<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Fathom</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Fathom"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Fathom"/>
	<updated>2026-05-17T15:33:47Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454615</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454615"/>
		<updated>2015-07-30T08:37:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 5 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bagi siapa yang ingin mengoreksi atau menambahkan dan diskusi, silahkan e-mail penerjemah dengan alamat fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau PM facebook Fathoni Burhan. Setiap bantuan anda saya sangat harapkan dan saya apresiasi.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunjuk Yuigahama dan ia sedang mengamati sekitar dengan gelisah selagi menelpon dengan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, betul. Ya, setapak batu, kayaknya? Itu tempat kami sekarang. Oh, kamu sudah kelihatan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yui lagi di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang datang ke sini dengan hape di sebelah tangannya adalah Miura Yumiko. Meski dalam kerumunan orang, kerah bulunya yang megah dan kaki mulusnya yang mencuat dari rok mininya kelihatan mencolok meskipun kau tak menyukainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian, dari belakangnya ada Ebina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yui, Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru buat Yukinoshita-san dan kalian juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak seperti Miura tadi. Ebina-san menyapa kami. &#039;&#039;Dia emang bener-bener baik&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Lama nggak jumpa! Selamat Tahun Baru!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lama nggak lihat kamu dari musim panas kemarin, adek kecil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membalas sapaan Ebina-san yang sedang mengobrol dengan Komachi selagi melihat ke arah cewek-cewek yang mengobrol dengan akrabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Miura dan mereka, huh…” Aku bergumam setelah menyadari siapa yang mengobrol dengan Yuigahama di hapenya. Dia berbalik dan mengangguk, mendengar gumamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, datang dari belakang kami ada beberapa lagi muka-muka yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada si pirang dan tukang ngobrol Tobe, kepala tipis dan orang tak tegas Yamato, dan perawan pencari kesempatan Ooka. Itu adalah Kru Baru – Three for the Kill! trio. Tapi sebenarnya, rambut Tobe itu malah ke coklat daripada pirang… Hal itu tak penting sekali sampai aku tak pernah peduli dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiganya bersesakan di suatu tempat yang tak jauh dari kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membuat suara berisik sekali dengan masing-masing satu gelas kertas di sebelah tangannya. Kelihatannya mereka meminum amazake. Tobe menggenggam gelasnya dan meminum semuanya sekali teguk dengan desahan yang seperti erangan setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sake beneran sesuatu banget deh. Minuman pertama tahun ini, minuman pertama tahun ini. Serius, loe harus minum lagi dan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya,” kata Yamato seperti sedang menggodanya. Ia meminum segelas penuh dan mengeluarkan desahan puas. Ya, itu, cuma amazake sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beeh, gue beneran mabuk ni, serius. Bikin gue yang dingin jadi hanget sekarang. Tapi yo, bukannya dingin banget? Maraton bakal bener-bener nggak lancar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ya, pastinya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yamato dan Ooka merespon, aku mengangguk dalam hati. Karena ada sesuatu dan lain hal di kalender, maraton tahun ini akan dilakukan pada akhir Januari bukannya seperti biasa pada bulan Februari setiap tahun. Kami harus lari mengikuti garis pantai di tengah musim ini yang membuatnya jadi lebih dingin lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Cara asem yang bikin aku ingat sesuatu yang buruk banget secepat awal Tahun Baru.&#039;&#039; Aku memberikan tatapan pahit pada trio idiot Tobe, Yamato dan Ooka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tri idiot Tobe grup dan pasangan Miura bersama Ebina-san adalah sosok-sosok akrab di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di barisan orang-orang itu, ada satu sosok yang merupakan inti dari kedua grup itu yang sekarang tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma mereka...?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama mundur selangkah dan berdiri di sebelahku setelah mendengar perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa mereka udah minta Hayato-kun datang, tapi kayaknya lagi nggak pas waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa kubayangkan.” Yukinoshita menjawabnya dengan anggukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya mengejutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dan Yuigahama, Miura dan Ebina-san pun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kamu tahu sesuatu?” Yuigahama bertanya, setelah mendapati betapa yakinnya suara Yukinoshita terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarga Hayama-kun sudah seperti itu sejak lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohhh, jadi begitu.” Yuigahama mengangguk percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, Yukinoshita selalu akrab dengan Hayama. Lebih jelasnya, teman masa kecil, jadi tak seaneh itu kalau dia tahu bagaimana keadaan keluargaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau nggak bilang apa-apa.” Aku menjawabnya dengan sedikit acuh selagi menyadari sekali lagi kalau aku tak benar-benar tahu tentang Yukinoshita atau Hayama. Bukan, maksudnya Yuigahama pun tak tahu sebanyak itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan selain Yuigahama dan aku, ada dua orang lain yang bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hmph, serius,” kata Miura dengan suara merendahkan, seperti meludahkannya, dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita. Ia berjalan beberapa langkah dari tempatnya tadi, memutar-mutar rambutnya dengan jarinya, dan mendesah bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kayak, aku lapar.” Miura berkata dengan jelas dan berjalan-jalan tanpa menghiraukan sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yumiko.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memanggil Miura yang sekarang berhenti dan memutar badannya. Tapi dia membisu dan memandang ke arah lain. Ebina-san tersenyum cepat setelah melihatnya seperti itu dan berjalan kearahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, waktunya makan, huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tobe dengan pendengaran tajamnya mendengar apa yang Ebina-san bilang dan mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yo, yo? Kita bakal makan? Kayak makanan pertama gue tahun ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ada orang kayak gitu, tahu? Cowok yang menambah kata “pertama” ke setiap omongan mereka pas Tahun Baru. Menyebalkan banget...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, ummm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama membandingkan grup Miura dan grup kami, bingung harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beneran nggak mau kesana dengan Miura dan mereka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um... Ng-Ngapain kalian habis ini?” kata Yuigahama, mengeluarkan tawa bingung “tahaha”.&lt;br /&gt;
Yukinoshita memandangnya dan tersenyum. “Aku harus pulang sekarang. Aku nggak terlalu suka sama kerumunan, lagipula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, tapi kan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan kebingungan dikeluarkan Yuigahama karena perkataan Yukinoshita. Yukinoshita  dengan lembut menyentuh bahunya, setelah menyadari kegelisahannya. “Kita bisa ketemu lagi sebentar lagi, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku nggak merasa itu bisa meyakinkannya, tapi Yuigahama menjawabnya dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, jelas tak menyenangkan kalau harus melihat Yuigahama kebingungan memilih antara Miura ataukah Yukinoshita sedini Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin kami bisa ragu-ragu menyatakan kalau keinginan Yuigahama untuk lebih akrab lagi hanyalah salah satu caranya memberikan perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, teman dari teman yang bukan berarti teman juga adalah biasa di dunia ini yang selajur dengan membuat semua orang ada di satu tempat dan menghabiskan waktu bersama yang bukanlah hal terbaik yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak banyak bicara, tapi aku tahu apa yang ia lakukan dari kepeduliannya. Hal itu karena dasar dari sikap yang seperti itu adalah sesuatu yang aku terbiasa dengannya. Karena itu, aku tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, aku mau pulang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?” Yuigahama mengangkat kepalanya dengan muka terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hal seperti itu bukanlah hal yang mesti kita jadi terkejut olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami cuma datang buat ngunjungin kuil. Aku harus pastikan Komachi benar-benar belajar dirumah, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kurasa begitu... Baiklah.” Yuigahama mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, nggak usah khawatirkan aku, jadi pergi aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengibarkan bendera kematian atau bendera pertahanan atau bendera yang susah dimengerti, tapi aku mengabaikannya. Yang manapun, pilihan untuk mengikuti grup mereka tidaklah aku punya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, sampai ketemu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu di sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yukinoshita dan aku mengatakannya; Komachi menundukkan kepalanya karena menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oke, sampai jumpa lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami meninggalkan tempat di mana Yuigahama tetap di situ, dengan sedikit mengayunkan tangannya di depan dadanya. Yuigahama mungkin saja akan bergabung dengan grupnya Miura dan yang lainnya setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran pertemanan Yuigahama bukan hanya Klub Bantuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak yakin konsep dari “teman terbaik” itu memang ada dan siapa yang mendiktekannya, tapi aku yakin kalau suatu saat, akan ada hari di mana aku akan khawatir dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap semoga hal yang seperti itu tidak melelahkan pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==5==&lt;br /&gt;
Kami kembali ke jalan utama kuil tempat kami datang tadi, melewati gerbang batu, dan pergi ke samping Rute Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin yang membekukan tertiup dari Rute Nasional yang lebar itu. Badanku bergetar karena merespon dingin dan Komachi dan aku mengatur-atur kerah kami. Beda sendiri, Yukinosita tidak terlihat lemah terhadap dingin dan hanya mengatur syal di lehernya. Komachi menyentak lengan baju Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yukino-san, ayo kita pulang sama-sama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kayaknya begitu.” Yukinoshita terlihat agak ragu pertamanya, tapi kemudian ia menjawabnya dengan senyuman. Yah, sebenarnya tak benar-benar perlu untuk berpisah kalau arah kami pulang sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan yang terbentang dari sini ke stasiun adalah distrik perbelanjaan dan kerena kepadatan para pembeli di kunjungan kuil mereka, ada beberapa kedai kecil yang didirikan di sisi jalan, energi tumit-ke-tumit dengan bagian dalam kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dan Yukinoshita mengobrol tentang banyak hal seperti tes-tes dan hal yang mereka lakukan saat liburan musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami sampai ke depan gerbang tiket stasiun, dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan di jalan yang sedikit miring, Komachi tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh oh! A-Astaga! Aku beneran lupa beli jimat keberuntungan! Malunya! Aku malah lupa nulis sesuatu di lembaran kayu juga, jadi aku akan lari ke sana cepat-cepat! Jadi, Yukino-san, aku akan pergi sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, mungkin aku mau beli jimat juga,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian melihatku dengan mata setengah tertutup. “Onii-chan, ngomong apa sih kau? Oni-sampah bodoh! Nincompoop! Hachiman! Nggak papa, jadi kalian pulang duluan aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-Baiklah... Nggak, tunggu dulu. Hachiman bukanlah ejekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab balik, tapi kata-kataku tak sampai kepada Komachi karena ia sudah lari jauh. Ayolah, kau membuatku kikuk dengan beraksi secepat itu. Harus ngapain ya... Karena aku tak tahu harus bagaimana karena Komachi, aku akan menamakan fenomena ini, “Harus ngapaKomachi...” Oooohkawan, harus ngapaKomachi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dengan bertanya-tanyga apa yang harus kami lakukan dan bahunya pun bergetar dengan muka menghadap ke arah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?” Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita berdesah ringan dan mengatur nafasnya. Kemudian, seperti berbisik dengan mulutnya, ia berkata dengan suara lirih, “Bodoh, nincompoop, Hachiman...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kayaknya kosakata ejekannya udah ditambahin kata-kata baru...&#039;&#039; Aku memandangnya dengan tatapan ragu dan kaku, dan Yukinoshita mengalihkannya dengan membersihkan tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak papa. Aku cuma merasa kalian akrab sekali.” Ia mengatakannya sembari tersenyum lembut, dengan cepat menghadap ke depan, dan melewati gerbang tiket. Aku melakukan hal yang sama setelahnya dan naik tangga ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, tempat itu penuh dengan orang-orang. Kelihatannya saat ini adalah saat di mana jumlah orang yang ingin pulang ke rumah setelah kunjungan mereka paling banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menaiki kereta setelah kedatangannya dan tempat duduk pun dengan cepat terduduki seluruhnya, membuat kami harus berdiri tegap. Yah, hanya dua stasiun saja. Kami bisa saja kelelahan, tapi kami sepertinya bisa menahannya selama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kereta ini bergetar saat ia meninggalkan stasiun. Aku tersentak ke depan karena gerakannya dan dengan panik aku meraih sandaran gantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melakukannya, aku bisa merasakan ada yang menggenggam ujung jaketku. Aku melirik sejenak dan tangan yang putih, dan kecil itu menggenggam hemku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hal itu, aku menggenggam sandaran gantung lebih keras dengan tanganku dan menegakkan kakiku yang gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Getaran dari kereta yang meluncur, angin yang mengetuk-ngetuk jendela, dan suara-suara dari para penumpang mengisi penuh keseluruhan kereta. Walaupun begitu, saat kereta ini berguncang, suara hembusan nafas berat dari kananku sampai ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Yah, sesak sekali, dan bergetar-getar. Nggak masalah.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tidak mengobrol satu sama lain meskipun kami sama-sama dekat, dan kedua mataku secara normal beralih-alih menuju iklan-iklan dan pengumuman-pengumuman di atas jendela.&lt;br /&gt;
Di antara itu, ada satu peta rute kereta. Keraguan dengan cepat kurasakan saat aku melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, kau nggak papa ke arah sini?” Aku menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak memandang ke mana-mana dan memiringkan kepalanya. “Jalan ke rumahku sepertinya sebentar lagi sampai, jadi aku rasa arah sini nggak papa aja...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-b.JPG]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menaruh tangannya ke bawah dagunya sembari berkata hal tersebut dan memeriksa peta rutenya pula. Tak terlalu yakin, huh? Yah, “arah” kan kata-kata ambigu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu, aku cuma merasa kalau ini kan Tahun Baru dan lain hal, aku bertanya-tanya ada apa sih dengan keluargamu atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, itu maksudnya... Aku nggak pulang ke rumah tahun ini. Aku nggak ada urusan apa-apa di sana, dan agak menyebalkan, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu detil pasti dari hubungan Yukinoshita dan keluarganya. Aku membalasnya, tak yakin seberapa jauh aku bisa berkata-kata dan menanyakannya tentang hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya kegelisahan tergambar di mukaku, karena Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. “Nggak terlalu penting kok. Mereka banyak yang harus dilakukan saat Tahun Baru, juga. Kalau aku pulang, akan ada perasaan nggak nyaman dari kami berdua, jadi aku cuma mengelak dari hubungan yang nggak diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga,” kata Yukinoshita, melanjutkannya. “Nggak ada banyak perbedaan walaupun aku di sana.” Ia melihat ke luar jendela, memandangi pemandangan yang secara beruntun berganti-ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan masalah kalau gitu, ya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresinya saat kepalanya berputar ke arahku ada sedikit keterkejutan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau nggak ada bedanya kalau kau di sana, jadinya buatmu malah lebih gampang. Kau juga nggak usah khawatir jadi gangguan buat siapapun. Lagipula, di dunia ini, ada orang-orang yang menghancurkan suasana cuma dengan berada di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu tadi barusan mengenalkan dirimu?” Yukinoshita tertawa kecil, menunjukkan senyum usilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ya benar. Makanya, sampai hari ini, aku sudah mengatur-atur diriku sebisa mungkin. Situasi tetap damai karena kepedulian hebatku, jadi aku mau ada sedikit penghargaan di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepedulian bukan sesuatu yang bisa dimintai hadiah karenanya, tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk akal. Tch, sekarang hal itu tersangkut di pikiranku. Kepedulian, nggak perlu, dimintai hadiah karenanya. Tapi meski tak ada hadiahnya karena peduli, ada timbal baliknya malah, huh? Nggak adil sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, kereta ini berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stasiun ini adalah tempatku berhenti. Yukinoshita nantinya turun di stasiun berikutnya dan kemudian naik bus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ini tempatku turun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berbicara sejenak dan aku turun ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik untuk mengatakannya “hati-hati pulangnya” dan secepat itu pula pintu kereta itu tertutup setelahnya. Menghadapkan mukanya ke bawah, Yukinoshita mengatakan dengan suara lirih bagai sedang berbisik, “...Aku akan bekerja sama denganmu tahun ini juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Chapter 1-End--&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454614</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454614"/>
		<updated>2015-07-30T08:28:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 5 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bagi siapa yang ingin mengoreksi atau menambahkan dan diskusi, silahkan e-mail penerjemah dengan alamat fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau PM facebook Fathoni Burhan. Setiap bantuan anda saya sangat harapkan dan saya apresiasi.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunjuk Yuigahama dan ia sedang mengamati sekitar dengan gelisah selagi menelpon dengan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, betul. Ya, setapak batu, kayaknya? Itu tempat kami sekarang. Oh, kamu sudah kelihatan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yui lagi di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang datang ke sini dengan hape di sebelah tangannya adalah Miura Yumiko. Meski dalam kerumunan orang, kerah bulunya yang megah dan kaki mulusnya yang mencuat dari rok mininya kelihatan mencolok meskipun kau tak menyukainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian, dari belakangnya ada Ebina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yui, Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru buat Yukinoshita-san dan kalian juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak seperti Miura tadi. Ebina-san menyapa kami. &#039;&#039;Dia emang bener-bener baik&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Lama nggak jumpa! Selamat Tahun Baru!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lama nggak lihat kamu dari musim panas kemarin, adek kecil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membalas sapaan Ebina-san yang sedang mengobrol dengan Komachi selagi melihat ke arah cewek-cewek yang mengobrol dengan akrabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Miura dan mereka, huh…” Aku bergumam setelah menyadari siapa yang mengobrol dengan Yuigahama di hapenya. Dia berbalik dan mengangguk, mendengar gumamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, datang dari belakang kami ada beberapa lagi muka-muka yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada si pirang dan tukang ngobrol Tobe, kepala tipis dan orang tak tegas Yamato, dan perawan pencari kesempatan Ooka. Itu adalah Kru Baru – Three for the Kill! trio. Tapi sebenarnya, rambut Tobe itu malah ke coklat daripada pirang… Hal itu tak penting sekali sampai aku tak pernah peduli dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiganya bersesakan di suatu tempat yang tak jauh dari kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membuat suara berisik sekali dengan masing-masing satu gelas kertas di sebelah tangannya. Kelihatannya mereka meminum amazake. Tobe menggenggam gelasnya dan meminum semuanya sekali teguk dengan desahan yang seperti erangan setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sake beneran sesuatu banget deh. Minuman pertama tahun ini, minuman pertama tahun ini. Serius, loe harus minum lagi dan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya,” kata Yamato seperti sedang menggodanya. Ia meminum segelas penuh dan mengeluarkan desahan puas. Ya, itu, cuma amazake sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beeh, gue beneran mabuk ni, serius. Bikin gue yang dingin jadi hanget sekarang. Tapi yo, bukannya dingin banget? Maraton bakal bener-bener nggak lancar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ya, pastinya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yamato dan Ooka merespon, aku mengangguk dalam hati. Karena ada sesuatu dan lain hal di kalender, maraton tahun ini akan dilakukan pada akhir Januari bukannya seperti biasa pada bulan Februari setiap tahun. Kami harus lari mengikuti garis pantai di tengah musim ini yang membuatnya jadi lebih dingin lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Cara asem yang bikin aku ingat sesuatu yang buruk banget secepat awal Tahun Baru.&#039;&#039; Aku memberikan tatapan pahit pada trio idiot Tobe, Yamato dan Ooka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tri idiot Tobe grup dan pasangan Miura bersama Ebina-san adalah sosok-sosok akrab di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di barisan orang-orang itu, ada satu sosok yang merupakan inti dari kedua grup itu yang sekarang tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma mereka...?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama mundur selangkah dan berdiri di sebelahku setelah mendengar perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa mereka udah minta Hayato-kun datang, tapi kayaknya lagi nggak pas waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa kubayangkan.” Yukinoshita menjawabnya dengan anggukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya mengejutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dan Yuigahama, Miura dan Ebina-san pun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kamu tahu sesuatu?” Yuigahama bertanya, setelah mendapati betapa yakinnya suara Yukinoshita terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarga Hayama-kun sudah seperti itu sejak lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohhh, jadi begitu.” Yuigahama mengangguk percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, Yukinoshita selalu akrab dengan Hayama. Lebih jelasnya, teman masa kecil, jadi tak seaneh itu kalau dia tahu bagaimana keadaan keluargaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau nggak bilang apa-apa.” Aku menjawabnya dengan sedikit acuh selagi menyadari sekali lagi kalau aku tak benar-benar tahu tentang Yukinoshita atau Hayama. Bukan, maksudnya Yuigahama pun tak tahu sebanyak itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan selain Yuigahama dan aku, ada dua orang lain yang bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hmph, serius,” kata Miura dengan suara merendahkan, seperti meludahkannya, dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita. Ia berjalan beberapa langkah dari tempatnya tadi, memutar-mutar rambutnya dengan jarinya, dan mendesah bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kayak, aku lapar.” Miura berkata dengan jelas dan berjalan-jalan tanpa menghiraukan sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yumiko.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memanggil Miura yang sekarang berhenti dan memutar badannya. Tapi dia membisu dan memandang ke arah lain. Ebina-san tersenyum cepat setelah melihatnya seperti itu dan berjalan kearahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, waktunya makan, huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tobe dengan pendengaran tajamnya mendengar apa yang Ebina-san bilang dan mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yo, yo? Kita bakal makan? Kayak makanan pertama gue tahun ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ada orang kayak gitu, tahu? Cowok yang menambah kata “pertama” ke setiap omongan mereka pas Tahun Baru. Menyebalkan banget...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, ummm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama membandingkan grup Miura dan grup kami, bingung harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beneran nggak mau kesana dengan Miura dan mereka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um... Ng-Ngapain kalian habis ini?” kata Yuigahama, mengeluarkan tawa bingung “tahaha”.&lt;br /&gt;
Yukinoshita memandangnya dan tersenyum. “Aku harus pulang sekarang. Aku nggak terlalu suka sama kerumunan, lagipula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, tapi kan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan kebingungan dikeluarkan Yuigahama karena perkataan Yukinoshita. Yukinoshita  dengan lembut menyentuh bahunya, setelah menyadari kegelisahannya. “Kita bisa ketemu lagi sebentar lagi, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku nggak merasa itu bisa meyakinkannya, tapi Yuigahama menjawabnya dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, jelas tak menyenangkan kalau harus melihat Yuigahama kebingungan memilih antara Miura ataukah Yukinoshita sedini Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin kami bisa ragu-ragu menyatakan kalau keinginan Yuigahama untuk lebih akrab lagi hanyalah salah satu caranya memberikan perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, teman dari teman yang bukan berarti teman juga adalah biasa di dunia ini yang selajur dengan membuat semua orang ada di satu tempat dan menghabiskan waktu bersama yang bukanlah hal terbaik yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak banyak bicara, tapi aku tahu apa yang ia lakukan dari kepeduliannya. Hal itu karena dasar dari sikap yang seperti itu adalah sesuatu yang aku terbiasa dengannya. Karena itu, aku tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, aku mau pulang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?” Yuigahama mengangkat kepalanya dengan muka terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hal seperti itu bukanlah hal yang mesti kita jadi terkejut olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami cuma datang buat ngunjungin kuil. Aku harus pastikan Komachi benar-benar belajar dirumah, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kurasa begitu... Baiklah.” Yuigahama mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, nggak usah khawatirkan aku, jadi pergi aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengibarkan bendera kematian atau bendera pertahanan atau bendera yang susah dimengerti, tapi aku mengabaikannya. Yang manapun, pilihan untuk mengikuti grup mereka tidaklah aku punya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, sampai ketemu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu di sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yukinoshita dan aku mengatakannya; Komachi menundukkan kepalanya karena menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oke, sampai jumpa lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami meninggalkan tempat di mana Yuigahama tetap di situ, dengan sedikit mengayunkan tangannya di depan dadanya. Yuigahama mungkin saja akan bergabung dengan grupnya Miura dan yang lainnya setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran pertemanan Yuigahama bukan hanya Klub Bantuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak yakin konsep dari “teman terbaik” itu memang ada dan siapa yang mendiktekannya, tapi aku yakin kalau suatu saat, akan ada hari di mana aku akan khawatir dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap semoga hal yang seperti itu tidak melelahkan pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==5==&lt;br /&gt;
Kami kembali ke jalan utama kuil tempat kami datang tadi, melewati gerbang batu, dan pergi ke samping Rute Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin yang membekukan tertiup dari Rute Nasional yang lebar itu. Badanku bergetar karena merespon dingin dan Komachi dan aku mengatur-atur kerah kami. Beda sendiri, Yukinosita tidak terlihat lemah terhadap dingin dan hanya mengatur syal di lehernya. Komachi menyentak lengan baju Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yukino-san, ayo kita pulang sama-sama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kayaknya begitu.” Yukinoshita terlihat agak ragu pertamanya, tapi kemudian ia menjawabnya dengan senyuman. Yah, sebenarnya tak benar-benar perlu untuk berpisah kalau arah kami pulang sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan yang terbentang dari sini ke stasiun adalah distrik perbelanjaan dan kerena kepadatan para pembeli di kunjungan kuil mereka, ada beberapa kedai kecil yang didirikan di sisi jalan, energi tumit-ke-tumit dengan bagian dalam kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dan Yukinoshita mengobrol tentang banyak hal seperti tes-tes dan hal yang mereka lakukan saat liburan musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami sampai ke depan gerbang tiket stasiun, dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan di jalan yang sedikit miring, Komachi tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh oh! A-Astaga! Aku beneran lupa beli jimat keberuntungan! Malunya! Aku malah lupa nulis sesuatu di lembaran kayu juga, jadi aku akan lari ke sana cepat-cepat! Jadi, Yukino-san, aku akan pergi sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, mungkin aku mau beli jimat juga,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian melihatku dengan mata setengah tertutup. “Onii-chan, ngomong apa sih kau? Oni-sampah bodoh! Nincompoop! Hachiman! Nggak papa, jadi kalian pulang duluan aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-Baiklah... Nggak, tunggu dulu. Hachiman bukanlah ejekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab balik, tapi kata-kataku tak sampai kepada Komachi karena ia sudah lari jauh. Ayolah, kau membuatku kikuk dengan beraksi secepat itu. Harus ngapain ya... Karena aku tak tahu harus bagaimana karena Komachi, aku akan menamakan fenomena ini, “Harus ngapaKomachi...” Oooohkawan, harus ngapaKomachi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dengan bertanya-tanyga apa yang harus kami lakukan dan bahunya pun bergetar dengan muka menghadap ke arah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?” Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita berdesah ringan dan mengatur nafasnya. Kemudian, seperti berbisik dengan mulutnya, ia berkata dengan suara lirih, “Bodoh, nincompoop, Hachiman...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kayaknya kosakata ejekannya udah ditambahin kata-kata baru...&#039;&#039; Aku memandangnya dengan tatapan ragu dan kaku, dan Yukinoshita mengalihkannya dengan membersihkan tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak papa. Aku cuma merasa kalian akrab sekali.” Ia mengatakannya sembari tersenyum lembut, dengan cepat menghadap ke depan, dan melewati gerbang tiket. Aku melakukan hal yang sama setelahnya dan naik tangga ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, tempat itu penuh dengan orang-orang. Kelihatannya saat ini adalah saat di mana jumlah orang yang ingin pulang ke rumah setelah kunjungan mereka paling banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menaiki kereta setelah kedatangannya dan tempat duduk pun dengan cepat terduduki seluruhnya, membuat kami harus berdiri tegap. Yah, hanya dua stasiun saja. Kami bisa saja kelelahan, tapi kami sepertinya bisa menahannya selama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kereta ini bergetar saat ia meninggalkan stasiun. Aku tersentak ke depan karena gerakannya dan dengan panik aku meraih sandaran gantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melakukannya, aku bisa merasakan ada yang menggenggam ujung jaketku. Aku melirik sejenak dan tangan yang putih, dan kecil itu menggenggam hemku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hal itu, aku menggenggam sandaran gantung lebih keras dengan tanganku dan menegakkan kakiku yang gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Getaran dari kereta yang meluncur, angin yang mengetuk-ngetuk jendela, dan suara-suara dari para penumpang mengisi penuh keseluruhan kereta. Walaupun begitu, saat kereta ini berguncang, suara hembusan nafas berat dari kananku sampai ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Yah, sesak sekali, dan bergetar-getar. Nggak masalah.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tidak mengobrol satu sama lain meskipun kami sama-sama dekat, dan kedua mataku secara normal beralih-alih menuju iklan-iklan dan pengumuman-pengumuman di atas jendela.&lt;br /&gt;
Di antara itu, ada satu peta rute kereta. Keraguan dengan cepat kurasakan saat aku melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, kau nggak papa ke arah sini?” Aku menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak memandang ke mana-mana dan memiringkan kepalanya. “Jalan ke rumahku sepertinya sebentar lagi sampai, jadi aku rasa arah sini nggak papa aja...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[File:Yahari-10-1-b.JPG]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menaruh tangannya ke bawah dagunya sembari berkata hal tersebut dan memeriksa peta rutenya pula. Tak terlalu yakin, huh? Yah, “arah” kan kata-kata ambigu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu, aku cuma merasa kalau ini kan Tahun Baru dan lain hal, aku bertanya-tanya ada apa sih dengan keluargamu atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, itu maksudnya... Aku nggak pulang ke rumah tahun ini. Aku nggak ada urusan apa-apa di sana, dan agak menyebalkan, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu detil pasti dari hubungan Yukinoshita dan keluarganya. Aku membalasnya, tak yakin seberapa jauh aku bisa berkata-kata dan menanyakannya tentang hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya kegelisahan tergambar di mukaku, karena Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. “Nggak terlalu penting kok. Mereka banyak yang harus dilakukan saat Tahun Baru, juga. Kalau aku pulang, akan ada perasaan nggak nyaman dari kami berdua, jadi aku cuma mengelak dari hubungan yang nggak diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga,” kata Yukinoshita, melanjutkannya. “Nggak ada banyak perbedaan walaupun aku di sana.” Ia melihat ke luar jendela, memandangi pemandangan yang secara beruntun berganti-ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan masalah kalau gitu, ya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresinya saat kepalanya berputar ke arahku ada sedikit keterkejutan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau nggak ada bedanya kalau kau di sana, jadinya buatmu malah lebih gampang. Kau juga nggak usah khawatir jadi gangguan buat siapapun. Lagipula, di dunia ini, ada orang-orang yang menghancurkan suasana cuma dengan berada di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu tadi barusan mengenalkan dirimu?” Yukinoshita tertawa kecil, menunjukkan senyum usilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ya benar. Makanya, sampai hari ini, aku sudah mengatur-atur diriku sebisa mungkin. Situasi tetap damai karena kepedulian hebatku, jadi aku mau ada sedikit penghargaan di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepedulian bukan sesuatu yang bisa dimintai hadiah karenanya, tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk akal. Tch, sekarang hal itu tersangkut di pikiranku. Kepedulian, nggak perlu, dimintai hadiah karenanya. Tapi meski tak ada hadiahnya karena peduli, ada timbal baliknya malah, huh? Nggak adil sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, kereta ini berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stasiun ini adalah tempatku berhenti. Yukinoshita nantinya turun di stasiun berikutnya dan kemudian naik bus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ini tempatku turun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berbicara sejenak dan aku turun ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik untuk mengatakannya “hati-hati pulangnya” dan secepat itu pula pintu kereta itu tertutup setelahnya. Menghadapkan mukanya ke bawah, Yukinoshita mengatakan dengan suara lirih bagai sedang berbisik, “...Aku akan bekerja sama denganmu tahun ini juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Chapter 1-End--&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=File:Yahari-10-1-b.JPG&amp;diff=454612</id>
		<title>File:Yahari-10-1-b.JPG</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=File:Yahari-10-1-b.JPG&amp;diff=454612"/>
		<updated>2015-07-30T08:16:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: Ilustrasi Yahari Jilid 10 bab 1 no 2&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ilustrasi Yahari Jilid 10 bab 1 no 2&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454611</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454611"/>
		<updated>2015-07-30T08:08:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 5 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bagi siapa yang ingin mengoreksi atau menambahkan dan diskusi, silahkan e-mail penerjemah dengan alamat fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau PM facebook Fathoni Burhan. Setiap bantuan anda saya sangat harapkan dan saya apresiasi.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunjuk Yuigahama dan ia sedang mengamati sekitar dengan gelisah selagi menelpon dengan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, betul. Ya, setapak batu, kayaknya? Itu tempat kami sekarang. Oh, kamu sudah kelihatan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yui lagi di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang datang ke sini dengan hape di sebelah tangannya adalah Miura Yumiko. Meski dalam kerumunan orang, kerah bulunya yang megah dan kaki mulusnya yang mencuat dari rok mininya kelihatan mencolok meskipun kau tak menyukainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian, dari belakangnya ada Ebina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yui, Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru buat Yukinoshita-san dan kalian juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak seperti Miura tadi. Ebina-san menyapa kami. &#039;&#039;Dia emang bener-bener baik&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Lama nggak jumpa! Selamat Tahun Baru!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lama nggak lihat kamu dari musim panas kemarin, adek kecil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membalas sapaan Ebina-san yang sedang mengobrol dengan Komachi selagi melihat ke arah cewek-cewek yang mengobrol dengan akrabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Miura dan mereka, huh…” Aku bergumam setelah menyadari siapa yang mengobrol dengan Yuigahama di hapenya. Dia berbalik dan mengangguk, mendengar gumamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, datang dari belakang kami ada beberapa lagi muka-muka yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada si pirang dan tukang ngobrol Tobe, kepala tipis dan orang tak tegas Yamato, dan perawan pencari kesempatan Ooka. Itu adalah Kru Baru – Three for the Kill! trio. Tapi sebenarnya, rambut Tobe itu malah ke coklat daripada pirang… Hal itu tak penting sekali sampai aku tak pernah peduli dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiganya bersesakan di suatu tempat yang tak jauh dari kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membuat suara berisik sekali dengan masing-masing satu gelas kertas di sebelah tangannya. Kelihatannya mereka meminum amazake. Tobe menggenggam gelasnya dan meminum semuanya sekali teguk dengan desahan yang seperti erangan setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sake beneran sesuatu banget deh. Minuman pertama tahun ini, minuman pertama tahun ini. Serius, loe harus minum lagi dan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya,” kata Yamato seperti sedang menggodanya. Ia meminum segelas penuh dan mengeluarkan desahan puas. Ya, itu, cuma amazake sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beeh, gue beneran mabuk ni, serius. Bikin gue yang dingin jadi hanget sekarang. Tapi yo, bukannya dingin banget? Maraton bakal bener-bener nggak lancar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ya, pastinya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yamato dan Ooka merespon, aku mengangguk dalam hati. Karena ada sesuatu dan lain hal di kalender, maraton tahun ini akan dilakukan pada akhir Januari bukannya seperti biasa pada bulan Februari setiap tahun. Kami harus lari mengikuti garis pantai di tengah musim ini yang membuatnya jadi lebih dingin lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Cara asem yang bikin aku ingat sesuatu yang buruk banget secepat awal Tahun Baru.&#039;&#039; Aku memberikan tatapan pahit pada trio idiot Tobe, Yamato dan Ooka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tri idiot Tobe grup dan pasangan Miura bersama Ebina-san adalah sosok-sosok akrab di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di barisan orang-orang itu, ada satu sosok yang merupakan inti dari kedua grup itu yang sekarang tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma mereka...?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama mundur selangkah dan berdiri di sebelahku setelah mendengar perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa mereka udah minta Hayato-kun datang, tapi kayaknya lagi nggak pas waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa kubayangkan.” Yukinoshita menjawabnya dengan anggukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya mengejutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dan Yuigahama, Miura dan Ebina-san pun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kamu tahu sesuatu?” Yuigahama bertanya, setelah mendapati betapa yakinnya suara Yukinoshita terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarga Hayama-kun sudah seperti itu sejak lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohhh, jadi begitu.” Yuigahama mengangguk percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, Yukinoshita selalu akrab dengan Hayama. Lebih jelasnya, teman masa kecil, jadi tak seaneh itu kalau dia tahu bagaimana keadaan keluargaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau nggak bilang apa-apa.” Aku menjawabnya dengan sedikit acuh selagi menyadari sekali lagi kalau aku tak benar-benar tahu tentang Yukinoshita atau Hayama. Bukan, maksudnya Yuigahama pun tak tahu sebanyak itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan selain Yuigahama dan aku, ada dua orang lain yang bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hmph, serius,” kata Miura dengan suara merendahkan, seperti meludahkannya, dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita. Ia berjalan beberapa langkah dari tempatnya tadi, memutar-mutar rambutnya dengan jarinya, dan mendesah bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kayak, aku lapar.” Miura berkata dengan jelas dan berjalan-jalan tanpa menghiraukan sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yumiko.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memanggil Miura yang sekarang berhenti dan memutar badannya. Tapi dia membisu dan memandang ke arah lain. Ebina-san tersenyum cepat setelah melihatnya seperti itu dan berjalan kearahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, waktunya makan, huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tobe dengan pendengaran tajamnya mendengar apa yang Ebina-san bilang dan mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yo, yo? Kita bakal makan? Kayak makanan pertama gue tahun ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ada orang kayak gitu, tahu? Cowok yang menambah kata “pertama” ke setiap omongan mereka pas Tahun Baru. Menyebalkan banget...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, ummm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama membandingkan grup Miura dan grup kami, bingung harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beneran nggak mau kesana dengan Miura dan mereka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um... Ng-Ngapain kalian habis ini?” kata Yuigahama, mengeluarkan tawa bingung “tahaha”.&lt;br /&gt;
Yukinoshita memandangnya dan tersenyum. “Aku harus pulang sekarang. Aku nggak terlalu suka sama kerumunan, lagipula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, tapi kan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan kebingungan dikeluarkan Yuigahama karena perkataan Yukinoshita. Yukinoshita  dengan lembut menyentuh bahunya, setelah menyadari kegelisahannya. “Kita bisa ketemu lagi sebentar lagi, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku nggak merasa itu bisa meyakinkannya, tapi Yuigahama menjawabnya dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, jelas tak menyenangkan kalau harus melihat Yuigahama kebingungan memilih antara Miura ataukah Yukinoshita sedini Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin kami bisa ragu-ragu menyatakan kalau keinginan Yuigahama untuk lebih akrab lagi hanyalah salah satu caranya memberikan perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, teman dari teman yang bukan berarti teman juga adalah biasa di dunia ini yang selajur dengan membuat semua orang ada di satu tempat dan menghabiskan waktu bersama yang bukanlah hal terbaik yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak banyak bicara, tapi aku tahu apa yang ia lakukan dari kepeduliannya. Hal itu karena dasar dari sikap yang seperti itu adalah sesuatu yang aku terbiasa dengannya. Karena itu, aku tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, aku mau pulang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?” Yuigahama mengangkat kepalanya dengan muka terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hal seperti itu bukanlah hal yang mesti kita jadi terkejut olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami cuma datang buat ngunjungin kuil. Aku harus pastikan Komachi benar-benar belajar dirumah, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kurasa begitu... Baiklah.” Yuigahama mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, nggak usah khawatirkan aku, jadi pergi aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengibarkan bendera kematian atau bendera pertahanan atau bendera yang susah dimengerti, tapi aku mengabaikannya. Yang manapun, pilihan untuk mengikuti grup mereka tidaklah aku punya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, sampai ketemu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu di sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yukinoshita dan aku mengatakannya; Komachi menundukkan kepalanya karena menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oke, sampai jumpa lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami meninggalkan tempat di mana Yuigahama tetap di situ, dengan sedikit mengayunkan tangannya di depan dadanya. Yuigahama mungkin saja akan bergabung dengan grupnya Miura dan yang lainnya setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran pertemanan Yuigahama bukan hanya Klub Bantuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak yakin konsep dari “teman terbaik” itu memang ada dan siapa yang mendiktekannya, tapi aku yakin kalau suatu saat, akan ada hari di mana aku akan khawatir dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap semoga hal yang seperti itu tidak melelahkan pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==5==&lt;br /&gt;
Kami kembali ke jalan utama kuil tempat kami datang tadi, melewati gerbang batu, dan pergi ke samping Rute Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin yang membekukan tertiup dari Rute Nasional yang lebar itu. Badanku bergetar karena merespon dingin dan Komachi dan aku mengatur-atur kerah kami. Beda sendiri, Yukinosita tidak terlihat lemah terhadap dingin dan hanya mengatur syal di lehernya. Komachi menyentak lengan baju Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yukino-san, ayo kita pulang sama-sama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kayaknya begitu.” Yukinoshita terlihat agak ragu pertamanya, tapi kemudian ia menjawabnya dengan senyuman. Yah, sebenarnya tak benar-benar perlu untuk berpisah kalau arah kami pulang sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan yang terbentang dari sini ke stasiun adalah distrik perbelanjaan dan kerena kepadatan para pembeli di kunjungan kuil mereka, ada beberapa kedai kecil yang didirikan di sisi jalan, energi tumit-ke-tumit dengan bagian dalam kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dan Yukinoshita mengobrol tentang banyak hal seperti tes-tes dan hal yang mereka lakukan saat liburan musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami sampai ke depan gerbang tiket stasiun, dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan di jalan yang sedikit miring, Komachi tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh oh! A-Astaga! Aku beneran lupa beli jimat keberuntungan! Malunya! Aku malah lupa nulis sesuatu di lembaran kayu juga, jadi aku akan lari ke sana cepat-cepat! Jadi, Yukino-san, aku akan pergi sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, mungkin aku mau beli jimat juga,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian melihatku dengan mata setengah tertutup. “Onii-chan, ngomong apa sih kau? Oni-sampah bodoh! Nincompoop! Hachiman! Nggak papa, jadi kalian pulang duluan aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-Baiklah... Nggak, tunggu dulu. Hachiman bukanlah ejekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab balik, tapi kata-kataku tak sampai kepada Komachi karena ia sudah lari jauh. Ayolah, kau membuatku kikuk dengan beraksi secepat itu. Harus ngapain ya... Karena aku tak tahu harus bagaimana karena Komachi, aku akan menamakan fenomena ini, “Harus ngapaKomachi...” Oooohkawan, harus ngapaKomachi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dengan bertanya-tanyga apa yang harus kami lakukan dan bahunya pun bergetar dengan muka menghadap ke arah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?” Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita berdesah ringan dan mengatur nafasnya. Kemudian, seperti berbisik dengan mulutnya, ia berkata dengan suara lirih, “Bodoh, nincompoop, Hachiman...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kayaknya kosakata ejekannya udah ditambahin kata-kata baru...&#039;&#039; Aku memandangnya dengan tatapan ragu dan kaku, dan Yukinoshita mengalihkannya dengan membersihkan tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak papa. Aku cuma merasa kalian akrab sekali.” Ia mengatakannya sembari tersenyum lembut, dengan cepat menghadap ke depan, dan melewati gerbang tiket. Aku melakukan hal yang sama setelahnya dan naik tangga ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, tempat itu penuh dengan orang-orang. Kelihatannya saat ini adalah saat di mana jumlah orang yang ingin pulang ke rumah setelah kunjungan mereka paling banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menaiki kereta setelah kedatangannya dan tempat duduk pun dengan cepat terduduki seluruhnya, membuat kami harus berdiri tegap. Yah, hanya dua stasiun saja. Kami bisa saja kelelahan, tapi kami sepertinya bisa menahannya selama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kereta ini bergetar saat ia meninggalkan stasiun. Aku tersentak ke depan karena gerakannya dan dengan panik aku meraih sandaran gantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melakukannya, aku bisa merasakan ada yang menggenggam ujung jaketku. Aku melirik sejenak dan tangan yang putih, dan kecil itu menggenggam hemku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hal itu, aku menggenggam sandaran gantung lebih keras dengan tanganku dan menegakkan kakiku yang gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Getaran dari kereta yang meluncur, angin yang mengetuk-ngetuk jendela, dan suara-suara dari para penumpang mengisi penuh keseluruhan kereta. Walaupun begitu, saat kereta ini berguncang, suara hembusan nafas berat dari kananku sampai ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Yah, sesak sekali, dan bergetar-getar. Nggak masalah.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tidak mengobrol satu sama lain meskipun kami sama-sama dekat, dan kedua mataku secara normal beralih-alih menuju iklan-iklan dan pengumuman-pengumuman di atas jendela.&lt;br /&gt;
Di antara itu, ada satu peta rute kereta. Keraguan dengan cepat kurasakan saat aku melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, kau nggak papa ke arah sini?” Aku menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak memandang ke mana-mana dan memiringkan kepalanya. “Jalan ke rumahku sepertinya sebentar lagi sampai, jadi aku rasa arah sini nggak papa aja...”&lt;br /&gt;
 (Gambar)&lt;br /&gt;
Ia menaruh tangannya ke bawah dagunya sembari berkata hal tersebut dan memeriksa peta rutenya pula. Tak terlalu yakin, huh? Yah, “arah” kan kata-kata ambigu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu, aku cuma merasa kalau ini kan Tahun Baru dan lain hal, aku bertanya-tanya ada apa sih dengan keluargamu atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, itu maksudnya... Aku nggak pulang ke rumah tahun ini. Aku nggak ada urusan apa-apa di sana, dan agak menyebalkan, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu detil pasti dari hubungan Yukinoshita dan keluarganya. Aku membalasnya, tak yakin seberapa jauh aku bisa berkata-kata dan menanyakannya tentang hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya kegelisahan tergambar di mukaku, karena Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. “Nggak terlalu penting kok. Mereka banyak yang harus dilakukan saat Tahun Baru, juga. Kalau aku pulang, akan ada perasaan nggak nyaman dari kami berdua, jadi aku cuma mengelak dari hubungan yang nggak diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga,” kata Yukinoshita, melanjutkannya. “Nggak ada banyak perbedaan walaupun aku di sana.” Ia melihat ke luar jendela, memandangi pemandangan yang secara beruntun berganti-ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan masalah kalau gitu, ya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresinya saat kepalanya berputar ke arahku ada sedikit keterkejutan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau nggak ada bedanya kalau kau di sana, jadinya buatmu malah lebih gampang. Kau juga nggak usah khawatir jadi gangguan buat siapapun. Lagipula, di dunia ini, ada orang-orang yang menghancurkan suasana cuma dengan berada di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu tadi barusan mengenalkan dirimu?” Yukinoshita tertawa kecil, menunjukkan senyum usilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ya benar. Makanya, sampai hari ini, aku sudah mengatur-atur diriku sebisa mungkin. Situasi tetap damai karena kepedulian hebatku, jadi aku mau ada sedikit penghargaan di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepedulian bukan sesuatu yang bisa dimintai hadiah karenanya, tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk akal. Tch, sekarang hal itu tersangkut di pikiranku. Kepedulian, nggak perlu, dimintai hadiah karenanya. Tapi meski tak ada hadiahnya karena peduli, ada timbal baliknya malah, huh? Nggak adil sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, kereta ini berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stasiun ini adalah tempatku berhenti. Yukinoshita nantinya turun di stasiun berikutnya dan kemudian naik bus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ini tempatku turun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berbicara sejenak dan aku turun ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik untuk mengatakannya “hati-hati pulangnya” dan secepat itu pula pintu kereta itu tertutup setelahnya. Menghadapkan mukanya ke bawah, Yukinoshita mengatakan dengan suara lirih bagai sedang berbisik, “...Aku akan bekerja sama denganmu tahun ini juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Chapter 1-End--&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454610</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=454610"/>
		<updated>2015-07-30T08:04:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bagi siapa yang ingin mengoreksi atau menambahkan dan diskusi, silahkan e-mail penerjemah dengan alamat fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau PM facebook Fathoni Burhan. Setiap bantuan anda saya sangat harapkan dan saya apresiasi.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunjuk Yuigahama dan ia sedang mengamati sekitar dengan gelisah selagi menelpon dengan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, betul. Ya, setapak batu, kayaknya? Itu tempat kami sekarang. Oh, kamu sudah kelihatan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yui lagi di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang datang ke sini dengan hape di sebelah tangannya adalah Miura Yumiko. Meski dalam kerumunan orang, kerah bulunya yang megah dan kaki mulusnya yang mencuat dari rok mininya kelihatan mencolok meskipun kau tak menyukainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian, dari belakangnya ada Ebina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yui, Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru buat Yukinoshita-san dan kalian juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak seperti Miura tadi. Ebina-san menyapa kami. &#039;&#039;Dia emang bener-bener baik&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Lama nggak jumpa! Selamat Tahun Baru!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lama nggak lihat kamu dari musim panas kemarin, adek kecil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membalas sapaan Ebina-san yang sedang mengobrol dengan Komachi selagi melihat ke arah cewek-cewek yang mengobrol dengan akrabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Miura dan mereka, huh…” Aku bergumam setelah menyadari siapa yang mengobrol dengan Yuigahama di hapenya. Dia berbalik dan mengangguk, mendengar gumamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, datang dari belakang kami ada beberapa lagi muka-muka yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada si pirang dan tukang ngobrol Tobe, kepala tipis dan orang tak tegas Yamato, dan perawan pencari kesempatan Ooka. Itu adalah Kru Baru – Three for the Kill! trio. Tapi sebenarnya, rambut Tobe itu malah ke coklat daripada pirang… Hal itu tak penting sekali sampai aku tak pernah peduli dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiganya bersesakan di suatu tempat yang tak jauh dari kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membuat suara berisik sekali dengan masing-masing satu gelas kertas di sebelah tangannya. Kelihatannya mereka meminum amazake. Tobe menggenggam gelasnya dan meminum semuanya sekali teguk dengan desahan yang seperti erangan setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sake beneran sesuatu banget deh. Minuman pertama tahun ini, minuman pertama tahun ini. Serius, loe harus minum lagi dan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya,” kata Yamato seperti sedang menggodanya. Ia meminum segelas penuh dan mengeluarkan desahan puas. Ya, itu, cuma amazake sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beeh, gue beneran mabuk ni, serius. Bikin gue yang dingin jadi hanget sekarang. Tapi yo, bukannya dingin banget? Maraton bakal bener-bener nggak lancar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ya, pastinya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yamato dan Ooka merespon, aku mengangguk dalam hati. Karena ada sesuatu dan lain hal di kalender, maraton tahun ini akan dilakukan pada akhir Januari bukannya seperti biasa pada bulan Februari setiap tahun. Kami harus lari mengikuti garis pantai di tengah musim ini yang membuatnya jadi lebih dingin lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Cara asem yang bikin aku ingat sesuatu yang buruk banget secepat awal Tahun Baru.&#039;&#039; Aku memberikan tatapan pahit pada trio idiot Tobe, Yamato dan Ooka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tri idiot Tobe grup dan pasangan Miura bersama Ebina-san adalah sosok-sosok akrab di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di barisan orang-orang itu, ada satu sosok yang merupakan inti dari kedua grup itu yang sekarang tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma mereka...?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama mundur selangkah dan berdiri di sebelahku setelah mendengar perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa mereka udah minta Hayato-kun datang, tapi kayaknya lagi nggak pas waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa kubayangkan.” Yukinoshita menjawabnya dengan anggukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya mengejutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dan Yuigahama, Miura dan Ebina-san pun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kamu tahu sesuatu?” Yuigahama bertanya, setelah mendapati betapa yakinnya suara Yukinoshita terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarga Hayama-kun sudah seperti itu sejak lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohhh, jadi begitu.” Yuigahama mengangguk percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, Yukinoshita selalu akrab dengan Hayama. Lebih jelasnya, teman masa kecil, jadi tak seaneh itu kalau dia tahu bagaimana keadaan keluargaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau nggak bilang apa-apa.” Aku menjawabnya dengan sedikit acuh selagi menyadari sekali lagi kalau aku tak benar-benar tahu tentang Yukinoshita atau Hayama. Bukan, maksudnya Yuigahama pun tak tahu sebanyak itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan selain Yuigahama dan aku, ada dua orang lain yang bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hmph, serius,” kata Miura dengan suara merendahkan, seperti meludahkannya, dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Yukinoshita. Ia berjalan beberapa langkah dari tempatnya tadi, memutar-mutar rambutnya dengan jarinya, dan mendesah bosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kayak, aku lapar.” Miura berkata dengan jelas dan berjalan-jalan tanpa menghiraukan sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Yumiko.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memanggil Miura yang sekarang berhenti dan memutar badannya. Tapi dia membisu dan memandang ke arah lain. Ebina-san tersenyum cepat setelah melihatnya seperti itu dan berjalan kearahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, waktunya makan, huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tobe dengan pendengaran tajamnya mendengar apa yang Ebina-san bilang dan mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yo, yo? Kita bakal makan? Kayak makanan pertama gue tahun ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ada orang kayak gitu, tahu? Cowok yang menambah kata “pertama” ke setiap omongan mereka pas Tahun Baru. Menyebalkan banget...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, ummm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama membandingkan grup Miura dan grup kami, bingung harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beneran nggak mau kesana dengan Miura dan mereka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um... Ng-Ngapain kalian habis ini?” kata Yuigahama, mengeluarkan tawa bingung “tahaha”.&lt;br /&gt;
Yukinoshita memandangnya dan tersenyum. “Aku harus pulang sekarang. Aku nggak terlalu suka sama kerumunan, lagipula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, tapi kan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan kebingungan dikeluarkan Yuigahama karena perkataan Yukinoshita. Yukinoshita  dengan lembut menyentuh bahunya, setelah menyadari kegelisahannya. “Kita bisa ketemu lagi sebentar lagi, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku nggak merasa itu bisa meyakinkannya, tapi Yuigahama menjawabnya dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, jelas tak menyenangkan kalau harus melihat Yuigahama kebingungan memilih antara Miura ataukah Yukinoshita sedini Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mungkin kami bisa ragu-ragu menyatakan kalau keinginan Yuigahama untuk lebih akrab lagi hanyalah salah satu caranya memberikan perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, teman dari teman yang bukan berarti teman juga adalah biasa di dunia ini yang selajur dengan membuat semua orang ada di satu tempat dan menghabiskan waktu bersama yang bukanlah hal terbaik yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak banyak bicara, tapi aku tahu apa yang ia lakukan dari kepeduliannya. Hal itu karena dasar dari sikap yang seperti itu adalah sesuatu yang aku terbiasa dengannya. Karena itu, aku tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, aku mau pulang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?” Yuigahama mengangkat kepalanya dengan muka terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hal seperti itu bukanlah hal yang mesti kita jadi terkejut olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami cuma datang buat ngunjungin kuil. Aku harus pastikan Komachi benar-benar belajar dirumah, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kurasa begitu... Baiklah.” Yuigahama mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, nggak usah khawatirkan aku, jadi pergi aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengibarkan bendera kematian atau bendera pertahanan atau bendera yang susah dimengerti, tapi aku mengabaikannya. Yang manapun, pilihan untuk mengikuti grup mereka tidaklah aku punya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, sampai ketemu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu di sekolah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Yukinoshita dan aku mengatakannya; Komachi menundukkan kepalanya karena menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oke, sampai jumpa lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami meninggalkan tempat di mana Yuigahama tetap di situ, dengan sedikit mengayunkan tangannya di depan dadanya. Yuigahama mungkin saja akan bergabung dengan grupnya Miura dan yang lainnya setelah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkaran pertemanan Yuigahama bukan hanya Klub Bantuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak yakin konsep dari “teman terbaik” itu memang ada dan siapa yang mendiktekannya, tapi aku yakin kalau suatu saat, akan ada hari di mana aku akan khawatir dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap semoga hal yang seperti itu tidak melelahkan pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==5==&lt;br /&gt;
Kami kembali ke jalan utama kuil tempat kami datang tadi, melewati gerbang batu, dan pergi ke samping Rute Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin yang membekukan tertiup dari Rute Nasional yang lebar itu. Badanku bergetar karena merespon dingin dan Komachi dan aku mengatur-atur kerah kami. Beda sendiri, Yukinosita tidak terlihat lemah terhadap dingin dan hanya mengatur syal di lehernya. Komachi menyentak lengan baju Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yukino-san, ayo kita pulang sama-sama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kayaknya begitu.” Yukinoshita terlihat agak ragu pertamanya, tapi kemudian ia menjawabnya dengan senyuman. Yah, sebenarnya tak benar-benar perlu untuk berpisah kalau arah kami pulang sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan yang terbentang dari sini ke stasiun adalah distrik perbelanjaan dan kerena kepadatan para pembeli di kunjungan kuil mereka, ada beberapa kedai kecil yang didirikan di sisi jalan, energi tumit-ke-tumit dengan bagian dalam kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dan Yukinoshita mengobrol tentang banyak hal seperti tes-tes dan hal yang mereka lakukan saat liburan musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami sampai ke depan gerbang tiket stasiun, dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan di jalan yang sedikit miring, Komachi tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh oh! A-Astaga! Aku beneran lupa beli jimat keberuntungan! Malunya! Aku malah lupa nulis sesuatu di lembaran kayu juga, jadi aku akan lari ke sana cepat-cepat! Jadi, Yukino-san, aku akan pergi sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, mungkin aku mau beli jimat juga,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kemudian melihatku dengan mata setengah tertutup. “Onii-chan, ngomong apa sih kau? Oni-sampah bodoh! Nincompoop! Hachiman! Nggak papa, jadi kalian pulang duluan aja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-Baiklah... Nggak, tunggu dulu. Hachiman bukanlah ejekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab balik, tapi kata-kataku tak sampai kepada Komachi karena ia sudah lari jauh. Ayolah, kau membuatku kikuk dengan beraksi secepat itu. Harus ngapain ya... Karena aku tak tahu harus bagaimana karena Komachi, aku akan menamakan fenomena ini, “Harus ngapaKomachi...” Oooohkawan, harus ngapaKomachi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang ke arah Yukinoshita dengan bertanya-tanyga apa yang harus kami lakukan dan bahunya pun bergetar dengan muka menghadap ke arah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa...?” Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita berdesah ringan dan mengatur nafasnya. Kemudian, seperti berbisik dengan mulutnya, ia berkata dengan suara lirih, “Bodoh, nincompoop, Hachiman...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kayaknya kosakata ejekannya udah ditambahin kata-kata baru...&#039;&#039; Aku memandangnya dengan tatapan ragu dan kaku, dan Yukinoshita mengalihkannya dengan membersihkan tenggorokannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak papa. Aku cuma merasa kalian akrab sekali.” Ia mengatakannya sembari tersenyum lembut, dengan cepat menghadap ke depan, dan melewati gerbang tiket. Aku melakukan hal yang sama setelahnya dan naik tangga ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa, tempat itu penuh dengan orang-orang. Kelihatannya saat ini adalah saat di mana jumlah orang yang ingin pulang ke rumah setelah kunjungan mereka paling banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menaiki kereta setelah kedatangannya dan tempat duduk pun dengan cepat terduduki seluruhnya, membuat kami harus berdiri tegap. Yah, hanya dua stasiun saja. Kami bisa saja kelelahan, tapi kami sepertinya bisa menahannya selama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kereta ini bergetar saat ia meninggalkan stasiun. Aku tersentak ke depan karena gerakannya dan dengan panik aku meraih sandaran gantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melakukannya, aku bisa merasakan ada yang menggenggam ujung jaketku. Aku melirik sejenak dan tangan yang putih, dan kecil itu menggenggam hemku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena hal itu, aku menggenggam sandaran gantung lebih keras dengan tanganku dan menegakkan kakiku yang gemetaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Getaran dari kereta yang meluncur, angin yang mengetuk-ngetuk jendela, dan suara-suara dari para penumpang mengisi penuh keseluruhan kereta. Walaupun begitu, saat kereta ini berguncang, suara hembusan nafas berat dari kananku sampai ke telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Yah, sesak sekali, dan bergetar-getar. Nggak masalah.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tidak mengobrol satu sama lain meskipun kami sama-sama dekat, dan kedua mataku secara normal beralih-alih menuju iklan-iklan dan pengumuman-pengumuman di atas jendela.&lt;br /&gt;
Di antara itu, ada satu peta rute kereta. Keraguan dengan cepat kurasakan saat aku melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, kau nggak papa ke arah sini?” Aku menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita tak memandang ke mana-mana dan memiringkan kepalanya. “Jalan ke rumahku sepertinya sebentar lagi sampai, jadi aku rasa arah sini nggak papa aja...”&lt;br /&gt;
 (Gambar)&lt;br /&gt;
Ia menaruh tangannya ke bawah dagunya sembari berkata hal tersebut dan memeriksa peta rutenya pula. Tak terlalu yakin, huh? Yah, “arah” kan kata-kata ambigu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu, aku cuma merasa kalau ini kan Tahun Baru dan lain hal, aku bertanya-tanya ada apa sih dengan keluargamu atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, itu maksudnya... Aku nggak pulang ke rumah tahun ini. Aku nggak ada urusan apa-apa di sana, dan agak menyebalkan, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu detil pasti dari hubungan Yukinoshita dan keluarganya. Aku membalasnya, tak yakin seberapa jauh aku bisa berkata-kata dan menanyakannya tentang hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya kegelisahan tergambar di mukaku, karena Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. “Nggak terlalu penting kok. Mereka banyak yang harus dilakukan saat Tahun Baru, juga. Kalau aku pulang, akan ada perasaan nggak nyaman dari kami berdua, jadi aku cuma mengelak dari hubungan yang nggak diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga,” kata Yukinoshita, melanjutkannya. “Nggak ada banyak perbedaan walaupun aku di sana.” Ia melihat ke luar jendela, memandangi pemandangan yang secara beruntun berganti-ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan masalah kalau gitu, ya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresinya saat kepalanya berputar ke arahku ada sedikit keterkejutan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau nggak ada bedanya kalau kau di sana, jadinya buatmu malah lebih gampang. Kau juga nggak usah khawatir jadi gangguan buat siapapun. Lagipula, di dunia ini, ada orang-orang yang menghancurkan suasana cuma dengan berada di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu tadi barusan mengenalkan dirimu?” Yukinoshita tertawa kecil, menunjukkan senyum usilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ya benar. Makanya, sampai hari ini, aku sudah mengatur-atur diriku sebisa mungkin. Situasi tetap damai karena kepedulian hebatku, jadi aku mau ada sedikit penghargaan di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepedulian bukan sesuatu yang bisa dimintai hadiah karenanya, tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk akal. Tch, sekarang hal itu tersangkut di pikiranku. Kepedulian, nggak perlu, dimintai hadiah karenanya. Tapi meski tak ada hadiahnya karena peduli, ada timbal baliknya malah, huh? Nggak adil sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, kereta ini berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stasiun ini adalah tempatku berhenti. Yukinoshita nantinya turun di stasiun berikutnya dan kemudian naik bus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, ini tempatku turun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berbicara sejenak dan aku turun ke luar gerbong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik untuk mengatakannya “hati-hati pulangnya” dan secepat itu pula pintu kereta itu tertutup setelahnya. Menghadapkan mukanya ke bawah, Yukinoshita mengatakan dengan suara lirih bagai sedang berbisik, “...Aku akan bekerja sama denganmu tahun ini juga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Rabu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia)&amp;diff=450442</id>
		<title>Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Rabu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia)&amp;diff=450442"/>
		<updated>2015-07-06T02:51:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* Penerjemah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{Status|Active}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:YahariLoveCom v0625 thumb cover.jpg|286px|thumb|Sampul Jilid 6,25]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (やはり俺の青春ラブコメはまちがっている。 Secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi &amp;quot;Sudah Kuduga, Kisah Komedi Romantis Remajaku Memang Salah Kaprah.&amp;quot;) yang juga dikenal dengan singkatan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Oregairu&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (俺ガイル), adalah sebuah seri Light Novel yang ditulis oleh &#039;&#039;&#039;Wataru Watari&#039;&#039;&#039; dan diilustrasikan oleh &#039;&#039;&#039;Ponkan8&#039;&#039;&#039;. Seri ini telah terbit sebanyak 10 Jilid dan telah diadaptasi ke dalam Anime dan Manga. Seri ini juga mendapat peringkat pertama pada &#039;&#039;&#039;&amp;quot;Kono Light Novel ga Sugoi! 2014&amp;quot;&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;&amp;quot;Kono Light Novel ga Sugoi! 2015&amp;quot;&#039;&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039; juga tersedia dalam bahasa:&lt;br /&gt;
:*[[My Youth Romantic Comedy Is Wrong As I Expected|English]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru ~Brazilian Portuguese~|Português Brasileiro (Brazilian Portuguese)]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari ore no seishun rabu kome wa machigatte iru PL|Polish]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru Español|Spanish]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru ~ Русский|Russian]]&lt;br /&gt;
==Sinopsis==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini bercerita mengenai kehidupan seorang penyendiri, Hachiman Hikigaya yang berpikiran pragmatis dan Yukino Yukinoshita yang berparas jelita. Keduanya mengenyampingkan perbedaan prinsip serta idealisme mereka demi membantu dan memberi saran pada orang lain sebagai bentuk kegiatan Klub Layanan Sosial. Kisah ini sedikit banyak menggambarkan berbagai kondisi sosial yang dihadapi para remaja di kehidupan SMA mereka, dimana keadaan psikologis ikut mengendalikan cara mereka berinteraksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Terjemahan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Format Standar===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Setiap Bab (sesudah disunting) harus mengikuti aturan format umum.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]] (Bahasa Inggris)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Yahari Ore no Seishun Robu Kome wa Machigatteru (Indonesia):Halaman Pendaftaran|Pendaftaran]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Penerjemah diminta untuk [[Yahari Ore no Seishun Robu Kome wa Machigatteru (Indonesia):Halaman Pendaftaran|mendaftarkan]] bab yang mereka kerjakan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Umpan Balik===&lt;br /&gt;
Jika kalian menyukai terjemahan ini, silakan beri komentar di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=67&amp;amp;t=5915 &#039;&#039;&#039;sini&#039;&#039;&#039;.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==update==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;26 Juli 2014&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Volume 1 bab 6 selesai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri &#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039; karya Wataru Watari==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v01 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 1|Bab 1: Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 2|Bab 2: Sampai Kapan pun, Yukino Yukinoshita Tetap Keras Kepala]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 3|Bab 3: Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 4|Bab 4: Meski Begitu, Kelas Berjalan Seperti Biasanya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 5|Bab 5: Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 6|Bab 6: Akan Tetapi, Saika Totsuka Mau Saja Menurut]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 7|Bab 7: Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Hal Baik]] (Bagian Akhir) &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/08/oregairu-jilid-1-bab-7.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 8|Bab 8: Kemudian, Hikigaya Hachiman berpikir]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/09/oregairu-jilid-1-bab-8.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Catatan Penulis|Catatan Penulis]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/09/oregairu-jilid-1-penutup.html#more　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v02 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Prolog|Prolog]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2015/01/oregairu-jilid-2-prolog.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Formulir Survei Tur Tempat Kerja Prospektif|Formulir Survei Tur Tempat Kerja Prospektif]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 1|Bab 1: Dan Jadi, Yuigahama Yui Memutuskan untuk Belajar]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 2|Bab 2: Hikigaya Komachi Pasti akan Menikahi Onii-channya Ketika Dia sudah Dewasa (Kurasa)]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 3|Bab 3: Hayama Hayato Selalu di Balik Semua Hal]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 4|Bab 4: Karena Berbagai Alasan, Kawasaki Saki Tidak Jujur]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 5|Bab 5: Hikigaya Hachiman Kembali ke Jalan yang Dijalaninya Sebelumnya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v03 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Prolog|Perseteruan Pedang Ganda dan Kemalangan sang Dunia Kebalikan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 1|Bab 1: Dan maka, Hiratsuka-sensei Mencetuskan Konflik Baru]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 2|Bab 2: Sudah Kuduga, Kisah Komedi Romantis Remajaku Bersama Totsuka Memang Tepat Sekali]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 3|Bab 3: Yukinoshita Yukino Memang Benar-Benar Mencintai Kucing]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 4|Bab 4: Hikigaya Komachi dengan Liciknya Membuat Rencananya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 5|Bab 5: Masih Sendiri dalam Hutan Rimba, Zaimokuza Yoshiteru Meratap]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 6|Bab 6: Awal si Pria dan si Wanita Akhirnya sudah Berakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v04 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Prolog|Resensi Buku]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 1|Bab 1: Dan Begitulah Cara Hikigaya Hachiman Menghabiskan Liburan Musim Panasnya (1/4)]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 2|Bab 2: Coba saja Semampumu, Kamu tidak akan Pernah Bisa Melarikan Diri dari Hiratsuka Shizuka]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 3|Bab 3: Hayama Hayato Memperhatikan Semua Orang]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 4|Bab 4: Tiba-tiba, Ebina Hina Memasuki Mode Mendakwah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 5|Bab 5: Sendirian, Yukinoshita Yukino Menatap ke Atas Langit Malam]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 6|Bab 6: Kebetulan, Hikigaya Hachiman tidak Ada Pakaian Renang]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 7|Bab 7: Pada Akhirnya, Tsurumi Rumi Memilih Jalannya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 8|Bab 8: Dan kemudian Mobil yang Yukinoshita Yukino Naiki Melaju Pergi]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v05 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 1|Bab 1 : Tiba - tiba, kedamaian di rumah Hikigaya dihancurkan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 2|Bab 2 : Seperti biasa, nama &amp;lt;b&amp;gt;Kawasaki Saki&amp;lt;/b&amp;gt; tidak bisa diingat]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v6-000b.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 1|bab 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 2|bab 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 9|bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 10|bab 10]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari 06-5.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6.5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.25 Ilustrasi|Special 6.25 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.5 Ilustrasi|Special 6.50 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.75 Ilustrasi|Spesial 6.75 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : Bonus Track|Bonus Track]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v07 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 1|Bab 1: Meskipun Begitu, Hikigaya Hachiman akan Menghabiskan Masa Sekolahnya dengan Damai]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 2|Bab 2: Tidak Ada Yang Tahu Mengapa Mereka Datang ke Klub Servis]] (Belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 3|Bab 3: Tobe Kakeru Benar-benar Rendahan di Semua Hal]] (Belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 4|Bab 4: Setelah Dipikir-pikir, Ebina Hina Masih Busuk? (0% Tersunting)]]  &lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 5|Bab 5: Seperti yang Dapat Kalian Lihat, Yuigahama Yui sedang Berusaha Keras]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 6|Bab 6: Yukinoshita Yukino Diam-Diam Pergi ke Kota di Sore Hari]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 7|Bab 7: Tak Terduganya, Miura Yumiko sedang Mengawasi dengan Sangat Dekat]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 8|Bab 8: Meskipun Begitu, Hayama Hayato Tidak Memilih demi Dirinya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 9|Bab 9: Pernyataan Cinta si Pria dan si Wanita Tidak akan Mencapai Siapapun]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom_v075_Back.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7.5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7.5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 1|Cerpen 1: Sudah Kuduga, Selera Masakan Rumah Hikigaya Hachiman memang Salah Kaprah.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.A. Side-A|Bagian-A * Babak Spesial A: Bahkan Kita harus Mendoakan bahwa Masa Depan yang Dituju para Laki-laki dan Perempuan itu Penuh dengan Kebahagiaan.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 2|Cerpen 2: Tentu saja, Kebaikan Hikigaya Hachiman itu Aneh.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 Bonus Track|Trek Bonus: Taktik-taktik Hikigaya Komachi]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 3|Cerpen 3: Mengejutkannya, Cara Belajar Hikigaya Hachiman tidak Salah.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.A. Side-B|Bagian-B * Babak Spesial B: Sekarangpun, Mereka masih tidak Tahu Tempat Pulang Mereka yang Seharusnya.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 4|Cerpen 4: Meski begitu, Pemikiran Positif Hikigaya Hachiman itu Aneh.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v08 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 1|Bab 1 : Tidak perlu dikatakan bahkan Hikigaya Komachi pun bisa marah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 2|Bab 2 : Karena suatu alasan, Isshiki Iroha berbau bahaya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 9|bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari9-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9=== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 0|Bab 0 : Meskipun demikian, Ruangan itu Terus Bersandiwara Tanpa Henti Setiap Hari]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 1|Bab 1 : Lagi, Isshiki Iroha Mengetuk Pintunya]] &lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 2|Bab 2 : Tanpa Masalah, Kongresnya Menari, namun Tidak Ada Kemajuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 3|Bab 3 : Berulang Kali, Hikigaya Hachiman Menanyai Dirinya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 4|Bab 4 : Itulah Mengapa, Totsuka Saika Merasa Terkagum]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 5|Bab 5 : Masa Depan itu yang Diharapkan Hiratsuka Shizuka]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 6|Bab 6 : Meski begitu, Hikigaya Hachiman]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 7|Bab 7 : Suatu Hari, Yuigahama Yui akan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 8|Bab 8 : Dan kemudian, Yukinoshita Yukino]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 9|Bab 9 : Tentu saja, Isshiki Iroha Mengambil Satu Langkah ke Depan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 10|Bab 10 : Apa yang Diterangi Cahaya di Telapak Mereka Masing-Masing adalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari10-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 First Memorandum|Memorandum Pertama: Mungkin, Ini bukan Monolog siapapun]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1|Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 2|Bab 2 : Seperti Biasa, Yukinoshita Haruno Membuat Masalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 3|Bab 3 : Entah Kapan, Isshiki Iroha Merasa seperti di Rumahnya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 4|Bab 4 : Meski begitu, Miura Yumiko merasa Dia Ingin Tahu]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 5|Bab 5 : Sampai Hari itu tiba, Totsuka Saika akan Tetap Menunggu]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 6|Bab 6 : Dengan Gagahnya, Yukinoshita Haruno Mengusir Pergi Waktunya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Second Memorandum|Memorandum Kedua ː Atau, Bisa jadi ini monolog seseorang]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 7|Bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 8|Bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Third Memorandum|Memorandum Ketiga : Kalau begitu, Tepatnya monolog siapa ini?]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 9|Bab 9 : Namun, Yukinoshita Haruno menyatakan seperti itu]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari10.5-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10.5 ([[Oregairu ~ Bahasa Indonesia:Jilid 10.5|Teks Utuh]])===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 1|Bab 1 : Suatu Hari nanti, bahkan Zaimokuza Yoshiteru akan dapat Menemukan Suatu Pekerjaan Mudah yang bisa Dilakukannya , Mungkin]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 2|Bab 2 : Pasti, Isshiki Iroha terbuat dari Gula, rempah-rempah, dan sesuatu yang menyenangkan ]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 3|Bab 3 : Ada tenggang waktu mutlak yang tidak boleh dilewatkan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 4|Bab 4 : Jadi, malam di rumah Hikigaya berlangsung]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari11-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 2|Bab 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 4|Bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 5|Bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 6|Bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 7|Bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 8|Bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 9|Bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staff Proyek==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
:*[[user:Irant Silvstar|Irant Silvstar]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:Dwiki_prayoga|Dwiki Prayoga]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[User:Fathom|Fathom]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[User:blank|blank]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Tidak Aktif/Mati Saat Bertugas&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
:*[[User:MEsato Ariq|MEsato Ariq]] [http://kiminovel.blogspot.com @KimiNovel]&lt;br /&gt;
:*[[User:Cucundoweh|Cucundoweh]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Sky flame|Sky flame]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Maddox|Maddox]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Derryindera|Derryindera]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Fronttide|Fronttide]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Meyrinchann|Meyrinchann]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Truthlie|Truthlie]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Kurogamii|Kurogamii]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Annas|Annas]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Sannou|Sannou]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua Penerjemah yang dapat berbahasa Inggris-Indonesia, Jepang-Indonesia kami persilakan.&lt;br /&gt;
dimohon penerjemah mempunyai CP (contact person)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
Semua penyunting yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar kami persilakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ikhtisar Seri Buku==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 1 (23 Maret 2011, tanggal terbit yang asli adalah 18 Maret, mundur karena gempa di Jepang) - ISBN 978-4-09-451262-5&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 2 (25 Juli 2011) - ISBN 978-4-09-451286-1&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 3 (23 November 2011) - ISBN 978-4-09-451304-2&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 4 (21 Maret 2012) - ISBN 978-4-09-451332-5 &lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 5 (23 Juli 2012) - ISBN 978-4-09-451356-1&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 6 (20 November 2012) - ISBN 978-4-09-451380-6&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 7 (19 Maret 2013) - ISBN 978-4-09-451402-5&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 8 (19 November 2013) - ISBN 978-4-09-451451-3&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 9 (18 April 2014) - ISBN 978-4-09-451482-7&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 10 (17 November 2014) - ISBN 978-4-09-451523-7			&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Fathom&amp;diff=450441</id>
		<title>User:Fathom</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Fathom&amp;diff=450441"/>
		<updated>2015-07-06T02:48:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Mottoku : Menerjemahkan teks berbahasa asing mendekati Bahasa Indonesia sedekat mungkin, walau akan mengubah isi teks asli dan nuansanya pun berubah. Hal ini bertujuan agar para pembaca Indonesia dapat dengan nyaman membacanya tanpa harus mengerenyitkan mata karena tidak paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CP : fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau Facebook Fathoni Burhan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450440</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450440"/>
		<updated>2015-07-06T02:47:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bagi siapa yang ingin mengoreksi atau menambahkan dan diskusi, silahkan e-mail penerjemah dengan alamat fathoninooneknows at yahoo dot co dot id atau PM facebook Fathoni Burhan. Setiap bantuan anda saya sangat harapkan dan saya apresiasi.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(74.4%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450439</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450439"/>
		<updated>2015-07-06T02:43:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 3 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya...&#039;&#039; Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memberikan persembahan kepada kuil, kami akhirnya bisa lepas dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati halaman yang luas ini dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan perawat dimana-mana. Bercanda kok, tak ada perawat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menemukan sesuatu di halaman kuil, Yuigahama meneriakkan suaranya “Oh, cabutan keberuntungan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau begitu ayo ambil beberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengantri dan bergantian mencabut cabutan keberuntungan. Kami mengguncang-guncang sebuah kotak segi enam yang terisi dengan stik-stik. Aku memberitahu gadis kuil berapa jumlah stik yang keluar dan mengambil cabutan keberuntunganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untung kecil...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aneh sekali...&#039;&#039; Meski begitu, karena cuma membayar 100 yen, walau tak dapat sesuatu yang mencengangkan, aku harus menerimanya. Aku melihat-lihat daftar cabutan dan setiap isi cabutan itu aneh-aneh. Seberapa anehkah? Seaneh seperti tentang kesehatanmu, “hati-hati dengan gejala-gejala penyakit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bingung apa aku harus mengikatnya atau tidak karena aku tak bisa bilang ini cabutan yang sial dan kemudian Yukinoshita, yang berada disebelahku, dengan santai memperlihatkanku apa yang dia dapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Untung bagus.” Yukinoshita memperlihatkan senyuman kemenangannya dan mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu, apa untung kecil sebegitu bagusnya daripada untung kecil? Bagaimanapun, tidak semencengangkan itu karena itu memang normal, tahu? Tapi yah, kalau Yukinoshita sangat gembira dengan hal seperti itu, aku rasa itu merupakan cabutan yang hoki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ingin menang terus, ya...&#039;&#039; Aku berpikir seperti itu. Kemudian, yang seseorang yang ber”ehehe”, Yuigahama menunjukkan cabutannya pada kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat yang untung besar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Baguslah. Aku juga ikut senang,” kata Yukinoshita, dengan mata yang dengan jelas membara. &#039;&#039;Bakal baik aja nggak dia...? Cewek ini nggak akan berhenti bayar sampai dapat untung besar, ya?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menonton mereka terpaku, yang muncul dari bayangan Yukinoshita adalah Komachi dengan ekspresi kaku dan muram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dapat sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengambil tes menjadi siswi dapat sial... Yuigahama yang tadinya tersenyum dengan riangnya, dan Yukinoshita, yang sudah terbakar amarah pertarungan, kehilangan kata-kata. &#039;&#039;Moodnya jadi bikin depresi banget nih...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshitapun berdehem untuk meredakan situasi dan dengan lembutnya menepuk-nepuk kedua bahu Komachi. “Nggak papa, Komachi-san. Sudah ada orang sesat ini di keluargamu saat ini, jadi hal kayak gini bukan masalah besar sebesar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya caramu menyemangati...? Yah, begini, Komachi. Jangan biarkan cabutan itu mengganggu kamu keseringan. Seminggu lagi, kau bakal lupa sama yang kamu cabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bilang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya kayak untung besarku nggak terasa menakjubkan lagi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita dan Yuigahama mengeluarkan ekspresi kebingungan setelah melihat cabutan mereka. Aneh... Bukannya berusaha keras untuk menyemangati adik kecilku, mereka malah membuat moodnya makin bikin depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada saat itulah. Yuigahama menepuk kedua tangannya karena sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tahu. Sini, kita tukeran,” kata Yuigahama, dan dia menjulurkan cabutannya kepada Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, kamu yakin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bingung apa dia akan mengambilnya walau diberi dengan senyuman, Komachi memandang kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, ni kan jimat keberuntungan. Jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini adalah cabutan keberuntungan untung besar dari Yuigahama yang, entah gimana, ajaibnya bisa lolos tes masuk sekolah kami. Mungkin ada sedikit berkah didalamnya. Malah bisa saja kita membelokkan takdir atau menentang hukum fisika dengan benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih banyak... Aku akan berusaha sekuat tenaga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh huh. Kalau kau jadi adik kelasku, aku akan ikut senang juga,” kata Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memberikan cabutannya kepada Komachi dan iapun, mengambil cabutan sialnya. Yukinoshita yang sedang menonton mereka meletakkan tangannya dibawah dagunya dan berpikir tentang sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuigahama-san, nggak masalah kalau aku pinjam cabutanmu sebentar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Nggak papa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita mengambil cabutan Yuigahama dan mengikatnya miliknya bersama dengan milik Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kita bisa meratakannya kayak gini dan kita berdua dapat untung kecil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rumus sih apa yang kau pakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan sial dan untung bagus, bagi dua, dan kalikan dua? Perhitungannya dalam bentuk sains sedangkan konsepnya dalam bentuk sosial. Apa ini semacam iseng-iseng baru dalam mencampurkan sains dan sosial, aku tanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi sekarang kita saling cocok,” kata Yuigahama, dengan riangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan ini, cabutan kita seimbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tujuannya dari tadi!?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan cara berantakan itu untuk selesaikan masalah kayak yang bakal kau lakukan pas ada pendidikan bebas tekanan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibaratnya seperti menyuruh semua orang saat festival seni sekolah berbaju Momotarou, saling pegangan tangan, dan memotong pita sama-sama.&lt;br /&gt;
“Bercanda,” kata Yukinoshita, dan tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi dengan semangat memasukkan cabutan keberuntungan dia dapat ke kantong sakunya dan menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah beres kunjungannya dan juga cabutannya, kita mau ngapain lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita pergi ke kedai-kedai sekitar sini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yuigahama menyarankan hal itu, yang sudah siap pergi ke kedai-kedai sejak awal kami berjalan-jalan di halaman kuil, Yukinoshita mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan setapak kuil ini juga merupakan jalur pulang, lagipula. Aku tak keberatan dengan itu. Bukan berarti aku bisa memprotesnya, karena mereka bertiga mulai berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami kembali dari jalan kami datang, macam-macam kedai makanan pun terlihat. Selain kedai biasa yaitu kedai okonomiyaki dan takoyaki, ada juga kedai amazake, yang juga sesuai dengan musimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara barisan kedai makanan terdapat mesin mainan. Aku melihatnya sembari bertanya-tanya apakah kedai yang biasanya kau lihat saat festival musim panas bisa-bisanya ada saat musim dingin dan aku mendengar suara megap-megap disebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ada mesin mainan disini saat Tahun Baru...?” Yukinoshita memandangnya terpaku ke galeri seakan-akan berkata “...anehnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, memang aneh, tapi nanti anak-anak datang, jadi bukannya normal-normal aja kalau kedai ini ada karena ini waktu yang pas buat cari duit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak masuk akal... Kenapa itu ada di sini...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Yukinoshita tetap saja memandang mesin mainan itu, yang kelihatannya sama sekali tak mendengarkan apa yang aku bilang. Dan yang ada dimesin itu, adalah semacam Pan-san sang Panda disana. &#039;&#039;Ah, jadi itu kenapa kau memandanginya...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mau mampir sebentar di mesin mainan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, bukan—“ kata Yukinoshita, dengan gelisah. &#039;&#039;Oh, dia jelas banget mau ambil benda itu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terus menerus memandangi benda mirip-Pan-san sembari bergumam. Kelihatannya dia nggak akan pergi sampai dia memenangi benda itu. &#039;&#039;Gimana ya, aku nggak terlalu PD bakal menang, tapi kayaknya aku coba aja deh...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengamati keadaan dompetku, Yuigahama mengeluarkan suara yang lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian menyentak lengan bajuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa sih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm,” kata Yuigahama, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Kelihatannya ia ingin aku menunduk sebentar. Aku mengikuti isyaratnya dengan sedikit menundukkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan mukanya kearah telingaku supaya bisa berbicara secara rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada keadaan yang seperti ini jelas membuat posisi kami semakin dekat. Ini bukan sesuatu yang bisa membuatku terkejut saat ini, jadi aku tak perlu terlalu berlebihan tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, dengan bau jeruk yang menyeruak menggelitiki hidungku, dan pipi yang sedikit merah yang tak terlindung dari angin musim dingin yang mendekatiku tanpa kusadari, aku merasa sulit bertatapan muka dengannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengambil nafas yang dalam, dan tenang, aku menyuruh Yuigahama untuk mengatakannya dengan tatapanku dan Yuigahama mengeluarkan desahan yang kecil, benar-benar kecil. Dia kemudian mulai berbicara dengan berbisik-bisik di dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, gimana rencana kita belanja hadiahnya Yukinon?” tanya Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, ahhh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memikirkannya sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Yukinoshita akan datang sebentar lagi. Pada saat yang lalu saat Natal, saat kami ada kesempatan, kami buat janji untuk beli hadiah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah, aku sama sekali tak lupa. Hanya saja aku sudah jungkir balik otakku tentang apa yang harus aku lakukan. Kapan, dimana, dengan siapa, apa, dan gimana aku membelinya, sial, sialnya kenapa aku malah membicarakannya? Aku sudah pikir dari 5W1H. Maksudnya, benar-benar susah jadi yang mengundang. Dan aku buruk sekali kalau tentang kencan. Memang sulit menentukan semuanya sendiri karena bisa jadi pihak lain malah terganggu. Tapi malah menanyai mereka dan membuat mereka yang menentukannya membuat aku tak nyaman juga. Apaan sih kehidupan tak tegas yang tak pernah berakhir ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku menghargai fakta bahwa ia adalah pihak yang mulai bicarakan itu. Kalau aku menundanya lama-lama, aku punya firasat kalau aku bakal punya terlalu banyak pikiran daripada yang aku perlukan dan hampir-hampir berteriak “Hachika pengen pulang!”, jadi aku langsung saja menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau gitu, besok bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-ya. Seharusnya.” Yuigahama terlihat terkejut dan memainkan buntalan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu, baik, besok ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya...” Yuigahama menjawabnya dan kemudian terdiam, akupun begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sana, Komachi datang kesini dan menyentak lengan bajuku. “Onii-chan, Yukino-san kelihatannya nggak bakal gerak dari sana...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama merengutkan mukanya dan bicara dengan Komachi. “Ah, Komachi-chan, mau pergi juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh? Kemana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, gini, aku ada rencana pergi bareng Hikki besok buat beli hadiah ultah Yukinon, jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kayaknya bagus!” kata Komachi, dan dia kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut. Kemudian, ia membuat senyuman tak lazim. “...Lalu kelihatannya, aku bener-bener sangat sibuk belajar untuk tes-tes, tahu kan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu betul...” Yuigahama mengangguk. Kelihatannya ia masih ingat tadi saat ia memberi Komachi cabutan keberuntungannya dan kalau dianya masih belajar buat menghadapi tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi setelah mengeluh beberapa saat, mukanya merengut dan ia memegang tangan Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi, hey, anggap aja kayak lagi istirahat! Lagipula, aku bertaruh kalau kamu kasih Yukinon hadiah, dia akan seneng banget, Komachi-chan! A-Aku juga mau minta pendapat juga! Atau apa gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? B-Bisa, aku rasa...... Hmm?” Komachi menjawabnya dan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Ia memandang ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini juga boleh, Komachi. Seharusnya bukan masalah,” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Apaan sih kemunduran ini...? Kalian berdua pergi sama-sama pas musim panas juga...” Komachi mengomel dengan suara lirih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yah, gini, banyak hal terjadi. Kayak, gimana ya, kami punya masalah menentukan gimana harus bersikap satu sama lain...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, Kalau buat itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi kelihatan bingung saat dia menjawab, tapi Yuigahama mengangguk senang dan mengeluarkan hapenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kita jadi ya! Aku nanti kirim kamu pesan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hape Yuigahama kemudian bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bentar,” kata Yuigahama, dan ia mengambil jarak dari kami dan menjawab telponnya. Aku memandang mengikutinya dan kelihatannya ia sedang menelpon teman dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi menanyakan “Siapa sih?” kelihatannya agak tak sopan. Aku tak bisa menanyakannya juga karena itu akan membuat aku merasa sedang berlagak seolah aku orang yang cukup penting untuk menanyakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai Yuigahama selesai dengan hapenya, kami tak bisa lanjut kemana-mana. Kelihatannya kami cuma bisa tunggu dia disini. Pilihan yang manapun, selama Yukinoshita terpaku karena mesin mainan itu, kami toh tak akan pergi kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memikirkan hal itu, aku memandang ke arah tempat mesin itu dan bahu Yukinoshita merendah dan iapun berjalan kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa? Selesai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memanggilnya dan dengan muka yang sedih, Yukinoshita bergumam. “Ya, selesai sudah. Yang kayak gitu cuma...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik mesin mainan di sana sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat ke arah boneka yang Yukinoshita sudah terpaku olehnya selama ini dan itu bukanlah Pan-san sang Panda, tapi Panda Ichiro-san sang Panda. Yah, kau biasanya dapat yang seperti itu saat festival yang seperti ini. Bukannya Natchan, mereka malah punya Occhan, bukannya Adidas, mereka malah punya Kazides.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi yang melihat ke arah kedai yang sama mengangguk sepakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, benda-benda KW, kan?” kata Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menaruh tangannya ke bawah dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Mirip kayak satu orang yang aku tahu di sekitar sini. Aku rasa nama belakangnya itu Hi, Hiki…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um? Kau nggak menyatakan kalau itu aku, kan? Lagi pula, namaku itu begitulah, tapi kau bisa-bisanya nggak ingat nama keluargaku?” kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita merapikan rambutnya dari bahunya dan terlihat sedih. “Nggak sopan, pastilah aku ingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun sebenarnya itu kau yang nggak sopan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting lagi, di mana Yuigahama-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi kita cukup dengan namaku gitu aja?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi nelpon di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(74.4%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450438</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450438"/>
		<updated>2015-07-06T02:33:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 3 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikrar janji di sebuah altar didepan banyak orang malah menimbulkan rasa yang hebat.&lt;br /&gt;
Akupun mengikuti mereka, dengan melakukan adat tersebut dan menepuk kedua belah tanganku.&lt;br /&gt;
Harapan... atau sesuatu kayak bikin sumpah setia, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik kesamping ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita terdiam dengan matanya yang tertutup, dan mengeluarkan nafas ringan. Yuigahama mengeluhkan “mmmm!” selagi mengerutkan alisnya. Apa-apa saja yang mereka berdua harapkan dan sumpah setia mereka, aku tak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun melakukan hal yang sama, menutup mataku. Aku tidak punya harapan yang benar-benar merupakan harapan, tapi aku mau ada hal-hal yang aku bisa selesaikan sesuai dengan usahaku tanpa berharap pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau sekarang, aku harap Komachi bisa lulus tesnya... Karena memang benar, cuma ini hal yang aku tidak bisa lakukan apa-apa terhadapnya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450040</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450040"/>
		<updated>2015-07-03T06:49:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 3 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Komachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
(50.3%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450039</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450039"/>
		<updated>2015-07-03T06:46:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 3 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Koachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
(50.3%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450038</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450038"/>
		<updated>2015-07-03T06:46:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 3 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Koachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:YahariLoveRom-v9-097.png]]&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
(50.3%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450037</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450037"/>
		<updated>2015-07-03T06:45:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 2-4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 2: Tanpa Masalah, Kongresnya Menari&amp;lt;ref&amp;gt; [http://en.wikipedia.org/wiki/Der_Kongre%C3%9F_tanzt Kongresnya Menari (The Congress Dances)] &amp;lt;/ref&amp;gt;, namun Tidak Ada Kemajuan==&lt;br /&gt;
===2-1===&lt;br /&gt;
Pusat komunitas dimana Isshiki dan aku akan bertemu itu lumayan dekat dengan sekolah kami. Tidak memakan lebih dari beberapa menit untuk sampai ke sana menaiki sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku masih belum pernah menginjakkan kaki di pusat komunitas itu. Tapi karena aku cenderung lumayan sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hariku, aku tidak ada masalah dalam menemukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persis di samping stasiun itu terdapat pusat bisnis besar MARINPIA (aka: MariPin). Ketika hari sudah sore, pemandangan banyak ibu-ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar akan menonjol. Dan di antara mereka terdapat para murid. Berkat MarinPin didirikan di area tersebut, itu merupakan tempat yang cocok bagi murid SMA untuk mampir dan bersenang-senang sewaktu mereka akan pulang ke rumah. Sama seperti mereka&amp;lt;!--in the same way--&amp;gt;, aku akan kadang-kadang mampir ke toko buku, &#039;&#039;arcade&#039;&#039;, dan bahkan tempat baseball dalam ruang&amp;lt;ref&amp;gt; Tempat itu ada mesin bola baseball yang akan menembakkan bola pada si pemain untuk dipukulnya. [http://en.wikipedia.org/wiki/Batting_cage Batting Centre] &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku sampai ke pusat komunitas itu, aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang sekeliling tempat itu sekilas dengan gelisah, tapi Isshiki tidak terlihat dimanapun. Yah, itu tidak seperti kami ada menentukan waktu pasti kapan kami akan bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ini akan terjadi, mungkin kami seharusnya datang bersama dari awal…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada cara selain untuk bertemu di luar sekolah untuk menjaga fakta bahwa aku sedang membantu Isshiki sendirian agar tidak sampai ke Yukinoshita dan Yuigahama. Untuk menerima suatu permintaan yang berkaitan dengan OSIS sekarang ini di depan Yukinoshita itu suatu hal yang kejam untuk dilakukan. Meskipun demikian, itu akan tidak bertanggung-jawab untuk menolak permintaan Isshiki mentah-mentah. Ada juga pilihan untuk mengecualikan Yukinoshita, tapi itu terasa seperti suatu pengkhianatan yang buruk sekali. Mempertimbangkan bagaimana keadaan Klub Servis pada saat ini, memilih untuk menerima permintaan ini secara pribadi &amp;lt;!--as a personal favor--&amp;gt;seharusnya merupakan pilihan yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kembali kesimpulan dalam kepalaku itu dan duduk di undakan tangga di dekat pintu masuk pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk disana termenung-menung dan yang datang dari toko swalayan di seberang adalah Isshiki. Di tangannya terdapat kantong plastik yang terlihat berat. Setelah menyadari keberadaanku, dia berlari kecil ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaafkan aku untuk membuatmu menunggu. Aku harus pergi berbelanja sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu helaan seakan kantong plastik toko swalayan itu berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak, tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menjawabnya, aku berpaling ke arah Isshiki dan mengulurkan tanganku. Ketika aku melakukannya, untuk beberapa alasan, Isshiki dengan lembut mengelak tanganku dan terus melihat ke arahku. Dia memiringkan kepalanya merasa tidak yakin akan arti di balik tindakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan tampang jengkelmu itu? Bukankah barusan tadi itu pesonamu untuk membuatku mengambilkan kantongnya untukmu karena itu berat”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, Isshiki menggosok rambutnya dan dengan lembut mengalihkan pandangannya dariku. Wajahnya sedikit merona seakan dia merasa kaget atau bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa… Aah, tidak, aku hanya sedang bertingkah seperti diriku tadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itu benar, huh? Bagi dirinya, dia cenderung untuk memandang para lelaki hanya sebagai pekerja jadi aku berakhir berpikir itu adalah jenis pesona yang sedang dilakukannya. Lihat, itu persis seperti bagaimana Tobe dengan alamiah menjadi si pria suruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mematung untuk sejenak, tapi dia tiba-tiba siap siaga setelah mendadak menyadari sesuatu&amp;lt;!--poised herself with a sudden realization--&amp;gt; dan menjauh selangkah dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha! Mungkinkah kamu sedang mencoba memikatku barusan, maafkan aku, untuk sejenak itu membuat jantungku berhenti sebentar, tapi sekarang setelah aku memikirkannya secara rasional, itu benar-benar tidak akan berhasil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persisnya mau berapa kali aku akan terus ditolak oleh gadis ini…? Bahkan penolakannya sudah jadi menjengkelkan sekarang…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jika itu cukup untuk membuat jantungnya berhenti sejenak, maka dia lebih baik berhati-hati karena dia tidak akan bisa pergi melakukan perjalanan dengan damai. Tidak mungkin jantungmu akan berhenti sejenak ketika si pramugari onee-san di pesawat mengambilkan barang-barangmu. Tidak mungkin, bukan…? Tidak, pasti akan berhenti (perbaikan si pramugari). Tidak, tunggu. Itu tidak harus seorang pramugari karena onee-san kerah biru &amp;lt;ref&amp;gt; Kerah biru berarti orang yang melakukan pekerjaan manual &amp;lt;/ref&amp;gt;juga akan membuat jantungmu berhenti sejenak… Seperti yang bisa diduga, wanita dengan karir fisik itu menabjubkan! (perbaikan si orang yang bercita-cita jadi bapak rumah tangga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, terserahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya mengabaikan apa yang dikatakan Isshiki dan mengambil kantong plastik itu dari tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah… Terima kasih banyak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meremas lengan baju kemeja cardigannya dan dengan penuh semangat membungkukkan kepalanya. Berkat itu, aku tidak dapat mengetahui apa bentuk ekspresinya itu, tapi kata-kata berterima-kasih sopan yang tak terduga itu membuatku merasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak apa-apa. Itu hanya bagian dari tugasku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia begitu bersikeras untuk mengungkapkan rasa berterima-kasihnya untuk sesuatu seperti ini setiap kali, akhirnya, dia akan berakhir meniru &amp;lt;!--adopting--&amp;gt;kebiasaan Komachi untuk mengatakan “terima kasih banyak onii-chan, aku cinta kamu”, sialan. Niatanku adalah untuk memberitahunya secara tidak langsung untuk tidak usah begitu heboh, tapi pada saat selanjutnya, aku segera menyesalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waaa! Beeegitu handal! Kalau begitu, maka aku akan terus bergantung padamu lain kali ♪.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengaitkan jari-jarinya di depan dadanya dan tiba-tiba membuat senyuman berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, barangnya mendadak terasa seakan itu menjadi lebih berat barusan… Namun, apa saja yang ada disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kantong plastik itu terasa lebih berat dari yang kusangka, aku mendapati diriku melirik ke dalam kantong itu dan didalamnya terdapat beraneka ragam makanan ringan dan jus. Yah, untuk sebuah konferensi seperti ini, itu biasa untuk memiliki makanan seperti kue-kue dan katering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suara percakapan menjadi lebih kecil, orang-orang akan mengisi keheningan itu untuk sementara dengan memakan makanan ringan mereka dan meminum teh mereka. Itu mirip dengan situasi di mana kamu membuat tawa hambar “haha” di tengah suatu percakapan dan mereka memakan sebutir FRISK segera setelahnya. Setelah mereka melakukan itu, kamu tidak bisa tidak menduga “aah, orang ini benar-benar tidak tahu apa yang mau dibicarakan&amp;lt;!--at a loss--&amp;gt; ketika berbicara denganku…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong, jika seseorang yang bahkan tidak berbicara tiba-tiba menawarkan, “apa kamu mau permen FRISK?”, itu adalah suatu tanda bahwa dia sedang secara tidak langsung mengatakan “nafasmu bau”! Waspadalah! Ada peluang dia mungkin menderita suatu penyakit dalam! Dari semua hal yang ada, itu hal yang harus diwaspadai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, namun pemilihan makanan ringan itu agak sulit juga. Makanan ringan yang keras dan mempunyai bau yang kuat dapat sebaliknya menjadi menggangu. Dengan demikian, aku melirik ke dalam kantong plastiknya untuk melihat apa yang Isshiki beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Makanan ringan coklat berukuran-kecil, permen tenggorokan rasa buah dan cracker beras lembut… Yap, ini bukanlah pilihan yang buruk. Itu semua ada di dalam bungkusannya masing-masing jadi ini juga mendapatkan nilai tinggi. Dengan ini, kamu tidak akan perlu menyediakan piring dan semacamnya dan kamu juga bisa mencegah mengotori tanganmu. Ditambah lagi, itu tidak akan begitu merepotkan untuk diurus ketika sudah waktunya untuk pulang ke rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooo, kamu mengejutkannya pengertian, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tegasku, dengan sedikit terkesan, dan Isshiki membuat suatu ekspresi jengkel serta dongkol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu maksud dengan ‘mengejutkannya’…? Aku perlu memberitahumu bahwa aku itu orang yang sangat pengertian. Yah, walau pihak mereka juga menyediakan beberapa makanan ringan juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh. Kalau begitu apa kita bahkan memerlukan ini? Toh, semua biayanya akan ditanggung pihak mereka. Kenapa tidak cukup memakan semua makanan ringan mereka saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak bisa benar-benar melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia menjawab, ekspresi Isshiki mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Memang, itu terlihat seperti dia benar-benar sedang bersikap pengertian dalam berbagai cara. Jika pihak mereka menyediakan sesuatu, kami tidak bisa cukup datang dengan tangan kosong setiap kali. Singkatnya sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebenarnya lebih merepotkan untuk bersikap sepengertian ini dalam keadaan dimana kami diundang hanya sebagai tamu saja. Tapi selama dua sponsor gabungan mengenai acara ini memiliki kedudukan yang sama, maka mereka harus setidaknya mempertahankan hubungan setara ini meskipun itu sesuatu yang sederhana seperti membawa datang makanan ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus bekerja bersama-sama sekolah lain itu masalah yang cukup menyusahkan. Karena itu akan berlanjut&amp;lt;!--extend--&amp;gt; ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya juga, pertanyaan tentang bagaimana itu akan mempengaruhi keadaannya membuatnya terasa seakan kantong plastik di tanganku menjadi satu tingkat lebih berat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diajak oleh Isshiki, aku berjalan masuk ke dalam pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, aku tidak pernah mengunjungi pusat komunitas ini sebelumnya, jadi persisnya apa itu yang kamu lakukan di dalam sini? Aku heran, apa mereka menyembuhkan komunitasmu dengan BGM Ten Ten Terorin ♪ BGM&amp;lt;ref&amp;gt; Musik Pokemon ketika pokemonnya disembuhkan &amp;lt;/ref&amp;gt; atau apa? Pusat monster apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kami benar-benar memasukinya, bagian dalamnya mirip sebuah kantor pemerintah dengan suasana dingin dan damai yang terus berlanjut. Itu adalah suasana yang membuat kamu berpikir dua kali sebelum berteriak dengan suara keras. Perpustakaan yang ada di lantai satu mungkin merupakan alasan untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti Isshiki ke lantai dua dan suasananya berubah sedikit. Suara orang berbicara dan musik dapat terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangganya terus menjulang ke atas. Ada suara musik yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku heran, apa yang mungkin sedang mereka lakukan?” Selagi aku memikirkan ini, aku melihat ke atas tangga dan begitu pula dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada suatu aula besar di lantai tiga. Kelihatannya mereka akan menyelenggarakan acara Natalnya di atas sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terlihat seperti ada semacam tarian atau sebuah klub yang sedang di tengah-tengah melakukan aktivitas mereka di atas sana yang terbukti dari getaran yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu… Singkatnya, ini sama saja dengan pusat komunitas pemerintah. Ini adalah suatu bangunan publik&amp;lt;!--establishment--&amp;gt; dimana para penduduk lokal akan berkumpul untuk melakukan berbagai aktivitas dan acara-acara. Jadi, apa bedanya ini dengan pusat komunitas pemerintah? Ukurannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu familier dengan bangunan ini jadi aku dengan risih melihat sekeliling. Isshiki yang maju jauh di depan berhenti di depan pintu suatu ruangan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas pintu tersebut tertulis “Ruangan Seminar”. Kelihatannya mereka menyewa ruangan ini untuk menyelenggarakan konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengetuk pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, silahkan masuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suatu suara memanggil dari dalam, Isshiki menarik nafas kecil dan meletakkan tangannya pada pintu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu tersebut, suara-suara keributan&amp;lt;!--clamor of voices--&amp;gt; tumpah dari ruangan itu. Keberadaan meja-meja dan kursi-kursi membuat ruangan itu terasa seperti sebuah ruang kelas di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas kerja kerasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki memberikan sapaan riangnya&amp;lt;!--bubbly-like--&amp;gt; selagi dia masuk ke dalam ruangannya terlebih dulu. Bahkan setelah aku mengikutinya ke dalam, tidak ada tanda-tanda suara obrolan itu akan menghilang. Ditambah lagi, tidak ada satu orangpun yang mengarahkan pandangan mereka padaku. Semua orang kelihatannya sedang terasyikkan dalam percakapan mereka sendiri sehingga mereka tidak begitu tertarik denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu terlihat seperti Isshiki benar-benar diakui sebab suatu suara yang datang dari kelompok itu memanggil dirinya. Dilihat lebih dekat, orang yang memanggilnya dengan satu tangan terangkat itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan seragam SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iroha-chan, sebelah sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, seeeeelamat sore.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki melambaikan tangannya selagi dia menuju ke arah kelompok itu. Aku tentu saja mengikuti persis di belakangnya. Ketika aku melakukannya, sekarang setelah aku berada di depannya, si laki-laki yang memanggil Isshiki melihat ke arahku dengan ekspresi kebingungan. Dia kemudian dengan pelan berbisik ke arah telinga Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, salah satu kaki tangan&amp;lt;!--helping worker--&amp;gt; kami!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu suatu penjelasan yang kurang ajar melihat betapa besarnya seringaianmu itu, benar bukan, Isshiki? Tapi bahkan dengan perkenalan semacam itu, laki-laki itu membuat seruan terkesan “ooh” dan berpaling ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku Tamanawa. Aku ketua OSIS SMA Kaihin Sogo. Senang berjumpa denganmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ah, senang berjumpa denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba diberikan perkenalan mendadak yang tak kusangka, aku bimbang tentang apa aku seharusnya memberitahu namaku juga yang dimana Tamanawa tidak terlihat keberatan selagi dia meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku benar-benar senang kami bisa merencanakan ini bersama dengan SMA Sobu. Aku sedang berpikir akan bagaimana kita perlu membentuk suatu HUBUNGAN REKAN yang akan membawa sebuah efek SINERGI dimana kita bisa saling MERESPEK satu sama lain, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Jangan memulainya dengan kalimat lucu&amp;lt;!--good punch--&amp;gt;, meeen. Setengah dari apa yang dia katakan masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tapi kelihatannya Tamanawa adalah orang yang menyusun konferensi acara Natal ini. Aku menyadarinya dari kata-kata pilihan yang diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena posisi Tamanawa sebagai ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, hanya berbicara dengannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya terseret ke dalam percakapannya. Pada saat tersebut, orang-orang memperkenalkan diri mereka, tapi, jujur saja, aku tidak dapat mengingat mereka semua. Yah, setelah acara ini selesai, kami tidak akan bertemu lagi, jadi tidak perlu untuk memasukkan satupun dari mereka ke dalam ingatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya harus menghadapi begitu banyak orang saja sudah lumayan melelahkan. Aku secara refleks membuat suatu helaan. Aku meninggalkan sisanya pada Isshiki, duduk di suatu tempat duduk yang lebih jauh dan mengamati Isshiki dan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukannya, mataku bertemu dengan mata seseorang yang memiliki tampang bingung di kerumunan orang itu. Orang itu berkedip kaget setelah melihatku. Dan kemudian orang itu berdiri dan berjalan ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Hikigaya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika namaku dipanggil oleh orang yang mengejutkan, aku terkaget dan terlambat meresponnya. Tak kusadari, setetes keringat mengalir jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam SMA Kaihin Sogo gadis itu agak sedikit kusut dan dia sedang menyisiri rambut &#039;&#039;perm&#039;&#039; hitamnya dengan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orimoto Kaori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah teman sekelas dari SMPku dan juga gadis yang kunyatai cintaku dahulu kala. Hanya baru-baru ini saja, kami mendapat pertemuan yang tak terduga dan kemudian aku terlempar ke dalam situasi yang tak terduga. Apa yang terjadi dahulu kala dan baru-baru ini bukanlah kenangan yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipikir-pikir lagi, Orimoto masuk ke SMA Kaihin Sogo, bukan? Fakta bahwa dia ada di sini berarti dia terlibat dengan OSIS, huh…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecurigaan itu juga dipikirkannya kelihatannya. Dia membuat seruan&amp;lt;!--voice--&amp;gt; kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, kamu masuk ke OSIS?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawabnya, Orimoto mengangguk dengan yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya. Kalau begitu kurasa situasi kita sama. Aku ada di sini karena ada teman yang mengajakku, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia mengatakan itu, Orimoto melirik ke belakangku dan melihat ke sekeliling dengan gelisah. Apa dia sedang mencari sesuatu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, apa kamu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, sama seperti biasanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab, Orimoto mendengus dan tertawa terbahak-bahak selagi dia memegangi perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan, itu super kocak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak kocak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang kocak di sini… Lagipula, aku bukan yang menerimanya! Dan aku juga bukan yang memberikannya&amp;lt;ref&amp;gt; Kalimat Fujoshi. Orimoto berkata “ukeru” yang juga dipakai dalam percakapan fujoshi, uke and seme &amp;lt;/ref&amp;gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, berkat Orimoto, aku memiliki pemahaman yang sedikit lebih baik mengenai kelompok ini. Walaupun ini adalah suatu konferensi acara di antara OSIS dua sekolah, SMA Sobu, kelihatannya bahkan relawan juga berpartisipasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah pihakmu, macam, kekurangan anggota? Atau apa hanya kami yang banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat bahwa hari ini adalah yang pertama kalinya aku di sini, aku tidak begitu sadar akan situasi di dalam ruangan ini. tapi ketika aku melihat ke sekeliling ruangan, SMA Kaihon Sogo hanya ada sekitar sepuluh orang. Di sisi lain, pihak SMA Sobu ada…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huh? OSIS kami… Aah, di sana mereka. Mereka berkerumun di sudut sebelah sana. Jumlah anggota selain aku dan Isshiki yang mengenakan seragam mereka ada satu, dua… empat orang huh? Ditambah lagi, tidak seperti anggota dari SMA Kaihin Sogo, anggota kami terlihat lemah jika dibandingkan. Itu terlihat agak memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, kami tidak ada banyak anggota…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Duh, kamu bisa mengetahuinya dengan hanya melihatnya saja… Yah, tidak seperti itu penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu, Orimoto terlihat seakan dia tidak tertarik lagi dan segera meninggalkan sisiku ke tempatnya semula. Isshiki kembali seakan dia ku-tag. Isshiki terus menatap ke arah Orimoto dengan cermat dan kata-kata itu terselip keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, ada yang kamu kenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caramu mengatakan itu terdengar seperti kamu sebenarnya sedang berkata “ada orang yang kamu kenal?” Mari hentikan itu, oke, Irohasu? Juga, kamu, kamu pernah melihatnya setidaknya sekali sebelumnya, bukan? Dia mungkin tidak ingat karena dia begitu jauh waktu itu. Pertama-tama, aku agak sedikit tidak yakin bagaimana pergi menjelaskan ini, tapi berkat itu, pada akhirnya aku bisa melemparkan jawaban biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Yah, hanya teman sekelas dari SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Isshiki menanyakan mengenainya, dia tidak terlihat begitu tertarik selagi dia duduk dan mulai membagikan makanan ringan yang dia beli. Melihat itu, orang-orang dari SMA Kaihin Sogo mulai menyiapkan makanan ringan dan minuman mereka juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya rapatnya sudah akan segera dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik pihak Kaihin Sogo dan pihak Sobu pergi ke tempat duduk mereka yang sudah ditentukan. Semua orang duduk di tempat duduk mereka yang dijejerkan mengelilingi meja berbentuk C itu. Sekarang kalau begitu, sudut mana yang sebaiknya kududuki…? Melindungi salah satu dari empat sudut itu membuatku benar-benar merasa aku adalah salah satu Empat Hewan Suci&amp;lt;ref&amp;gt; [http://digimon.wikia.com/wiki/Digimon_Sovereigns Raja Digimon] &amp;lt;/ref&amp;gt; atau begitulah yang kupikir sampai lengan bajuku ditarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, silahkan duduk di sebelah sana~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, Aku tidak masalah dengan di sudut saja…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengatakan itu, Isshiki tidak mau melepaskan lengan bajuku. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari tangan yang menangkapi diriku, tapi Isshiki terus memeganginya. Ada apa dengan kekuatan ini? Caranya memegang padaku itu begitu imut, tapi aku bahkan sama sekali tidak bisa melepaskan diri…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayola&#039;, ayola&#039;, sudah mau dimulai, kamu tahuuu~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan menarik lengan bajuku dengan lebih kuat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, oke. Kamu akan menggoyaknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, tidak peduli dimana aku duduk, aku toh tidak akan mengatakan apapun, jadi itu akan sama saja pada akhirnya. Kalau begitu, tempat duduk dengan makanan ringan tepat di depanku itu akan bagus untukku. Aku dengan enggan menyerah dan duduk di samping Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun itu meja berbentuk C, tepat di tengah-tengah adalah tempat duduk ulang tahun yang ditempati oleh ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Kami, SMA Sobu, duduk di sisi kanan meja itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika aku melihat lebih cermat lagi, persis seperti yang dikatakan Orimoto tadi, pihak mereka memiliki anggota yang lebih banyak. Kalau hanya menyangkut jumlah, mereka memiliki dua kali lipat jumlah anggota, tapi itu terasa seperti bahkan ada perbedaan yang lebih besar lagi dalam substansi dari jumlah anggota mereka. Alasan utamanya mungkin ada berhubungan dengan level keributan mereka. Para gadis dan lelaki di SMA Kaihin Sogo terlihat hidup sementara pihak SMA Sobu terlihat mati jika dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, melihat bahwa pihak mereka-lah yang menyarankan ide ini, perbedaan dalam motivasi itu sesuatu yang tidak bisa diapa-apakan. Aku rasa itu sesuatu seperti antara mereka yang merupakan para penyelenggara acara dan mereka yang merupakan pendukung acara. Perbedaan mereka jelas ditunjukkan dalam urutan tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari situasinya, kelihatannya neraca kekuatannya condong ke arah SMA Kaihin Sogo dengan mereka sebagai pihak utama dalam berbagai hal sementara SMA Sobu ditunjuk sebagai pihak pendukung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ketua pihak mereka, Tamanawa, memastikan bahwa semua orang telah mengambil tempat duduk mereka, dia menepuk tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eeerm, kami sekarang akan memulai konferensinya. Aku berharap untuk dapat bekerja sama dengan kalian semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara seperti dia sudah terbiasa dengannya dan semua orang membungkukkan kepala mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, konferensinya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa memanggil satu orang dari kelompok rekan satu timnya yang bergerak menuju ke depan papan tulis. Selagi suara spidol menekan ke bawah bergema, Tamanawa membuka mulutnya selagi dia mengamati dengan pandangan menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mirip seperti sebelumnya, mari kita melakukan sedikit BRAINSTORMING.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh, apa-apaan? Itu begitu keren. Walau aku tidak bisa memakai kemampuan macam itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau begitulah yang kupikir untuk sejenak, tapi dia sebenarnya hanya mengacu pada diskusi. Ada berbagai jenis definisinya, tapi itu singkatnya berarti sekelompok orang akan sebebasnya mengutarakan ide-ide mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Topik diskusinya akan dilanjutkan dari yang sebelumnya dan kita mengharapkan beberapa IDE mengenai KONSEP dan isi acara itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Tamanawa melanjutkan urusannya, pihak SMA Kaihin Sogo mulai mengacungkan tangan mereka satu per satu, masing-masing memberikan pendapat mereka mengenai topik permasalahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati mereka untuk sejenak. Maksudku, kalian tahu, singkatnya seperti itu. Memberikan idemu ketika kamu bahkan tidak memiliki pemahaman mendasar dari situasinya hanya akan berakhir menjadi penganggu. Itu tidak seperti aku sedang mencoba untuk mencari cara gampang untuk melakukannya atau mengelak dari tugas, aku hanya sedang bersikap pengertian!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang dari pihak mereka mengatakan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita mempertimbangkan tuntutan terhadap kita para murid SMA, kita sudah pasti harus membuat INOVASI dalam area-area mengenai PEMIKIRAN anak-anak muda…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu, Begitu ya. Pemikiran bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi, seorang murid lain di sebelah sana berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, maka jelas itu berarti kita pasti akan harus berpikir untuk membentuk suatu kondisi SAMA-SAMA SENANG dengan pihak KOMUNITAS sebagai prasyaratnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O-Oke. Yah, aku mengerti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, satu orang lagi dari pihak mereka berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika begitu, maka kita mungkin harus menaruh pertimbangan strategik dalam BIAYA-MANFAAT&amp;lt;ref&amp;gt; Cost performance: artinya suatu manfaat/keuntungan yang didapat dengan mengeluarkan biaya tertentu (Manfaat/Biaya). Idealnya ya manfaat setinggi-tingginya dengan biaya sekecil-kecilnya. &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi kita akan menarik suatu KONSENSUS untuk itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Y-Ya… Benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengamati mereka tanpa bersuara sampai saat tersebut, pemikiran itu tiba-tiba menghantamku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ada apa dengan konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya aku tidak paham sama sekali tentang apa yang sedang mereka lakukan, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah itu? Aku heran, mungkinkah karena aku itu tolol sehingga aku tidak bisa mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir dengan cemas, aku melihat pada Isshiki yang sedang duduk di sampingku dan dia sedang menganggukkan kepalanya selagi menyerukan “Whoa…” dengan suara terkagum. Kamu memahaminya? Phone a friend.&amp;lt;ref&amp;gt; Who wants to be a millionaire &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan buruk jika aku ketinggalan meskipun aku berada di sini untuk membantu, jadi aku dengan diam-diam memastikannya dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Isshiki, apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berbisik padanya, Isshiki memutar kepalanya sedikit ke arahku. Dia dengan imut memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh…? Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”, jangan beritahu aku, kamu… Siapa kamu, si pemain tenis meja, Ai-chan&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Ai_Fukuhara Ai Fukuhara] - Ini ada hubungannya dengan bagaimana Isshiki berkata “Mana kutahu?” yang merupakan “saa” dan Ai Fukuhara kelihatannya mengatakan “saa” dalam pertandingannya atau apalah. Itu seperti sejenis teriakan untuk menyemangati dirinya dalam pertandingan.&amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis ini, dia tidak mengerti satupun dan dia masih memiliki reaksi itu? Aku melihat ke arahnya dengan tampang kaget, tapi Isshiki tidak terlihat menghiraukan itu. Senyuman kecilnya tidak mengatakan apapun selain. “jangan kuuuatir, semua baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pihak mereka sedang mengeluarkan semua ide-ide mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoohm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi jika pihak mereka yang melakukan tugas berpikirnya, maka pihak kami hanya perlu mengerjakan semuanya&amp;lt;!--put everything to action--&amp;gt;… Yah, kalau begitu, hanya aku sendiri saja sudah akan cukup kelihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak membenci kerja keras yang sederhana. Melakukan suatu pekerjaan berulang-ulang tanpa henti seperti mesin itu mengikis jiwa, tapi jiwaku sudah sepenuhnya jauh terkikis, belum dibilang tidak tahu malu lagi. Jika aku tidak perlu bersikap pengertian deengan orang lain dan aku bisa tidak perlu memakai kepalaku, maka itu merupakan suatu surga dalam caranya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmkei, kalau begitu aku lebih baik mendengarkan apa yang sedang terjadi supaya aku bisa setidaknya melakukan apa yang perlu kulakukan. Tapi itu terasa seperti percakapan mereka tidak ada substansi apapun di dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai persoalan itu, Tamanawa yang sedang memimpin rapat itu terlihat seperti dia merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semuanya, bukankah ada sesuatu yang lebih penting…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Tamanawa mengucapkannya dengan nada berat, hawa dingin menjalari tempat dudukku. Seperti yang bisa diduga dari yang menjadi ketua OSIS, kehebatannya itu cukup sesuatu&amp;lt;!--something to behold--&amp;gt;. Semua orang memusatkan perhatian mereka menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, Tamanawa memandang ke sekeliling pada keseluruhan Ruangan Seminar itu dan membuat gerakan tangan yang sedikit berlebih-lebihan yang terlihat seperti dia sedang memutar roda tembikar dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu memakai PEMIKIRAN LOGIS ketika kita memikirkan tentang sesuatu secara logis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kamu hanya mengatakan hal yang sama? Persisnya mau berapa kali kamu akan berpikir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu mendukung PIHAK PELANGGAN&amp;lt;!-- make a stand on--&amp;gt; dari sudut pandang pelanggan, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kubilang, bukankah kamu hanya mengucapkan hal yang sama? Persisnya ada berapa banyak pelanggan yang akan kamu dapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa seperti aku sedang memiliki senyuman berkedut yang muncul di wajahku. Tapi semua orang lain memiliki ekspresi “oh, begitu” dan sedang melihat pada Tamanawa dengan mata berbinar-binar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Itu tidak bagus. Ketua ini dan yang lain adalah orang-orang yang mengikuti pola-pola yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, ini adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang serupa atau mungkin perkumpulan orang-orang yang terlihat ingin mengincar sesuatu. Alur konferensi ini tidak berubah selagi itu berlanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kita harus mempertimbangkan ALIH DAYA juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi dengan METODE kita sekarang ini, itu mungkin agak sedikit sulit, dari sisi-SKEMATIK.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Kalau begitu, ada kemungkinan bahwa kita perlu memRSCHD hal-hal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan itu RSCHD&amp;lt;ref&amp;gt; Reschedule, penjadwalan ulang &amp;lt;/ref&amp;gt;? Sebuah toko dengan lidah sapi yang lezat &amp;lt;ref&amp;gt; Watari suka makan di luar, jadi kurasa ini restoran yang dikunjunginya yang menawarkan lidah sapi &amp;lt;/ref&amp;gt;? Kenapa mereka-mereka ini terus-terusan memakai katakana &amp;lt;ref&amp;gt; Seperti yang kalian lihat, ada banyak kata-kata yang di CAPS LOCK dan ini menandakan kata-kata dalam katakana yang merupakan salah satu sistem tulisan yang biasanya dipakai untuk kata-kata serapan&amp;lt;!--pinjaman--&amp;gt; dari bahasa asing. Namun, kata-katanya digunakan sebegitu seringnya seperti yang dikatakan oleh Hachiman seperti buzzword (kata-kata teknis yang populer untuk suatu waktu yang biasanya hanya untuk pamer macam SINERGI itu tadi).&amp;lt;/ref&amp;gt;? Ruu Ooshiba&amp;lt;ref&amp;gt;[http://keroro.wikia.com/wiki/Ruu_Ooshiba Ruu Ooshiba] - dia menuliskan nama penanya dalam katakana &amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menginovasi sebuah INOVASI! NEGOSIASI yang didiskusikan dan dinegosiasikan! Rencana yang tersolusikan itu suatu SOLUSI! Pengulangan itu terus berlanjut. Aku pikir ide mereka itu tidaklah HIP - HOP karena kesadaran mereka jelas sekali HOP - UP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fueee… Kesadaranku begitu tiiiiingi sekali… Itu terasa seperti kesadaran&amp;lt;!--conscience--&amp;gt; kecil dan malangku itu naik jauh di atas ke suatu tempat…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mana kita datang dan kemana kita pergi?&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Where_Do_We_Come_From%3F_What_Are_We%3F_Where_Are_We_Going%3F Where do we come from what are we doing?] &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sebuah konferensi dimana pemikiran itu tiba-tiba melintas dalam pikiranku. Dari manalah konferensi ini datang dan mau kemana konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konferensi itu akhirnya berakhir dengan tidak ada keputusan yang menyerupai kesimpulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi BRAINSTORMING umumnya sesuatu seperti itu. Sebuah diskusi umumnya sesuatu dimana kamu mengeluarkan beraneka ragam ide. Itu digelar dengan tujuan untuk membuat kemajuan. Dengan demikian, ternyata konferensi ini sendiri mungkin tidak begitu hampir se-tidak berguna itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu hal yang sedikit menangkap perhatianku dan itu adalah bagaimana sebagian besar sarannya datang terutama dari SMA Kaihin Sogo. Walaupun hadir, SMA Sobu sebagian besar tidak mengatakan apapun. Yah, jika hal-hal tadi seperti “proklamasi yang sangat sadar&amp;lt;ref&amp;gt; Sangat sadar maksudnya suka mengujarkan apa yang sulit dipahami orang lain (biasanya istilah-istilah teknis) (Sok pintar)&amp;lt;/ref&amp;gt;” itu terus menerus dilontarkan, maka menjadi gugup itu wajar. Bahkan sang ketua Isshiki tidak terlihat seperti dia juga akan mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berbicara mengenai Isshiki itu, dia kelihatannya sedang berbicara tanpa henti dengan ketua SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, aku tidak ada yang bisa dilakukan, jadi aku mengamati Isshiki dengan termenung-menung dari tempat yang sedikit jauh. Ketika aku melakukannya, Isshiki menyadari keberadaanku dan memotong percakapannya pada bagian yang pas dan mendekatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, apa kamu mendapat gambaran yang bagus tentang apa yang sedang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali… Aku tidak memahami satu hal pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mungkin sedang menanyakanku apakah aku mengerti apa yang didiskusikan dalam konferensi itu. Aku menyadari hal itu, tapi sayangnya, aku hanya bisa mengucapkan kalimat standar&amp;lt;!--placeholder--&amp;gt; karena itu akan aneh untuk mengatakan aku sebenarnya mengerti apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menduga-duga bagaimana perasaanku dari ekspresiku, Isshiki membuat helaan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, toh, mereka sedang mengatakan sekumpulan hal-hal sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, bukan kata-katanya itu sulit, tapi itu terlalu samar, membuatnya benar-benar sulit untuk dimengerti. Tapi perbedaan itu sepele bagi Isshiki selagi dia membuat suatu senyuman mencandukan.&amp;lt;!--poppy smile--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ketika aku bilang “menaaaaabjubkan” dan “Aku sebaiknya berusaha keraaas juga!”, mereka benar-benar memandangku dengan serius. Setelah itu, aku hanya perlu membalas pesan-pesan dari waktu ke waktu dan seharusnya itu tidak akan ada masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seseorang akan menikammu suatu hari…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu mungkin bukan sekarang, tapi pada suatu waktu dia akan benar-benar menderita dari balasan karmanya dan itu membuatku khawatir. Sungguh, pria yang tidak populer cenderung terlalu mudah diseret-seret&amp;lt;!--pulled along--&amp;gt;, jadi segala jenis tragedi malang akan bermunculan… Pria tidak populer cenderung anehnya polos dengan pikiran mesum&amp;lt;!--one track mind--&amp;gt; dan karena kejujuran ini, mereka cenderung dengan mudahnya salah paham. Apa-apaan? Memikirkannya lagi, pria tidak populer itu pria-pria yang benar-benar hebat! Kenapa mereka tidak populer? Sungguh misterius!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan itu, Isshiki mengerang terlihat seakan sedang memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tapi senpai, kamu akan memberikan kesan itu kadang-kadang, kamu tahu? Seperti bagaimana kamu akan terlihat seperti kamu itu cerdas atau betapa kamu itu salah satu tipe-tipe terlampau sadar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuat setengah senyuman selagi dia mengatakan itu. Persis setelah kata tipe-tipe terlampau sadar itu terdapat kata (lol) tertempel padanya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kelompokkan aku dengan mereka. Aku bukan tipe orang yang terlampau sadar. Aku tipe orang yang terlampau sadar diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe orang terlampau sadar (lol) adalah, yah, singkatnya orang-orang yang berusaha keras membuat orang lain terpesona dengan niatan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa. Mereka adalah sekelompok anak-anak menjengkelkan&amp;lt;!--painful--&amp;gt; yang menggunakan istilah-istilah lingo&amp;lt;ref&amp;gt; bahasa khas/aneh &amp;lt;/ref&amp;gt; bisnis dan manajemen yang paling sesuai untuk menunjukkan betapa cakapnya mereka dibandingkan dengan orang lain. Itu tidak begitu berbeda dari chuunibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, tipe-tipe orang yang terlampau sadar diri itu hanyalah anak-anak menjengkelkan biasa. Itu tidak begitu berbeda dari kounibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa, Aku benar-benar tidak mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki menjawab dengan letih. Yah, aku juga tidak mengerti. Tidak peduli yang manapun itu, fakta bahwa mereka berdua itu menjengkelkan untuk dilihat tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, sekarang setelah kita sudah memahami apa yang perlu kita lakukan, ayo kita memulainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki segera mempersembahkan setumpuk kertas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Jadi apa yang dia lakukan tadi itu bukan hanya percakapan ramah tamah, tapi dia sedang menanyakan detail tentang apa yang pihak kami, SMA Sobu, yang tidak mengajukan apa-apa selama konferensi itu, harus lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang, ada saat-saat dimana menggelar sebuah konferensi itu tidak ada artinya. Tidak ada hal penting yang diputuskan dalam konferensi karena sebagian besar akan diputuskan di balik layar oleh orang-orang lebih penting, yang merupakan kejadian biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sendiri terutama bijak di area itu. Dia adalah gadis kelas sepuluh yang imut dan dia sedang diperlakukan dengan cukup baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah lumayan dekat dengan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm. Yah, aku rasa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meletakkan jari telunjuknya pada dagunya dan mengerang selagi dia memiringkan kepalanya. Dia kemudian menyerukan “aha” dengan suatu senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tunggu! Kamulah yang mengajariku itu, senpai. Bahwa gadis yang lebih muda yang ingin diajari itu imut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingat mengajarimu itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku memang mengajarinya bagaimana untuk memakai keuntungan dari manfaat dalam posisinya itu, tapi aku tidak ingat memberitahunya sesuatu sespesifik itu. Tidak, jika kamu akan menjelaskannya dengan cara Isshiki, maka itulah hasil yang muncul… Tidak bagus, apa aku tanpa sengaja melahirkan seorang monster? Ini pasti akan berakhir pada &#039;&#039;circle crash&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt; Situasi dimana hubungan dalam suatu klub menjadi hancur karena berbagai masalah yang biasanya berhubungan dengan cinta. &amp;lt;/ref&amp;gt;, huh…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, yah, kalau begitu kamu bisa cukup menyerahkan itu pada mereka. Kamu tidak benar-benar memerlukanku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, um, sebenarnya itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku bertanya, Isshiki melihat ke bawah, enggan untuk menjawab. Dia terlihat seperti dia ada sesuatu yang menguatirkannya selagi aku menunggunya untuk meneruskan. Tapi itu tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu karena ada seseorang yang mengetuk ke atas meja kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Iroha-chan. Bisakah aku minta tolong kamu juga mengerjakan ini? Aku sudah mengurus bagian yang lebih besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang muncul adalah ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Itu kelihatannya dia ada beberapa tambahan pada isi percakapan yang mereka bicarakan tadi. Dia menyerahkan beberapa kertas print-out lagi pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, oooke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengambilnya dengan sukarela. Tidak ada satupun tanda-tanda wajah murungnya tadi yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan serahkan itu padamu. Jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, cukup beritahu aku. Aku akan mengajarimu bagaimana cara mengerjakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa membuat senyuman menyegarkan selagi dia melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu. Isshiki melambai balik dan melihatnya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu ayo kita mulai mengerjakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpaling kembali padaku, menyusun ulang print-out tambahannya, dan mulai menyerahkannya pada anggota OSIS lain di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dengan demikian, kerja kita adalah untuk mencatat dan menyusun notulen&amp;lt;ref&amp;gt; Catatan singkat mengenai jalannya rapat serta hal yang dibicarakan dan diputuskan&amp;lt;/ref&amp;gt; konferensi itu. Oke, aku berharap bisa bekerja sama dengan kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia berbicara pada mereka selagi dia membagikan pekerjaannya pada setiap orang, responnya lemah. Perbedaan dalam motivasinya begitu mengejutkan dibandingkan dengan OSIS mereka yang begitu hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, toh, untuk bahkan sedikitpun merasa termotivasi terhadap suatu pekerjaan itu aneh. Tidak, logikanya sendiripun aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi melihat bahwa pekerjaan kami hanya untuk membagi-bagi&amp;lt;!--break down--&amp;gt; apa yang diberikan pada kami oleh mereka, aku dapat mengerti kenapa OSIS kami tidak ingin berpartisipasi. Itu karena OSIS yang mereka bayangkan itu sepenuhnya berbeda dari kenyataannya sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga mengambil beberapa print-out notulennya juga. Ada beberapa hal seperti rencana untuk masa depan dan suatu daftar topik. Kelihatannya pekerjaan kami untuk sekarang adalah berlatih membuat notulennya.&amp;lt;!--brush these up--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua mengerjakan pekerjaan kami tanpa bersuara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami melakukannya, salah satu anggota OSIS dengan tenang berdiri dan menyerahkan selembar print-out pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketua, apa ini bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, biar aku lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki dengan kertas itu di tangannya membuat ekspresi yang kurang lebih kaku. Laki-laki tersebut berbicara seakan dia ingin mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentang ini…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dipikir lagi, tidak jadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki yang terlihat cakap itu menelan kata-kata selanjutnya dan berpaling. Dia kemudian mengucapkan “terima kasih” dengan suara kecil dan kembali ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika aku mengikutinya dengan tatapanku sambil merasa heran apa aku pernah melihatnya sebelumnya, Isshiki menyadari hal ini dan memberitahuku dengan suara diam-diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia si wakil ketuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia memberitahuku, aku menyadarinya. Aah, anak kelas sebelas kurasa… Dipikir lagi, aku tidak tahu namanya, tapi aku rasa aku pernah melihatnya sebelumnya di lantai yang sama&amp;lt;ref&amp;gt; Maksudnya ketemu di sekitar kelasnya (lantai dua) &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi dia wakil ketua kami huh? Kamu mungkin bisa mengetahui nama ketuanya tapi itu tidak akan berlaku pada yang lain karena popularitas mereka tidak sesignifikan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, angkatan yang sama denganku, huh? Itu menjelaskan kenapa Isshiki sedang bersikap sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Cukup rumit, mesti kubilang. Bawahan yang usianya lebih tua membuatku sulit untuk bekerja bersama dia, tapi atasan yang lebih muda tidak akan membuatmu merasa tenang. Bahkan di tempat kerja paruh waktuku pada toko swalayan, itu benar-benar sulit untuk bekerja bersama pegawai baru yang berusia lebih tua… Kamu harus bersikap pengertian sambil mengajari pekerjaannya pada dia dan si dia juga akan merasa terganggu mengenai sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan bagi Isshiki yang dicintai orang yang lebih tua darinya karena kesusahan dengan sesuatu, terlihat tidak ada bedanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelihatannya agak sulit bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah… Aku rasa aku tidak begitu disukai. Tapi selalu seperti itu pada awalnya. Kita akan terbiasa dengannya pada akhirnya, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Isshiki bergetar hanya untuk sejenak. Tapi dengan segera, dia membuat senyuman menantang selagi dia mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, benar, semua orang dapat akur dengan baik pada awal-awalnya itu sulit. Biasanya tetap akan ada beberapa hal dan pendapat yang tidak akan saling disetujui mereka.&amp;lt;!--see eye to eye--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, di sana terdapat kemungkinan untuk belajar dari hal itu.&amp;lt;!--growing--&amp;gt; Jika baru mulai dari awal sekali, maka ada hal-hal yang bisa kamu rubah. Setidaknya, kira-kira itu berbeda dari dikurung di suatu ruangan bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku diajak bicara, aku segera mengangkat kepalaku. Ketika aku melakukannya, tampang kebingungan Isshiki selagi dia melihatiku ada di sana. Kelihatannya tanganku sudah berhenti bekerja. Aku segera kembali menulis untuk menghilangkan jeda aneh itu sambil berkata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, persisnya berapa lama kita akan terus melakukan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu… Sudah hampir waktunya bagi kita untuk pulang, kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki menjawabnya, aku melihat ke arah jam di dekat pintu masuk ruangan itu. Sudah hampir waktunya. Itu juga hampir waktunya bagi klub-klub untuk mulai pulang pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu di bawah jam itu kemudian terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bekerja keras.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita berpakaian setelan dengan jas putih yang masuk dan berbicara itu Hiratsuka-sensei. Selagi dia menjentikkan rambut hitam panjangnya, dia mendekatiku sambil membuat suara dengan sepatu haknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa orang ini ada di sini…? Selagi aku berpikir sungguh misterius&amp;lt;!--mysteriously--&amp;gt;, Hiratsuka-sensei membuat helaan tidak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti biasa, ini adalah pekerjaan yang dipercayakan padaku lagi… Astaga&amp;lt;!--good grief--&amp;gt;. Diberikan semua pekerjaannya karena aku muda itu tentu menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku rasa begitu. Toh, sensei itu muda… Tanpa kusengajai, aku melihatinya dengan mata yang lembut. Ketika aku melakukannya, Hiratsuka-sensei melihat ke arah mataku juga. Entah di mana, di sana juga ada tanda-tanda kebaikan di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa kamu sendirian Hikigaya? Dimana Yukinoshita dan Yuigahama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari nadanya, dia menduga jika aku ada di sini, maka dua orang dari Klub Servis akan ada di sini juga. Aah, dipikir-pikir lagi, Isshiki ada menyebutkan bahwa Hiratsuka-sensei adalah orang yang memberitahunya untuk melakukan ini, bukan…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, permintaan Isshiki adalah sesuatu yang direncanakannya untuk membuat Klub Servis menerimanya. Dan benar, jika keadaannya seperti yang sebelumnya, maka permintaan ini pasti akan diterima oleh Klub Servis secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu berbeda sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tidak, aku sedang membantunya di sini sendiri&amp;lt;!-- as a personal favor--&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan mataku kembali ke kertas print-out di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fumu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke arahku selagi aku bekerja dan tidak mengatakan apapun untuk sejenak. Aku tidak menjelaskan apapun lebih jauh lagi dan hanya menggerakkan tanganku. Satu-satunya hal yang kulakukan adalah menyalin kalimat-kalimat dan kata-kata tidak berarti ke kertas lain seperti robot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Yah, itu tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei membuat helaan singkat dan mengalihkan pandangannya antara diriku dan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, Hikigaya dan Isshiki, huh…? Pasangan yang agak menarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terperangkap bersama itu tidak begitu menarik bagi kami. Tapi Isshiki terlihat seakan dia berpikiran sama denganku selagi dia membuat wajah yang sedikit tidak puas selagi mengerang. Bukankah kamu sedang bertingkah sedikit jahat, Irohasu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke wajah kami dan tertawa geli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh tidak, tidak ada apa-apa… Omong-omong, sudah hampir waktunya. Tinggalkan sisanya untuk lain hari dan pergi pulang. Pihak mereka kelihatannya juga melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diberitahu hal itu, aku melihat sekilas dan orang-orang dari SMA Kaihin Sogo sudah bersiap-siap untuk pergi satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu. Kenapa tidak kita bergegas pulang juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki mengatakan hal ini pada setiap anggota lain, setiap anggota mulai bersih-bersih. Isshiki kemudian memelankan suaranya mempertimbangkan keberadaan Hiratsuka-sensei. Dia berbisik pada telingaku dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pergi makan dengan orang dari OSIS mereka dan pulang ke rumah setelah itu. Senpai, kamu boleh pulang ke rumah dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pilihan untuk mengundangku, bukan…? Itu tentu membuatku lega&amp;lt;!--it&#039;s load off my chest--&amp;gt;. Dia tentu memahamiku dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, aku akan pergi pulang kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku akan menantimu besok juga, senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu bungkukan bodoh lagi selagi dia menjawab sambil melambaikan tangannya dengan pelan dan aku menuju ke arah pintu. Dan aku tidak lupa untuk menanyakan satu hal lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, benar. Itu tidak masalah untuk menganggap bahwa besok akan dimulai sekitaran jam tadi juga, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu standarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya mungkin ditentukan pada jam tertentu karena mereka mengantisipasi bahwa itu akan memakan sedikit waktu bagi murid SMA Kaihin Sogo untuk datang kemari. Kalau begitu, bagi kami khususnya, ada banyak waktu sebelum dimulai konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir bagaimana aku akan menghabiskan waktu senggang yang anehnya melimpah itu, aku meninggalkan pusat komunitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu kebahagiaan, boleh kutanya&amp;lt;!--dare I say--&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pastilah kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan. Selamat datang kembaliii.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, ketika aku berhasil sampai ke rumah, yang ada di ruang tamu adalah Komachi. Dia memiliki mata yang terlihat mengantuk. Itu terlihat seperti dia sudah tidur cukup lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan alasan untuk mengapa dia tertidur adalah karena kotatsu yang dikeluarkannya entah kapan ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, itu dibangkitkan kembali… Mesin iblis aneh ini.&amp;lt;!--This demonic mechanical contraption.--&amp;gt; Kotatsu adalah suatu mesin yang menghasilkan orang-orang yang tidak berguna. Aku bahkan dapat mengusulkan kita mengirimkan kotatsu kami kepada semua negara musuh lain selagi musim dingin karena kami akan bisa dengan mudahnya menjajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, jangan belajar di kotatsu. Kamu hanya akan menjadi mengantuk dan kamu akan mengidap flu ketika kamu tertidur. Kotatsu mengubah orang menjadi orang tidak berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku memberitahunya secara singkat, Komachi menatapiku dengan sinis. Astaga, wah wah. Mungkinkah dia sedang dalam fase suka melawan sekarang ini…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, itu bukan sesuatu yang patut kamu katakan padaku selagi kamu sedang merasa nyaman di dalam kotatsu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hahaha, apa yang kamu bilang, Komachi-chan? Aku tidak sedang merasa nya… Oooh! Aku sudah masuk ke dalam kotatsu sebelum aku bahkan menyadarinya!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya bercanda. Aku memainkan sandiwara kecil tidak berarti itu selagi aku memasuki kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Mfmmeoow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, sinar inframerah panjang ini terasa nyaman pada tubuhku yang terbeku saat berjalan ke rumah pada jalan dingin di malam hari. Ketika aku merenggangkan kakiku, kakiku bersentuhan dengan sesuatu yang halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukan itu, sesuatu yang halus itu melilitkan tubuhnya pada kakiku. Apa sesuatu halus yang memiliki otakknya sendiri ini…? Nah nah&amp;lt;!--now then--&amp;gt;, mungkinkah itu kaki Komachi? Aku melihat ke arah Komachi dan ketika mata kami bertemu, Komachi membuat suatu seringaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dipikir dia mau melilitkan kaki kami bersama di bawah kotatsu… Akhir-akhir ini, adik kecilku sudah agak sedikit tidak biasa&amp;lt;ref&amp;gt; Saikin, Imouto no Yousu ga Chotto Okashiinda ga &amp;lt;/ref&amp;gt;. Sebenarnya, apa ini? Ini begitu memalukan…! Gadis manja sialan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendorong kakinya untuk memberitahunya untuk berhenti. Ketika aku melakukannya, perasaan halus itu pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, sesuatu datang merangkak keluar dari bawah kotatsu. Itu adalah kucing kami, Kamakura. Kelihatannya, itu bukan Komachi yang meliliti kakiku, tapi anak ini. Persisnya kenapa kucing cenderung suka memakai kakimu sebagai bantal, non?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kamakura meninggalkan kotatsu, dia merenggangkan diri dan membuat helaan panjang. Apa itu? Apa anak itu orang tua yang baru saja keluar dari sauna atau semacamnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia melihat ke arah wajahku, dia mendengus. Dia pastilah merasa tidak puas untuk diusir dari kotatsu oleh kaki terrenggangkanku. Atau mungkin itu karena kakiku bau… Itu membuatku kuatir, jadi tolong hentikan reaksi itu, oke…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu sedang menatap dengan begitu kerasnya pada Kaa-kun. Apa ada yang salah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Kamakura sudah keluar dari kotatsu, kelihatannya dia masih merasa dingin sebab dia melompat ke atas kaki Komachi dengan posisi roti tawar&amp;lt;ref&amp;gt; Posisi keempat kakinya dimasukkan ke bawah perutnya &amp;lt;/ref&amp;gt; dan mulai tertidur. Semua yang dia lakukan adalah tidur sepanjang sore, namun dia masih ingin pergi tertidur lagi? Menjadi seekor kucing itu tentu menyenangkan. Aku ingin hidup dengan gaya hidup itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:YahariLoveRom-v9-097.png|thumbnail|200px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi mulai membelai Kamakura selagi dia tertidur di kakinya. Aah, tidak peduli berapa banyak waktu yang sudah berlalu, setiap kali aku melakukan itu, dia hanya akan pergi ke tempat lain…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Er, itu benar. Melihat ke arah Komachi membuatku teringat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeei, Komachi-chan. Apa ini, hmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan surat yang masih berada pada kantong dada seragamku. Komachi mencondongkan dirinya ke depan untuk melihatnya tanpa membangunkan Kamakura. Dia kemudian dengan kalem berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Itu persis seperti yang kamu lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar ingin sebuah peralatan elektronik…? Persisnya apa adik kecilku itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi terlihat seperti dia tidak ingin menjelaskannya lebih jauh lagi dan bersenandung selagi dia membelai Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Yah, jika aku mendesakknya lebih jauh lagi, pesan di dalam surat itu akan muncul dan itu akan benar-benar memalukan. Aku akan cukup memakai daftar itu sebagai acuan ketika aku memikirkan beragam hadiah untuk dibeli buat Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua menghabiskan waktunya dengan hening dan termenung-menung tanpa membuat banyak percakapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, Kamakura berdiri. Dia menggaruk telinganya dengan kaki belakangnya dan membuat ekspresi siap &amp;lt;!--posed expression--&amp;gt;selagi dia meninggalkan ruang tamu. Dia kemudian pergi menuju pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, ibu kami sudah pulang. Kamakura agak hebat ketika dia datang menemui ibu dan Komachi ketika mereka kembali. Omong-omong, dia tidak akan pernah sama sekali menyapa aku dan ayahku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dalam sesaat, suara pintu masuknya terbuka dapat terdengar. Suara langkah kaki bergema selagi kaki tersebut memanjat tangga dan di ruang tamu muncullah ibu kami. Di belakangnya terdapat Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pulaaang. Aaah, begitu lelah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku meletakkan tasnya di tempat itu dan meniup kopi yang entahkah dibelinya sewaktu pulang atau dari suatu kafé. Komachi dan aku menyapa penampilan lelahnya dengan rasa berterima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang kembali, maaama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, kerja bagus. Di mana ayah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ayah juga sudah pulang, maka aku pikir aku bisa menuntut sejumlah uang darinya untuk hadiah Komachi, tapi ibuku membuat ekspresi kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HEI, HEI, MY MOTHER? YOU itu WIFE FATHERku, bukan? Bukankah kamu rasa kamu seharusnya sedikit lebih hormat terhadapnya? Atau apa itu karena kamu tidak tertarik dengan suamimu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama waktu-waktu musim ini, dia benar-benar tidak bisa pulang ke rumah karena dia baru nyaris bisa lewat&amp;lt;!--scraping by--&amp;gt; dengan jadwalnya itu, mungkin? Aku juga pulang dengan kerjaanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu kami mengatakan itu dengan begitu alamiah tanpa mencoba untuk membuatnya terdengar kurang serius. Daripada tidak tertarik sama sekali, itu lebih terlihat seperti itu hal yang sangat wajar bahwa dia tidak memperhatikannya. Hohmm, itu bervariasi tergantung pada tipe industrinya, tapi pekerja kantoran pada waktu-waktu musim ini benar-benar sibuk, bukan? Tidak mungkin aku bisa tahan pergi bekerja ketika sudah mendekati hari Natal, yang benar saja. Aku ingin menjadi orang dewasa yang akan menghabiskan waktunya dengan keluarganya selama musim Natal. Aku sudah pasti tidak akan bekerja. Selagi aku menguatkan tekad keras kepalaku, ibuku berkata ketika sesuatu terlintas di pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, Hachiman. Kamu senggang bukan? Pesan satu party barrel&amp;lt;ref&amp;gt; Kentucky Fried Chicken &amp;lt;/ref&amp;gt;. Dan juga kue.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahn?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus aku&amp;lt;!--Why I have to--&amp;gt;? Dipikir lagi, namun itu tidak pasti bahwa aku akan senggang? Respon “ahn” adalah respon yang tanpa dibuat-buat&amp;lt;!--in a nutshell--&amp;gt;. Tidak ada satu “oke”pun yang bisa ditemukan dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya meminta Komachi untuk melakukannya, tapi tahun ini mungkin lebih baik jangan begitu&amp;lt;!--work out so well--&amp;gt;…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentu saja. Berikan aku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu alasannya, maka aku sangat rela melakukannya. Sampai sekarang ini, aku tidak pernah begitu menyadarinya, tapi ketika aku murid yang sedang ikut ujian, Komachi mungkin juga melakukan cukup banyak hal untuk kami. Sebenarnya, Komachi toh melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Pada saat-saat seperti ini, aku paling tidak seharusnya melakukan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawab, Komachi menyela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun Komachi bisa melakukan setidaknya segitu banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi untuk beberapa alasan, ibu kami membuat setengah senyuman selagi dia melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Sekarang ini saja pekerjaan kami sudah banyak mendesakkan tanggung jawab kami padamu, Komachi. Setidaknya biarkan onii-chan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, salah. Itu salah. Aku memiliki banyak motivasi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi hanya saja setiap kali aku memikirkan “Aku akan melakukan pekerjaan rumah tangganya”! Pada saat itu, semuanya sudah selesai dikerjakan &amp;lt;ref&amp;gt; Jojo’s Bizarre Adventure. Kalimat yang diucapkan Prosciutto. Kalimat aslinya “Setiap kali kami memikirkan kata itu (Bunuh)… Kenyataannya, itu sudah terjadi!” &amp;lt;/ref&amp;gt; (oleh tangan Komachi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki adik kecil yang kompeten merupakan suatu berkah dan suatu kutukan yang merupakan alasan yang akan kuberikan, tapi ibuku tidak terlihat sedikitpun tertarik dengan reaksiku selagi dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku lupa untuk menarik uang. Apa lain kali tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab dengan singkat, ibuku mengucapkan terima kasih dengan suatu helaan, membunyikan bahunya, dan meninggalkan ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Komachi melihat punggung lelah ibu, dia menyelipkan beberapa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia bahkan tidak perlu kuatir dengan Komachi juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu hanya kasih sayang orang tua. Tidak perlu kuatir dan fokus saja sama belajarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan itu, Komachi menyipit untuk sejenak. Tapi untuk menutupinya&amp;lt;!--play it off -&amp;gt; Made as if previous thing you do is a joke(not serious)--&amp;gt;, dia membuat tawa tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, mengatakan itu hanya agak sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, tidak, maaf. Tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara refleks memberitahunya untuk berusaha keras belajar&amp;lt;!--try your best in her studies--&amp;gt;, tapi dari sudut pandang seorang murid yang mengikuti ujian, itu adalah suatu frasa yang benar-benar sudah capek didengarnya. Lagipula, tidak mungkin, Komachi, adik kecil tololku itu bisa bermalas-malasan&amp;lt;ref&amp;gt; OreImo &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberitahu seseorang untuk berusaha sebisanya ketika mereka sudah melakukannya bukanlah sesuatu yang seharusnya kamu lakukan, kurasa. Dari awalpun, untuk diberitahu akan hal itu oleh orang yang tidak sedang berusaha keras hanya akan menjengkelkan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagaimana aku bisa menyemangatinya kalau begitu? Selagi aku mengerang, Komachi tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu hanya perlu mengatakan ‘Aku mencintaimu’ pada saat-saat seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, begitu. Aku mencintaimu, Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi tidak merasa seperti itu, tapi terima kasih, onii-chan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu jahat…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu air mata mendadak jatuh dari mataku. Baru saja, onii-chan juga mengatakannya dengan segenap hati&amp;lt;!--put a lot of heart into it--&amp;gt;. Aku bahkan juga menyorot lampu remnya lima kali&amp;lt;ref&amp;gt; Kode Morse untuk aishiteru &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi tersenyum geli untuk sejenak dan kemudian dia berdiri. Kelihatannya dia akan kembali belajar di kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke! Itu perubahan suasana yang bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa senang untukmu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, berhenti dan melakukan hal yang lain itu bagus untukmu oke? Macam, ketika kamu terjebak dalam situasi sulit&amp;lt;!--driven in a corner--&amp;gt;, itu lebih baik mengalihkan perhatianmu dengan hal yang lain, kamu tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu… Yah, ya, itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hanyalah alasan untuk melarikan diri, bukan? Aku mencoba mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika seseorang di suatu tempat yang mengalihkan matanya dengan cara yang sama terlintas dalam pikiranku, aku sama sekali tidak bisa mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Mundur ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Kembali ke&#039;&#039;&#039; [[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Lanjut ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Translasi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references&amp;gt; &amp;lt;references/&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450035</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450035"/>
		<updated>2015-07-03T06:44:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 2-4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 2: Tanpa Masalah, Kongresnya Menari&amp;lt;ref&amp;gt; [http://en.wikipedia.org/wiki/Der_Kongre%C3%9F_tanzt Kongresnya Menari (The Congress Dances)] &amp;lt;/ref&amp;gt;, namun Tidak Ada Kemajuan==&lt;br /&gt;
===2-1===&lt;br /&gt;
Pusat komunitas dimana Isshiki dan aku akan bertemu itu lumayan dekat dengan sekolah kami. Tidak memakan lebih dari beberapa menit untuk sampai ke sana menaiki sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku masih belum pernah menginjakkan kaki di pusat komunitas itu. Tapi karena aku cenderung lumayan sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hariku, aku tidak ada masalah dalam menemukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persis di samping stasiun itu terdapat pusat bisnis besar MARINPIA (aka: MariPin). Ketika hari sudah sore, pemandangan banyak ibu-ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar akan menonjol. Dan di antara mereka terdapat para murid. Berkat MarinPin didirikan di area tersebut, itu merupakan tempat yang cocok bagi murid SMA untuk mampir dan bersenang-senang sewaktu mereka akan pulang ke rumah. Sama seperti mereka&amp;lt;!--in the same way--&amp;gt;, aku akan kadang-kadang mampir ke toko buku, &#039;&#039;arcade&#039;&#039;, dan bahkan tempat baseball dalam ruang&amp;lt;ref&amp;gt; Tempat itu ada mesin bola baseball yang akan menembakkan bola pada si pemain untuk dipukulnya. [http://en.wikipedia.org/wiki/Batting_cage Batting Centre] &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku sampai ke pusat komunitas itu, aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang sekeliling tempat itu sekilas dengan gelisah, tapi Isshiki tidak terlihat dimanapun. Yah, itu tidak seperti kami ada menentukan waktu pasti kapan kami akan bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ini akan terjadi, mungkin kami seharusnya datang bersama dari awal…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada cara selain untuk bertemu di luar sekolah untuk menjaga fakta bahwa aku sedang membantu Isshiki sendirian agar tidak sampai ke Yukinoshita dan Yuigahama. Untuk menerima suatu permintaan yang berkaitan dengan OSIS sekarang ini di depan Yukinoshita itu suatu hal yang kejam untuk dilakukan. Meskipun demikian, itu akan tidak bertanggung-jawab untuk menolak permintaan Isshiki mentah-mentah. Ada juga pilihan untuk mengecualikan Yukinoshita, tapi itu terasa seperti suatu pengkhianatan yang buruk sekali. Mempertimbangkan bagaimana keadaan Klub Servis pada saat ini, memilih untuk menerima permintaan ini secara pribadi &amp;lt;!--as a personal favor--&amp;gt;seharusnya merupakan pilihan yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kembali kesimpulan dalam kepalaku itu dan duduk di undakan tangga di dekat pintu masuk pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk disana termenung-menung dan yang datang dari toko swalayan di seberang adalah Isshiki. Di tangannya terdapat kantong plastik yang terlihat berat. Setelah menyadari keberadaanku, dia berlari kecil ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaafkan aku untuk membuatmu menunggu. Aku harus pergi berbelanja sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu helaan seakan kantong plastik toko swalayan itu berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak, tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menjawabnya, aku berpaling ke arah Isshiki dan mengulurkan tanganku. Ketika aku melakukannya, untuk beberapa alasan, Isshiki dengan lembut mengelak tanganku dan terus melihat ke arahku. Dia memiringkan kepalanya merasa tidak yakin akan arti di balik tindakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan tampang jengkelmu itu? Bukankah barusan tadi itu pesonamu untuk membuatku mengambilkan kantongnya untukmu karena itu berat”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, Isshiki menggosok rambutnya dan dengan lembut mengalihkan pandangannya dariku. Wajahnya sedikit merona seakan dia merasa kaget atau bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa… Aah, tidak, aku hanya sedang bertingkah seperti diriku tadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itu benar, huh? Bagi dirinya, dia cenderung untuk memandang para lelaki hanya sebagai pekerja jadi aku berakhir berpikir itu adalah jenis pesona yang sedang dilakukannya. Lihat, itu persis seperti bagaimana Tobe dengan alamiah menjadi si pria suruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mematung untuk sejenak, tapi dia tiba-tiba siap siaga setelah mendadak menyadari sesuatu&amp;lt;!--poised herself with a sudden realization--&amp;gt; dan menjauh selangkah dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha! Mungkinkah kamu sedang mencoba memikatku barusan, maafkan aku, untuk sejenak itu membuat jantungku berhenti sebentar, tapi sekarang setelah aku memikirkannya secara rasional, itu benar-benar tidak akan berhasil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persisnya mau berapa kali aku akan terus ditolak oleh gadis ini…? Bahkan penolakannya sudah jadi menjengkelkan sekarang…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jika itu cukup untuk membuat jantungnya berhenti sejenak, maka dia lebih baik berhati-hati karena dia tidak akan bisa pergi melakukan perjalanan dengan damai. Tidak mungkin jantungmu akan berhenti sejenak ketika si pramugari onee-san di pesawat mengambilkan barang-barangmu. Tidak mungkin, bukan…? Tidak, pasti akan berhenti (perbaikan si pramugari). Tidak, tunggu. Itu tidak harus seorang pramugari karena onee-san kerah biru &amp;lt;ref&amp;gt; Kerah biru berarti orang yang melakukan pekerjaan manual &amp;lt;/ref&amp;gt;juga akan membuat jantungmu berhenti sejenak… Seperti yang bisa diduga, wanita dengan karir fisik itu menabjubkan! (perbaikan si orang yang bercita-cita jadi bapak rumah tangga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, terserahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya mengabaikan apa yang dikatakan Isshiki dan mengambil kantong plastik itu dari tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah… Terima kasih banyak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meremas lengan baju kemeja cardigannya dan dengan penuh semangat membungkukkan kepalanya. Berkat itu, aku tidak dapat mengetahui apa bentuk ekspresinya itu, tapi kata-kata berterima-kasih sopan yang tak terduga itu membuatku merasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak apa-apa. Itu hanya bagian dari tugasku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia begitu bersikeras untuk mengungkapkan rasa berterima-kasihnya untuk sesuatu seperti ini setiap kali, akhirnya, dia akan berakhir meniru &amp;lt;!--adopting--&amp;gt;kebiasaan Komachi untuk mengatakan “terima kasih banyak onii-chan, aku cinta kamu”, sialan. Niatanku adalah untuk memberitahunya secara tidak langsung untuk tidak usah begitu heboh, tapi pada saat selanjutnya, aku segera menyesalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waaa! Beeegitu handal! Kalau begitu, maka aku akan terus bergantung padamu lain kali ♪.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengaitkan jari-jarinya di depan dadanya dan tiba-tiba membuat senyuman berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, barangnya mendadak terasa seakan itu menjadi lebih berat barusan… Namun, apa saja yang ada disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kantong plastik itu terasa lebih berat dari yang kusangka, aku mendapati diriku melirik ke dalam kantong itu dan didalamnya terdapat beraneka ragam makanan ringan dan jus. Yah, untuk sebuah konferensi seperti ini, itu biasa untuk memiliki makanan seperti kue-kue dan katering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suara percakapan menjadi lebih kecil, orang-orang akan mengisi keheningan itu untuk sementara dengan memakan makanan ringan mereka dan meminum teh mereka. Itu mirip dengan situasi di mana kamu membuat tawa hambar “haha” di tengah suatu percakapan dan mereka memakan sebutir FRISK segera setelahnya. Setelah mereka melakukan itu, kamu tidak bisa tidak menduga “aah, orang ini benar-benar tidak tahu apa yang mau dibicarakan&amp;lt;!--at a loss--&amp;gt; ketika berbicara denganku…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong, jika seseorang yang bahkan tidak berbicara tiba-tiba menawarkan, “apa kamu mau permen FRISK?”, itu adalah suatu tanda bahwa dia sedang secara tidak langsung mengatakan “nafasmu bau”! Waspadalah! Ada peluang dia mungkin menderita suatu penyakit dalam! Dari semua hal yang ada, itu hal yang harus diwaspadai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, namun pemilihan makanan ringan itu agak sulit juga. Makanan ringan yang keras dan mempunyai bau yang kuat dapat sebaliknya menjadi menggangu. Dengan demikian, aku melirik ke dalam kantong plastiknya untuk melihat apa yang Isshiki beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Makanan ringan coklat berukuran-kecil, permen tenggorokan rasa buah dan cracker beras lembut… Yap, ini bukanlah pilihan yang buruk. Itu semua ada di dalam bungkusannya masing-masing jadi ini juga mendapatkan nilai tinggi. Dengan ini, kamu tidak akan perlu menyediakan piring dan semacamnya dan kamu juga bisa mencegah mengotori tanganmu. Ditambah lagi, itu tidak akan begitu merepotkan untuk diurus ketika sudah waktunya untuk pulang ke rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooo, kamu mengejutkannya pengertian, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tegasku, dengan sedikit terkesan, dan Isshiki membuat suatu ekspresi jengkel serta dongkol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu maksud dengan ‘mengejutkannya’…? Aku perlu memberitahumu bahwa aku itu orang yang sangat pengertian. Yah, walau pihak mereka juga menyediakan beberapa makanan ringan juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh. Kalau begitu apa kita bahkan memerlukan ini? Toh, semua biayanya akan ditanggung pihak mereka. Kenapa tidak cukup memakan semua makanan ringan mereka saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak bisa benar-benar melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia menjawab, ekspresi Isshiki mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Memang, itu terlihat seperti dia benar-benar sedang bersikap pengertian dalam berbagai cara. Jika pihak mereka menyediakan sesuatu, kami tidak bisa cukup datang dengan tangan kosong setiap kali. Singkatnya sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebenarnya lebih merepotkan untuk bersikap sepengertian ini dalam keadaan dimana kami diundang hanya sebagai tamu saja. Tapi selama dua sponsor gabungan mengenai acara ini memiliki kedudukan yang sama, maka mereka harus setidaknya mempertahankan hubungan setara ini meskipun itu sesuatu yang sederhana seperti membawa datang makanan ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus bekerja bersama-sama sekolah lain itu masalah yang cukup menyusahkan. Karena itu akan berlanjut&amp;lt;!--extend--&amp;gt; ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya juga, pertanyaan tentang bagaimana itu akan mempengaruhi keadaannya membuatnya terasa seakan kantong plastik di tanganku menjadi satu tingkat lebih berat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diajak oleh Isshiki, aku berjalan masuk ke dalam pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, aku tidak pernah mengunjungi pusat komunitas ini sebelumnya, jadi persisnya apa itu yang kamu lakukan di dalam sini? Aku heran, apa mereka menyembuhkan komunitasmu dengan BGM Ten Ten Terorin ♪ BGM&amp;lt;ref&amp;gt; Musik Pokemon ketika pokemonnya disembuhkan &amp;lt;/ref&amp;gt; atau apa? Pusat monster apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kami benar-benar memasukinya, bagian dalamnya mirip sebuah kantor pemerintah dengan suasana dingin dan damai yang terus berlanjut. Itu adalah suasana yang membuat kamu berpikir dua kali sebelum berteriak dengan suara keras. Perpustakaan yang ada di lantai satu mungkin merupakan alasan untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti Isshiki ke lantai dua dan suasananya berubah sedikit. Suara orang berbicara dan musik dapat terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangganya terus menjulang ke atas. Ada suara musik yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku heran, apa yang mungkin sedang mereka lakukan?” Selagi aku memikirkan ini, aku melihat ke atas tangga dan begitu pula dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada suatu aula besar di lantai tiga. Kelihatannya mereka akan menyelenggarakan acara Natalnya di atas sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terlihat seperti ada semacam tarian atau sebuah klub yang sedang di tengah-tengah melakukan aktivitas mereka di atas sana yang terbukti dari getaran yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu… Singkatnya, ini sama saja dengan pusat komunitas pemerintah. Ini adalah suatu bangunan publik&amp;lt;!--establishment--&amp;gt; dimana para penduduk lokal akan berkumpul untuk melakukan berbagai aktivitas dan acara-acara. Jadi, apa bedanya ini dengan pusat komunitas pemerintah? Ukurannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu familier dengan bangunan ini jadi aku dengan risih melihat sekeliling. Isshiki yang maju jauh di depan berhenti di depan pintu suatu ruangan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas pintu tersebut tertulis “Ruangan Seminar”. Kelihatannya mereka menyewa ruangan ini untuk menyelenggarakan konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengetuk pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, silahkan masuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suatu suara memanggil dari dalam, Isshiki menarik nafas kecil dan meletakkan tangannya pada pintu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu tersebut, suara-suara keributan&amp;lt;!--clamor of voices--&amp;gt; tumpah dari ruangan itu. Keberadaan meja-meja dan kursi-kursi membuat ruangan itu terasa seperti sebuah ruang kelas di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas kerja kerasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki memberikan sapaan riangnya&amp;lt;!--bubbly-like--&amp;gt; selagi dia masuk ke dalam ruangannya terlebih dulu. Bahkan setelah aku mengikutinya ke dalam, tidak ada tanda-tanda suara obrolan itu akan menghilang. Ditambah lagi, tidak ada satu orangpun yang mengarahkan pandangan mereka padaku. Semua orang kelihatannya sedang terasyikkan dalam percakapan mereka sendiri sehingga mereka tidak begitu tertarik denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu terlihat seperti Isshiki benar-benar diakui sebab suatu suara yang datang dari kelompok itu memanggil dirinya. Dilihat lebih dekat, orang yang memanggilnya dengan satu tangan terangkat itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan seragam SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iroha-chan, sebelah sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, seeeeelamat sore.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki melambaikan tangannya selagi dia menuju ke arah kelompok itu. Aku tentu saja mengikuti persis di belakangnya. Ketika aku melakukannya, sekarang setelah aku berada di depannya, si laki-laki yang memanggil Isshiki melihat ke arahku dengan ekspresi kebingungan. Dia kemudian dengan pelan berbisik ke arah telinga Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, salah satu kaki tangan&amp;lt;!--helping worker--&amp;gt; kami!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu suatu penjelasan yang kurang ajar melihat betapa besarnya seringaianmu itu, benar bukan, Isshiki? Tapi bahkan dengan perkenalan semacam itu, laki-laki itu membuat seruan terkesan “ooh” dan berpaling ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku Tamanawa. Aku ketua OSIS SMA Kaihin Sogo. Senang berjumpa denganmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ah, senang berjumpa denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba diberikan perkenalan mendadak yang tak kusangka, aku bimbang tentang apa aku seharusnya memberitahu namaku juga yang dimana Tamanawa tidak terlihat keberatan selagi dia meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku benar-benar senang kami bisa merencanakan ini bersama dengan SMA Sobu. Aku sedang berpikir akan bagaimana kita perlu membentuk suatu HUBUNGAN REKAN yang akan membawa sebuah efek SINERGI dimana kita bisa saling MERESPEK satu sama lain, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Jangan memulainya dengan kalimat lucu&amp;lt;!--good punch--&amp;gt;, meeen. Setengah dari apa yang dia katakan masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tapi kelihatannya Tamanawa adalah orang yang menyusun konferensi acara Natal ini. Aku menyadarinya dari kata-kata pilihan yang diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena posisi Tamanawa sebagai ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, hanya berbicara dengannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya terseret ke dalam percakapannya. Pada saat tersebut, orang-orang memperkenalkan diri mereka, tapi, jujur saja, aku tidak dapat mengingat mereka semua. Yah, setelah acara ini selesai, kami tidak akan bertemu lagi, jadi tidak perlu untuk memasukkan satupun dari mereka ke dalam ingatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya harus menghadapi begitu banyak orang saja sudah lumayan melelahkan. Aku secara refleks membuat suatu helaan. Aku meninggalkan sisanya pada Isshiki, duduk di suatu tempat duduk yang lebih jauh dan mengamati Isshiki dan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukannya, mataku bertemu dengan mata seseorang yang memiliki tampang bingung di kerumunan orang itu. Orang itu berkedip kaget setelah melihatku. Dan kemudian orang itu berdiri dan berjalan ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Hikigaya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika namaku dipanggil oleh orang yang mengejutkan, aku terkaget dan terlambat meresponnya. Tak kusadari, setetes keringat mengalir jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam SMA Kaihin Sogo gadis itu agak sedikit kusut dan dia sedang menyisiri rambut &#039;&#039;perm&#039;&#039; hitamnya dengan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orimoto Kaori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah teman sekelas dari SMPku dan juga gadis yang kunyatai cintaku dahulu kala. Hanya baru-baru ini saja, kami mendapat pertemuan yang tak terduga dan kemudian aku terlempar ke dalam situasi yang tak terduga. Apa yang terjadi dahulu kala dan baru-baru ini bukanlah kenangan yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipikir-pikir lagi, Orimoto masuk ke SMA Kaihin Sogo, bukan? Fakta bahwa dia ada di sini berarti dia terlibat dengan OSIS, huh…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecurigaan itu juga dipikirkannya kelihatannya. Dia membuat seruan&amp;lt;!--voice--&amp;gt; kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, kamu masuk ke OSIS?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawabnya, Orimoto mengangguk dengan yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya. Kalau begitu kurasa situasi kita sama. Aku ada di sini karena ada teman yang mengajakku, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia mengatakan itu, Orimoto melirik ke belakangku dan melihat ke sekeliling dengan gelisah. Apa dia sedang mencari sesuatu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, apa kamu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, sama seperti biasanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab, Orimoto mendengus dan tertawa terbahak-bahak selagi dia memegangi perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan, itu super kocak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak kocak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang kocak di sini… Lagipula, aku bukan yang menerimanya! Dan aku juga bukan yang memberikannya&amp;lt;ref&amp;gt; Kalimat Fujoshi. Orimoto berkata “ukeru” yang juga dipakai dalam percakapan fujoshi, uke and seme &amp;lt;/ref&amp;gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, berkat Orimoto, aku memiliki pemahaman yang sedikit lebih baik mengenai kelompok ini. Walaupun ini adalah suatu konferensi acara di antara OSIS dua sekolah, SMA Sobu, kelihatannya bahkan relawan juga berpartisipasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah pihakmu, macam, kekurangan anggota? Atau apa hanya kami yang banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat bahwa hari ini adalah yang pertama kalinya aku di sini, aku tidak begitu sadar akan situasi di dalam ruangan ini. tapi ketika aku melihat ke sekeliling ruangan, SMA Kaihon Sogo hanya ada sekitar sepuluh orang. Di sisi lain, pihak SMA Sobu ada…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huh? OSIS kami… Aah, di sana mereka. Mereka berkerumun di sudut sebelah sana. Jumlah anggota selain aku dan Isshiki yang mengenakan seragam mereka ada satu, dua… empat orang huh? Ditambah lagi, tidak seperti anggota dari SMA Kaihin Sogo, anggota kami terlihat lemah jika dibandingkan. Itu terlihat agak memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, kami tidak ada banyak anggota…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Duh, kamu bisa mengetahuinya dengan hanya melihatnya saja… Yah, tidak seperti itu penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu, Orimoto terlihat seakan dia tidak tertarik lagi dan segera meninggalkan sisiku ke tempatnya semula. Isshiki kembali seakan dia ku-tag. Isshiki terus menatap ke arah Orimoto dengan cermat dan kata-kata itu terselip keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, ada yang kamu kenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caramu mengatakan itu terdengar seperti kamu sebenarnya sedang berkata “ada orang yang kamu kenal?” Mari hentikan itu, oke, Irohasu? Juga, kamu, kamu pernah melihatnya setidaknya sekali sebelumnya, bukan? Dia mungkin tidak ingat karena dia begitu jauh waktu itu. Pertama-tama, aku agak sedikit tidak yakin bagaimana pergi menjelaskan ini, tapi berkat itu, pada akhirnya aku bisa melemparkan jawaban biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Yah, hanya teman sekelas dari SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Isshiki menanyakan mengenainya, dia tidak terlihat begitu tertarik selagi dia duduk dan mulai membagikan makanan ringan yang dia beli. Melihat itu, orang-orang dari SMA Kaihin Sogo mulai menyiapkan makanan ringan dan minuman mereka juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya rapatnya sudah akan segera dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik pihak Kaihin Sogo dan pihak Sobu pergi ke tempat duduk mereka yang sudah ditentukan. Semua orang duduk di tempat duduk mereka yang dijejerkan mengelilingi meja berbentuk C itu. Sekarang kalau begitu, sudut mana yang sebaiknya kududuki…? Melindungi salah satu dari empat sudut itu membuatku benar-benar merasa aku adalah salah satu Empat Hewan Suci&amp;lt;ref&amp;gt; [http://digimon.wikia.com/wiki/Digimon_Sovereigns Raja Digimon] &amp;lt;/ref&amp;gt; atau begitulah yang kupikir sampai lengan bajuku ditarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, silahkan duduk di sebelah sana~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, Aku tidak masalah dengan di sudut saja…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengatakan itu, Isshiki tidak mau melepaskan lengan bajuku. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari tangan yang menangkapi diriku, tapi Isshiki terus memeganginya. Ada apa dengan kekuatan ini? Caranya memegang padaku itu begitu imut, tapi aku bahkan sama sekali tidak bisa melepaskan diri…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayola&#039;, ayola&#039;, sudah mau dimulai, kamu tahuuu~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan menarik lengan bajuku dengan lebih kuat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, oke. Kamu akan menggoyaknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, tidak peduli dimana aku duduk, aku toh tidak akan mengatakan apapun, jadi itu akan sama saja pada akhirnya. Kalau begitu, tempat duduk dengan makanan ringan tepat di depanku itu akan bagus untukku. Aku dengan enggan menyerah dan duduk di samping Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun itu meja berbentuk C, tepat di tengah-tengah adalah tempat duduk ulang tahun yang ditempati oleh ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Kami, SMA Sobu, duduk di sisi kanan meja itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika aku melihat lebih cermat lagi, persis seperti yang dikatakan Orimoto tadi, pihak mereka memiliki anggota yang lebih banyak. Kalau hanya menyangkut jumlah, mereka memiliki dua kali lipat jumlah anggota, tapi itu terasa seperti bahkan ada perbedaan yang lebih besar lagi dalam substansi dari jumlah anggota mereka. Alasan utamanya mungkin ada berhubungan dengan level keributan mereka. Para gadis dan lelaki di SMA Kaihin Sogo terlihat hidup sementara pihak SMA Sobu terlihat mati jika dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, melihat bahwa pihak mereka-lah yang menyarankan ide ini, perbedaan dalam motivasi itu sesuatu yang tidak bisa diapa-apakan. Aku rasa itu sesuatu seperti antara mereka yang merupakan para penyelenggara acara dan mereka yang merupakan pendukung acara. Perbedaan mereka jelas ditunjukkan dalam urutan tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari situasinya, kelihatannya neraca kekuatannya condong ke arah SMA Kaihin Sogo dengan mereka sebagai pihak utama dalam berbagai hal sementara SMA Sobu ditunjuk sebagai pihak pendukung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ketua pihak mereka, Tamanawa, memastikan bahwa semua orang telah mengambil tempat duduk mereka, dia menepuk tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eeerm, kami sekarang akan memulai konferensinya. Aku berharap untuk dapat bekerja sama dengan kalian semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara seperti dia sudah terbiasa dengannya dan semua orang membungkukkan kepala mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, konferensinya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa memanggil satu orang dari kelompok rekan satu timnya yang bergerak menuju ke depan papan tulis. Selagi suara spidol menekan ke bawah bergema, Tamanawa membuka mulutnya selagi dia mengamati dengan pandangan menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mirip seperti sebelumnya, mari kita melakukan sedikit BRAINSTORMING.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh, apa-apaan? Itu begitu keren. Walau aku tidak bisa memakai kemampuan macam itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau begitulah yang kupikir untuk sejenak, tapi dia sebenarnya hanya mengacu pada diskusi. Ada berbagai jenis definisinya, tapi itu singkatnya berarti sekelompok orang akan sebebasnya mengutarakan ide-ide mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Topik diskusinya akan dilanjutkan dari yang sebelumnya dan kita mengharapkan beberapa IDE mengenai KONSEP dan isi acara itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Tamanawa melanjutkan urusannya, pihak SMA Kaihin Sogo mulai mengacungkan tangan mereka satu per satu, masing-masing memberikan pendapat mereka mengenai topik permasalahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati mereka untuk sejenak. Maksudku, kalian tahu, singkatnya seperti itu. Memberikan idemu ketika kamu bahkan tidak memiliki pemahaman mendasar dari situasinya hanya akan berakhir menjadi penganggu. Itu tidak seperti aku sedang mencoba untuk mencari cara gampang untuk melakukannya atau mengelak dari tugas, aku hanya sedang bersikap pengertian!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang dari pihak mereka mengatakan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita mempertimbangkan tuntutan terhadap kita para murid SMA, kita sudah pasti harus membuat INOVASI dalam area-area mengenai PEMIKIRAN anak-anak muda…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu, Begitu ya. Pemikiran bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi, seorang murid lain di sebelah sana berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, maka jelas itu berarti kita pasti akan harus berpikir untuk membentuk suatu kondisi SAMA-SAMA SENANG dengan pihak KOMUNITAS sebagai prasyaratnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O-Oke. Yah, aku mengerti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, satu orang lagi dari pihak mereka berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika begitu, maka kita mungkin harus menaruh pertimbangan strategik dalam BIAYA-MANFAAT&amp;lt;ref&amp;gt; Cost performance: artinya suatu manfaat/keuntungan yang didapat dengan mengeluarkan biaya tertentu (Manfaat/Biaya). Idealnya ya manfaat setinggi-tingginya dengan biaya sekecil-kecilnya. &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi kita akan menarik suatu KONSENSUS untuk itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Y-Ya… Benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengamati mereka tanpa bersuara sampai saat tersebut, pemikiran itu tiba-tiba menghantamku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ada apa dengan konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya aku tidak paham sama sekali tentang apa yang sedang mereka lakukan, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah itu? Aku heran, mungkinkah karena aku itu tolol sehingga aku tidak bisa mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir dengan cemas, aku melihat pada Isshiki yang sedang duduk di sampingku dan dia sedang menganggukkan kepalanya selagi menyerukan “Whoa…” dengan suara terkagum. Kamu memahaminya? Phone a friend.&amp;lt;ref&amp;gt; Who wants to be a millionaire &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan buruk jika aku ketinggalan meskipun aku berada di sini untuk membantu, jadi aku dengan diam-diam memastikannya dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Isshiki, apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berbisik padanya, Isshiki memutar kepalanya sedikit ke arahku. Dia dengan imut memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh…? Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”, jangan beritahu aku, kamu… Siapa kamu, si pemain tenis meja, Ai-chan&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Ai_Fukuhara Ai Fukuhara] - Ini ada hubungannya dengan bagaimana Isshiki berkata “Mana kutahu?” yang merupakan “saa” dan Ai Fukuhara kelihatannya mengatakan “saa” dalam pertandingannya atau apalah. Itu seperti sejenis teriakan untuk menyemangati dirinya dalam pertandingan.&amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis ini, dia tidak mengerti satupun dan dia masih memiliki reaksi itu? Aku melihat ke arahnya dengan tampang kaget, tapi Isshiki tidak terlihat menghiraukan itu. Senyuman kecilnya tidak mengatakan apapun selain. “jangan kuuuatir, semua baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pihak mereka sedang mengeluarkan semua ide-ide mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoohm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi jika pihak mereka yang melakukan tugas berpikirnya, maka pihak kami hanya perlu mengerjakan semuanya&amp;lt;!--put everything to action--&amp;gt;… Yah, kalau begitu, hanya aku sendiri saja sudah akan cukup kelihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak membenci kerja keras yang sederhana. Melakukan suatu pekerjaan berulang-ulang tanpa henti seperti mesin itu mengikis jiwa, tapi jiwaku sudah sepenuhnya jauh terkikis, belum dibilang tidak tahu malu lagi. Jika aku tidak perlu bersikap pengertian deengan orang lain dan aku bisa tidak perlu memakai kepalaku, maka itu merupakan suatu surga dalam caranya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmkei, kalau begitu aku lebih baik mendengarkan apa yang sedang terjadi supaya aku bisa setidaknya melakukan apa yang perlu kulakukan. Tapi itu terasa seperti percakapan mereka tidak ada substansi apapun di dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai persoalan itu, Tamanawa yang sedang memimpin rapat itu terlihat seperti dia merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semuanya, bukankah ada sesuatu yang lebih penting…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Tamanawa mengucapkannya dengan nada berat, hawa dingin menjalari tempat dudukku. Seperti yang bisa diduga dari yang menjadi ketua OSIS, kehebatannya itu cukup sesuatu&amp;lt;!--something to behold--&amp;gt;. Semua orang memusatkan perhatian mereka menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, Tamanawa memandang ke sekeliling pada keseluruhan Ruangan Seminar itu dan membuat gerakan tangan yang sedikit berlebih-lebihan yang terlihat seperti dia sedang memutar roda tembikar dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu memakai PEMIKIRAN LOGIS ketika kita memikirkan tentang sesuatu secara logis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kamu hanya mengatakan hal yang sama? Persisnya mau berapa kali kamu akan berpikir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu mendukung PIHAK PELANGGAN&amp;lt;!-- make a stand on--&amp;gt; dari sudut pandang pelanggan, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kubilang, bukankah kamu hanya mengucapkan hal yang sama? Persisnya ada berapa banyak pelanggan yang akan kamu dapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa seperti aku sedang memiliki senyuman berkedut yang muncul di wajahku. Tapi semua orang lain memiliki ekspresi “oh, begitu” dan sedang melihat pada Tamanawa dengan mata berbinar-binar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Itu tidak bagus. Ketua ini dan yang lain adalah orang-orang yang mengikuti pola-pola yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, ini adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang serupa atau mungkin perkumpulan orang-orang yang terlihat ingin mengincar sesuatu. Alur konferensi ini tidak berubah selagi itu berlanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kita harus mempertimbangkan ALIH DAYA juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi dengan METODE kita sekarang ini, itu mungkin agak sedikit sulit, dari sisi-SKEMATIK.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Kalau begitu, ada kemungkinan bahwa kita perlu memRSCHD hal-hal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan itu RSCHD&amp;lt;ref&amp;gt; Reschedule, penjadwalan ulang &amp;lt;/ref&amp;gt;? Sebuah toko dengan lidah sapi yang lezat &amp;lt;ref&amp;gt; Watari suka makan di luar, jadi kurasa ini restoran yang dikunjunginya yang menawarkan lidah sapi &amp;lt;/ref&amp;gt;? Kenapa mereka-mereka ini terus-terusan memakai katakana &amp;lt;ref&amp;gt; Seperti yang kalian lihat, ada banyak kata-kata yang di CAPS LOCK dan ini menandakan kata-kata dalam katakana yang merupakan salah satu sistem tulisan yang biasanya dipakai untuk kata-kata serapan&amp;lt;!--pinjaman--&amp;gt; dari bahasa asing. Namun, kata-katanya digunakan sebegitu seringnya seperti yang dikatakan oleh Hachiman seperti buzzword (kata-kata teknis yang populer untuk suatu waktu yang biasanya hanya untuk pamer macam SINERGI itu tadi).&amp;lt;/ref&amp;gt;? Ruu Ooshiba&amp;lt;ref&amp;gt;[http://keroro.wikia.com/wiki/Ruu_Ooshiba Ruu Ooshiba] - dia menuliskan nama penanya dalam katakana &amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menginovasi sebuah INOVASI! NEGOSIASI yang didiskusikan dan dinegosiasikan! Rencana yang tersolusikan itu suatu SOLUSI! Pengulangan itu terus berlanjut. Aku pikir ide mereka itu tidaklah HIP - HOP karena kesadaran mereka jelas sekali HOP - UP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fueee… Kesadaranku begitu tiiiiingi sekali… Itu terasa seperti kesadaran&amp;lt;!--conscience--&amp;gt; kecil dan malangku itu naik jauh di atas ke suatu tempat…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mana kita datang dan kemana kita pergi?&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Where_Do_We_Come_From%3F_What_Are_We%3F_Where_Are_We_Going%3F Where do we come from what are we doing?] &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sebuah konferensi dimana pemikiran itu tiba-tiba melintas dalam pikiranku. Dari manalah konferensi ini datang dan mau kemana konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konferensi itu akhirnya berakhir dengan tidak ada keputusan yang menyerupai kesimpulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi BRAINSTORMING umumnya sesuatu seperti itu. Sebuah diskusi umumnya sesuatu dimana kamu mengeluarkan beraneka ragam ide. Itu digelar dengan tujuan untuk membuat kemajuan. Dengan demikian, ternyata konferensi ini sendiri mungkin tidak begitu hampir se-tidak berguna itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu hal yang sedikit menangkap perhatianku dan itu adalah bagaimana sebagian besar sarannya datang terutama dari SMA Kaihin Sogo. Walaupun hadir, SMA Sobu sebagian besar tidak mengatakan apapun. Yah, jika hal-hal tadi seperti “proklamasi yang sangat sadar&amp;lt;ref&amp;gt; Sangat sadar maksudnya suka mengujarkan apa yang sulit dipahami orang lain (biasanya istilah-istilah teknis) (Sok pintar)&amp;lt;/ref&amp;gt;” itu terus menerus dilontarkan, maka menjadi gugup itu wajar. Bahkan sang ketua Isshiki tidak terlihat seperti dia juga akan mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berbicara mengenai Isshiki itu, dia kelihatannya sedang berbicara tanpa henti dengan ketua SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, aku tidak ada yang bisa dilakukan, jadi aku mengamati Isshiki dengan termenung-menung dari tempat yang sedikit jauh. Ketika aku melakukannya, Isshiki menyadari keberadaanku dan memotong percakapannya pada bagian yang pas dan mendekatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, apa kamu mendapat gambaran yang bagus tentang apa yang sedang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali… Aku tidak memahami satu hal pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mungkin sedang menanyakanku apakah aku mengerti apa yang didiskusikan dalam konferensi itu. Aku menyadari hal itu, tapi sayangnya, aku hanya bisa mengucapkan kalimat standar&amp;lt;!--placeholder--&amp;gt; karena itu akan aneh untuk mengatakan aku sebenarnya mengerti apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menduga-duga bagaimana perasaanku dari ekspresiku, Isshiki membuat helaan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, toh, mereka sedang mengatakan sekumpulan hal-hal sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, bukan kata-katanya itu sulit, tapi itu terlalu samar, membuatnya benar-benar sulit untuk dimengerti. Tapi perbedaan itu sepele bagi Isshiki selagi dia membuat suatu senyuman mencandukan.&amp;lt;!--poppy smile--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ketika aku bilang “menaaaaabjubkan” dan “Aku sebaiknya berusaha keraaas juga!”, mereka benar-benar memandangku dengan serius. Setelah itu, aku hanya perlu membalas pesan-pesan dari waktu ke waktu dan seharusnya itu tidak akan ada masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seseorang akan menikammu suatu hari…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu mungkin bukan sekarang, tapi pada suatu waktu dia akan benar-benar menderita dari balasan karmanya dan itu membuatku khawatir. Sungguh, pria yang tidak populer cenderung terlalu mudah diseret-seret&amp;lt;!--pulled along--&amp;gt;, jadi segala jenis tragedi malang akan bermunculan… Pria tidak populer cenderung anehnya polos dengan pikiran mesum&amp;lt;!--one track mind--&amp;gt; dan karena kejujuran ini, mereka cenderung dengan mudahnya salah paham. Apa-apaan? Memikirkannya lagi, pria tidak populer itu pria-pria yang benar-benar hebat! Kenapa mereka tidak populer? Sungguh misterius!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan itu, Isshiki mengerang terlihat seakan sedang memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tapi senpai, kamu akan memberikan kesan itu kadang-kadang, kamu tahu? Seperti bagaimana kamu akan terlihat seperti kamu itu cerdas atau betapa kamu itu salah satu tipe-tipe terlampau sadar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuat setengah senyuman selagi dia mengatakan itu. Persis setelah kata tipe-tipe terlampau sadar itu terdapat kata (lol) tertempel padanya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kelompokkan aku dengan mereka. Aku bukan tipe orang yang terlampau sadar. Aku tipe orang yang terlampau sadar diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe orang terlampau sadar (lol) adalah, yah, singkatnya orang-orang yang berusaha keras membuat orang lain terpesona dengan niatan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa. Mereka adalah sekelompok anak-anak menjengkelkan&amp;lt;!--painful--&amp;gt; yang menggunakan istilah-istilah lingo&amp;lt;ref&amp;gt; bahasa khas/aneh &amp;lt;/ref&amp;gt; bisnis dan manajemen yang paling sesuai untuk menunjukkan betapa cakapnya mereka dibandingkan dengan orang lain. Itu tidak begitu berbeda dari chuunibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, tipe-tipe orang yang terlampau sadar diri itu hanyalah anak-anak menjengkelkan biasa. Itu tidak begitu berbeda dari kounibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa, Aku benar-benar tidak mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki menjawab dengan letih. Yah, aku juga tidak mengerti. Tidak peduli yang manapun itu, fakta bahwa mereka berdua itu menjengkelkan untuk dilihat tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, sekarang setelah kita sudah memahami apa yang perlu kita lakukan, ayo kita memulainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki segera mempersembahkan setumpuk kertas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Jadi apa yang dia lakukan tadi itu bukan hanya percakapan ramah tamah, tapi dia sedang menanyakan detail tentang apa yang pihak kami, SMA Sobu, yang tidak mengajukan apa-apa selama konferensi itu, harus lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang, ada saat-saat dimana menggelar sebuah konferensi itu tidak ada artinya. Tidak ada hal penting yang diputuskan dalam konferensi karena sebagian besar akan diputuskan di balik layar oleh orang-orang lebih penting, yang merupakan kejadian biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sendiri terutama bijak di area itu. Dia adalah gadis kelas sepuluh yang imut dan dia sedang diperlakukan dengan cukup baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah lumayan dekat dengan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm. Yah, aku rasa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meletakkan jari telunjuknya pada dagunya dan mengerang selagi dia memiringkan kepalanya. Dia kemudian menyerukan “aha” dengan suatu senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tunggu! Kamulah yang mengajariku itu, senpai. Bahwa gadis yang lebih muda yang ingin diajari itu imut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingat mengajarimu itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku memang mengajarinya bagaimana untuk memakai keuntungan dari manfaat dalam posisinya itu, tapi aku tidak ingat memberitahunya sesuatu sespesifik itu. Tidak, jika kamu akan menjelaskannya dengan cara Isshiki, maka itulah hasil yang muncul… Tidak bagus, apa aku tanpa sengaja melahirkan seorang monster? Ini pasti akan berakhir pada &#039;&#039;circle crash&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt; Situasi dimana hubungan dalam suatu klub menjadi hancur karena berbagai masalah yang biasanya berhubungan dengan cinta. &amp;lt;/ref&amp;gt;, huh…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, yah, kalau begitu kamu bisa cukup menyerahkan itu pada mereka. Kamu tidak benar-benar memerlukanku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, um, sebenarnya itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku bertanya, Isshiki melihat ke bawah, enggan untuk menjawab. Dia terlihat seperti dia ada sesuatu yang menguatirkannya selagi aku menunggunya untuk meneruskan. Tapi itu tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu karena ada seseorang yang mengetuk ke atas meja kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Iroha-chan. Bisakah aku minta tolong kamu juga mengerjakan ini? Aku sudah mengurus bagian yang lebih besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang muncul adalah ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Itu kelihatannya dia ada beberapa tambahan pada isi percakapan yang mereka bicarakan tadi. Dia menyerahkan beberapa kertas print-out lagi pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, oooke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengambilnya dengan sukarela. Tidak ada satupun tanda-tanda wajah murungnya tadi yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan serahkan itu padamu. Jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, cukup beritahu aku. Aku akan mengajarimu bagaimana cara mengerjakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa membuat senyuman menyegarkan selagi dia melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu. Isshiki melambai balik dan melihatnya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu ayo kita mulai mengerjakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpaling kembali padaku, menyusun ulang print-out tambahannya, dan mulai menyerahkannya pada anggota OSIS lain di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dengan demikian, kerja kita adalah untuk mencatat dan menyusun notulen&amp;lt;ref&amp;gt; Catatan singkat mengenai jalannya rapat serta hal yang dibicarakan dan diputuskan&amp;lt;/ref&amp;gt; konferensi itu. Oke, aku berharap bisa bekerja sama dengan kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia berbicara pada mereka selagi dia membagikan pekerjaannya pada setiap orang, responnya lemah. Perbedaan dalam motivasinya begitu mengejutkan dibandingkan dengan OSIS mereka yang begitu hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, toh, untuk bahkan sedikitpun merasa termotivasi terhadap suatu pekerjaan itu aneh. Tidak, logikanya sendiripun aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi melihat bahwa pekerjaan kami hanya untuk membagi-bagi&amp;lt;!--break down--&amp;gt; apa yang diberikan pada kami oleh mereka, aku dapat mengerti kenapa OSIS kami tidak ingin berpartisipasi. Itu karena OSIS yang mereka bayangkan itu sepenuhnya berbeda dari kenyataannya sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga mengambil beberapa print-out notulennya juga. Ada beberapa hal seperti rencana untuk masa depan dan suatu daftar topik. Kelihatannya pekerjaan kami untuk sekarang adalah berlatih membuat notulennya.&amp;lt;!--brush these up--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua mengerjakan pekerjaan kami tanpa bersuara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami melakukannya, salah satu anggota OSIS dengan tenang berdiri dan menyerahkan selembar print-out pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketua, apa ini bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, biar aku lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki dengan kertas itu di tangannya membuat ekspresi yang kurang lebih kaku. Laki-laki tersebut berbicara seakan dia ingin mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentang ini…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dipikir lagi, tidak jadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki yang terlihat cakap itu menelan kata-kata selanjutnya dan berpaling. Dia kemudian mengucapkan “terima kasih” dengan suara kecil dan kembali ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika aku mengikutinya dengan tatapanku sambil merasa heran apa aku pernah melihatnya sebelumnya, Isshiki menyadari hal ini dan memberitahuku dengan suara diam-diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia si wakil ketuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia memberitahuku, aku menyadarinya. Aah, anak kelas sebelas kurasa… Dipikir lagi, aku tidak tahu namanya, tapi aku rasa aku pernah melihatnya sebelumnya di lantai yang sama&amp;lt;ref&amp;gt; Maksudnya ketemu di sekitar kelasnya (lantai dua) &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi dia wakil ketua kami huh? Kamu mungkin bisa mengetahui nama ketuanya tapi itu tidak akan berlaku pada yang lain karena popularitas mereka tidak sesignifikan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, angkatan yang sama denganku, huh? Itu menjelaskan kenapa Isshiki sedang bersikap sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Cukup rumit, mesti kubilang. Bawahan yang usianya lebih tua membuatku sulit untuk bekerja bersama dia, tapi atasan yang lebih muda tidak akan membuatmu merasa tenang. Bahkan di tempat kerja paruh waktuku pada toko swalayan, itu benar-benar sulit untuk bekerja bersama pegawai baru yang berusia lebih tua… Kamu harus bersikap pengertian sambil mengajari pekerjaannya pada dia dan si dia juga akan merasa terganggu mengenai sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan bagi Isshiki yang dicintai orang yang lebih tua darinya karena kesusahan dengan sesuatu, terlihat tidak ada bedanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelihatannya agak sulit bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah… Aku rasa aku tidak begitu disukai. Tapi selalu seperti itu pada awalnya. Kita akan terbiasa dengannya pada akhirnya, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Isshiki bergetar hanya untuk sejenak. Tapi dengan segera, dia membuat senyuman menantang selagi dia mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, benar, semua orang dapat akur dengan baik pada awal-awalnya itu sulit. Biasanya tetap akan ada beberapa hal dan pendapat yang tidak akan saling disetujui mereka.&amp;lt;!--see eye to eye--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, di sana terdapat kemungkinan untuk belajar dari hal itu.&amp;lt;!--growing--&amp;gt; Jika baru mulai dari awal sekali, maka ada hal-hal yang bisa kamu rubah. Setidaknya, kira-kira itu berbeda dari dikurung di suatu ruangan bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku diajak bicara, aku segera mengangkat kepalaku. Ketika aku melakukannya, tampang kebingungan Isshiki selagi dia melihatiku ada di sana. Kelihatannya tanganku sudah berhenti bekerja. Aku segera kembali menulis untuk menghilangkan jeda aneh itu sambil berkata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, persisnya berapa lama kita akan terus melakukan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu… Sudah hampir waktunya bagi kita untuk pulang, kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki menjawabnya, aku melihat ke arah jam di dekat pintu masuk ruangan itu. Sudah hampir waktunya. Itu juga hampir waktunya bagi klub-klub untuk mulai pulang pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu di bawah jam itu kemudian terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bekerja keras.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita berpakaian setelan dengan jas putih yang masuk dan berbicara itu Hiratsuka-sensei. Selagi dia menjentikkan rambut hitam panjangnya, dia mendekatiku sambil membuat suara dengan sepatu haknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa orang ini ada di sini…? Selagi aku berpikir sungguh misterius&amp;lt;!--mysteriously--&amp;gt;, Hiratsuka-sensei membuat helaan tidak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti biasa, ini adalah pekerjaan yang dipercayakan padaku lagi… Astaga&amp;lt;!--good grief--&amp;gt;. Diberikan semua pekerjaannya karena aku muda itu tentu menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku rasa begitu. Toh, sensei itu muda… Tanpa kusengajai, aku melihatinya dengan mata yang lembut. Ketika aku melakukannya, Hiratsuka-sensei melihat ke arah mataku juga. Entah di mana, di sana juga ada tanda-tanda kebaikan di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa kamu sendirian Hikigaya? Dimana Yukinoshita dan Yuigahama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari nadanya, dia menduga jika aku ada di sini, maka dua orang dari Klub Servis akan ada di sini juga. Aah, dipikir-pikir lagi, Isshiki ada menyebutkan bahwa Hiratsuka-sensei adalah orang yang memberitahunya untuk melakukan ini, bukan…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, permintaan Isshiki adalah sesuatu yang direncanakannya untuk membuat Klub Servis menerimanya. Dan benar, jika keadaannya seperti yang sebelumnya, maka permintaan ini pasti akan diterima oleh Klub Servis secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu berbeda sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tidak, aku sedang membantunya di sini sendiri&amp;lt;!-- as a personal favor--&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan mataku kembali ke kertas print-out di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fumu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke arahku selagi aku bekerja dan tidak mengatakan apapun untuk sejenak. Aku tidak menjelaskan apapun lebih jauh lagi dan hanya menggerakkan tanganku. Satu-satunya hal yang kulakukan adalah menyalin kalimat-kalimat dan kata-kata tidak berarti ke kertas lain seperti robot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Yah, itu tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei membuat helaan singkat dan mengalihkan pandangannya antara diriku dan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, Hikigaya dan Isshiki, huh…? Pasangan yang agak menarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terperangkap bersama itu tidak begitu menarik bagi kami. Tapi Isshiki terlihat seakan dia berpikiran sama denganku selagi dia membuat wajah yang sedikit tidak puas selagi mengerang. Bukankah kamu sedang bertingkah sedikit jahat, Irohasu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke wajah kami dan tertawa geli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh tidak, tidak ada apa-apa… Omong-omong, sudah hampir waktunya. Tinggalkan sisanya untuk lain hari dan pergi pulang. Pihak mereka kelihatannya juga melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diberitahu hal itu, aku melihat sekilas dan orang-orang dari SMA Kaihin Sogo sudah bersiap-siap untuk pergi satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu. Kenapa tidak kita bergegas pulang juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki mengatakan hal ini pada setiap anggota lain, setiap anggota mulai bersih-bersih. Isshiki kemudian memelankan suaranya mempertimbangkan keberadaan Hiratsuka-sensei. Dia berbisik pada telingaku dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pergi makan dengan orang dari OSIS mereka dan pulang ke rumah setelah itu. Senpai, kamu boleh pulang ke rumah dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pilihan untuk mengundangku, bukan…? Itu tentu membuatku lega&amp;lt;!--it&#039;s load off my chest--&amp;gt;. Dia tentu memahamiku dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, aku akan pergi pulang kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku akan menantimu besok juga, senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu bungkukan bodoh lagi selagi dia menjawab sambil melambaikan tangannya dengan pelan dan aku menuju ke arah pintu. Dan aku tidak lupa untuk menanyakan satu hal lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, benar. Itu tidak masalah untuk menganggap bahwa besok akan dimulai sekitaran jam tadi juga, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu standarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya mungkin ditentukan pada jam tertentu karena mereka mengantisipasi bahwa itu akan memakan sedikit waktu bagi murid SMA Kaihin Sogo untuk datang kemari. Kalau begitu, bagi kami khususnya, ada banyak waktu sebelum dimulai konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir bagaimana aku akan menghabiskan waktu senggang yang anehnya melimpah itu, aku meninggalkan pusat komunitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu kebahagiaan, boleh kutanya&amp;lt;!--dare I say--&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pastilah kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan. Selamat datang kembaliii.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, ketika aku berhasil sampai ke rumah, yang ada di ruang tamu adalah Komachi. Dia memiliki mata yang terlihat mengantuk. Itu terlihat seperti dia sudah tidur cukup lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan alasan untuk mengapa dia tertidur adalah karena kotatsu yang dikeluarkannya entah kapan ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, itu dibangkitkan kembali… Mesin iblis aneh ini.&amp;lt;!--This demonic mechanical contraption.--&amp;gt; Kotatsu adalah suatu mesin yang menghasilkan orang-orang yang tidak berguna. Aku bahkan dapat mengusulkan kita mengirimkan kotatsu kami kepada semua negara musuh lain selagi musim dingin karena kami akan bisa dengan mudahnya menjajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, jangan belajar di kotatsu. Kamu hanya akan menjadi mengantuk dan kamu akan mengidap flu ketika kamu tertidur. Kotatsu mengubah orang menjadi orang tidak berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku memberitahunya secara singkat, Komachi menatapiku dengan sinis. Astaga, wah wah. Mungkinkah dia sedang dalam fase suka melawan sekarang ini…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, itu bukan sesuatu yang patut kamu katakan padaku selagi kamu sedang merasa nyaman di dalam kotatsu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hahaha, apa yang kamu bilang, Komachi-chan? Aku tidak sedang merasa nya… Oooh! Aku sudah masuk ke dalam kotatsu sebelum aku bahkan menyadarinya!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya bercanda. Aku memainkan sandiwara kecil tidak berarti itu selagi aku memasuki kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Mfmmeoow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, sinar inframerah panjang ini terasa nyaman pada tubuhku yang terbeku saat berjalan ke rumah pada jalan dingin di malam hari. Ketika aku merenggangkan kakiku, kakiku bersentuhan dengan sesuatu yang halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukan itu, sesuatu yang halus itu melilitkan tubuhnya pada kakiku. Apa sesuatu halus yang memiliki otakknya sendiri ini…? Nah nah&amp;lt;!--now then--&amp;gt;, mungkinkah itu kaki Komachi? Aku melihat ke arah Komachi dan ketika mata kami bertemu, Komachi membuat suatu seringaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dipikir dia mau melilitkan kaki kami bersama di bawah kotatsu… Akhir-akhir ini, adik kecilku sudah agak sedikit tidak biasa&amp;lt;ref&amp;gt; Saikin, Imouto no Yousu ga Chotto Okashiinda ga &amp;lt;/ref&amp;gt;. Sebenarnya, apa ini? Ini begitu memalukan…! Gadis manja sialan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendorong kakinya untuk memberitahunya untuk berhenti. Ketika aku melakukannya, perasaan halus itu pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, sesuatu datang merangkak keluar dari bawah kotatsu. Itu adalah kucing kami, Kamakura. Kelihatannya, itu bukan Komachi yang meliliti kakiku, tapi anak ini. Persisnya kenapa kucing cenderung suka memakai kakimu sebagai bantal, non?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kamakura meninggalkan kotatsu, dia merenggangkan diri dan membuat helaan panjang. Apa itu? Apa anak itu orang tua yang baru saja keluar dari sauna atau semacamnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia melihat ke arah wajahku, dia mendengus. Dia pastilah merasa tidak puas untuk diusir dari kotatsu oleh kaki terrenggangkanku. Atau mungkin itu karena kakiku bau… Itu membuatku kuatir, jadi tolong hentikan reaksi itu, oke…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu sedang menatap dengan begitu kerasnya pada Kaa-kun. Apa ada yang salah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Kamakura sudah keluar dari kotatsu, kelihatannya dia masih merasa dingin sebab dia melompat ke atas kaki Komachi dengan posisi roti tawar&amp;lt;ref&amp;gt; Posisi keempat kakinya dimasukkan ke bawah perutnya &amp;lt;/ref&amp;gt; dan mulai tertidur. Semua yang dia lakukan adalah tidur sepanjang sore, namun dia masih ingin pergi tertidur lagi? Menjadi seekor kucing itu tentu menyenangkan. Aku ingin hidup dengan gaya hidup itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi mulai membelai Kamakura selagi dia tertidur di kakinya. Aah, tidak peduli berapa banyak waktu yang sudah berlalu, setiap kali aku melakukan itu, dia hanya akan pergi ke tempat lain…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Er, itu benar. Melihat ke arah Komachi membuatku teringat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeei, Komachi-chan. Apa ini, hmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan surat yang masih berada pada kantong dada seragamku. Komachi mencondongkan dirinya ke depan untuk melihatnya tanpa membangunkan Kamakura. Dia kemudian dengan kalem berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Itu persis seperti yang kamu lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar ingin sebuah peralatan elektronik…? Persisnya apa adik kecilku itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi terlihat seperti dia tidak ingin menjelaskannya lebih jauh lagi dan bersenandung selagi dia membelai Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Yah, jika aku mendesakknya lebih jauh lagi, pesan di dalam surat itu akan muncul dan itu akan benar-benar memalukan. Aku akan cukup memakai daftar itu sebagai acuan ketika aku memikirkan beragam hadiah untuk dibeli buat Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua menghabiskan waktunya dengan hening dan termenung-menung tanpa membuat banyak percakapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, Kamakura berdiri. Dia menggaruk telinganya dengan kaki belakangnya dan membuat ekspresi siap &amp;lt;!--posed expression--&amp;gt;selagi dia meninggalkan ruang tamu. Dia kemudian pergi menuju pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, ibu kami sudah pulang. Kamakura agak hebat ketika dia datang menemui ibu dan Komachi ketika mereka kembali. Omong-omong, dia tidak akan pernah sama sekali menyapa aku dan ayahku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dalam sesaat, suara pintu masuknya terbuka dapat terdengar. Suara langkah kaki bergema selagi kaki tersebut memanjat tangga dan di ruang tamu muncullah ibu kami. Di belakangnya terdapat Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pulaaang. Aaah, begitu lelah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku meletakkan tasnya di tempat itu dan meniup kopi yang entahkah dibelinya sewaktu pulang atau dari suatu kafé. Komachi dan aku menyapa penampilan lelahnya dengan rasa berterima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang kembali, maaama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, kerja bagus. Di mana ayah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ayah juga sudah pulang, maka aku pikir aku bisa menuntut sejumlah uang darinya untuk hadiah Komachi, tapi ibuku membuat ekspresi kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HEI, HEI, MY MOTHER? YOU itu WIFE FATHERku, bukan? Bukankah kamu rasa kamu seharusnya sedikit lebih hormat terhadapnya? Atau apa itu karena kamu tidak tertarik dengan suamimu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama waktu-waktu musim ini, dia benar-benar tidak bisa pulang ke rumah karena dia baru nyaris bisa lewat&amp;lt;!--scraping by--&amp;gt; dengan jadwalnya itu, mungkin? Aku juga pulang dengan kerjaanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu kami mengatakan itu dengan begitu alamiah tanpa mencoba untuk membuatnya terdengar kurang serius. Daripada tidak tertarik sama sekali, itu lebih terlihat seperti itu hal yang sangat wajar bahwa dia tidak memperhatikannya. Hohmm, itu bervariasi tergantung pada tipe industrinya, tapi pekerja kantoran pada waktu-waktu musim ini benar-benar sibuk, bukan? Tidak mungkin aku bisa tahan pergi bekerja ketika sudah mendekati hari Natal, yang benar saja. Aku ingin menjadi orang dewasa yang akan menghabiskan waktunya dengan keluarganya selama musim Natal. Aku sudah pasti tidak akan bekerja. Selagi aku menguatkan tekad keras kepalaku, ibuku berkata ketika sesuatu terlintas di pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, Hachiman. Kamu senggang bukan? Pesan satu party barrel&amp;lt;ref&amp;gt; Kentucky Fried Chicken &amp;lt;/ref&amp;gt;. Dan juga kue.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahn?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus aku&amp;lt;!--Why I have to--&amp;gt;? Dipikir lagi, namun itu tidak pasti bahwa aku akan senggang? Respon “ahn” adalah respon yang tanpa dibuat-buat&amp;lt;!--in a nutshell--&amp;gt;. Tidak ada satu “oke”pun yang bisa ditemukan dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya meminta Komachi untuk melakukannya, tapi tahun ini mungkin lebih baik jangan begitu&amp;lt;!--work out so well--&amp;gt;…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentu saja. Berikan aku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu alasannya, maka aku sangat rela melakukannya. Sampai sekarang ini, aku tidak pernah begitu menyadarinya, tapi ketika aku murid yang sedang ikut ujian, Komachi mungkin juga melakukan cukup banyak hal untuk kami. Sebenarnya, Komachi toh melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Pada saat-saat seperti ini, aku paling tidak seharusnya melakukan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawab, Komachi menyela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun Komachi bisa melakukan setidaknya segitu banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi untuk beberapa alasan, ibu kami membuat setengah senyuman selagi dia melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Sekarang ini saja pekerjaan kami sudah banyak mendesakkan tanggung jawab kami padamu, Komachi. Setidaknya biarkan onii-chan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, salah. Itu salah. Aku memiliki banyak motivasi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi hanya saja setiap kali aku memikirkan “Aku akan melakukan pekerjaan rumah tangganya”! Pada saat itu, semuanya sudah selesai dikerjakan &amp;lt;ref&amp;gt; Jojo’s Bizarre Adventure. Kalimat yang diucapkan Prosciutto. Kalimat aslinya “Setiap kali kami memikirkan kata itu (Bunuh)… Kenyataannya, itu sudah terjadi!” &amp;lt;/ref&amp;gt; (oleh tangan Komachi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki adik kecil yang kompeten merupakan suatu berkah dan suatu kutukan yang merupakan alasan yang akan kuberikan, tapi ibuku tidak terlihat sedikitpun tertarik dengan reaksiku selagi dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku lupa untuk menarik uang. Apa lain kali tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab dengan singkat, ibuku mengucapkan terima kasih dengan suatu helaan, membunyikan bahunya, dan meninggalkan ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Komachi melihat punggung lelah ibu, dia menyelipkan beberapa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia bahkan tidak perlu kuatir dengan Komachi juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu hanya kasih sayang orang tua. Tidak perlu kuatir dan fokus saja sama belajarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan itu, Komachi menyipit untuk sejenak. Tapi untuk menutupinya&amp;lt;!--play it off -&amp;gt; Made as if previous thing you do is a joke(not serious)--&amp;gt;, dia membuat tawa tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, mengatakan itu hanya agak sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, tidak, maaf. Tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara refleks memberitahunya untuk berusaha keras belajar&amp;lt;!--try your best in her studies--&amp;gt;, tapi dari sudut pandang seorang murid yang mengikuti ujian, itu adalah suatu frasa yang benar-benar sudah capek didengarnya. Lagipula, tidak mungkin, Komachi, adik kecil tololku itu bisa bermalas-malasan&amp;lt;ref&amp;gt; OreImo &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberitahu seseorang untuk berusaha sebisanya ketika mereka sudah melakukannya bukanlah sesuatu yang seharusnya kamu lakukan, kurasa. Dari awalpun, untuk diberitahu akan hal itu oleh orang yang tidak sedang berusaha keras hanya akan menjengkelkan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagaimana aku bisa menyemangatinya kalau begitu? Selagi aku mengerang, Komachi tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu hanya perlu mengatakan ‘Aku mencintaimu’ pada saat-saat seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, begitu. Aku mencintaimu, Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi tidak merasa seperti itu, tapi terima kasih, onii-chan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu jahat…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu air mata mendadak jatuh dari mataku. Baru saja, onii-chan juga mengatakannya dengan segenap hati&amp;lt;!--put a lot of heart into it--&amp;gt;. Aku bahkan juga menyorot lampu remnya lima kali&amp;lt;ref&amp;gt; Kode Morse untuk aishiteru &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi tersenyum geli untuk sejenak dan kemudian dia berdiri. Kelihatannya dia akan kembali belajar di kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke! Itu perubahan suasana yang bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa senang untukmu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, berhenti dan melakukan hal yang lain itu bagus untukmu oke? Macam, ketika kamu terjebak dalam situasi sulit&amp;lt;!--driven in a corner--&amp;gt;, itu lebih baik mengalihkan perhatianmu dengan hal yang lain, kamu tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu… Yah, ya, itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hanyalah alasan untuk melarikan diri, bukan? Aku mencoba mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika seseorang di suatu tempat yang mengalihkan matanya dengan cara yang sama terlintas dalam pikiranku, aku sama sekali tidak bisa mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Mundur ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Kembali ke&#039;&#039;&#039; [[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Lanjut ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Translasi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references&amp;gt; &amp;lt;references/&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450034</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_9_Bab_2&amp;diff=450034"/>
		<updated>2015-07-03T06:43:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* 2-4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 2: Tanpa Masalah, Kongresnya Menari&amp;lt;ref&amp;gt; [http://en.wikipedia.org/wiki/Der_Kongre%C3%9F_tanzt Kongresnya Menari (The Congress Dances)] &amp;lt;/ref&amp;gt;, namun Tidak Ada Kemajuan==&lt;br /&gt;
===2-1===&lt;br /&gt;
Pusat komunitas dimana Isshiki dan aku akan bertemu itu lumayan dekat dengan sekolah kami. Tidak memakan lebih dari beberapa menit untuk sampai ke sana menaiki sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku masih belum pernah menginjakkan kaki di pusat komunitas itu. Tapi karena aku cenderung lumayan sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hariku, aku tidak ada masalah dalam menemukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persis di samping stasiun itu terdapat pusat bisnis besar MARINPIA (aka: MariPin). Ketika hari sudah sore, pemandangan banyak ibu-ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar akan menonjol. Dan di antara mereka terdapat para murid. Berkat MarinPin didirikan di area tersebut, itu merupakan tempat yang cocok bagi murid SMA untuk mampir dan bersenang-senang sewaktu mereka akan pulang ke rumah. Sama seperti mereka&amp;lt;!--in the same way--&amp;gt;, aku akan kadang-kadang mampir ke toko buku, &#039;&#039;arcade&#039;&#039;, dan bahkan tempat baseball dalam ruang&amp;lt;ref&amp;gt; Tempat itu ada mesin bola baseball yang akan menembakkan bola pada si pemain untuk dipukulnya. [http://en.wikipedia.org/wiki/Batting_cage Batting Centre] &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku sampai ke pusat komunitas itu, aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang sekeliling tempat itu sekilas dengan gelisah, tapi Isshiki tidak terlihat dimanapun. Yah, itu tidak seperti kami ada menentukan waktu pasti kapan kami akan bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ini akan terjadi, mungkin kami seharusnya datang bersama dari awal…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada cara selain untuk bertemu di luar sekolah untuk menjaga fakta bahwa aku sedang membantu Isshiki sendirian agar tidak sampai ke Yukinoshita dan Yuigahama. Untuk menerima suatu permintaan yang berkaitan dengan OSIS sekarang ini di depan Yukinoshita itu suatu hal yang kejam untuk dilakukan. Meskipun demikian, itu akan tidak bertanggung-jawab untuk menolak permintaan Isshiki mentah-mentah. Ada juga pilihan untuk mengecualikan Yukinoshita, tapi itu terasa seperti suatu pengkhianatan yang buruk sekali. Mempertimbangkan bagaimana keadaan Klub Servis pada saat ini, memilih untuk menerima permintaan ini secara pribadi &amp;lt;!--as a personal favor--&amp;gt;seharusnya merupakan pilihan yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kembali kesimpulan dalam kepalaku itu dan duduk di undakan tangga di dekat pintu masuk pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk disana termenung-menung dan yang datang dari toko swalayan di seberang adalah Isshiki. Di tangannya terdapat kantong plastik yang terlihat berat. Setelah menyadari keberadaanku, dia berlari kecil ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaafkan aku untuk membuatmu menunggu. Aku harus pergi berbelanja sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu helaan seakan kantong plastik toko swalayan itu berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak, tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menjawabnya, aku berpaling ke arah Isshiki dan mengulurkan tanganku. Ketika aku melakukannya, untuk beberapa alasan, Isshiki dengan lembut mengelak tanganku dan terus melihat ke arahku. Dia memiringkan kepalanya merasa tidak yakin akan arti di balik tindakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan tampang jengkelmu itu? Bukankah barusan tadi itu pesonamu untuk membuatku mengambilkan kantongnya untukmu karena itu berat”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, Isshiki menggosok rambutnya dan dengan lembut mengalihkan pandangannya dariku. Wajahnya sedikit merona seakan dia merasa kaget atau bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa… Aah, tidak, aku hanya sedang bertingkah seperti diriku tadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itu benar, huh? Bagi dirinya, dia cenderung untuk memandang para lelaki hanya sebagai pekerja jadi aku berakhir berpikir itu adalah jenis pesona yang sedang dilakukannya. Lihat, itu persis seperti bagaimana Tobe dengan alamiah menjadi si pria suruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mematung untuk sejenak, tapi dia tiba-tiba siap siaga setelah mendadak menyadari sesuatu&amp;lt;!--poised herself with a sudden realization--&amp;gt; dan menjauh selangkah dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha! Mungkinkah kamu sedang mencoba memikatku barusan, maafkan aku, untuk sejenak itu membuat jantungku berhenti sebentar, tapi sekarang setelah aku memikirkannya secara rasional, itu benar-benar tidak akan berhasil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persisnya mau berapa kali aku akan terus ditolak oleh gadis ini…? Bahkan penolakannya sudah jadi menjengkelkan sekarang…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jika itu cukup untuk membuat jantungnya berhenti sejenak, maka dia lebih baik berhati-hati karena dia tidak akan bisa pergi melakukan perjalanan dengan damai. Tidak mungkin jantungmu akan berhenti sejenak ketika si pramugari onee-san di pesawat mengambilkan barang-barangmu. Tidak mungkin, bukan…? Tidak, pasti akan berhenti (perbaikan si pramugari). Tidak, tunggu. Itu tidak harus seorang pramugari karena onee-san kerah biru &amp;lt;ref&amp;gt; Kerah biru berarti orang yang melakukan pekerjaan manual &amp;lt;/ref&amp;gt;juga akan membuat jantungmu berhenti sejenak… Seperti yang bisa diduga, wanita dengan karir fisik itu menabjubkan! (perbaikan si orang yang bercita-cita jadi bapak rumah tangga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, terserahlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya mengabaikan apa yang dikatakan Isshiki dan mengambil kantong plastik itu dari tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah… Terima kasih banyak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meremas lengan baju kemeja cardigannya dan dengan penuh semangat membungkukkan kepalanya. Berkat itu, aku tidak dapat mengetahui apa bentuk ekspresinya itu, tapi kata-kata berterima-kasih sopan yang tak terduga itu membuatku merasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tidak apa-apa. Itu hanya bagian dari tugasku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia begitu bersikeras untuk mengungkapkan rasa berterima-kasihnya untuk sesuatu seperti ini setiap kali, akhirnya, dia akan berakhir meniru &amp;lt;!--adopting--&amp;gt;kebiasaan Komachi untuk mengatakan “terima kasih banyak onii-chan, aku cinta kamu”, sialan. Niatanku adalah untuk memberitahunya secara tidak langsung untuk tidak usah begitu heboh, tapi pada saat selanjutnya, aku segera menyesalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waaa! Beeegitu handal! Kalau begitu, maka aku akan terus bergantung padamu lain kali ♪.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengaitkan jari-jarinya di depan dadanya dan tiba-tiba membuat senyuman berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah, barangnya mendadak terasa seakan itu menjadi lebih berat barusan… Namun, apa saja yang ada disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kantong plastik itu terasa lebih berat dari yang kusangka, aku mendapati diriku melirik ke dalam kantong itu dan didalamnya terdapat beraneka ragam makanan ringan dan jus. Yah, untuk sebuah konferensi seperti ini, itu biasa untuk memiliki makanan seperti kue-kue dan katering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suara percakapan menjadi lebih kecil, orang-orang akan mengisi keheningan itu untuk sementara dengan memakan makanan ringan mereka dan meminum teh mereka. Itu mirip dengan situasi di mana kamu membuat tawa hambar “haha” di tengah suatu percakapan dan mereka memakan sebutir FRISK segera setelahnya. Setelah mereka melakukan itu, kamu tidak bisa tidak menduga “aah, orang ini benar-benar tidak tahu apa yang mau dibicarakan&amp;lt;!--at a loss--&amp;gt; ketika berbicara denganku…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong, jika seseorang yang bahkan tidak berbicara tiba-tiba menawarkan, “apa kamu mau permen FRISK?”, itu adalah suatu tanda bahwa dia sedang secara tidak langsung mengatakan “nafasmu bau”! Waspadalah! Ada peluang dia mungkin menderita suatu penyakit dalam! Dari semua hal yang ada, itu hal yang harus diwaspadai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, namun pemilihan makanan ringan itu agak sulit juga. Makanan ringan yang keras dan mempunyai bau yang kuat dapat sebaliknya menjadi menggangu. Dengan demikian, aku melirik ke dalam kantong plastiknya untuk melihat apa yang Isshiki beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Makanan ringan coklat berukuran-kecil, permen tenggorokan rasa buah dan cracker beras lembut… Yap, ini bukanlah pilihan yang buruk. Itu semua ada di dalam bungkusannya masing-masing jadi ini juga mendapatkan nilai tinggi. Dengan ini, kamu tidak akan perlu menyediakan piring dan semacamnya dan kamu juga bisa mencegah mengotori tanganmu. Ditambah lagi, itu tidak akan begitu merepotkan untuk diurus ketika sudah waktunya untuk pulang ke rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooo, kamu mengejutkannya pengertian, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tegasku, dengan sedikit terkesan, dan Isshiki membuat suatu ekspresi jengkel serta dongkol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu maksud dengan ‘mengejutkannya’…? Aku perlu memberitahumu bahwa aku itu orang yang sangat pengertian. Yah, walau pihak mereka juga menyediakan beberapa makanan ringan juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh. Kalau begitu apa kita bahkan memerlukan ini? Toh, semua biayanya akan ditanggung pihak mereka. Kenapa tidak cukup memakan semua makanan ringan mereka saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak bisa benar-benar melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia menjawab, ekspresi Isshiki mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Memang, itu terlihat seperti dia benar-benar sedang bersikap pengertian dalam berbagai cara. Jika pihak mereka menyediakan sesuatu, kami tidak bisa cukup datang dengan tangan kosong setiap kali. Singkatnya sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebenarnya lebih merepotkan untuk bersikap sepengertian ini dalam keadaan dimana kami diundang hanya sebagai tamu saja. Tapi selama dua sponsor gabungan mengenai acara ini memiliki kedudukan yang sama, maka mereka harus setidaknya mempertahankan hubungan setara ini meskipun itu sesuatu yang sederhana seperti membawa datang makanan ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus bekerja bersama-sama sekolah lain itu masalah yang cukup menyusahkan. Karena itu akan berlanjut&amp;lt;!--extend--&amp;gt; ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya juga, pertanyaan tentang bagaimana itu akan mempengaruhi keadaannya membuatnya terasa seakan kantong plastik di tanganku menjadi satu tingkat lebih berat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diajak oleh Isshiki, aku berjalan masuk ke dalam pusat komunitas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, aku tidak pernah mengunjungi pusat komunitas ini sebelumnya, jadi persisnya apa itu yang kamu lakukan di dalam sini? Aku heran, apa mereka menyembuhkan komunitasmu dengan BGM Ten Ten Terorin ♪ BGM&amp;lt;ref&amp;gt; Musik Pokemon ketika pokemonnya disembuhkan &amp;lt;/ref&amp;gt; atau apa? Pusat monster apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kami benar-benar memasukinya, bagian dalamnya mirip sebuah kantor pemerintah dengan suasana dingin dan damai yang terus berlanjut. Itu adalah suasana yang membuat kamu berpikir dua kali sebelum berteriak dengan suara keras. Perpustakaan yang ada di lantai satu mungkin merupakan alasan untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti Isshiki ke lantai dua dan suasananya berubah sedikit. Suara orang berbicara dan musik dapat terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangganya terus menjulang ke atas. Ada suara musik yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku heran, apa yang mungkin sedang mereka lakukan?” Selagi aku memikirkan ini, aku melihat ke atas tangga dan begitu pula dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada suatu aula besar di lantai tiga. Kelihatannya mereka akan menyelenggarakan acara Natalnya di atas sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hooh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terlihat seperti ada semacam tarian atau sebuah klub yang sedang di tengah-tengah melakukan aktivitas mereka di atas sana yang terbukti dari getaran yang datang dari lantai tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu… Singkatnya, ini sama saja dengan pusat komunitas pemerintah. Ini adalah suatu bangunan publik&amp;lt;!--establishment--&amp;gt; dimana para penduduk lokal akan berkumpul untuk melakukan berbagai aktivitas dan acara-acara. Jadi, apa bedanya ini dengan pusat komunitas pemerintah? Ukurannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu familier dengan bangunan ini jadi aku dengan risih melihat sekeliling. Isshiki yang maju jauh di depan berhenti di depan pintu suatu ruangan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas pintu tersebut tertulis “Ruangan Seminar”. Kelihatannya mereka menyewa ruangan ini untuk menyelenggarakan konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengetuk pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, silahkan masuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suatu suara memanggil dari dalam, Isshiki menarik nafas kecil dan meletakkan tangannya pada pintu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu tersebut, suara-suara keributan&amp;lt;!--clamor of voices--&amp;gt; tumpah dari ruangan itu. Keberadaan meja-meja dan kursi-kursi membuat ruangan itu terasa seperti sebuah ruang kelas di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas kerja kerasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki memberikan sapaan riangnya&amp;lt;!--bubbly-like--&amp;gt; selagi dia masuk ke dalam ruangannya terlebih dulu. Bahkan setelah aku mengikutinya ke dalam, tidak ada tanda-tanda suara obrolan itu akan menghilang. Ditambah lagi, tidak ada satu orangpun yang mengarahkan pandangan mereka padaku. Semua orang kelihatannya sedang terasyikkan dalam percakapan mereka sendiri sehingga mereka tidak begitu tertarik denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu terlihat seperti Isshiki benar-benar diakui sebab suatu suara yang datang dari kelompok itu memanggil dirinya. Dilihat lebih dekat, orang yang memanggilnya dengan satu tangan terangkat itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan seragam SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iroha-chan, sebelah sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, seeeeelamat sore.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki melambaikan tangannya selagi dia menuju ke arah kelompok itu. Aku tentu saja mengikuti persis di belakangnya. Ketika aku melakukannya, sekarang setelah aku berada di depannya, si laki-laki yang memanggil Isshiki melihat ke arahku dengan ekspresi kebingungan. Dia kemudian dengan pelan berbisik ke arah telinga Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, salah satu kaki tangan&amp;lt;!--helping worker--&amp;gt; kami!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu suatu penjelasan yang kurang ajar melihat betapa besarnya seringaianmu itu, benar bukan, Isshiki? Tapi bahkan dengan perkenalan semacam itu, laki-laki itu membuat seruan terkesan “ooh” dan berpaling ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku Tamanawa. Aku ketua OSIS SMA Kaihin Sogo. Senang berjumpa denganmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ah, senang berjumpa denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba diberikan perkenalan mendadak yang tak kusangka, aku bimbang tentang apa aku seharusnya memberitahu namaku juga yang dimana Tamanawa tidak terlihat keberatan selagi dia meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku benar-benar senang kami bisa merencanakan ini bersama dengan SMA Sobu. Aku sedang berpikir akan bagaimana kita perlu membentuk suatu HUBUNGAN REKAN yang akan membawa sebuah efek SINERGI dimana kita bisa saling MERESPEK satu sama lain, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Jangan memulainya dengan kalimat lucu&amp;lt;!--good punch--&amp;gt;, meeen. Setengah dari apa yang dia katakan masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tapi kelihatannya Tamanawa adalah orang yang menyusun konferensi acara Natal ini. Aku menyadarinya dari kata-kata pilihan yang diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena posisi Tamanawa sebagai ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, hanya berbicara dengannya menyebabkan orang-orang di sekitarnya terseret ke dalam percakapannya. Pada saat tersebut, orang-orang memperkenalkan diri mereka, tapi, jujur saja, aku tidak dapat mengingat mereka semua. Yah, setelah acara ini selesai, kami tidak akan bertemu lagi, jadi tidak perlu untuk memasukkan satupun dari mereka ke dalam ingatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya harus menghadapi begitu banyak orang saja sudah lumayan melelahkan. Aku secara refleks membuat suatu helaan. Aku meninggalkan sisanya pada Isshiki, duduk di suatu tempat duduk yang lebih jauh dan mengamati Isshiki dan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukannya, mataku bertemu dengan mata seseorang yang memiliki tampang bingung di kerumunan orang itu. Orang itu berkedip kaget setelah melihatku. Dan kemudian orang itu berdiri dan berjalan ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Hikigaya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika namaku dipanggil oleh orang yang mengejutkan, aku terkaget dan terlambat meresponnya. Tak kusadari, setetes keringat mengalir jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam SMA Kaihin Sogo gadis itu agak sedikit kusut dan dia sedang menyisiri rambut &#039;&#039;perm&#039;&#039; hitamnya dengan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orimoto Kaori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah teman sekelas dari SMPku dan juga gadis yang kunyatai cintaku dahulu kala. Hanya baru-baru ini saja, kami mendapat pertemuan yang tak terduga dan kemudian aku terlempar ke dalam situasi yang tak terduga. Apa yang terjadi dahulu kala dan baru-baru ini bukanlah kenangan yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipikir-pikir lagi, Orimoto masuk ke SMA Kaihin Sogo, bukan? Fakta bahwa dia ada di sini berarti dia terlibat dengan OSIS, huh…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecurigaan itu juga dipikirkannya kelihatannya. Dia membuat seruan&amp;lt;!--voice--&amp;gt; kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, kamu masuk ke OSIS?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawabnya, Orimoto mengangguk dengan yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, Begitu ya. Kalau begitu kurasa situasi kita sama. Aku ada di sini karena ada teman yang mengajakku, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia mengatakan itu, Orimoto melirik ke belakangku dan melihat ke sekeliling dengan gelisah. Apa dia sedang mencari sesuatu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hikigaya, apa kamu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, sama seperti biasanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab, Orimoto mendengus dan tertawa terbahak-bahak selagi dia memegangi perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan, itu super kocak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak kocak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang kocak di sini… Lagipula, aku bukan yang menerimanya! Dan aku juga bukan yang memberikannya&amp;lt;ref&amp;gt; Kalimat Fujoshi. Orimoto berkata “ukeru” yang juga dipakai dalam percakapan fujoshi, uke and seme &amp;lt;/ref&amp;gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, berkat Orimoto, aku memiliki pemahaman yang sedikit lebih baik mengenai kelompok ini. Walaupun ini adalah suatu konferensi acara di antara OSIS dua sekolah, SMA Sobu, kelihatannya bahkan relawan juga berpartisipasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah pihakmu, macam, kekurangan anggota? Atau apa hanya kami yang banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat bahwa hari ini adalah yang pertama kalinya aku di sini, aku tidak begitu sadar akan situasi di dalam ruangan ini. tapi ketika aku melihat ke sekeliling ruangan, SMA Kaihon Sogo hanya ada sekitar sepuluh orang. Di sisi lain, pihak SMA Sobu ada…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huh? OSIS kami… Aah, di sana mereka. Mereka berkerumun di sudut sebelah sana. Jumlah anggota selain aku dan Isshiki yang mengenakan seragam mereka ada satu, dua… empat orang huh? Ditambah lagi, tidak seperti anggota dari SMA Kaihin Sogo, anggota kami terlihat lemah jika dibandingkan. Itu terlihat agak memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, kami tidak ada banyak anggota…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Duh, kamu bisa mengetahuinya dengan hanya melihatnya saja… Yah, tidak seperti itu penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu, Orimoto terlihat seakan dia tidak tertarik lagi dan segera meninggalkan sisiku ke tempatnya semula. Isshiki kembali seakan dia ku-tag. Isshiki terus menatap ke arah Orimoto dengan cermat dan kata-kata itu terselip keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, ada yang kamu kenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caramu mengatakan itu terdengar seperti kamu sebenarnya sedang berkata “ada orang yang kamu kenal?” Mari hentikan itu, oke, Irohasu? Juga, kamu, kamu pernah melihatnya setidaknya sekali sebelumnya, bukan? Dia mungkin tidak ingat karena dia begitu jauh waktu itu. Pertama-tama, aku agak sedikit tidak yakin bagaimana pergi menjelaskan ini, tapi berkat itu, pada akhirnya aku bisa melemparkan jawaban biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Yah, hanya teman sekelas dari SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Isshiki menanyakan mengenainya, dia tidak terlihat begitu tertarik selagi dia duduk dan mulai membagikan makanan ringan yang dia beli. Melihat itu, orang-orang dari SMA Kaihin Sogo mulai menyiapkan makanan ringan dan minuman mereka juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya rapatnya sudah akan segera dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik pihak Kaihin Sogo dan pihak Sobu pergi ke tempat duduk mereka yang sudah ditentukan. Semua orang duduk di tempat duduk mereka yang dijejerkan mengelilingi meja berbentuk C itu. Sekarang kalau begitu, sudut mana yang sebaiknya kududuki…? Melindungi salah satu dari empat sudut itu membuatku benar-benar merasa aku adalah salah satu Empat Hewan Suci&amp;lt;ref&amp;gt; [http://digimon.wikia.com/wiki/Digimon_Sovereigns Raja Digimon] &amp;lt;/ref&amp;gt; atau begitulah yang kupikir sampai lengan bajuku ditarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, silahkan duduk di sebelah sana~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, Aku tidak masalah dengan di sudut saja…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengatakan itu, Isshiki tidak mau melepaskan lengan bajuku. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari tangan yang menangkapi diriku, tapi Isshiki terus memeganginya. Ada apa dengan kekuatan ini? Caranya memegang padaku itu begitu imut, tapi aku bahkan sama sekali tidak bisa melepaskan diri…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayola&#039;, ayola&#039;, sudah mau dimulai, kamu tahuuu~”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan menarik lengan bajuku dengan lebih kuat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, oke. Kamu akan menggoyaknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, tidak peduli dimana aku duduk, aku toh tidak akan mengatakan apapun, jadi itu akan sama saja pada akhirnya. Kalau begitu, tempat duduk dengan makanan ringan tepat di depanku itu akan bagus untukku. Aku dengan enggan menyerah dan duduk di samping Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun itu meja berbentuk C, tepat di tengah-tengah adalah tempat duduk ulang tahun yang ditempati oleh ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Kami, SMA Sobu, duduk di sisi kanan meja itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika aku melihat lebih cermat lagi, persis seperti yang dikatakan Orimoto tadi, pihak mereka memiliki anggota yang lebih banyak. Kalau hanya menyangkut jumlah, mereka memiliki dua kali lipat jumlah anggota, tapi itu terasa seperti bahkan ada perbedaan yang lebih besar lagi dalam substansi dari jumlah anggota mereka. Alasan utamanya mungkin ada berhubungan dengan level keributan mereka. Para gadis dan lelaki di SMA Kaihin Sogo terlihat hidup sementara pihak SMA Sobu terlihat mati jika dibandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, melihat bahwa pihak mereka-lah yang menyarankan ide ini, perbedaan dalam motivasi itu sesuatu yang tidak bisa diapa-apakan. Aku rasa itu sesuatu seperti antara mereka yang merupakan para penyelenggara acara dan mereka yang merupakan pendukung acara. Perbedaan mereka jelas ditunjukkan dalam urutan tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari situasinya, kelihatannya neraca kekuatannya condong ke arah SMA Kaihin Sogo dengan mereka sebagai pihak utama dalam berbagai hal sementara SMA Sobu ditunjuk sebagai pihak pendukung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ketua pihak mereka, Tamanawa, memastikan bahwa semua orang telah mengambil tempat duduk mereka, dia menepuk tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eeerm, kami sekarang akan memulai konferensinya. Aku berharap untuk dapat bekerja sama dengan kalian semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara seperti dia sudah terbiasa dengannya dan semua orang membungkukkan kepala mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, konferensinya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa memanggil satu orang dari kelompok rekan satu timnya yang bergerak menuju ke depan papan tulis. Selagi suara spidol menekan ke bawah bergema, Tamanawa membuka mulutnya selagi dia mengamati dengan pandangan menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mirip seperti sebelumnya, mari kita melakukan sedikit BRAINSTORMING.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eh, apa-apaan? Itu begitu keren. Walau aku tidak bisa memakai kemampuan macam itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau begitulah yang kupikir untuk sejenak, tapi dia sebenarnya hanya mengacu pada diskusi. Ada berbagai jenis definisinya, tapi itu singkatnya berarti sekelompok orang akan sebebasnya mengutarakan ide-ide mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Topik diskusinya akan dilanjutkan dari yang sebelumnya dan kita mengharapkan beberapa IDE mengenai KONSEP dan isi acara itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Tamanawa melanjutkan urusannya, pihak SMA Kaihin Sogo mulai mengacungkan tangan mereka satu per satu, masing-masing memberikan pendapat mereka mengenai topik permasalahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengamati mereka untuk sejenak. Maksudku, kalian tahu, singkatnya seperti itu. Memberikan idemu ketika kamu bahkan tidak memiliki pemahaman mendasar dari situasinya hanya akan berakhir menjadi penganggu. Itu tidak seperti aku sedang mencoba untuk mencari cara gampang untuk melakukannya atau mengelak dari tugas, aku hanya sedang bersikap pengertian!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang dari pihak mereka mengatakan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita mempertimbangkan tuntutan terhadap kita para murid SMA, kita sudah pasti harus membuat INOVASI dalam area-area mengenai PEMIKIRAN anak-anak muda…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu, Begitu ya. Pemikiran bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi, seorang murid lain di sebelah sana berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, maka jelas itu berarti kita pasti akan harus berpikir untuk membentuk suatu kondisi SAMA-SAMA SENANG dengan pihak KOMUNITAS sebagai prasyaratnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O-Oke. Yah, aku mengerti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, satu orang lagi dari pihak mereka berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika begitu, maka kita mungkin harus menaruh pertimbangan strategik dalam BIAYA-MANFAAT&amp;lt;ref&amp;gt; Cost performance: artinya suatu manfaat/keuntungan yang didapat dengan mengeluarkan biaya tertentu (Manfaat/Biaya). Idealnya ya manfaat setinggi-tingginya dengan biaya sekecil-kecilnya. &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi kita akan menarik suatu KONSENSUS untuk itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Y-Ya… Benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengamati mereka tanpa bersuara sampai saat tersebut, pemikiran itu tiba-tiba menghantamku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ada apa dengan konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya aku tidak paham sama sekali tentang apa yang sedang mereka lakukan, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah itu? Aku heran, mungkinkah karena aku itu tolol sehingga aku tidak bisa mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir dengan cemas, aku melihat pada Isshiki yang sedang duduk di sampingku dan dia sedang menganggukkan kepalanya selagi menyerukan “Whoa…” dengan suara terkagum. Kamu memahaminya? Phone a friend.&amp;lt;ref&amp;gt; Who wants to be a millionaire &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan buruk jika aku ketinggalan meskipun aku berada di sini untuk membantu, jadi aku dengan diam-diam memastikannya dengan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Isshiki, apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berbisik padanya, Isshiki memutar kepalanya sedikit ke arahku. Dia dengan imut memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh…? Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”, jangan beritahu aku, kamu… Siapa kamu, si pemain tenis meja, Ai-chan&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Ai_Fukuhara Ai Fukuhara] - Ini ada hubungannya dengan bagaimana Isshiki berkata “Mana kutahu?” yang merupakan “saa” dan Ai Fukuhara kelihatannya mengatakan “saa” dalam pertandingannya atau apalah. Itu seperti sejenis teriakan untuk menyemangati dirinya dalam pertandingan.&amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis ini, dia tidak mengerti satupun dan dia masih memiliki reaksi itu? Aku melihat ke arahnya dengan tampang kaget, tapi Isshiki tidak terlihat menghiraukan itu. Senyuman kecilnya tidak mengatakan apapun selain. “jangan kuuuatir, semua baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pihak mereka sedang mengeluarkan semua ide-ide mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoohm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi jika pihak mereka yang melakukan tugas berpikirnya, maka pihak kami hanya perlu mengerjakan semuanya&amp;lt;!--put everything to action--&amp;gt;… Yah, kalau begitu, hanya aku sendiri saja sudah akan cukup kelihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak membenci kerja keras yang sederhana. Melakukan suatu pekerjaan berulang-ulang tanpa henti seperti mesin itu mengikis jiwa, tapi jiwaku sudah sepenuhnya jauh terkikis, belum dibilang tidak tahu malu lagi. Jika aku tidak perlu bersikap pengertian deengan orang lain dan aku bisa tidak perlu memakai kepalaku, maka itu merupakan suatu surga dalam caranya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmkei, kalau begitu aku lebih baik mendengarkan apa yang sedang terjadi supaya aku bisa setidaknya melakukan apa yang perlu kulakukan. Tapi itu terasa seperti percakapan mereka tidak ada substansi apapun di dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai persoalan itu, Tamanawa yang sedang memimpin rapat itu terlihat seperti dia merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semuanya, bukankah ada sesuatu yang lebih penting…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Tamanawa mengucapkannya dengan nada berat, hawa dingin menjalari tempat dudukku. Seperti yang bisa diduga dari yang menjadi ketua OSIS, kehebatannya itu cukup sesuatu&amp;lt;!--something to behold--&amp;gt;. Semua orang memusatkan perhatian mereka menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, Tamanawa memandang ke sekeliling pada keseluruhan Ruangan Seminar itu dan membuat gerakan tangan yang sedikit berlebih-lebihan yang terlihat seperti dia sedang memutar roda tembikar dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu memakai PEMIKIRAN LOGIS ketika kita memikirkan tentang sesuatu secara logis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kamu hanya mengatakan hal yang sama? Persisnya mau berapa kali kamu akan berpikir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita perlu mendukung PIHAK PELANGGAN&amp;lt;!-- make a stand on--&amp;gt; dari sudut pandang pelanggan, kamu tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kubilang, bukankah kamu hanya mengucapkan hal yang sama? Persisnya ada berapa banyak pelanggan yang akan kamu dapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa seperti aku sedang memiliki senyuman berkedut yang muncul di wajahku. Tapi semua orang lain memiliki ekspresi “oh, begitu” dan sedang melihat pada Tamanawa dengan mata berbinar-binar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Itu tidak bagus. Ketua ini dan yang lain adalah orang-orang yang mengikuti pola-pola yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, ini adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang serupa atau mungkin perkumpulan orang-orang yang terlihat ingin mengincar sesuatu. Alur konferensi ini tidak berubah selagi itu berlanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kita harus mempertimbangkan ALIH DAYA juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi dengan METODE kita sekarang ini, itu mungkin agak sedikit sulit, dari sisi-SKEMATIK.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Kalau begitu, ada kemungkinan bahwa kita perlu memRSCHD hal-hal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apaan itu RSCHD&amp;lt;ref&amp;gt; Reschedule, penjadwalan ulang &amp;lt;/ref&amp;gt;? Sebuah toko dengan lidah sapi yang lezat &amp;lt;ref&amp;gt; Watari suka makan di luar, jadi kurasa ini restoran yang dikunjunginya yang menawarkan lidah sapi &amp;lt;/ref&amp;gt;? Kenapa mereka-mereka ini terus-terusan memakai katakana &amp;lt;ref&amp;gt; Seperti yang kalian lihat, ada banyak kata-kata yang di CAPS LOCK dan ini menandakan kata-kata dalam katakana yang merupakan salah satu sistem tulisan yang biasanya dipakai untuk kata-kata serapan&amp;lt;!--pinjaman--&amp;gt; dari bahasa asing. Namun, kata-katanya digunakan sebegitu seringnya seperti yang dikatakan oleh Hachiman seperti buzzword (kata-kata teknis yang populer untuk suatu waktu yang biasanya hanya untuk pamer macam SINERGI itu tadi).&amp;lt;/ref&amp;gt;? Ruu Ooshiba&amp;lt;ref&amp;gt;[http://keroro.wikia.com/wiki/Ruu_Ooshiba Ruu Ooshiba] - dia menuliskan nama penanya dalam katakana &amp;lt;/ref&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menginovasi sebuah INOVASI! NEGOSIASI yang didiskusikan dan dinegosiasikan! Rencana yang tersolusikan itu suatu SOLUSI! Pengulangan itu terus berlanjut. Aku pikir ide mereka itu tidaklah HIP - HOP karena kesadaran mereka jelas sekali HOP - UP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fueee… Kesadaranku begitu tiiiiingi sekali… Itu terasa seperti kesadaran&amp;lt;!--conscience--&amp;gt; kecil dan malangku itu naik jauh di atas ke suatu tempat…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari mana kita datang dan kemana kita pergi?&amp;lt;ref&amp;gt;[http://en.wikipedia.org/wiki/Where_Do_We_Come_From%3F_What_Are_We%3F_Where_Are_We_Going%3F Where do we come from what are we doing?] &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sebuah konferensi dimana pemikiran itu tiba-tiba melintas dalam pikiranku. Dari manalah konferensi ini datang dan mau kemana konferensi ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konferensi itu akhirnya berakhir dengan tidak ada keputusan yang menyerupai kesimpulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi BRAINSTORMING umumnya sesuatu seperti itu. Sebuah diskusi umumnya sesuatu dimana kamu mengeluarkan beraneka ragam ide. Itu digelar dengan tujuan untuk membuat kemajuan. Dengan demikian, ternyata konferensi ini sendiri mungkin tidak begitu hampir se-tidak berguna itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu hal yang sedikit menangkap perhatianku dan itu adalah bagaimana sebagian besar sarannya datang terutama dari SMA Kaihin Sogo. Walaupun hadir, SMA Sobu sebagian besar tidak mengatakan apapun. Yah, jika hal-hal tadi seperti “proklamasi yang sangat sadar&amp;lt;ref&amp;gt; Sangat sadar maksudnya suka mengujarkan apa yang sulit dipahami orang lain (biasanya istilah-istilah teknis) (Sok pintar)&amp;lt;/ref&amp;gt;” itu terus menerus dilontarkan, maka menjadi gugup itu wajar. Bahkan sang ketua Isshiki tidak terlihat seperti dia juga akan mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berbicara mengenai Isshiki itu, dia kelihatannya sedang berbicara tanpa henti dengan ketua SMA Kaihin Sogo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, aku tidak ada yang bisa dilakukan, jadi aku mengamati Isshiki dengan termenung-menung dari tempat yang sedikit jauh. Ketika aku melakukannya, Isshiki menyadari keberadaanku dan memotong percakapannya pada bagian yang pas dan mendekatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai, apa kamu mendapat gambaran yang bagus tentang apa yang sedang terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali… Aku tidak memahami satu hal pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mungkin sedang menanyakanku apakah aku mengerti apa yang didiskusikan dalam konferensi itu. Aku menyadari hal itu, tapi sayangnya, aku hanya bisa mengucapkan kalimat standar&amp;lt;!--placeholder--&amp;gt; karena itu akan aneh untuk mengatakan aku sebenarnya mengerti apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menduga-duga bagaimana perasaanku dari ekspresiku, Isshiki membuat helaan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, toh, mereka sedang mengatakan sekumpulan hal-hal sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, bukan kata-katanya itu sulit, tapi itu terlalu samar, membuatnya benar-benar sulit untuk dimengerti. Tapi perbedaan itu sepele bagi Isshiki selagi dia membuat suatu senyuman mencandukan.&amp;lt;!--poppy smile--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ketika aku bilang “menaaaaabjubkan” dan “Aku sebaiknya berusaha keraaas juga!”, mereka benar-benar memandangku dengan serius. Setelah itu, aku hanya perlu membalas pesan-pesan dari waktu ke waktu dan seharusnya itu tidak akan ada masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seseorang akan menikammu suatu hari…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu mungkin bukan sekarang, tapi pada suatu waktu dia akan benar-benar menderita dari balasan karmanya dan itu membuatku khawatir. Sungguh, pria yang tidak populer cenderung terlalu mudah diseret-seret&amp;lt;!--pulled along--&amp;gt;, jadi segala jenis tragedi malang akan bermunculan… Pria tidak populer cenderung anehnya polos dengan pikiran mesum&amp;lt;!--one track mind--&amp;gt; dan karena kejujuran ini, mereka cenderung dengan mudahnya salah paham. Apa-apaan? Memikirkannya lagi, pria tidak populer itu pria-pria yang benar-benar hebat! Kenapa mereka tidak populer? Sungguh misterius!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan itu, Isshiki mengerang terlihat seakan sedang memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tapi senpai, kamu akan memberikan kesan itu kadang-kadang, kamu tahu? Seperti bagaimana kamu akan terlihat seperti kamu itu cerdas atau betapa kamu itu salah satu tipe-tipe terlampau sadar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuat setengah senyuman selagi dia mengatakan itu. Persis setelah kata tipe-tipe terlampau sadar itu terdapat kata (lol) tertempel padanya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kelompokkan aku dengan mereka. Aku bukan tipe orang yang terlampau sadar. Aku tipe orang yang terlampau sadar diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe orang terlampau sadar (lol) adalah, yah, singkatnya orang-orang yang berusaha keras membuat orang lain terpesona dengan niatan untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa. Mereka adalah sekelompok anak-anak menjengkelkan&amp;lt;!--painful--&amp;gt; yang menggunakan istilah-istilah lingo&amp;lt;ref&amp;gt; bahasa khas/aneh &amp;lt;/ref&amp;gt; bisnis dan manajemen yang paling sesuai untuk menunjukkan betapa cakapnya mereka dibandingkan dengan orang lain. Itu tidak begitu berbeda dari chuunibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, tipe-tipe orang yang terlampau sadar diri itu hanyalah anak-anak menjengkelkan biasa. Itu tidak begitu berbeda dari kounibyou.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa, Aku benar-benar tidak mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki menjawab dengan letih. Yah, aku juga tidak mengerti. Tidak peduli yang manapun itu, fakta bahwa mereka berdua itu menjengkelkan untuk dilihat tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, sekarang setelah kita sudah memahami apa yang perlu kita lakukan, ayo kita memulainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki segera mempersembahkan setumpuk kertas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, begitu. Jadi apa yang dia lakukan tadi itu bukan hanya percakapan ramah tamah, tapi dia sedang menanyakan detail tentang apa yang pihak kami, SMA Sobu, yang tidak mengajukan apa-apa selama konferensi itu, harus lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang, ada saat-saat dimana menggelar sebuah konferensi itu tidak ada artinya. Tidak ada hal penting yang diputuskan dalam konferensi karena sebagian besar akan diputuskan di balik layar oleh orang-orang lebih penting, yang merupakan kejadian biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sendiri terutama bijak di area itu. Dia adalah gadis kelas sepuluh yang imut dan dia sedang diperlakukan dengan cukup baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah lumayan dekat dengan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm. Yah, aku rasa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki meletakkan jari telunjuknya pada dagunya dan mengerang selagi dia memiringkan kepalanya. Dia kemudian menyerukan “aha” dengan suatu senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tunggu! Kamulah yang mengajariku itu, senpai. Bahwa gadis yang lebih muda yang ingin diajari itu imut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingat mengajarimu itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku memang mengajarinya bagaimana untuk memakai keuntungan dari manfaat dalam posisinya itu, tapi aku tidak ingat memberitahunya sesuatu sespesifik itu. Tidak, jika kamu akan menjelaskannya dengan cara Isshiki, maka itulah hasil yang muncul… Tidak bagus, apa aku tanpa sengaja melahirkan seorang monster? Ini pasti akan berakhir pada &#039;&#039;circle crash&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt; Situasi dimana hubungan dalam suatu klub menjadi hancur karena berbagai masalah yang biasanya berhubungan dengan cinta. &amp;lt;/ref&amp;gt;, huh…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, yah, kalau begitu kamu bisa cukup menyerahkan itu pada mereka. Kamu tidak benar-benar memerlukanku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, um, sebenarnya itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku bertanya, Isshiki melihat ke bawah, enggan untuk menjawab. Dia terlihat seperti dia ada sesuatu yang menguatirkannya selagi aku menunggunya untuk meneruskan. Tapi itu tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu karena ada seseorang yang mengetuk ke atas meja kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Iroha-chan. Bisakah aku minta tolong kamu juga mengerjakan ini? Aku sudah mengurus bagian yang lebih besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang muncul adalah ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, Tamanawa. Itu kelihatannya dia ada beberapa tambahan pada isi percakapan yang mereka bicarakan tadi. Dia menyerahkan beberapa kertas print-out lagi pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, oooke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki mengambilnya dengan sukarela. Tidak ada satupun tanda-tanda wajah murungnya tadi yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan serahkan itu padamu. Jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, cukup beritahu aku. Aku akan mengajarimu bagaimana cara mengerjakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamanawa membuat senyuman menyegarkan selagi dia melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu. Isshiki melambai balik dan melihatnya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu ayo kita mulai mengerjakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpaling kembali padaku, menyusun ulang print-out tambahannya, dan mulai menyerahkannya pada anggota OSIS lain di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dengan demikian, kerja kita adalah untuk mencatat dan menyusun notulen&amp;lt;ref&amp;gt; Catatan singkat mengenai jalannya rapat serta hal yang dibicarakan dan diputuskan&amp;lt;/ref&amp;gt; konferensi itu. Oke, aku berharap bisa bekerja sama dengan kalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia berbicara pada mereka selagi dia membagikan pekerjaannya pada setiap orang, responnya lemah. Perbedaan dalam motivasinya begitu mengejutkan dibandingkan dengan OSIS mereka yang begitu hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, toh, untuk bahkan sedikitpun merasa termotivasi terhadap suatu pekerjaan itu aneh. Tidak, logikanya sendiripun aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi melihat bahwa pekerjaan kami hanya untuk membagi-bagi&amp;lt;!--break down--&amp;gt; apa yang diberikan pada kami oleh mereka, aku dapat mengerti kenapa OSIS kami tidak ingin berpartisipasi. Itu karena OSIS yang mereka bayangkan itu sepenuhnya berbeda dari kenyataannya sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga mengambil beberapa print-out notulennya juga. Ada beberapa hal seperti rencana untuk masa depan dan suatu daftar topik. Kelihatannya pekerjaan kami untuk sekarang adalah berlatih membuat notulennya.&amp;lt;!--brush these up--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua mengerjakan pekerjaan kami tanpa bersuara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami melakukannya, salah satu anggota OSIS dengan tenang berdiri dan menyerahkan selembar print-out pada Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketua, apa ini bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, biar aku lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki dengan kertas itu di tangannya membuat ekspresi yang kurang lebih kaku. Laki-laki tersebut berbicara seakan dia ingin mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentang ini…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dipikir lagi, tidak jadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki yang terlihat cakap itu menelan kata-kata selanjutnya dan berpaling. Dia kemudian mengucapkan “terima kasih” dengan suara kecil dan kembali ke tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika aku mengikutinya dengan tatapanku sambil merasa heran apa aku pernah melihatnya sebelumnya, Isshiki menyadari hal ini dan memberitahuku dengan suara diam-diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia si wakil ketuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia memberitahuku, aku menyadarinya. Aah, anak kelas sebelas kurasa… Dipikir lagi, aku tidak tahu namanya, tapi aku rasa aku pernah melihatnya sebelumnya di lantai yang sama&amp;lt;ref&amp;gt; Maksudnya ketemu di sekitar kelasnya (lantai dua) &amp;lt;/ref&amp;gt;. Jadi dia wakil ketua kami huh? Kamu mungkin bisa mengetahui nama ketuanya tapi itu tidak akan berlaku pada yang lain karena popularitas mereka tidak sesignifikan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, angkatan yang sama denganku, huh? Itu menjelaskan kenapa Isshiki sedang bersikap sopan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fumu. Cukup rumit, mesti kubilang. Bawahan yang usianya lebih tua membuatku sulit untuk bekerja bersama dia, tapi atasan yang lebih muda tidak akan membuatmu merasa tenang. Bahkan di tempat kerja paruh waktuku pada toko swalayan, itu benar-benar sulit untuk bekerja bersama pegawai baru yang berusia lebih tua… Kamu harus bersikap pengertian sambil mengajari pekerjaannya pada dia dan si dia juga akan merasa terganggu mengenai sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan bagi Isshiki yang dicintai orang yang lebih tua darinya karena kesusahan dengan sesuatu, terlihat tidak ada bedanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelihatannya agak sulit bagimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah… Aku rasa aku tidak begitu disukai. Tapi selalu seperti itu pada awalnya. Kita akan terbiasa dengannya pada akhirnya, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Isshiki bergetar hanya untuk sejenak. Tapi dengan segera, dia membuat senyuman menantang selagi dia mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, benar, semua orang dapat akur dengan baik pada awal-awalnya itu sulit. Biasanya tetap akan ada beberapa hal dan pendapat yang tidak akan saling disetujui mereka.&amp;lt;!--see eye to eye--&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, di sana terdapat kemungkinan untuk belajar dari hal itu.&amp;lt;!--growing--&amp;gt; Jika baru mulai dari awal sekali, maka ada hal-hal yang bisa kamu rubah. Setidaknya, kira-kira itu berbeda dari dikurung di suatu ruangan bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku diajak bicara, aku segera mengangkat kepalaku. Ketika aku melakukannya, tampang kebingungan Isshiki selagi dia melihatiku ada di sana. Kelihatannya tanganku sudah berhenti bekerja. Aku segera kembali menulis untuk menghilangkan jeda aneh itu sambil berkata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, persisnya berapa lama kita akan terus melakukan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu… Sudah hampir waktunya bagi kita untuk pulang, kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki menjawabnya, aku melihat ke arah jam di dekat pintu masuk ruangan itu. Sudah hampir waktunya. Itu juga hampir waktunya bagi klub-klub untuk mulai pulang pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu di bawah jam itu kemudian terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, bekerja keras.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita berpakaian setelan dengan jas putih yang masuk dan berbicara itu Hiratsuka-sensei. Selagi dia menjentikkan rambut hitam panjangnya, dia mendekatiku sambil membuat suara dengan sepatu haknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa orang ini ada di sini…? Selagi aku berpikir sungguh misterius&amp;lt;!--mysteriously--&amp;gt;, Hiratsuka-sensei membuat helaan tidak puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti biasa, ini adalah pekerjaan yang dipercayakan padaku lagi… Astaga&amp;lt;!--good grief--&amp;gt;. Diberikan semua pekerjaannya karena aku muda itu tentu menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku rasa begitu. Toh, sensei itu muda… Tanpa kusengajai, aku melihatinya dengan mata yang lembut. Ketika aku melakukannya, Hiratsuka-sensei melihat ke arah mataku juga. Entah di mana, di sana juga ada tanda-tanda kebaikan di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa kamu sendirian Hikigaya? Dimana Yukinoshita dan Yuigahama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari nadanya, dia menduga jika aku ada di sini, maka dua orang dari Klub Servis akan ada di sini juga. Aah, dipikir-pikir lagi, Isshiki ada menyebutkan bahwa Hiratsuka-sensei adalah orang yang memberitahunya untuk melakukan ini, bukan…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, permintaan Isshiki adalah sesuatu yang direncanakannya untuk membuat Klub Servis menerimanya. Dan benar, jika keadaannya seperti yang sebelumnya, maka permintaan ini pasti akan diterima oleh Klub Servis secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu berbeda sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tidak, aku sedang membantunya di sini sendiri&amp;lt;!-- as a personal favor--&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan mataku kembali ke kertas print-out di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fumu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke arahku selagi aku bekerja dan tidak mengatakan apapun untuk sejenak. Aku tidak menjelaskan apapun lebih jauh lagi dan hanya menggerakkan tanganku. Satu-satunya hal yang kulakukan adalah menyalin kalimat-kalimat dan kata-kata tidak berarti ke kertas lain seperti robot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Yah, itu tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei membuat helaan singkat dan mengalihkan pandangannya antara diriku dan Isshiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun, Hikigaya dan Isshiki, huh…? Pasangan yang agak menarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terperangkap bersama itu tidak begitu menarik bagi kami. Tapi Isshiki terlihat seakan dia berpikiran sama denganku selagi dia membuat wajah yang sedikit tidak puas selagi mengerang. Bukankah kamu sedang bertingkah sedikit jahat, Irohasu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiratsuka-sensei melihat ke wajah kami dan tertawa geli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh tidak, tidak ada apa-apa… Omong-omong, sudah hampir waktunya. Tinggalkan sisanya untuk lain hari dan pergi pulang. Pihak mereka kelihatannya juga melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diberitahu hal itu, aku melihat sekilas dan orang-orang dari SMA Kaihin Sogo sudah bersiap-siap untuk pergi satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa begitu. Kenapa tidak kita bergegas pulang juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Isshiki mengatakan hal ini pada setiap anggota lain, setiap anggota mulai bersih-bersih. Isshiki kemudian memelankan suaranya mempertimbangkan keberadaan Hiratsuka-sensei. Dia berbisik pada telingaku dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pergi makan dengan orang dari OSIS mereka dan pulang ke rumah setelah itu. Senpai, kamu boleh pulang ke rumah dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pilihan untuk mengundangku, bukan…? Itu tentu membuatku lega&amp;lt;!--it&#039;s load off my chest--&amp;gt;. Dia tentu memahamiku dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, aku akan pergi pulang kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku akan menantimu besok juga, senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isshiki membuat suatu bungkukan bodoh lagi selagi dia menjawab sambil melambaikan tangannya dengan pelan dan aku menuju ke arah pintu. Dan aku tidak lupa untuk menanyakan satu hal lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, benar. Itu tidak masalah untuk menganggap bahwa besok akan dimulai sekitaran jam tadi juga, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu standarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya mungkin ditentukan pada jam tertentu karena mereka mengantisipasi bahwa itu akan memakan sedikit waktu bagi murid SMA Kaihin Sogo untuk datang kemari. Kalau begitu, bagi kami khususnya, ada banyak waktu sebelum dimulai konferensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berpikir bagaimana aku akan menghabiskan waktu senggang yang anehnya melimpah itu, aku meninggalkan pusat komunitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　×　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
===2-4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu kebahagiaan, boleh kutanya&amp;lt;!--dare I say--&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pastilah kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan. Selamat datang kembaliii.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, ketika aku berhasil sampai ke rumah, yang ada di ruang tamu adalah Komachi. Dia memiliki mata yang terlihat mengantuk. Itu terlihat seperti dia sudah tidur cukup lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan alasan untuk mengapa dia tertidur adalah karena kotatsu yang dikeluarkannya entah kapan ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, itu dibangkitkan kembali… Mesin iblis aneh ini.&amp;lt;!--This demonic mechanical contraption.--&amp;gt; Kotatsu adalah suatu mesin yang menghasilkan orang-orang yang tidak berguna. Aku bahkan dapat mengusulkan kita mengirimkan kotatsu kami kepada semua negara musuh lain selagi musim dingin karena kami akan bisa dengan mudahnya menjajah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, jangan belajar di kotatsu. Kamu hanya akan menjadi mengantuk dan kamu akan mengidap flu ketika kamu tertidur. Kotatsu mengubah orang menjadi orang tidak berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku memberitahunya secara singkat, Komachi menatapiku dengan sinis. Astaga, wah wah. Mungkinkah dia sedang dalam fase suka melawan sekarang ini…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, itu bukan sesuatu yang patut kamu katakan padaku selagi kamu sedang merasa nyaman di dalam kotatsu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hahaha, apa yang kamu bilang, Komachi-chan? Aku tidak sedang merasa nya… Oooh! Aku sudah masuk ke dalam kotatsu sebelum aku bahkan menyadarinya!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya bercanda. Aku memainkan sandiwara kecil tidak berarti itu selagi aku memasuki kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Mfmmeoow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hari yang panjang ini berakhir, sinar inframerah panjang ini terasa nyaman pada tubuhku yang terbeku saat berjalan ke rumah pada jalan dingin di malam hari. Ketika aku merenggangkan kakiku, kakiku bersentuhan dengan sesuatu yang halus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melakukan itu, sesuatu yang halus itu melilitkan tubuhnya pada kakiku. Apa sesuatu halus yang memiliki otakknya sendiri ini…? Nah nah&amp;lt;!--now then--&amp;gt;, mungkinkah itu kaki Komachi? Aku melihat ke arah Komachi dan ketika mata kami bertemu, Komachi membuat suatu seringaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dipikir dia mau melilitkan kaki kami bersama di bawah kotatsu… Akhir-akhir ini, adik kecilku sudah agak sedikit tidak biasa&amp;lt;ref&amp;gt; Saikin, Imouto no Yousu ga Chotto Okashiinda ga &amp;lt;/ref&amp;gt;. Sebenarnya, apa ini? Ini begitu memalukan…! Gadis manja sialan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendorong kakinya untuk memberitahunya untuk berhenti. Ketika aku melakukannya, perasaan halus itu pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, sesuatu datang merangkak keluar dari bawah kotatsu. Itu adalah kucing kami, Kamakura. Kelihatannya, itu bukan Komachi yang meliliti kakiku, tapi anak ini. Persisnya kenapa kucing cenderung suka memakai kakimu sebagai bantal, non?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kamakura meninggalkan kotatsu, dia merenggangkan diri dan membuat helaan panjang. Apa itu? Apa anak itu orang tua yang baru saja keluar dari sauna atau semacamnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia melihat ke arah wajahku, dia mendengus. Dia pastilah merasa tidak puas untuk diusir dari kotatsu oleh kaki terrenggangkanku. Atau mungkin itu karena kakiku bau… Itu membuatku kuatir, jadi tolong hentikan reaksi itu, oke…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu sedang menatap dengan begitu kerasnya pada Kaa-kun. Apa ada yang salah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Kamakura sudah keluar dari kotatsu, kelihatannya dia masih merasa dingin sebab dia melompat ke atas kaki Komachi dengan posisi roti tawar&amp;lt;ref&amp;gt; Posisi keempat kakinya dimasukkan ke bawah perutnya &amp;lt;/ref&amp;gt; dan mulai tertidur. Semua yang dia lakukan adalah tidur sepanjang sore, namun dia masih ingin pergi tertidur lagi? Menjadi seekor kucing itu tentu menyenangkan. Aku ingin hidup dengan gaya hidup itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[File:Yahari-10-1-a.JPG]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi mulai membelai Kamakura selagi dia tertidur di kakinya. Aah, tidak peduli berapa banyak waktu yang sudah berlalu, setiap kali aku melakukan itu, dia hanya akan pergi ke tempat lain…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Er, itu benar. Melihat ke arah Komachi membuatku teringat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heeei, Komachi-chan. Apa ini, hmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan surat yang masih berada pada kantong dada seragamku. Komachi mencondongkan dirinya ke depan untuk melihatnya tanpa membangunkan Kamakura. Dia kemudian dengan kalem berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Itu persis seperti yang kamu lihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar ingin sebuah peralatan elektronik…? Persisnya apa adik kecilku itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi terlihat seperti dia tidak ingin menjelaskannya lebih jauh lagi dan bersenandung selagi dia membelai Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Yah, jika aku mendesakknya lebih jauh lagi, pesan di dalam surat itu akan muncul dan itu akan benar-benar memalukan. Aku akan cukup memakai daftar itu sebagai acuan ketika aku memikirkan beragam hadiah untuk dibeli buat Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua menghabiskan waktunya dengan hening dan termenung-menung tanpa membuat banyak percakapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, Kamakura berdiri. Dia menggaruk telinganya dengan kaki belakangnya dan membuat ekspresi siap &amp;lt;!--posed expression--&amp;gt;selagi dia meninggalkan ruang tamu. Dia kemudian pergi menuju pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, ibu kami sudah pulang. Kamakura agak hebat ketika dia datang menemui ibu dan Komachi ketika mereka kembali. Omong-omong, dia tidak akan pernah sama sekali menyapa aku dan ayahku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dalam sesaat, suara pintu masuknya terbuka dapat terdengar. Suara langkah kaki bergema selagi kaki tersebut memanjat tangga dan di ruang tamu muncullah ibu kami. Di belakangnya terdapat Kamakura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pulaaang. Aaah, begitu lelah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku meletakkan tasnya di tempat itu dan meniup kopi yang entahkah dibelinya sewaktu pulang atau dari suatu kafé. Komachi dan aku menyapa penampilan lelahnya dengan rasa berterima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang kembali, maaama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, kerja bagus. Di mana ayah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ayah juga sudah pulang, maka aku pikir aku bisa menuntut sejumlah uang darinya untuk hadiah Komachi, tapi ibuku membuat ekspresi kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana kutahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HEI, HEI, MY MOTHER? YOU itu WIFE FATHERku, bukan? Bukankah kamu rasa kamu seharusnya sedikit lebih hormat terhadapnya? Atau apa itu karena kamu tidak tertarik dengan suamimu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama waktu-waktu musim ini, dia benar-benar tidak bisa pulang ke rumah karena dia baru nyaris bisa lewat&amp;lt;!--scraping by--&amp;gt; dengan jadwalnya itu, mungkin? Aku juga pulang dengan kerjaanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu kami mengatakan itu dengan begitu alamiah tanpa mencoba untuk membuatnya terdengar kurang serius. Daripada tidak tertarik sama sekali, itu lebih terlihat seperti itu hal yang sangat wajar bahwa dia tidak memperhatikannya. Hohmm, itu bervariasi tergantung pada tipe industrinya, tapi pekerja kantoran pada waktu-waktu musim ini benar-benar sibuk, bukan? Tidak mungkin aku bisa tahan pergi bekerja ketika sudah mendekati hari Natal, yang benar saja. Aku ingin menjadi orang dewasa yang akan menghabiskan waktunya dengan keluarganya selama musim Natal. Aku sudah pasti tidak akan bekerja. Selagi aku menguatkan tekad keras kepalaku, ibuku berkata ketika sesuatu terlintas di pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya, Hachiman. Kamu senggang bukan? Pesan satu party barrel&amp;lt;ref&amp;gt; Kentucky Fried Chicken &amp;lt;/ref&amp;gt;. Dan juga kue.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahn?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa harus aku&amp;lt;!--Why I have to--&amp;gt;? Dipikir lagi, namun itu tidak pasti bahwa aku akan senggang? Respon “ahn” adalah respon yang tanpa dibuat-buat&amp;lt;!--in a nutshell--&amp;gt;. Tidak ada satu “oke”pun yang bisa ditemukan dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya meminta Komachi untuk melakukannya, tapi tahun ini mungkin lebih baik jangan begitu&amp;lt;!--work out so well--&amp;gt;…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, tentu saja. Berikan aku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu alasannya, maka aku sangat rela melakukannya. Sampai sekarang ini, aku tidak pernah begitu menyadarinya, tapi ketika aku murid yang sedang ikut ujian, Komachi mungkin juga melakukan cukup banyak hal untuk kami. Sebenarnya, Komachi toh melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Pada saat-saat seperti ini, aku paling tidak seharusnya melakukan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku menjawab, Komachi menyela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun Komachi bisa melakukan setidaknya segitu banyak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi untuk beberapa alasan, ibu kami membuat setengah senyuman selagi dia melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Sekarang ini saja pekerjaan kami sudah banyak mendesakkan tanggung jawab kami padamu, Komachi. Setidaknya biarkan onii-chan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, salah. Itu salah. Aku memiliki banyak motivasi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi hanya saja setiap kali aku memikirkan “Aku akan melakukan pekerjaan rumah tangganya”! Pada saat itu, semuanya sudah selesai dikerjakan &amp;lt;ref&amp;gt; Jojo’s Bizarre Adventure. Kalimat yang diucapkan Prosciutto. Kalimat aslinya “Setiap kali kami memikirkan kata itu (Bunuh)… Kenyataannya, itu sudah terjadi!” &amp;lt;/ref&amp;gt; (oleh tangan Komachi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki adik kecil yang kompeten merupakan suatu berkah dan suatu kutukan yang merupakan alasan yang akan kuberikan, tapi ibuku tidak terlihat sedikitpun tertarik dengan reaksiku selagi dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, Aku lupa untuk menarik uang. Apa lain kali tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku menjawab dengan singkat, ibuku mengucapkan terima kasih dengan suatu helaan, membunyikan bahunya, dan meninggalkan ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Komachi melihat punggung lelah ibu, dia menyelipkan beberapa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia bahkan tidak perlu kuatir dengan Komachi juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, itu hanya kasih sayang orang tua. Tidak perlu kuatir dan fokus saja sama belajarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan itu, Komachi menyipit untuk sejenak. Tapi untuk menutupinya&amp;lt;!--play it off -&amp;gt; Made as if previous thing you do is a joke(not serious)--&amp;gt;, dia membuat tawa tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, mengatakan itu hanya agak sedikit…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, tidak, maaf. Tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara refleks memberitahunya untuk berusaha keras belajar&amp;lt;!--try your best in her studies--&amp;gt;, tapi dari sudut pandang seorang murid yang mengikuti ujian, itu adalah suatu frasa yang benar-benar sudah capek didengarnya. Lagipula, tidak mungkin, Komachi, adik kecil tololku itu bisa bermalas-malasan&amp;lt;ref&amp;gt; OreImo &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberitahu seseorang untuk berusaha sebisanya ketika mereka sudah melakukannya bukanlah sesuatu yang seharusnya kamu lakukan, kurasa. Dari awalpun, untuk diberitahu akan hal itu oleh orang yang tidak sedang berusaha keras hanya akan menjengkelkan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagaimana aku bisa menyemangatinya kalau begitu? Selagi aku mengerang, Komachi tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, kamu hanya perlu mengatakan ‘Aku mencintaimu’ pada saat-saat seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, begitu. Aku mencintaimu, Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi tidak merasa seperti itu, tapi terima kasih, onii-chan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu jahat…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu air mata mendadak jatuh dari mataku. Baru saja, onii-chan juga mengatakannya dengan segenap hati&amp;lt;!--put a lot of heart into it--&amp;gt;. Aku bahkan juga menyorot lampu remnya lima kali&amp;lt;ref&amp;gt; Kode Morse untuk aishiteru &amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi tersenyum geli untuk sejenak dan kemudian dia berdiri. Kelihatannya dia akan kembali belajar di kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke! Itu perubahan suasana yang bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa senang untukmu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, berhenti dan melakukan hal yang lain itu bagus untukmu oke? Macam, ketika kamu terjebak dalam situasi sulit&amp;lt;!--driven in a corner--&amp;gt;, itu lebih baik mengalihkan perhatianmu dengan hal yang lain, kamu tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu… Yah, ya, itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hanyalah alasan untuk melarikan diri, bukan? Aku mencoba mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika seseorang di suatu tempat yang mengalihkan matanya dengan cara yang sama terlintas dalam pikiranku, aku sama sekali tidak bisa mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Mundur ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Kembali ke&#039;&#039;&#039; [[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Lanjut ke&#039;&#039;&#039; [[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Translasi==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references&amp;gt; &amp;lt;references/&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=File:Yahari-10-1-a.JPG&amp;diff=450033</id>
		<title>File:Yahari-10-1-a.JPG</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=File:Yahari-10-1-a.JPG&amp;diff=450033"/>
		<updated>2015-07-03T06:41:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: Source : Kyakka&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Source : Kyakka&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450030</id>
		<title>Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Oregairu_(Indonesia):Jilid_10_Bab_1&amp;diff=450030"/>
		<updated>2015-07-03T06:33:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: Created page with &amp;quot;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.== ==1== Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.  Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat ak...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.==&lt;br /&gt;
==1==&lt;br /&gt;
Ruangan menjadi gelap saat aku membaca bukuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kebiasaan burukku yang tak bisa hilang saat aku sedang bersih-bersih total atau merapikan ruangan adalah seperti “Ups, aku baru saja memulai hobiku membaca buku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Hampir saja...&#039;&#039; Kalau yang kubaca adalah sebuah buku berseri, aku bakal terjebak di sebuah maraton bacaan. Dan setelah aku selesai membaca semua volumenya, aku bakal nyerocos, “Kapan sih volume berikutnya keluar? Cepatlah, dan lakukan tugasmu, penulis!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit dari sofa tempatku berbaring dan mengembalikan buku yang kubaca kembali ke raknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, bersih-bersih total sudah selesai. Cuma merapikan sana sini sih, tapi ya sudahlah, selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hidup, selagi kau masih belum bisa menghilangkan noda masa lampau, maka aku harus bilang, dengan keseriusan, merapikan adalah sebuah usaha sia-sia yang pastinya, tak berarti. Kalau kehidupan adalah noda itu sendiri, maka apapun yang kau lakukan, kau tak akan pernah melihat akhir dari usaha membersihkan kehidupanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, karena aku paling tidak sudah merapikan rak buku di kamarku, akupun kembali ke ruang tamu dengan rasa kemenangan.&lt;br /&gt;
Cuma tinggal beberapa hari lagi tahun ini akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya besok adalah hari kerja terakhir orang tuaku di tahun ini. Mereka punya pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan jadi mereka pasti bekerja larut sekali. Karena itu, ibukupun bersih-bersih sedikit demi sedikit dengan waktu terbatas yang ia punya. Tak lama kemudian, ruang tamu menjadi bersih dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja di ruang tamu yang bersih itu, ada satu sosok yang terbaring lemas di lantai, memancarkan aura yang tak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh bagian atasnya keluar dari kotatsu dengan muka menghadap kebawah. Kucing yang berlalu-lalang di punggungnya adalah Kamakura, yang sedang menjilati bulu-bulunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa sih...?” aku secara refleks menanyakannya, tapi nggak ada jawaban. Alah, cuma seonggok mayat... &#039;&#039;Aduh, ayolah Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan tahu...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ada kucing di punggungnya pasti berat. Ia seperti sedang di rasuki arwah gentayangan melihat ia tak bergerak sama sekali. Aku pasti suka kalau aku bisa menentukan arwah kucing gentayangan itu adalah kucing, arwah, atau malah setan, meow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuju kotatsu sambil mengangkat Kamakura dari punggung Komachi dan menaruhnya di pangkuanku. Kamakura mengelus-elus pangkuanku untuk mencari kenyamanan, menaruh kepalanya dan tergeletak, tidur kembali. &#039;&#039;Maaf karena tempat tidurnya buruk. Ampuni aku, meow♪!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku melepaskan beban dari punggung Komachi, ia mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, onii-chan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adikku yang selalu manis ini sekarang punya mata yang menyipit, seperti mata busuk sebuah ikan. Oh, kau terlihat mirip dengan kakakmu ini! Kita memang benar-benar saudara! Jadi kalau Komachi itu manis dan aku mirip dengannya, itu artinya aku manis! Tapi, tunggu, mata busuk itu sangat tidak manis. Jadi kalau keimutannnya masih belum cukup untuk membuatnya manis, bukannya itu berarti aku sama sekali tidak manis, ya, sama sekali?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, ini kali pertama aku pernah melihat Komachi terlihat seperti benar-benar tersudut ke tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komachi, nggak apa-apa kan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak... Aku sudah tamat...” Komachi menggumam dan membenamkan mukanya ke dalam kasur. Kemudian ia mengucapkan sesuatu seperti igauan dengan suara terpecah-pecah. “Harus, bersih-bersih... Harus, buang sampahnya... Harus, buang onii-sampah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang Komachi. Bersih-bersihnya kurang-lebih selesai. Dan juga, nggak semudah itu membersihkan onii-chanmu ini. Kau harus siap-siap menghadapi masa yang panjang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuugh, Komachi jadi gelisah, aku cuma mau kau menikah secepatnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku tatapan tidak puas, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Itu ibaratnya seperti mencoba menikahkan Hiratsuka-sensei, mungkin saja. &#039;&#039;Kayak kau bisa menikahkan laki-laki semenyusahkan aku ini...&#039;&#039; Tapi ini bukan saatnya mengeluarkan tameng pelindung. Komachi inilah masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam banyak hal, aku tahu alasan kenapa Komachi menjadi seperti ini. Itu pasti karena tes-tesnya. “Belajar itu terlalu sulit”, “Tes uji cobanya jadi kacau”, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan setelah Natal berakhir, Komachi telah berjuang dengan belajar siang dan malam sepenuhnya, tapi dengan Tahun Baru yang semakin dekat, sekarang dia kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengoceh dan merana, Komachi berkata, “Sial, sial sial...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menjadi terdiam, Komachi mengubur kepalanya kedalam bantal kembali. Dia berbicara dengan suara tersedot-sedot. “Sniff, uugh, Aku lelah sekaliiiiiii...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aww kawan, dia menyebalkan sekali...&#039;&#039; Meskipun begitu, aku adalah seorang veteran senior onii-chan yang membanggakan lima belas tahun pengabdiannya. Pada saat inilah aku pastinya tahu apa saja kata-kata yang tepat ditujukan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, tahulah. Belajar terus-terusan emang sangat menekan. Tahun Baru sebentar lagi sampai, jadi kenapa kita nggak istirahat sejenak dan jalan-jalan yang jauh dari sini, buat kunjungan kuil pertama kita tahun baru ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo!” Komachi secepat kilat menjawabnya dan mendadak bangkit dari posisi tidurnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tepat sasaran. Pasti lah, karena aku adalah onii-chan profesional, itu cuma salah satu dari tugasku. Faktanya, aku rasa kota ini harus bergerak untuk menyiapkan lowongan menjadi onii-chan. Apaan sih lowongan menjadi onii-chan? Bukannya, yah, seperti di urus-urus oleh adik perempuannya? Pekerjaan itulah yang kau bisa bilang kebal dari pemecatan. Sebenarnya sih, masih bisa dibilang menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, sebagai seorang onii-chan yang profesional, aku tidak akan memanjakan dia terlalu banyak. Aku harus mengingatkannya.&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa sih, tapi sebelum itu kau harus belajar sampai mati ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Aku bisa belajar lebih semangat kalau aku punya hal yang bisa bikin senang nantinya, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mengingatkannya, tapi sepertinya dia sama-sekali tidak mendengarkanku. Iapun duduk dan mengambil sebuah jeruk mandarin. &#039;&#039;Mmhm, maksudku nggak papa sih kalau sekarang kau semangat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada kuil yang pengen di kunjungi? Kayak, kuil yang bisa kasih berkah atau apalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku tanyakan dia, dia mulai berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya, untuk orang yang akan mengambil tes menjadi seorang siswa, mengunjungi kuil untuk pertama kalinya di Tahun Baru adalah sebuah kejadian penting. Ada juga yang bilang, “Kapanpun kau dalam masalah, berdoalah kepada dewa-dewi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau benar-benar dalam situasi yang buruk, hanya dewa-dewilah yang bisa kau andalkan. Kebanyakan orang memang tidak terlalu bisa diandalkan sih. Jadi, fakta kalau misalnya kau tidak mengandalkan orang-orang disekitarmu bisa berarti kalau kau hanya mengandalkan dewa-dewi saja di kehidupan sehari-harimu. Comot-comotan tetaplah nyopet bagaimanapun. Saat seperti inilah aku harap bakal muncul Ultra-apalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dekat sini, coba aja tempat ayah kita pernah kunjungi. Tahulah, tempat yang dia bilang pernah jadi tempatnya begadang cuma buat ngantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat itu hanya sejauh satu stasiun dari Sobu Line di daerah sini, jadi memang tidak jauh-jauh amat. Jelaslah, karena kita akan berdoa pada DewaBelajar, bisa dipastikan akan penuh sesak karena memang musimnya. Setiap kali terpikir kerumunan orang dan aku di dalamnya, aku tak bisa tak mengeluarkan ekpresi “bleh” dari mukaku, eh maksudku, aku benar-benar benci kerumunan tahu ☆!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan entah kenapa, Komachi juga mengeluarkan ekspresi “bleh” di mukanya.&lt;br /&gt;
“Tukang begadang... Satu lagi hal menjijikkan dari ayah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dia itu ayah yang baik, jangan dikeluhin terus...&#039;&#039; Tahulah, kalau mama tidak membuatnya berhenti, ayah sudah pergi ke Dazaifu, tahu... Aku juga punya firasat kalau mama juga yang melarangnya begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, lupakan aja ayah, ada juga satu Dewa Belajar di Yushima Tenjin...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil ini juga punya satu Dewa Belajar, jadi pasti sangat popular saat masa-masanya tes-tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, bisa dipastikan akan sangat sesak karena memang musimnya---dll, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku sedang menimbang-nimbang pilihan-pilihan yang ada, Komachi mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, tempat yang terkenal emang bagus, tapi... Rasanya tempat yang dekat dengan SMA bisa jadi bikin aku hoki!”&lt;br /&gt;
“Masa? Kalau gitu... Rasanya Kuil Sengen bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu kan kuil yang selalu ngadain festival.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, nggak selalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuil apa sih yang selalu mengadakan festival? Seperti tak punya rasa menghargai begitu. Apa itu sepertitoko depan stasiun Akihabara yang selalu mengadakan penjualan sebelum tutup? Sebanyak apa sih setiap hari dalam setiap harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku rasa itu memang biasa buat Komachi, yang tidak akrab dengan Kuil Sengen, yang akhirnya hanya tahu tentang festival di sana. Memang itu adalah salah satu tujuan turis, tapi sebenarnya mengunjungi kuil tetangga hanya akan terjadi saat kunjungan pertama tahun baru atau kalau ada festival.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tapi Kuil Sengen, ya...?&#039;&#039; Aku punya firasat kalau akan ada orang yang kukenal di sana, jadi aku tidak terlalu semangat untuk itu, tapi itu tempat itu cukup disukai ternyata. Aku juga tak mau ketemu alumni SMPku dulu. Sebenarnya sih, aku tidak sedang mau pergi ke manapun, tahu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi keraguanku muncul, Komachi menatapku dengan prihatin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?” kutanyakan ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi membenarkan posisi duduknya untuk persiapan sesuatu. “Oh, tahulah, onii-chan. Aku nggak merasa kita perlu sama-sama atau gimana. Aku nggak papa kalau sama mama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mmmm, kau biasanya mengacuhkan ayah, kan? Itulah ayah bagimu, yep.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku punya sedikit firasat kenapa dia menjadi prihatin begitu. Dia bisa saja bersikap seperti biasa, tapi dia punya kepekaan terhadapku sebagai kakaknya. Nggak, nggak, onii-chan juga peka tentang dirinya sendiri, tahu? Aku hanya bermasalah di bagian memahami kepekaan itu karena aku masih bingung bagaimana menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa di liburan musim dingin yang kurang dari dua minggu ini menjadi sesuatu yang patut aku syukuri. Pastinya, setelah sekolah mulai masuk lagi, aku harus menghadapi hal seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang aku sedang liburan. Dan karena ini sedang libur, memang gayaku untuk mengistirahatkan seluruhjiwa ragaku. Sebagai seseorang yang menargetkan menjadi bapak rumah tangga, menggunakan otak saat liburan tidak patut dipertimbangkan. Tundalah pengajuan proposalmu, bawalah kerumah dan pikirkan lagi. Itulah yang bisa dibilang ilmu menjadi budak perusahaan! Tunggu dulu, jadi semua ini tentang menjadi budak perusahaan atau menjadi bapak rumah tangga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tujuan beristirahat selama mungkin dan juga menunda segalanya lebih lama lagi, akupun memutuskan untuk mengganti persoalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku nggak perlu kepedulian yang menjengkelkan itu, ehh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah kamu, kalau bisa sih, aku maunya nggak ngelakuin itu.” Komachi mengeluarkan desahan sok pamer. &#039;&#039;Sori, dekku, karena jadi onii-chan yang begini.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kalau kalau nggak pergi Komachi, aku tinggal pergi sendiri kayak tahun kemarin. Nggak banyak yang dipikirin dan lebih gampang buatku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagi-lagi, kau bilang sesuatu kayak gitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Leluhur bilang, Malam Tahun Baru adalah hari persiapan tahun yang akan datang. Begini, kalau aku bikin kenangan pahit pas kunjungan pertamaku, tahun itu dipastikan jadi tahun yang penuh kenangan pahit. Melakukan sesuatu di tahun baru dan kau mau buat aku bikin kenangan pahit dengan berada di tengah kerumunan? Ide yang buruk kan, setuju, Komachi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lancar sekali aku menceramahi Komachi yang sedang bermuka bosan. Dia terlihat tidak terperangah pertamanya, tapi sekarang ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian menatapku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk akal. Malam Tahun Baru itu hari persiapan tahun yang akan datang... Oke, mungkin aku akan ikut denganmu, onii-chan.”&lt;br /&gt;
“O-oke... Kenapa berubah pikiranmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku seperti menatap sampah sedetik yang lalu, tapi sekarang dia bermuka sungguh-sungguh, 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Kemudian dia mengeluarkan senyum cemerlang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudnya sih, kalau aku ikut dengan onii-chan pas Malam Tahun Baru, itu artinya aku akan bareng onii-chan sepanjang tahun. Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yah. Aku, rasa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya membuat pikiranku membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Oh kawan, ada apa dengan adik manisku ini!? Lupakan kata klise yang selalu muncul di akhir kalimatnya, adikku benar-benar manis!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ko-Komachi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku tersedu-sedu, tersibak air mata karena perkataannya, Komachi mengembungkan pipinya yang merah dan mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatapku menyamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“J-Jangan geer, oke! Maksudnya bareng onii-chan itu karena kita akan satu sekolah tahun depan, kayak berdoa supaya lulus tes, oke! Tadi itu baru aja mencetak banyak poin Komachi, oke!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Ughh, tsundere rendahan...&#039;&#039; Bukannya tadi itu malahan kriminal Portopia rendahan? Kriminalnya Yasu sih. Sial, sekarang aku jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi terpaksa tadi itu memang bukanlah hal termanis dirinya, tapi kalau aku bersikap seolah-olah kalau dia hanya menyembunyikan rasa malunya, malah sebenarnya, mungkin tak apa-apa kalau kupanggil dia manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, berangkatnya sama-sama deh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke. Baik, baik, aku akan coba belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri selagi ia bicara tadi.&lt;br /&gt;
“Lanjutkan, selamat bersenang-senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Kamakura masih tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, mengayun-ayunkan ke arah Komachi, dan dia pun tertawa.&lt;br /&gt;
“Ngerti-ngerti, aku bakal berusaha keras!” kata Komachi. Ia mengambil hapenya dan mengelus-elus Kamakura pelan-pelan selagi bersenandung dan akhirnya kembali ke kamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tertinggal sekarang di ruang tamu hanya Kamakura dan aku. Saat kamakura melakukan &#039;&#039;funsu&#039;&#039; dengan hidungnya, aku menggoyang-goyangkan ekornya. Ia terbangun sebal dan merenggangkan badannya. Kemudian ia merangkak kedalam kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengikuti panutannya dan merangkak kedalam kotatsu hingga bahuku, dan menjadi siput kotatsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya sebentar waktu tersisa di tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun yang lain, ini adalah hari sebelum Tahun Baru yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun Baru dimulai dengan mulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Tahun Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya, mesti mengucapkan hal itu dengan anggota keluarga terasa seperti tak tahu malu atau malah bisa-bisa terasa bodoh .&lt;br /&gt;
Walau begitu, aku harus melakukannya supaya bisa dapat amplop Tahun Baru. Memang begitu, pembelajaran elitku untuk menjadi budak perusahaan sudah dimulai sejak aku masih bayi. Kalau begitu caranya untuk mendapatkan uang, dengan mudah aku bisa saja memalingkan mukaku dari menatap ketidak adilan dan ketidak rasionalan, menundukkan kepalaku meski aku tak mau menunduk, dan menunjukkan senyum lemah, senyum dari seorang pegawai. Hal yang seperti itulah yang dimaksud menjadi budak perusahaan!&lt;br /&gt;
Saat aku membuang-buang waktu dengan memikirkan hal semacam itu, dengan aman aku mendapatkan amplop Tahun Baru tahun ini juga. Tahun-tahun yang lalu, uang itu telah diserap tak lazim oleh institusi misterius “bank mama” dan sekarang, harusnya jumlahnya sudah banyak sekali di bank itu. Mungkin saja, ya mungkin saja, sebenarnya memang begitu. Aku percaya padanya. Aku harap ia tak menghapus huruf M dari kata MOTHER dan berubah menjadi OTHER.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku bisa memperoleh uangku tanpa masalah tahun ini lagi, aku berbaring di bawah kotatsu dan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;
Bukannya bantal, aku mulai duduk di atas kursitatami dan memainkan hapeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Malam Tahun Baru datang, hapeku tak lazimnya bergetar sering sekali daripada tahun-tahun sebelumnya, yang malah tak pernah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang disebut dengan pesan “Selamat Tahun Baru”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat pesan yang amat-amat panjang dan formal sesaat setelah Tahun Baru dimulai, pesan simpel, yang mana amat manis, dan pesan yang bagaikan ramalan takdir tertulis dari pengirim tak dikenal... Yah, sejenis itu lah. Aku kira aku bakal dapat satu lagi pesan bodoh, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkannya atau apapun.  Dengan buru-buru aku membalas pesan kayak-chuuni dan pesan yang penuh kata-kata sepenuh badai topan dengan balasan apalah terserah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak tahu harus apa dengan pesan terakhir, seri khusus yang simpel, “Pesan MANIS”. Kalau aku terlalu semangat dan membalasnya dengan balasan panjang sekali, bakal terasa mengerikan, tapi kalau bukan itu, membalas dengan balasan dengan semaian gambar dan emoji bakal terasa menjijikkan. Sisanya tinggal pilihan membalas dengan balasan biasa, tapi itu bakal terasa dingin dan tak acuh karena terlalu membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup akan terasa lebih enak kalau ada sesuatu seperti contoh-contoh, seperti kartu ucapan Tahun Baru yang memamerkan desain-desainnya untukmu... Berguna sekali karena memang sudah jelas apakan kartu Tahun Baru itu hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Sesuatu seperti kartu ucapan Tahun Baru biasanya ditempeli dengan gambar-gambar dan foto-foto, dan setelah kau mengisi bagian putih sisanya dengan “Ayo nanti sama-sama lagi!” atau “Ayo nanti minum-minum lagi!”, kartumu akan selesai. Budaya Jepang memang sangat memukau. Dan juga, memang tak normal cara mahasiswa yang sukses bisa memakai “Ayo nanti minum-minum lagi” kapanpun dompet mereka hampir kosong. Kalau mereka minum-minum sering-sering sepanjang tahun, aku pasti akan merasa mereka akan kecanduan alkohol. Kenapa hal itu tak terjadi karena mereka hanya bilang sebagai formalitas, jadi kenyataanya, mereka tak pernah beneran minum bareng. Aku yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku menulis balasannya, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi, hapus lagi, tulis lagi---Hapuuuuuuuuuuuus lagi! Tuliiiiiiiiiiiiiiiiiis laagi! Lakukan dan ulangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin balas dengan balasan panjang, tapi kalau terlalu panjang, akan terasa seperti berontak. Tapi kalau terlalu singkat, aku malah akan disangka tak acuh. Merasa takut dan khawatir dengan apa yang harus dilakukan, aku jadi memutuskan membalasnya sebanyak jumlah kata yang ada disana. Inilahh apa yang mereka bilang “meniru” dalam ilmu psikologi. Dengan meniru kelakuan dari pihak lain, keakraban masing-masing akan meningkat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-chan, siap berangkat?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menulis balasanku, Komachi memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengecek lagi waktunya dan sudah sekitar jam sembilan pagi. Orang tua kami sudah pergi berkunjung ke Kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi berangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah... Ayo berangkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengecek apakah pesanku sudah terkirim, aku merangkak keluar dari kotatsu dan berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==3==&lt;br /&gt;
Pengalaman itu adalah beberapa stasiun yang bergoncang-goncang dan penuh orang. Kami berbaur bersama gelombang-gelombang manusia yang menembus gerbang tiket, berjalan menuruni jalan yang curam sampai akhirnya kami mencapai gerbang dari jalan setapak yang pertama dari Kuil Sengen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan-jalan setapak yang bisa terlihat darinya Rute Nasional 14 ini dikatakan pernah berada di bawah air. Info ini di-tweet oleh akun official CHI-BA+KUN, jadi tidak perlu ragu tentang itu. Dan bisa saja, dulu sekali, tempat ini punya pemandangan megah yang mirip dengan sebuah Situs Warisan Dunia UNIESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kata lain, ada sedikit kemungkinan Chiba bisa menjadi Situs Warisan Dunia UNIESCO; aku sudah memikirkan hal itu dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh kawan, keadaannya jadi gila...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Inilah yang terjadi dengan Situs Warisan Dunia UNIESCO pribadiku... Populer sekali...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini kan kuil paling gede di daerah sini, ya kan? Ya pasti semua orang bakal kesini, tahulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, memang begitu... Kemudian aku tersadar. Kalau semua orang pergi kesini, kalau dipikir-pikir lagi, bukannya itu berarti siswa-siswi dari sekolahku bisa saja datang ke sini...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku kan ke kuil sekitar aja tiap tahun, jadi hal seperti itu malah kelewat...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pikiran-pikiran itu melayang-layang di kepalaku, Komachi yang ada di sebelahku mulai melihat-lihat sekitar dengan gelisah.&lt;br /&gt;
“Oh, itu dia mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia menembus kerumunan dan terus berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hey, Komachi. Kemana kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau itu kan calon siswi, oke? Jadi kau harus genggam tanganku supaya nggak jatuh dan terselip dan jadi anak yang hilang, malah, onii-chan akan membawa kau seperti putri!&#039;&#039; Di arah tanganku terlentang ada muka-muka yang aku akrab dengannya.&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru kalian berdua!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komachi bergegas ke arah mereka bagaikan mau memeluk mereka dan cewek di depan dengan riangnya mengangkat tangannya. Saat melakukannya, untalan rambut coklat cerahnya akan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat Tahun Baru dan yahallo!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan ucapan begitu...? Selamat Tahun Baru,” begitu aku menjawabnya, sambil tercengang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memakai jaket abu-abu kecoklatan dengan rajutan vertikal di tengah, dengan syal panjang yang melingkupi lehernya, dan tangan yang diangkatnya ditutup oleh sarung tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cewek di sebelahnya memakai jaket putih dan yang mencuat dari jalinan rok-mininya adalah kakinya yang ditutup kaos kaki hitam. Ia adalah Yukinoshita Yukino.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Selamat Tahun Baru,” kata Yukinoshita, dengan tetap melingkupi mukanya dalam syalnya. Yah, melakukan upacara ucapan Tahun Baru terasa memalukan dalam satu hal atau yang lainnya. Akupun malah jadi memainkan ujung syalku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh... Yah, betul. Selamat Tahun Baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita mulai kunjungannya,” kata Koachi, dan ia kembali menembus kerumunan orang. Kamipun mengikuti di belakangnya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Selagi kami berjalan, aku menyondongkan kepalaku kebelakang Komachi. “Komachi-chan, boleh onii-chan tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan diam-diam aku berjalan ke samping Komachi dan mengecilkan suaraku. “Kenapa mereka kesini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan dengan Komachi ☆!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu dulu, pertemuan...?” aku mengatakannya dengan suara menandakan kebingungan dan ia pun mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka kan temen-temenku, jadi nggak papa kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, nggak papa sih... Tapi meminta mereka kesini, tahulah, gimana bilangnya ya?” kataku, dengan mengusap-usap pipiku selagi berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya mestinya untuk acara seperti ini kau mengundang teman-temanmu? Yah, bukan berarti aku tahu “mestinya” itu yang bagaimana karena aku tak punya teman semasa SMP. Aku bertanya-tanya apakah memang seperti itu. Mungkin saja ini salahnya para hantu? Bisa saja. Jadi ini yah yang mereka katakan hantu penyendiri, huh...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, fakta bahwa Komachi bertemu teman-temannya selagi bersama kakak laki-lakinya untuk hal yang seperti ini membuatku khawatir tentang pergaulannya. Aku menatap termenung, tapi Komachi tahu apa yang harus dikatakan dan dengan paksa meneguk liurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, pikirin aja musim apa sekarang. Gak undang kawan-kawanmu itu jadi salah satu bentuk tata krama, tahu...” kata Komachi, dengan lancarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku paham sekarang. Jadi alasan kenapa dia tidak mengundang teman-temannya adalah karena betapa gugupnya mereka saat sedang musim-musimnya menjalani tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes-tes membuat sebuah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah cerita klasik: teman-temanmu melakukan tes masuk di sekolah yang sama, dan akhirnya ada satu pihak yang gagal dan yang satu lagi berhasil masuk. Saat kau dengar ada pasangan yang gagal masuk di sekolah yang sama, hal itu membangkitkan nafsu makan dan apabila itu menjadi salah satu tuas yang membuat masalah yang akhirnya membuat mereka putus, makananmu itu berubah menjadi makanan Susumu-kun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau umur mereka sekitar umur anak SMP, maka hubungan pertemanan merekapun pasti akan menjadi retak. Khususnya saat mereka memutuskan akan mengambil tes masuk sekolah khusus persiapan universitas, ada orang yang sudah ditakdirkan akan ditinggalkan karena ada batasnya siapa yang bisa masuk. Dan orang yang tertinggal akan memutuskan hubungan mereka secepat yang dia bisa. Kalau saja itu aku, itulah yang akan kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada akhirnya kau merasa malu, frustasi, tak senang dan iri. Kalau sudah saatnya perasaan iblis itu menyeruak, akan ada waktunya saat dimana kau akan mengekang dirimu sendiri, tersenyum dan setelah itu langsung kau putuskan hubunganmu.&lt;br /&gt;
Menjadi sadar akan pemutusan yang akan terjadi adalah hal yang agak membingungkan. Kalau kau ingin lulus dengan muka berseri-seri, bukannya hau harus hindari bertemu teman-temanmu terlalu sering? Dan saat itulah dimana tak punya teman ada gunanya! Hachiman punya pikiran kalau dalam sekolah untuk persiapan tes, mereka harus mulai mengajari caranya menghancurkan hubungan pertemanan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saat seperti ini punya teman dengan perbedaan umur cukup jauh dapat membuatmu beristirahat sejenak. Kedua belah pihak bisa ngobrol satu sama lain tanpa merasa terkekang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarangpun, tiga orang itu masih ngobrol dengan semangat satu sama lain selagi berjalan, Komachi ngobrol dengan Yukinoshita dan Yuigahama dan merekapun membalas ia dengan tersenyum. Untuk Komachi, yang selalu belajar saat liburan musim dingin, saat ini adalah saat untuknya dimana ia bisa bersantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gelombang penuh manusia, Yuigahama menatap sekitar dengan tatapan tajam. Kelihatannya ia masih bingung tentang stan makanan apa yang ia akan antri di sisi jalan utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, kayak ada festival di sini,” kata Yuigahama, dan muka Komachi tiba-tiba berseri-seri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu! Ah, mau makan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pasti lah! Kalau gitu, mungkin... gimana kalau apel permen?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya mereka akan mulai berjalan-jalan pergi dari jalan utama selagi mereka mengobrol. Yukinoshita, yang masih disebelah mereka, menyentak syalnya dan menahan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan lakukan itu setelah kunjngan kita ke kuil,” kata Yukinoshita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okeeeee...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan enggan mereka berdua kembali dari kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yang satu itu kayak momen dari kakak beradik perempuan... Hal seperti itu, yah, nggak ada ruang untuk onii-chan, tahu kan...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu karena sifat bisa diandalkannya Yukinoshita, kemampuan Yuigahama untuk berbaur dengan orang lain, atau adik perempuan yang terkenal kejelekannya, sifat saudari dari Hikigaya Komachi yang membuat orang lain melakukan keinginannya; yang manapun alasannya, untuk cewek-cewek dengan perbedaan umur, kecocokan mereka tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuigahama memimpin mereka didepan, Komachi mengikutinya dengan senyuman di mukanya, dan Yukinoshita memandang mereka tanpa suara selagi mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan mengawasi mereka di posisi paling belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, itu terjadi. Aku merasa tak nyaman dengan “obrolan para saudari” yang aku pikirkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;...Nggak baik.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku sudah memikirkan hal paling bodoh pertama kalinya di Tahun Barulah mengapa kedua sisi mulutku entah kenapa melengkung, sebuah senyuman muncul begitu saja di mukaku. Aku menarik-narik syalku untuk mencoba menutupinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar, aku mengalihkan pandangan dari depan dan mataku berputar-putar di sekitar kerumunan orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak bisakah mereka mengatasi kerumunan ini, aku tanya? Rentetan pemikiranku membuatku hampir-hampir muntah. &#039;&#039;Aku pengen pulang aja sekarang...&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kami sampai ke halaman depan kuil setelah menapaki tangga batu, kepadatan jadi berkurang entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin saja ini karena tidak ada stan makanan di halaman ini. Karena kuil sudah di depan mata, semua orang berjalan lurus kedepan tanpa berlalu-lalang. Kami bergabung dengan kerumunan dan kamipun sampai di depan kuil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ya yang semua orang harapkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harusnya gak begitu di kunjungan pertamamu. Ini bukan Tanabata, tahu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ini bukanlah hal yang benar-benar bisa mengabulkan permohonan, lagi pula.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wooow, kalian membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi ketakutan dan Yuigahama setuju dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalian! Maksudku kita kan berdoa pada dewa dewi, jadi mendingan kita minta sesuatu soalnya kita akan dapat untung juga darinya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sial, aku nggak tahu logika misterius apa yang dia pakai dalam debat itu.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita menekan dahinya seperti sedang kesusahan memahaminya dan mendesah. “Oke... Yah, aku rasa biar saja begitu. Walau begitu, aku rasa nuansanya lebih kayak sedang bersumpah setia daripada yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yukinoshita sekelebat tersenyum. Yuigahama mengangguk keras dan mengangkat tangannya. Mereka berdua kemudian memasukkan persembahan dan membunyikan lonceng bersama-sama. Lalu kedua-duanya dua kali menundukkan kepala dan menepuk tangan. Kemudian mereka menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;
(50.3%)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Rabu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia)&amp;diff=450028</id>
		<title>Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Rabu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia)&amp;diff=450028"/>
		<updated>2015-07-03T06:15:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* Jilid 10 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{Status|Active}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:YahariLoveCom v0625 thumb cover.jpg|286px|thumb|Sampul Jilid 6,25]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (やはり俺の青春ラブコメはまちがっている。 Secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi &amp;quot;Sudah Kuduga, Kisah Komedi Romantis Remajaku Memang Salah Kaprah.&amp;quot;) yang juga dikenal dengan singkatan &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Oregairu&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (俺ガイル), adalah sebuah seri Light Novel yang ditulis oleh &#039;&#039;&#039;Wataru Watari&#039;&#039;&#039; dan diilustrasikan oleh &#039;&#039;&#039;Ponkan8&#039;&#039;&#039;. Seri ini telah terbit sebanyak 10 Jilid dan telah diadaptasi ke dalam Anime dan Manga. Seri ini juga mendapat peringkat pertama pada &#039;&#039;&#039;&amp;quot;Kono Light Novel ga Sugoi! 2014&amp;quot;&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;&#039;&amp;quot;Kono Light Novel ga Sugoi! 2015&amp;quot;&#039;&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039; juga tersedia dalam bahasa:&lt;br /&gt;
:*[[My Youth Romantic Comedy Is Wrong As I Expected|English]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru ~Brazilian Portuguese~|Português Brasileiro (Brazilian Portuguese)]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari ore no seishun rabu kome wa machigatte iru PL|Polish]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru Español|Spanish]]&lt;br /&gt;
:*[[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigateiru ~ Русский|Russian]]&lt;br /&gt;
==Sinopsis==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini bercerita mengenai kehidupan seorang penyendiri, Hachiman Hikigaya yang berpikiran pragmatis dan Yukino Yukinoshita yang berparas jelita. Keduanya mengenyampingkan perbedaan prinsip serta idealisme mereka demi membantu dan memberi saran pada orang lain sebagai bentuk kegiatan Klub Layanan Sosial. Kisah ini sedikit banyak menggambarkan berbagai kondisi sosial yang dihadapi para remaja di kehidupan SMA mereka, dimana keadaan psikologis ikut mengendalikan cara mereka berinteraksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Terjemahan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Format Standar===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Setiap Bab (sesudah disunting) harus mengikuti aturan format umum.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]] (Bahasa Inggris)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Yahari Ore no Seishun Robu Kome wa Machigatteru (Indonesia):Halaman Pendaftaran|Pendaftaran]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Penerjemah diminta untuk [[Yahari Ore no Seishun Robu Kome wa Machigatteru (Indonesia):Halaman Pendaftaran|mendaftarkan]] bab yang mereka kerjakan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Umpan Balik===&lt;br /&gt;
Jika kalian menyukai terjemahan ini, silakan beri komentar di [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=67&amp;amp;t=5915 &#039;&#039;&#039;sini&#039;&#039;&#039;.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==update==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;26 Juli 2014&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Volume 1 bab 6 selesai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Seri &#039;&#039;Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru&#039;&#039; karya Wataru Watari==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v01 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 1|Bab 1: Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 2|Bab 2: Sampai Kapan pun, Yukino Yukinoshita Tetap Keras Kepala]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 3|Bab 3: Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 4|Bab 4: Meski Begitu, Kelas Berjalan Seperti Biasanya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 5|Bab 5: Intinya, Yoshiteru Zaimokuza itu Agak Gila]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 6|Bab 6: Akan Tetapi, Saika Totsuka Mau Saja Menurut]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 7|Bab 7: Terkadang, Dewa Komedi Romantis Bisa Berbuat Hal Baik]] (Bagian Akhir) &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/08/oregairu-jilid-1-bab-7.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Bab 8|Bab 8: Kemudian, Hikigaya Hachiman berpikir]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/09/oregairu-jilid-1-bab-8.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 1 Catatan Penulis|Catatan Penulis]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2014/09/oregairu-jilid-1-penutup.html#more　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v02 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Prolog|Prolog]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://seh-terrafantranslations.blogspot.com/2015/01/oregairu-jilid-2-prolog.html　Seh-Terra]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Formulir Survei Tur Tempat Kerja Prospektif|Formulir Survei Tur Tempat Kerja Prospektif]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 1|Bab 1: Dan Jadi, Yuigahama Yui Memutuskan untuk Belajar]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 2|Bab 2: Hikigaya Komachi Pasti akan Menikahi Onii-channya Ketika Dia sudah Dewasa (Kurasa)]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 3|Bab 3: Hayama Hayato Selalu di Balik Semua Hal]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 4|Bab 4: Karena Berbagai Alasan, Kawasaki Saki Tidak Jujur]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Bab 5|Bab 5: Hikigaya Hachiman Kembali ke Jalan yang Dijalaninya Sebelumnya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 2 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v03 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Prolog|Perseteruan Pedang Ganda dan Kemalangan sang Dunia Kebalikan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 1|Bab 1: Dan maka, Hiratsuka-sensei Mencetuskan Konflik Baru]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 2|Bab 2: Sudah Kuduga, Kisah Komedi Romantis Remajaku Bersama Totsuka Memang Tepat Sekali]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 3|Bab 3: Yukinoshita Yukino Memang Benar-Benar Mencintai Kucing]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 4|Bab 4: Hikigaya Komachi dengan Liciknya Membuat Rencananya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 5|Bab 5: Masih Sendiri dalam Hutan Rimba, Zaimokuza Yoshiteru Meratap]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Bab 6|Bab 6: Awal si Pria dan si Wanita Akhirnya sudah Berakhir]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 3 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v04 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 2|Bab 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 4|Bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 5|Bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 6|Bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 7|Bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Bab 8|Bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 4 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left; &amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v05 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 1|Bab 1 : Tiba - tiba, kedamaian di rumah Hikigaya dihancurkan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 2|Bab 2 : Seperti biasa, nama &amp;lt;b&amp;gt;Kawasaki Saki&amp;lt;/b&amp;gt; tidak bisa diingat]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 5 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v6-000b.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 1|bab 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 2|bab 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 9|bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Bab 10|bab 10]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 6 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari 06-5.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6.5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.25 Ilustrasi|Special 6.25 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.5 Ilustrasi|Special 6.50 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : v6.75 Ilustrasi|Spesial 6.75 Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia) : Bonus Track|Bonus Track]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v07 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 1|Bab 1: Meskipun Begitu, Hikigaya Hachiman akan Menghabiskan Masa Sekolahnya dengan Damai]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 2|Bab 2: Tidak Ada Yang Tahu Mengapa Mereka Datang ke Klub Servis]] (Belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 3|Bab 3: Tobe Kakeru Benar-benar Rendahan di Semua Hal]] (Belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 4|Bab 4: Setelah Dipikir-pikir, Ebina Hina Masih Busuk? (0% Tersunting)]]  &lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 5|Bab 5: Seperti yang Dapat Kalian Lihat, Yuigahama Yui sedang Berusaha Keras]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 6|Bab 6: Yukinoshita Yukino Diam-Diam Pergi ke Kota di Sore Hari]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 7|Bab 7: Tak Terduganya, Miura Yumiko sedang Mengawasi dengan Sangat Dekat]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 8|Bab 8: Meskipun Begitu, Hayama Hayato Tidak Memilih demi Dirinya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Bab 9|Bab 9: Pernyataan Cinta si Pria dan si Wanita Tidak akan Mencapai Siapapun]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom_v075_Back.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7.5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 7.5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 1|Cerpen 1: Sudah Kuduga, Selera Masakan Rumah Hikigaya Hachiman memang Salah Kaprah.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.A. Side-A|Bagian-A * Babak Spesial A: Bahkan Kita harus Mendoakan bahwa Masa Depan yang Dituju para Laki-laki dan Perempuan itu Penuh dengan Kebahagiaan.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 2|Cerpen 2: Tentu saja, Kebaikan Hikigaya Hachiman itu Aneh.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 Bonus Track|Trek Bonus: Taktik-taktik Hikigaya Komachi]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 3|Cerpen 3: Mengejutkannya, Cara Belajar Hikigaya Hachiman tidak Salah.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.A. Side-B|Bagian-B * Babak Spesial B: Sekarangpun, Mereka masih tidak Tahu Tempat Pulang Mereka yang Seharusnya.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 S.S. 4|Cerpen 4: Meski begitu, Pemikiran Positif Hikigaya Hachiman itu Aneh.]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid v7.5 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:YahariLoveCom v08 thumb cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 1|Bab 1 : Tidak perlu dikatakan bahkan Hikigaya Komachi pun bisa marah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 2|Bab 2 : Karena suatu alasan, Isshiki Iroha berbau bahaya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 3|bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 4|bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 5|bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 6|bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 7|bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 8|bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Bab 9|bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 8 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari9-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9=== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 0|Bab 0 : Meskipun demikian, Ruangan itu Terus Bersandiwara Tanpa Henti Setiap Hari]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 1|Bab 1 : Lagi, Isshiki Iroha Mengetuk Pintunya]] &lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 2|Bab 2 : Tanpa Masalah, Kongresnya Menari, namun Tidak Ada Kemajuan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 3|Bab 3 : Berulang Kali, Hikigaya Hachiman Menanyai Dirinya Sendiri]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 4|Bab 4 : Itulah Mengapa, Totsuka Saika Merasa Terkagum]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 5|Bab 5 : Masa Depan itu yang Diharapkan Hiratsuka Shizuka]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 6|Bab 6 : Meski begitu, Hikigaya Hachiman]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 7|Bab 7 : Suatu Hari, Yuigahama Yui akan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 8|Bab 8 : Dan kemudian, Yukinoshita Yukino]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 9|Bab 9 : Tentu saja, Isshiki Iroha Mengambil Satu Langkah ke Depan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Bab 10|Bab 10 : Apa yang Diterangi Cahaya di Telapak Mereka Masing-Masing adalah]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 9 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari10-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 First Memorandum|Memorandum Pertama: Mungkin, Ini bukan Monolog siapapun]] (belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 1|Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya Komachi berdoa kepada dewa-dewi.]]&amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://www.kiminovel.com/2015/03/oregairu-vol-10-chapter-1.html　KimiNovel]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 2|Bab 2 : Seperti Biasa, Yukinoshita Haruno Membuat Masalah]] &amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://www.kiminovel.com/2015/04/oregairu-vol-10-chapter-2.html　KimiNovel]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 3|Bab 3 : Entah Kapan, Isshiki Iroha Merasa seperti di Rumahnya Sendiri]]&amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://www.kiminovel.com/2015/04/oregairu-vol-10-chapter-3.html　KimiNovel]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 4|Bab 4 : Meski begitu, Miura Yumiko merasa Dia Ingin Tahu]]&amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://www.kiminovel.com/2015/04/oregairu-vol-10-chapter-4.html　KimiNovel]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 5|Bab 5 : Sampai Hari itu tiba, Totsuka Saika akan Tetap Menunggu]]&amp;lt;span style=float:right;margin-right:25px;&amp;gt;Juga ada di [http://www.kiminovel.com/2015/05/oregairu-vol-10-chapter-5.html　KimiNovel]&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 6|Bab 6 : Dengan Gagahnya, Yukinoshita Haruno Mengusir Pergi Waktunya]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Second Memorandum|Second Memorandum]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 7|Bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 8|Bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Third Memorandum|Memorandum Ketiga : Kalau begitu, Tepatnya monolog siapa ini?]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Bab 9|Bab 9 : Namun, Yukinoshita Haruno menyatakan seperti itu]] (belum disunting)&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari10.5-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10.5 ([[Oregairu ~ Bahasa Indonesia:Jilid 10.5|Teks Utuh]])===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 1|Bab 1 : Suatu Hari nanti, bahkan Zaimokuza Yoshiteru akan dapat Menemukan Suatu Pekerjaan Mudah yang bisa Dilakukannya , Mungkin]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 2|Bab 2 : Pasti, Isshiki Iroha terbuat dari Gula, rempah-rempah, dan sesuatu yang menyenangkan ]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 3|Bab 3 : Ada tenggang waktu mutlak yang tidak boleh dilewatkan]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Bab 4|Bab 4 : Jadi, malam di rumah Hikigaya berlangsung]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 10.5 Catatan Penerjemah|Catatan Penerjemah]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot; style=&amp;quot;width: 750px; height: 350px; float: left;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;width:180px;&amp;quot; | [[File:Yahari11-cover.jpg|frameless|center|border|200px]]&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;float: left;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;top&amp;quot; |&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;margin: 10px; margin-top: -5px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Ilustrasi|Ilustrasi Novel]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 1|Bab 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 2|Bab 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 4|Bab 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 5|Bab 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 6|Bab 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 7|Bab 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 8|Bab 8]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Bab 9|Bab 9]]&lt;br /&gt;
::*[[Oregairu (Indonesia):Jilid 11 Catatan Penulis|Catatan Penulis]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;br style=&amp;quot;clear:both&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staff Proyek==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Manajer Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
*Pengawas Proyek: (belum ada)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
:*[[user:Irant Silvstar|Irant Silvstar]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:Dwiki_prayoga|Dwiki Prayoga]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Tidak Aktif&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
:*[[User:MEsato Ariq|MEsato Ariq]] [http://kiminovel.blogspot.com @KimiNovel]&lt;br /&gt;
:*[[User:Cucundoweh|Cucundoweh]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Sky flame|Sky flame]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Maddox|Maddox]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Derryindera|Derryindera]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Fronttide|Fronttide]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Meyrinchann|Meyrinchann]]&lt;br /&gt;
:*[[User:Truthlie|Truthlie]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Kurogamii|Kurogamii]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Annas|Annas]]&lt;br /&gt;
:*[[user:Sannou|Sannou]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua Penerjemah yang dapat berbahasa Inggris-Indonesia, Jepang-Indonesia kami persilakan.&lt;br /&gt;
dimohon penerjemah mempunyai CP (contact person)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
Semua penyunting yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar kami persilakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ikhtisar Seri Buku==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 1 (23 Maret 2011, tanggal terbit yang asli adalah 18 Maret, mundur karena gempa di Jepang) - ISBN 978-4-09-451262-5&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 2 (25 Juli 2011) - ISBN 978-4-09-451286-1&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 3 (23 November 2011) - ISBN 978-4-09-451304-2&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 4 (21 Maret 2012) - ISBN 978-4-09-451332-5 &lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 5 (23 Juli 2012) - ISBN 978-4-09-451356-1&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 6 (20 November 2012) - ISBN 978-4-09-451380-6&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 7 (19 Maret 2013) - ISBN 978-4-09-451402-5&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 8 (19 November 2013) - ISBN 978-4-09-451451-3&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 9 (18 April 2014) - ISBN 978-4-09-451482-7&lt;br /&gt;
#やはり俺の青春ラブコメはまちがっている 10 (17 November 2014) - ISBN 978-4-09-451523-7			&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Robu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia):Halaman_Pendaftaran&amp;diff=450027</id>
		<title>Yahari Ore no Seishun Robu Kome wa Machigatteru (Indonesia):Halaman Pendaftaran</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Yahari_Ore_no_Seishun_Robu_Kome_wa_Machigatteru_(Indonesia):Halaman_Pendaftaran&amp;diff=450027"/>
		<updated>2015-07-03T06:13:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: /* Jilid 10 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Untuk memperjelas prosedur pendaftaran:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;quot;Pertama Datang, Pertama Dilayani&amp;quot;: silahkan daftarkan Bab yang ingin anda terjemahkan (cukup tanda tangani di samping Bab yang ingin anda terjemahkan, tentu saja yang belum di ambil penerjemah lain) jika terdapat suatu Bab (yang sudah di tanda tangani) lebih dari 3 bulan tidak ada update, silahkan kontak supervisor, mungkin pekerjaan dapat di alih tangankan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah maksimum Bab yang boleh anda daftarkan tidak boleh melebihi setengah dari sebuah Jilid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah translator tiap Jilid maksimal 2 (kecuali untuk cerita pendek yang tidak berhubungan antar Bab, dengan kata lain, cuma dua orang yang boleh mengerjakan satu &#039;alur cerita&#039;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah maksimal Jilid yang boleh anda kerjakan dalam satu waktu adalah satu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak yang mengikat &amp;quot;Aku harus menyelesaikan yang sudah kudaftarkan&amp;quot;. Pilihan tergantung pada translator dan dapat dinegosiasikan (termasuk yang anda daftarkan sendiri). Akan tetapi sebaiknya jika tidak mampu menyelesaikan/kesulitan sampai bagian tertentu dan merasa tidak sanggup menyelesaikan, harap lepaskan daftar nama anda dari seri tersebut, memberikan kesempatan bagi penerjemah lain yang tertarik untuk mengerjakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Daftar==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
::*Prolog - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 6 - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - [[User:Maddox|Maddox]] - [[User:Derryindera|Derryindera]] - [[User:Annas|Annas]] - [[User:Cucundoweh|Cucundoweh]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - [[User:Annas|Annas]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis - [[User:Sannou|Sannou]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2=== &lt;br /&gt;
::*Prolog - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Formulir Survei Tur Tempat Kerja Prospektif - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
::*Prolog - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 6 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
::*Prolog - [[User:Dwiki_prayoga|Dwiki Prayoga]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 &lt;br /&gt;
::*Bab 2 &lt;br /&gt;
::*Bab 3 &lt;br /&gt;
::*Bab 4 &lt;br /&gt;
::*Bab 5 &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8   &lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 5===&lt;br /&gt;
::*Prolog&lt;br /&gt;
::*Bab 1 &lt;br /&gt;
::*Bab 2 &lt;br /&gt;
::*Bab 3 &lt;br /&gt;
::*Bab 4 &lt;br /&gt;
::*Bab 5 &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8 &lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6===&lt;br /&gt;
::*Prolog&lt;br /&gt;
::*Bab 1 &lt;br /&gt;
::*Bab 2 &lt;br /&gt;
::*Bab 3 &lt;br /&gt;
::*Bab 4 &lt;br /&gt;
::*Bab 5 &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8 &lt;br /&gt;
::*Bab 9&lt;br /&gt;
::*Bab 10&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 6.5===&lt;br /&gt;
::*Trek Bonus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7===&lt;br /&gt;
::*Prolog - [[User:Sky flame|Sky flame]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 -  [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:Meyrinchann|Meyrinchann]]- &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:Meyrinchann|Meyrinchann]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:truthlie|truthlie]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
::*Bab 6 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Trek Bonus&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 7.5===&lt;br /&gt;
::*Cerpen 1 - [[User:Zero2Hero|Zero2Hero]] - &#039;&#039;&#039;SELESAI&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bagian-A * Babak Spesial A&lt;br /&gt;
::*Cerpen 2&lt;br /&gt;
::*Trek Bonus&lt;br /&gt;
::*Cerpen 3&lt;br /&gt;
::*Bagian-B * Babak Spesial B&lt;br /&gt;
::*Cerpen 4&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 8===&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Fronttide|Fronttide]] x [[User:blank|blank]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:blank|blank]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 &lt;br /&gt;
::*Bab 4  &lt;br /&gt;
::*Bab 5  &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8 &lt;br /&gt;
::*Bab 9&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 9===&lt;br /&gt;
::*Bab 0 - [[User:MEsato Ariq|MEsato Ariq]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 5 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 6 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 7 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 8 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 9 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 10 - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis - [[User:Irant Silvstar|Irant Silvstar]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10===&lt;br /&gt;
::*First memorandum - [[User:blank|blank]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:Fathom|Fathom]]&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - &lt;br /&gt;
::*Bab 3 - &lt;br /&gt;
::*Bab 4 - &lt;br /&gt;
::*Bab 5 - &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Second Memorandum&lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8 &lt;br /&gt;
::*Third Memorandum - [[User:blank|blank]]&lt;br /&gt;
::*Bab 9 - [[User:blank|blank]] - &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 10.5===&lt;br /&gt;
::*Bab 1 - [[User:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
::*Bab 2 - [[User:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
::*Bab 3 - [[User:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
::*Bab 4 - [[User:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis - [[User:C.I.U|C.I.U]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 11===&lt;br /&gt;
::*Bab 1 &lt;br /&gt;
::*Bab 2 &lt;br /&gt;
::*Bab 3 &lt;br /&gt;
::*Bab 4 &lt;br /&gt;
::*Bab 5 &lt;br /&gt;
::*Bab 6 &lt;br /&gt;
::*Bab 7 &lt;br /&gt;
::*Bab 8 &lt;br /&gt;
::*Bab 9&lt;br /&gt;
::*Catatan Penulis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteru (Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Registration Page]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Fathom&amp;diff=450026</id>
		<title>User:Fathom</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Fathom&amp;diff=450026"/>
		<updated>2015-07-03T06:12:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Fathom: Created page with &amp;quot;Mottoku : Menerjemahkan teks berbahasa asing mendekati Bahasa Indonesia sedekat mungkin, walau akan mengubah isi teks asli dan nuansanya pun berubah. Hal ini bertujuan agar pa...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Mottoku : Menerjemahkan teks berbahasa asing mendekati Bahasa Indonesia sedekat mungkin, walau akan mengubah isi teks asli dan nuansanya pun berubah. Hal ini bertujuan agar para pembaca Indonesia dapat dengan nyaman membacanya tanpa harus mengerenyitkan mata karena tidak paham.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Fathom</name></author>
	</entry>
</feed>