<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=110.136.170.223</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=110.136.170.223"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/110.136.170.223"/>
	<updated>2026-05-14T16:06:24Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214735</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 2 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214735"/>
		<updated>2012-12-24T10:34:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Gadis Embun Pagi (Lantai ke-22 Aincrad, Oktober 2024)==&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
Asuna selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat lima puluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini, Asuna sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Kirito sambil merebahkan kepalanya di atas tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Mereka menjadi partner clearing dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak mereka menikah dan pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke dua puluh dua. Meskipun sebagai pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Kirito yang tidak dia ketahui. Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, dia pelan-pelan menjadi ragu akan usianya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang tidak peduli dan suka menyendiri, ia menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua darinya. Namun, melihat kirito, lelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat dirinya hanya dapat dilihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun, melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah disukai, dan lagipula, keduanya telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian kontak, akan lebih meyakinkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tetapi, Asuna kurang cukup berani untuk mengatakannya dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan. Untuk Asuna yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah hari-hari lembut di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa lari dari dunia ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan tetap puas, dapat terus hidup seperti ini sampai akhir, meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya dia enggan untuk bangun dari mimpi ini dulu— Berpikir demikian, Asuna perlahan mengulurkan tangannya dan membelai wajah tidur Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, sudah memang sewajarnya kemampuan Kirito tidak perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain pada masa beta test, serta status numerik yang didapat lewat pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian dan tekad. Dia mungkin kalah kepada pemimpin Knight of the Blood, «Holy Sword» Heathcliff, tapi Kirito adalah pemain terkuat yang pernah di kenal Asuna. Meski bagaimanapun meburuknya kondisi di medan perang, dia tidak akan pernah merasa takut dengannya yang berada di sisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, saat ia menatap Kirito yang baring tergelung, entah bagaimana ada satu perasaan yang dengan begitu kuat berusaha untuk keluar dari dadanya bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa ia harus melindunginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bernafas dengan lembut, Asuna membungkuk, menyelubungi tubuh Kirito dengan tanganya. Dengan pelan dia kemudian berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito… Aku cinta kamu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kirito bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka kelopak matanya. Pasangan itu saling bertukar pandang, dengan wajah mereka yang didepan satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap berlutut pada tempat tidur, dia kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-Selamat Pagi, Kirito, …Apakah kamu… dengan yang baru aku bilang…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat pagi. Tadi… eh, emang ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadap Kirito yang bangkit dan menjawab sambil menahan menguap, Asuna dengan kuat menggoyangkan-goyangkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tidak, tidak ada apa- apa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyelesaikan sarapan pagi telor ceplok dengan roti gandum, salad dan kopi dan merapikan meja dalam beberapa detik, Asuna kemudian menepuk kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Kirito tersenyum kecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan membicarakan hal itu dengan begini,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi setiap hari telah sangatlah menyenangkan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah pemikiran Asuna yang nyata dan murni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan SAO sampai ia jatuh cinta dengan Kirito, Asuna telah menempa dan mengeraskan hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi sub-leader dari clearing guild, Knights of the Blood, dia telah terjun ke banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya menyerah pada sesekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata mata untuk menyelesaikan game ini dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pemikiran yang seperti ini, Asuna tidak bisa berbuat apa apa kecuali menyesal tidak bertemu Kirito lebih awal. Hari- hari setelah bertemu dengan Kirito sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Kirito, semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya bagi Asuna, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana mereka berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap tiap detik dapat dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan banyak hal yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna meletakkan tangannya di pinggang dan berbicara sambil cemberut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Kirito-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan bermain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi itu, Kirito tersenyum lebar dan melambaikan tangan kirinya, memanggil peta. Mengubahnya menjadi modus visible, dia menunjukkannya kepada Asuna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tepat disekitar ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke-dua puluh dua cukuplah luas. Diameter dari  seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan, disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat labyrinth. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifera yang indah. Rumah kecil milik Asuna dan Kirito berada di dalam sebuah area di tepi selatan lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Kirito sekitara dua kilometer jauhhnya, di arah timur laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin.. Dibagian ini, dimana hutan menebal...”itu” tampaknya akan keluar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada Kirito yang sedang tersenyum halus, Asuna dengan ragu menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...H-Hantu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna diam sejenak, dengan takut dia bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Itu berarti, seekor monter dari tipe Astral?Sesuatu seperti roh atau banshee?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia. Sepertinya seorang wanita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, Asuna hanya yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang. Dia cukup tidak baik dengan itu bahkan sampai memikirkan alasan yang sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi lanti enam puluh lima dan enam puluh enam yang terkenal karena tema horornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi lihat, ini adalah dunia maya permainan. Sesuatu seperti— hantu keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paling cuma sedikit dari itu yang benar, ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun untuk Kirito, yang tahu bahwa Asuna lemah terhadap hantu, ia dengan antusias lanjut menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki NervGear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentik--!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon buruk. Yah, aku ragu kalau roh akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerutkan bibirnya memberi muka masam, Asuna mengganti fokusnya ke luar jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Aincrad terancang, meskipun tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung kecuali pada awal pagi dan sore, berkat pencahayaan sekitar yang memadai, wilayahnya jelas ternyala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbalik ke arah Kirito dan menjawab, dengan kepalanya yang terangkat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti hantu tidaklah nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali kita akan pergi di tengah malam, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin!! ….Aku  tidak akan membuatkan makanan untuk orang yang jahat seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bercemberut kepada Kirito untuk terakhir kalinya, Asuna kemudian tersenyum lebar dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan, jadi Kirito-kun potong rotinya, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger ikan,sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melangkah ke rumput di kebun, Asuna berbalik kembali ke Kirito dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, biarkan aku naik di bahumu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biarkan kamu naik di bahuku!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito menjawab liar, kembali bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama serasa membosankan seharusnya menjadi lebih mudah dengan status kekuatan fisik Kirito-kun, kan?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa umurmu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Usia tidak ada hubungannya dengan itu Bukankah itu benar? Lagipula tidak ada yang melihat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ba-baiklah, kurasa ..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kirito berjongkok dan berbalik ke arah Asuna sambil geleng-geleng kepala. Mengangkat roknya, dia mengangkat kakinya ke bahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di sana kita pergi. Tapi aku akan pastikan untuk memukulmu jika kamu melihat ke belakang, Ok..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah jadi tidak masuk akal ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggerutu tentang situasi, Kirito dengan gesit berdiri, sehingga tampak kenaikan dalam sudut pandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak bisa melihatnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu nanti juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menempatkan tangannya di atas kepala Kirito, yang telah merosot lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Asuna berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, saatnya untuk berangkat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tertawa riang kapal bahu Kirito, yang terus berjalan ke depan, Asuna mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama. Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di semua tujuh belas tahun dari hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan di sepanjang jalan-Kirito adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi-Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai dua puluh dua akhirnya datang di hadapan. Mungkin tergoda akan cuaca lembut, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, casting ke danau, umpan menggantung di air. Jalan meringkuk di sekitar danau, menuju tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ini tidak seperti yang banyak orang lihat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaha, sehingga ada orang-orang di sekitar ... Hei, Kirito-kun, lambaikan tangan pada mereka juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara aku akan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengeluhkan, Kirito tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membiarkan Asuna turun. Asuna mengerti bahwa dia benar-benar geli oleh pergantian peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan ke bawah yang miring, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan. Tentu melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, dan kicau burung kecil terdengar di sungai kecil. Semua suara ini menjabat sebagai pelengkap untuk pemandangan hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berpaling matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat daripada biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pohon itu pasti besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa mendaki itu ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm ... Mm ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi permintaan Asuna tersebut, Kirito memikirkannya untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin mencobanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, mari kita tinggalkan itu untuk waktu berikutnya-Sekarang. Aku berpikir tentang mendaki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna membentangkan tubuhnya yang berada pada bahu Kirito dan memandang ke arah tepi luar Aincrad, melalui celah-celah di antara pepohonan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hal-hal di sekitar tepi, orang-orang yang terlihat seperti mendukung, mereka terhubung sepanjang jalan ke lantai berikutnya, benar? aku bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengendalikan tubuhnya, dia berbalik dan menatap Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa kau tidak mengundangku juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, itu hanya karena Kirito-kun terus melarikan diri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan tidak mau menemaniku untuk minum teh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Itu ... Ba-baiklah, jika seperti itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula, Kirito melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau menilai berdasarkan hasil murni, itu adalah kegagalan. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi setelah naik sekitar delapan puluh meter, pesan kesalahan muncul, &#039;Anda tidak bisa melampaui daerah ini&#039; dan membuatku jengkel. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak bekerja, ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut dan aku jatuh dari ketinggian ....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam daftar pemain yang tewas dalam aksi, akan tetapi aku dengan segera menggunakan kristal teleport..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak mengulanginya, Ok?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itulah yang ingin kukatakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan berangsur-angsur menjadi lebih padat. Bahkan teriakan burung yang mulai samar-samar, serta sinar matahari melalui pepohonan mulai memudar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memandang berkeliling sekali lagi, ia mempertanyakan Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kita cukup dekat dengan tujuan kita dan akan mencapainya dalam beberapa menit..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa yanng membuatnya seperti gelisah, dan mendorong dia untuk bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang pengrajin kayu (woodcraft) telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup bagus,. Dan sementara pemain sibuk dalam tugasnya , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... dan ada pemandangan sekilas putih. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemain bingung berpikir bahwa itu adalah sebuah monster, tapi rupanya bukan itu, itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, sebagai pemain telah disebutkan.. Panjang, rambut hitam pada pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Kalau bukan rakasa, itu hanya bisa menjadi pemain, pemain berpikir, menatap padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja bocor keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara yang mungkin Meskipun berpikir bahwa, pemain semakin dekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal itu, gadis itu berhenti semua gerakan ... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Th-Itu e-eno ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyesakkan jeritan, Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dari saya jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya mendapatkan pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... mengi, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, serius bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya-saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pasangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Bahkan jika itu tidak sebanyak itu Kirito, keterampilan persepsi Asuna itu juga, agak disempurnakan melalui pengalaman. Pasif Toggling penggunaan keterampilan, dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar dari hem dua ramping, panjang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama Kirito telah dijelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Ini harus menjadi kebohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari pasangan, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah, dengan gerakan seperti itu dari makhluk hidup. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara seperti itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wa-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis jatuh, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak bisa apa-apa kecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, masih ditutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, bagian satu Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.Rambut hitam panjang dengan pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Jika bukan rakasa, itu hanya salah seorang player, player berpikir, dan melihat padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara untuk memastikan. Meskipun berpikir, player tersebut semakin dekat.. Dan memanggilnya. Melakukan hal tersebut, membuat gadis itu ... dam dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-I-Itu cu-cuku ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dariku jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya setelah pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... Kemudian, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, yang suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pandangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura tidak menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Walaupun itu tidak seperti Kirito, keterampilan persepsi Asuna juga agak disempurnakan melalui pengalaman. Ketika &amp;lt;&amp;lt;Pasif Toggling&amp;gt;&amp;gt; digunakan , dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu berwarna tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Sambil mengintip keluar dari hem sepasang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama sperti yang Kirito jelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Ini pasti bohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari mereka, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak mungkin itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tu-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis yang jatuh itu, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dengan enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak mungkinkecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, yang tertutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, dan Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214732</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 2 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214732"/>
		<updated>2012-12-24T10:09:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Gadis Embun Pagi (Lantai ke-22 Aincrad, Oktober 2024)==&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
Asuna selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat lima puluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini, Asuna sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Kirito sambil merebahkan kepalanya di atas tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Mereka menjadi partner clearing dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak mereka menikah dan pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke dua puluh dua. Meskipun sebagai pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Kirito yang tidak dia ketahui. Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, dia pelan-pelan menjadi ragu akan usianya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang tidak peduli dan suka menyendiri, ia menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua darinya. Namun, melihat kirito, lelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat dirinya hanya dapat dilihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun, melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah disukai, dan lagipula, keduanya telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian kontak, akan lebih meyakinkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tetapi, Asuna kurang cukup berani untuk mengatakannya dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan. Untuk Asuna yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah hari-hari lembut di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa lari dari dunia ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan tetap puas, dapat terus hidup seperti ini sampai akhir, meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya dia enggan untuk bangun dari mimpi ini dulu— Berpikir demikian, Asuna perlahan mengulurkan tangannya dan membelai wajah tidur Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, sudah memang sewajarnya kemampuan Kirito tidak perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain pada masa beta test, serta status numerik yang didapat lewat pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian dan tekad. Dia mungkin kalah kepada pemimpin Knight of the Blood, «Holy Sword» Heathcliff, tapi Kirito adalah pemain terkuat yang pernah di kenal Asuna. Meski bagaimanapun meburuknya kondisi di medan perang, dia tidak akan pernah merasa takut dengannya yang berada di sisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, saat ia menatap Kirito yang baring tergelung, entah bagaimana ada satu perasaan yang dengan begitu kuat berusaha untuk keluar dari dadanya bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa ia harus melindunginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bernafas dengan lembut, Asuna membungkuk, menyelubungi tubuh Kirito dengan tanganya. Dengan pelan dia kemudian berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito… Aku cinta kamu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kirito bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka kelopak matanya. Pasangan itu saling bertukar pandang, dengan wajah mereka yang didepan satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap berlutut pada tempat tidur, dia kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-Selamat Pagi, Kirito, …Apakah kamu… dengan yang baru aku bilang…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat pagi. Tadi… eh, emang ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadap Kirito yang bangkit dan menjawab sambil menahan menguap, Asuna dengan kuat menggoyangkan-goyangkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tidak, tidak ada apa- apa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyelesaikan sarapan pagi telor ceplok dengan roti gandum, salad dan kopi dan merapikan meja dalam beberapa detik, Asuna kemudian menepuk kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Kirito tersenyum kecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan membicarakan hal itu dengan begini,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi setiap hari telah sangatlah menyenangkan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah pemikiran Asuna yang nyata dan murni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan SAO sampai ia jatuh cinta dengan Kirito, Asuna telah menempa dan mengeraskan hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi sub-leader dari clearing guild, Knights of the Blood, dia telah terjun ke banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya menyerah pada sesekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata mata untuk menyelesaikan game ini dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pemikiran yang seperti ini, Asuna tidak bisa berbuat apa apa kecuali menyesal tidak bertemu Kirito lebih awal. Hari- hari setelah bertemu dengan Kirito sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Kirito, semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya bagi Asuna, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana mereka berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap tiap detik dapat dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan banyak hal yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna meletakkan tangannya di pinggang dan berbicara sambil cemberut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Kirito-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan bermain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi itu, Kirito tersenyum lebar dan melambaikan tangan kirinya, memanggil peta. Mengubahnya menjadi modus visible, dia menunjukkannya kepada Asuna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tepat disekitar ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke-dua puluh dua cukuplah luas. Diameter dari  seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan, disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat labyrinth. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifera yang indah. Rumah kecil milik Asuna dan Kirito berada di dalam sebuah area di tepi selatan lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Kirito sekitara dua kilometer jauhhnya, di arah timur laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin.. Dibagian ini, dimana hutan menebal...”itu” tampaknya akan keluar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada Kirito yang sedang tersenyum halus, Asuna dengan ragu menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...H-Hantu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna diam sejenak, dengan takut dia bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Itu berarti, seekor monter dari tipe Astral?Sesuatu seperti roh atau banshee?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia. Sepertinya seorang wanita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, Asuna hanya yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang. Dia cukup tidak baik dengan itu bahkan sampai memikirkan alasan yang sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi lanti enam puluh lima dan enam puluh enam yang terkenal karena tema horornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi lihat, ini adalah dunia maya permainan. Sesuatu seperti— hantu keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paling cuma sedikit dari itu yang benar, ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun untuk Kirito, yang tahu bahwa Asuna lemah terhadap hantu, ia dengan antusias lanjut menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki NervGear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentik--!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon buruk. Yah, aku ragu kalau roh akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerutkan bibirnya memberi muka masam, Asuna mengganti fokusnya ke luar jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Aincrad terancang, meskipun tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung kecuali pada awal pagi dan sore, berkat pencahayaan sekitar yang memadai, wilayahnya jelas ternyala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbalik ke arah Kirito dan menjawab, dengan kepalanya yang terangkat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti hantu tidaklah nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali kita akan pergi di tengah malam, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin!! ….Aku  tidak akan membuatkan makanan untuk orang yang jahat seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bercemberut kepada Kirito untuk terakhir kalinya, Asuna kemudian tersenyum lebar dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan, jadi Kirito-kun potong rotinya, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger ikan,sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melangkah ke rumput di kebun, Asuna berbalik kembali ke Kirito dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, biarkan aku naik di bahumu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biarkan kamu naik di bahuku!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito menjawab liar, kembali bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama serasa membosankan seharusnya menjadi lebih mudah dengan status kekuatan fisik Kirito-kun, kan?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa umurmu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Usia tidak ada hubungannya dengan itu Bukankah itu benar? Lagipula tidak ada yang melihat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ba-baiklah, kurasa ..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kirito berjongkok dan berbalik ke arah Asuna sambil geleng-geleng kepala. Mengangkat roknya, dia mengangkat kakinya ke bahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di sana kita pergi. Tapi aku akan pastikan untuk memukulmu jika kamu melihat ke belakang, Ok..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah jadi tidak masuk akal ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggerutu tentang situasi, Kirito dengan gesit berdiri, sehingga tampak kenaikan dalam sudut pandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak bisa melihatnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu nanti juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menempatkan tangannya di atas kepala Kirito, yang telah merosot lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Asuna berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, saatnya untuk berangkat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tertawa riang kapal bahu Kirito, yang terus berjalan ke depan, Asuna mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama. Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di semua tujuh belas tahun dari hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan di sepanjang jalan-Kirito adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi-Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai dua puluh dua akhirnya datang di hadapan. Mungkin tergoda akan cuaca lembut, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, casting ke danau, umpan menggantung di air. Jalan meringkuk di sekitar danau, menuju tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ini tidak seperti yang banyak orang lihat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaha, sehingga ada orang-orang di sekitar ... Hei, Kirito-kun, lambaikan tangan pada mereka juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara aku akan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengeluhkan, Kirito tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membiarkan Asuna turun. Asuna mengerti bahwa dia benar-benar geli oleh pergantian peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan ke bawah yang miring, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan. Tentu melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, dan kicau burung kecil terdengar di sungai kecil. Semua suara ini menjabat sebagai pelengkap untuk pemandangan hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berpaling matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat daripada biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pohon itu pasti besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa mendaki itu ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm ... Mm ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi permintaan Asuna tersebut, Kirito memikirkannya untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin mencobanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, mari kita tinggalkan itu untuk waktu berikutnya-Sekarang. Aku berpikir tentang mendaki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna membentangkan tubuhnya yang berada pada bahu Kirito dan memandang ke arah tepi luar Aincrad, melalui celah-celah di antara pepohonan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hal-hal di sekitar tepi, orang-orang yang terlihat seperti mendukung, mereka terhubung sepanjang jalan ke lantai berikutnya, benar? aku bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengendalikan tubuhnya, dia berbalik dan menatap Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa kau tidak mengundangku juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, itu hanya karena Kirito-kun terus melarikan diri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan tidak mau menemaniku untuk minum teh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Itu ... Ba-baiklah, jika seperti itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula, Kirito melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau menilai berdasarkan hasil murni, itu adalah kegagalan. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi setelah naik sekitar delapan puluh meter, pesan kesalahan muncul, &#039;Anda tidak bisa melampaui daerah ini&#039; dan membuatku jengkel. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak bekerja, ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut dan aku jatuh dari ketinggian ....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam daftar pemain yang tewas dalam aksi, akan tetapi aku dengan segera menggunakan kristal teleport..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak mengulanginya, Ok?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itulah yang ingin kukatakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan berangsur-angsur menjadi lebih padat. Bahkan teriakan burung yang mulai samar-samar, serta sinar matahari melalui pepohonan mulai memudar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memandang berkeliling sekali lagi, ia mempertanyakan Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kita cukup dekat dengan tujuan kita dan akan mencapainya dalam beberapa menit..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa yanng membuatnya seperti gelisah, dan mendorong dia untuk bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang pengrajin kayu (woodcraft) telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup bagus,. Dan sementara pemain sibuk dalam tugasnya , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... dan ada pemandangan sekilas putih. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemain tersebut bingung, berpikir bahwa itu adalah rakasa, tapi rupanya bukan, itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, dengan ciri-ciri yang di sebutkan.. E&amp;quot;Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa-apa membuatnya seperti gelisah, mendorong dia untuk bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, sekitar seminggu kembali, seorang pengrajin kayu (woodcraft) pemain tampaknya telah datang di sini untuk mengumpulkan beberapa log The kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup baik,. Dan sementara pemain asyik dalam tugas , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... ada pemandangan sekilas putih. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun terus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemain mendapat bingung berpikir bahwa itu adalah sebuah rakasa, tapi rupanya, bukan itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, sebagai pemain telah disebutkan.. Panjang, rambut hitam pada pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Kalau bukan rakasa, itu hanya bisa menjadi pemain, pemain berpikir, menatap padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja bocor keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara yang mungkin Meskipun berpikir bahwa, pemain semakin dekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal itu, gadis itu berhenti semua gerakan ... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Th-Itu e-eno ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyesakkan jeritan, Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dari saya jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya mendapatkan pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... mengi, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, serius bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya-saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pasangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Bahkan jika itu tidak sebanyak itu Kirito, keterampilan persepsi Asuna itu juga, agak disempurnakan melalui pengalaman. Pasif Toggling penggunaan keterampilan, dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar dari hem dua ramping, panjang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama Kirito telah dijelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Ini harus menjadi kebohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari pasangan, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah, dengan gerakan seperti itu dari makhluk hidup. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara seperti itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wa-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis jatuh, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak bisa apa-apa kecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, masih ditutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, bagian satu Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.Rambut hitam panjang dengan pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Jika bukan rakasa, itu hanya salah seorang player, player berpikir, dan melihat padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara untuk memastikan. Meskipun berpikir, player tersebut semakin dekat.. Dan memanggilnya. Melakukan hal tersebut, membuat gadis itu ... dam dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-I-Itu cu-cuku ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dariku jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya setelah pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... Kemudian, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, yang suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pandangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura tidak menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Walaupun itu tidak seperti Kirito, keterampilan persepsi Asuna juga agak disempurnakan melalui pengalaman. Ketika &amp;lt;&amp;lt;Pasif Toggling&amp;gt;&amp;gt; digunakan , dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu berwarna tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Sambil mengintip keluar dari hem sepasang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama sperti yang Kirito jelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Ini pasti bohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari mereka, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak mungkin itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tu-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis yang jatuh itu, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dengan enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak mungkinkecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, yang tertutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, dan Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214720</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 2 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_2_Bab_3&amp;diff=214720"/>
		<updated>2012-12-24T09:31:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Gadis Embun Pagi (Lantai ke-22 Aincrad, Oktober 2024)==&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
Asuna selalu menyetel alarm paginya ke pukul tujuh lewat lima puluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu bertanya mengapa pada pukul tersebut, ini karena alarm pagi Kirito yang berbunyi tepat pada pukul delapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini, Asuna sekali lagi terbangun dengan suara lembut dari instrumen tiup kayu dan terus berbaring, menatap wajah tidur Kirito sambil merebahkan kepalanya di atas tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia jatuh cinta setengah tahun yang lalu. Mereka menjadi partner clearing dua minggu yang lalu. Dan baru enam hari berlalu semenjak mereka menikah dan pindah ke tempat ini, di dalam hutan lantai ke dua puluh dua. Meskipun sebagai pasangan tercintanya, masih banyak hal tentang Kirito yang tidak dia ketahui. Sempat, sambil mengintip wajah tidurnya, dia pelan-pelan menjadi ragu akan usianya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru beberapa waktu lalu, karena sifatnya yang tidak peduli dan suka menyendiri, ia menduga bahwa dia seharusnya lebih sedikit tua darinya. Namun, melihat kirito, lelap dalam tidur, dengan kepolosan yang begitu naif, membuat dirinya hanya dapat dilihat seperti anak yang masih kecil, tidak lebih tua dari dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanyakan hal seperti usia mungkin— bukanlah masalah. Namun, melanggar batas ke permasalahan di dunia nyata kuranglah disukai, dan lagipula, keduanya telah menjadi suami istri. Daripada usia, bertemu lagi setelah kembali ke dunia nyata, bertukar informasi dari nama dan alamat asli sampai ke rincian kontak, akan lebih meyakinkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tetapi, Asuna kurang cukup berani untuk mengatakannya dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia takut kalau membicarakan permasalahan dunia nyata, «kehidupan pernikahan» ini akan terasa hanyalah seperti khayalannya yang bukan-bukan. Untuk Asuna yang sekarang, satu kenyataan yang paling penting baginya, adalah hari-hari lembut di rumah hutan ini; bahkan jika tidak bisa lari dari dunia ini, dengan tubuh mereka yang di dunia nyata menyambut kematian, ia masih akan tetap puas, dapat terus hidup seperti ini sampai akhir, meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya dia enggan untuk bangun dari mimpi ini dulu— Berpikir demikian, Asuna perlahan mengulurkan tangannya dan membelai wajah tidur Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, wajah tidur itu memanglah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, sudah memang sewajarnya kemampuan Kirito tidak perlu diragukan. Dengan jumlah pengalaman yang sangat besar dari saat bermain pada masa beta test, serta status numerik yang didapat lewat pertempuran yang tidak ada hentinya, dan menggunakan semua itu secara efektif, penilaian dan tekad. Dia mungkin kalah kepada pemimpin Knight of the Blood, «Holy Sword» Heathcliff, tapi Kirito adalah pemain terkuat yang pernah di kenal Asuna. Meski bagaimanapun meburuknya kondisi di medan perang, dia tidak akan pernah merasa takut dengannya yang berada di sisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, saat ia menatap Kirito yang baring tergelung, entah bagaimana ada satu perasaan yang dengan begitu kuat berusaha untuk keluar dari dadanya bahwa dia hanya seperti adik kecil yang naif dan rapuh. Perasaan bahwa ia harus melindunginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bernafas dengan lembut, Asuna membungkuk, menyelubungi tubuh Kirito dengan tanganya. Dengan pelan dia kemudian berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito… Aku cinta kamu. Tinggallah bersamaku selamanya, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kirito bergerak dengan pelan, dan perlahan membuka kelopak matanya. Pasangan itu saling bertukar pandang, dengan wajah mereka yang didepan satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna segera mundur dengan panik. Mengalihkan dirinya ke sikap berlutut pada tempat tidur, dia kemudian berbicara dengan wajah yang tersipu malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-Selamat Pagi, Kirito, …Apakah kamu… dengan yang baru aku bilang…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat pagi. Tadi… eh, emang ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadap Kirito yang bangkit dan menjawab sambil menahan menguap, Asuna dengan kuat menggoyangkan-goyangkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tidak, tidak ada apa- apa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyelesaikan sarapan pagi telor ceplok dengan roti gandum, salad dan kopi dan merapikan meja dalam beberapa detik, Asuna kemudian menepuk kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Kemana kita akan bermain hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh, kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Kirito tersenyum kecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan membicarakan hal itu dengan begini,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi setiap hari telah sangatlah menyenangkan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah pemikiran Asuna yang nyata dan murni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir kebelakang hanyalah membawa duka, tetapi dalam satu setengah tahun, dari saat ia menjadi tawanan SAO sampai ia jatuh cinta dengan Kirito, Asuna telah menempa dan mengeraskan hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengorbankan tidur untuk meningkatan skillnya, dipilih menjadi sub-leader dari clearing guild, Knights of the Blood, dia telah terjun ke banyak labirin dengan begitu cepatnya bahkan cukup untuk membuat anggotanya menyerah pada sesekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang ada dihatinya itu hanyalah semata mata untuk menyelesaikan game ini dan melarikan diri; sehingga ia berkesimpulan bahwa semua aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan itu adalah sia sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pemikiran yang seperti ini, Asuna tidak bisa berbuat apa apa kecuali menyesal tidak bertemu Kirito lebih awal. Hari- hari setelah bertemu dengan Kirito sangatlah berwarna, penuh dengan begitu banyak kejutan yang bahkan melewati kehidupannya yang lalu di dunia nyata. Jika bersama Kirito, semua waktu yang telah dihabiskan disini dapat dianggap sebagai pengalaman yang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya bagi Asuna, akhirnya bisa mendapakatkan hari dimana mereka berdua dapat menghabiskan waktu bersama, tiap tiap detik dapat dianggap perhiasan berharga dengan sendirinya. Dia ingin pergi, sebagai pasangan, ke banyak dan lebih banyak tempat lagi bersama dan membicarakan banyak hal yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna meletakkan tangannya di pinggang dan berbicara sambil cemberut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Kirito-kun tidak ingin pergi ke suatu tempat dan bermain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi itu, Kirito tersenyum lebar dan melambaikan tangan kirinya, memanggil peta. Mengubahnya menjadi modus visible, dia menunjukkannya kepada Asuna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tepat disekitar ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ditunjuk adalah sudut hutan, tidak terlalu jauh dari rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi salah satu dari lantai bawah, Lantai ke-dua puluh dua cukuplah luas. Diameter dari  seluruh wilayah ini mungkin lebih dari delapan kilometer. Sebuah danau raksasa berada di tengah dan sampai ke pantai selatan, disana terdapat kota utama, «Coral» Village. Di pantai utara terdapat labyrinth. Sisa dari wilayah tersebut ditutupi oleh hutan konifera yang indah. Rumah kecil milik Asuna dan Kirito berada di dalam sebuah area di tepi selatan lantai ini, dan apa yang sekarang ditunjuk Kirito sekitara dua kilometer jauhhnya, di arah timur laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah tentang rumor yang aku dengar di desa kemarin.. Dibagian ini, dimana hutan menebal...”itu” tampaknya akan keluar.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada Kirito yang sedang tersenyum halus, Asuna dengan ragu menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...H-Hantu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna diam sejenak, dengan takut dia bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Itu berarti, seekor monter dari tipe Astral?Sesuatu seperti roh atau banshee?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan, ini hantu asli. Seorang player... jadi, roh manusia. Sepertinya seorang wanita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aah...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tanpa sadar menjengit. Mengarah ke topik seperti ini, Asuna hanya yakin bahwa dia akan terpengaruh jauh lebih buruk dari rata-rata orang. Dia cukup tidak baik dengan itu bahkan sampai memikirkan alasan yang sembarangan untuk tidak mengikuti clearing labirin kastil tua, membentangi lanti enam puluh lima dan enam puluh enam yang terkenal karena tema horornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi lihat, ini adalah dunia maya permainan. Sesuatu seperti— hantu keluar, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaksa dirinya untuk tetap tersenyum, dia mulai memprotes dengan suara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paling cuma sedikit dari itu yang benar, ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun untuk Kirito, yang tahu bahwa Asuna lemah terhadap hantu, ia dengan antusias lanjut menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya… Seorang pemain yang mati dengan penyesalan, merasuki NervGear yang masih dipakai dan aktif… mengeluyuri wilayah, malam demi malam…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentik--!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahahaha, maaf, ini hanya lelucon buruk. Yah, aku ragu kalau roh akan benar-benar muncul, tapi kalau kita mau pergi ke suatu tempat, lebih baik menuju ke tempat yang lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk terjadi sesuatu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerutkan bibirnya memberi muka masam, Asuna mengganti fokusnya ke luar jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun musim dingin yang mendekati, cuacanya sangat baik. Sinar matahari terasa hangat dan lembut, membasuh halaman kebun. Waktu yang paling tidak cocok untuk acara seperti penampakan hantu. Karena bagaimana Aincrad terancang, meskipun tidak mungkin untuk melihat matahari secara langsung kecuali pada awal pagi dan sore, berkat pencahayaan sekitar yang memadai, wilayahnya jelas ternyala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbalik ke arah Kirita dan menjawab, dengan kepalanya yang terangkat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Mari kita pergi. Untuk membuktikan kalau sesuatu seperti hantu tidaklah nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu, --Kalau kita tidak menemukannya hari ini, lain kali kita akan pergi di tengah malam, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin!! ….Aku  tidak akan membuatkan makanan untuk orang yang jahat seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gah, lupakan itu. Kau tidak mendengar apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bercemberut kepada Kirito untuk terakhir kalinya, Asuna kemudian tersenyum lebar dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, mari kita selesaikan persiapan. Aku akan memanggang ikan, jadi Kirito-kun potong rotinya, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cepat memasukkan kotak makan siang dengan burger ikan,sekitar jam sembilan pagi ketika mereka meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melangkah ke rumput di kebun, Asuna berbalik kembali ke Kirito dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, biarkan aku naik di bahumu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Biarkan kamu naik di bahuku!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito menjawab liar, kembali bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau lihat, selalu melihat dari ketinggian yang sama serasa membosankan seharusnya menjadi lebih mudah dengan status kekuatan fisik Kirito-kun, kan?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah, mungkin itu benar ... Ya ampun, berapa umurmu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Usia tidak ada hubungannya dengan itu Bukankah itu benar? Lagipula tidak ada yang melihat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ba-baiklah, kurasa ..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kirito berjongkok dan berbalik ke arah Asuna sambil geleng-geleng kepala. Mengangkat roknya, dia mengangkat kakinya ke bahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Di sana kita pergi. Tapi aku akan pastikan untuk memukulmu jika kamu melihat ke belakang, Ok..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah jadi tidak masuk akal ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggerutu tentang situasi, Kirito dengan gesit berdiri, sehingga tampak kenaikan dalam sudut pandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Waa! Lihat, kamu bahkan dapat melihat danau dari sini!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak bisa melihatnya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau begitu aku akan melakukannya untukmu nanti juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menempatkan tangannya di atas kepala Kirito, yang telah merosot lebih karena kelelahan atas kejadian tersebut, Asuna berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Sekarang, saatnya untuk berangkat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tertawa riang kapal bahu Kirito, yang terus berjalan ke depan, Asuna mampu memahami betapa berharganya hari ini, mampu hidup bersama. Dia sepenuh hati bisa percaya bahwa ini adalah saat ia merasa paling «hidup» di semua tujuh belas tahun dari hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan di sepanjang jalan-Kirito adalah satu-satunya yang benar-benar berupaya, tapi-Setelah sekitar sepuluh menit, salah satu danau yang menghiasi lantai dua puluh dua akhirnya datang di hadapan. Mungkin tergoda akan cuaca lembut, sudah ada beberapa player yang berada di sana sejak pagi, casting ke danau, umpan menggantung di air. Jalan meringkuk di sekitar danau, menuju tanjakan, cukup jauh dari tepi danau. Tapi saat mereka mendekat, melihat player yang berpaling ke arah mereka dan melambaikan tangan. Tampaknya setiap orang yang mereka lihat tersenyum pada mereka dan beberapa bahkan tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ini tidak seperti yang banyak orang lihat!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaha, sehingga ada orang-orang di sekitar ... Hei, Kirito-kun, lambaikan tangan pada mereka juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara aku akan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengeluhkan, Kirito tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membiarkan Asuna turun. Asuna mengerti bahwa dia benar-benar geli oleh pergantian peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan ke bawah yang miring, ke arah kanan, menuju ke dalam hutan. Tentu melalui celah antar pohon konifer besar yang menyerupai cedar, menjulang di atas segalanya, mereka berjalan beriringan. Gemerisik daun, dan kicau burung kecil terdengar di sungai kecil. Semua suara ini menjabat sebagai pelengkap untuk pemandangan hutan, yang menjadi satu dalam warna-warna musim gugur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berpaling matanya ke arah puncak pohon, yang lebih dekat daripada biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pohon itu pasti besar ... Hei, apakah kamu pikir kamu bisa mendaki itu ...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm ... Mm ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menanggapi permintaan Asuna tersebut, Kirito memikirkannya untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini mungkin dalam batas-batas dari sistem ... Ingin mencobanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, mari kita tinggalkan itu untuk waktu berikutnya-Sekarang. Aku berpikir tentang mendaki.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna membentangkan tubuhnya yang berada pada bahu Kirito dan memandang ke arah tepi luar Aincrad, melalui celah-celah di antara pepohonan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hal-hal di sekitar tepi, orang-orang yang terlihat seperti mendukung, mereka terhubung sepanjang jalan ke lantai berikutnya, benar? aku bertanya-tanya ...? Apa yang akan terjadi jika kita naik dari situ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, aku pernah mencoba itu sebelumnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eeh!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengendalikan tubuhnya, dia berbalik dan menatap Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa kau tidak mengundangku juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ketika kita tidak mengenal satu sama lain dengan baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa, itu hanya karena Kirito-kun terus melarikan diri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... A-Apakah aku benar-benar melakukan hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu benar aku selalu mencoba mengundangmu,. Tapi kau bahkan tidak mau menemaniku untuk minum teh.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Itu ... Ba-baiklah, jika seperti itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian percakapan yang mulai aneh kembali ke topik semula, Kirito melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika kau menilai berdasarkan hasil murni, itu adalah kegagalan. Memanjat dari bagian batu-batu yang kasar sangat mudah,. Tapi setelah naik sekitar delapan puluh meter, pesan kesalahan muncul, &#039;Anda tidak bisa melampaui daerah ini&#039; dan membuatku jengkel. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah ha ha, jadi seperti yang diharapkan, kecurangan tidak bekerja, ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini bukan bahan tertawaan, tanganku tergelincir. terkejut dan aku jatuh dari ketinggian ....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;E-Eh!? Bukankah kamu bisa mati karena sesuatu seperti itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya. Aku pikir aku akan ditakdirkan mati dan tertulis dalam daftar pemain yang tewas dalam aksi, akan tetapi aku dengan segera menggunakan kristal teleport..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun, itu berbahaya. Pastikan dirimu tidak mengulanginya, Ok?.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itulah yang ingin kukatakan!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan-jalan sambil bertukar percakapan tanpa tujuan, hutan berangsur-angsur menjadi lebih padat. Bahkan teriakan burung yang mulai samar-samar, serta sinar matahari melalui pepohonan mulai memudar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memandang berkeliling sekali lagi, ia mempertanyakan Kirito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, itu ... tempat dalam rumor, apakah jalan itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito melambaikan tangannya, memeriksa posisi mereka di peta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah, kita cukup dekat dengan tujuan kita dan akan mencapainya dalam beberapa menit..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal tersebut?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa yanng membuatnya seperti gelisah, dan mendorong dia untuk bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, sekitar seminggu yang lalu, seorang pengrajin kayu (woodcraft) telah datang ke sini untuk mengumpulkan beberapa kayu. Kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup bagus,. Dan sementara pemain sibuk dalam tugasnya , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... dan ada pemandangan sekilas putih. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemain tersebut bingung, berpikir bahwa itu adalah rakasa, tapi rupanya bukan, itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, dengan ciri-ciri yang di sebutkan.. E&amp;quot;Hmm ... Hei, tentang kasus ini, apakah ada rincian tentang hal itu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak benar-benar ingin mendengar tentang hal itu, tapi tidak tahu apa-apa membuatnya seperti gelisah, mendorong dia untuk bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, sekitar seminggu kembali, seorang pengrajin kayu (woodcraft) pemain tampaknya telah datang di sini untuk mengumpulkan beberapa log The kayu yang dapat dipanen dari hutan ini adalah kualitas yang cukup baik,. Dan sementara pemain asyik dalam tugas , hari mulai gelap ... Pemain bergegas untuk kembali, tetapi tertutup oleh naungan pohon-pohon ... ada pemandangan sekilas putih. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah batas untuk Asuna, namun Kirito tanpa ampun terus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pemain mendapat bingung berpikir bahwa itu adalah sebuah rakasa, tapi rupanya, bukan itu itu adalah manusia, atau lebih tepatnya, seorang gadis kecil, sebagai pemain telah disebutkan.. Panjang, rambut hitam pada pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Kalau bukan rakasa, itu hanya bisa menjadi pemain, pemain berpikir, menatap padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja bocor keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara yang mungkin Meskipun berpikir bahwa, pemain semakin dekat.. Dan bahkan memanggilnya. Melakukan hal itu, gadis itu berhenti semua gerakan ... dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Th-Itu e-eno ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyesakkan jeritan, Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dari saya jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya mendapatkan pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... mengi, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, serius bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya-saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pasangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Bahkan jika itu tidak sebanyak itu Kirito, keterampilan persepsi Asuna itu juga, agak disempurnakan melalui pengalaman. Pasif Toggling penggunaan keterampilan, dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu putih tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Mengintip keluar dari hem dua ramping, panjang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama Kirito telah dijelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Th-Ini harus menjadi kebohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari pasangan, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah, dengan gerakan seperti itu dari makhluk hidup. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ada ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara seperti itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wa-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis jatuh, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak bisa apa-apa kecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, masih ditutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, bagian satu Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.Rambut hitam panjang dengan pakaian putih. Perlahan berjalan menuju rumpun pohon. Jika bukan rakasa, itu hanya salah seorang player, player berpikir, dan melihat padanya. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-Tidak ada kursor.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ee ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan lembut sengaja keluar dari tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak ada cara untuk memastikan. Meskipun berpikir, player tersebut semakin dekat.. Dan memanggilnya. Melakukan hal tersebut, membuat gadis itu ... dam dia secara bertahap berbalik ke arahnya ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-I-Itu cu-cuku ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu, pria itu akhirnya melihat Gadis itu,. Sebagai cahaya bulan bersinar turun ke baju putihnya, pohon-pohon di sampingnya-bisa dilihat langsung melalui dirinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencengkeram rambut ke Kirito erat-erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini adalah akhir dariku jika dia berbalik, dia berpikir dan lari. Akhirnya setelah pergi cukup jauh untuk melihat cahaya dari desa, ia menduga bahwa ia aman dan berhenti ... Kemudian, ia berbalik untuk melihat ke belakang .. . &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;- H!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan tidak ada siapa pun di sana Dan dia hidup bahagia selamanya..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Ki-Ki-Kirito-kun, idiot-!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melompat turun dari bahunya, dia mengangkat tinjunya, bersiap-siap untuk melepaskan pukulan di punggungnya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di dalam kedalaman hutan, yang suram, meskipun itu masih tengah hari, pada jarak dari pandangan, sesuatu yang putih mengintip mereka dari sisi batang pohon konifer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diserang oleh aura tidak menyenangkan, Asuna menjadi membeku ketakutan. Walaupun itu tidak seperti Kirito, keterampilan persepsi Asuna juga agak disempurnakan melalui pengalaman. Ketika &amp;lt;&amp;lt;Pasif Toggling&amp;gt;&amp;gt; digunakan , dia bisa meningkatkan kejelasan apa pun yang dia berfokus pada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu berwarna tampak berkibar tertiup angin. Itu bukan tanaman. Atau batu. Tapi kain. Atau dengan kata secara rinci, itu adalah salah satu bagian gaun dengan garis-garis yang berbeda. Sambil mengintip keluar dari hem sepasang kaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu masih berdiri. Hampir sama sperti yang Kirito jelaskan, dia adalah seorang gadis muda mengenakan gaun satu potong putih, tidak bergerak, diam-diam menatap pasangan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa pingsan karena kesadarannya luntur, Asuna agak berhasil membuka mulutnya. Dia membiarkan keluar bisikan serak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ki ... Kirito-kun, di sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirito segera diikuti tatapan Asuna itu. Segera, dia juga, membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;I-Ini pasti bohongan ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tidak bergerak. Berdiri kira-kira sepuluh meter dari mereka, tatapannya tertuju pada mereka. Pada saat itu, Asuna menguatkan dirinya sendiri, berpikir bahwa ia pasti akan pingsan jika gadis itu datang lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh gadis itu bergoyang-goyah. Seperti boneka mekanis yang telah kehabisan energi, ia jatuh ke tanah. Sebuah bunyi cahaya lembut bergema keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu ...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, Kirito menyipitkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak mungkin itu hantu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berlari sambil berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tu-Tunggu, Kirito-kun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun permohonan untuk berhenti dari Asuna yang tertinggal, Kirito bergegas menuju gadis yang jatuh itu, bahkan tanpa melihat ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya ampun!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dengan enggan berdiri dan mengejarnya. Meski hatinya masih gemetar, ia belum pernah mendengar tentang hantu yang bisa pingsan dan jatuh. Itu tidak mungkinkecuali pemain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlambat beberapa detik, setelah mencapai tempat teduh di bawah pohon konifera, dia menemukan gadis itu sudah membuai dalam lengan Kirito itu. Dia masih tak sadarkan diri. Matanya, dinaungi oleh bulu mata yang panjang, yang tertutup, dengan tangan lemah tergantung lurus ke bawah. Menatap dengan sungguh-sungguh atas sosoknya, dibungkus gaun, dan Asuna menegaskan kembali bahwa itu tidak tembus dengan cara apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214700</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 23</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214700"/>
		<updated>2012-12-24T04:49:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 23==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Asuna, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencegah Asuna bunuh diri—Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap rapier Asuna dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Asuna di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Asuna di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Kayaba dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah si keparat ini yang telah membunuh Asuna. Kayaba sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Asuna dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem SAO?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke segala arah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Kayaba, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaikan melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih tercerabut dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiyaaaa!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Asuna yang pemalu dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Rapier Asuna---aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, rapier perak itu mencapai pusat dada Kayaba. Kayaba tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Kayaba menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini---cukup....?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Klein dan Agil. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan telah diselesaikan--- Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 22|next=Jilid 1 Bab 24}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214699</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 23</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214699"/>
		<updated>2012-12-24T04:43:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 23==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Asuna, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencegah Asuna bunuh diri—Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap rapier Asuna dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Asuna di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Asuna di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Kayaba dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah si keparat ini yang telah membunuh Asuna. Kayaba sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Asuna dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem SAO?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke segala arah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Kayaba, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut pdanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaik melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih tercewrabut dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiyaaaa!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Asuna yang pemalu dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Rapier Asuna---aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, rapier perak itu mencapai pusat dada Kayaba. Kayaba tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Kayaba menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini---cukup....?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Klein dan Agil. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan telah diselesaikan--- Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 22|next=Jilid 1 Bab 24}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214698</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 23</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214698"/>
		<updated>2012-12-24T04:42:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 23==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Asuna, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencegah Asuna bunuh diri—Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap rapier Asuna dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Asuna di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Asuna di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Kayaba dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah si keparat ini yang telah membunuh Asuna. Kayaba sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Asuna dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem SAO?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sbeuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke segala arah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Kayaba, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut pdanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaik melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih tercewrabut dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiyaaaa!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Asuna yang pemalu dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Rapier Asuna---aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, rapier perak itu mencapai pusat dada Kayaba. Kayaba tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Kayaba menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini---cukup....?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Klein dan Agil. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan telah diselesaikan--- Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 22|next=Jilid 1 Bab 24}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214697</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 23</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_23&amp;diff=214697"/>
		<updated>2012-12-24T04:39:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 23==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil...Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Asuna, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencegah Asuna bunuh diri—Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja---dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap rapier Asuna dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Asuna di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Asuna di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Kayaba dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan---dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah si keparat ini yang telah membunuh Asuna. Kayba sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Asuna dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini---keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem SAO?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau wafat]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sbeuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut---menjadi kepingan-kepingan poligon---sebelum memencar ke segala arah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Kayaba, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut pdanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaik melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih tercewrabut dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiyaaaa!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Asuna yang pemalu dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian---Aku harus---setidaknya---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Rapier Asuna---aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, rapier perak itu mencapai pusat dada Kayaba. Kayaba tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang---sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Kayaba menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini---cukup....?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Klein dan Agil. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan telah diselesaikan--- Permainan telah diselesaikan--- Permainan.....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 22|next=Jilid 1 Bab 24}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_22&amp;diff=214696</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 22</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_22&amp;diff=214696"/>
		<updated>2012-12-24T04:26:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 22==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan berlanjut selama sejam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya bagai selamanya telah berlalu sebelum pertarungan akhirnya selesai. Saat tubuh raksasa monster raja pecah menjadi serpihan yang tak terhitung, tiada satupun yang memiliki energi untuk bergembira. Semuanya entah terduduk lemas di lantai obsidian atau terbaring sempurna dengan napas terengah-engah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini---selesai...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya---ini selesai---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kami bertukar pikiran itu, rasanya «sambungan» antara aku dan Asuna juga putus. Kelelahan tiba-tiba menggelayuti tubuhku dan aku  berlutut ke lantai. Aku dan Asuna lalu duduk dengan denganpunggung saling bersender, dan merasa seakan kami takkan mampu melakukan apa-apa untuk beberapa saat. Kami berdua masih hidup---tapi bahkan ketika aku memikirkan ini, aku tak bisa begitu senang dengan keadaan. Terlalu banyak yang tewas. Setelah 3 kematian pertama di awal pertempuran, efek suara suram dari pecahnya orang terus bergema dengan kecepatan tetap dan aku memaksa diriku berhenti menghitung setelah yang keenam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak ---yang tewas...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein, yang duduk di kiriku, bertanya dengan suara berdenging. Agil yang terlentang di lantai di sebelahnya dengan lengan dan kaki tersebar keluar, juga menghadap kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengayunkan tangan kananku untuk membuka peta dan lalu menghitung titik-titik hijau di sana. Aku menguranginya dengan jumlah orang yang hadir saat kami pertamakali berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---14 tewas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak dapat mempercayai angka ini meski aku telah menghitungnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka semua berlevel tinggi, ksatria ahli yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung. Bahkan jika kami tak bisa kabur atau sembuh seketika, kami seharusnya masih bisa menghindari tewasnya begitu banyak orang jika kami bertarung dengan menempatkan keselamatan terlebih dahulu—itulah yang kami semua pikir, tapi---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mustahil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Agil tak menandakan keceriaannya yang biasa. Sebuah kesuraman yang menjatuhkan jiwa menekan tengkuk orang-orang yang selamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami hanya tiga perempat jalan kesana---masih ada 25 lantai yang masih harus dibereskan. Tapi meski ada ribuan pemain disini, hanya beberapa ratus yang masih serius untuk menyelesaikan permainan. Jika tiap lantai menghasilkan korban sebanyak yang ini, maka sangat mungkin---hanya satu orang yang akan menghadapi raja terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu yang terjadi, yang terakhir berdiri mungkin adalah orang itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeser pandanganku lebih jauh kedalam ruangan. Diantara semua orang yang duduk di lantai, sebuah sosok berbaju merah terus berdiri tegak. Orang itu adalah Heathcliff.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja dia tidak tak tersayat. Saat aku memusatkan diri padanya, kursor muncul untuk menunjukkan HP-nya, dan aku dapat mengatakan dia telah kena beberapa hantaman. Dia telah menahan sabit tulang itu, yang aku dan Asuna harus bersusah payah menahannya, sendirian hingga saat terakhir. Takkan aneh bila dia runtuh karena kelelahan, terlepas dari HP-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak bisa merasakan tanda-tanda kelelahan sedikitpun dari sosok tenangnya. Ini ketahanan yang sulit dipercaya. Ini bagaikan---dia bagaikan sebuah mesin bertarung...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena pikiranku masih melayang-layang karena kelelahan, aku terus menatap sisi dari wajah Heathcliff. ekspresi sang legenda tetap tenang. Dia dengan hening memandangi pada anggota-anggota KoB dan pemain-pemain lainnya. Matanya hangat dan penuh kasih sayang---seakan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seakan dia tengah memandangi segerombolan mencit putih yang bermain namun tak akan bisa keluar dari kandangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat saat itu, kurasakan sebuah getaran merambat ke sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku jernih seketika. tubuhku menjadi dingin, mulai dari ujung jemari, menyebar ke segala arah hingga pusat otakku. Ini firasat nan aneh. Fikiran mustahil mulai mengakar di pikiranku bagai sebuah benih dan kecurigaan tumbuh darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi di mata Heathcliff, ketenangan yang ditunjukkannya, bukan mata yang menenangkan sahabat-sahabatnya yang terluka. dia tak berdiri di tingkat yang sama dengan kami. Wajahnya tengah memberikan pengampunan dari sebuah tempat nan jauh di atas kami---ini wajah seorang dewa...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kufikirkan mengenai kecepatan reaksi tak manusiawi yang Heathcliff tunjukkan saat duel kami. Ia jauh melebihi kecepatan manusia. Tidak, aku salah soal itu; ia jauh melebihi batas yang diset SAO untuk para pemainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan kelakuannya yang biasa di atas itu: Ia seorang pemimpin dari guild terkuat, namun dia tak pernah memberikan perintah apapun dan hanya menonton pemain lainnya mengurus segala hal. Mungkin itu bukan karena dia mempercayai bawahannya—mungkin dia menahan-nahan dirinya karena dia tahu hal-hal yang tak diketahui pemain-pemain biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah semacam makhluk yang tak terikat aturan-aturan permainan kematian ini. Tapi dia bukanlah seorang NPC. Tak mungkin sebuah program dapat membuat wajah yang begitu penuh ampunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia bukan NPC maupun pemain biasa, maka hanya ada satu kemungkinan tersisa. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan ini? Tak ada caranya untuk itu... tidak satupun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, ada satu cara. Cara yang hanya bisa kucoba disini sekarang juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat batang HP Heathcliff. Ia telah banyak berkurang dari pertarungan keras ini. Tapi HPnya tak berkurang hingga ke setengahnya. Ia hanya sedikit, sedikit diambang daerah biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada yang pernah melihat HP orang ini jatuh ke daerah kuning. Ia memiliki pertahanan luar biasa yang tak dapat dibandingkan dengan seorangpun.&lt;br /&gt;
Saat dia bertarung denganku, wajahnya berubah saat HPnya mendekati titik tengah. Itu bukan rasa takut akan berubahnya HP-nya menjadi kuning.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah—kemungkinan besar---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan mengeraskan genggaman pada pedang di tangan kananku. Aku menarik kaki kananku ke belakang dengan gerakan sekecil mungkin. Kubengkokkan pinggang kebelakang sedikit dan mengambil kuda-kuda rendah. Heathcliff tak menyadari apapun gerakanku. Pandangan hangatnya tengah diarahkan hanya pada anggota guildnya yang kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tebakanku salah, aku akan dilabeli kriminal dan akan dihukum tanpa ampun. Jika itu yang terjadi...maafkan aku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik Asuna yang duduk di sebelahku. Dia menengadahkan kepalanya di saat yang bersamaan dan mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah wajah terkejut menggelayuti Asuna, dan mulutnya menganga tak bersuara. Tapi saat itu, kaki kananku sudah menendang tanah kebelakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ada sekitar 10 meter antara aku dan Hethcliff. Aku melesat menuju dia dengan kecepatan penuh dengan tubuhku hampir menyentuh tanah dan mencapainya seketika. Lalu aku memutar pedangku dan menusuk ke atas. Ini adalah jurus dasar pedang bertangan satu &amp;lt;&amp;lt;Tusukan Amarah&amp;gt;&amp;gt;. karena ini jurus lemah, ini seharusnya tak membunuh Heathcliff meski membuat hantaman kritis. Tapi jika tebakanku benar—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pedang menusuk masuk dari kiri, meninggalkan seberkas cahaya biru nan terang. Heatcliff bereaksi dengan kecepatan yang mengejutkan dan ekspresi terkejut nampak di wajahnya. Dia langsung mengangkat tamengnya untuk menahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku sudah melihatnya melakukan gerakan itu berulang kali selama pertarungan kami dan aku mengingatnya dengan jelas. Pedangku larut menjadi seberkas cahaya, mengubah arah di tengah jalan, dan menggesek ujung tamengnya sebelum terus menusuk menuju dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tepat sebelum pedang menghantamnya, ia dihentikan tembok tak terlihat. Sebuah dentuman kuat menjalar melalui lenganku. Seberkas percikan cahaya ungu berkilat dan sebuah pesan dengan warna sama muncul---sebuah  pesan sistem muncul diantara kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Objek Abadi]. Ini bukan sebaris status yang dapat dimiliki makhluk lemah seperti kami, para pemain. Apa yang ditakutkan Heathcliff selama pertarungan itu pasti adalah tersingkapnya pengaman dewa ini pada semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, apa yang kau---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna yang berteriak karena terkejut pada serangan tiba-tibaku dan berlari setelahku, tiba-tiba berhenti dan terpaku di tempat setelah melihat pesan itu. Aku, Heathcliff, Klein dan seluruh pemain lainnya di sekitar kami juga terpaku sempurna. Pesan sistem perlahan memudar dalam kebekuan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurendahkan pedangku dan melompat ke belakang sedikit, memperlebar jarak antara aku dan Heathcliff. Asuna mengambil beberapa langkah ke depan dan berdiri di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keabadian yang dianugrahkan sistem---bagaimana ini mungkin---Pemimpin guild...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff tak merespon bahkan setelah mendengar suara bingung Asuna. Dia hanya menatapku dengan wajah penuh amarah. Dengan kedua pedang di tanganku, aku membuka mulutku dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inilah kebenaran dibalik legenda. HP-nya dilindungi sistem dan takkan jatuh ke dalam daerah kuning tak peduli apa yang terjadi padanya. Status keabadian---selain NPC, hanya admin sistem yang bisa memilikinya. Tapi permainan ini tak memiliki admin satupun, kecuali mungkin satu orang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhenti berbicara di titik ini dan menatap ke atas ke langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku selalu berfikir setelah kedatanganku di dunia ini...dimana sih dia melihat kami saat dia memanipulasi dunia ini. Tapi aku lupa satu kebenaran sederhana, yang bahkan seorang anak kecilpun seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap lurus pada si paladin merah dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;&amp;lt;Tak ada yang lebih membosankan selain menonton orang lain memainkan permainan&amp;gt;&amp;gt;. Bukankah begitu?.....Kayaba Akihiko?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada keheningan yang menyentak, seakan semuanya baru saja membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff tengah menatapku dengan wajah tanpa emosi. Pemain-pemain di sekitar kami tak bergerak bahkan satu ototpun. Tidak, lebih pas kalau dibilang mereka tak dapat bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengambil satu langkah maju dari sisiku. matanya tak mengandung sedikitpun emosi, seakan mereka kehampaan tak berdasar. Dia membuka mulutnya sedikit dan berbicara dengan suara kering dan lirih hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemimpin....apa ini....benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff mengabaikan pertanyaannya. dia malah membengkokkan kepalanya sedikit dan menanyaiku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“..Untuk sekedar referensi, bisakah kau menceritakan padaku bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Pertama kali aku merasa sesuatu tak beres adalah saat pertarungan kita, karena kecepatanmu pada saat terakhir itu terlalu cepat, itu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang sudah kuduga. Itu adalah kesalahan paling besar  dariku. Aku begitu kewalahan oleh kecepatanmu sehingga akhirnya menggunakan bantuan sistem melebihi batas normalnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Heathcliff mengangguk, wajahnya akhirnya menyingkap ekspresi lainnya; bibirnya bergerak perlahan membentuk senyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Awalnya aku berharap mencapai lantai 95 sebelum ini diuangkap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumnya berubah menjadi penuh kuasa sambil perlahan menyapu pandangannya ke para pemain. lalu, sang paladin merah berkata dengan percaya diri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---Ya. Aku adalah Kayaba Akihiko. Aku juga raja terakhir permainan ini yang menunggu kalian di lantai teratas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau memeiliki selera yang aneh. tak terpikirkan bahwa pemain terkuat tiba-tiba jadi raja terakhir yang paling kuat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tak berfikir ini skenario yang menarik? Awalnya aku berfikir bahwa tersingkapnya ini akan memantik gelombang kejut ke seantero Aincrad, tapi tak pernah kupikir aku akan diketahui pada ¾ jalan permainan ini. Aku tahu kau adalah faktor yang paling tak bisa diprediksi dari permainan ini, tapi tak pernah membayangkan bahwa kau memiliki potensi semacam ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pencipta permainan ini yang telah memenjarakan pikiran 10 ribu pemain, Kayaba Akihiko tersenyum begitu berbeda dengan yang dimiliki Heathcilff sang Paladin. Tapi sosok tak tertandingi dan kokoh itu entah mengapa mirip dengan avatar tak beremosi yang turun pada kami dua tahun lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba melanjutkan dengan senyum pahit:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku sudah mengira kaulah pemain yang akan menghadapiku di akhir. Dari 10 jurus unik, &amp;lt;&amp;lt;Bilah Ganda&amp;gt;&amp;gt; diberikan pada pemain dengan kecepatan reaksi tertinggi, yang akan kemudian berperan sebagai pahlawan melawan raja terakhir, tak peduli dia menang atau kalah. Tapi kau telah menujukkan padaku kekuatan melebihi perkiraan, baik itu kecepatan maupun pandanganmu. Yah...Kupikir bahwa perkembangan yang tak diperkirakan sebelumnya adalah bagian dari esensi RPG online...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, salah satu pemain yang membeku bangkit perlahan. Dia salah seorang pemimpin KoB. Matanya yang tampak menyala berisi pederitaan tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau...kau...berani-beraninya kau mengambil kesetiaan---harapan kami...dan...dan...mengotori mereka shancur-hancurnya---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat Halberd raksasanya ke udara dan meluncurkan dirinya dengan sebuah teriakan. Bahkan tak ada waktu untuk menghentikannya. Kami hanya bisa menonton begitu dia mengayunkan senjatanya ke bawah pada Kayaba—Tapi Kayaba selangkah lebih cepat. Dia mengayunkan tangan kirinya dan dengan cepat memanipulasi jendela yang muncul; Orang itu langsung berhenti di tengah udara dan jatuh ke tanah dengan suara keras. Sebuah garis batas hijau menyala di sekitar batang HP-nya, mengindikasikan paralisis. Tapi, Kayaba tak berhenti disitu dan terus menggerakkan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah...Kirito...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik dan melihat Asuna bertekuk di tanah. Bukan hanya dia, tapi seluruh pemain selain aku dan Kayaba juga tertunduk ke tanah, melenguh dari posisi yang tak biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyarungkan pedangku, aku berlutut untuk memegangi tubuh bagian atas Asuna dengan lenganku, dan menggenggam tangannya, Lalu aku balik menghadap kayaba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membunuh kami semua untuk menyembunyikan kebenaran...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. Aku takkan pernah melakukan hal-hal yang sangat tak beralasan semacam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang dalam merah tersebut tersenyum dan menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi karena keadaan telah mencapai titik ini, Aku tak punya pilihan lain. Akan memajukan jadwalku dan menunggu kedatanganmu di «Benteng Hijau Merah» di lantai atas, Adalah memalukan bahwa aku mesti keluar KoB, sebagaimana juga pemain lini depan lainnya, yang telah aku kembangkan dengan hati-hati untuk bertarung melawan mob-mob di lantai 90 keatas. Tapi aku percaya kalian semua seharusnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mencapai lantai atas. Tapi...sebelum itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba tiba-tiba berhenti berbicara dan menghadapkan matanya, yang penuh dengan kehendak yang meluap-luap, untuk terpusat padaku. Dia lalu menarik pedangnya dengan lembut ke lantai obsidian, dan sebuah suara logam yang tajam nan jelas bergema di udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, karena kau telah menyingkap identitasku yang sebenarnya, aku akan menghadaihimu sebuah kesempatan: Kau bisa bertarung satu lawan satu dengan ku, disini sekarang juga. Tentu saja aku akan menghilangkan status abadiku. Jika kau menang, permainan akan langsung selesai, dan seluruh pemain bisa keluar. Apa jawabmu...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia mendengarnya, Asuna mulai menekan lenganku, mencoba sekerasnya untuk menggerakkan badannya yang lumpuh sambil menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“jangan, Kirito...! Dia mencoba langsung menghabisimu...sekarang juga...Untuk sekarang kau harus mundur...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Instingku berkata itu jalan terbaik. Orang ini adalah admin yang bisa memanipulasi sistem. Meski dia bilang ini akan menjadi pertarungan yang adil, tak ada cara untuk mengetahui apakah dia entah bagaimana memanipulasi sistem atau tidak. Pilihan terbaik adalah mundur untuk sekarang dan mendatangkan sebuah rencana balasan bersama yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dikatakan orang itu? Bahwa dia membesarkan KoB? Bahwa kami pasti mencapai...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benda yang penuh sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar aku bergumam denagn suara nan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang ini mengunci pikiran 10 ribu orang dalam dunia yang diciptakannya, dimana dia sudah membunuh 4 ribu dengan gelombang elektromagnetik. Dia menonton para pemain berusaha dengan bodoh dan kasihannya berdasarkan cerita yang disusun. Ini pasti pengalaman paling menyenangkan yang ada bagi seorang master permainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkan masa lalu Asuna, yang terbagi denganku di lantai 24. Aku mengingat airmata yang ditumpahkannya saat dia memelukku. Orang di depan mataku telah menciptakan dunia ini untuk kesenangannya sendiri dan menyakiti hati Asuna dalam jumlah tak terhitung, membuatnya berdarah hebat, tak mungkin bagiku mundur dari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“baiklah. Ayo kita bereskan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jeritan Asuna yang tertahan, aku menjatuhkan pandanganku pada sosok di lenganku. Nyeri menusuk hatiku sekana dadaku ditusuk sampai belakang, tapi entah bagaimana aku bisa memaksakan sebuah snyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Tapi aku tak bisa...kabur sekarang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi lalu menyerah di tengah-tengah dan mencoba sebisanya untuk tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setetes airmata mengalir ke di pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tak berencana...mengorbankan dirimu, kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja...Aku pasti menang. Aku akan menang dan mengakhiri dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK. Aku akan percaya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan jika aku kalah dan tewas, kau harus terus hidup---meski aku ingin mengatakan itu, tetap saja aku tak bisa mengeluarkannya. Aku hanya bisa memegangi tangan kanan Asuna dengan erat sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku melepaskan tangannya, aku membaringkan tubuh Asuna ke bawah di lantai obsidian lalu bangkit berdiri. Aku perlahan menghampiri Kayaba yang tengah memandangi kami tanpa suara dan mengeluarkan kedua pedangku dengan suara tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito! Hentikan---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat aku membalikkan kepala terhadap sumber suara, kulihat Klein dan Agil berteriak dan berusaha sekerasnya untuk bangkit. Aku pertama-tama memusatkan pandanganku pada Agil dan mengangguk perlahan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Agil, terima kasih atas dukungannya pada pemain-pemain kelas petarung hingga saat ini. Aku tahu kau menghabiskan sebagian besar uang yang kau dapat untuk membantu pemain-pemain di lantai-lantai tengah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum pada si raksasa yang matanya terbuka lebar sebelum menggeser pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Petarung berkatana, dengan bandana sederhana dan pipi penuh janggut, gemetaran di lantai seakan dia masih berusaha mencari kata-kata untuk diutarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap lurus pada mata nan dalamnya dan mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, tak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tak bisa mengendalikan suaraku yang bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Klein, waktu itu...Aku benar-benar menyesal....meninggalkanmu. Aku selalu menyesalinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu aku menyelesaikan baris pendek ini dengan suara parauku, sesuatu berkilar di sudut mata teman lamaku, dan airmata langsung mengaliri satu demi satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan airmata yang masih memancar dari matanya, Klein menggeliat untuk bangkit sambil berteriak keras dengan suara parau yang hendak pecah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan kau....! Kirito! Jangan meminta maaf! Jangan meminta maaf sekarang! Aku takkan memaafkanmu! Hingga kau mengundangku makan-makan di dunia nyata, aku pasti takkan memaafkanmu!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk pada Klein, yang terus berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku janji. nanti aku akan mengunjungimu di dunia lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tangan kananku dan memberinya jempol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku membalikkan pandanganku pada gadis yang membuatku mengatakan kata-kata yang telah terkubur dalam-dalam di hatiku selama dua tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandangi wajah Asuna yang tersenyum dan dibanjiri airmata---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggumamkan permintaan maaf kepadanya dalam pikiranku dan membalikkan badan. Aku menghadapi Kayaba, yang masih memiliki wajah penuh kuasa mutlak, dan membuka mulutku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Maaf soal ini, tapi aku punya satu hal untuk ditanyakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak punya keinginan kalah, tapi jika aku mati---bisakah kau mencegah Asuna bunuh diri, bahkan bila hanya untuk masa yang pendek?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengangkat alis karena terkejut, tapi dengan tenang mengangguk pada permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan menyetnya sehingga dia takkan bisa meninggalkan salemburg.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, jangan!! kau tak, tak bisa melakukan ini---!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menjerit penuh airmata di belakangku. Tapi aku tak berbalik ke belakang. Aku menggeser kaki kananku mundur, kubawa pedang kiriku maju sambil merendahkan pedang kanan, dan selesai menyiapkan kuda-kudaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba memanipulasi jendela dengan tangan kirinya dan menyamakan batang HP kami pada tingkat yangsama. tingkat yang tepat sebelum zona merah, dimana satu pukulan yang kuat bisa menentukan pertarungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, pesan sistem [berubah jadi objek mortal] muncul di atas kepanya. Kayaba lalu menutup jendela-jendela, menarik keluar pedangnya yang dia tanam ke tanah, dan mengangkatnya di belakang tameng berbentuk salibnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku sepenuhnya tenang dan jernih. Pikiran-pikiran semacam ‘maaf, Asuna’ menguap tak berbekas begitu aku menajamkan insting bertarung dalam diriku menjadi ujung pisau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur saja, aku tak tahu tentang kesempatan menangku. Jika kita hanya berbicara soal jurus-jurus pedang, maka dia tak lebih baik dariku berdasarkan pertarungan terakhir. Tapi itu hanya jika dia tak menggunakan ‘Bantuan lebih’. dimana hanya dia bisa bergerak sementara aku sepenuhnya beku di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semua tergantung pada harga diri Kayaba. Berdasarkan kata-katanya, dia berencana mengalahkanku hanya dengan kekuatan «Pedang Suci». Jika itu benar, maka kesempatanku bertahan melalui ini adalah mengalahkannya sebelum dia menggunakan kemampuan khusus manapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jarak antara aku dan Heathcliff menegang. Rasanya seakan udara itu sendiri yang bergetar di bawah tekanan kehendak membunuh yang kami pancarkan. Ini bukan lagi sebuah pertarungan, melainkan menyabung nyawa. Ya benar---Aku akan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membunuhmu...!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meluncur ke depan dengan teriakan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuayunkan pedang kanan mendatar begitu jarak mendekat. Kayaba dengan mudah menahannya dengan tamengnya. Ada sejumlah percikan dan wajah kami diterangi  untuk sedetik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya suara benturan logam menandai dimulainya pertarungan kami; Senjata kami langsung mempercepat diri kedalam kecepatan yang mematahkan rem dan mengisi ruang diantara kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan ini adalah yang teraneh, namun pertarungan paling manusiawi dari semua pertarungan yang kulalui hingga saat ini. Kami berdua sudah saling menunjukkan jurus-jurus kami. Terlebih lagi, inilah orang yang merancang «Bilah Ganda», sehingga dia dengan mudah membaca kombinasi jurus biasa. Itulah mengapa dia bisa menahan semua seranganku selama pertarungan terakhir kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa mengandalkan kombinasi yang diberikan sistem; Aku harus mengandalkan kemampuan dan instingku sendiri untuk mengayunkan pedangku. Tentu saja aku tak dapat menerima bantuan sistem dengan cara ini, tapi aku masih bisa menggerakkan lengaku dengan kecepatan tinggi dengan bantuan indraku yang makin peka. Aku bahkan bisa melihat bayangannya, dan tampak bagai ada lusinan pedang di tanganku. Tapi---kayaba menahan mereka semua dengan ketepatan yang mencengangkan. Dia juga langsung membalas begitu aku menunjukkan kelengahan sekecil apapun. Keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah.. Aku berkonsentrasi pada mata Heathcliff sebagai usaha membaca bahkan sekeping pikiran dan reaksi musuh. Akhirnya kami saling bertukar pandang sebagai hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Mata perunggu Kayaba---Heathcliff dingin dan sunyi. Tiada sesepora perasaan manusia yang ditunjukkannya kali terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sebuah rasa dingin mengaliri punggungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawanku adalah seseorang yang tanpa ampun membunuh sekitar 4.000 orang. Bisakah seorang manusia biasa melakukan hal semacam itu? Kematian 4.000, ktukan dari yang 4.000, dia bisa menanggung tekanan itu dan tetap tenang sempurna---Dia bukan seorang manusia, dia seekor monster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaaaaaah!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit untuk menghapus kepingan kecil ketakutan yang muncul dari dasar pikiranku. AKu terus mempercepat gerakanku dan menghujaninya hantaman yang tak terhitung per detik. Tapi wajah Kayaba tak menunjukkan perubahan. Dia menahan seluruh seranganku dengan tameng salib dan pedang panjangnya dengan kecepatan yang tak dapat dilihat mata telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia hanya mempermainkanku---!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutanku menjelma jadi ketegangan. Apa mungkin Kayaba hanya bertahan karena dia sebenarnya bisa menyerang balik kapanpun dia mau dan percaya diri bahwa dia bisa bertahan dari  bahkan sebuah hantaman langsung dariku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecurigaan mengambil alih pikiranku. Dia bahkan tak pernah memerlukan bantuan lebih dari awal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi---bagaimana dengan ini---?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merubah pola serangku dan mengaktifkan «Sang Gerhana», jurus tingkat tertinggi Bilah Ganda.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaikan ujung gerhana yang menelan, pedangku mengirimkan 27 serangan beruntun pada Kayaba—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi---kayaba telah menungguku menggunakan jurus kombo yang dirancang sistem. Wajahnya memunculkan ekspresi untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai. ekspresi yang sangat berlawanan dengan yang ditunjukkannya terakhir kali--- itu adalah senyum seseorang yang yakin atas kemenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyadari kesalahanku begitu aku melancarkan serangan pembuka kombo ini. di saat-saat terakhir ini aku malah bergantung pada sistem, bukan pada diriku sendiri. Tapi sudah mustahil bagiku untuk menghentikan jurus, dan begitu serangan berhenti, aku akan berada pada keadaan diam sesaat. Terlebih lagi, Kayaba membaca seluruh pukulanku, dari awal kombo hingga serangan terakhir. Begitu aku melihat Kayaba mengayunkan tamengnya dengan kecepatan yang membutakan, menangkis pedang-pedangku dengan pengetahuan dimana tiap pukulan akan mendarat, aku bergumam dalam pikiranku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maaf—Asuna...setidaknya kau harus—terus hidup---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serangan ke-27 mengenai bagain tengah tameng, memancarkan hujan percikan. Lalu, dengan diiringi jeritan berdentang logam, pedang di tangan kiriku pecah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ini adalah selamat tinggal---Kirito-kun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mengangkat pedangnya tinggi-tinggi diatasku yang terbengong-bengong. Sebuah sinar merah gelap terpancar dari pedang. Pedang merah darah itu diayunkan ke bawah padaku---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu, sebuah suara kuat dan bergetar bergema dalam kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku—akan melindungi---Kirito!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seseorang masuk diantara pedang merah Kayaba dan aku denga kecepatan yang mengejutkan. Rambut panjang dan coklat chestnut menari di angin di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna---bagaimana bisa---!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berdiri di depanku meski seharusnya dia tak bisa bergerak karena lumpuh. Dia dengan berani membusungkan dadanya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah ekspresi terkejut terlihat di wajah Kayaba. Tapi tak ada yang bisa menghentikan serangannya sekarang. Semuanya bergerak seakan dalam gerak diperlambat begitu pedang panjang itu membelah jalannya ke bawah, melalui bahu Asuna dan terus hingga ke dada sebelum akhirnya berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengulurkan kedua tanganku pada Asuna begitu dia jatuh kebelakang padaku. dia terlentang dalam lenganku tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pandangannya bertemu denganku, Asuna tersenyum lemah. Batang HP-nya---habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari yang terbenam. Padangnya. Angin sepoi-sepoinya. Cuaca yang agak dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua tengah duduk di sepuncak bukit dan melihat ke bawah ke danau yang berkilauan dengan warna merah keemasan dari matahari yang terbenam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara daun-daun bergesekan. Suara burung-burung yang kembali ke sarangnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut, Dia memegangi tanganku, lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awan-awan berlalu. Lalu bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu, berkemilau di langit petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling bertatapan dengan dunia yang terus merubah warnanya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku agak lelah. Bisakah aku beristirahat di pangkuanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan sebentuk senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja. Beristirahatlah dengan tenang---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna di tanganku sekarang tersenyum tepat seperti waktu itu, matanya berisi cinta tak terbatas. Tapi berat dan kehangatan waktu itu sudah habis menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, tubuh Asuna dengan perlahan ditelan seberkas cahaya emas. Sinar-sinar kecil cahaya mulai runtuh dan menjauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Ini lelucon kan....Asuna...ini...ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bergumam dengan suara penuh getaran. Tapi cahaya yang tak berperasaan semakin terang dan semakin terang lalu---Setetes airmata mengalir dari mata Asuna, yang  bersinar sesaat sebelum menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara terakhirnya keluar darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
M a a f&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K a u  m e l a k u k a n  y a n g  t e r b a i k&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhnya mulai melayang---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya yang membutakan meledak dalam tanganku, berubah wujud menjadi berjuta-juta bulu-bulu yang melayang di udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tubuhnya tak berbekas sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjerit dalam sunyi dan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan cahaya-cahaya yang terpencar kembali ke tanganku. Tapi bulu-bulu emas terbang ke udara seakan ditiup angin, dimana mereka berpencar dan menghilang. Dengan begitu saja, dia telah berpulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Ini seharusnya tidak.  Seharusnya---. Aku berlutut di tanah seakan aku hendak runtuh, begitu bulu terakhir melayang turun ke telapak kananku lalu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 21|next=Jilid 1 Bab 23}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214694</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 21</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214694"/>
		<updated>2012-12-24T04:04:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 21==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 75 di Collinia.  Aku menduga mereka pasti kelompok raja.  Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Asuna membalas salam mereka lalu mencolek sisiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kirito, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Klein, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Agil juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan kapak dua tangan di genggamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Apa?!Kalian juga ikut?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agil berteriak tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memukul lengan Agil begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan (八). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau itu sih...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu suara bergetarnya memudar, Asuna dan Klein meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Heathcliff, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi KoB. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Asuna mungkin hanya Heathcliff sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dengan tenang berbalas salam dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berhenti, Heathcliff mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Heathcliff berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-kun, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Heathcliff bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku mengangguk dalam hening, Heathcliff berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si raja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Heathcliff adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Heathcliff hendak menggunakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koridor, buka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini, semuanya, ikuti aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan KoB-nya mengikutinya tanpa henti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di labirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labirin lantai 75 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengiyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 74 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh 30 pemain di sekitar kami  membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membimbing Asuna ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lenganku ke tubuh kecilnya. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbisik ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melindungimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...ini bukan karena aku takut bertarung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tertawa kecil dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi...kau harus melindungiku juga, Kirito.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...pasti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Heathcliff, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan raja. KoB akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua mengangguk dalam hening.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang, saatnya beraksi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Heathcliff lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepuk bahu Klein dan Agil, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Asuna, yang memegang rapier di tangan, lalu mengangguk padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathclif yang terakhir mengeluarkan pedang  dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Mulai bertarung!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah rajanya mati atau kami disapu habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari atas!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berteriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di langit-langit kubah—ia di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu besar dan panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor kelabang-!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dengan kursor kuning:  «Sang Pencabik tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.&amp;lt;!--2011-11-16 18.24 WIT--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara tajam Heathcliff memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kesini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“----!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati---dalam satu pukulan---?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sistem SAO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini...mustahil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dengan raungan nan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhhh---!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Heathcliff. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Heathcliff, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan....!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari hampir tanpa sadar, dengan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terlalu kuat---!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelahku, Asuna melirik padaku dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita memukulnya secara bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok—ayo selesaikan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Asuna disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Asuna mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menguatkan suaraku dan berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Argh…!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Asuna, dan juga Heathcliff yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna bersuara, aku menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Ya, kau benar...ia datang lagi!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 20|next=Jilid 1 Bab 22}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214693</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 21</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214693"/>
		<updated>2012-12-24T03:57:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 21==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 75 di Collinia.  Aku menduga mereka pasti kelompok raja.  Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Asuna membalas salam mereka lalu mencolek sisiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kirito, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Klein, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Agil juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan kapak dua tangan di genggamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Apa?!Kalian juga ikut?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agil berteriak tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memukul lengan Agil begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan (八). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau itu sih...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu suara bergetarnya memudar, Asuna dan Klein meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Heathcliff, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi KoB. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Asuna mungkin hanya Heathcliff sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dengan tenang berbalas salam dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berhenti, Heathcliff mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Heathcliff berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-kun, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Heathcliff bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku mengangguk dalam hening, Heathcliff berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si raja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Heathcliff adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Heathcliff hendak menggunakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koridor, buka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini, semuanya, ikuti aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan KoB-nya mengikutinya tanpa henti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di labirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labirin lantai 75 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengiyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 74 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh 30 pemain di sekitar kami  membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membimbing Asuna ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lenganku ke tubuh kecilnya. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbisik ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melindungimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...ini bukan karena aku takut bertarung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tertawa kecil dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi...kau harus melindungiku juga, Kirito.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...pasti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Heathcliff, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan raja. KoB akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua mengangguk dalam hening.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang, saatnya beraksi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Heathcliff lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepuk bahu Klein dan Agil, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Asuna, yang memegang rapier di tangan, lalu mengangguk padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathclif yang terakhir mengeluarkan pedang  dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Mulai bertarung!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah rajanya mati atau kami disapu habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari atas!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berteriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di langit-langit kubah—ia di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu besar dan panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor kelabang-!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dnegan kursor kuning:  «Sang Pencabik tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.&amp;lt;!--2011-11-16 18.24 WIT--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara tajam Heathcliff memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kesini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“----!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati---dalam satu pukulan---?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sistem SAO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini...mustahil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dnegan raungan nan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhhh---!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Heathcliff. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Heathcliff, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan....!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari hampir tanpa sadar, dnegan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terlalu kuat---!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelahku, Asuna melirik padaku dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita memukulnya secara bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok—ayo selesaikan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Asuna disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Asuna mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menguatkan suaraku dan berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Argh…!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Asuna, dan juga Heathcliff yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna bersuara, aku menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Ya, kau benar...ia datang lagi!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 20|next=Jilid 1 Bab 22}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214692</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 21</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_21&amp;diff=214692"/>
		<updated>2012-12-24T03:56:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 21==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 75 di Collinia.  Aku menduga mereka pasti kelompok raja.  Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Asuna membalas salam mereka lalu mencolek sisiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kirito, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Klein, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Agil juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan kapak dua tangan di genggamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Apa?!Kalian juga ikut?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agil berteriak tak senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memukul lengan Agil begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan (八). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau itu sih...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu suara bergetarnya memudar, Asuna dan Klein meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Heathcliff, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi KoB. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Asuna mungkin hanya Heathcliff sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dnegan tenang berbalas salam dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berhenti, Heathcliff mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini---!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Heathcliff berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-kun, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Heathcliff bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku mengangguk dalam hening, Heathcliff berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si raja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Heathcliff adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Heathcliff hendak menggunakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koridor, buka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kini, semuanya, ikuti aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan KoB-nya mengikutinya tanpa henti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di labirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labirin lantai 75 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengiyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 74 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh 30 pemain di sekitar kami  membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membimbing Asuna ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lenganku ke tubuh kecilnya. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berbisik ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melindungimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak...ini bukan karena aku takut bertarung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tertawa kecil dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi...kau harus melindungiku juga, Kirito.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...pasti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Heathcliff, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan raja. KoB akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua mengangguk dalam hening.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang, saatnya beraksi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Heathcliff lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepuk bahu Klein dan Agil, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Asuna, yang memegang rapier di tangan, lalu mengangguk padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathclif yang terakhir mengeluarkan pedang  dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Mulai bertarung!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah rajanya mati atau kami disapu habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari atas!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berteriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di langit-langit kubah—ia di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu besar dan panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seekor kelabang-!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dnegan kursor kuning:  «Sang Pencabik tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.&amp;lt;!--2011-11-16 18.24 WIT--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara tajam Heathcliff memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kesini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“---!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“----!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati---dalam satu pukulan---?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sistem SAO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini...mustahil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dnegan raungan nan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhhh---!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Heathcliff. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Heathcliff, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan....!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari hampir tanpa sadar, dnegan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terlalu kuat---!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebelahku, Asuna melirik padaku dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita memukulnya secara bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok—ayo selesaikan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Asuna disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Asuna mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menguatkan suaraku dan berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Argh…!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Asuna, dan juga Heathcliff yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna bersuara, aku menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---Ya, kau benar...ia datang lagi!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 20|next=Jilid 1 Bab 22}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_20&amp;diff=214685</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 20</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_20&amp;diff=214685"/>
		<updated>2012-12-24T03:13:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 20==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelompok perintis dibantai---!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami disambut berita mengejutkan ini saat kami kembali ke mabes KoB di Grandum untuk kali pertama dalam dua minggu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tengah berada di salah satu lantai atas dari menara besi yang berfungsi sebagai HQ, didalamnya ada ruang pertemuan dengan jendela besar dimana kami terakhir kali berbicara dengan Heathcliff . Heathcliff duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, dalam jubah panjangnya yang biasa. Pemimpin guild lainnya duduk di sampingnya, kecuali Godfree yang kali ini tak hadir. Heathcliff menyatukan jemari tangan kurusnya di depan wajahnya dan mengangguk pelan dengan muka masam nan dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kejadiannya kemarin. Memetakan labirin lantai tujuh puluh lima memakan waktu agak lama, tapi kami bisa menyelesaikannya tanpa korban. Meski aku sudah mengira kami bakal mengalami masa sulit saat mengalahkan Boss...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang merasa bahwa hal seperti ini akan terjadi. Sebabnya adalah, bahwa dari seluruh raja labirin, hanya lantai 25 dan 50 yang luar biasa besar dan kuat, sehingga menyebabkan kerusakan besar bagi kedua belah pihak yang bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan dengan raksasa berkepala dua di lantai 25 secara kasat mata menyapu habis prajurit elit dari «The Army», yang merupakan sebab utama runtuhnya mereka sebagai organisasi. Saat monster berlengan enam, yang terlihat seperti patung logam Buddha, melancarkan serangan ganas selama pertarungan di lantai 50, banyak pemain yang ketakutan sehingga berteleport menjauh tanpa izin dan hampir-hampir menyebabkan garis depan runtuh, Jika bala bantuan datang sedikit lebih lambat saja, kami akan menghadapi sapu habis lainnya. Faktanya, orang yang mempertahankan garis sendirian selama pertarungan hingga bantuan datang berada tepat di depanku. Jika sebuah raja yang sangat-sangat kuat menanti dia di level 75, maka hampir bisa dipastikan raja ini sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi, aku mengirimkan kelompok perintis beranggotakan 20 orang, yang berasal dari 5 guild yang berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff melanjutkan dengan nada monoton. Karena matanya sedang setengah terbuka, mustahil untuk menebak emosi di belakang mata berwarna tembaganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka merintis dengan penuh perhatian. 10 dari mereka telah tinggal di luar ruangan boss sebagai cadangan...Tapi saat 10 yang pertama masuk dan mencapai pusat ruangan, gerbangnya menutup tepat ketika sang raja muncul. Berdasarkan laporan 10 orang yang menunggu di luar, pintu-pintu tetap menutup selama 5 menit, dan apapun yang mereka lakukan, termasuk merusak kunci dan menghantam pintu, tak berefek. Sampai dengan pintu akhirnya terbuka---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung mulut Heathcliff menegang, Dia memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiada orang di dalam ruangan. Si Raja dan kesepuluh orang telah menghilang. Tiada tanda-tanda teleportasi. Mereka tak kembali...dan aku mengirimkan seseorang untuk memeriksa daftar kematian di monumen logam di dalam Benteng Besi Hitam untuk mengonfirmasi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak mengatakan bagian selanjutnya keras-keras dan hanya menggelengkan kepalanya. Di sebelahku, Asuna menahan napas dan akhirnya berhasil memaksa suara kecilnya keluar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“10...orang...bagaimana ini terjadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah area anti-kristal...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff mengangguk pelan pada pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya itu penjelasannya. Berdasarkan laporan Asuna-kun, lantai 74 juga sama, jadi mungkin sekali bahwa mulai sekarang, tiap ruangan boss akan memiliki area anti kristal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sial.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutukku. Jika jalan kabur darurat tertutup, kemungkinan tewas karena hal-hal tak terduga bakal meningkat tajam. Janganlah kita menghasilkan korban---itu adalah tuntunan paling penting yang harus diikuti selama menyelesaikan permainan ini. Tapi mustahil untuk menyelesaikannya bila tak mengalahkan para raja...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini semakin menjadi permainan kematian yang sesungguhnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, kita tak bisa menyerah untuk menyelesaikan permainan karena hal ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff memejam matanya lalu berbicara dengan nada pelan tapi penuh hasrat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai tambahan dari area anti-kristal, ruangan itu juga menutup jalan keluar begitu raja muncul. Karena hal ini, kami hanya bisa menyerangnya dengan tim terbesar berupa pemain-pemain yang bisa kami perintah dan koordinasi. Sebenarnya aku tak hendak memanggil kalian berdua kembali, mengingat kalian baru saja menikah, tapi aku berharap kalian dapat mengerti dilema kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawabnya dengan mengangkat lengan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan membantu. Tapi aku akan menempatkan keselamatan Asuna sebagai prioritas tertinggiku. Jika keadaan berbahaya mucul, aku akan memprioritaskannya sebelum yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Heathcliff tersenyum dengan sikap yang paling tak disadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berharap melindungi yang lain berarti mampu mengeluarkan kekuatan terhebat. Aku berharap pada pencapaianmu di medan tempur. Serangan akan dimulai 3 jam lagi. 23 orang, termasuk kalian berdua, diharapkan ikut. Kita akan bertemu di depan gerbang teleport di Collinia pada lantai 75 pada jam 1. Semuanya, Bubar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia selesai, paladin merah dan orang-orangnya bangkit serta meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“3 jam---Apa yang harus kita lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menanyaiku sambil duduk –tak-tahu-bagaimana di bangku logam. Aku hanya memandanginya dalam diam. Tubuhnya terselimuti seragam tempur putih dengan hiasan merah, rambut panjang lembutnya, mata coklatnya yang berkilauan—dia begitu cantik bagaikan permata tak ternilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia menyadari aku terus menatapnya tanpa membelokkan pandanganku, pipi Asuna memerah dan bertanya dnegan senyum malu-malu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A....apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan enggan buka mulut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Asuna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon jangan marah dan dengarkan aku. Raja yang kita hadapi hari ini...bisakah kau tak ikut dan menunggu aku kembali disini ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama-tama, Asuna menatapku, lalu menundukkan kepalanya dengan wajah muram dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mengapa kau mengatakan ini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski Heathcliff berkata begitu, kita tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi di tempat dimana kristal tak bisa digunakan. Aku benar-benar takut...saat aku memikirkannya...bahwa sesuatu akan terjadi padamu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin aku menunggu di tempat aman sementara kau pergi ke tempat yang seberbahaya itu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bangkit dan berjalan menuju padaku dengan langkah tegap. Matanya berkobar dengan penuh hasrat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku melakukan itu dan kau tak kembali, maka aku akan bunuh diri. Aku tak hanya akan kehilangan alasanku untuk terus hidup, aku juga takkan pernah memaafkan diriku yang hanya menunggu disini. Jika kau ingin kabur, maka kita akan kabur bersama. Jika itu yang mau kau lakukan, maka aku setuju dengan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia selesai berbicara dan menyentuh bagian tengah dadaku dengan jemari tangan kanannya. Matanya melembut dan sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, kau tahu...semua yang ikut dalam pertempuran hari ini ketakutan, dan mereka semua ingin kabur. Namun, meski takut, mereka tetap setuju bergabung. Itu karena sang pemimpin dan Kirito...karena dua orang terkuat di dunia ini memimpin mereka...itu pemikiranku...Aku tahu kau tak suka memikul tanggung jawab. Tapi aku berharap kau mencobanya, hanya kali ini saja, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita...supaya kita bisa kembali ke dunia nyata, jadi ktia bisa bertemu lagi; Aku berharap kita bisa melakukan yang terbaik bersama-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tangan kananku dan menggenggam tangan Asuna dengan lembut. Perasaan bahwa aku tak ingin kehilangan dia mengalir keluar dari dasar hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Maaf...aku, jadi lemah untuk sesaat. Sebenarnya, aku ingin sekali kita kabur saja. Aku tak ingin kau mati, dan aku juga tak mau. Kita tak perlu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menerawangi kedalam mata Asuna dan terus berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak apa-apa bila kita tak bisa kembali ke dunia nyata...Aku ingin terus hidup bersamamu di penginapan hutan itu. Kita berdua...selamanya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencengkram dadanya dengan tangannya yang lain. Dia memejamkan mata dan bermuka masam, seakan hendak menahan sesuatu, lalu sebuah desahan kecewa keluar dari bibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah...ini benar-benar seperti mimpi...Akan bagus sekali jika kita bisa melakukan itu...menghabiskan setiap hari bersama-sama...selamanya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berhenti disitu dan menggigit bibir seakan dia tengah melepaskan mimpi yang takkan tercapai. Lalu dia membuka mata dan memandang menengadah padaku dengan wajah serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, apa kau pernah memikirkan tentang ini...? Tentang apa yang terjadi pada tubuh nyata kita saat ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersentak dan terdiam oleh pertanyaan tak terduga ini. Ini mungkin seseuatu yang ditanya-tanyakan tiap pemain. Tapi karena tiada cara berhubungan dengan dunia luar, tiada guna memikirkannya. Meski semuanya ketakutan, mereka juga menghindari menghadapi pertanyaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau ingat? Orang itu...Pengenalan Kayaba Akihiko di awal permainan. Dia berkata bahwa NerveGear memperbolehkan pemutusan berjangka dua jam. Tapi alasannya adalah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untuk memindahkan tubuh kita ke fasilitas kesehatan yang memadai...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengangguk ketika aku mengucapkan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu beberapa hari kemudian, semuanya terputus selama kira-kira sejam, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu seperti itu pasti terjadi. Aku telah melihat pada peringatan pemutusan dan khawatir apakah NerveGear akan membunuhku atau tidak dalam dua jam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir semuanya telah dipindahkan ke RS. Tak mungkin untuk merawat seseorang yang koma dalam rumah biasa selama bertahun-tahun. Lebih mungkin mereka memindahkan kita ke RS lalu menyambungkan kita kembali...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya, rasanya kau benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tubuh kita hanya terbaring di kasur, bertahan hidup hanya karena begitu banyak sambungan yang terpasang padanya...Aku pikir tubuh kita takkan selamanya aman dalam keadaan tersebut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tiba-tiba dilingkupi ketakutan bahwa tubuhku mulai menghilang. Aku memeluk Asuna untuk mengonfirmasi keberadaan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Dengan kata lain...entah kita menyelesaikan permainan ini atau tidak...akan selalu ada batas waktu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Dan batas waktu ini berbeda untuk tiap orang,,,Karena berbicara dengan «Sisi lain» adalah tabu, aku belum membicarakan ini dengan orang lain...tapi kau berbeda. Aku...Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku di sisimu. Aku ingin berdua denganmu yang sebenarnya, menikah yang sebenarnya denganmu, dan tumbuh tua bersama-sama. Jadi...jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tak bisa melanjutkan. Asuna mengubur wajahnya di dadaku dan meneteskan air mata. Aku pelan-pelan mengelus punggungnya untuk membantunya menyelesaikan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“jadi..kita tak punya pilihan selain bertarung saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutanku tak benar-benar menghilang. Tapi bagaimana mungkin aku menyerah sekarang saat Asuna melakukan yang terbaik untuk membuka masa depan kami sambil berusaha begitu keras untuk menjaga dirinya agar tak runtuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak apa-apa—Pasti semanya baik-baik saja. Selama kita bersama, pasti akan---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeraskan lenganku dan memeluk Asuna kuat-kuat untuk menghilangkan perasaan muram yang mengancam untuk menguasaiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 19|next=Jilid 1 Bab 21}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214683</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 19</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214683"/>
		<updated>2012-12-24T03:06:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 19==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sangat mengganggu. Asuna...apa yang harus kita lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm~mmm...&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Asuna, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau begini?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengumpulkan rambutnya dan mendorongnya ke atas. Lalu dia menutupi wajahnya hingga mata dengan syal besar. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti istri petani beneran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa itu pujian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Asuna, yang membawa keranjang piknik kami. Dia bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi dia bersikeras ini bagian dari penyamaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, Nishida oji-san.” &amp;lt;ref&amp;gt;oji-san: panggilan untuk bapak-bapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok  adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Asuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiii,---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memancing tak perlu waktu tunggu dalam SAO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ia kena, Nishida-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih terlalu pagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang  hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas.&amp;lt;ref&amp;gt;dexterity = kelincahan &amp;lt;/ref&amp;gt; Pengguna kapak seperti Agil akan meilih kekuatan, sementara pengguna rapier macam Asuna akan fokus pada deksteritas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencondongkan badan ke air dan menunjuknya. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada yang salah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Asuna dan Nishida berlari  ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, apa talinya putus!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh-!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan  saat itulah kudengar suara Asuna dari kejauhan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kiritooo—itu berbahaya---!!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku berbalik, kulihat  Asuna, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikannya berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja &amp;lt;coelacanth, http://en.wikipedia.org/wiki/Coelacanth&amp;lt;/ref&amp;gt;, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas ebagai monster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di padang-padang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Asuna dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uwa.ini bukan saatnya mengatakan itu Kirito!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooh, ia berlari di darat...jadi ini dipnoan...? &amp;lt;ref&amp;gt;berdiri dengan 2 kaki. http://en.wikipedia.org/wiki/Dipnoans&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, apa kau membawa senjatamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Asuna sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“maaf, aku tak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Asuna melepas jubah dan syal dengan punggung menghadap kami. Rambut coklat terangnya yang berkilauan oleh matahari menari liar di angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia hanya mengenakan rok panjang berwarna rumput dan kemeja dari kain hemp, sebuah rapier bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Asuna untuk kedatangan ikan besar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, I-istrimu dalam bahaya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau  bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Asuna seakan hendak menelannya bulat-bulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Asuna bahkan belum bergerak dari tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, SAO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Asuna. Lalu, Asuna dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkatah sepatah kata pun pada Asuna yang mengaktifkan keahlian satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa kecantikan Asuna atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Asuna mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar.  Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kerja bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uang kita sekarang berupa data bersama.” &amp;lt;ref&amp;gt;artinya, satu dompet&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Asuna dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ah, itu snagat mengejutkan... Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ooh, ini...!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kau Asuna dari Ksatria Darah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemain muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh intens. Lalu wajahnya mencerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Asuna san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Asuna beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kalian berdua telah menikah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Heathcliff yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna yang selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kau tak bisa terus begini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini baru dua minggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Asuna dalam seragam Ksatria merah-putihnya untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan jaket kulit hitam dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnya saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tersenyum dan memeluk lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bisakah kita ngobrol sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya...hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna mendengarnya tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. AKu memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini.  Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam SAO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tiba-tiba mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandangi Asuna, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyadari pandanganku dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Aincrad dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti ini, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia selesai, Asuna menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf Asuna...Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak hari itu...Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk  menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menundukkan kepala, menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan NervGear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. Ya. kau benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, sepertinya aku telah menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida mengangguk dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpindah—Grandum!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Penerjemah dan Referensi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 18|next=Jilid 1 Bab 20}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214682</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 19</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214682"/>
		<updated>2012-12-24T03:03:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 19==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sangat mengganggu. Asuna...apa yang harus kita lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm~mmm...&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Asuna, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau begini?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengumpulkan rambutnya dan mendorongnya ke atas. Lalu dia menutupi wajahnya hingga mata dengan syal besar. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti istri petani beneran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa itu pujian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Asuna, yang membawa keranjang piknik kami. Dia bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi dia bersikeras ini bagian dari penyamaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, Nishida oji-san.” &amp;lt;ref&amp;gt;oji-san: panggilan untuk bapak-bapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok  adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Asuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiii,---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memancing tak perlu waktu tunggu dalam SAO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ia kena, Nishida-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih terlalu pagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang  hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas.&amp;lt;ref&amp;gt;dexterity = kelincahan &amp;lt;/ref&amp;gt; Pengguna kapak seperti Agil akan meilih kekuatan, sementara pengguna rapier macam Asuna akan fokus pada deksteritas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencondongkan badan ke air dan menunjuknya. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada yang salah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Asuna dan Nishida berlari  ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, apa talinya putus!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh-!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan  saat itulah kudengar suara Asuna dari kejauhan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kiritooo—itu berbahaya---!!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku berbalik, kulihat  Asuna, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikannya berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja &amp;lt;coelacanth, http://en.wikipedia.org/wiki/Coelacanth&amp;lt;/ref&amp;gt;, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas ebagai monster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di padang-padang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Asuna dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uwa.ini bukan saatnya mengatakan itu Kirito!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooh, ia berlari di darat...jadi ini dipnoan...? &amp;lt;ref&amp;gt;berdiri dengan 2 kaki. http://en.wikipedia.org/wiki/Dipnoans&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, apa kau membawa senjatamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Asuna sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“maaf, aku tak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Asuna melepas jubah dan syal dengan punggung menghadap kami. Rambut coklat terangnya yang berkilauan oleh matahari menari liar di angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia hanya mengenakan rok panjang berwarna rumput dan kemeja dari kain hemp, sebuah rapier bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Asuna untuk kedatangan ikan besar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, I-istrimu dalam bahaya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau  bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Asuna seakan hendak menelannya bulat-bulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Asuna bahkan belum bergerak dari tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, SAO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Asuna. Lalu, Asuna dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkatah sepatah kata pun pada Asuna yang mengaktifkan keahlian satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa kecantikan Asuna atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Asuna mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar.  Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kerja bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uang kita sekarang berupa data bersama.” &amp;lt;ref&amp;gt;artinya, satu dompet&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Asuna dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ah, itu snagat mengejutkan... Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ooh, ini...!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kau Asuna dari Ksatria Darah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemain muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh intens. Lalu wajahnya mencerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Asuna san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Asuna beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kalian berdua telah menikah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Heathcliff yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna yang selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kau tak bisa terus begini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini baru dua minggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Asuna dalam seragam Ksatria merah-putihnya untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan jaket kulit hitam dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnya saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tersenyum dan memeluk lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bisakah kita ngobrol sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya...hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna mendengarnya tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. AKu memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini.  Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam SAO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tiba-tiba mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandangi Asuna, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyadari pandanganku dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Aincrad dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti uni, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia selesai, Asuna menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf Asuna...Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak hari itu...Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk  menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menundukkan kepala, menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan NervGear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. Ya. kau benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, sepertinya aku telah menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida mengangguk dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpindah—Grandum!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Penerjemah dan Referensi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 18|next=Jilid 1 Bab 20}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214681</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 19</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_19&amp;diff=214681"/>
		<updated>2012-12-24T02:57:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 19==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sangat mengganggu. Asuna...apa yang harus kita lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hm~mmm...&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Asuna, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau begini?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengumpulkan rambutnya dan mendorongnya ke atas. Lalu dia menutupi wajahnya hingga mata dengan syal besar. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti istri petani beneran.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa itu pujian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Asuna, yang membawa keranjang piknik kami. Dia bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi dia bersikeras ini bagian dari penyamaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, Nishida oji-san.” &amp;lt;ref&amp;gt;oji-san: panggilan untuk bapak-bapak&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok  adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Asuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiii,---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memancing tak perlu waktu tunggu dalam SAO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ia kena, Nishida-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih terlalu pagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang  hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas.&amp;lt;ref&amp;gt;dexterity = kelincahan &amp;lt;/ref&amp;gt; Pengguna kapak seperti Agil akan meilih kekuatan, sementara pengguna rapier macam Asuna akan fokus pada deksteritas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencondongkan badan ke air dan menunjuknya. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada yang salah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Asuna dan Nishida berlari  ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, apa talinya putus!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh-!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan  saat itulah kudengar suara Asuna dari kejauhan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kiritooo—itu berbahaya---!!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku berbalik, kulihat  Asuna, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikannya berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja &amp;lt;coelacanth, http://en.wikipedia.org/wiki/Coelacanth&amp;lt;/ref&amp;gt;, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas ebagai monster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di padang-padang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Asuna dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uwa.ini bukan saatnya mengatakan itu Kirito!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooh, ia berlari di darat...jadi ini dipnoan...? &amp;lt;ref&amp;gt;berdiri dengan 2 kaki. http://en.wikipedia.org/wiki/Dipnoans&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito, apa kau membawa senjatamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Asuna sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“maaf, aku tak...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Asuna melepas jubah dan syal dengan punggung menghadap kami. Rambut coklat terangnya yang berkilauan oleh matahari menari liar di angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski dia hanya mengenakan rok panjang berwarna rumput dan kemeja dari kain hemp, sebuah rapier bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Asuna untuk kedatangan ikan besar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito-san, I-istrimu dalam bahaya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau  bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Asuna seakan hendak menelannya bulat-bulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Asuna bahkan belum bergerak dari tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, SAO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Asuna. Lalu, Asuna dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkatah sepatah kata pun pada Asuna yang mengaktifkan keahlian satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa kecantikan Asuna atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Asuna mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Asuna mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar.  Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kerja bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uang kita sekarang berupa data bersama.” &amp;lt;ref&amp;gt;artinya, satu dompet&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Asuna dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ah, itu snagat mengejutkan... Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ooh, ini...!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kau Asuna dari Ksatria Darah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemain muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh intens. Lalu wajahnya mencerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Asuna san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Asuna beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...apa kalian berdua telah menikah...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Heathcliff yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna yang selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kau tak bisa terus begini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini baru dua minggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Asuna dalam seragam Ksatria merah-putihnya untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan jaket kulit hitam dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnysa saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tersenyum dan memeluk lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bisakah kita ngobrol sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya...hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan Asuna mendengarnya tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. AKu memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini.  Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam SAO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga---“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna tiba-tiba mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandangi Asuna, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menyadari pandanganku dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Aincrad dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti uni, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia selesai, Asuna menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf Asuna...Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak hari itu...Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk  menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna menundukkan kepala, menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan NervGear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. Ya. kau benar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, sepertinya aku telah menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida mengangguk dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpindah—Grandum!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Penerjemah dan Referensi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 18|next=Jilid 1 Bab 20}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_18&amp;diff=214677</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 18</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_18&amp;diff=214677"/>
		<updated>2012-12-24T02:42:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 18==&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Pelampung yang terikat pada benang pancing belum bergerak satu kalipun. Rasa mengantuk menyerang kesadaranku sementara aku melihat tarian cahaya mentari yang terpantulkan dari riak air danau yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menguap lebar dan menarik benang pancingku. Hanya sebuah kail perak pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya mentari; umpan yang telah aku pasang di atasnya telah hilang.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak kami pindah ke lantai dua puluh dua. Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, aku telah menghapus teknik pedang dua tanganku &amp;lt;!-- two-handed sword skill--&amp;gt;, yang baru aku latih dengan singkatdahulu, dan menggantinya dengan teknik memancing. Aku mulai meniru Taikoubou [http://en.wikipedia.org/wiki/Taikoubou] dalam memancing. Tetapi untuk suatu alasan tertentu, aku tidak menangkap apapun. Nilai latihannya baru saja melewati angka 600, jadi aku tidak mengharapkan tangkapa besar apapun, tetapi aku berpikir bahwa aku seharusnya telah menangkap sesuatu sekarang. Malahan, aku hanya menghabiskan hari demi hari membuang kotak-kotak umpan yang aku beli di desa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Gah, hal ini sangat menjengkelkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggumamkan keluhan-keluhanku, melempar joran pancing kesamping, dan merebahkan diriku ke tanah. Angin yang bertiup diatas air sedingin es, tetapi mantel yang dibuat Asuna dengan teknik menjahitnya membuatku tetap hangat. Asuna masih dalam tahap melatih teknik itu, jadi mantel yang dibuatnya masih belum sebaik pakaian yang dijual di toko-toko NPC. Tetapi karena mantelnya dapat digunakan dan membuatku tetap hangat, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Sekarang adalah «Bulan dari Cypress» di dalam Aincrad, yang berarti sekarang adalah bulan November di Jepang. Walaupun sekarang sudah hampir memasuki musim dingin, memancing di SAO tidak memiliki hubungan apapun dengan musim. Mungkin hal ini sebenarnya karena aku telah menghabiskan semua keberuntunganku untuk mendapatkan istriku yang cantik.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sementara aku memikirkan hal ini, keseluruhan diriku dipenuhi dengan kebahagiaan, dan sebuah senyum lebar tergambar di wajahku. Lalu tiba-tiba, sebuah suara mencapai telingaku.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana kabarmu?” &amp;lt;!-- Original:“How did you do?&amp;quot; It’s been a while since I’ve done a formal introductory greeting,have forget.Please give your suggestion regarding this.--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melompat kaget dan melihat seorang pria berdiri disana saat aku berbalik.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Tubuhnya terbungkus dengan pakaian tebal, termasuk dengan sebuah topi dengan penutup telinga, dan memegang joran pancing di kedua tangannya sepertiku. Tetapi hal yang mengejutkan adalah usianya. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, dia sepertinya paling tidak berusia lima puluh tahun. Kedua mata dibalik kacamata berbingkai logam menunjukkan usia seorang yang sudah senior. Diantara para pecandu game berat di dalam SAO, sangat jarang melihat seseorang yang sangat tua. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seorangpun sebenarnya. Mungkinkah-?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Aku bukan seorang NPC.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum kecut seakan-akan dia telah membaca pikiranku, dan kemudian secara perlahan melangkah menuruni lereng danau.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“M-Maaf. Aku hanya heran...”  &amp;lt;!-- Original:“S-Sorry. I was just wondering…”--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Tidak, tidak apa-apa. Hal itu dapat dimengerti. Aku kemungkinan besar adalah pemain paling tua di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh sehatnya terayun sementara dia tertawa “wa-ha-ha” sepenuh hati. &amp;lt;!--His healthy body rocked as he gave a hearty &amp;quot;wa-ha-ha&amp;quot; laugh.--&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Permisi.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia engatakan hal itu sementara dia duduk di sampingku. Dia mengambil sebuah kotak umpan dari pinggulnya, lalu dengan canggung membuka sebuah pop-up menu, mengambil joran pancingnya, dan menaruh umpannya di sana.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Namaku adalah Nishida. Aku adalah seorang pemancing disni. Di Jepang, aku bekerja sebagai kepala bagian perawatan dari sebuah perusahaan bernama Tohto Broadband Connection. Maaf aku tidak membawa kartu nama bisnisku. &amp;lt;!--“My name is Nishida. I’m a fisherman here. In Japan, I worked as the head of maintenance for a company called the Tohto Broadband Connection. I’m sorry but I don’t have my business cards with me.”--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia tertawa lagi.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hampir dapat menebak alasan mengapa dia berada di dalam permainan ini. Tohto adalah sebuah perusahaan operator network &amp;lt;!--network operator company--&amp;gt; yang bekerja sama dengan Argas. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus network yang menghubungkan server-server SAO.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Namaku Kirito. Aku pindah kesini dari lantai atas beberapa saat yang lalu. Nishida oji-san... pasti sedang... merawat koneksi network SAO...?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Aku adalah yang bertanggung jawab atas hal itu.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida mengatakan hal itu sembari mengangguk. Aku melihatnya dengan perasaan yang rumit. Hal ini berarti dia telah terlibat dalam semua ini disini karena pekerjaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, para atasanku berkata bahwa tidak perlu masuk ke dalam permainan, tetapi aku tidak dapat merasa tenang sepenuhnya sebelum aku melihat hasil pekerjaanku dengan mataku sendiri, dan karena kekhawatiran orang tua sepertiku, aku menjadi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengayunkan joran pancingnya dengan gerakan yang luar biasa halus saat dia mengatakan hal ii, dan seseorang dapat mengetahui bahwa dia sudah memiliki professional mastery dari seorang pemancing yang ahli. Dia juga sepertinya senang bercakap-cakap, karena dia meneruskan percakapannya tanpa menunggu balasan dariku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain aku, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang tua lain yang berada di sini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka hidup dengan aman di Starting City, tetapi aku jauh lebih  menikmati hal ini dibandingkan dengan hanya makan tiga kali sehari.” &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia mengangkat joran pancingnya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku telah tanpa henti mencari untuk mencari sungai-sungai dan danau-danau yang bagus, dan pada akhirnya naik hingga ke tempat ini.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Oh, benarkah... Yah, hampir tidak ada monster di lantai ini.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida hanya tersenyum akan apa yang aku katakan tanpa menjawab. Lalu dia bertanya kepadaku:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Lalu, apakah ada tempat yang bagus di lantai atas?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia bertanya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Hmmm…  Yah, lantai enam puluh satu seluruhnya adalah danau, sebenarnya, lebih mirip laut, dan mereka berkata bahwa seseorang dapat menagkap ikan yang besar di sana.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Ohh! Aku lebih baik pergi ke sana suatu saat.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Pada saat ini, pelampung dari joran pancingnya mulai tenggelam dengan cepat. Nishida tidak membuang waktu untuk menariknya. Sepertinya level teknik memancingnya cukup tinggi, begitu pula dengan kemampuan sebenarnya untuk memancing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Woah, besar sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara aku memaksakan tubuhku untuk bersandar ke depan, Nishida dengan tenang menggulung benang pancingnya dan dengan cepat menarik ikan biru yang berkilauan itu. Ikan itu menggelepar di tangannya beberapa kali lalu menghilang ke dalam inventory-nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa...!”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida tersenyum malu sementara dia mengangkat kepalanya untuk menjawab:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Bukan apa-apa. Yang perlu kamu lakukan di sini hanyalah menaikkan teknik memancingmu.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Lalu dia menambahkan hal ini sementara dia menggaruk kepalanya:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Tetapi, walaupun aku dapat menangkapnya, aku masih tidak tahu bagaimana cara memasaknya dengan baik... Aku ingin memakan sashimi atau ikan panggang, tetapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa kecap.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Ah… benar juga…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Kami pindah ke sini untuk menghindari orang lain, tetapi aku berpikir bahwa orang ini tidak akan tertarik dengan rumor dan gosip.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“…Aku tahu mengenai sesuatu yang terasa mirip sekali dengan kecap...”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Apa!?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida menyandar lebih dekat dengan kedua matanya bersinar dibalik kacamatanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Asuna menyambut kepulanganku dan melihat Nishida, kedua matanya terbelalak kaget, namun kemudian dia tersenyum dan berkata: &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Selamat datang. Seorang tamu?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Yeah, dia adalah Nishida oji-san, seorang pemancing. Dan-“&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suaraku melemah sementara aku berbalik melihat Nishida dan tidak yakin bagaimana memperkenalkan Asuna. Lalu, Asuna tersenyum kepada pemancing tua itu dan memeperkenalkan dirinya sendiri:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Aku adalah istrinya, Asuna. Selamat datang ke rumah kami.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida menatap Asuna dengan mulut tebuka. Asuna sedang memakai sebuah rok panjang polos, sebuah kemeja rami dengan celemek, dan sebuah kerudung di atas kepalanya. Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya sebagai seorang pejuang yang mengesankan sebagai seorang anggota KOB, tetapi kecantikannya tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berkedip beberapa kali, Nishida akhirnya tersadar kembali dan mengatakan:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Ah, ahh, aku minta maaf. Aku telah terpesona untuk sesaat. Namaku Nishida. Maaf mengganggumu seperti ini..”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia menggaruk kepalanya dan tertawa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Asuna menerapkan semua keahlian memasaknya yang mengesankan kepada ikan besar yang telah ditangkap Nishida, dan menaruhnya di meja setelah mengubahnya menjadi sashimi dan ikan panggang dengan kecap sebagai bumbunya. Sementara aroma dari kecap buatan tangan tercium di dalam rumah, Nishida melebarkan lubang hidungnya &amp;lt;!--Truly,that’s what it said.--&amp;gt; dengan rasa senang tampak di wajahnya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ikan itu lebih terasa seperti ikan yellowtail &amp;lt;!--Forgot the Indonesian of it--&amp;gt; dengan tambahan sejumlah minyak dibandingkan dengan rasa seperti kan air tawar. Menurut Nishida, kamu memerlukan setidaknya 950 poin dalam memancing sebelum kamu dapat menangkapnya. Setelah sebuah percakapan pendek, kami bertiga terfokus untuk memakan ikan itu dengan sumpit kami.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Piring-piringnya telah kosong dalam sekejap mata, dan Nishida menghela napas dengan ekspresi kebahagiaan saat dia memegang secangkir teh panas dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…ah, makanan tadi sangat memuaskan. Terima kasih. Untuk berpikir  bahwa kecap ada di dunia ini.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Oh, kecap ini buatan tangan. Kamu dapat membawa beberapa denganmu bila kamu suka.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Asuna mengambil sebuah botol kecil dari dapur dan memberikannya kepada Nishida. Aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus untuk tidak memberitahukannya resep dari kecap itu. Asuna lalu tersenyum dan berkata kepada Nishida yang berterima kasih: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jangan khawatir akan hal ini; anda juga membawakan kami ikan yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lalu melanjutkan perkataanya:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kirito-kun belum pernah menangkap apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada serangan mendadak ini, aku hanya menyesap tehku dalam keheningan sebelum menjawab:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Danau-danau di area ini semua terlalu susah.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Tidak, tidak juga. Hanya danau tempat Kirito-san memancing saja.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Eh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang Nishida katakan membuatku tidak dapat berkata-kata. Asuna memegang perutnya dan mulai tertawa tanpa henti.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kenapa mereka mengaturnya seperti itu...?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Sebenarnya, di danau itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nishida menurunkan nada suaranya sebelum melanjutkan, jadi Asuna dan aku menyandar ke depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa dewa setempat tinggal disana.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Dewa setempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara suara Asuna dan aku bergema bersama, Nishida tersenyum, membetulkan kacamatanya, dan kemudian melanjutkan perkataannya:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Pada item shop di desa, disana ada sebuah umpan yang jauh lebih mahal dari umpan yang lain. Aku penasaran mengenai kemampuannya, jadi aku memutuskan untuk memebelinya sekali dan mencobanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menelan ludah karena naluri.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Tetapi aku tidak dapat menangkap apapun dengan umpan itu. Setelah mencobanya di berbagai tempat, aku akhirnya berpikir untuk mencoba pada danau yang sulit itu.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Apakah, apakah kamu menangkap sesuatu...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, sesuatu menangkap umpannya.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Nishida mengangguk dalam, dan raut wajahnya menjadi raut wajah yang menunjukkan penyesalan:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Tetapi aku tidak dapat menariknya dengan kekuatanku dan pada akhirnya kehilangan joran pancingku karena itu. Aku hanya berhasil melihat bayangannya dalam saat-saat terakhir. Hal itu tidak hanya besar, kamu dapat memanggilnya sebuah monster, tetapi dalam arti lain dengan monster yang muncul di padang.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Dia membuka lebar kedua tangannya. Hal ini mungkin adalah alasan di balik senyumnya yang penuh arti ketika aku berkata, “Hampir tidak ada monster di lantai ini.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Uwa, aku ingin melihatnya!”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Asuna berseru dengan kedua matanya berkilauan. Lalu, Nishida bertemu pandang denganku dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“jadi aku memiliki sebuah usulan— apakah kamu memiliki kepercayaan diri dengan strength stat-mu Kirito-san...?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Yah, kelihatannya tidak apa-apa...” &amp;lt;!--Well, it should be alright…”--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana bila kita memancingnya bersama? Aku akan menahannya hingga dia menggigit umpannya dan kemudian menyerahkan sisanya kepadamu.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Hmm, jadi kita akan melakukan «Switch» sementara memancing... apakah hal itu mungkin...?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Aku memiringkan kepalaku ke samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba, Kirito-kun! Hal ini kelihatannya menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asuna mengatakan hal ini dengan kata “bersemangat” &amp;lt;!-- &amp;quot;excitement&amp;quot;--&amp;gt; tertulis jelas di wajahnya. Tetapi, tidak salah jika aku juga agak tertarik dengan hal ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Lalu mari kita segera mencobanya.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika aku menjawab, sebuah senyum tersebar di wajah Nishida.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;quot;Itu baru semangat, , wa-ha-ha.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berseru, “Dingindingin,” Asuna merangkak masuk ke tempat tidur, lalu merapatkan tubuhnya denganku dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip dengan enggan dan kemudian tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“… ada banyak sekali orang-orang yang berbeda di sini.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Dia adalah orang yang menarik,bukan?”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Yeah.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Asuna kemudian tiba-tiba menarik senyumnya dan menggumam:&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Hingga saat ini, aku hanya bertarung di lantai atas. Aku telah lupa sama sekali bahwa di sini juga banyak orang yang menjalani kehidupan normal…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kita adalah seseorang yang istimewa; tetapi sejak kita berada pada level yang cukup tinggi untuk bertarung di garis depan, aku rasa hal ini juga berarti kita memiliki sebuah kewajiban kepada mereka.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“…Aku tidak pernah memikirkan mengenai hal ini seperti itu… Aku selalu merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah hanya sebuah jalan untuk bertahan hidup.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“…Tetapi dengan kepribadianku, mendengar ekspektasi semacam ini hanya membuatku ingin melarikan diri.”&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Oh kamu ini.” &amp;lt;!--Oh you.”--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Asuna mencibir tidak puas, aku membelai rambutnya dan berharap bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi Nishida dan pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi setidaknya untuk sekarang-&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Agil dan Klein kepadaku, aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai tujuh puluh lima. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Asuna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 17|next=Jilid 1 Bab 19}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_3&amp;diff=214562</id>
		<title>Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Sword_Art_Online_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_3&amp;diff=214562"/>
		<updated>2012-12-23T15:22:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;110.136.170.223: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ding, ding, Sebuah suara seperti bel , atau mungkin sebuah bel peringatan, terdengar dengan keras, membuatku dan Klein melompat karena kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini!?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berteriak bersamaan dan melihat satu sama lain, kedua mata kami terbuka lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein dan aku diselimuti oleh pilar cahaya berwarna biru terang. Di balik cahaya biru itu, padang rumput di penglihatanku perlahan-lahan menjadi kabur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah mengalami ini beberapa kali selama beta testing. Ini adalah «Teleport» yang dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah item. Aku tidak punya item yang dibutuhkan dan aku juga tidak meneriakkan perintah yang seharusnya diucapkan. Apakah operator nya melakukan teleport paksa? Jika begitu, kenapa mereka tidak memberitahu kami?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku sedang berpikir, cahaya di sekelilingku bergetar semakin keras dan kegelapan menyelimutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat cahaya birunya memudar, sekelilingku menjadi jelas lagi. Tapi, ini bukan padang rumput yang memantulkan cahaya matahari terbenam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jalan besar yang terbuat dari batu. Jalan abad pertengahan yang dikelilingi oleh lampu jalan dan istana besar yang memancarkan sinar gelap terlihat di kejauhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah starting point, central plaza dari «Kota Awal». &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat kearah Klein yang membuka mulutnya lebar-lebar disampingku. Lalu kearah kerumunan orang yang berada di sekeliling kami.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Melihat ke sekumpulan orang yang sangat cantik dan tampan dengan equipment dan warna rambut yang bervariasi, tidak salah lagi mereka adalah player lain sepertiku. Ada sekitar berapa ribu hingga sepuluh ribu orang disini. Sepertinya semua orang yang sedang log on saat ini dipaksa teleport ke central plaza.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selama beberapa detik, semua orang hanya melihat sekeliling tanpa mengatakan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ada beberapa bisikan dan kata-kata yang terdengar disana-sini; perlahan-lahan semakin berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kita log out sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah mereka memperbaikinya lebih cepat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komentar-komentar seperti itu bisa terdengar dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika para player mulai kehilangan kesabaran, teriakan-teriakan seperti “Apa ini bercanda?” dan “Keluar kalian, GM!” dapat terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu tiba-tiba.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Seseorang berteriak dengan suara yang lebih keras dari suara-suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…lihat keatas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein dan aku hampir secara otomatis mengarahkan mata kami keatas dan melihat. Ada pemandangan aneh yang menyambut kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di permukaan bagian bawah lantai dua, seratus meter diatas udara, terdapat tanda silang berwarna merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat dengan lebih jelas, aku bisa melihat kalau itu adalah dua kata yang saling bersilangan. Kata-kata yang satunya adalah [Warning] dan yang satu lagi adalah [System Announcement].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terkejut selama sesaat tapi kemudian berpikir &#039;Oh, operatornya mulai menginformasikan kita sekarang&#039;, dan mengendurkan bahuku sedikit. Pembicaraan di plaza menjadi sunyi dan kau bisa merasakan kalau semua orang menunggu kata selanjutnya yang akan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak seperti apa yang kubayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari tengah pola itu, sebuah cairan yang seperti darah mulai mengalir turun perlahan-lahan. Cairan itu turun dengan kecepatan pelan seperti menggambarkan sebarapa kentalannya cairan itu; Tapi cairan itu tidak jatuh kebawah, malah mulai berubah ke bentuk yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang muncul adalah pria setinggi 20 meter yang mengenakan jubah berkerudung yang menutupi tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, itu tidak terlalu tepat. Dari tempat kami melihat, kami bisa dengan mudah melihat kedalam tudungnya-tidak ada wajah disana. Benar-benar kosong. Kami bisa melihat dengan jelas bagian dalam bajunya dan sulaman hijau didalam tudungnya. Didalam jubahnya pun sama, yang bisa kami lihat hanyalah bayangannya saja.&lt;br /&gt;
[[image:Sword Art Online Vol 01 - 043.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah melihat jubah itu sebelumnya. Itu adalah baju yang selalu digunakan pegawai Argas yang bekerja sebagai GM. Tapi semua GM pria mempunyai wajah seperti seorang penyihir tua dengan janggut panjang, dan Yang wanita mempunyai avatar wanita berkacamata. Mereka mungkin menggunakan jubah itu karena kurangnya waktu untuk menyiapkan avatar yang layak, tapi tempat kosong dibalik tudungnya memberikanku perasaan gelisah yang tidak bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para player di sekelilingku pasti merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu GM?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dia tidak punya wajah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak bisikan seperti itu yang bisa terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu tangan kanan dari jubah besar itu bergerak seperti untuk mendiamkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah sarung tangan putih bersih muncul dari lipatan panjang lengan bajunya. Tapi lengan baju itu, seperti bagian lain dari jubahnya, tidak terhubung dengan bagian tubuh manapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu tangan kirinya perlahan-lahan terangkat keatas juga. Kemudian dengan dua sarung tangan kosong yang terbentang di depan 10 ribu player, orang tak berwajah itu mulai membuka mulutnya—tidak, terasa seakan-akan dia melakukannya. Kemudian sebuah suara pria yang tenang dan pelan terdengar bergema dari ketinggian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Para Player sekalian, aku menyambut kalian semua kedalam dunia ku&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa segera mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
«Duniaku»? Jika orang berjubah merah itu adalah seorang GM, maka dia memang punya kekuatan seperti dewa di dunia ini, yang mengizinkannya mengubah dunia ini sesukanya, tapi kenapa dia mengatakannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein dan aku melihat satu sama lain kebingungan. Orang berjubah merah tanpa nama itu menurunkan kedua tangannya dan melanjutkan perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Namaku adalah Kayaba Akihiko. Sekarang ini, akulah orang satu-satunya yang bisa mengendalikan dunia ini.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…!?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Avatarku menjadi kaku karena shock, dan tenggorokanku, dan mungkin leherku di dunia nyata juga, berhenti bekerja selama beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba—Akihiko!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu nama itu. Tidak mungkin aku tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang ini adalah seorang game designer dan seorang genius di bidang quantum physics, orang yang membuat Argas, yang beberapa tahun lalu hanyalah satu dari banyak perusahaan kecil lainnya, menjadi salah satu perusahaan yang bisa mengatur perekonomian dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merupakan direktur pengembangan SAO dan pada saat yang sama, pendesain Nerve Gear.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai salah seorang hardcore gamer, aku sangat menghormati Kayaba. Aku membeli seluruh majalah yang menceritakan tentang dia dan telah membaca beberapa wawancaranya hingga aku hampir hapal isinya. Aku hampir bisa membayangkan dia mengenakan baju putihnya yang selalu dia gunakan hanya dengan mendengar suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dia selalu berdiri dibalik layar, menolak tampil di depan media; dia tidak pernah menjadi GM sebelumnya-jadi kenapa dia melakukan sesuatu seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha berpikir lagi untuk mengerti situasinya. Tapi kata-kata yang keluar dari orang itu terdengar seperti ejekan bagiku yang sedang berusaha untuk mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Kupikir hampir semua orang telah menyadari kalau tombol logout telah menghilang dari main menu. Itu bukanlah bug, itu adalah bagian dari sistem «Sword Art Online».’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagian dari…sistemnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein bergumam, suaranya terbata-bata. Pengumumannya berlanjut dengan suara yang pelan seperti untuk menyembunyikan suara aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Hingga kalian mencapai ke lantai teratas dari kastil ini, kalian tidak bisa log out.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kastil ini? Awalnya aku tidak mengerti kata tersebut. Tidak ada kastil di «Kota Awal».&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kata-kata selanjutnya yang di katakan Kayaba menghilangkan semua kebingunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘…selain itu, dilarang menghentikan atau melepas Nerve Gear dari luar. Jika hal-hal seperti itu dilakukan…’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesunyian diantara sepuluh ribu orang ini sangat menekan. Kata-kata selanjutnya keluar secara perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Pengirim sinyal di Nerve Gear mu akan mengirimkan sebuah gelombang elektromagnetik yang kuat, menghancurkan otakmu dan menghentikan semua fungsi tubuhmu.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein dan aku melihat satu sama lain dalam keadaan shock selama beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku seakan-akan menolak untuk mempercayai apa yang baru saja kudengar. Tapi pernyataan singkat yang dikatakan Kayaba menusuk ke pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghancurkan otak kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, membunuh kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengguna manapun yang mematikan Nerve Gear atau membuka kunci pengaman dan melepaskannya akan terbunuh. Itulah apa yang baru saja Kayaba maksudkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang di keramaian mulai bergumam, tapi tidak ada satupun yang berteriak atau panik. Tidak ada seorangpun, sama halnya denganku, yang bisa mengerti ataupun memprotesnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein mengangkat tangannya perlahan-lahan dan mencoba untuk memegang head gear yang seharusnya berada di sana di dunia nyata. Ketika dia melakukannya, dia mengeluarkan tawa kecil dan mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haha…Apa yang dia katakan? Pria itu, apa dia gila? Omongannya tidak masuk akal. Nerve Gear… Ini hanya game. Menghancurkan otak kita…Bagaimana dia bisa melakukannya? Benar kan, Kirito?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya terbata-bata di bagian akhir. Klein menatapku dengan serius, tapi aku tidak bisa mengangguk setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengirim sinyal di dalam helm Nerve Gear mengirimkan gelombang elektronik untuk mengirimkan sinyal virtual ke dalam otak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka menyebut ini sebagai ultra teknologi terbaru, tapi teori dasar penggunaannya sama dengan barang elektronik yang sudah ada sejak 40 tahun yang lalu di jepang, microwave.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika listriknya mencukupi, mungkin saja Nerve Gear nya bisa menggetarkan partikel air yang ada di dalam otak kami dan membakarnya dengan panas yang dihasilkan. Tapi…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…secara teori, itu mungkin, tapi dia pasti hanya menggertak. Karena jika kita mencabut kabel Nerve Gear, tidak mungkin itu dapat mengirimkan gelombang sekuat itu. Kecuali ada sejenis baterai yang punya kapasitas penyimpanan yang cukup besar…didalam…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein mungkin sudah bisa mengira alasan kenapa aku berhenti berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada…satu,” katanya, kata-katanya hampir seperti sebuah teriakan dengan ekspresi kosong diwajahnya. “30% dari berat gearnya berasal dari baterainya. Tapi…itu benar-benar gila! Bagaimana jika tiba-tiba terjadi mati listrik atau sejenisnya!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba mulai menjelaskan, seperti dia telah mendengar apa yang Klein teriakkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Untuk lebih jelasnya, pemindahan sumber tenaga listrik untuk 10 menit, terputus dari server lebih dari dua jam, atau pencobaan untuk membuka kunci, mematikan, atau merusak Nerve Gear. Jika salah satu dari kondisi itu terpenuhi, proses penghancuran otak akan dimulai. Syarat-syarat itu telah diberitahukan kepada pemerintah dan kepada masyarakat lewat seluruh media di dunia luar. Untuk catatan, sudah ada beberapa kasus dimana ada keluarga atau teman yang mengabaikan peringatannya dan mencoba dengan paksa melepaskan Nerve Gear. Hasilnya—’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya berhenti sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘—sayangnya 213 player sudah keluar dari dunia ini, dan dunia nyata untuk selamanya.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah teriakan yang panjang dan tipis bisa terdengar. Tapi sebagian besar dari player masih belum bisa mempercayai atau menolak untuk mempercayai apa yang baru saja dikatakan dan hanya berdiri saja dengan wajah yang pucat dan mulut yang terbuka atau senyuman miris di wajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku mencoba menolak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Kayaba. Tapi tubuhku mengkhianatinya dan lututku mulai bergetar dengan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersandung kebelakang beberapa langkah dengan lututku yang lemah dan berhasil mencegah diriku jatuh. Tapi Klein terjatuh kebelakang dengan wajah tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
213 player telah meninggalkan dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat itu terus menerus berulang di dalam kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika yang dikatakan Kayaba benar-lebih dari 200 orang telah meninggal saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa dari mereka mungkin saja ada beta tester sepertiku. Aku mungkin telah mengenal beberapa dari nama karakter dan avatar mereka. Orang-orang itu telah terbakar otaknya dan…mati, apa ini yang Kayaba telah katakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…dak percaya… Aku tidak percaya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein, yang masih duduk di lantai, mulai berbicara dengan suara yang kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia hanya mencoba menakuti kita. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu? Berhenti bercanda dan biarkan kami keluar dari sini. Kami tidak punya waktu untuk mengikuti upacara pembukaan mu yang gila ini. Yeah…ini semua hanyalah sebuah event. Sebuah pertunjukan pembuka, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalam kepalaku, aku meneriakkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi seperti untuk menghilangkan harapan kami, suara Kayaba yang seperti seorang pebisnis meneruskan penjelasannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Para Player, kalian tidak perlu mengkhawatirkan tubuh yang kalian tinggalkan di luar sana. Saat ini, seluruh media TV, radio, dan internet sedang melaporkan situasi ini berulang kali, termasuk kenyataan bahwa sudah ada beberapa korban jiwa. Kemungkinan Nerve Gear kalian terlepas sudah menghilang. Sebentar lagi, menggunakan dua jam yang kuberikan, kalian semua akan di pindahkan ke rumah sakit atau tempat-tempat seperti itu untuk mendapatkan perawatan terbaik. Jadi kalian bisa tenang…dan berkonsentrasi untuk menaklukkan game nya.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, akhirnya mulutku mulai berteriak dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau katakan!? Menaklukkan game nya!? Kau ingin kami bermain di situasi seperti ini!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terus berteriak, menatap kearah jubah merah yang meresap kedalam permukaan dasar lantai atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan game lagi!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Kayaba Akihiko mulai mengumumkan perlahan dengan suaranya yang monoton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tapi aku ingin kalian semua mengerti bahwa «Sword Art Online» bukanlah sebuah game biasa lagi. Ini adalah dunia nyata yang kedua. …mulai sekarang, segala jenis revival didalam game tidak akan bekerja lagi. Disaat HP mu mencapai angka 0, avatar mu akan menghilang selamanya, dan pada saat yang sama—’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa menebak apa yang akan dia katakan dengan sangat jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Otakmu akan dihancurkan oleh Nerve Gear.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, rasa ingin tertawa menggelembung di dasar perutku. Aku menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah garis horizontal panjang bersinar di bagian kiri atas penglihatanku. Ketika aku memfokuskan pandanganku kearahnya, angka 342/342 dapat terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hit points. Nyawaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu mencapai nol, Aku akan mati—sinyal gelombang elektromagnetik akan membakar otakku, membunuhku seketika. Inilah yang telah Kayaba katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak salah lagi ini adalah sebuah game, sebuah game dengan nyawamu sebagai taruhannya. Dengan kata lain, sebuah game kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pasti telah mati setidaknya 100 kali dalam dua bulan beta testing. Aku direspawned dengan sedikit senyum malu di wajahku di bagian utara dari main plaza, di «Black Iron Palace», dan berlari ke arah tempat perburuan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah RPG, sebuah game dimana kau berkali-kali mati dan belajar dan menaikkan level. Tapi sekarang kau tidak bisa? Sekali kau mati, kau akan kehilangan nyawamu? Dan sebagai tambahan—kau bahkan tidak bisa berhenti bermain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…tidak mungkin,” Aku berkata dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mau pergi ke tempat perburuan dengan kondisi seperti itu? Tentu saja semua orang hanya akan menetap di dalam kota di tempat yang aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu seperti membaca pikiran ku, dan mungkin pikiran semua player lain, pengumuman berikutnya diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Para player, hanya ada satu cara untuk keluar dari game ini, seperti yang kubilang sebelumnya, kalian harus memcapai lantai teratas dari Aincrad, lantai keseratus dan mengalahkan boss terakhir yang ada disana. Semua player yang masih hidup pada saat itu akan secara otomatis keluar dari game ini. Aku sudah mengatakan pada kalian semua yang perlu kukatakan.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh ribu orang player berdiri terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah saat dimana aku menyadari apa yang dimaksud Kayaba ketika dia mengatakan «capailah lantai teratas dari kastil ini».&lt;br /&gt;
Kastil ini—berarti tempat luas yang memenjarakan seluruh player di lantai pertama dan 99 lantai lainnya yang ada diatas, bertumpuk hingga ke langit dan melayang diatasnya. Dia membicarakan Aincrad itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menaklukan…seluruh 100 lantai!?” Klein tiba-tiba berteriak. Dia cepat-cepat berdiri dan mengangkat tinjunya ke atas langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mungkin kami melakukannya? Kudengar menaiki satu lantai saja sangat sulit selama beta testing!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar. Selama dua bulan beta testing, seribu orang player hanya bisa mencapai lantai keenam. Bahkan jika ada sepuluh ribu orang yang log in, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melewati 100 lantai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan player yang dipaksa berada disini bertanya-tanya akan pertanyaan-yang tidak ada jawabannya ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesunyian menegangkan ini perlahan-lahan menunjukan gumaman pelan. Tapi tidak ada tanda-tanda dari ketakutan dan rasa putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang disini masih bingung apakah ini benar-benar «bahaya nyata» atau sebuah «event pembukaan yang sangat dibuat-buat». Semua yang dikatakan Kayaba terlalu menakutkan hingga terasa tidak nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengadahkan kepalaku lagi untuk melihat ke arahnya dan moncoba untuk memaksakan pikiranku menerima situasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa log out lagi, selamanya. Aku juga tidak bisa kembali ke kamarku dan kehidupanku. Satu-satunya cara untuk bisa kembali adalah jika seseorang mengalahkan boss di lantai tertinggi dari kastil terbang ini. Jika HP mencapai angka nol meski sekali saja sebelum itu—aku akan mati. Aku akan benar-benar mati dan akan menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapapun aku mencoba menerima kenyataan, ini mustahil. Hanya sekitar lima atau enam jam lalu aku masih makan makanan buatan ibuku, berbicara sedikit dengan saudara perempuanku, dan berjalan didalam rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku tidak bisa kembali ke tempat itu lagi? Dan saat ini, ini adalah dunia nyata yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, ketika jubah merah yang sejak tadi berada di depan kami mengibaskan sarung tangan kanannya dan mulai berbicara dengan suara yang tidak memiliki emosi sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Kalau begitu biar kutunjukkan bukti kalau ini adalah kenyataan. Di dalam inventorimu akan ada hadiah dariku. Ambillah.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah mendengarnya, aku menekan jari telunjuk ku dan jempol ku bersamaan dan menarik nya kebawah. Semua player melakukan hal yang sama dan plaza dipenuhi oleh suara gemerincing bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan tombol item di menu yang baru saja muncul dan ada item disana, di bagian teratas dari daftar barang-barangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama itemnya adalah—«Hand Mirror»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa dia memberi kami benda ini? Sambil berpikir aku menyentuh nama bendanya dan menekan tombol &amp;quot;buat benda menjadi object&amp;quot;. Segera setelahnya terdengar sebuah sound effect dan sebuah kaca persegi berukuran kecil muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegangnya dengan ragu-ragu tapi tidak ada apapun yang terjadi. Apa yang muncul di dalam cermin adalah wajah dari avatar yang kubuat dengan susah payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memiringkan kepalaku dan melihat ke arah Klein. Dia juga melihat ke cermin dengan wajah yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba Klein dan avatar-avatar di sekeliling kami diselimuti oleh cahaya putih. Segera setelah melihatnya, aku juga dikelilingi cahaya yang sama, dan apa yang bisa kulihat hanyalah warna putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar 2, 3 detik kemudian, sekelilingku menjadi jelas lagi seperti mereka baru saja…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah di depanku bukanlah wajah yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Armor yang terbuat dari besi yang dijahit, bandana, dan rambut merah berdurinya sama. Tapi wajahnya berubah ke bentuk yang lain. Matanya yang tajam berubah menjadi cekung dan berwarna lebih terang. Hidungnya yang mancung menjadi sedikit pesek, dan muncul janggut di pipi dan dagunya. Jika avatarnya adalah seorang samurai yang masih muda dan ceria, maka yang ini adalah seorang warrior yang telah kalah—atau mungkin seorang perampok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lupa akan situasinya selama beberapa saat dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa…kau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yang sama terdengar dari mulut orang yang berada didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey…siapa kau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu tiba-tiba menyadari apa guna hadiah Kayaba, «Hand Mirror» yang sedang kupegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku buru-buru mengangkat kacanya, dan melihat muka yang terpantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut hitam yang rapi diatas kepala, sepasang mata yang kelihatan lemah dapat terlihat dibalik rambut yang agak panjang, dan wajah yang orang-orang bisa salah lihat dan menganggapku sebagai wanita ketika aku pergi keluar dengan menggunakan pakaian bebas bersama saudara perempuan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah tenang dari warrior «Kirito» yang baru beberapa detik yang lalu masih ada telah menghilang. Wajah yang terpantul di cermin—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah wajah asliku yang susah-payah ku sembunyikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…wajahku…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein, yang juga sedang memandangi cerminnya terjatuh kebelakang. Kami berdua melihat satu sama lain dan berteriak disaat yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau Klein!?” “Kau Kirito!?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[image:Sword Art Online Vol 01 - 057.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara kami juga berubah, mungkin pengubah suaranya berhenti bekerja. Tapi kami tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerminnya terjatuh dari tangan kami dan mengenai lantai, dan hancur dengan suara pecahan yang agak keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling lagi, kerumunannya sudah tidak lagi dipenuhi oleh orang yang terlihat seperti karakter dari game-game fantasi. Sekumpulan anak muda normal sudah menggantikan tempat mereka. Ini seperti melihat sekumpulan orang di dunia nyata di sebuah perkumpulan game yang menggunakan kostum seperti armor. Bahkan perbedaan jumlah laki-laki dan perempuannya berubah drastis.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Bagaimana ini mungkin terjadi? Klein dan aku, dan mungkin semua player di sekitar kami telah berubah dari avatar yang mereka buat dari awal, menjadi diri asli kami. Tentu saja, teksturnya sendiri masih terlihat seperti model poligon dan masih sedikit terasa aneh, tapi yang paling menakutkan adalah keakuratannya. Seakan-akan gearnya punya sebuah full body scanner yang terpasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Scan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…ah, benar!” Aku melihat kearah Klein dan memaksakan suaraku untuk keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada pengirim sinyal di Nerve Gear yang menutupi seluruh kepala kita. Jadi itu tidak hanya bisa melihat cara berpikir otak kita, tapi wajah kita juga…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ta-Tapi, bagaimana bisa mesin itu tahu bagaimana bentuk tubuh kita terlihat… Seperti seberapa tinggi kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein berkata sambil diam-diam melihat ke sekitar kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rata-rata tinggi dari player, yang sedang melihat diri mereka sendiri dan orang lain dengan berbagai ekspresi, sangat terlihat berkurang setelah «perubahan» tadi. Aku—dan mungkin Klein juga-telah mensetting tinggi kami agar sesuai dengan tinggi asliku di dunia nyata untuk menghindari tinggi yang berlebihan yang bisa menghambat gerakanku, tapi hampir semua player sepertinya membuat diri mereka lebih tinggi sekitar sepuluh hingga dua puluh cm.&lt;br /&gt;
Bukan hanya itu, bentuk dan lebar tubuh para player juga menjadi lebih besar sekarang. Tidak mungkin Nerve Gear bisa mengetahui semua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Klein menjawab pertanyaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…tunggu. Aku baru membeli Nerve Gear kemarin jadi aku masih ingat, ada bagian dari set-up…apa yah disebutnya, pengukuran? Yah apapun itu, saat itu kau disuruh menyentuhkan nya ke bagian tubuhmu di sana-sini, mungkin itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar……pasti itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengukuran adalah saat dimana Nerve Gear mengukur «seberapa jauh tanganmu bisa menggapai tubuhmu». Ini dilakukan untuk menciptakan perasaan yang lebih nyata didalam game. Jadi bisa dibilang kalau  Nerve Gear punya data mengenai bentuk asli tubuh kita yang tersimpan di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu mungkin untuk membuat semua avatar para player menjadi replika yang sama persis dengan diri mereka. Tujuan dari semua ini juga menjadi jelas sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…kenyataan,” aku bergumam. “Dia bilang ini adalah kenyataan . Avatar yang terbuat dari poligon ini…dan HP kita adalah tubuh dan kehidupan asli kita. Untuk membuat kita percaya kalau dia menciptakan tiruan sempurna dari kita…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi…tapi kau tahu Kirito.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein menggaruk kepalanya dengan kasar dan matanya memantulkan sinar saat dia berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Kenapa dia melakukan hal seperti ini…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menjawabnya dan menunjuk keatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu saja. Mungkin dia akan menjawab pertanyaan itu sebentar lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaba memenuhi harapanku. Beberapa detik kemudian, sebuah suara yang terdengar serius, terdengar dari langit yang berwarna merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Kalian pasti heran dan berpikir ‘kenapa’. Kenapa aku-pencipta dari Nerve Gear dan SAO, Kayaba Akihiko-melakukan sesuatu yang seperti ini? Apakah ini sejenis serangan teroris? Apakah dia melakukan ini untuk meminta uang tebusan untuk membebaskan kami?’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah saat ketika suara Kayaba, yang hingga sekarang tanpa emosi, mulai menunjukkan sedikit emosi di dalamnya. Tiba-tiba kata «empati» terpikir oleh ku, meski tidak mungkin itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Itu semua bukanlah alasanku melakukan ini. Bukan hanya itu, searang bagiku, sudah tidak ada alasan untuk melakukan ini. Alasannya karena…situasi ini sendiri lah yang merupakan alasanku melakukan ini. Untuk membuat dan mengamati dunia ini adalah satu-satunya alasanku membuat Nerve Gear dan SAO. Dan sekarang, semuanya telah menjadi nyata.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu setelah istirahat singkat, suara Kayaba sekarang menjadi tanpa emosi lagi dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘…sekarang aku telah menyelesaikan official tutorial dari «Sword Art Online». Para Player—semoga kalian beruntung.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata terakhirnya diikuti oleh suara bergema kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jubah besar itu mulai melayang lebih tinggi tanpa bersuara, dan mulai menyelam, dari kepalanya, kedalam system message yang menutupi langit seakan-akan meleleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahunya, kemudian dadanya, lalu kedua tangan dan kakinya bergabung kedalam permukaan merah, dan terakhir sebuah noda merah yang tersisa menghilang. Segera sesudahnya system message yang telah menutupi langit menghilang dengan tiba-tiba seperti saat itu muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari angin yang bertiup di atas plaza dan BGM dari orkestra NPC terdengar perlahan di telinga kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Game telah kembali ke keadaan normal, kecuali beberapa peraturan yang baru saja diubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu—akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerumunan dari 10 ribu player tadi mulai memberikan reaksi yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, ribuan suara mulai terdengar dengan keras di seluruh plaza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bercanda kan…? Apa-apaan itu? Itu lelucon kan!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti bercanda! Biarkan aku keluar! Biarkan aku keluar dari sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini! Aku harus segera bertemu dengan seseorang sebentar lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka ini! Aku mau pulang! Aku mau pulang!!!!!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekikan. Tuntutan. Teriakan. Kutukan. Permohonan. Dan jeritan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang telah berubah dari game player menjadi tahanan dalam hitungan menit berlutut dan memegangi kepala mereka, melambaikan tangan mereka, memegang satu sama lain atau mulai menyumpahi dengan suara yang keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah-tengah semua suara ini, anehnya pikiranku menjadi jernih lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini, adalah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dinyatakan Kayaba Akihiko semuanya benar. Kalau begitu, ini sudah pasti terjadi. Itu akan aneh jika tidak. Kejeniusan adalah satu sisi dari Kayaba yang membuatnya terlihat menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku tidak bisa kembali ke dunia nyata selama beberapa waktu—mungkin beberapa bulan atau bahkan lebih. Saat ini aku tidak bisa melihat maupun berbicara dengan ibu dan saudara perempuanku. Mungkin saja aku tidak akan punya kesempatan itu lagi. Jika aku mati disini—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan mati di dunia nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nerve Gear, yang pernah menjadi sebuah mesin game, sekarang menjadi kunci penjara ini dan alat eksekusi yang akan membakar otakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas perlahan menarik dan menghela, dan membuka mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Klein, kesini sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang tangannya, yang terlihat lebih tua dariku di dunia nyata, dan keluar dari kerumunan yang berisik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bisa keluar dari sana dengan lumayan cepat, mungkin karena kami berada di dekat pojokan. kami memasuki salah satu jalan yang menuju keluar plaza dan aku bersembunyi di bayangan dibalik kereta kuda yang tidak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Klein,” Aku memanggil namanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia masih terlihat tidak percaya. Aku melanjutkan pembicaraan, berusaha keras agar kata-kataku terdengar serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengarkan aku. Aku akan keluar dari kota ini dan menuju ke desa selanjutnya. Ikutlah bersamaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein membuka matanya lebar-lebar dibawah bandana nya. Aku terus berbicara dengan suara yang pelan dan memaksa mulutku untuk mengeluarkan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika apa yang dikatakannya benar, untuk bertahan hidup di dunia ini kita harus memperkuat diri kita. Kau tahu kalau kan kalau MMORPG adalah pertarungan untuk memperebutkan sumber daya diantara player. Hanya orang-orang yang bisa mendapat uang dan experience yang paling banyak lah yang bisa menjadi kuat. …orang-orang yang telah menyadari hal ini akan memburu semua monster disekitar «Kota Awal». Kau harus menunggu sangat lama hingga monsternya muncul lagi. Pergi ke desa sebelah sekarang akan lebih baik. Aku tahu jalannya dan semua daerah berbahayanya, jadi aku bisa pergi kesana, meski aku masih level satu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat yang sedang berbicara adalah aku, tumben sekali aku mengatakan kata sebanyak itu, tapi meski begitu dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu beberapa detik kemudian wajahnya berkerut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi…tapi kau tahu. Seperti yang kubilang sebelumnya kalau aku mengantri begitu lama untuk membeli game ini bersama dengan teman-temanku. Mereka pasti sudah log in dan seharusnya mereka masih berada di plaza sekarang. Aku tidak bisa…pergi tanpa mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghela napasku dan menggigit bibirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa mengerti semuanya dengan jelas tentang apa yang ingin dikatakan oleh Klein melalui pandangan gugupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia—orang yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain, dan mungkin dia sangat memperhatikan teman-temannya. Dia pasti berharap kalau aku bisa membawa semua teman-temannya bersama kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tidak bisa mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika hanya dengan Klein, aku bisa mencapai ke desa berikutnya sambil menjaga kami dari monster-monster yang agresif. Tapi jika ada dua orang lagi—tidak, jika ada satu orang lagi yang ikut—mungkin akan berbahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang mati dalam perjalanan, mereka akan mati seperti yang dikatakan oleh Kayaba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanggung jawabnya pasti akan tertuju padaku yang menyarankan untuk keluar dari «Kota Awal» yang aman dan gagal untuk menjaga teman-temanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa menanggung beban yang seberat itu. Itu mustahil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein terlihat menyadari kekhawatiranku. Sebuah senyuman muncul di wajahnya yang sedikit berjanggut dan dia menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…Aku tidak bisa terus bergantung padamu. Aku adalah seorang guild master di game yang biasa kumainkan. Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja dengan teknik yang kau ajarkan padaku hingga sekarang. Dan…masih ada kemungkinan kalau ini hanyalah sebuah lelucon dan kita akan bisa log off. Jadi jangan khawatirkan kami dan pergilah ke desa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mulutku yang tertutup, aku dibingungkan oleh ketidak-tegasan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku mengatakan kata yang akan menggerogotiku selama dua tahun kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…OK.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk , berjalan mundur, dan mengatakannya dengan tenggorokanku yang kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, ayo berpisah disini. Jika ada masalah kirimlah pesan padaku. …well, sampai jumpa, Klein.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Klein memanggilku ketika aku mengalihkan pandanganku dan akan pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kirito!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menengok tapi dia tidak mengatakan apapun, pipinya hanya bergerak sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melambaikan tanganku sekali dan berbalik kearah barat laut—kearah desa yang akan kusinggahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku baru berjalan lima langkah, sebuah suara memanggilku dari belakang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Kirito! Kau terlihat tampan di dunia nyata! Aku agak suka dengan gayamu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum pahit dan menyahut tanpa menengok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wajahmu juga sepuluh kali lebih cocok untukmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meninggalkan teman pertamaku di dunia ini dan berlari lurus tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku berlari melewati jalan yang berangin selama beberapa menit, Aku melihat kebelakang lagi. Tentu saja, tidak ada siapa-siapa disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengabaikan perasaan aneh di dadaku dan berlari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju ke gerbang barat laut dari «Kota Awal» dan kemudian melewati padang yang luas dan hutan yang lebat, kemudian menuju sebuah desa yang terletak dibalik semua itu—menuju game survival tanpa akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{SAOIndo Nav|prev=Jilid 1 Bab 2|next=Jilid 1 Bab 4}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>110.136.170.223</name></author>
	</entry>
</feed>