruya-san menarun nampan pada tatami, yang berisi beberapa gelas terisi dengan cairan jeruk. Asahina-san meneguk setengah gelas yang Tsuruya-san ulurkan padanya. Dia mungkin kehilangan lumayan banyak cairan, karena dia telah bekerja keras hari ini.

Dengan bersyukur kunikmati jus buahku, sebaliknya Haruhi membereskannya dalam satu tegukan, dan sambil memutar-mutar es dalam gelas, berkata,

"Yah, karena kita punya kesempatan, kita syuting film di kamar ini yuk!"

Tanpa istirahat, syuting mulai langsung diawali dengan yang berikut.

Koizumi menggendong Asahina-san, yang pura-pura tertidur, ke dalam kamar. Entah kenapa, futon pun disiapkan. Dengan hati-hati Koizumi membaringkan Asahina-san dan menatap tajam wajahnya.

Wajah Asahina-san jadi merah terang saat kelopak matanya bergetar tanpa henti. Dengan perlahan dan hati-hati Koizumi menempatkan selimut di atas Asahina-san yang tiada berdaya, lalu duduk di sampingnya menyilangkan lengannya.

"Mm..." gumam Asahina-san dalam tidurnya, Koizumi mulai tersenyum saat dia mengamatinya sepanjang waktu.

Nagato, yang barangkali tak perlu muncul, sedang duduk di belakangku dan Tsuruya-san dan masih menyeruput jusnya dengan sedotan. Melalui panel view, pelan-pelan kuperbesar gambar wajah tidur Asahina-san. Karena Haruhi tak mengarahkan apa-apa, aku bebas memanjakan fantasiku sendiri untuk sekarang. Walau Haruhi senantiasa memberi perintah pada kedua aktor di sana.

"Mikuru-chan, bangun pelan-pelan, dan pelan-pelan ngomong apa yang baru kubilang."

"...Um."

Sedikit demi sedikit Asahina-san membuka matanya, dan melihat Koizumi dengan mata yang tampaknya anehnya hangat.

"Anda sudah bangun?" kata Koizumi.

"Ya... Saya dimana...?"

"Ini rumahku."

Berjuang menggerakkan badan atasnya, wajah Asahina-san kelihatan kentara seksinya saat pandangannya melayang-layang ke sekitar udara. Dia kelihatan menggoda khususnya; itu bagian aktingnya ya?

"Ma... Makasih..."

Cepat-cepat Haruhi memerintah,

"Ya, itu dia! Deketin wajah kalian satu sama lain! Mikuru-chan, tutup matamu, Koizumi-kun, taruh kedua tangan kamu di pundak Mikuru-chan. Ga papa, dorong aja dia ke bawah dan cium dia!"

Asahina-san membukakan mulutnya setengah terlihat bingung, sementara Koizumi mengikuti instruksi Haruhi dan menempatkan kedua tangannya pada pundak Asahina-san. Kesabaranku sudah ada di batasnya,

"Tunggu bentar! Alur ceritanya terlalu sederhana. Kenapa musti ada adegan ini? Apa-apaan nih?"

"Adegan cowo ketemu cewe! Adegan romantis! Adegan ini dibutuhin buat film tentang perjalanan waktu."

Idiot loe ya? Emangnya ini semacam drama dua jam prime-time yang ditampilin tiap minggu? Loe juga, Koizumi, ngapain juga berusaha keras? Kalo adegan ini nantinya ditampilin, loker sepatu loe bakalan dipenuhin sama ratusan surat ngutuk elo besoknya, pake dong otak loe dikit.

"Hee hee, akting Mikuru-chan... lucu..."

Ga lucu sama sekali... inginnya kubilang begitu, tapi jelas ada yang salah dengan Asahina-san. Dia kelihatan termenung-menung semenjak syuting dimulai. Matanya sayu, sementara pipinya merah, dan dia bahkan tak melawan ketika Koizumi menggenggam pundaknya. Ga lucu sama sekali.

"Mmm... Koizumi-kun, kepalaku kerasa berat..."

Asahina-san bergumam dan gemetaran di saat bersamaan. Aku mulai curiga jangan-jangan dia dibius. Dengan wajar kuputar pandanganku ke gelas kosongnya, dan mendapati Tsuruya-san cekikikan dan berkata,

"Sori banget. Kutambahi sedhikit Tequila ke jus Mikuru. Tadhi aku dhibilangi kalo sedhikit alkohol nambah realisme dhalam akting."

Jadi ini rencana Haruhi toh dari dulu? Aku sudah lebih dari terpaku, dan hampir-hampir marah besar. Bisa-bisanya loe masukin begituan ke minumannya?

"Emangnya masalah? Mikuru-chan keliatan seksi banget sekarang ini kok. Ini bikin sesuatunya jadi lebih menggairahkan." ujar Haruhi.

Ini tak ada lagi hubungannya sama akting siapapun. Asahina-san sudah bergoyang kesana-kemari dan kelihatan puyeng. Wajahnya merah terang di bawah mata tertutupnya. Tentu saja bagus dia kelihatan seksi, tapi aku tak suka pemandangan dia bersandar ke Koizumi seperti itu.

"Koizumi-kun, jangan kuatir, terusin aja dan cium dia. Di bibir lah, tentu aja!"

Loe ga bisa gitu dong! Bisa-bisanya loe gini sama orang setengah sadar?

"KOIZUMI, STOP!"

Koizumi berpikir keras, berpikir apakah mendengarkan si sutradara atau si kameramen. Gue beneran bakalan bikin loe babak belur, bangsat loe! Pokoknya, kuturunkan kameranya, karena aku menolak merekam adegan ini, dan aku takkan dipaksa melakukannya juga.

"Sutradara, beban ini terlampau berat bagiku. Lagipula, Asahina-san tampaknya sudah mencapai batasnya."

"...Saya baik."

Kata Asahina-san, tapi dia tak kelihatan baik sama sekali.

"Beneran deh, kamu nih ga bisa diharapin."

Haruhi mengernyit dan melangkah menuju si cewek mabuk,

"Lho? Masih pake lensa kontaknya? Kamu seharusnya ngelepasin itu buat sekarang!"

Dia menampar belakang kepala Asahina-san, dengan keras.

"A...AWW!" Asahina-san menggelengkan kepalanya dan berteriak.

"Mikuru-chan, ga bisa ini! Pas kepalamu kena tampar, kamu seharusnya ngebiarin lensa kontakmu langsung loncat keluar. Coba latian lagi."

Plak!

"Sakit!"

Plak!

"...KYAA!" Asahina-san menutup matanya erat-erat.

"BERHENTI, IDIOT LOE!" cepat-cepat kutangkap tangan Haruhi dan menghentikannya. "Latian macam apa ini? Ini bukan sirkus! Apanya sih yang asik dari ini?"

"Apalagi sekarang? Jangan nyoba-nyoba nyetop aku. Aku ngerencanain ini udah lama!"

"Ga ada yang ngerencanain ini bareng elo! Ini ga lucu! Ini konyol! Asahina-san bukan mainan elo!"

"Udah kuputuskan kok, Mikuru-chan emang mainan aku!"

Setelah mendengar ini, bisa kurasakan darah menyembur ke otakku, bahkan akupun mengira pengelihatanku jadi merah. Aku geram, tiba-tiba impulsku mengesampingkan nalarku, kubuat reaksi refleks bawah sadar.

Seseorang menangkap pergelangan tanganku. Kusadari Koizumi menutup matanya dan perlahan menggelengkan kepalanya. Ketika kulihat Koizumi memegang tanganku, kusadari aku mengepalkan tinju kananku dan mau menghantam Haruhi.

"Apa ini...?"

Mata Haruhi berkilat terang seperti rasi bintang saat dia menatap dingin padaku.

"Kalo kamu punya masalah, bilang aja! Lagian kamu kan cuman tinggal nurutin perintahku juga! Aku komandan dan sutradara... Mau gimana juga, aku ga akan biarin kamu ngelawan aku!"

Mataku jadi merah lagi. Dasar cewek goblok! Koizumi, lepasin gue! Gue ga peduli mau binatang ato orang, tapi siapapun yang ga bakalan belajar pantas dikasih pelajaran, kalaupun itu berarti pake tinju gue. Kalo engga, dia bakalan terus nangkis orang seolah-olah dia punya duri di punggungnya, nyakitin semua orang seumur hidupnya.

Gue ga peduli mau binatang ato orang, tapi siapapun yang ga bakalan belajar pantas dikasih pelajaran, kalaupun itu berarti pake tinju gue.

"Jangan... stop!"

Asahina-san buru-buru menghalangi, dan berkata, hampir tak bisa dimengerti,

"Jangan! Kalian ga boleh berantem..."

Berdiri di antara aku dan Haruhi, Asahina-san merosot jatuh dengan wajahnya merah penuh. Dia menggenggam lutut Haruhi dan berkata,

"Mm... Tolong saling rukun ya... atau... kita bakalan..."

Kata Asahina-san ambigu, lalu merosot jatuh letih menutup matanya, kemudian mulai mendengkur pelan saat ia jatuh tertidur.



Saat aku berjalan menuruni landaian dengan Koizumi, kami melewati kolam dimana kami syuting film hanya beberapa saat yang lalu.

Karena pemeran utama telah jatuh tak sadarkan diri, syuting harus dihentikan. Koizumi, Nagato dan aku memutuskan untuk membiarkan Tsuruya-san menjaga si tidur Asahina-san sementara kami minta diri. Entah kenapa, Haruhi bilang dia ingin ditinggal, dan merebut kamera dari tanganku dan berbalik cepat. Akupun tetap diam dan cepat-cepat membawa keluar sejumlah besar perlengkapan saat Tsuruya-san mengantar kami keluar pintu.

"Maafkan aku, Kyon-kun,"

Kata Tsuruya-san menyesal, dia kemudian tersenyum lagi,

"Aku juga jadhi terlalu hanyut! Jangan kuatir soal Mikuru, tak antar dhia ke rumah nanti, atau dhia bisa nginep di sini semalam."

Nagato pergi di saat dia melangkah keluar pintu, seakan-akan dia tak punya komentar sama sekali. Barangkali Nagato seperti itu selama ini, dia tak pernah punya komentar apapun soal apapun.

Kami kini berjalan beriringan pulang ke rumah. Setelah sekitar lima menit kesunyian, Koizumi akhirnya bicara,

"Tadinya saya selalu pikir anda itu orang yang tenang."

Tadinya gue juga mikir begitu.

"Dunia kita telah mulai jadi tak menentu. Saya mesti meminta anda mohon berhentilah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan Dimensi Tertutup muncul."

Bukan gimana gue nanganin itu! Bukannya itu gunanya 'Organisasi' dibuat? Kalian seharusnya ngelakuin sesuatu!

"Soal insiden barusan, Suzumiya-san sepertinya secara tak sadar telah mengontrol dirinya sendiri, dan tak ada tanda-tanda Dimensi Tertutup sedang dibuat. Ini hanya permohonanku saja, tapi mohon baikan dengannya besok."

Gue mau ngapain itu urusan gue. Ini bukan soal yang bisa diberesin dengan gue setuju ngelakuin apa yang loe bilang.

"Apa yang kita harus pertimbangkan sekarang adalah bagaimana menangani bagian realitas yang telah ia pengaruhi."

Koizumi jelas-jelas berusaha mengubah topik. Kuputuskan ikut serta,

"Ga ada gunanya nimbang-nimbang, gue beneran ga peduli keadaannya mau jadi gimana."

"Sangat sederhana kok. Acap kali Suzumiya-san memikirkan sesuatu, realitas berubah pula. Bukankah selalu seperti itu?"

Bayangan raksasa biru menciptakan malapetaka dalam dunia kelabu muncul dalam benakku.

"Ketika Suzumiya-san memberi pendapat akan sesuatu, kita seharusnya beraksi berdasarkan itu. Misi kita seharusnya mencari tahu dorongan yang mendasarinya."

Aku juga mengingat kembali bola merah berpendar. Koizumi berjalan perlahan sambil berkata dengan percaya diri,

"Kita ini pada dasarnya penawar akan status mental Suzumiya-san, kita juga penyetabil mentalnya."

"Itu... urusan loe, kan?"

"Juga anda."

Mantan anak pindahan misterius masih memberiku senyum tiada akhirnya,

"Tanggung jawab kami terletak dalam Dimensi Tertutup, sementara anda terletak di dunia luar, karena hanya andalah satu-satunya orang yang dapat menjaga status mental Suzumiya-san tetap stabil dan mencegah kemunculan Dimensi Tertutup. Berkat anda, selama enam bulan ke belakang, saya dapat bekerja lebih sedikit. Barangkali saya seharusnya berterimakasih pada anda sepantasnya."

"Ga usah dipikirin."

"Benarkah? Itu akan menyelamatkan saya dari banyak bicara."

Keluar dari landaian ke jalan utama, Koizumi sekali lagi memecah keheningan ini,

"Ah ya, saya ingin anda ikut denganku ke suatu tempat."

"Kalo gue ga mau?"

"Takkan lama. Lagipula, anda tak harus berbuat sesuatu di sana. Tentu saja, anda takkan diundang masuk ke Dimensi Tertutup lagi."

Koizumi tiba-tiba mengangkat tangannya, dan taksi hitam tak asing berhenti di depan kami.

"Kini mari kita lanjutkan,"

Kata Koizumi saat dia bersandar di jok belakang taksi, sementara aku melihat belakang kepala supir taksinya.

"Sekarang ini telah menjadi rutinitas biasa bagi kami untuk terlibat dengan Suzumiya-san dan anda. Bersama dengan anggota brigade lainnya, telah menjadi kebiasaan bagi kami untuk mentackle perilaku di luar kendali Haruhi dengan secara fisik melawannya."

"Repot banget dah."

"Mungkin! Tapi saya tak tahu seberapa lama rutinitas ini dapat bertahan, karena mengulangi hal yang sama terus-menerus adalah salah satu hal yang paling Suzumiya-san benci."

Kayaknya dia lumayan nikmatin dirinya sendiri sekarang ini. Koizumi memberi senyum yang kurang rasa mendesak dan berujar,

"Kita perlu mencari cara untuk mengekang perilaku di luar kendali Haruhi dalam batasan film."

Buat jadi pemain baseball, orang perlu mulai dengan ngayunin bat dan latihan lari, buat jadi pemain master Go ato Shougi, orang perlu mulai dengan menghapal aturan-aturan Go dan Shougi; biar dapat tempat pertama di ujian akhir semester, orang bakalan punya kesempatan kalo mereka begadang belajar buku-buku diktat. Dengan kata lain, beda orang mungkin pake beda metode buat sukses, tapi semua itu tergantung usaha. Tapi segimana banyak usaha diperluin biar bisa ngehapus faktor perusak dalam otak Haruhi?

Kalo gue nyoba ngehentiin dia, dia bakalan buncah, dan dunia kelabu itu mungkin mulai beranak-pinak kayak gila; tapi kalo gue ngebiarin dia semaunya terus-terusan, fantasi dia mungkin jadi nyata.

Kedua cara itu ekstrim banget mau gimana juga loe liat, bukannya bisa dia punya sikap yang lebih ga berlebihan gitu ke sesuatu? Duhh... Dia ga bakalan dinamain Suzumiya Haruhi kalo dia berbuat sesuatu ga berlebihan.

Di luar mobil, pemandangan menjadi lebih hijau saat taksi berkendara di jalan bukit berkelak-kelok. Aku langsung mengerti. Ini adalah bukit yang kami lewati ketika di bus kemarin.

Sebentar kemudian, taksi berhenti di tempat parkir kosong, yang utamanya dipakai oleh orang-orang yang mengunjungi kuil. Disinilah, kemarin, Haruhi melakukan kekejaman dengan menembak pendeta kuil dan merpati dengan pistolnya. Ini adalah kuil itu lagi. Nah aneh ini. Hari ini hari Minggu... Seharusnya lebih banyak orang di sekitar sini.

Keluar taksi duluan, Koizumi berkata,

"Masihkah anda ingat apa yang Suzumiya-san katakan kemarin?"

Gimana bisa gue inget setiap potong omong kosong yang dia semburin keluar?

"Anda akan ingat ketika kita sampai di sana, ke dalam kuil, tentunya." Koizumi lalu menambahkan, "Sudah begini semenjak pagi ini."

Kami menanjaki tangga batu. Kami telah mendaki tangga ini sebelumnya, kemarin. Di akhir tangga seharusnya ada gerbang kuil, diikuti dengan jalan batu menuju kuil itu sendiri. Banyak merpati akan ada di jalan...

"..." Aku termangu.

Memang ada merpati di sepanjang jalan, burung yang mematuk-matuk tanah sambil bergerak kesana-kemari seperti karpet bergerak, tapi aku tak yakin merpati-merpati ini sama dengan yang kemarin.

Itu karena setiap bulu merpati tersebut telah jadi berwarna putih bersih...

"...Ada orang yang ngewarnain bulunya?"

...Dalam semalam.

"Bulu putih ini asli tumbuh dari tubuh mereka. Mereka tidak diwarnai, dan tidak disebabkan karena warna memudar pula."

Mungkin ada orang yang bawa banyak merpati putih dan ngegunainnya buat ngeganti merpati-merpati yang kemaren?

"Kok bisa begini? Siapa yang berbuat begini?"

Aku hanya mencoba menebak, namun aku tahu apa jawabannya, tapi aku benar-benar tak ingin mengatakannya.

Kemarin Haruhi bilang,

Kalo bisa, aku lebih suka merpatinya warna putih, tapi kayaknya aku ga boleh pilih-pilih sekarang.

Kayaknya dia udah pilih-pilih!

"Tepat. Ini kemungkinan besar diciptakan oleh Suzumiya-san di bawah sadar. Cukup beruntung ada batas kesalahan selama satu hari sebelum efeknya jadi jelas."

Mungkin mereka pikir kami mau memberi makan? Kawanan merpati itu berkumpul di bawah kaki kami. Selain kami, tak ada penghunjung lainnya.

"Perilaku di luar kendali Suzumiya-san perlahan merembes keluar dari pembuatan film, ke kenyataan."

Bukannya dah cukup bikin Asahina-san nembakin laser dan beam dari matanya?

"Kenapa sih kita ga tembak aja si Haruhi pake panah penenang dan biarin dia tidur sampe beres festival sekolah?"

Koizumi menanggapi saranku dengan senyum ironis,

"Solusi yang mungkin, tapi apakah anda bersedia bertanggungjawab dari apa yang terjadi setelah ia bangun?"

"Ga makasih."

Pastinya itu ga masuk di deskripsi kerjaan gue. Koizumi mengangkat bahunya dan berkata,

"Jadi kita mesti bagaimana?"

"Bukannya dia Tuhan? Kalian si para pemuja seharusnya ngelakuin sesuatu!"

Dengan sengaja Koizumi memberi paras terkejut,

"Anda bilang Suzumiya-san itu Tuhan? Siapakah yang bilang?"

"Elo lah tentu aja!"

"Oh, saya toh?"

Pengen rasanya gue hajar sampai babak belur orang ini.

Koizumi mengelak dengan balasan biasanya, "Hanya bercanda," kemudian berkata,

"Sesungguhnya, saya pikir tak ada masalah mengklasifikasikan Suzumiya-san sebagai 'Tuhan'. Setengah 'Organisasi' memang memperlakukannya sebagai 'Tuhan'. Tentu saja, ada peragu. Secara pribadi, saya, diri saya sendiri, juga skeptis. Karena saya percaya bahwa bila dia adalah Tuhan, maka tak mungkin baginya hidup di dunia ini tanpa sadar-diri. Pada umumnya, sang pencipta seharusnya menyaksikan kita dari tempat yang jauh, bikin keajaiban serampangan, sementara dengan tenang mengamati kita panik karenanya."

Aku berlutut, memungut bulu yang dijatuhkan oleh salah satu merpati, dan memutar-mutarnya dengan jariku sambil tetap berlutut. Para merpati mulai heboh lagi. Sori ya, gue ga bawa remah roti hari ini.

"Inilah apa yang saya pikirkan,"

Koizumi lanjut mengoceh,

"Ada yang mengaruniai Suzumiya-san kekuatan mahakuasa seperti tuhan, namun mereka tak mengizinkannya jadi sadar akan kekuatan tersebut. Bila memang ada Tuhan, maka Suzumiya-san adalah orang yang dipilih oleh Tuhan. Tapi tak peduli bagaimana anda melihatnya, dia hanya orang biasa."

Gue ga harus mikir banyak-banyak apa cewek itu orang normal ato engga. Tapi kenapa Haruhi punya kekuatan mahakuasa yang engga dia sadari? Kekuatan yang cukup bikin bulu merpati jadi putih. Kenapa? Siapa dibalik ini?

"Yah, saya juga tak tahu, anda tahu?"

Nih anak bener-bener minta dihajar.

"Maaf," ujar Koizumi kemudian melanjutkan,

"Suzumiya-san adalah pencipta juga penghancur. Realitas sekarang ini mungkin adalah produk gagal dari penciptaan, dan boleh jadi Suzumiya-san diberi misi untuk memperbaiki dunia cacat ini."

Terusin!

"Jikalau seperti itu, maka kitalah yang salah. Suzumiya-san adalah yang normal, sedangkan kita akan jadi musuh dunia ini dengan menghalang-halanginya. Bukan itu saja. Selain Suzumiya-san, seluruh ummat manusia adalah salah."

Ho oh, nah itu bakalan jadi masalah besar.

"Masalahnya terletak pada kita yang salah. Ketika dunia sepenuhnya diperbaiki, akankah kita masih jadi bagian dalam dunia itu? Atau akankah kita dipandang sebagai cacat dan disingkirkan? Inilah sesuatu yang tak seorangpun bisa prediksi."

Kalo loe ga bisa prediksi, berhenti ngomong kosong deh kayak loe tau semuanya aja.

"Namun dari cara pandang tertentu, sejauh ini, dia tak mampu menciptakan dunia sempurna, dan itu adalah fakta. Ini karena alam bawah sadarnya condong ke arah penciptaan itu. Suzumiya-san itu orang yang amat positif, tapi apakah yang akan terjadi bila dia tiba-tiba jadi negatif?"

Sepertinya ini bukan waktunya untuk tetap diam, jadi aku menyerah,

"Jadi bakal terjadi apa?"

"Saya tak tahu. Tapi tak peduli apa, menghancurkan selalu lebih mudah daripada menciptakan. 'Bila saya tak percaya ini, maka menghilanglah!' Bila Suzumiya-san memegang sikap seperti itu, maka semuanya akan dikurangi sampai nol, dan semuanya akan disingkirkan. Contohnya, bila musuh tangguh muncul di depan kita, asalkan Suzumiya-san menolak eksistensi mereka, maka itu saja cukup untuk menghancurkan mereka. Apakah itu sihir atau teknologi mutakhir, dia akan dapat menyingkirkan mereka dengan amat mudah."

Tapi Haruhi belum nolak apapun. Apa itu karena dia masih berharap sama sesuatu?

"Itulah yang kami prihatinkan."

Koizumi meneruskan tanpa terlihat prihatin sama sekali,

"Saya pikir tak ada jalan kita bisa tahu apakah Suzumiya-san itu Tuhan atau makhluk mahakuasa sejenis, tapi ada satu hal yang kita bisa tahu pasti. Bila dia terus menggunakan bebas kekuatannya dan itu mengarah pada dunia jadi dirubah, bisa jadi tak seorangpun menyadari bahwa dunia telah berubah. Yang menakutkan yaitu, bahkan Suzumiya-san pun tak sadar kapan dunia telah berubah."

"Kenapa tuh?"

"Karena Suzumiya-san bagian dari dunia ini, bukti bahwa dia bukan pencipta dunia ini. Bila dia Tuhan yang menciptakan dunia ini, dia seharusnya berada di tempat di luar dunia ini, namun di sini ia hidup bersama kita di dunia ini. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa dia hanya bisa mengubah dunia ke tingkat tertentu, dan ini tak wajar dan aneh sekali."

"Elo malah keliatan lebih aneh menurut gue."

Mengabaikan komentarku, Koizumi melanjutkan,

"Saya masih lebih suka dunia ini yang saya hidup di dalamnya kini. Mungkin ada segala macam konflik antara pelpagai masyarakat, tapi hanya masalah waktu saja sebelum manusia menyelesaikan masalah-masalahnya. Masalahnya terletak pada teori-teori seperti geocentrism. Kita perlu memastikan bahwa Suzumiya-san tidak mulai percaya dengan pemikiran begini. Bukankah anda dapat keluar dari Dimensi Tertutup itu dengan pilihan begini juga?"

Gimana ya? Gue udah lupa tuh, gue mutusin buat nyegel ingatan yang ga pengen lagi gue ingat-ingat.

Senyum terbentuk pada mulut Koizumi; tampaknya seperti senyum mencela diri sendiri.

"Maafkan saya. Saya sudah bicara terlalu banyak soal hal tak konstruktif ini seolah-olah sayalah pembela keadilan dunia ini. Mohon terima permintaan maaf saya."


Balik ke Bab 3 Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Bab 5