<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Ginthegum</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Ginthegum"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Ginthegum"/>
	<updated>2026-05-13T19:08:01Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_9&amp;diff=220161</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 9</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_9&amp;diff=220161"/>
		<updated>2013-01-16T05:25:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==9 - Surat ke Sarajevo==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teruntuk Kakak,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menulis surat untukmu karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Aku hanya perlu percaya hotel yang kaubilang sebagai tempatmu menginap memberikan ini padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa banyak yang kautahu tentang Klub Klasik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kau menyuruhku bergabung dengan Klub Klasik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin sangat tahu bagaimana gaya hidupku. Tapi, sejak aku masuk SMA, aku dikelilingi oleh Satoshi dan orang lain yang belum kaukenal. Karena aku melihat orang-orang dengan gaya hidup yang benar-benar berbeda denganku, entah kenapa aku jadi merasa tidak nyaman. Perasaan itu adalah perasaan yang tak akan kaurasakan kecuali kau bergabung dengan Klub Klasik. Kalau aku tidak bergabung, mungkin aku tidak akan terpikir untuk mempertanyakan motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin selama ini kau sudah memperkirakan aku akan terguncang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ada &amp;quot;Hyouka&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bergabung dengan Klub Klasik sesuai dengan suratmu dari Benares, dan mencari lemari besinya di ruang Biologi sesuai dengan suratmu dari Istanbul. Tapi tidak hanya berakhir di sana. Setelah membuka lemari besinya, aku diikut-sertakan dalam urusan mencoba menemukan kebenaran tentang Sekitani Jun dari 33 tahun lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, para murid pada 33 tahun lalu hidup dalam gaya aktif yang dilimpahi energi. Sesuatu yang disebut hidup sewarna mawar mungkin lahir dari gaya ini dan gaya &amp;quot;Hyouka&amp;quot;. Sejak mengetahui kebenaran dari kejadian itu, aku tak lagi merasa se-tak nyaman sebelumnya. Meski aku tak bisa mengatakan kalau gayaku sendiri bagus, tapi paling tidak, sekarang aku tahu gayaku lumayan juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kak, aku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tidak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pasti lelucon yang buruk, seolah-olah kau mencoba untuk memanipulasi pikiranku. Tapi itu mustahil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, tak usah terlalu memikirkannya. Aku sudah menulis semua yang kubisa tentang keadaanku sekarang. Kalau lebih banyak lagi dari ini maka hanya akan menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat berjalan-jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Houtarou&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
N.B. Terima kasih untuk sarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia):Jilid 1 Bab 8|8 - Kegiatan Sehari-hari Klub yang Akan Datang]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Lanjutkan ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia):Jilid 1 Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214856</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214856"/>
		<updated>2012-12-25T05:14:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau lagi dimarahi seperti tadi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Sepertinya tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar jernih dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas khusus saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214854</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214854"/>
		<updated>2012-12-25T05:02:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau lagi dimarahi seperti tadi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Sepertinya tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar jernih dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas spesial saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214852</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=214852"/>
		<updated>2012-12-25T04:52:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau lagi dimarahi seperti tadi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Sepertinya tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan jernih yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas spesial saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191417</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191417"/>
		<updated>2012-09-25T09:53:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Sepertinya tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan jernih yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas spesial saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191194</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191194"/>
		<updated>2012-09-24T11:54:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan jernih yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas spesial saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191192</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=191192"/>
		<updated>2012-09-24T11:53:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak menanggapi. Dia menatap dengan polos pada kunci yang tergantung di jariku, dan sebelumnya ia memiringkan kepalanya dan bertanya, &amp;quot;Oreki-san, mengapa kamu membawanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ia kehilangan beberapa sekrup di kepalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu, aku tidak bisa masuk tanpa kunci... Tunggu dulu, bagaimana bisa kau... maaf, bagaimana tadi kamu bisa masuk ke ruangan ini, Chitanda-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pintunya tidak terkunci ketika aku masuk. Kupikir sudah ada yang masuk sebelum aku datang, jadi aku tidak membutuhkan kunci untuk masuk.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu. Karena ia tidak menerima surat dari mantan anggota seperti yang aku punya, dia tidak tahu bahwa tidak ada anggota lain yang ada di Klub Klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Benarkah? Saat aku masuk pintunya telah terkunci.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi sebuah kesalahan bagiku dengan mengucapkannya secara acuh tak acuh, saat ekspresi di kedua bola mata Chitanda yang berubah dengan cepat dan tatapannya yang menjadi tajam. Apakah hanya perasaanku atau kedua pupilnya benar-benar membesar? Tidak peduli dengan ekspresi terkejutku, perlahan ia bertanya padaku, &amp;quot;Saat kamu bilang pintunya terkunci, apakah maksudmu pintu yang tadi kamu masuki?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat merasa bingung dengan sebuah perubahan ekspresi semacam itu untuk gadis yang lemah gemulai seperti dia, aku mengangguk. Entah itu secara sadar atau tidak, Chitanda maju satu langkah padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi itu berarti bahwa tadi aku terkunci didalam, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara pukulan jernih yang dicetak oleh Tim Baseball bisa terdengar dari luar. Sementara aku tidak punya lagi urusan apapun di ruangan ini, Chitanda terlihat seperti ingin bicara sedikit lebih lama lagi. Aku mengeluh dan mengiba, dan meletakkan tasku di meja terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkunci didalam, itulah yang dikatakan Chitanda. Apa benar begitu? Aku berpikir sedikit. Kuncinya ada padaku, ketika Chitanda ada didalam ruangan. Aku tidak punya ingatan jika aku pernah mengunci pintunya. Jadi jawabannya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apakah sebelumnya kamu yang mengunci pintunya dari dalam?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda menggelengkan kepalanya dan menolaknya dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak pernah melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, kuncinya ada padaku. Siapa lagi yang bisa mengunci pintunya selain kamu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nah, adakalanya orang lupa kalau mereka sudah mengunci pintunya atau belum,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Chitanda tidak terlihat begitu memperhatikan penjelasanku, dan tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selain itu, bukankah yang disana itu adalah temanmu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan menemukan pandangan sekilas kerah seragam hitam di balik celah pintu yang terbuka sedikit. Tatapannya langsung berhadapan dengan tatapanku. Aku ingat ketika melihat mata berwarna coklat itu yang terlihat seolah-olah sedang tersenyum, jadi kutinggikan suaraku dan memanggilnya, &amp;quot;Satoshi! Buruk sekali kegemaran yang kau lakukan, menguping percakapan orang lain!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya telah terbuka, dan seperti yang kuduga, orang yang masuk adalah Fukube Satoshi. Sama sekali tidak merasa malu, dia berkata dengan kurang ajar, &amp;quot;Yah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menguping.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kau memang tidak bermaksud, tapi bagaimanapun tetap saja kau berakhir dengan melakukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin memang begitu. Tapi aku hanya tidak bisa menyela ketika melihat Houtarou yang biasanya tidak aktif menghabiskan waktu berharganya dengan seorang gadis di ruang kelas spesial saat senja. Aku tidak ingin mengacaukannya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190416</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190416"/>
		<updated>2012-09-21T12:43:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klasik tidak ada anggotanya, kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190411</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190411"/>
		<updated>2012-09-21T12:33:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkan Klub Klasik, tempat kakakmu menghabiskan masa muda.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190113</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190113"/>
		<updated>2012-09-20T11:42:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geologi ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190112</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190112"/>
		<updated>2012-09-20T11:38:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku melihat pintunya tidak terkunci, jadi aku kesini untuk memeriksa apa yang terjadi. Apa yang kamu lakukan dengan masuk ke kelas tanpa izin? Siapa namamu dan dari kelas mana?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Hmmm, tanpa izin ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya Oreki Houtarou dari kelas 1-B. Oh ya, pak, ini adalah ruang Klub Klasik, dan saya khawatir Anda mengganggu aktivitas klub kami,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menghilangkan kecurigaannya, ia melanjutkan, &amp;quot;Kupikir itu sudah dibubarkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, sebelumnya memang. Tapi sudah diaktifkan lagi pagi ini. Anda bisa mengkonfirmasinya dengan guru pembina kami, emm...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ooide-sensei,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, Anda bisa berkonfirmasi dengan Ooide-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penjelasan yang tepat disaat yang tepat. Morishita segera merendahkan volume suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oh. Begitu. Yah, kalau begitu lanjutkan saja.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tapi Anda baru saja melihat kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dan jangan lupa mengembalikan kuncinya jika sudah selesai.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baik, pak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Morishita menatap kami lagi sebelum menutup pintu dengan kasar. Chitanda kembali mengejutkan tubuhnya terhadap suara keras, namun dengan lembut berbisik, &amp;quot;Dia...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hmm?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia cukup berisik untuk seorang guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya aku tidak mempunyai urusan lagi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Baiklah. Sekarang kita telah selesai dengan perkenalannya, bisakah kita pulang?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hah? Kita tidak melakukan kegiatan apapun hari ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, aku mau pulang.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat tas pundakku, yang tidak berisi banyak barang, dan membalikkan punggungku didepan Chitanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nanti kamu yang harus mengunci pintunya. Tidak mau dimarahi seperti tadi lagi, kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Eh?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku meneruskan untuk meninggalkan Ruang Geology.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau lebih tepat, aku hampir meninggalkannya, ketika aku dihentikan oleh suara Chitanda yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kumohon tunggu dulu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik melihat Chitanda, yang terlihat seperti telah diberitahukan hal yang mustahil, dan yang berbicara dengan polos, &amp;quot;Aku, aku tidak bisa menguncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa tidak bisa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Karena aku tidak punya kuncinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, yah. Kuncinya ada padaku. Tidak banyak kunci cadangan yang tersedia untuk dipinjamkan, sepertinya. Jadi kuambil kuncinya dari saku dan memberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ini, jaga baik... Maaf, maksudku, tolong jaga ini baik-baik, Chitanda-san.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190073</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=190073"/>
		<updated>2012-09-20T09:30:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara dengan keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188260</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188260"/>
		<updated>2012-09-14T02:45:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morishita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188259</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188259"/>
		<updated>2012-09-14T02:41:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Meski ia telah melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188258</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188258"/>
		<updated>2012-09-14T02:39:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seorang guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Sementara ia melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188044</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188044"/>
		<updated>2012-09-13T10:02:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski telah kupikirkan dengan hati-hati, aku masih terkejut. Demi kebanggaanku yang masih tersisa, harus kuakui bahwa aku hanya hadir sekali dalam beberapa pelajaran seni yang tidak wajib itu semenjak aku medaftar di sekolah ini. Jadi mustahil aku bisa mengingat wajah atau nama!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di sisi lain, gadis bernama Chitanda ini bisa mengingatku hanya dengan sekali melihat sebelumnya, jadi ini adalah bukti nyata bahwa itu tidak terlalu mustahil... Biar kuberi tahu, dia pasti mempunyai tingkat kemampuan yang mengerikan dalam meneliti dan mengingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, bisa jadi ini semua hanya kebetulan. Lagipula, orang yang berbeda akan menafsirkan arti yang berbeda dari membaca artikel koran yang sama. Aku membangkitkan kembali akal sehatku dan bertanya, &amp;quot;Jadi, Chitanda-san. Kenapa ada di Ruang Geology ini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dengan cepat memjawab, &amp;quot;Saya telah bergabung dengan Klub Klasik, jadi kupikir saya harus menyambutmu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah bergabung dengan Klub Klasik, dengan kata lain, seorang anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat itu aku berharap agar dia mengerti perasaanku. Jika dia bergabung dengan klub, itu berarti akhir dari markas pribadiku dan kewajiban kepada kakakku. Aku tidak punya alasan lagi bergabung dengan Klub Klasik. Aku mengeluh dalam hati... Usahaku telah sia-sia. Sementara memikirkannya, aku bertanya, &amp;quot;Kenapa kamu bergabung dengan Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin bergabung dengan Klub Klasik! Aku berusaha menyampaikan pesan tersirat ini pada pertanyaanku, tapi sepertinya ia sama sekali tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Emm, saya memiliki alasan pribadi untuk bergabung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dia mengelak dari pertanyaanku. Tidak kusangka, Chitanda Eru ini cukup mencurigakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagaimana dengan kamu, Oreki-san?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jadi rumit. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku rasa dia tidak akan mengerti jika kuberi tahu aku datang kesini karena perintah dari kakakku. Tapi setelah aku memikirkannya, aku sadar bahwa dia tidak perlu mengetahui alasanku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara nyaring  ke dalam ruangan, &amp;quot;Hei! Apa yang kalian lakukan disini?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah guru. Mungkin sedang patroli setelah pulang sekolah. Dengan tubuh tegap dan kulit berwarna coklat, sepertinya dia guru penjas. Walau dia tidak membawa pedang bambu, tidak terlihat terlalu dibuat-buat untuk membayangkannya. Sementara ia melewati masa usia prima, ia masih tetap memiliki wibawa semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda mengelak sedikit ke kebelakang ketika diteriaki secara begitu tiba-tiba, tetapi segera ia kembali pada senyumannya yang menenangkan. Lalu ia menyapa guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Selamat sore, Morita-sensei.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia membuat salam yang sempurna dari caranya membungkukkan kepala dengan kecepatan dan sudut yang benar. Melihat bagaimana ia mempertahankan sopan santun tanpa menghiraukan keberadaannya, aku tidak bisa menolong kecuali iri kepadanya. Guru yang dipanggil Morishita ini menjadi terdiam sesaat karena sikap hormatnya, tapi segera ia kembali berbicara keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188022</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188022"/>
		<updated>2012-09-13T08:27:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak pernah berpikir kau akan memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, sepertinya ini tidak terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188018</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188018"/>
		<updated>2012-09-13T08:12:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah kita di kelas yang sama saat pelajaran musik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188015</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188015"/>
		<updated>2012-09-13T07:38:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah satu-satunya hal yang dinilai. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah jam pelajaran musik kita sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188014</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188014"/>
		<updated>2012-09-13T07:35:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya—bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah jam pelajaran musik kita sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188013</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=188013"/>
		<updated>2012-09-13T07:24:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa ya?&amp;quot; &amp;lt;!-- aku berfikir &#039;kamu siapa?&#039; atau &#039;siapa kamu&#039; kedengaran lebih sopan, tapi aku tidak yakin houtaro menggunakan bahasa sopan atau tidak di novel aslinya -Tony --&amp;gt; &amp;lt;!-- dalam versi anime Oreki mengatakan &#039;Dare da?&#039; jadi saya pikir lebih sesuai diganti dengan &#039;Siapa ya?&#039; -Gin --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah jam pelajaran musik kita sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187587</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187587"/>
		<updated>2012-09-11T10:58:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski sesama kelas 1, sama sekali tidak mungkin untuk para siswa yang berbeda kelas untuk saling berinteraksi. Kesempatan yang ada hanya melakukannya lewat kegiatan klub atau hubungan dengan teman. Aku tidak punya kedua penghubung itu. Maka hal ini pasti melibatkan seluruh siswa, namun kejadian semacam itu yang muncul di benakku hanyalah upacara pembukaan semester awal di sekolah. Lagipula, aku tidak pernah merasa  dikenalkan kepada orang lain di luar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, tunggu. Aku ingat. Itu dia, ada satu kesempatan bagi kita untuk berinteraksi dengan kelas lain selama pelajaran. Jika saat pelajaran harus menggunakan suatu ruang atau barbagai peralatan, maka akan lebih efisien untuk mengajar lebih dari satu kelas sekaligus. Hal itu berarti selama penjas, atau pelajaran yang berhubungan dengan kesenian. Saat SMP, ada juga kelas kejuruan, tetapi mengingat SMA ini adalah sebuah sekolah yang mengutamakan bidang akademik, ini tidaklah sama. Dan saat penjas siswa dan siswi dipisahkan, itu berarti...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkinkah jam pelajaran musik kita sama?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, itu dia!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda menganggukkan kepalanya dengan sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187560</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187560"/>
		<updated>2012-09-11T09:13:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser jalur hidupku keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187557</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=187557"/>
		<updated>2012-09-11T09:03:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Begitu buruknya ingatanku ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=184010</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=184010"/>
		<updated>2012-09-01T01:16:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipis dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Ingatanku sebegitu buruknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=184009</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=184009"/>
		<updated>2012-09-01T01:07:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipisnya dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan baik terhadap orang-orang, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Ingatanku sebegitu buruknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=183701</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=183701"/>
		<updated>2012-08-31T11:14:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipisnya dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang dengan baik, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Ingatanku sebegitu buruknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=183610</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=183610"/>
		<updated>2012-08-31T04:15:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wilayah kampus terdapat tiga gedung besar. Blok Umum yang merupakan ruang kelas reguler, Blok Kejuruan untuk ruang kelas kejuruan, dan Gimnasium. Ini sangat normal, sungguh. Terdapat pula Dojo Seni Bela Diri dan Ruang Penyimpanan Peralatan Olahraga. Lantai empat Blok Kejuruan dimana ruangan Klub Klasik berada, relatif terpencil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mengutuk terhadap perilaku yang memboros energi, aku berjalan melintasi lorong penghubung dan naik ke lantai empat, dimana aku dapat menemukan dengan cepat Ruang Geologi. Tanpa ragu aku segera menggeser pintunya agar terbuka, namun pintunya terkunci. Tidak heran, kabanyakan ruang kejuruan memang biasanya terkunci. Kuambil kunci yang telah kupinjam sebelumnya agar aku bisa menghemat energi, dan kubuka pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintunya tak terkunci, aku menggesernya sampai terbuka. Dalam Ruang Geologi yang kosong, matahari terbenam dapat terlihat dari jendelanya yang menghadap ke arah barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa tadi kubilang kosong? Tidak, itu tidak sesuai dengan apa yang aku sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sinar matahari senja yang menyelimuti seluruh Ruang Geologi, yang juga ruang Klub Klasik, ada seseorang didalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang siswa sedang berdiri disamping jendela dan menatapku. Tidak, dia seorang gadis perempuan, lebih tepatnya dia adalah seoarang siswi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski &amp;quot;anggun&amp;quot; dan &amp;quot;rapi&amp;quot; bukanlah kata-kata pertama yang tepat tersirat dalam pikiranku ketika aku melihatnya, kupikir tidak ada kata-kata yang lain untuk menggambarkan dirinya dengan baik. Rambut panjangnya melambai melewati kedua pundaknya, dan seragam pelautnya sangat cocok dikenakan oleh dirinya. Dia cukup tinggi untuk seorang gadis, mungkin dia lebih tinggi dari Satoshi. Ketika aku mengetahuinya dengan jelas bahwa ia adalah seorang siswi SMA, bibir tipisnya dan sosoknya yang seperti penuh dengan pengharapan, memperkuat pandanganku tentang bagaimanakah kelihatannya seorang siswi SMA yang bergaya jaman dulu. Yang membedakannya adalah kedua pupil matanya yang begitu besar, dan dibanding terlihat anggun, keduanya terlihat begitu bersemangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bukanlah gadis yang kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika ia melihatku, dia tersenyum dan berkata, &amp;quot;Halo. Kamu pasti Oreki-san dari Klub Klasik, benar?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Siapa kau?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutanya dengan terus terang. Walau aku tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang dengan baik, aku tidak bermaksud untuk memperlakukan dengan dingin orang yang pertama kali kutemui. Di saat ketika aku tidak mengenalinya, untuk beberapa alasan, ia terlihat seperti mengenaliku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidakkah kamu mengingatku? Namaku Chitanda, Chitanda Eru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chitanda Eru. Meskipun ia telah memberitahukan namanya, aku masih belum mendapat petunjuk. Bagaimanapun, Chitanda adalah nama belakang yang cukup jarang, begitupula dengan nama depannya, Eru. Rasanya mustahil bagiku untuk melupakan nama semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat lagi seorang gadis yang dipanggil Chitanda itu. Setelah memastikan bahwa aku tidak mengenalnya, aku menjawab, &amp;quot;Maaf, kurasa aku tidak ingat siapa kamu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mempertahankan senyumannya, dia memiringkan kepalanya, seperti kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kamu Oreki-san, kan? Oreki Houtarou dari Kelas 1-B?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Saya dari kelas 1-A.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah kau mengingatnya sekarang? Apakah dia terlihat seperti mengisyaratkan bahwa... Ingatanku sebegitu buruknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu. Aku dari Kelas B dan dia dari Kelas A, apakah ada kesempatan bagi kami untuk bertemu sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182921</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182921"/>
		<updated>2012-08-29T10:37:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari tangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182902</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182902"/>
		<updated>2012-08-29T10:15:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau tahu apa artinya ini, Houtarou?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ucap Satoshi sambil melirik surat Kakak dengan sepintas. Aku berkata dengan nada mengeluh, &amp;quot;Yah, ini semua terlihat tidak ada manfaatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Tidak, bukan itu yang kumaksud.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menengadahkan pandangannya dari surat itu, Satoshi mengatakannya dengan nada yang riang namun aneh. Ia menepuk surat itu dibalik telapak tangannya dan berkata, &amp;quot;Saat ini Klub Klassik tidak ada anggotanya , kan? Artinya hanya kau sendiri yang akan menjaga ruangan klubnya. Bagus kan? Sebuah markas pribadi dalam lingkungan sekolah milikmu sendiri.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah markas pribadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Sebuah cara yang bagus dalam memandang hal ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah kau menyukainya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran yang aneh. Pada dasarnya Satoshi mengatakan bahwa aku bisa memiliki markas pribadi di sekolah. Bisa saja aku tidak pernah mempunyai ide seperti itu. Sebuah ruang rahasia, hah? Bukannya aku menginginkannya dan akan berusaha untuk itu... Tapi tidak begitu buruk jika digunakan untuk tempat bersantai. Kuambil kembali surat itu dari ditangan Satoshi dan menjawab, &amp;quot;Kupikir tidak terlalu buruk. Aku mungkin akan melihatnya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bagus. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk tidak mencobanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba kesempatan yang ada, begitu ya? Yah, ini tidak seperti terlalu berlawanan dengan kepribadianku, jadi aku tersenyum dengan pahit dan mengangkat tas bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih tetap percaya kepada motoku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari jendela yang terbuka, bisa terdengar seruan dari Tim Atletik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Fight! Fight! Fight!...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin melibatkan diriku untuk membuang energi yang kupakai untuk hal semacam itu. Jangan salah paham, aku tidak berkata jika menghemat energi yang kumaksud adalah kehendak yang superior&amp;lt;ref&amp;gt;Maksudnya &amp;quot;superior&amp;quot; disini adalah bersifat seperti orang yang lebih tinggi kedudukannya.&amp;lt;/ref&amp;gt;, jadi aku sama sekali tidak menganggap mereka yang selalu aktif adalah orang bodoh. Aku melangkah menuju ruangan Klub Klasik sambil mendengar mereka melanjutkan seruannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan di sepanjang lorong yang berubin dan naik ke lantai 3. Ketika kumelihat penjaga sekolah yang membawa tangga yang besar, aku bertanya kepadanya dimana ruangan Klub Klasik berada, dan diarahkan menuju Ruang Pembelajaran Geologi di lantai 4 Blok Kejuruan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah ini, SMA Kamiyama, baik jumlah siswa maupun luas area kampus, sama-sama memiliki angka yang sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah seluruh siswa ada sekitar seribu. Meskipun sekolah ini menyediakan kurikulum untuk mengikuti ujian ke universitas, bidang akademik bukanlah hal yang terlalu diutamakan. Dengan kata lain, ini adalah sekolah SMA biasa. Disamping itu, sekolah ini mempunyai jumlah klub yang luar biasa banyak (seperti Klub Melukis atau Klub A Capella, seperti halnya Klub Klasik), karena itu sekolah ini sangat dikenal mempunyai Festival Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182887</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182887"/>
		<updated>2012-08-29T09:58:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182844</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182844"/>
		<updated>2012-08-29T07:04:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu berwarna seperti mawar. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang cocok dengan deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut sudah tidak jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau percintaan, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa dalam perhitunganku. Tetap saja, itu sebuah cara yang kesepian untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi menampilkan senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis&amp;lt;ref&amp;gt; Masokhis = Orang yang senang disakiti&amp;lt;/ref&amp;gt;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa salahnya dia. Karenanya aku memprotes, &amp;quot;Apa kamu mengatakan kalau hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Percintaan? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan pada hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat energi&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa aku tidak benar-benar membenci menjadikan diriku aktif. Aku cuma aku tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, cuma dengan melihat fakta bahwa kau tidak mengikuti klub manapun di sini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas klub SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa menenangkan jiwanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja dikelirukan dengan seorang yang terlihat feminim dan lemah, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  bagaimanapun, dia hanya berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat dengan sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, terserah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau pulang ke rumah, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182520</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Jilid_1_Bab_2&amp;diff=182520"/>
		<updated>2012-08-28T12:13:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: Created page with &amp;quot;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu seperti mawar yang berwarna. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang sesuai deskripsi seperti yang di defin...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sering dikatakan bahwa kehidupan di masa SMA itu seperti mawar yang berwarna. Seraya tibanya akhir dari tahun 2000, kedatangan hari yang sesuai deskripsi seperti yang di definisikan pada kamus Jepang tersebut tidaklah jauh berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, tidak berarti bahwa semua siswa SMA mengharapkan perihal semacam kehidupan yang berwarna mawar itu. Apakah itu dalam belajar, olahraga atau romansa, akan selalu ada beberapa orang yang lebih menyukai kehidupan yang berwarna abu-abu daripada semua itu; aku tahu beberapa menurut perhitunganku sendiri. Tetap saja, itu sebuah cara yang sunyi untuk menjalani sebuah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, aku telah memulai sebuah percakapan dengan topik semacam itu bersama teman lamaku Fukube Satoshi dalam ruangan kelas yang tersinari oleh cahaya matahari senja. Seperti biasanya, Satoshi membawa senyum diwajahnya dan berkata, &amp;quot;Begitulah yang kupikirkan. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah tahu kalau kau begitu masokhistis.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa sialnya kesalahan yang ia katakan. Segera aku berkomentar, &amp;quot;Apa kamu mengatakan bahwa hidupku berwarna abu-abu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa aku berkata seperti itu? Tapi Houtarou, apakah itu dalam belajar, olahraga, atau apakah yang lainnya? Romansa? Aku tidak berpikir kau akan pernah memandang ke depan tentang hal-hal tersebut.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentunya aku tidak memandang ke belakang juga.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, benar,&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman Satoshi semakin lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lagipula kau hanya &#039;menghemat tenaga&#039;.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyetujuinya dengan mendengus. Tidak mengapa selama kau mengerti bahwa persisnya aku tidak menjadikan diriku aktif. Secara sederhana aku tidak suka menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan. Cara hidupku adalah untuk menghemat energi untuk kemajuan planet ini. Dengan kata lain, &amp;quot;Jika aku tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, lakukan secepat mungkin.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengucapkan motoku, Satoshi mengangkat bahunya seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apapun itu menghemat energi atau sinisme, itu adalah hal yang sama, iya kan? Pernahkah kamu mendengar tentang instrumentalisme&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Instrumentalism&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;http://4diskusi.wordpress.com/2011/03/20/instrumentalisme-john-dewey/&amp;lt;/ref&amp;gt;?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, itu berarti bahwa untuk orang sepertimu yang tidak mempunyai ketertarikan tertentu, hanya mengamati bahwa kau tidak mengikuti klub manapun disini, di SMA Kamiyama, Tanah Suci-nya aktifitas SMA, membuatmu menjadi seorang yang berwarna abu-abu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa? Apa kamu mengatakan kalau kematian karena pembunuhan itu tidak berbeda dari kematian karena kelalaian?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satoshi menjawab tanpa keraguan, &amp;quot;Dari sebuah perspektif tertentu, iya. Meskipun itu masalah yang berbeda sepenuhnya jika kamu mencoba meyakinkan orang mati bahwa kematiannya dikarenakan kelalaianmu agar bisa membersihkan jiwanya dari roh jahat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar muka tebal sialan. Sekali lagi aku melihat orang didepanku. Fukube Satoshi, teman lamaku, lawan yang pantas dan rival yang mematikan, ia mempunyai badan yang agak pendek untuk seorang lelaki. Bahkan sebagai seorang siswa SMA, dia bisa saja terlihat keliru seperti seorang yang lembek dan feminim, tapi dia sangat berbeda di dalam. Sungguh sulit untuk menjelaskan apa perbedaannya ー  lagipula, dia hanya merasa berbeda. Disamping tersenyum sepanjang waktu, dia selalu terlihat bersama sebuah tas bertali, sebagaimana ia adalah seorang yang bermuka tebal. Dia juga seorang anggota Klub Kerajinan Tangan, jangan tanya aku mengapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdebat dengannya hanya membuang tenaga saja. Aku melambaikan tangan untuk menandakan akhir dari percakapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Yah, tersarah. Sudahlah pulang duluan saja sana.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, kau benar. Aku tidak punya kegiatan klub apapun hari ini... mungkin aku akan pulang duluan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi ia meregangkan pinggangnya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;&#039;Pulang duluan saja&#039;? Sangat jarang mendengar kata itu darimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jika benar-benar pulang, bukankah kau biasa melakukannya terlebih dahulu sebelum mengatakan kalimat itu? Ada urusan apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah ketika kau tidak mengikuti klub manapun?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat alisku dan mengambil selembar kertas dari dalam saku jaket seragamku. Setelah dengan tenang memberikannya kepada Satoshi, matanya terbuka lebar dalam ketakjuban. Tidak, ia memberi reaksi yang berlebihan. Ini tidak seperti jika ia benar-benar terkejut, walaupun benar bahwa matanya terbuka lebar. Lagipula ia memang selalu bereaksi secara berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa?! Bagaimana bisa?!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Satoshi, tenangkan dirimu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukankah ini formulir pendaftaran klub? Aku terkejut. Ada apakah gerangan yang terjadi? Untuk Houtarou yang sebenarnya bergabung dengan sebuah klub...&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memang benar sebuah formulir pendaftaran klub. Ketika melihat nama dari klub yang  tertulis, Satoshi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Klub Klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kau pernah mendengarnya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tentu saja, tapi, kenapa Klub Klasik? Apakah kau tiba-tiba menemukan minat pada sastra klasik?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku menggaruk kepala dan mengambil lembaran kertas yang lainnya dari dalam sakuku. Itu adalah sebuah surat dengan tulisan tangan yang terlihat tergesa-gesa, yang lalu aku berikan kepada Satoshi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bacalah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera Satoshi mengambil surat itu dan membacanya, dan seperti yang diharapkan, ia mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haha, Houtarou, pasti itu menyusahkanmu. Sebuah permintaan dari kakakmu, hah? Tidak ada cara yang bisa dilakukanmu untuk menolaknya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ia terlihat begitu riang gembira? Meskipun, ia sadar bahwa aku menunjukan ekspresi yang pahit. Surat yang sejak tadi pagi datang dari India ini berusaha untuk membuat sebuah penyesuaian terhadap gaya hidupku. Oreki Tomoe memang selalu seperti itu, mengirim surat untuk menggeser keluar jalur hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;Houtarou, selamatkanlah Klub Klasik, masa muda kakakmu.&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka amplop dan membacanya dengan singkat pada pagi ini, aku menjadi sadar akan sifat egoisnya yang tertulis. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjaga kenangan masa muda kakakku, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Apa keahlian kakakmu? Jujutsu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aikido dan Taiho-jutsu&amp;lt;ref&amp;gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Taiho_Jutsu&amp;lt;/ref&amp;gt;. Itu bisa sangat menyakitkan jika ada salah satunya yang ingin menyakiti.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kakakku, seorang mahasiswi yang pandai secara akademis maupun dalam seni bela diri, tidak berhasrat untuk menaklukkan Jepang sendirian, dan telah memutuskan untuk pergi keluar negeri dan menantang dunia. Tidaklah bijak untuk mendatangkan kemarahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi, di saat aku bisa melawan dengan sedikit kebanggaan yang kumiliki, memang benar aku punya alasan kecil untuk menentangnya. Memang kakakku telah tepat sasaran dengan menujukkan bahwa aku tidak punya apapun yang bisa kulakukan dengan lebih baik. Aku telah memutuskan bahwa mungkin aku menjadi anggota klub yang semu daripada siswa yang tidak berafiliasi, dan juga tanpa keraguan, &amp;quot;aku sampaikan surat pendaftaran ini tadi pagi&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan penerjemah dan referensi==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
| Lanjut ke [[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Ginthegum&amp;diff=182434</id>
		<title>User:Ginthegum</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Ginthegum&amp;diff=182434"/>
		<updated>2012-08-28T05:13:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: Created page with &amp;quot;Is a user of www.baka-tsuki.org&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Is a user of www.baka-tsuki.org&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_(Indonesia)&amp;diff=182433</id>
		<title>Hyouka (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_(Indonesia)&amp;diff=182433"/>
		<updated>2012-08-28T05:12:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: /* Penerjemah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{Warning:ATP}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Hyouka v01 000.jpg|thumb|Volume 1 Cover]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Hyouka&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (氷菓) adalah sebuah Light Novel yang ditulis oleh Honobu Yonezawa dan diserialisasikan di Kadokawa Shoten. Saat ini, serial Hyouka telah terbit sebanyak 5 volume. Animenya akan ditayangkan mulai dari April 2012 serta, tersedia juga manga yang ditulis oleh pengarang asli dan diilustrasikan oleh Task Ohna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hyouka juga tersedia dalam pilihan bahasa berikut:&lt;br /&gt;
*[[Hyouka|English (Inggris)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sinopsis Cerita==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Houtarou Oreki adalah orang yang mengakui dirinya penghemat energi. Ia tidak akan membuang energi melakukan sesuatu yang tidak perlu. Meskipun ia tidak tertarik mengikuti klub apa pun, begitu memasuki SMA Kamiyama, ia diperintahkan kakaknya Tomoe untuk memasuki Classics Club yang terancam dibubarkan karena seluruh anggota sebelumnya telah lulus. Bersama dengan teman lamanya, Satoshi Fukube dan Mayaka Ibara, serta seorang gadis anggun yang penuh rasa ingin tahu, Eru Chitanda, Classics Club yang didirikan kembali mendapati diri mereka terlibat dalam segala bentuk pemecahan misteri yang menegangkan. Houtarou segera menemukan bahwa Classics Club, seperti yang dijanjikan Tomoe, sebetulnya &amp;quot;lumayan menarik&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian dimulailah &amp;quot;Serial Classics Club&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diadaptasi ke anime oleh Kyoto Animation di tahun 2012 dengan nama &amp;quot;Hyouka&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Terjemahan==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ini adalah terjemahan tangan kedua (Second-Hand) dari terjemahan Bahasa Inggris. Bagi yang ingin meninjau ulang dari Bahasa Jepang akan sangat kami hargai.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Hyouka Bahasa Indonesia:Halaman Pendaftaran|Pendaftaran]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Penerjemah diminta mendaftarkan di [[Hyouka Bahasa Indonesia:Halaman Pendaftaran|halaman ini]] bab mana yang akan dikerjakan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Format Standar===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Setiap bab setelah disunting harus mengikuti&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Diskusi/Feedback===&lt;br /&gt;
untuk diskusi/feedback silahkan buka forum [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=29&amp;amp;t=5424| di sini]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Updates ==&lt;br /&gt;
*25 Agustus 2012- Jilid 1 Bab 1 selesai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Serial &#039;&#039;Hyouka (Classics Club)&#039;&#039; （〈古典部〉シリーズ） oleh Honobu Yonezawa==&lt;br /&gt;
===Jilid 1 Hyouka 氷菓 - You can&#039;t escape / The niece of time===&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 1|1 - Surat dari Benares]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 2|2 - Kebangkitan Kembali Klub Klasik yang Tradisionil]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 3|3 - Aktifitas-aktifitas Klub Klasik yang Bergengsi]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 4|4 - Pewaris Klub Klasik yang Penuh Kegiatan]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 5|5 - Segel Rahasia Silsilah Klub Klasik]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 6|6 - Masa Lalu Klub Klasik yang Gemilang]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 7|7 - Kebenaran Sejarah dari Klub Klasik]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 8|8 - Kegiatan Sehari-hari Klub Klasik yang Akan Datang]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Bab 9|9 - Surat  ke Sarajevo]]&lt;br /&gt;
::*[[Hyouka Bahasa Indonesia:Jilid 1 Penutup|Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2 The Credit Roll of the Fool 愚者のエンドロール - Why didn&#039;t she ask EBA?===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 3 The Kudryavka Sequence クドリャフカの順番 - Welcome to KANYA FESTA!===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 4 The Doll that Took a Detour 遠まわりする雛 - Little birds can remember===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 5 The Approximation of the Distance of Two ふたりの距離の概算 - It walks by past===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Staf Proyek==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pengurus:&lt;br /&gt;
*Pengawas:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penerjemah===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[User:spectrum|spectrum]]&lt;br /&gt;
:*[[User:ginthegum|ginthegum]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua penerjemah yang dapat berbahasa Ingris-Indonesia, maupun Jepang-Indonesia dipersilahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penyunting===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*[[user:Tony Yon|Tony Yon]] (minor+proofread)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua penyunting yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dipersilahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Series Overview ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*氷菓 You can&#039;t escape / The niece of time (31 October 2001) ISBN 978-4-04-427101-5&lt;br /&gt;
*愚者のエンドロール Why didn&#039;t she ask EBA? (31 July 2002) ISBN 978-4-04-427102-2&lt;br /&gt;
*クドリャフカの順番 Welcome to KANYA FESTA! (24 May 2008) ISBN 978-4-04-427103-9&lt;br /&gt;
*遠まわりする雛 Little birds can remember (24 July 2010) ISBN 978-4-04-427104-6&lt;br /&gt;
*ふたりの距離の概算 It walks by past (26 June 2010) ISBN 978-4-04-874075-3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Alternative Languages]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Halaman_Pendaftaran&amp;diff=182326</id>
		<title>Hyouka Bahasa Indonesia:Halaman Pendaftaran</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hyouka_Bahasa_Indonesia:Halaman_Pendaftaran&amp;diff=182326"/>
		<updated>2012-08-27T17:11:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ginthegum: /* Jilid 1 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Untuk melengkapi prosedur registrasi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;quot;Pertama Datang, Pertama Dilayani&amp;quot;: silahkan daftarkan bab yang ingin anda terjemahkan (cukup tanda tangani di samping bab yang ingin anda terjemahkan, tentu saja yang belum di ambil penerjemah lain) jika terdapat suatu bab (yang sudah di tanda tangani) lebih dari 3 bulan tidak ada update, silahkan kontak supervisor, mungkin pekerjaan dapat di alih tangankan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah maksimum bab yang boleh anda daftarkan tidak boleh melebihi setengah dari sebuah Jilid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah translator tiap Jilid maksimal 2 (kecuali untuk cerita pendek yang tidak berhubungan antar bab, dengan kata lain, cuma dua orang yang boleh mengerjakan satu &#039;alur cerita&#039;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jumlah maksimal Jilid yang boleh anda kerjakan dalam satu waktu adalah satu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak yang mengikat &amp;quot;Aku harus menyelesaikan yang sudah kudaftarkan&amp;quot;. Pilihan tergantung pada translator dan dapat dinegosiasikan (termasuk yang anda daftarkan sendiri). Akan tetapi sebaiknya jika tidak mampu menyelesaikan/kesulitan sampai bagian tertentu dan merasa tidak sanggup menyelesaikan, harap lepaskan daftar nama anda dari seri tersebut, memberikan kesempatan bagi penerjemah lain yang tertarik untuk mengerjakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;Pendaftaran Serial klub Klasik (Hyouka)&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
* Bab 1 - [[User:spectrum|spectrum]] &#039;&#039;&#039;Selesai&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
* Bab 2 - [[User:ginthegum|ginthegum]] &#039;&#039;&#039;Proses&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
* Bab 3&lt;br /&gt;
* Bab 4&lt;br /&gt;
* Bab 5&lt;br /&gt;
* Bab 6&lt;br /&gt;
* Bab 7&lt;br /&gt;
* Bab 8&lt;br /&gt;
* Bab 9&lt;br /&gt;
* Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Hyouka (Bahasa Indonesia)|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Registration Page]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ginthegum</name></author>
	</entry>
</feed>