<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Ibnu+Psycho</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Ibnu+Psycho"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Ibnu_Psycho"/>
	<updated>2026-04-03T21:12:57Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=534050</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=534050"/>
		<updated>2018-01-27T18:30:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Bagian 5 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berterima kasih kepadanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menyeringai. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu mengerti apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberanian dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534049</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534049"/>
		<updated>2018-01-27T18:26:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Atsushi Kogure */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak ada. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak ada.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tepat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak terkendali. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta bahwa tidak ada satu pun momen damai ini yang nyata membubuhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534046</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534046"/>
		<updated>2018-01-27T17:07:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Atsushi Kogure */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak ada. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak ada.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tepat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak terkendali. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534045</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=534045"/>
		<updated>2018-01-27T17:02:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Atsushi Kogure */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak ada. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak ada.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tepat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=530818</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=530818"/>
		<updated>2017-11-19T12:02:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Bagian 2 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berterima kasih kepadanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menyeringai. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberanian dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525522</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525522"/>
		<updated>2017-08-12T07:44:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menyeringai. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberanian dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525521</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525521"/>
		<updated>2017-08-12T07:24:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menyeringai. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525520</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525520"/>
		<updated>2017-08-12T07:16:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian kesukaanku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesukaanku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525519</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525519"/>
		<updated>2017-08-12T07:04:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksudnya dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525518</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525518"/>
		<updated>2017-08-12T06:57:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525517</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525517"/>
		<updated>2017-08-12T06:47:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya ternyata sangat kelihatan, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525515</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=525515"/>
		<updated>2017-08-12T06:44:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip Konservasi Massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerapkali berbareng meskipun cara-cara mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu di dalam benak, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya sangat jelas terlihat, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=523028</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=523028"/>
		<updated>2017-07-13T16:58:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu yang menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522972</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522972"/>
		<updated>2017-07-12T14:45:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tepat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522971</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522971"/>
		<updated>2017-07-12T14:40:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tepat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522102</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=522102"/>
		<updated>2017-07-02T09:08:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=522084</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=522084"/>
		<updated>2017-07-02T07:58:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, sehingga aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya sehingga dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, sehingga mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, sehingga aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa menjadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=521728</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=521728"/>
		<updated>2017-06-27T01:33:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521124</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521124"/>
		<updated>2017-06-18T11:27:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan gaun itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun gaun putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521123</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521123"/>
		<updated>2017-06-18T11:25:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, gaun putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai gaunku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan gaun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan gaun putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, gaun putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan gaunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah gaun tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521122</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521122"/>
		<updated>2017-06-18T10:42:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku kepadamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521121</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521121"/>
		<updated>2017-06-18T10:38:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang tidak terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521120</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521120"/>
		<updated>2017-06-18T10:30:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dekat energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelidiki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik daripada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, ehh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521115</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=521115"/>
		<updated>2017-06-18T10:06:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dalam energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelediki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik dari pada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, eh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia mengepal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=520654</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=520654"/>
		<updated>2017-06-12T07:08:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dalam energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelediki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik dari pada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, eh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia menekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=518812</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Shizuka_Wakui&amp;diff=518812"/>
		<updated>2017-05-12T16:16:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: Created page with &amp;quot;==Shizuka Wakui==  ==Bagian 1==  Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan kelu...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Shizuka Wakui==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 1==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika membiarkan pengucapan bahasa inggeris yang salah dari guru bahasa inggris kami yang berumur lebih dari 50 tahun masuk kuping kanan keluar kuping kiri selama 3 detik, aku melihat peristilahan dalam kamus Koejien elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip konservasi massa [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu prinsip dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa jumlah massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses didalam sistem tersebut. Ditemukan pada tahun 1774 oleh Antoine Lavoisier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prinsip [kb]&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
# sebuah asas kebenaran, hukum, atau landasan berpikir yang dianggap benar.&lt;br /&gt;
# sebuah kualitas esensial atau dasar atau elemen yang menentukan sifat yang terkandung didalamnya atau karakteristik perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kerja dunia begitu sederhana.&lt;br /&gt;
Terdapat banyak asas dan kualitas esensial, tersebar diseluruh dunia, tapi jika kamu membaginya lebih jauh lagi kedalam bagiannya yang paling penting,  jumlah mutlak dari kualitas yang jelas pun menyusut jadi ke angka yang semuanya itu melainkan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu tahu bahwa banyak hukum dan prinsip-prinsip hanyalah pengulangan tertambah dari prinsip inti yang sudah ada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, kamu pada akhirnya berada di tempat yang sama tak peduli dari sisi manapun kamu mendekati sifat benda. Itulah alasan kenapa ajaran orang-orang yang sudah menguasai suatu cara kerap kali berbareng meskipun jalur mereka berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika kamu mengerti beberapa prinsip inti itu, kamu mulai melihat bagaimana mekanisme dunia bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip inti adalah esensi dari benda. Mengerti mereka dan kamu dapat menggunakan mereka dimanapun kamu ingin dan membentuk baru, hukum yang tak tergoyahkan. Inti menarik semua yang ada disekeliling mereka seperti magnet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak seorang pun lagi yang benar-benar mengetahuinya; mereka semua tumbuh menjadi manusia dangkal, senantiasa hanya melihat di permukaannya dibanding apa yang didasar inti. Mereka membiarkan yang lain mempengaruhi diri-diri mereka sendiri karena mereka memahami hanya dari permukaannya saja. Mereka tidak bisa mengingat sifat benda asli dalam diri mereka sendiri. Orang-orang yang malang. Semua yang dibutuhkan untuk memperoleh inti-inti itu adalah memilih buku yang bagus. Oh, ataukah ada syarat berlaku yang perlu dipenuhi, yang juga aku perbuat? aku lebih mengasihani mereka, kalau begitu. Mereka seperti karakter manga yang saling bertarung, tak sadar apa yang mereka lakukan. Walaupun mereka bertarung tak jelas juntrungannya melainkan kebutuhan penulis. Meskipun konflik mereka hanya figmen, dan keberadaan mereka hanya untuk tujuan bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, salah satu kebenaran itu dikatakan dengan nama “konversi massa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebalikan dengan namanya, itu tidak terbatas untuk massa; jumlah dari segalanya menuju ke angka tertentu yang tidak menaik tidak pula menurun. Semuanya konstan, baik massa, energy, gairah seks, jumlah jiwa – Sebutlah begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran telah berakhir ketika aku terserap dalam pemikiran, memandang ke kamus elektronikku. Kelas akhirnya selesai. Aku punya hal yang lebih baik daripada melakukan ini. tapi aku tak bisa menyimpang dari sikap normalku dan membolos sekolah. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengetahui apa yang aku perbuat; jika aku kelihatan mencurigakan, kemungkinan besar seseorang akan menyadari itu. Sebelum orang lain, khususnya –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh, selesai juga hari ini! Shizuka, mau pergi bareng ke suatu tempat hari ini?”&lt;br /&gt;
Sebelum orang lain, cowok supel itu, Kazuaki, mungkin menyadari. Karena kita menghabiskan waktu sangat lama bersama dari kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan pulang,” aku menjawab ke kursi samping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah…kaku banget,” teman masa kecilku berkata sambil mengkisutkan bibir. Issh…dia tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya sesuatu yang harus diurus, kamu ‘ngerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu selalu ngomong begitu akhir-akhir ini… kamu tak mencoba menghindariku, ‘kan?” Kazuaki bertanya sambil mengerutkan dahinya. Ya ampun, dia benar-benar tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh iya…,” dia bergumam sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu kenapa tidak pulang bareng duo C2 saja kalau kamu merasa kesepian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa antara aku dan –“ dia menyangkal dengan muka sedikit memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senpai~!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hozumi-chan…jangan berisik, malu tau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sanggahannya terpotong dari jauh oleh suara dua orang cewek. Dengan kehadiran dua cewek berwajah lugu, aku melambaikan tanganku ke Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan melihatku seperti itu; aku tidak meninggalkanmu karena aku ingin. Setelah aku membereskan hal ini, aku akan pergi bersama kapanpun kamu mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu harus menunggu, oke?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli oleh lambaian para siswa yang berjalan pulang, aku melihat sekeliling dalam angan-angan.&lt;br /&gt;
Dunia sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu berlebihan. Tapi setidaknya, bahaya sedang mendekat dan membesar di sekitar sini. Aku berharap aku salah (yang mana sudah jelas, tentu saja, tapi aku ingin menjadi salah) tapi dengan berita tentang 3 siswa di SMA Shikura yang melakukan bunuh diri, kekhawatiranku terbukti benar.&lt;br /&gt;
Kita benar-benar dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disinilah kita kembali pada hal yang berhubungan dengan prinsip inti dan konservasi massa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu aku sepenuhnya seorang cewek biasa; aku barangkali telah mencapai masa pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah banyak menerima pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada cewek lain, tapi terlepas dari hal itu, aku dulu benar-benar seorang cewek normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang memakai kata lampau disini karena aku merasa kalau ini tak lagi benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah kebenaran (inti). Dengan mulai mengetahui ini, aku mengetahui bagaimana aku seharusnya melihat sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak butuh waktu lama untukku mendapat jawaban pada suatu pertanyaan tertentu. kita semua memiliki perasaan. Gembira, marah, sedih, senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, mari kita menerapkan hukum konservasi massa pada keadaan ini. emosi adalah energi, yang, terutama dalam keadaan cinta dan kebencian, menyimpan panas yang ekstrem. Kita menggunakan energi emosional dengan mengubahnya kedalam energi yang menjaga kita tetap bergerak. Namun, tidak semua dari perasaan kita selalu dikonversi dan digunakan. Terus kemana perginya energi saat kita tak mampu menekan perasaan kita? Terlebih lagi, kemana perginya energi itu ketika kita mati – yang harusnya berjumlah besar saat dihadapkan dengan kematian brutal – ketika tak mungkin digunakan? Kemana energi itu hilang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pertanyaan itu didalam pikiran, aku mulai memperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama, aku menemukan jawabannya: energi tersebut tidak menghilang sama sekali. Jawabannya tepat dibawah hidungku, &amp;lt;u&amp;gt;berada di sisi lain&amp;lt;/u&amp;gt;. Perasaan yang kuat, misalnya, yang sering kebetulan perasaan dendam, timbul di sisi kita dari waktu ke waktu. Itu sangat mudah diamati saat kamu menjernihkan dirimu dan memunculkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat, ada satu. Ada akumulasi dari energi emosional yang terkonversi. Dalam kebanyakan kasus, akumulasi itu berbentuk seperti sesosok manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-omong, kembali ke bahaya dunia yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyadari energi humanoid (berbentuk manusia) itu. Aku mengamati perubahan aneh akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya, energi-energi humanoid itu tak mampu bergerak sendiri. Dan sangat tidak berbahaya untuk orang-orang yang tidak memperhatikan mereka; mereka hanya akan berdiam di satu tempat dan menyebarkan jaring mereka untuk mempengaruhi apapun yang terjerat oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, belakangan ini, mereka merubah perilaku dan mulai bercahaya seperti fatamorgana. Seakan-akan takut sesuatu atau dalam kegembiraan yang luar biasa? Aku tak tahu. Yang aku tahu, entah bagaimana, kalau itu tidak normal dan itu adalah pertanda sesuatu akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat energi humanoid itu, bagaimana itu akan berakibat pada kita, apa yang akan terjadi, tapi terdapat satu fakta :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga siswa mati di SMA Shikura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu tak penting. Memang, sangat menyedihkan mereka telah meregang nyawa, akan tetapi ancaman yang besar mungkin menunggu kita, bahkan kehilangan seperti itu tidaklah berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang telah mati. Bagaimana jika... Bagaimana jika itu adalah sebuah pertanda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya, bicara secara hipotesis, fenomena itu terjadi secara keadaan alami, aku mungkin akan menyerah dan membiarkan hal itu merenggut mereka. Disamping itu, kita tinggal berlindung dan menunggu ancamannya lewat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun - bagaimana jika ada seseorang yang menarik tali dibalik layar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukannya aku memperselisihkan masalah itu dengan etis, tidak. Bagaimana jika kita tidak sedang berhadapan dengan fenomena acak tetapi salah satu yang dengan bebas timbul karena seseorang? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu menggunakan kekuatan itu kapanpun dia mau? Bagaimana jika ada seseorang yang mampu mengontrol semua energi humanoid itu yang mungkin menyebar di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang menakutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, jika seandainya kekhawatiranku terbukti benar dan itu memang insiden buatan manusia. &amp;lt;u&amp;gt;Maka dia bisa mengancam kehidupan semua orang didunia.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang berencana menghancurkan kita semua; seseorang seperti iblis berada diantara kita; aku harus mencari orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu aku sudah mengamati lebih dalam energi-energi Humanoid disekelilingku sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Volcano naik ke lantai 2 minus hitam untuk memakan makanan pemanasan dan terjatuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku ingin makan daging keberuntungan yang membuat mati 10 kali tapi menghidupkan kembali 100 kali}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku lempar sebuah penerima telepon ke dalam kantong 4 dimensi karena tong sampah sudah penuh}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Petualangan tiada tara Hutch si lebah madu adalah kehidupan yang berharga}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi berkerlap-kerlip, energi tersebut mengeluarkan signal pada gelombang berbeda yang, selama tidak terkonversi ke bahasaku, membuat tak masuk akal sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku bisa mendengar perbedaan kekuatan bunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, suara mereka (?) Lebih nyaring dan kerlipan mereka semakin kuat.&lt;br /&gt;
Mungkin aku semakin mendekati si penjahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir kali, perilaku abnormal mereka berhenti ketika aku sedang menyelediki. Tapi aku tak mendapat firasat itu akan terjadi lagi. Aku mungkin mampu menemukan dia dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Si pesulap tak kasat mata yang dapat dengan mudah mematikan tiga nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Itu benar... Aku hendak bertemu dengan lawan yang mengerikan. &lt;br /&gt;
Baru saja menyadari fakta ini, kakiku terbenam kedalam semen dan langkahku semakin melambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu... Bagaimana aku tahu kalau korban - korbannya hanya berjumlah tiga orang? Satu-satunya alasan kenapa aku menghubungkan kematian mereka dengan anomali yang terjadi pada energi humanoid karena mereka semua bunuh diri dan terjadi beruntun di sekolahku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan dengan anomali yang aku amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kamu pun bisa bilang kalau mungkin ada banyak korban tak ditemukan yang tidak bisa aku kaitkan dengan ancaman ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir, angka kematian menaik akhir-akhir ini. Hei, bagaimana jika sebagiannya itu disebabkan oleh kriminal yang hendak aku jumpai? Itu memungkinkan; bukan hanya membunuh seseorang dengan energi humanoid tidak akan meninggalkan bukti, itu tidak akan diperhatikan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan aku perbuat, bertemu dengan seseorang seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul, aku dapat mempersepsikan energi-energi humanoid. Tapi hanya itu. Juga, aku cuma seorang gadis biasa yang mungkin telah mencapai pubertas lebih dulu dari orang lain, dan sudah menerima banyak pengakuan, dan terutama jalan bareng dengan Kazuaki daripada gadis lain. Mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana seorang gadis sepertiku hendak melawan kriminal kejam seperti itu? Membujuknya? Dapatkah perkataan ku membujuknya? Apakah dia membiarkan hidup orang yang mengetahui rahasianya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki ku berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika dia menyentuhkan tangannya yang mematikan ke Kazuaki...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakiku yang terkubur terangkat dari semen dan aku mulai melangkah maju kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ketakutan... Sungguh, tapi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Cincin jagung dengan pelangi bersinar di latar belakangnya}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Setelah mandi di Nattou, mobil perjalanan Watanabe -san menembus melewati waktu saat terbang melalui udara}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seorang pelayan wanita klub-berkuasa membawa sayatan-sayatan daging Nagatacho bergoyang-goyang}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya menjadi semakin nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya sama sekali tidak jelas seperti sebelumnya, tapi berat kata-katanya telah berubah. Dengan ketegangan berderak mereka menggema dalam tubuhku, menusuk-nusuk otakku seperti gerakan pensil mekanik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam?  Aku berpikir sambil memperhatikan inti dari energi humanoid. Suatu tipe energi yang biasanya hanya akan berpindah kepada orang yang terjerat oleh jaring mereka mengalir padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa mual. Seperti hari terburuk ku saat menstruasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin mundur sekarang juga, tapi itu tak boleh. Ada seseorang yang aku harus temui. Aku harus bertemu dengan dia (perempuan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...Huh? &amp;lt;u&amp;gt;Dia (perempuan)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tahu jenis kelaminnya ?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha dan berjalan sempoyongan ke taman di depanku. Kecuali beberapa anak-anak dengan orang tuanya dekat arena pasir, tak ada seorangpun selain diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tak ada seorangpun.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dihadapan bangku tua, lapuk terbuat dari kayu. Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Lagian aku tidak tahu apakah benda itu memiliki kemampuan berbahasa. Namun, aku tidak bisa hanya berdiri disini, jadi aku mencoba berbicara kepada benda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hei, apa yang sedang kamu lakukan disini ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Dia&amp;lt;/i&amp;gt; mengangkat kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ah -&amp;quot; aku merintih kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuknya benar-benar begitu sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi yang lebih mengejutkanku adalah fakta bahwa aku -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Reina... Kamisu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tahu nama fenomena itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 2==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, aku pikir aku akan membatalkan sesi pertemuan kita.&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dokter Mihara menatapku, sedikit keheranan, dan bertanya &amp;quot;Kenapa ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku cuma datang kesini karena membutuhkan bantuan saat itu, bukan begitu?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku anggukan kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Jadi kamu tidak memerlukan bantuan lagi ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, aku tidak perlu. Depresi rasa tak tenang yang dulu telah menghilang, dan begitu pula keenggananku untuk berbicara kepada orang lain,&amp;quot; aku menjelaskan dan menambahkan hal yang aku alami tempo hari saat menunggu disini, &amp;quot;Dan aku tidak buru-buru keluar ruangan ini sambil berteriak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kerutan kelihatan di kening dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Siapa,&amp;quot; dia berbicara setelah jeda sebentar &amp;quot;Yang kamu bicarakan ?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku sedang membicarakan cowok yang sering datang kesini sebelum aku. Kalau aku ingat dengan benar, Dia mengenakan seragam dari sekolah kami. Dia menabrak ku waktu itu, bukankah begitu? Siapa tuh ya namanya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;...Aku rasa aku tidak bisa berbicara denganmu tentang klienku yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bahkan namanya saja? Terserahlah. Kalau dipikir, aku belum melihatnya belakangan ini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya menggelap dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dia tidak akan... Datang kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Begitukah...?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Iya,&amp;quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu mereka menghentikan pengobatan mentalnya dalam keadaan seperti itu; apa sesuatu telah terjadi? Melihat bagaimana dia lari berteriak, pasti ada alasan kenapa dia tidak ingin datang kesini lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku mempunyai firasat aneh tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, cowok itu adalah siswa SMA Shikura. Mengingat bahwa dia berada dalam pengobatan mental, itu lebih dari mungkin dia mempunyai alasan untuk bunuh diri, maka mungkin dia diantara ketiga korban bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menilai dari sikap dingin dokter Mihara, dia pasti tahu kebenarannya. Aku menahan diri kembali bertanya, bagaimanapun, karena kepribadiannya tak akan mengizinkannya menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Singkatnya, kamu bilang kamu mau membatalkan sesi pertemuan kita?&amp;quot; Dia berujar, kembali ke topik, &amp;quot;Menurutku, terlalu dini untuk itu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tahu, dokter. Kalau lukaku belum sembuh; aku juga bukan aku yang dulu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bukan itu masalahnya,&amp;quot; dia membantah. &amp;quot;Luka ini akan mengiringimu menjalani seluruh hidupmu, dan Kamu tidak bisa lagi kembali ke dirimu sebelumnya yang tak menderita luka..&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Terus dimana masalahnya?&amp;quot; Aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak sepenuhnya percaya kalau kamu benar-benar sembuh dari goncangan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kalau memang seperti itu, tidak juga aku harus terus datang kesini sepanjang hidupku, ya kan?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter berjeda untuk beberapa saat. &amp;quot;Tetap saja... Tetap saja itu terlalu dini.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit berang; apakah dia menganggap kalau aku aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memprotes:&lt;br /&gt;
&amp;quot;Dokter, mari kita saling terus terang. Kami bukan keluarga kaya. Tagihan untuk terapi psikologi ini menguras cukup dalam uang kami!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;......&amp;quot; Dia terdiam selagi aku menyebut kondisi keuanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Mungkin kamu benar aku belum sepenuhnya sembuh dari goncangan, tapi aku percaya diri bahwa dengan bantuan dari keluargaku dan beberapa teman yang aku punya-seperti Kazuaki-aku akan mampu menjadi lebih baik.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Aku tidak setuju. Bagaimanapun, aku merasa kamu masih membutuhkan seorang ahli sepertiku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; Aku bertanya, agak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;... Baiklah, biarkan aku menjelaskan kekhawatiranku: aku merasa kalau kamu mempunyai kecenderungan ber-delusi.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kecenderungan delusi?” aku bertanya menanggapi kata-katanya yang tak terduga. Aku kesulitan melihat apa yang dia singgung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku tidak tahu seberapa berkembangnya kecenderungan itu saat kamu pertama kali datang kesini karena kamu tidak membuka dirimu kepada orang lain… tapi aku pikir kalau kecenderungan delusi itu semakin menguat saat kamu memperoleh kembali vitalitasmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah? Maksudmu aku membuang akal sehatku untuk berusaha menerimanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa memastikan. Aku menduga, entah bagaimana, bahwa untuk melindungi dirimu dari luka dalam yang kamu derita, kamu terpaksa untuk merubah berbagai hal yang bila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih, termasuk rasa menilai sesuatu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau aku masih menutup diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak sepenuhnya setuju dengan nuansa itu… tapi bisa di bilang begitu. Seperti yang aku bilang, bukan hal buruk untuk berubah. Masalahnya adalah arah perubahanmu. Tentu saja, aku pikir itu lebih baik dari pada tetap terluka, tapi aku tidak menganggap itu sebuah solusi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah perlahan mencerna kata-katanya, aku memprotes:&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih &amp;lt;i&amp;gt;aneh&amp;lt;/i&amp;gt;, hah? Itu tidak benar! Aku sudah &amp;lt;i&amp;gt;normal&amp;lt;/i&amp;gt; kembali!” aku berteriak, membangkitkan amarah yang mengalir. “Cukup! Aku Muak dan lelah! Ini terakhir kalinya kamu melihatku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama perkataan ini, aku berdiri dan berpaling darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wakui-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan perkataan yang dia ucapkan padaku, aku meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada jalan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daguku berada dimeja, aku dengan antusias menunggu bel berbunyi. Karena lambatnya gerakan jarum jam, aku berpikir kembali saat di sesi terapi kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir aku terlalu histeris. Aku minta maaf untuk dokter Mihara. Dia hanya mengatakan pendapat jujurnya, tidak lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Begitu perkataannya&amp;lt;/i&amp;gt;, aku bilang pada diriku sambil aku mengingat kembali kata-katanya kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdelusi? Aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengakui, pendapat tetapku tentang keberadaan energi-energi humanoid barangkali kelihatan delusi dari sudut pandang akal-sehat-yang terpengaruh sesuatu. Namun, aku telah secara seksama menjabarkan dasar logika untuk teori ini; aku benar. Apapun, aku sudah satu langkah didepan orang yang sepantar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi pula, Tak apa begini: aku belum memberitahu dokter tentang energi-energi humanoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pasien; seorang yang sakit mental. Karena aku sadar akibat yang ditanggung, aku sengaja menyimpan darinya jadi dia tidak akan salah paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti kalau… dia memandang aku ber-delusi kendati tanpa bercerita tentang energi-energi humanoid tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
… Omong kosong. Aku normal. Tak peduli anggota badan manapun yang kamu lihat, aku terlihat sangat normal dan jauh-dari-tersiksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, tapi! Kamu memperlakukan ku seperti seorang yang sakit mental!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kesal, aku tendang Kazuaki yang duduk disebelah ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auw!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blo’on! Kenapa kamu menjerit…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, seluruh mata di kelas-termasuk guru-melihat ke Kazuaki. Berpura-pura tak tahu, aku melihat ke buku catatanku dan mulai menulis huruf sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk apa itu…?!” keluhnya lirih, cemberut padaku penuh malu, setelah perhatian semua orang kembali ke pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada alasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tipe orang yang tidak perlu alasan untuk memukul seseorang, hah? Shizu-chan… Hiks, hiks.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Hiks, hiks’, eh? Siapa yang cewek sih diantara kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, bel berbunyi dan mengakhiri percakapan lirih kami. Seperti rutinitas, kita berdiri, membungkuk ke guru, dan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, guru kelas kami memasuki ruang kelas dan mengakhiri homeroom dengan omong kosong. Urusanku di sekolah sudah selesai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah aku berdiri dan bilang, “Dadah,” Kazuaki mendekati ku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, Ingin pulang bareng?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taman itu terletak di arah berlawanan dari stasiun kereta yang kami gunakan saat pulang kerumah.&lt;br /&gt;
Terlihat patah semangat, Kazuaki bergumam,”…Ah Hah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…lagi-lagi, Kazuaki, aku sungguh tidak menghindarimu,” aku memastikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“lantas jangan memerengut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi pertemuan itu lebih penting dari ku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, aku kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…itu benar, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aah, erm, tak apa, tak apa. maaf menggerutu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, dia sedikit menggerutu. Tetap saja, aku berkata apa yang harus aku katakan:&lt;br /&gt;
“…Maaf kalau aku tak bisa jalan bareng denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup untuk menampilkan senyuman di wajahnya. Ya ampun, dia orang yang polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ketemu, Kazuaki,” aku berujar selagi aku melambaikan lambaian padanya. Dia balik melambai, tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menuruni lorong. Aku menuju kearah loker sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkahku perlahan-lahan meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin kesana, dengan cepat, dan melihat dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku berharap melihatnya? Hmm? Setidaknya, terasa berbeda dari pergi berbelanja barang obral murah yang sudah lama ditunggu. kalau aku harus mengungkapkan perasaanku sekarang ini… mungkin seperti pergi untuk pertama kalinya ke tempat pacarmu? sekalipun kamu hanya merasakan perasaan negatif seperti gugup, takut dan malu, kamu tidak merasa buruk sedikitpun. Seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um-“ namun sebuah suara tiba-tiba menggangguku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendongak untuk memastikan suara siapa itu dan mengenali salah satu dari duo C2, Hozumi Shiiki, menuruni tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau tidak salah Hozumi-chan dari C2,” aku menanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apaan tuh ‘C2’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama grup cewek mu. Ah sudahlah, lupakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong,” aku meneruskan, “Ada perlu apa? aku sedang buru-buru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, em…aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tentang Toyoshina-Senpai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki Toyoshina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup terlihat jelas dari sikap biasanya, Hozumi-chan-gadis yang pendek tapi montok (D cup, aku bertaruh!) jatuh hati pada Kazuaki. Seperti, Tergila-gila padanya. Kamu tak akan percaya kalau seorang cewek kalem kayak dia akan sangat agresif ketika menyangkut Kazuaki. Meskipun hanya ketika di dukung oleh orang lain di duo C2, Yoshino Mitsui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm, masalah ini cukup menarik untuk menghabiskan beberapa menit. Lagian aku belum mengatur waktu pertemuanku dengan dia. Aku tak yakin apakah konsep waktu ada untuk dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, ayo kita berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih,” dia membalas. “Kita cari tempat yang lebih bagus untuk berbincang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, bagaimana kalau kantin?”&lt;br /&gt;
Hozumi-can mengangguk dan mengikutiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menunggunya mulai bicara, aku meneguk dari gelas kertas dan menikmati rasa dari jus jeruk.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan belum berbicara satu kata pun sedari dia duduk meski dia yang memintaku kesini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm… Haruskah aku mengharapkan obrolan yang agak serius disini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir dia tahu aku telah menyadari perasaannya pada Kazuaki, dan aku pikir dia juga tahu kalau aku tak bisa membantunya pada masalah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin kalau dia berencana membicarakan tentang hal itu, tapi mungkinkah aku salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mulai memandangnya lebih dekat, Hozumi-chan menurunkan pandangannya tersipu malu. Dia tidak sampai se-agresif seperti biasanya apakah karena Yoshino-chan tidak bersamanya? Ataukah dia agresif hanya untuk mencari perhatian Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Emm…” dia akhirnya berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu, Wakui-san dan Toyoshina-senpai hanya teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menduga pertanyaan seperti itu, aku tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh ya ampun, kamu kan bisa bertanya ke Kazuaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ah, ya, dia lebih mudah di dekati dibanding aku, bukan? Apa yang dia bilang? Ah , tidak, tidak usah. Aku tahu. Tapi aku mengerti… jadi kamu menyadari bahwa kami mungkin saja memberi jawaban yang berbeda padamu dari pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlepas apa masalahnya, apakah kita terlihat sekedar teman masa kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan berpikir sejenak, “Tidak, kamu tidak…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggangguk menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar. Teman masa kecil semata tidak akan memilih SMA yang sama hanya untuk tetap bersama, tidak juga akan memohon kepada gurunya untuk menempatkan mereka bersebelahan satu sama lain, tidak pula sangat senang saat saling memainkan rambut satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dan siapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sangat ingin tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan memalingkan matanya ke bawah dan terdiam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali meneguk jus jeruk ku, sengaja meminumnya pelan-pelan karena aku tidak tahu berapa lama dia akan terus terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku menaruh gelas kertas yang kosong ke meja dia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bagaimana aku harus bersikap?” Hozumi-chan berbisik patah semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya yang bagaimana? Apa kamu menahan diri untuk dia…? tidak, kamu sudah menyadari dari awal. Kamu menahan diri karena aku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat ragu, dia akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah pikirkan aku,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkaget, Hozumi-chan mendongak padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan wajah itu? Tidak menyangka aku berkata begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tapi… kalian saling mencintai tak peduli bagaimana kamu melihatnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tak peduli bagaimana kamu melihatnya&amp;lt;/u&amp;gt;? Juga saat kamu melihat kami?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak yakin? Meskipun kita sedang membicarakan tentang cowok yang selalu kamu pikirkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” dia menjawab dengan jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Itu berarti bahwa kamu, Hozumi-chan, mempunyai pemikiran yang berbeda dibanding pemikiran orang lain yang melihat kita sebagai sepasang kekasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu pemikiran Kazuaki tentang hal ini, tapi menurutku aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan kami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam sebentar untuk berpikir tentang alasan kenapa aku mengatakannya seperti itu. Akhirnya, dia menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu berarti kalau aku tidak harus menahan diriku demi kamu?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjeda sebentar, aku menjawab, “Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus…” dia berucap dengan senyuman yang jelas, yang dia coba sembunyikan, “Aku selalu merasa tak nyaman padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu kalau kamu merasa seperti itu,” aku mengakui sambil aku memegang gelas kosong didepan bibirku, “Tapi jangan membenciku untuk hal itu. Aku tak bisa kan hanya bilang ke kamu ‘tuk mengabaikan aku dan menggodanya sepuas-puasnya, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya,” Hozumi-chan berkata, wajahnya terlihat-suram kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, oke?... sebenarnya, aku lebih suka Kazuaki menemukan orang lain ketimbang aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia terlihat kaget oleh fakta itu. Ya ampun…Akankah wajahnya diam sebentar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu apakah akan datang waktu dimana aku bisa menjawab perasaannya padaku. Mungkin tidak, dan aku akan selalu membuatnya menunggu. Oleh karena itu, aku berpikir demi dia aku meninggalkannya untuk cewek seperti kamu, Hozumi-chan,” aku menjelaskan dan dia mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menaruh dan mengambil gelas tanpa alasan yang jelas, aku melanjutkan, “Dia mestinya tahu kalau aku bukan satu-satunya cewek yang ada. Karena dia… senantiasa memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan terdiam, wajahnya murung. Setelah beberapa saat, dia mendongak dan menatap dalam di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan… menahan lagi!” dia berkata dengan suara tegas namun tetap tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit goyah oleh tatapan tegasnya, aku memalingkan mataku sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku baru saja memberitahumu kalau itu tak apa, bukan?”&lt;br /&gt;
Aku menjawab-dengan suara lebih pelan dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih terpaku pada wajahku, dia mengangguk,”…Aku mengerti.” Dia mengeluarkan desahan kecil. “Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya, sampai jumpa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hozumi-chan mengambil tasnya, dan setelah membungkuk, pergi tanpa menoleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil aku memandang gelas kertasku yang kosong, aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…&amp;lt;i&amp;gt;Hei Shizuka, Apa kamu serius&amp;lt;/i&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya? Aku memikirkan diriku. Aku pikir begitu...tapi entah bagaimana aku tidak sepenuhnya nyaman dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku merasa seperti aku sedang berusaha meyakini diriku apel yang terpetik memang yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap bangku di depan ku yang masih keluar dari meja.&lt;br /&gt;
Hozumi-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek yang baik. Tidak ada keraguan tentang itu. Bahkan aku harus mengakui kalau dia cantik. Setiap cowok normal akan terpikat seketika olehnya kalau dia mau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus memangnya kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cewek baik, terus kenapa? Dia cantik, terus kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu membuatnya cocok untuk Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membayangkan bukan aku melainkan dia yang berdiri disamping Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu… ada sesuatu yang aku syukuri darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup berterima kasih padanya aku bisa tetap tenang seperti ini-karena dia tidak menjajaki kedalam perasaanku yang sesungguhnya terhadap Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sensasi kesemutan menjalar di kepalaku seperti kerumunan semut. Aku merasa mual padahal perutku sangat baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku –&lt;br /&gt;
-meremukkan gelas kertas di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan Hozumi-chan mempengaruhiku, serius, tapi tidak alasan untuk merubah rencanaku; aku menuju kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu kapan dan dimana dia menunggu, tapi aku tahu kalau dia &amp;lt;b&amp;gt;disana&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid berkerlap-kerlip kembali, nekat mencoba merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tak bisa dimaafkan, tak bisa dimaafkan. Website baru mu tak bisa dimaafkan.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, giant melawan Yakult}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tahu rahasiamu! Kamu melepas celanamu saat pergi ke toilet!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertambah lebih berbahaya – perkataan mereka mulai masuk akal di diriku. Aku perlahan mulai melihat perasaan asli dari pesan-pesan tersembunyi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu rasa sakit kesemutan menjalar di tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku secara alami menyadari bahwa berbahaya memahami bahasa &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;. Memahami mereka sama saja mampu berkomunikasi dengan mereka, dan saat berkomunikasi dengan mereka perlu membuka diriku kepada mereka untuk lamanya waktu percakapan. &amp;lt;i&amp;gt;Mereka&amp;lt;/i&amp;gt; tidak akan melepaskan kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; seperti aku akan menolak orang yang menyebarkan tisu gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya perlu menghindari kontak dengan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt;, cuma itu. Aku cuma perlu menolak fakta kalau mereka tidak lagi berbentuk  kasar seperti manusia lagi, melainkan siluet manusia sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan &amp;lt;i&amp;gt;mereka&amp;lt;/i&amp;gt; dengan sekuat tenaga, aku sampai di taman yang sama waktu itu. Dia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang pertama aku tanyakan kepadanya, yang cantiknya tak terjangkau akal, adalah:&lt;br /&gt;
“Hei, apa karena kamu aku sekarang bisa melihat bentuk energi-energi humanoid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kamu’”, katanya tidak menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, dia tidak menanggapi ku, tapi mengulang kata yang biasa aku pergunakan untuk menyebutnya.&lt;br /&gt;
“Panggil aku Reina. Sebagai balasannya, aku pun akan memanggilmu Shizuka. Oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak keberatan…” aku menjawab dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Shizuka, apa kamu mempertimbangkan tawaranku?”&lt;br /&gt;
Hah, pertanyaan ku diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Tawaranmu&amp;lt;/i&amp;gt;, hah...Tidakkah kamu pikir itu terlalu sepihak? Kamu mengatakan apa yang ingin kamu katakan dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Lagian, aku tak mengerti apa yang kamu maksud dengan, “Apakah kamu ingin ikut dengan ku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Serius,” jawabku sambil menghela nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekalipun kamu mempunyai semacam kemampuan?” dia bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku menduga kita memperoleh kemampuan dengan jalan yang berbeda. Saat kamu mendaki gunung dari jalan yang berbeda, kamu tetap sampai di tempat yang sama, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina berjeda sebentar dan akhirnya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, itulah kenapa kamu memanggil mereka ‘energi humanoid.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. sebab ada nama yang lebih mudah dan lebih mengena, bukan? ‘Roh’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akui kalau aku pun memikirkan nama itu saat pertama kali mengenali bentuk mereka. Namun, ada diskrepansi &amp;lt;u&amp;gt;(ketidak cocokan)&amp;lt;/u&amp;gt; antara pendefinisian ku tentang kata ‘roh’ dan bagaimana aku mendefinisikan ‘energi humanoid,’ meskipun itu mungkin karena akal sehatku yang mengekangku. Aku tidak bisa memberi nama fenomena ini dengan nama membosankan seperti ‘Roh’. Sekarangpun, jujur saja, mereka akan tetap jadi energi humanoid untukku. Apa kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi kamu mesti ingat kalau mereka bukan &amp;lt;i&amp;gt;energi humanoid&amp;lt;/i&amp;gt; untuk orang lain. Tentu saja, Roh adalah jawaban untuk sejumlah orang juga.” Dia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Maaf, aku kebingungan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, istilah ‘energi humanoid’ mungkin caramu sendiri menyebut mereka, tapi &amp;lt;u&amp;gt;dengan menamai mereka seperti itu, mereka mengambil peran menjadi energi-energi humanoid.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kayak sebuah jeruk menjadi sebuah jeruk dengan kesadaran kita akan nama tersebut…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, itu agak ribet, aku pikir, kamu mestinya mengambil contoh yang mudah dijelaskan. Seperti… Tuhan, apakah kamu percaya Tuhan, Shizuka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, Aku kira tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, itu berarti bahwa kamu mungkin berterima kasih pada keberuntunganmu sendiri saat kamu beruntung, benar? Tapi saat kita menciptakan istilah ‘Tuhan’, kamu akan berterima kasih bukan pada keberuntunganmu, tapi Tuhan yang mengawasimu – dan itu suatu pesan yang sepenuhnya berbeda, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, aku pikir aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, tapi itu bukan contoh yang bagus. Yang bagus misalnya, ‘udara’ hanya bisa eksis sebagai ‘udara’ jika kamu tahu namanya. Itu maksudmu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, kita tidak bisa &amp;lt;u&amp;gt;melihat&amp;lt;/u&amp;gt; udara kecuali bila kita telah mendengarnya, sebab itu tidak dapat dilihat dan juga tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku terkesan, Shizuka. Kamu cepat tangkap!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahan dulu pujiannya. Ngomong-omong, bolehkah aku menanyakan beberapa pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, kalau aku bisa menjawabnya,” katanya, menerima permintaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus, dimulai dari – “ aku mengajukan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan, “- Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatan tak mampu menangkap maksud pertanyaanku, Reina memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu bertanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bukan manusia, tapi kamu bukan juga suatu energi humanoid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu sudah tahu namaku, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Reina Kamisu.” Sambil aku menyebut namanya, &amp;lt;u&amp;gt;aku mengerti apa yang dia maksudkan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yap, aku Reina Kamisu. &amp;lt;u&amp;gt;Itu dan bukan yang lain.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku sudah &amp;lt;u&amp;gt;menamai inti dari fenomena ‘Reina Kamisu.’&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Baiklah, aku tidak akan lagi menanyakan itu. Tapi… kenapa kamu berhubungan denganku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sisimu. Kamu penggagas hubungan kita, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Benar. Lalu kenapa kamu membuat penawaran itu untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kamu memiliki kekuatan, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memiliki kemampuan untuk merasakan ‘energi humanoid,’ meminjam penamaan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu itu. Apa yang aku tidak ketahui adalah kekuatan seperti apa dari kemampuan menerjemahkan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina tetap terdiam sebentar, berpikir, hingga dia menjawabku dengan sebuah senyuman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah kekuatan untuk menyelamatkan dunia.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, mataku melebar. Padahal, kecurigaan dasarku adalah bahwa keberadaan Reina menimbulkan ancaman bagi kedamaian, dan itulah kenapa aku berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku harus mempercayai perkataannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Maka apa yang kamu lakukan – menggerakkan energi humanoid – adalah bagian dari menyelamatkan dunia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu! Aku tahu bahwa perbuatanmu menghasilkan beberapa korban jiwa!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;&#039;Beberapa’&amp;lt;/u&amp;gt;,” dia tersenyum. “&amp;lt;u&amp;gt;Apakah menyelamatkan beberapa orang sepadan dengan menyelamatkan dunia?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Itu berarti maksudmu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu mungkin mengetahuinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Reina &amp;lt;u&amp;gt;telah mengorbankan beberapa orang untuk menyelamatkan orang lain?&amp;lt;/u&amp;gt;seperti rakyat dalam peperangan yang dimulai hanya untuk menangkap diktator tunggal? Seperti seekor gajah diantara kawanan hewan yang lapar dibunuh oleh yang lain untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi melawan kekalutan yang meningkat, Reina tersenyum kepadaku dan melanjutkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu semuanya, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan dia selanjutnya menambah kekalutan dalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Kamu memperoleh kemampuan itu setelah &amp;lt;i&amp;gt;insiden itu&amp;lt;/i&amp;gt;, bukan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 3==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengenakan pakaian favoritku, dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung jumbai-jumbai dressku melayang di udara selagi aku berputar-putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa aku tidak cantik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk siapa aku mengenakan dress ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu, tentu saja, dan untuk ku, untuk perasaanku padamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin menjadi cantik untukmu, selalu yang paling cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi suatu hari nanti aku akan melepaskan dress putih ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kamu yang akan menelanjangiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Atau begitulah aku berharap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan dress itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena favoritku, dress putih penuh dengan noda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap aku masih mengenakan dressnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih mengenakan sebuah dress tak-putih kepadamu untuk ditelanjangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga akhirnya sudah sangat terlambat untuk kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 4==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial!… ini tidak berfungsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Selada’ yang aku tabur kemarin tidak berfungsi. Seperti Reina bilang… jika aku tidak berubah, kekuatanku akan tetap terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar mendapatkan kekuatan sebenarnya, aku harus melompati dunia ini dan melampaui batas kewajaran semua eksistensi dan melewati beberapa delta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istirahat, ruang kelas. Bangku, bangku, meja, energi humanoid yang bergelaparan, kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuki, berbicara denganku sebentar?”&lt;br /&gt;
Ucapku ke Kazuaki yang sedang berbicara dengan Kiichi-kun, temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm? Ada masalah apa, Shizuka?”&lt;br /&gt;
Kiichi-kun dengan sopan meninggalkan kita berdua. Mm, maaf tapi terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ok, dengar baik-baik. Dunia akan meledak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti kataku, dunia penuh sesak. Ada sebuah level kritis dalam setiap sistem, bukan? Kamu mengerti itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya… hei, em, aku sudah bilang ini pada istirahat sebelumnya, tapi kamu tidak terlihat baik hari ini, Shizuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak masalah. Lupakan aku untuk saat ini. Cukup dengarkan,” aku mendesaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu masalah, tapi baiklah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Energi humanoid …tidak, aku membenci melakukan ini, tapi mari kita sebut mereka ‘roh’ karena lebih mudah. Seperti yang kamu tahu, Kazuaki, ada benda tak terhitung yang tidak bisa dilihat oleh mata. Gila, sangat banyak untuk selera ku. Dan supaya sadar akan mereka, kita harus memberi mereka nama yang pantas… tunggu, itu bukan masalahnya juga sekarang, ya kan? Pokoknya, roh-roh itu ada, oke?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Oke.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Roh-roh itu terus meningkat jumlahnya. Jumlahnya terus membesar dan mereka mulai memenuhi dimanapun kamu lihat, bahkan disekitar kita. Sebenarnya, ada satu di pojok. Tentu, beberapa roh mengangkasa sebagaimana mestinya, tapi kebanyakan tidak. oleh karena itu, kita bisa menetapkan kalau roh-roh dalam pertumbuhan yang konstan. Benar, siklus hidup ini makanya sebanding dengan produksi oksigen. Bersamaan dengan setiap hembusan nafas, tanaman juga menghembuskan karbon dioksida tapi jumlah oksigen yang di produksi berkat fotosintesis lebih besar. Jadi mereka dengan efektif memproduksi oksigen yang sudah ditetapkan. Seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau mereka tetap bermukim? &amp;lt;u&amp;gt;Dunia akan berubah terbalik&amp;lt;/u&amp;gt;. Bagian depan dan belakang akan berbalik. Apakah kamu mengerti? Kamu ‘ngerti, kan? Ini sebuah pemberontakan! Oleh roh-roh tersebut! Itu masuk akal kalau dunia akan condong ke sisi yang memegang banyak energi. Dapatkah kamu membayangkan akibatnya? Dunia akan kacau balau: kita akan jatuh dari permukaan dunia, kehilangan bentuk kita, berubah menjadi makhluk tak jelas, terpencar ke segala arah. Mungkin. Tentu saja aku tidak tahu detailnya, tapi kita juga tidak tahu akibat persisnya dari meledak dan terbakarnya bumi kita dengan bahan peledak, ya kan? Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa aku sampaikan dengan pasti adalah bahwa kesudahan dunia sama sekali tidak diinginkan. Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Apa, apa menurutmu kalau aku seharusnya mencegah hal itu bagaimanapun caranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Shizuka,” Kata Kazuaki sambil dia menatap dalam kepadaku. Terima kasih tuhan; dia menanggapiku dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki memberi Kiichi-kun sebuah lirikan, “Aku minta maaf, Kiichi, tapi Shizuka dan aku pulang lebih awal hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Kiichi-kun menjawab, “Hah…? Ah, T-Tak apa, Kazuaki, bukan hal yang penting kok, serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bilang pada mereka kalau aku mengantar Shizuka pulang karena dia kurang sehat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengabaikan pertanyaanku, dia menarik lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Kazuaki menyentuh lenganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sel-sel lenganku mulai mengurai dan membusuk satu per satu. Ini menyakitkan. Tak tertahankan, dendam kesumat dan kebencian yang tak terhingga menusuk-nusuk diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki…&amp;lt;u&amp;gt;Apakah kamu sudah lupa&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara refleks melepaskan tanganku, menyaksikan ku dengan mata yang terbelalak. Setelah beberapa saat, dia meminta maaf dalam suara yang hampir tidak aku dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak berbalik, jadi aku hanya mengikutinya tanpa kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari kita menyusuri jalan pulang. kita memasuki jalur kereta yang kita gunakan setiap hari. Hampir tidak ada orang karena bukan waktu sibuk, hah? Ada seseorang yang berdiri meskipun banyak bangku kosong. Ah, itu sesosok energi humanoid. Betapa membingungkannya. Kalau dipikir-dipikir, bagaimana ya aku membedakan antara manusia dan energi-energi humanoid? Hah? Bagaimana aku terbiasa menjalani hal itu? Aku tak mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita turun dari kereta, tapi ketika aku mencoba melewati tempat tiket,  aku menabrak pembatas karena mesin tidak bereaksi pada tiket berlangganan ku. Ada apa ini? apakah ini juga perbuatan jahat energi humanoid? Itu mungkin saja. Aku taruh tiket berlangganan ku diatas sensor kembali, dan kali ini pembatasnya terbuka. Fuuh, itu benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap bersama Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kanan, kiri, kanan, kanan, kiri – kita belok terus belok dan belok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kita tiba di sebuah taman, tapi bukan taman dimana aku bertemu dengan Reina. Ini sangat kecil, taman biasa dengan dengan bangunan taman yang berkarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apakah kamu masih ingat tempat ini?” Kazuaki tiba-tiba bertanya, berbalik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dia tadi sangat diam dalam perjalanan kesini, dia tersenyum lembut menakutkan. Karena aku tidak memberi reaksi apapun, dia meneruskan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini taman dimana kita pertama kali bertemu, saat itu kita berumur 2 tahun. Yah, aku tidak mengharapkanmu untuk mengingat saat itu, tapi kamu ingat kalau kita dulu bermain disini, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja aku ingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Aku bimbang berucap sesuatu karena aku tidak bisa memahami maksud dari membawaku kesini dan memberitahuku hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kita kecil, kamu lebih tinggi dariku dan kamu akan selalu mengusikku. Jujur saja, ada hari dimana aku sangat takut kepadamu sampai-sampai aku tidak ingin melihat mu, Shizuka!” dia tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ke sekeliling. Memang, ini adalah taman dimana dulu kita bermain bersama. Aku sering bermain dengan Kazuaki dalam arena pasir disana, atau ayunan yang disana, atau dengan tiang olahraga itu. Arena bermain panjatan dan perosotan sudah tidak ada sekarang, tapi terlepas dari hal itu, taman ini tetap tempat kenangan masa muda yang kita pikir adalah kerajaan kami sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah masa-masa yang indah, bukan?” Kazuaki meneruskan, masih tersenyum lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya menyebabkan dalam diriku – kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap terdiam, bagaimanapun, karena itu bukan salahnya. Dia tidak bisa disalahkan. Terasa aku ingin muntah karena tusukan di perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku memutuskan memberitahu Kazuaki apa yang harus dia ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki, dengar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!” Jawabnya cepat seperti sebuah tembakan – dengan sentuhan kesabaran yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sangat berarti untuk ku, Kazuaki.” Aku memulai, kelihatannya menampik kekhawatirannya. Matanya melebar. “Aku pikir setiap orang mempunyai peran tertentu dalam kehidupan. Sebagai contoh, Presiden dari suatu republik tertentu melindungi dunia dengan kekuasaan tertingginya, sementara Sang perdana menteri dari suatu negara kepulauan tertentu harus mematuhi presiden itu. Bunda Teresa harus mengabdi di Calcutta, Columbus yang menginjakkan kakinya di Amerika, dan Madam Curie yang menemukan polonium dan radium. Dan aku…aku harus menyelamatkan dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kamu melakukan hal itu…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memastikan bahwa dunia tidak berbalik ke sisi mereka dengan melepaskan kekuatan didalam energi humanoid dan mengurangi jumlah mereka. Mungkin jatuh korban ketika mereka berkerlap-kerlip sebentar setelah kekuatan mereka dilepaskan, tapi itu kejahatan yang diperlukan. Jangan salah sangka kepadaku – hati nuraniku menusuk-nusukuku karena ini, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku harus bertindak; ini peranku karena aku tahu apa yang harus dilakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Anggaplah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kazuaki. Aku ‘ngerti kalau ide tersebut kelihatan konyol pada awalnya, tapi &amp;lt;u&amp;gt;ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memalingkan pandangannya ke tanah. Setelah beberapa saat berpikir, dia mengoreksi dirinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarpun aku kira kalau itu harusnya hal yang benar untuk dilakukan – kenapa juga kamu yang perlu bertanggung jawab atas tugas ini, Shizuka? Serahkan saja tanggung jawabnya kepada orang lain. Kamu berkata kalau kamu tahu bagaimana menyelamatkan dunia, tapi Shizuka… kita semua tahu negara-negara tersebut menderita kemiskinan, dimana anak-anaknya lahir untuk mati begitu cepat, para wanita terpaksa melacur menjangkiti AIDS, dan orang-orang lemah mati sakit disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan kekurangan pengobatan. Kita semua tahu itu, tapi tetap kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki masalah ini, kecuali mungkin untuk beberapa koin yang kita donasikan. &amp;lt;u&amp;gt;Ini adalah dunia&amp;lt;/u&amp;gt; dimana kita hidup didalamnya. Akan selalu ada orang-orang yang mencari penyelamat. Bila kita menjawab setiap dan segala panggilan meminta tolong, kita akan terperangkap dalam satu titik, hidup hanya demi menyelamatkan orang lain. Pikirkan apakah itu patut dipuji? Yah, memang. Terus apa? Apa kamu pikir gaya hidup dimana kamu mengorbankan dirimu untuk orang lain adalah tepat? Mungkin iya, tapi aku tidak ingin gaya hidup seperti itu. Aku akan memilih mengabaikan panggilan meminta tolong mereka – sama seperti kita menolak pesan iklan yang kita dapat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Bukankah aku sudah bilang kepadamu alasannya dari awal, Kazuaki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Kamu sangat berarti untukku.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, Kazuaki hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang ke bawah kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Keren memang kalau kamu berpikir seperti itu, sungguh, tapi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Tak apa, Kazuaki. &amp;lt;u&amp;gt;Ungkapkan saja kekhawatiran yang ingin kamu katakan.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
Aku bisa bilang kalau Kazuaki tidak melihat bahaya dunia yang dihadapi. Dia hanya melihat masalah yang dia pikir sedang aku hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia perlahan menaikkan kepalanya untuk menatapku, hampir bermuka masam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadarlah, Shizuka! Kamu bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, &amp;lt;u&amp;gt;aku mempunyai keyakinan.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, &amp;lt;u&amp;gt;ada seseorang yang membenarkan pandanganku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenyataan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Iya, kenyataan! Kamu telah melalui banyak penderitaan, itu memang benar, tapi lihatlah...misalnya taman ini – tempat ini pun adalah kenyataan, oke? Segalanya tidaklah begitu buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sekarang aku mengerti… itulah kenapa dia membawaku kesini. Tapi Kazuaki…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Maksudmu berubah menjadi sebuah bumerang.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi, kenyataanmu bukanlah masalah untukku. &amp;lt;u&amp;gt;Kenyataan untukku ialah&amp;lt;/u&amp;gt; bahwa dunia dalam bahaya, dan satu-satunya yang mampu menyelamatkannya adalah &amp;lt;u&amp;gt;dia&amp;lt;/u&amp;gt; dan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diantara hal-hal yang telah kamu katakan padaku tadi, Kazuaki, ada satu hal yang aku sukai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Lakukan apa yang kamu pikir benar untuk dilakukan.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…” dia mengangguk dan terus menutup mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil. dia tahu kalau aku susah dibujuk. Aku yakin, namun – Kazuaki tidak akan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, kalau begitu aku akan melakukan hal yang benar juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari berujar, dia mendekati ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang akan dia perbuat. Aku bisa dengan mudah membayangkan apa yang tersirat dari wajah tegangnya; kita belum melakukan sesuatu karena tidak bersama-sama begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lehernya tepat didepan mata ku. Aku benar-benar lupa kalau dia sudah bertambah besar dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedikit mendongakkan kepalaku memandang ke wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sedikit menurunkan kepalanya menatap ke wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia – mendekap ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu!” bisiknya ke telingaku, seakan-akan menekankan kalau aku satu-satunya yang harus tahu. “Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Shizuka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak sedang berusaha menghentikanku dengan gombalan cinta. Dia tidak cukup bagus dengan gombalan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia semata-mata tidak dapat menahan untuk mengatakannya, memilikku dalam dekapannya. Hanya itu hal yang dia dapat pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tuh sangat jujur, polos, setia...tidak memberikanku pilihan selain mengawasinya, membuatku ingin bersama dengannya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun dress putih ku telah ternoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Meskipun dia tidak bisa melupakan noda itu.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berani melompat. Mempertaruhkan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berada disisinya. Aku ingin dia menang taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tetap –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Jangan sentuh aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengan disekitarku mengendur seketika. Malahan, aku memeluk diriku dengan erat, mengubur kuku-kuku tanganku ke dalam lengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang kalau aku lebih pendek dari Kazuaki sekarang; aku tinggal sedikit menurunkan pandanganku untuk menghindari melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Aku melawan dorongan untuk memunculkan isi dari kepala ku yang sakit. Gambaran masa lalu terus muncul di kepalaku, mencabik-cabik diriku, menghancurkanku, melumatku, menghamburkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku minta maaf…” bukan aku melainkan Kazuaki yang berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kamu meminta maaf? Hentikan! Akulah yang pantas disalahkan. Akulah yang lemah. Akulah yang tak mampu pulih. Ini salahku. Salahku. Salah. Salah. Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf membuatmu menangis…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku sentuh pelupuk mata dan akhirnya menyadari kalau aku benar-benar menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini aneh? Aku ingin berakibat sebaliknya. Mendekapmu semestinya menghentikan tangisanmu. Aku gagal melakukan itu,  bukankah aku… aku tidak sanggup melakukan itu…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat berusaha untuk menahan air mataku. Aku tak boleh membuatnya berkata hal semacam itu. Tapi… tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bodoh. Aku pikir entah bagaimana akan menyelesaikan masalah bila aku datang kesini…aku pikir segalanya akan berubah menjadi lebih baik… sangat begitu simpel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Dengar, Kazuaki…” ucapku, mencoba (dan kemungkinan gagal) untuk tak menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada sesuatu..yang aku tidak beritahu kepadamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangkat kepalaku, merasa kalau aku perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak pernah memberitahumu detail insiden itu, kan…? Aku tidak ingin menyakitimu…jujur saja…taman ini…tempat penuh kenangan ini – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Adalah tempat aku diperkosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhenti.&lt;br /&gt;
Kazuaki berhenti sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar terdiam yang aku mulai mencurigai bahwa aku seorang diri yang tersisa di dunia, disingkirkan dari aliran waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-seorang diri di dunia? Hah, itu penjelasan yang akurat. Aku yakin kalau impresi bukan sebuah ilusi melainkan sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengerikan,” Kazuaki bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak berucap kata itu untukku, tidak pula dia tujukan kepada orang-orang yang melecehkanku. Itu pun tidak ditujukan kepada Tuhan, sebab dia tidak menyakini itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yakin &amp;lt;i&amp;gt;kengeriannya&amp;lt;/i&amp;gt; tidak ditujukan pada apapun yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar-benar…mengerikan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak mengetahui bahwa realitas menyerang kapanpun kamu mengharapkannya sedikitpun, tak peduli bila itu adalah sebuah tempat kenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak tahu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia mungkin telah mengetahuinya, tapi dia tidak memercayai kalau aturan ini akan berlaku juga pada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia bisa melawan seseorang dengan tanpa arti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, &amp;lt;u&amp;gt;tidak dalam kasusku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus pergi,” aku berujar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Pergi kemana?” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke taman lain yang seharusnya aku kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku harus bertemu Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada maksud dunia melawan ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iya kan, Reina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bagian 5==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah bilang Reina Kamisu kalau aku akan mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyambut ku dengan tangan terbuka, tampak sangat senang dengan keputusanku. Tentu saja, salah satu alasan kebahagiaanya adalah meningkatkan efektifitas, tapi aku pikir dia pun senang akhirnya memiliki teman disisinya dalam pertarungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa lama dia telah bertarung sejauh ini, tapi melenyapkan satu demi satu energi humanoid (yang mana terus bertambah sementara ini) seperti mengumpulkan pasir gurun sebutir demi sebutir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memahami. Mungkin dia sedang menunggu untuk seseorang sepertiku yang akan membantunya menyelamatkan dunia. Tidak, dia tetap menunggu. Seandainya jumlah orang yang membantunya terus meningkat, maka menyelamatkan dunia akan berhenti menjadi harapan hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat sekeliling kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan menjadi terakhir kalinya aku disini; emosi yang mendalam mengisi hatiku. Meski ini bukan kamar yang keren – yang didalamnya ada perabotan seperti meja dari ibuku dan benda seperti boneka aneh – tapi disini aku tertawa dan menangis terus tertawa dan menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku meninggalkan surat untuk orang tuaku dan Kazuaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak usah, mereka akan mengelirukan itu sebagai kata-kata terakhir atau suatu hal. Padahal itu mungkin benar di mata mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membuka kunci laci paling atas dan mengambil kalung salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu bilang kepadaku kalau aku perlu memakai sesuatu yang sangat berharga untukku. Ketika aku tanya alasannya, dia menjelaskan kalau aku memerlukannya sebagai tanda penyesalan. Aku bisa melihat bahwa aku mungkin secara tidak sengaja terjebak disisi lain dunia kecuali bila ada sesuatu yang merantaiku disisi ini. untuk menjadi seperti Reina, aku mungkin akan memerlukan sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kenakan kalungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuruni tangga dan mengenakan sepatuku di pintu masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, mau kemana?” ibuku bertanya dari dapur tanpa memperlihatkan badannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi agak jauh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama kata-kata ini, aku membuka pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, energi humanoid dan manusia terlihat hampir sama untukku tapi aku masih bisa membedakan mereka entah bagaimana. Energi-energi itu tidak mempunyai niat dan tujuan, jadi mereka praktis menetap di satu tempat; mereka bergumam sesuatu meskipun mereka sendirian, dan ketika mereka berbicara sendiri, ekspresi wajah mereka tidak berubah sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjumpa dengan beberapa energi humanoid-berwujud makhluk saat aku menuju ke tempat dia menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu mencampakkan ku, Takeshi! Kamu bilang padaku kamu cinta kepadaku!}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Aku tidak memiliki satupun teman, aku tidak perlu hidup.}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Seandainya aku tidak menatap cewek sekolah yang montok itu, aku dan keluarga yang mengendarai mobil lain tidak harus mati. Kecelakaan yang bodoh!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka ada seorang pria paruh baya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kenapa kamu memecatku! Apa kesalahan yang aku perbuat!}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya, dia bunuh diri setelah kehilangan pekerjaannnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Helo,” ucapku, untuk pertama kali tertuju ke energi humanoid. Bunuh diri setelah seseorang gagal dalam pekerjaan bukanlah hal yang biasa, tapi wajahnya agak mirip ayahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Kamu bisa… melihatku?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bisa. Aku juga bisa mendengarmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku paham… kamu tidak seharusnya berbicara kepadaku. Atau mungkin… tidak membahayakan untuk seorang wanita muda sepertimu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku yakin tidak. Derajat kita sangat berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Derajat, kamu bilang… dengan kata lain, kamu pikir alasan kenapa aku melakukan bunuh diri kelihatan murahan dan klise untukmu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semacam itulah. Maksudku, kamu hanya akan mendapat penghasilan yang lebih sedikit bila kamu dipecat, dan cuma itu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi humanoid paruh baya melihat ku penuh kesedihan. Tidak, dia (?) mempunyai tampang penuh kesedihan melekat diwajahnya setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ini tidak sesimpel itu, wanita muda.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apanya yang tidak sesimpel itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu, jadi aku tidak akan mampu meyakinkanmu, tapi pekerjaan adalah segalanya bagiku. Meskipun begitu, aku diberitahu sudah tak berguna untuk perusahaan. Apakah kamu paham apa yang aku maksud?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, tapi aku belum terlalu yakin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku menduga seperti itu. Tapi ada satu hal yang aku ingin kamu mengerti: tidak ada tempat untuk orang tua sepertiku. Bahkan tidak didalam keluarga yang aku nafkahi. Meskipun demikian, aku sangat percaya kalau aku dibutuhkan, bahwa aku roda dalam keluarga dalam perusahaan tempat aku bekerja.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kamu bukan lagi salah satu roda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tepat sekali. Dan aku tidak akan lagi bisa menjadi bagian dari apapun lagi.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir aku kurang lebih mengerti. Tetap saja… seseorang mengakhiri hidup karena itu adalah hal bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menurunkan pandangannya dan menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya… mungkin kamu benar.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kemudian aku melihat senyum samar diwajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia berputar-putar ke kiri dan kekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kusangka. Kamu sudah mati, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Apa maksudmu…?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemukan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu mengingatku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Tidak…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seharusnya sudah tahu; energi humanoid adalah inti dari energi kita, dan karena itu hanya memiliki kenangan yang paling penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika kamu masih hidup, kamu pernah menabrak ku saat kamu terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{jadi begitu…maaf.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Atsushi Kogure…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku paham, Atsushi-kun ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Siapa namamu..?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku? Aku Shizuka Wakui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ada urusan apa denganku, Shizuka-san?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, sebenarnya…kalau pun ada, aku agak merasa nostalgia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku mengerti… tolong tinggalkan aku sendiri, kalau begitu?}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin banget, Hm…oke, lantas bolehkah aku bertanya satu hal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Boleh…tapi aku tidak akan bisa menjawabmu karena aku tidak bisa mengingat apapun}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Bagaimanapun aku akan bertanya. Kamu menabrakku – aku sudah bilang ke kamu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Ya…}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Apa lagi yang kamu teriakan saat terburu-buru keluar dari ruangan?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya melebar seketika.  Aku terkejut – energi humanoid tidak merubah ekspresi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu.}&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bohong. Lagipula, dia lebih memberi penekanan pada kata-katanya dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;{Aku tidak tahu!}&amp;lt;/i&amp;gt; dia berteriak, nampaknya merasakan keraguanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atsushi-kun berkata sudah jangan lagi setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti kereta beberapa kali, aku akhirnya turun dari kereta di stasiun terdekat dari sebuah danau tertentu yang telah aku kunjungi dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama perjalanan, aku sekali lagi teringat kehadiran dimana-dimana dari energi-energi humanoid. Aku takut dunia bisa berbalik kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat sekelompok gadis sekolah yang riang, aku merasa sedikit cemburu pada mereka. Mereka tidak perlu melihat ini dan tidak perlu mengetahui betapa tipisnya es yang kita pijak.&lt;br /&gt;
Keseimbangan sama rapuhnya dengan melakukan triple axel pada ice rink diatas es ultra-tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memastikan posisi danau dipeta yang tergantung di stasiun, aku pergi ke tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan, aku mengingat kembali perkataan Reina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Air bekerja secara sempurna karena terhubung ke seluruh dunia.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan danau yang sesuai, aku harus mencari di google ‘tempat untuk melakukan bunuh diri’.&lt;br /&gt;
Maksudku, ‘bunuh diri…? ‘Njir, ini bukannya aku ingin mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berjalan selama 40 menit, aku sampai di danau. Aku bisa saja menggunakan sebuah taksi (aku tidak peduli dengan uang dari sekarang, lagian) tapi aku tidak ingin menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu terlambat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina sudah disana duluan, menungguku dengan senyuman cantik yang terjangkau akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku bisa kemari kapanpun aku mau, bukan? Lagipula kamu tidak bilang kepadaku kemana aku harus pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang danau didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti. Tidak heran kalau ini menjadi tempat yang terkenal untuk bunuh diri. Betapa banyak jumlah energi-energi humanoid. Sebenarnya, ada banyak sekali, sehingga mereka telah bercampur baur menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Itu seperti dalam lukisan tua Youkais. Beberapa kepala mengulur kepada ku, mengamati ku dengan seksama. Mereka terlihat seperti buah anggur bagiku, dengan wujud kepala-kepala yang berkumpul tersebut seperti buah anggur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Dengan banyaknya mereka, ada suatu gelombang untuk setiap orang yang datang kesini, menarik mereka ke dalam kematian. Tentu saja, orang-orang yang kesini melakukan itu dengan niat bunuh diri; tapi sebetulnya seseorang mengakhiri hidup tidaklah begitu mudah. Ketakutan dan keterikatan hidup yang timbul saat menghadapi kematian membantu mencegah bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dengan keadaan danau ini, &amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah mereka datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energi-energi humanoid tersebut mengeksploitasi hati yang hampa dari pengunjung yang berniat bunuh diri, memendekkan pemikiran logis mereka dan menarik mereka ke dalam kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shizuka, ada beberapa tempat seperti ini di dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kita harus menghilangkan tempat-tempat itu satu per satu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm,” dia menggelengkan kepala, “Itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sesederhana seperti masalah banyak melawan beberapa. Kita memiliki terlalu sedikit kekuatan. Setelah sebuah tempat berubah seperti ini, tak bisa dibersihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ‘mereka’ lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. Setelah bercampur bersama, saling melengkapi satu sama lain, mereka berubah menjadi monster. Haruskah aku melangkah masuk dan menghapus mereka, mereka akan membawaku ke dalam juga dan masih berusaha memperoleh kembali bentuk  mereka yang dulu. Sebuah mekanisme itu mirip suatu lubang hitam yang terbentuk di tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Tempat ini tidak bisa dibersihkan lagi.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti sekarang. Aku memahami semuanya.&lt;br /&gt;
Ini dia. &amp;lt;u&amp;gt;Inilah yang terjadi saat sisi dunia kita berbalik.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan proporsional kita dalam kekuatan ditiadakan oleh sisi ini, dengan demikian &amp;lt;u&amp;gt;kita terbawa oleh mereka&amp;lt;/u&amp;gt;. Jiwa kita dilahap, tubuh-tubuh kita menjadi berlubang dan membusuk. Itulah hasil kita disetir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kita harus menghentikan peningkatan tempat ini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”, Reina mengangguk merespon kesadaranku. “Itulah misi kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memerengut ke monster di depan kita. Semua makhluk mirip anggur itu tak berekspresi tapi tetap tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah – &amp;lt;u&amp;gt;musuhku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menekan kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina, satu hal &amp;lt;i&amp;gt;terakhir&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Satu hal terakhir?” dia tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kamu benar. Ini baru dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang! Lalu, apa yang ingin kamu ketahui?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang bahwa semua orang punya peran tertentu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan itu tugasku untuk menyelamatkan dunia,” tambahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, hanya yang terpilihlah yang bisa melakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku terpilih karena aku memperoleh kekuatanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- &amp;lt;u&amp;gt;Aku memperoleh kekuatanku karena insiden itu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina menggangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, aku mengerti. Aku mengerti sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah masuk akal bagiku: Kenapa aku harus begitu menderita? Tentu saja aku bukan orang suci, tapi aku pikir aku hidup dengan cukup rendah hati untuk mendapatkan tiket ke surga. Jadi kenapa insiden itu terjadi padaku dari sekian banyak orang? Itu tak pernah masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, realitas menyerang siapapun – tanpa pertimbangan apapun tapi menyerang dengan racun mematikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap, aku tak berdaya gagal memahami kenapa ini terjadi padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sekarang aku berucap dengan keyakinan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, ada suatu alasan kenapa aku harus begitu menderita. Itu sederhana – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Itu diperlukan untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu benar, Shizuka,” dia berujar dengan senyuman hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan yang dibebani kepadamu sehingga kamu bisa memenuhi misimu!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya! Aku menemukan kebenarannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudku, selainnya tidak akan adil. Itu tidak adil bila seandainya aku satu-satunya yang tidak beruntung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, &amp;lt;u&amp;gt;bila tidak ada arti yang layak dalam insiden itu, penderitaanku akan sia-sia belaka.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kalau begitu ayo, Reina! Kita mulai permainannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, tidak ada alasan untuk goyah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tinggal mengumpulkan keberaninan dan melompat ke dalam danau – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya pergi ke panggung baru ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang kalung salibku, aku melomp –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ah –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi – aku – memegang – kalung – ku –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara, seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dress putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shizukamenangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“-Tidak ada!”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Nih…hadiah natal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Terimakasih, Kazuaki! Boleh aku buka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow! Indah sekali! Tapi bukankah ini mahal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak seberapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah ini sebuah berlian ditengah salibnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, itu berlian…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau begitu harganya mahal, pembual!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-Diam… biarkan aku pamer sedikit!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;big&amp;gt;TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan berhenti menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kazuaki tidak akan berhenti terlihat pilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Kenapa ini harus terjadi padaku dari sekian banyak orang? Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah ada artinya semua ini?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meratap seperti ini, menyentuh-nyentuh dirinya, sampai dia akhirnya membuka mulut, dan berujar:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“-Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Tidak ada!”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;“Tidak ada artinya, Shizuka! Jika ada, ini karena penyerangmu tak bisa menahan dorongan seksual mereka. Kamu kebetulan bertemu mereka, dan kamu kebetulan terlihat cukup bagus untuk mereka. Tapi itu bukanlah alasan yang kamu inginkan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun. Kamu harus menerima itu, Shizuka.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Realitas memperlakukan sama antara orang suci dan pendosa, menyerang mereka secara otomatis, acak, tanpa pertimbangan dan pemilihan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sekarang aku ingat –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan berasal dari keyakinan ku sendiri – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pendapat jujur dan benar dari Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&amp;lt;big&amp;gt;-TSCHHHHHHHHHHHHHH–&amp;lt;/big&amp;gt;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Shizuka?” cewek yang begitu sangat cantik menanyakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalungku basah kuyup bersama keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu menahan napasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ada apa tiba-tiba?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Itu adalah cobaan padaku sehingga aku bisa memenuhi misiku.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kenapa dengan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan itu, kamu tanya? Jangan pura-pura! Seolah-olah hal itu bisa jadi benar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Seolah-olah suatu alasan akan muncul dengan mudah!&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehilangan kata-kata, Reina Kamisu hanya menatapku dalam sikap kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memahami semuanya. Aku mencari suatu alasan. Suatu alasan untuk penderitaanku. Itulah kenapa aku memunculkan logika energi-energi humanoid itu dan mencoba mencari perlindungan disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dengan diam-diam mendengarkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua orang tahu kalau aku sedang berusaha lari dari kenyataan. Baik itu Mihara-sensei atau Kazuaki, atau semuanya. Mereka tahu aku melarikan diri. Lagi pula. Logika ku hanya masuk akal pada diriku sendiri. Tapi, tapi kenapa –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa kamu bisa memahami aku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu aneh! Kenapa seseorang sepertimu, Reina Kamisu, tiba-tiba muncul begitu mudah untuk memastikan teoriku? Aku tidak sepenuhnya mempercayainya sampai kamu menampakkan diri, iya kan? Kenapa… kenapa kamu muncul begitu –“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah,” dia memulai. “Karena itulah apa yang kamu inginkan, Shizuka,” katanya, sedikit mencibir bibirnya. “Kamu mencari sebuah eksistensi sepertiku. Orang ketiga yang akan mengubah delusimu menjadi kenyataan. &amp;lt;u&amp;gt;Diberi nama Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tersenyum. Dengan sebuah senyuman nan begitu cantik yang tak mungkin pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku mengingat kembali – apa yang Atsushi Kogure teriakan saat dia terburu-buru keluar dari ruangan psikiater kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Atsushi-kun –&lt;br /&gt;
-sudah tak ada lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…ah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memegang kalung salibku dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku. Tolong aku, Kazuaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu berniat membunuhku?&amp;quot;&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan heran saat aku bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa aku harus?” dia membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-Maksudku, &amp;lt;u&amp;gt;itu benar kan bahwa kamu menggiring siswa SMA Shikura untuk melakukan bunuh diri, bukan begitu?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangkat tangannya ke dagunya dan menjawab setelah jeda sebentar, “Mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mungkin?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak benar? Lantas bagaimana denganmu?” dia tiba-tiba bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akankah kamu mampu terus hidup bila aku menghilang sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku paham apa yang dia maksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina adalah suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya suatu fenomena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cepat atau lambat, kita menyadari kalau dia tidak benar, kemudian kita kehilangan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Setelah kita kehilangan dukungan kalau Reina adalah milik kita, kita semua roboh oleh diri kita sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Kalau begitu tetaplah disisiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku selalu berada disisimu. Selama kamu tidak menutup matamu dariku. Aku akan selalu bersamamu. Tapi…&amp;lt;u&amp;gt;bisakah kamu menerimaku ketika aku hanyalah suatu fenomena?&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersama dengan kata-kata ini, Reina Kamisu menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, dia tidak menghilang. Aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamisu Reina selalu &amp;lt;b&amp;gt;berada disini&amp;lt;/b&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian ditepi danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, tanpa suatu alasan untuk penderitaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri sendirian, masih terus menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku ingat pemikiranku sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;u&amp;gt;sudah sangat terlambat setelah kamu datang kesini.&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku menatap ke danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monster dengan puluhan serta ratusan wajah sedang menungguku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518793</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518793"/>
		<updated>2017-05-12T10:01:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara seksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518595</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518595"/>
		<updated>2017-05-09T03:06:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, &#039;kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518594</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518594"/>
		<updated>2017-05-09T02:53:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, iya kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan drama TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua bocah tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, iya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, iya kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, Iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan dari Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?” Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih tak cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih tak cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya jaga-jaga,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518549</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518549"/>
		<updated>2017-05-08T22:15:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, iya kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan drama TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua bocah tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, iya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, iya kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, Iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan dari Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?” Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga bolak-balik bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari free will (kehendak bebas) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disana. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih tak cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih tak cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya jaga-jaga,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518533</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=518533"/>
		<updated>2017-05-08T16:51:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, iya kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan drama TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua bocah tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, iya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, iya kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, Iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan dari Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?” Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga bolak-balik bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari free will (kehendak bebas) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disana. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak menkenapa dia akan k&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
n.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih tak cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih tak cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya jaga-jaga,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=514160</id>
		<title>Kamisu Reina Series (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=514160"/>
		<updated>2017-02-26T08:55:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Kamisu_Reina_1.jpg|200px|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; juga dapat dibaca dalam bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Kamisu_Reina_Series|Inggris]]&lt;br /&gt;
*[[Reina Kamisu ~ Français|French (Français)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kamisu Reina Series&#039;&#039;&#039; adalah serial &amp;lt;i&amp;gt;Light Novel&amp;lt;/i&amp;gt; yang ditulis oleh [[:Category:Mikage Eiji|Eiji Mikage]]. Serial ini terdiri dari 2 jilid yang berjudul &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&amp;quot; (Reina Kamisu Berada Di Dini) dan &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&amp;quot; (Reina Kamisu Tersebar Di Sini).&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- &#039;&#039;&#039;Tolong dicatat bahwa tidak ada komedi dalam serial ini, jadi mungkin cerita ini bukanlah selera Anda jika Anda penggemar kisah yang tidak berbobot.&#039;&#039;&#039; --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;p style=&amp;quot;max-width: 700px; font-size: 15px; line-height: 1.6em; font-family: &#039;Palatino Linotype&#039;, &#039;Book Antiqua&#039;, Palatino, serif; margin-left: 15px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 48px; line-height: 1em; float: left; margin-right: 5px;&amp;quot;&amp;gt;R&amp;lt;/span&amp;gt;eina Kamisu adalah teman para penyendiri, pembantai keluarga, penyelamat dunia, dan pembunuh kekasih — ia pun &amp;lt;i&amp;gt;begitu&amp;lt;/i&amp;gt; cantik. Siapakah dia dan apa tujuannya? Pencarian identitasnya yang sesungguhnya dimulai dari Fumi Saito, yaitu seorang pelajar kesepian, yang teman dan pendukungnya hanyalah Reina, dan dia menyalahkan hal-hal yang tidak dia lakukan...&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;display: block; margin: 5px 0;&amp;quot;&amp;gt;Ini adalah cerita tentang delusi, keputusasaan dan pemusnah keindahan.&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Update ==&lt;br /&gt;
* 31 Desember 2016 - proyek dimulai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; oleh Eiji Mikage ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 1: Reina Kamisu Berada Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_1|Teks Penuh]]) ===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Fumi Saito|Bab 1: Fumi Saito]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure|Bab 2: Atsushi Kogure]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui|Bab 3: Shizuka Wakui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kazuaki Toyoshina|Bab 4: Kazuaki Toyoshina]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 2: Reina Kamisu Tersebar Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_2|Teks Penuh]])===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Yukimi Mitsui|Bab 1: Yukimi Mitsui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Ryoji Kamisu|Bab 2: Ryoji Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Sakura Kawai|Bab 3: Sakura Kawai]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Reina Kamisu|Bab 4: Reina Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Staf Proyek ==&lt;br /&gt;
=== Manajer Proyek ===&lt;br /&gt;
*[[User:Baka-Tsuki Update Indonesia|Baka-Tsuki Update Indonesia]]&lt;br /&gt;
=== Translator ===&lt;br /&gt;
*[[User:Ibnu Psycho|Ibnu Psycho]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link-link pendukung ==&lt;br /&gt;
* [http://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88%E3%82%B7%E3%83%AA%E3%83%BC%E3%82%BA Kamisu Reina article] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_Forms Theory of Forms] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://bookwalker.jp/series/9566/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88/ Buy the e-books] (BOOK☆WALKER)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Publikasi ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3238-5, December 2005&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3267-9, January 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Light novel (Indonesian)]]&lt;br /&gt;
[[Category:Indonesian]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=513399</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=513399"/>
		<updated>2017-02-19T06:07:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, iya kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan drama TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua bocah tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, iya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, iya kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, Iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan dari Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?” Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga bolak-balik bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari free will (kehendak bebas) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disana. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: aku hanya harus melebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak mengerti kenapa dia akan kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih tak cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih tak cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya jaga-jaga,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=513380</id>
		<title>Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Indo:Jilid_1_Atsushi_Kogure&amp;diff=513380"/>
		<updated>2017-02-19T02:19:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: Created page with &amp;quot;==Atsushi Kogure==  ===Bagian 1===  Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.   Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang sp...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Atsushi Kogure==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 1===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, &amp;lt;i&amp;gt;aku&amp;lt;/i&amp;gt; mendapati suatu temuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; yang tidak akan pernah aku lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, &amp;lt;i&amp;gt;dia&amp;lt;/i&amp;gt; menemukan tubuh utamaku dan melihatnya.&lt;br /&gt;
Lalu – tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terlahap oleh eksistensinya.&lt;br /&gt;
Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Aku – &lt;br /&gt;
Aku &amp;lt;i&amp;gt;membenci&amp;lt;/i&amp;gt; gadis itu.&lt;br /&gt;
Dia merampas &amp;lt;i&amp;gt;segalanya&amp;lt;/i&amp;gt; dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga.&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu…&amp;quot;&lt;br /&gt;
Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya seperti dia memperhatikan kalau aku sangat serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa &amp;lt;u&amp;gt;itu masih suatu luka yang tidak berbekas&amp;lt;/u&amp;gt;. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup.  Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berencana begitu lagipula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan kalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan siapa…?”  dokter Mihara bertanya, tetap serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih &amp;lt;i&amp;gt;karena&amp;lt;/i&amp;gt; aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan &amp;lt;i&amp;gt;jangan&amp;lt;/i&amp;gt; membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu salah sangka, men.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?”&lt;br /&gt;
Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara.&lt;br /&gt;
Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah &amp;lt;u&amp;gt;tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi.&lt;br /&gt;
Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,&#039;[https://en.wiktionary.org/wiki/I_think_therefore_I_am] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak eksis. Apa kamu mengerti? &amp;lt;u&amp;gt;Sama sekali tidak eksis.&amp;lt;/u&amp;gt; Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, jadi itu bahkan &amp;lt;u&amp;gt;melebihi&amp;lt;/u&amp;gt; suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R.&lt;br /&gt;
Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini:&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan kematian,” Yuuji memberitahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah catatan kematian? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kimura salah menyebut namanya.”&lt;br /&gt;
Oh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cih..!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh.&lt;br /&gt;
Dan ini masih menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, iya kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan drama TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak dapat dikendalikan. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kukira…”&lt;br /&gt;
Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.”&lt;br /&gt;
Iya-lah. Semua bocah tahu itu. Semua orang tahu itu, &amp;lt;u&amp;gt;walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Keluargaku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, mereka mati…kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku  karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu mau mati, juga?”&lt;br /&gt;
Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-Hentikan…”&lt;br /&gt;
Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dia mengayunkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku &amp;lt;u&amp;gt;memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Aku memegang dadaku.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rekan” itu bisa saja aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir-pikir –&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kogure-kun.”&lt;br /&gt;
Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, iya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak akan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kita sudah...putus.”&lt;br /&gt;
Terkejut, aku membeku seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah.&lt;br /&gt;
Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ikatan itu membinasakan Kimura&lt;br /&gt;
Sayang sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”&lt;br /&gt;
Nah benar kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, iya kan?” dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.”&lt;br /&gt;
Itu hanya alasan yang dia karang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke dirinya sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, Iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan berubah tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan roh gentayangan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu?&lt;br /&gt;
–Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan?&lt;br /&gt;
Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan dari Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?” Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan!” Mizuhara menyanggah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus siapa – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga bolak-balik bicara hal yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi…kamu melihat dia, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk secara perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi &amp;lt;u&amp;gt;kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjeda sebentar  dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari free will (kehendak bebas) [https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_bebas] mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggu dulu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disana. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?”&lt;br /&gt;
Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mizuhara ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir.&lt;br /&gt;
Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutuk sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, &amp;lt;u&amp;gt;mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, aku menggelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulitku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Ah”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu suara itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luka di dadaku menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyeruapi darah – &amp;lt;u&amp;gt;seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh, kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus bertahan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!”&lt;br /&gt;
Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku menyimak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebenaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.”&lt;br /&gt;
Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinding pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah penting mengetahui hal itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Penting. Makanya aku bertanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahan, tahan, tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Kenapa?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu apa yang kamu maksud…?1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.”&lt;br /&gt;
Mataku melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Penglihatan yang lebih teliti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia…tidak mengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-Tentu saja tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seharusnya tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. &amp;lt;u&amp;gt;Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.&amp;lt;/u&amp;gt; Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – &amp;lt;u&amp;gt;karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;u&amp;gt;Tidak penting mengetahui kebenarannya.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi,” dia berucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan, ini menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga sudah membunuhmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar – aku sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
…Bedebah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku?&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa aku menjawab itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tiba-tiba :&lt;br /&gt;
“Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya.&lt;br /&gt;
…aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku :&lt;br /&gt;
Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm…ah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar.&lt;br /&gt;
Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu…itu hanya kekeliruan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah begitu…?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;
Kenapa begitu? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. &amp;lt;u&amp;gt;Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.&amp;lt;/u&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa &amp;lt;u&amp;gt;aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi masuk ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” aku menjawab.&lt;br /&gt;
Dia duduk dikursi seberang dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak hal yang telah terjadi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh? Mimpi seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Terus, dokter, &amp;lt;u&amp;gt;namanya adalah Reina Kamisu.&amp;lt;/u&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dokter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua?” aku bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Semua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku pikir begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…” dia terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, &amp;lt;u&amp;gt;tentu saja bukan.&amp;lt;/u&amp;gt; Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya, katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa…apa dia menjawab?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu.&lt;br /&gt;
–Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, &amp;lt;u&amp;gt;aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun&amp;lt;/u&amp;gt;. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. &amp;lt;u&amp;gt;Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di McDonalds dekat stasiun. &amp;lt;u&amp;gt;Tentu saja, dalam dunia nyata&amp;lt;/u&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di &amp;lt;i&amp;gt;kehidupan nyata&amp;lt;/i&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? &amp;lt;u&amp;gt;Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu&amp;lt;/u&amp;gt;, apakah itu benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Memastikan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang itu tak pernah ada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, &amp;lt;u&amp;gt;pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau &amp;lt;u&amp;gt;dia ada&amp;lt;/u&amp;gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Atsushi-kun…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Reina Kamisu ada! Dia &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; bersama kita!” aku berteriak.&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Aku harus memastikan hal ini&amp;lt;/i&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh.  Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membunyikan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papan yang bertuliskan Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: aku hanya harus melebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak mengerti kenapa dia akan kebingungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Bolehkah aku membaca catatan kematian Kimura?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Bagian 5===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua &amp;lt;b&amp;gt;disini&amp;lt;/b&amp;gt; sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukaku bahkan lebih memburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyakitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyusut. Sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu.&lt;br /&gt;
Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan kematian Kimura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”&amp;lt;i&amp;gt;Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa yang harus ditulis lagi. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada artinya dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku.&lt;br /&gt;
Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu.&lt;br /&gt;
Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;
Aku sungguh-sungguh minta maaf, - &amp;lt;/i&amp;gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati&amp;lt;/i&amp;gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa aku tidak memanggil bibiku &amp;lt;u&amp;gt;ibu&amp;lt;/u&amp;gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku &amp;lt;u&amp;gt;ayah&amp;lt;/u&amp;gt; juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat amplopnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, &amp;lt;u&amp;gt;itu nama ayahku&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu sedang mencariku lagi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat sekali!” aku menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang berarti &amp;lt;u&amp;gt;itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan&amp;lt;/u&amp;gt;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lanjutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pemikiran yang aneh sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, aku menginginkan alasan, namun – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak peduli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – &amp;lt;u&amp;gt;kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang seperti – si gadis cantik disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meski betapa palsu pelakunya – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. &amp;lt;u&amp;gt;Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh&amp;lt;/u&amp;gt;, benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reina Kamisu memandangku secara dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“-Jadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – &amp;lt;u&amp;gt;seorang pembunuh berdarah dingin&amp;lt;/u&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, aku meminta darinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tolong, bunuhlah aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu meminta&amp;lt;i&amp;gt;ku&amp;lt;/i&amp;gt;? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih tak cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm…? &amp;lt;u&amp;gt;Masih tak cukup kuat&amp;lt;/u&amp;gt;, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya jaga-jaga,” aku berkata kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, iya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta kalau momen penuh kedamaian ini bukanlah apa-apa hanya menambah nyata untuk hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jari-jarinya mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah – aku sedang menghilang selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;lt;i&amp;gt;Terima kasih.&amp;lt;/i&amp;gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian –&lt;br /&gt;
Atsushi Kogure mati.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=510507</id>
		<title>Kamisu Reina Series (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=510507"/>
		<updated>2017-01-14T16:45:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Kamisu_Reina_1.jpg|200px|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; juga dapat dibaca dalam bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Kamisu_Reina_Series|Inggris]]&lt;br /&gt;
*[[Reina Kamisu ~ Français|French (Français)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kamisu Reina Series&#039;&#039;&#039; adalah serial &amp;lt;i&amp;gt;Light Novel&amp;lt;/i&amp;gt; yang ditulis oleh [[:Category:Mikage Eiji|Eiji Mikage]]. Serial ini terdiri dari 2 jilid yang berjudul &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&amp;quot; (Reina Kamisu Berada Di Dini) dan &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&amp;quot; (Reina Kamisu Tersebar Di Sini).&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- &#039;&#039;&#039;Tolong dicatat bahwa tidak ada komedi dalam serial ini, jadi mungkin cerita ini bukanlah selera Anda jika Anda penggemar kisah yang tidak berbobot.&#039;&#039;&#039; --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;p style=&amp;quot;max-width: 700px; font-size: 15px; line-height: 1.6em; font-family: &#039;Palatino Linotype&#039;, &#039;Book Antiqua&#039;, Palatino, serif; margin-left: 15px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 48px; line-height: 1em; float: left; margin-right: 5px;&amp;quot;&amp;gt;R&amp;lt;/span&amp;gt;eina Kamisu adalah teman para penyendiri, pembantai keluarga, penyelamat dunia, dan pembunuh kekasih — ia pun &amp;lt;i&amp;gt;begitu&amp;lt;/i&amp;gt; cantik. Siapakah dia dan apa tujuannya? Pencarian identitasnya yang sesungguhnya dimulai dari Fumi Saito, yaitu seorang pelajar kesepian, yang teman dan pendukungnya hanyalah Reina, dan dia menyalahkan hal-hal yang tidak dia lakukan...&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;display: block; margin: 5px 0;&amp;quot;&amp;gt;Ini adalah cerita tentang delusi, keputusasaan dan penghancur keindahan.&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Update ==&lt;br /&gt;
* 31 Desember 2016 - proyek dimulai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; oleh Eiji Mikage ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 1: Reina Kamisu Berada Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_1|Teks Penuh]]) ===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Fumi Saito|Bab 1: Fumi Saito]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure|Bab 2: Atsushi Kogure]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui|Bab 3: Shizuka Wakui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kazuaki Toyoshina|Bab 4: Kazuaki Toyoshina]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 2: Reina Kamisu Terpecah Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_2|Teks Penuh]])===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Yukimi Mitsui|Bab 1: Yukimi Mitsui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Ryoji Kamisu|Bab 2: Ryoji Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Sakura Kawai|Bab 3: Sakura Kawai]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Reina Kamisu|Bab 4: Reina Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Staf Proyek ==&lt;br /&gt;
=== Manajer Proyek ===&lt;br /&gt;
*[[User:Baka-Tsuki Update Indonesia|Baka-Tsuki Update Indonesia]]&lt;br /&gt;
=== Translator ===&lt;br /&gt;
*[[User:Ibnu Psycho|Ibnu Psycho]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link-link pendukung ==&lt;br /&gt;
* [http://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88%E3%82%B7%E3%83%AA%E3%83%BC%E3%82%BA Kamisu Reina article] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_Forms Theory of Forms] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://bookwalker.jp/series/9566/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88/ Buy the e-books] (BOOK☆WALKER)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Publikasi ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3238-5, December 2005&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3267-9, January 2006&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Help_talk:Administration_Contact_Page&amp;diff=510192</id>
		<title>Help talk:Administration Contact Page</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Help_talk:Administration_Contact_Page&amp;diff=510192"/>
		<updated>2017-01-10T23:13:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: /* Need Assistance */ new section&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
== Ongoing ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Alt. Language Projects with No Content in Pending Authorisation Category ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;div style=&amp;quot;border:2px dotted orange;padding:5px;&amp;quot;&amp;gt;This is a quick service announcement pertaining to project reclassification status:&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;&#039;There are a handful of Alt. Lang. Projects that have no translations uploaded WHATSOEVER.&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
::I left these questionable projects in [[:Category:Pending Authorisation]]. &amp;lt;small&amp;gt;(Mondaiji-tachi ga Isekai Kara Kuru Sou Desu yo (Italiano), Mokushiroku Arisu - Français)&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
::Theoretically, according to the new English conventions, these pages should be deleted if nothing is uploaded &#039;&#039;&#039;within a week&#039;&#039;&#039;. However, I&#039;ll leave it up to the Alt. Language Supervisors to decide what course of action to take with these projects, whether you want to officially give them extensions, or issue notifications, etc. This is just a memo so that we don&#039;t forget about them. --[[User:Cloudii|Cloudii]] ([[User talk:Cloudii|talk]]) 00:54, 31 May 2014 (CDT)&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
List of concerned projects updated. I&#039;ll delete them if I don&#039;t have anything regarding their activity. -- [[User:Misogi|Misogi]] ([[User talk:Misogi|talk]]) 07:10, 16 August 2014 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;span style=&amp;quot;color:red&amp;quot;&amp;gt;Registration &amp;amp; Login Issues on the Forum&amp;lt;/span&amp;gt; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If registration is impossible because of a &amp;quot;banned IP&amp;quot;, confirm the form again, use a different mail or a VPN to bypass this issue. This is caused by an IP ban range that is randomly changed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
For those who have troubles while logging on the forum, please refer to [http://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=16&amp;amp;t=10583 this thread].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[User:Misogi|Misogi]] ([[User talk:Misogi|talk]]) 05:03, 1 August 2014 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Download as PDF feature on wiki not working===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The download as PDF feature listed on the wiki sidebar is no longer working.  There is no estimate for when or if it will be fixed. You are welcome to check the [{{SERVER}}/forums/viewforum.php?f=73 &amp;quot;Appreciation &amp;amp; PDF&amp;quot; subforum] within &amp;quot;Auxiliary Brigades&amp;quot; forum for PDFs made available by general users.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== On Hold ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Shinonome Yuuko ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Shinonome Yuuko wa Tanpen Shousetsu o Aishite Iru]] will be upgraded to full project status, once one volume is finished. -- [[User:Misogi|Misogi]] ([[User talk:Misogi|talk]]) 05:03, 1 August 2014 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Imoutolicious LNT ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[The Indecent Relationship between Four Lovers]] and [[Queen&#039;s Knight Kael]] will be upgraded to full project status, once one volume is finished.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;lt;big&amp;gt;Projects needing approval:&amp;lt;/big&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Washio Sumi===&lt;br /&gt;
As per [[Baka-Tsuki:External Contributor Rules]], [https://archive.moe/a/thread/117209264/#117236196 permission for Washio Sumi Light Novel].&lt;br /&gt;
Link to all text:&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/post/116144248/&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/post/117090114/&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/117209264/#q117235814&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/117518875&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/117792620/#q117807123&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/117900925/#q117910907&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/118101546/#q118107664&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/118133302/#q118143289&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/118281570/#q118285149&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/118412524/#q118420919&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/118786200/#q118807470&lt;br /&gt;
*https://archive.moe/a/thread/120549205/#q120570039&lt;br /&gt;
[[User:746939454|746939454]] ([[User talk:746939454|talk]]) 00:55, 14 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;lt;big&amp;gt;Account Problems, Human Resources:&amp;lt;/big&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;lt;big&amp;gt;Site or project problems:&amp;lt;/big&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Recent Spam ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
what the heck with the recent spam? Could someone do something about it? -- [[User:LiTTleDRAgo|LiTTleDRAgo]]  ([[User_talk:LiTTleDRAgo|Talk]]) 12:25, 27 February 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Requesting to Propose A New Project Under A Translated Version of LN ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi and greeting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My name is Muhamad from Malaysia. I&#039;m currently studying undergraduate in United Kingdom.&lt;br /&gt;
During my spare time, I used to read Light Novels (LN) from Baka-Tsuki (BT) and my Japanese friend, who is in the same universities. I do enjoy reading both original and English-translated LN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Then, he said to me: &#039;Why not translating them into your Own Language (Malay)?&amp;quot; And here I am, quite to afraid to suggest it beforehand.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore, I would like to request your permission, and your approval to add another language-translated LN, that is Malay.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I know this is something new, but I would like to try it by means of translating it to my native language.&lt;br /&gt;
If possible, I would like to found this new project, so that people from my country and those who can read Malay appreciate more stories in LN by means of Malay language.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I will give it a try, and you could give me a response.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Here&#039;s my email: mujahidmuda13@gmail.com. Feel free to drop me a email, to ask any question.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you for your time reading this post, and also for your help and support.&lt;br /&gt;
I am looking forward to be part of BT community team.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regards,&lt;br /&gt;
Muhamad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
You&#039;re welcome to translate to other languages, though if you&#039;re translating from a translation (ie English) instead of the original language (likely Japanese), then it is considered good manners to ask the translator first. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:11, 8 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Unification of Series Overview sections ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As stated in the subject title, the release info in series overview sections should be unified. Some don&#039;t list subtitles in japanese, or some extra list the page count, other have totally different formats of date. The way the brackets or dashes are put are different from project to project. Please consider making a formatting rule for this information. --non∞ 14:31, 9 January 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
While I&#039;d say format unification is a generally a good thing, I don&#039;t think it&#039;s an urgent item. To implement this as a rule/guideline, it should probably be raised for discussion in the forums.  And then after discussion (aka the thread sits there for a week or two without anyone posting), it could be accepted as a new rule/guideline.  However, at that point someone would have to be motivated to go through and edit all the overviews, as well as enforce the rule for new projects; and it&#039;s probably true to say BT is lacking people to do such general upkeep. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 13:20, 12 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== External Project Request ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): Sousetsuka sousetsuka.blogspot.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Either Sousetsuka or this username is fine&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: Death March kara Hajimaru Isekai Kyusoukyoku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: &lt;br /&gt;
Listing one link to homepage in the main project page. The rest follow guideline for linked affiliation project.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: zweindrei@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Muryoku daga|Muryoku daga]] ([[User talk:Muryoku daga|talk]]) 01:26, 15 January 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Game Sensou ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello Sir,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I&#039;ve updated the Teaser Project &amp;quot;Boku to Kanojo no Game Sensou&amp;quot; and posted the complete Volume 1 as a external contributor of Kami Translation. Though I&#039;ve updated the &amp;quot;Staff section&amp;quot;, in the page, I don&#039;t know how to update the &amp;quot;Update Section&amp;quot; myself. the &amp;quot;Feedback thread&amp;quot; linked the forum is also Transferred to the Teaser Section of the Forums for now, if possible please check if I did something wrong or not and while you are at it, if found no error, transfer it from Teaser Project to the Main Project section.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...I still can&#039;t log into the forums myself...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
For the update section, simply follow the format as it is (if you have no idea of the dates, do give a rough estimate of when the volume is completed, at the very least--[[User:Teh Ping|Teh Ping]] ([[User talk:Teh Ping|talk]]) 01:04, 23 February 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Updated the TL, Update Section, Staff Section and the Series Information. The Volume 1 is completed while the Volume 2 Chapter 1&#039;s been added on 23rd.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Game Sensou marked as full project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:11, 8 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Shinmai Maou no Tesutamento supervisor ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shinmai Maou no Tesutamento needs a new supervisor can someone please fill in Shinmai Maou no Tesutamento is intense and epic&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If left blank, the default supervisor is Onizuka-GTO--[[User:Teh Ping|Teh Ping]] ([[User talk:Teh Ping|talk]]) 21:40, 24 February 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Unban request ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi, so, my brother&#039;s an idiot and got our IP banned (122.104.147.46 #49412) normally I&#039;d just wait out the period, but I&#039;d like to register as a translator for one of the new Mushoku Tensei chapters and by the time it runs out the volume will probably be over. I&#039;m asking this from my phone because it won&#039;t even let me make a reqest on the computer. I can vouch that he won&#039;t do it again so it would be greatly apreciated of you could lift the ban sometime soon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Done. -- [[User:LiTTleDRAgo|LiTTleDRAgo]]  ([[User_talk:LiTTleDRAgo|Talk]]) 02:51, 2 March 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Added New Teaser Project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Darkdhaos, have started a new project for &amp;quot;Ochitekita Ryuuou to Horobiyuku Majo no Kuni&amp;quot; and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Ochitekita_Ryuuou_to_Horobiyuku_Majo_no_Kuni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== External Contributor Request - Desolate Era ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, IEWatermelons, have started a new project for Desolate Era as an external contributor and have uploaded translations at www.worldofwatermelons.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): I Eat Watermelons (www.worldofwatermelons.com)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: IEWatermelons&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: Desolate Era&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: None&lt;br /&gt;
(i.e.: Minor typo corrections are okay, but Baka-Tsuki contributors shouldn&#039;t make stylistic edits)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: IEWatermelons@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IEWatermelons&lt;br /&gt;
March 4, 2015, 1:11 PM&lt;br /&gt;
--[[Special:Contributions/169.253.194.1|169.253.194.1]] 12:12, 4 March 2015 (CST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Spam in Recent Changes ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dear Administrators, There has been a lot of spam articles in the recent changes section as of late. Ranging from losing weight to getting various discounts, several things are being advertised. To frank, I don&#039;t want to read these kind of things on this site. It also appears that the same articles are being uploaded multiple times each day. It is so bad that the light novel updates I want to read/check are getting buried and hard to find. I am sorry if you didn&#039;t want me to tell you about this in this section, but I thought you should know about this issue. It is really annoying and I think this issue should be addressed soon if not immediately. Thanks again for running this awesome site, I hope this can help make it even better.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Recent changes in Polish HighSchool DXD ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I had some serious problems with my Internet connection when I decided to correct a typo, so I accidentally ended up with adding three revisions instead of one. Is there a possibility to remove two unneeded revisions from the history? I mean this page: [[High_School_DxD_-_Tom_1_prolog|http://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=High_School_DxD_-_Tom_1_prolog]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Extra revisions in the history aren&#039;t really a problem, so it should be fine as is. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:11, 8 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Request concerning licensed projects ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It would be cool if the series overviews were unlocked for all the licensed series so we could add both new JP and EN release information. Please. --[[User:Angelanime|non∞]] 12:42, 16 March 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cloudii fixed this by allowing transclusion from the talk pages. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:11, 8 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That&#039;s cool. I added those overviews. I&#039;ll udpate also the others licensed projects in the same way. DanMachi is already up. Following up will be Strike the Blood, Mahouka, Index, Tate no Yuusha, Seraph of the End, Durarara!!. These are not yet listed in the sidebar under abandoned, I hope you&#039;ll update it soon. :) --[[User:Angelanime|non∞]] non∞ 12:06, 9 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I did the same for DanMachi, StB, Mahouka, and Durarara!!.  Tate and Seraph aren&#039;t locked as of now, so I left those as is.  Index was already editable through Template:Toaru:Series_Overview.  For the projects not in abandoned on the sidebar, they will be moved out of the project categories and into the sidebar once all the translations on the pages are deleted, which should be no later than 2 months before the first English publication.  In Tate&#039;s case I don&#039;t think there&#039;s yet a consensus on what to do, so I can&#039;t say what will happen. Thanks for keeping things updated. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 18:49, 9 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project for Konjiki no Wordmaster in English ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, {Onemanleft}, have started a new project for {Konjiki no Wordmaster} and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: {https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Konjiki_no_Wordmaster}. --[[User:Onemanleft|Onemanleft]] ([[User talk:Onemanleft|talk]]) 17:01, 22 March 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah sorry, I didn&#039;t know that I had to obtain permission for linked translations. I have contacted them and I will post their permissions when they reply.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So I got the translator&#039;s permissions for hosting their links here on BT shown in the screenshots hereː &lt;br /&gt;
http://postimg.org/image/60avsw6f3/  &lt;br /&gt;
I don&#039;t know if postimage is fine for the proof. If there is any problems/things left to do, feel free to contact me. --[[User:Onemanleft|Onemanleft]] ([[User talk:Onemanleft|talk]]) 13:15, 23 March 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Updated link for translator&#039;s permissionsː http://postimg.org/image/wdrlxkr21/ --[[User:Onemanleft|Onemanleft]] ([[User talk:Onemanleft|talk]]) 15:30, 24 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== A new project: Divine Throne ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, totokkk, have started a new project for Divine Throne and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: Project Registration Page. --[http://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User_talk:Totokkk] ([[User talk:Totokkk|talk]]) 08:06, 17 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wanted to share it with the Baka-Tsuki community if they accept.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By the way this is the first time I try to register a project, if I forgot some steps or did some errors, is it possible to tell me so that I correct what I did not do well please?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Please, don&#039;t delete the user GardenAll ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Please, don&#039;t delete the user GardenAll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I know that I don&#039;t have edited anything in the past year, but I will to do so.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thanks!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:I clarified on user GardenAll&#039;s talk page that the account will not be deleted. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 18:23, 20 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Regarding the Yume Nikki Light Novel ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi. I&#039;m one of the two translators of the [[Yume_Nikki|Yume Nikki]] LN. Currently, it&#039;s a Teaser project. While we haven&#039;t translated a whole volume yet, considering it&#039;s a one shot and that we&#039;ve translated more than half, I would like to request for it to be raised to Full Project status, since otherwise, it won&#039;t reach it until it&#039;s finished, and personally, I would like it to receive some more exposure before then.&lt;br /&gt;
Thank you for your time.&lt;br /&gt;
--[[User:DreamlessWindow|DreamlessWindow]] ([[User talk:DreamlessWindow|talk]]) 18:39, 22 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
:Acknowledged. Yume Nikki has special permission to be recognized as a Full Project even though a volume has not yet been completed. --[[User:Cloudii|Cloudii]] ([[User talk:Cloudii|talk]]) 19:01, 22 April 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Request for externa contributor (ETL) for Italian translations few novels ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 21:43, 4 May 2015 (CDT)Hy I&#039;m I&#039;m writing from Italy. I&#039;m the founder of a novel&#039;s translation Group and I&#039;d like very much to post or link,whenever you like most my Italian translation on Bakatsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): [http://otakuyaoi.forumfree.it/ Kirishima&#039;s Land]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Kirishima zen, I&#039;m the founder of the Group&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: Maru - Ma, Kaze no Stigma, Tsukumodo Antique Shop, Rokka no Yuusha, Biblia Kashodou no jinken Techou, The Zashiki Warashi of Intellectual Village, Vamp! Etsusa Bridges Series, Ghost Hunt&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): I prefer Hosted but I&#039;m very bad in editing on Baka Tsuki so if anyone can host for me with credits to the Group it will be wonderfull, for Maru - Ma I&#039;m yet in conctact with the Project Maneger RedGlassesGirl for Host capters, so for Kaze no Stigma, if this is no possible here are the links&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70730632 Tsukumodo Antique Shop Volume 1 Prologo]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70725848 Maru-Ma Personaggi]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70725861 Maru-Ma Volume 1 Prologo]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70730801 Rokka no Yuusha Personaggi Volume 1]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70730851 Rokka no Yuusha Volume 1 Prologo]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70734664 Zashiki Warashi of Intellectual Village]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70725703 Biblia Kashodou no jinken Techou Volume 1 Prologo]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70720704 Kaze no Stigma Vol 1 Cap 1]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70720803 Kaze no Stigma Vol 1 Cap 2]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70721122 Kaze no Stigma Vol 1 Cap 3]&lt;br /&gt;
[http://otakuyaoi.forumfree.it/?t=70725287 Kaze no Stigma Vol 1 Cap 4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: If anyone can host the projects I&#039;d like only credits my tranlation group&lt;br /&gt;
(i.e.: Minor typo corrections are okay, but Baka-Tsuki contributors shouldn&#039;t make stylistic edits)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: kirishima_zen@yahoo.it or my profile discussions in Baka Tsuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acknowledged.  You may have to rely on fans to make project pages or transfer your hosted text; I don&#039;t think we have any Italian supervisors who can help directly. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:39, 4 May 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 22:26, 4 May 2015 (CDT)Thank you very much Kaze no Stigma and Maru-MA I asked to ReGlassesGril and Ayame for italian page, for the other projects I&#039;ve just send a message to every project manager for help to open italian page and host my tranlation. Only for Vamp! and Etsusa Bridges series I&#039;d need help. To host for me it&#039;s ok any editor who can host my tranlation. Someone may help me please?&lt;br /&gt;
I also started translate Tokyo Ravens, I&#039;ve just contacted the project Manager so I hope for you it&#039;s ok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I also started to translate Tokyo Ravens I hope for you it&#039;s ok --[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 02:30, 18 June 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Forum registration ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Since a few days I try to register to the forum and have all the time the same error message (picture below).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://uppix.com/f-Sans_titre5548b4930018e073.png&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I try with different PC, internet connection and email &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Can you help me ? :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
thank !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email : belaoui@hotmail.fr&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Request to upgrade &amp;quot;Queen&#039;s Gate&amp;quot; to full project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greetings, I, leecherboy, am assuming Project Manager responsibilities for [[Queen&#039;s Gate]], and I&#039;d like to request it be upgraded to full project, since I think it fulfills the requirements.[[User:Leecherboy|Leecherboy]] ([[User talk:Leecherboy|talk]]) 09:42, 10 May 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This request might sit for a while both because the MTL procedures are being revised at the moment and because administration is busy with some other restructuring at the moment.  However, there is a precedent with the early days of the Madan no Ou to Vanadis project that MTL chapters don&#039;t count towards the full project quota.  When the current rules were written, that was missing, but just a forwarning that it&#039;s possible a rule like that could be included in the upcoming revised procedures. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 10:06, 10 May 2015 (CDT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Registration Issues ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I want to host my translations for Ore Twintail Ni Narimasu. here on this website but your DNSBL is detecting my ISP as a proxy and is blocking me from doing anything on the Wiki. I actually had someone else register an account for me but I hadn&#039;t expected such oddly thorough security measures on a site like this. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I was then told your admins might be able to do something about the block if I contacted you guys through this form so here I am and here are my details:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My email is WoodsRunner@redchan.it, the registered account is Woods.Runner and you&#039;ve got my ip address(probably, pretty sure it&#039;s a dynamic one though). So you know I&#039;m serious, you can find a sample of my work here https://archive.moe/a/thread/125189114/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== gift: random steam keys ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8WD08-XHE8N-8HPR6 RACER 8&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MNRJ8-L9JGF-F58RV RADICAL ROACH DELUXE&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
LVWEF-W6Z2R-Y7NFF SHADOWS ON THE VATICAN ACT 1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
LXXD8-8V99F-P3D8M SWIPECART&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4Z6D4-L6GEZ-RIBLE THE CULLING OF THE CROWS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Just some random steam keys that i already have in my steam library. &lt;br /&gt;
I hope someone of the b-t team gets a few minutes of enjoyment out of them.&lt;br /&gt;
Thanks for your hard work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polish translation of Ore no Imouto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Flaria, have started a new project for Ore no Imouto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is [[Ore no Imouto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai PL|here]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I don&#039;t know why, but I can&#039;t register on Baka-Tsuki forum. When I click sumit on the registration page, it appear an error. I have tried register on my friend&#039;s computer, but there was the same problem. What should I do? --[[User:Flaria|Flaria]] ([[User talk:Flaria|talk]]) 13:53, 13 June 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
New PL project acknowledged.  For the forums, it&#039;s hard to know what the problem is without the knowing specific error message.  It might be that your IP address is listed as a spammer on one of the external spamlists, that happens now and again. So you should copy-paste the text of the error message that you get. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 15:03, 13 June 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== gak bs log in ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maaf gan kok gak bs log in. mksh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== False Clockwork Planet ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Excuse me, I think there is some uploading mistakes with the light novel &amp;quot;Clockwork Planet&amp;quot;. I have been an avid follower of this light novel translation and you should be aware that what has been recently uploaded is not clockwork planet. First off the translator of this light novel has not uploaded translations for volume 3 yet on his website http://hellping.org/. However, the recent translations are supposedly from the third volume. Second, the style is completely different from the &amp;quot;Clockwork Planet&amp;quot; novel (even when accounting for a different translator). The supposed chapters are much to short for &amp;quot;Clockwork Planet&amp;quot; and after the first chapter none of the main characters are even mentioned. I am glad that you are adding &amp;quot;Clockwork Planet&amp;quot;. That said, I believe everyone wants the correct version up. Again, you can find the translated version of &amp;quot;Clockwork Planet at  http://hellping.org/. There should be two complete volumes there. I hope this helps.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::There was something strange in that for a little while the v3 prologue was the copy of another series, but the current prologue should actually be Clockwork Planet.  So I think this is resolved. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:18, 3 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Skeith, have started a new project for .hack//Another Birth and uploaded some translations in Spanish. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Dot_Hack_~_(Spanish). --[[User:Skeith|Skeith]] ([[User talk:Skeith|talk]]) 09:11, 27 June 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Acknowledged. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:18, 3 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Juvenile Medical God ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi,&lt;br /&gt;
Greetings! &lt;br /&gt;
I&#039;d like to submit my request to place Juvenile Medical God under the Main Projects or at least advise what would be the requirements.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Please see below:&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): AsherahBlue&#039;s Notebook&lt;br /&gt;
https://asherahbluenotebook.wordpress.com/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: AsherahBlue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation:Juvenile Medical God&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: &lt;br /&gt;
(i.e.: Minor typo corrections are okay, but Baka-Tsuki contributors shouldn&#039;t make stylistic edits)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information:&lt;br /&gt;
asherahblue@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sincerely,&lt;br /&gt;
AsherahBlue&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::With just a few chapters, Teasers_(English) might be better for it.  However, admins are working on a WN policy, so things are likely to change.  At the least there will be a new Web Novel category, but possibly the new policy might prohibit linked only WNs, so it&#039;s hard for me to enthusiastically take action on this when things are in the middle of being decided.  However, if you wanted to add the Teasers_(English) category at the moment, the links should at least be organized like other projects (with a bullet point list). --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:18, 3 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== External Project Request ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi, guys.&lt;br /&gt;
So, I kinda tried to continue translating Kenkoku no Jungfrau from where it left off in Baka-Tsuki, and finally managed to finish chapter 3. Therefore I&#039;m wondering whether I can have this project as a linked project in Baka-Tsuki. Here&#039;s the request form, and if I&#039;m missing something you can contact me. Thanks a lot!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): Blanca&#039;s Blogging Block (https://blancabloggingblock.wordpress.com/)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Blanca&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: Kenkoku no Jungfrau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type: linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: not really sure about this, but I guess to just tell me whenever there&#039;s something anyone think worth editing. I&#039;m also learning from it, so it&#039;ll be nice to know what I did wrong :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: mediablanc@hotmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Should be fine to go ahead with it. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:18, 3 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Turkish Translation of Utsuro no Hako to Zero no Maria ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, LoyalBlue, have started a new project for Utsuro no Hako to Zero no Maria and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: [https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Utsuro_no_Hako_to_Zero_no_Maria_(T%C3%BCrk%C3%A7e)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Good luck. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:19, 8 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Requesting [[Utsuro no Hako to Zero no Maria (Türkçe)|HakoMari (TR)]] approval to full project. I have met all requirements:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*2 Volumes fully translated. (So far)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Project Overview Page including:&lt;br /&gt;
**Registration Page&lt;br /&gt;
**Staff Section&lt;br /&gt;
**Recent Updates Section and Updates Page&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:LoyalBlue|LoyalBlue]] ([[User talk:LoyalBlue|talk]]) 10:35, 14 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Looks good.  Removed Pending and Teaser Categories (was already in &amp;quot;Light Novel&amp;quot; category, so it&#039;s not much of a change). --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 22:41, 14 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Permission to view web novel postings on Forum, Major concerns. ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My name is john34404 on both parts of the site and I want access to the web novels section on the forums. This is due to me adding evil god average, xin Ni (still not sure if its a web novel or light novel), and Dragon life to the listings.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With the new rulings on Web Novels I will need to ask additional permissions from not only the translators, but also to the baka-staff. This is due to the current translation projects currently being done usually will be dropped (Whole sites even) if the site receives no hits for the project.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I understand that it would be more convenient for baka-tsuki to host the projects, especially for the app, but a small revision to where currently translating projects have a wait/separation time until the text version is needed for the site would be better for baka-tsuki due to the willingness of access from translators.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It will be a lot easier getting permission for completed sections (or whole works) than it would be for the most current text of a currently translating work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If the translators get no gain/feedback from this site they will just not give this site permissions to works and this site will likely become very small or unused. I use unused because the new Web Novel decision will make it hard to use the site and new sites may be made, due to the newer harder rules and regulations.  --[[User:john34404|john34404]] ([[User talk:john34404#top|talk]]) 11:41, 21 July 2015 (CMT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*Thank you for making us aware of the issue with the WN forum being locked.  Someone who can fix it might not have the time to fix it immediately, but the process has started.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::As a note, the intent is for web novel approval to be for translators themselves, as I expect there to be questions directly for the translator in the approval process.  If the translator is just granting permission and doesn&#039;t really care one way or the other, then I think it&#039;s better just to leave it on their blog. It is true that Baka Tsuki will not be keeping up with tracking the various web novels sites, however there are already other sites (like Aho, or reddit) that are much more comprehensive with regards to following web novels.  Baka Tsuki will keep its focus more on Light Novels. As a note, a back and forth discussion is likely more appropriate for the forums. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 03:39, 22 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*Posting/viewing permissions for the web novel subforum should now be fixed. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 04:13, 22 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you for the quick response. --[[User:john34404|john34404]] ([[User talk:john34404#top|talk]]) 9:12, 22 July 2015 (CMT)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Please restore my translator and editor rights ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dear Baka-Tsuki staff.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I&#039;m leader of Vietnamese translation of CLANNAD (see [[CLANNAD ~Vietnamese~]]). I request to restore my translator and editor rights for continue working on this project. See log rights [http://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special%3ALog&amp;amp;type=rights&amp;amp;user=&amp;amp;page=User%3AMinhhuywiki&amp;amp;year=&amp;amp;month=-1&amp;amp;tagfilter=]. Thank you in advanced. --[[User:minhhuywiki|&amp;lt;font color=&amp;quot;green&amp;quot;&amp;gt;&#039;&#039;&#039;minhhuy&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/font&amp;gt;]] &amp;lt;sup&amp;gt;([[User talk:Trần Nguyễn Minh Huy|talk]])&amp;lt;/sup&amp;gt; 07:48, 22 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*User groups restored. Welcome back, --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:13, 23 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tran ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi I would like to help translate the novel Rogue hero but I do not no how&lt;br /&gt;
To send it to you do you guys have a email that I can send the translated &lt;br /&gt;
Chapter to you can contact me here thomasfoster690@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:*Hello. You shouldn&#039;t need to send the translated chapter, unless you translated it with a machine translator, in which case you should post it [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewforum.php?f=85 in this forum].  If it&#039;s not a machine translation, then just go to the project page, click on a red link, and post your page there.  Though it should be a chapter that no has registered for.  See [[Baka-Tsuki:Project_Conventions#Joining_a_Project|this page for details on joining projects]]. If you&#039;re more comfortable using the forums, then you can post it [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=23&amp;amp;t=5522 here in the project thread] and someone might help you transfer it to the wiki. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:31, 23 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== External Translation Group Affiliation ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi, I&#039;m the owner of an brazillian group of novel translators(http://mundodasnovels.blogspot.com.br/).&lt;br /&gt;
I would like to link the portuguese translation here to more people reach my site. Yes, we&#039;re a new group.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link):&lt;br /&gt;
Mundo das Novels&lt;br /&gt;
http://mundodasnovels.blogspot.com.br/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Kirio&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: Shinmai Maou no Keiyakusha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: mundodasnovels@outlook.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Unfortunately baka-tsuki can not accept this linked project as your blog has a donation system for extra chapters, which would violate our commercial activity policy ([[Baka-Tsuki:External_Contributor_Rules#General_Rules|link]]).  Others including you obviously feel differently, but the majority of BT contributors and admins feel strongly against money making activity associated with someone else&#039;s intellectual property, which is the reason for the policy. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 19:07, 25 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== ETL Italian Affiliation and Translation, Request Pages ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hy, previously I asked here permission for ETL italian tranlations of these novels: &#039;&#039;&#039;Maru - Ma, Kaze no Stigma, Tsukumodo Antique Shop, Rokka no Yuusha, Biblia Kashodou no jinken Techou, The Zashiki Warashi of Intellectual Village, Vamp! Etsusa Bridges Series, Ghost Hunt and Tokyo Ravens&#039;&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
You agreed and told my to find a project maneger and an editor, so I&#039;ve done but only for Tsukumodo Antique Shoop and Maru-MA the project manager answered me and make an italian page for the project. &lt;br /&gt;
Aniway here is my translation group [http://otakuyaoi.forumfree.it/ Kirishima&#039;s Land]&lt;br /&gt;
I asked to editors or project manager of all these novel but nobody answer me except for Kaze no Stigma one time and no moore.&lt;br /&gt;
Now in my group we are going on to translate and for exemple for Kaze no Stigma we ave yet the first volume translated.&lt;br /&gt;
Can you please help me to find someone who can help me? --[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 20:41, 28 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Unfortunately I don&#039;t think we&#039;ll be able to find someone to directly help you (at least I won&#039;t be able to, maybe someone else will comment that can).  If we had an Italian supervisor, I might refer you to them, however we don&#039;t, so I don&#039;t have anyone in particular.  The best thing I&#039;d recommend would be to post in the [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewforum.php?f=29 Alternate Language forum] and ask for help there, but I&#039;m not sure how many Italian users visit the forums.  You may have to learn how to create the pages yourself. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:02, 30 July 2015 (UTC) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I&#039;ve yet script in the alternative language forum but nobody answered me. I also can learn but you can please link me a tutorial how to create a page? Also I&#039;m an ETL I can manage a page? I want anything accord the rules so please tell me how I have to do, thank you very much^^ --[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 12:16, 30 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Anyone is allowed to create project pages; and projects don&#039;t need project managers, you can just leave it blank.  There are no detailed guides specifically for BT, but you can google to look up general instructions for wikis (such as [https://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Tutorial eng wikipedia:tutorial]).  It&#039;s typically easiest to copy another page (ie another Italian project) and replace the old information/links for the one with the new project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:28, 30 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you very much so I can create a page and link there my group translation, right? Then the project is teaser until fullify all your request, do understand well?--[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 01:49, 31 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Yes, you can add links as long as your site doesn&#039;t break any of rules for externals ([[Baka-Tsuki:External_Contributor_Rules#General_Rules|link]]); for example, as long as the site isn&#039;t engaged in commercial activity (take &amp;quot;donations&amp;quot; for the translation), and doesn&#039;t host Italian projects for novel series that are licensed/released by an Italian publisher.  When making the page, just follow the general format of other projects.  The convention for English projects is that it is no longer a teaser once 1 full volume is translated; the alternate languages aren&#039;t always as organized in that regard, but that&#039;s what I&#039;d recommend. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:02, 31 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you very much, yes we have these requisites, we don&#039;t ask donations for traslatione, we don&#039;t ask donation at all, and we are translating only novels that are not edited in Italy, if any novel we are translating will be published in Italy we support italian editors and translators and putt off our translation from my site. --[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 13:46, 31 July 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorry I&#039;m here again, I start to create italian page like you said my but for Tokyo Ravens and Rokka no Yuusha italian translation these tread are put in english novels and not in italian novels, I don&#039;t know why or what can I do so I ask you if I can make something or you put the tread in Italian novel...If I make a mistaky I&#039;m very very sorry--[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 01:08, 1 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fixed.  The key line was &amp;quot;Light novel (English)&amp;quot; should have been &amp;quot;Light novel (Italian)&amp;quot;. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:55, 1 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorry for the late answer, I&#039;ve finished to make all the page as ETL project and Group, I undersood where I was wrong. Thank you very much for you&#039;re help.&lt;br /&gt;
My Group had started translate also &#039;&#039;&#039;Gekkou, Heavy Object and Golden Time&#039;&#039;&#039; so I ask you the permission to make a page also for these novels.&lt;br /&gt;
Like I said before my Group is fit with your policy and rules, I want to tell that we translate also novel yaoi but for Italian policy and laws we put these translation under previous abilitation that is given only to users that are over eighteen years old. &lt;br /&gt;
I want you to know this because we are very serious about our work and our policy. --[[User:Kirishima Zen|Kirishima Zen]] ([[User talk:Kirishima Zen|talk]]) 22:56, 19 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Zero no Tsukaima ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi I want to register as an editor. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I plan to do major rewrites from ZnT volume 7 onwards to correct some of the bad grammar and machine translation present.&lt;br /&gt;
I&#039;ve read on wiki I&#039;m required to register for major edits, is this the correct place to register? - [[User:Iro Daijoubu|Iro Daijoubu]] ([[User talk:Iro Daijoubu|talk]])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Answered on user talk page. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:34, 8 August 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Papa no Iu Koto o Kikinasai! Abandoned ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello Administration!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I have monitored the [[Papa no Iu Koto o Kikinasai!]] project for over a year and it&#039;s been at my attention that the current Project Manager, [[User:Onizuka-gto|Onizuka-GTO]], has not been around the PapaKiki project for some time. I&#039;ve done a little research and I&#039;ve noted that he hasn&#039;t responded to requests on his talk page on if the PapaKiki project has been abandoned or not. I understand being a head of Baka Tsuki is a big time commitment, so I can understand how this could have happened.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are contributors who wish to translate but would like some guidance/assistance on how to go about their roles. There are some who don&#039;t want to step on any toes and don&#039;t wish to start translating until receiving the OK.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I request to oversee this project until Onizuka-gto returns or I am considered a valid permanent project manager. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you for your time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Shanesan|Shanesan]] ([[User talk:Shanesan|talk]]) 15:32, 14 August 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Replied on user talk page. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 23:24, 14 August 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== kokoro connect please ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hi my name is hassan I am from morocco &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sorry ,but I just need to know if you&#039;re going to continue with the translation of kokoro connect please&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
please answer me here hassanelgarni5@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Answer can be found [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=79&amp;amp;t=10428 here]. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:21, 4 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==misc question==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi I was wondering if someone could translate these chapters into English of Akuma no Ichigo because there appears to be only chapter 1 and 2 translated in English and rest is not http://iutruyentranh.com/truyen/7258-Akuma-No-Ichigo/c003.html?id=140704&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Admins don&#039;t decide what gets translated, every translator decides what they want to translate themselves, so nothing I can do there. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 22:58, 17 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==New project==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Katsuudon, have started a new project for Houkago no Pleiades: Minato no Hoshizora and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Houkago_no_Pleiades:_Minato_no_Hoshizora. --[[User:Katsuudon|Katsuudon]] ([[User talk:Katsuudon|talk]]) 17:55, 17 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cool. Good luck. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 22:58, 17 September 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== College IP blocked ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Currently I&#039;m a student at the Georgia Institute of Technology in Atlanta, Georgia, United States. I decided to join the Baka Tsuki community today, however probably due to my location, perhaps people that accessed the site in previous years, my IP address is blocked. I was wondering if there is any administrative workaround that you would be able to apply on your end to allow me to construct an account.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thanks,&lt;br /&gt;
Prodox&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It looks like a user account was created with the user name you signed with, so I assume the problem went away?  If not, it would be helpful to see the exact blocking message it gives you when trying to create an account. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 03:28, 6 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Psycho Love Comedy ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I apologize for sending my request through wrong channel.&lt;br /&gt;
But please hear me out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It came to my knowledge that yen press has licensed the Psycome series due to which it has been taken down from baka-tsuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I am a really big fan of Psycho Love Comedy series and have read all the three volumes and was waiting a long time to read volume 4 which you took almost a year to update on the app and site and was really eager to read it when i got time i even downloaded it and saved it so i could read it with peace and savoir all the contents.&lt;br /&gt;
But i lost that phone and the data and now when i got time and wanted to read the 4th volume, it had already been taken down and i searched a lot on net before writing to you, but i was unable to find any backup or copy of that volume in any format.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
For the first time i felt a strong despair and a strong hate towards Yen Press as i lost all means to get to read my favorite series.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Even in my job interview i told them that i read books and light novel and this is the one i am fond of and also told them the review and summary of the series enthusiastically.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And yen press will be releasing the series in Feb/March of 2016, which is a long time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As my last hope i thought of asking you if by any chance you could provide me with pdf, epub or even html version of the forth volume.&lt;br /&gt;
So i could finally continue on with the series. I already know full well that your hands are tied too. But please consider my request.&lt;br /&gt;
And i promise i won&#039;t distribute it to anyone or post it on any site or even share it with any of my friends or peers(not that they have any interest in light novels).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I would be indebted to you please please if by any possibility you could help me in this i will really appreciate it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
with gratitude, Thanking you &lt;br /&gt;
Harpreet&lt;br /&gt;
harpreet.sethi89@gmail.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:-Sorry, not a relevant question for admin contact page, and requesting abandoned content is generally against the rules on the site. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:11, 28 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rakudai kishi no eiyuutan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder if there is a forecast for the translation of Volume 4 of Rakudai Kishi in Eiyuutan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:-Sorry, not a relevant question for admin contact page, and asking when updates are coming is generally against posting rules on the site. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:11, 28 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tenkyou no Alderamin in alt. language  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, {Tamlin}, have started a new project for {Tenkyu no Alderamin} and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: [[Tenkyou_no_Alderamin-Thai_version]]. --[[User:Tamlin|Tamlin]] ([[User talk:Tamlin|talk]]) 14:14, 27 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
Look like my registration not finish due to my IP become blacklisted so I can&#039;t fallow the rule said I have to post thread in Alt language forum, despite that I somehow can create page and post my translation. I&#039;m sorry for not adapt to baka-tsuki rules completely. If you have some advice,please tell me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:-OK.  I updated the language category from English to Thai on the wiki, but it should be good otherwise.  For the forums, it&#039;s not critical to create a thread, so that part is not a big problem, but being blocked from accessing the forums is a problem I&#039;d like to try to fix if possible.  If you could post (copy-paste) the exact message you get here, or you should be able to post in this [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=79&amp;amp;t=7251 thread] without an account, then it will help trying to figure it out. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 00:11, 28 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Battle through the Heavens in Spanish - New Project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Sushimoto, have started a new project for {Battle through the Heavens in Spanish} and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: [[BATTLE_THROUGH_THE_HEAVENS]]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I am translating this series on my own all the information is on the chapter is link to my site.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Project Manager Appointment ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Sushimoto, am assuming Project Manager responsibilities for Battle through the Heavens. &lt;br /&gt;
All active members of the Project Staff endorse this nomination. --[[User:Sushimoto|Sushimoto]] ([[User talk:Sushimoto|talk]]) 15:03, 31 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:-OK, but external contributors (people who post their translations on sites other than BT and only post links) aren&#039;t really supposed to be project managers on BT.  That position is really supposed to be for someone who wants to post their translation text (not just links), but it doesn&#039;t matter as long as that doesn&#039;t happen. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 17:00, 31 October 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project-Imouto Sae Ireba ii ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Rishiki, have started a new project for Imouto Sae Ireba ii and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Imouto_Sae_Ireba_ii. --[[User:Rishiki|Rishiki]] ([[User talk:Rishiki|talk]]) 22:58, 12 November 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:-Great! Good luck with the project.  --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:16, 13 November 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Web Novel : Seijo-sama ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
About this. [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=86&amp;amp;t=12801 Web novel Forums] . The link to the site is there. I&#039;m not a fan. This is a translation by me and a friend. Would like to host it directly on BT and link it to my site too. --[[User:Ways|&amp;lt;span style=&amp;quot;color:green;font:bold 10pt kristen itc&amp;quot;&amp;gt;TheCatWalk&amp;lt;/span&amp;gt;]]  08:59, 23 November 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== IP supposedly banned for &amp;quot;spam&amp;quot;? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi, Baka-Tsuki supervisors.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Recently, I made some changed to the page &amp;quot;https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Hai_to_Gensou_no_Grimgal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I also wanted to add a picture of the third volume, but since I did not know how to do so, I went to register at your forums to ask other members how to upload a file to your servers. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
To my surprise, it said that my IP is blacklisted, and gave me two sites on which I was blacklisted - http://www.uceprotect.net/en/rblcheck.php?ipr=79.177.170.242 and http://www.sorbs.net/lookup.shtml?79.177.170.242.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Neither of these sites mention the reason or places in which I have spammed, nor do I have any memory of doing such. Is it possible to unban me, or at the very least, tell me where exactly I have done so?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I would greatly appreciate it if you reply. If it&#039;s more convenient for you, you can mail be at &amp;quot;arizxc@gmail.com.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sincerely,&lt;br /&gt;
Ari B (xland44)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Replied on [[User_talk:Xland44|user talk page]]. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 14:43, 6 December 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New project Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, FirstAidTent, have started a new project for &amp;quot;Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de&amp;quot; and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Inou-Battle_wa_Nichijou-kei_no_Naka_de.&amp;lt;br/&amp;gt;&lt;br /&gt;
I would also like to request to re-categorize the [https://www.baka-tsuki.org/forums/viewtopic.php?f=15&amp;amp;t=10805 &amp;quot;Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de&amp;quot;] thread in the Future Project Suggestion Forum to the Teaser Board. --[[User:FirstAidTent|FirstAidTent]] ([[User talk:FirstAidTent|talk]]) 15:41, 6 December 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Forum move done.  Good luck with your new project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 16:20, 6 December 2015 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Good Evening, want to become a german Translator for you guys ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Good evening. I am new to this wonderful site, but registrated right away. Getting to the point, I would really love to do translation work on Mushoku Tensei, translating it from English to German. But I have no idea how or wether I may do it. So.. what do I have to do to help your site?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Short instroduction of mine: I don&#039;t read light novels regulary, but I happened to get Mushoku Tensei in my hands and it&#039;s whole world absorbed me for mere two weeks of my life. While learning, eating, sleeping or working I did nothing else despite for holding onto my Kindle. So after I finished reading 5 months ago, I am still inspired by doing some translation on my own. I am german and want to try my best to open Mushoku Tensei to other people here. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I work very late till late evening, but will use my free time for translating.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greetings Pandabro&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Btw. how can I show you guys some of my work?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*You don’t need to show anyone a sample.  BT is an mostly an open community, so everyone starts and manages their own projects themselves.  Administration mostly just tries to keep things organized is all.  So I suggest you translate the text from the English project page and [[Mushoku_Tensei_(German)|make a German page here]].  Also, any time “&amp;lt;nowiki&amp;gt;[[&amp;lt;/nowiki&amp;gt;Mushoku Tensei:” appears in the project page, you should replace it with “&amp;lt;nowiki&amp;gt;[[&amp;lt;/nowiki&amp;gt;Mushoku Tensei (German):” for the German page. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 20:59, 9 January 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Using link and making a new page - I am confused ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello guys, it&#039;s me again.&lt;br /&gt;
I wanted to do a link to my german translations for Mushoku Tensei on the english wiki link for alternative languages, but the link became red.&lt;br /&gt;
So I wanted to ask if anyone would know how to make a link for my contributions on the english wiki side?&lt;br /&gt;
And do I have to retranslate the whole wiki page in german too?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hope somebody could help me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greetings Pandabro&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Yes, you should translate the wiki project page to German and post that [[Mushoku Tensei (German)|link]] above (where you currently posted the prologue), and then move the prologue to a page named like [[Mushoku Tensei (German):Volume 01 Prologue]] (you could translate &amp;quot;Volume&amp;quot; and &amp;quot;Prologue&amp;quot;, or just leave them as English in the page name).  When translating/copying the wiki project page, you don&#039;t need to do everything, just delete the links for volumes you&#039;re not working on right now (and change any “&amp;lt;nowiki&amp;gt;[[&amp;lt;/nowiki&amp;gt;Mushoku Tensei:” to “&amp;lt;nowiki&amp;gt;[[&amp;lt;/nowiki&amp;gt;Mushoku Tensei (German):”). --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:27, 10 January 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== I am so sorry ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hey, I know I am being a pain in the ass. But I still don&#039;t get how this side works.&lt;br /&gt;
First of all. How do I start new sites for every volume of mine like you did for my epilogue.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2nd Q.: How do I create a new project side like the wiki for Mushoku Tensei. I have read the &amp;quot;Project_Overview_Page_&amp;quot; rules, but I dont know how to create this or redo it like the original english one with pictures and so on...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yea... I hope that was all from me for the tiem being..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you very much for the help so far. I really want to do something great with your efforts :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greetings Pandabro&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*You can just copy the English one and translate it.  You can look at the text in the &amp;quot;Edit&amp;quot; version of pages to see how things like adding images or links are done and then use the same format on your page.  [[Mushoku_Tensei_(German)|I started you out by copying the English page and updating the links]], but you should translate the English into German, and copy your prologue onto the new page ([[Mushoku Tensei (German):Volume 01 Prologue]], click the red links and then create to make new pages). --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 17:15, 10 January 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Linked project Tenkyou no Alderamin, starting from Ch2 ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name (with link): helidwarf.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Helidwarf&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Tenkyou_no_Alderamin&lt;br /&gt;
starting from chapter 2 translated here http://helidwarf.com/alderamin-on-the-sky/chapter-2-various-problems-of-the-northern-region/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Does Your Group Use Machine Translation or Machine-assisted Translation Tools? If yes, elaborate: No (rarely used to look up words I didn&#039;t know how to say in English = not native english speaker)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Describe the Source Material Your Translation Group Uses: Light Novel, Chinese, official published version by Kadokawa Taiwan https://www.kadokawa.com.tw/p1-products_detail.php?id=498erBFADGYOBv5jMlL3E8J8JGYIAtf8lIqh6WrTqnj0&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: I don&#039;t really know how this works since it&#039;s linked but I am looking for editors so all contributions are fine.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information: helidwarf(at)outlook.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Oda Nobuna no Yabou ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are multiple pages missing from this series. While chapters are missing, as well as illustrations. Please remedy this.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Account Creation IP Blocked ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hey. I&#039;m trying to make an account, but it says my IP is flagged for being used as a proxy. Specifically, it says:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Your IP address is listed as an open proxy in the DNSBL used by Baka-Tsuki. You cannot create an account.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I am on a university connection, but I do not use a VPN or anything like that. Maybe the entire range has been flagged because someone else on campus ran an exit node, or something? I&#039;m not sure. Anyways, I&#039;m wondering how I can make an account given this restriction.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheers,&lt;br /&gt;
@qhp [[Special:Contributions/128.227.159.16|128.227.159.16]] 05:58, 5 February 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saw the memo at the top and made an account from home. - qhp 23:41, 7 February 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project: Maoyuu Maou Tuusha (Italian) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, NovelMangaGeneration, have started a new project for Maoyuu Maou Tuusha and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Maoyuu_Maou_Yuusha_-_Italian --[[User:NovelMangaGeneration|NovelMangaGeneration]] ([[User talk:NovelMangaGeneration|talk]]) 20:35, 22 February 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Report vandalism ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
User Darkmarcos12 has been repeatedly vandalizing both the English and Spanish pages of Gekkou, as shown in his contribution log:&lt;br /&gt;
https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Darkmarcos12&lt;br /&gt;
--[[User:Kemm|Kemm]] ([[User talk:Kemm|talk]])&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blocked.  ty --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 15:49, 30 April 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Current/Upcoming Anime sidebar ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Current/Upcoming Anime sidebar could be updated a bit:&lt;br /&gt;
* The [[Saekano]] does have a second season airing this year, but... it was a teaser linked project that got DMCA&#039;d at nanodesu, so I guess it should be removed?&lt;br /&gt;
* In it&#039;s place, you can put [[Masou Gakuen HxH]], which airs in july.&lt;br /&gt;
Thanks, [[User:RS|RS]] ([[User talk:RS|talk]]) 16:04, 7 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Done. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 16:30, 7 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project: The Reunion With Twelve Fascinating Goddesses (Spanish)  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Darkdraig, have started a new project for The Reunion With Twelve Fascinating Goddesses (Spanish) and uploaded some translation. The link to the project overview page is here: [[https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=The_Reunion_With_Twelve_Fascinating_Goddesses_~_(Spanish) | The Reunion With Twelve Fascinating Goddesses(Spanish)]] so I&#039;m asking to approve my new project since It&#039;s already vol 1 full translated and also I am assuming Project Manager responsibilities for The Reunion With Twelve Fascinating Goddesses (Spanish). All active members of the Project Staff endorse this nomination. --[[User:Darkdraig|Darkdraig]] ([[User talk:Darkdraig|talk]]) 16:41, 15 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:OK. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:27, 20 July 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Italian Projects ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, novelmangageneration, have started a new project for:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;1. Baka to Test to Shoukanjuu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;2. Maoyuu Maou Yuusha, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;3. Mushoku Tensei - Isekai Ittara Honki,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;4. Re:Monster&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Baka_to_Tesuto_to_Syokanju_-_Italiano&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Maoyuu_Maou_Yuusha_-_Italian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Mushoku_Tensei_(Italian)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Re:monster&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
novelmangageneration--[[User:NovelMangaGeneration|NovelMangaGeneration]] ([[User talk:NovelMangaGeneration|talk]]) 15:01, 18 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Account Help  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Would you be able to help me delete my bakatsuki forum account and all the posts associated with it?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The username is &amp;quot;vermiliongrey&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Unfortunately, I forgot the password and I don&#039;t have the email to reset the password. However, I can verify my identiy through this cookie trail: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My profile here:&lt;br /&gt;
https://www.mangaupdates.com/groups.html?id=4947&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
leads to:&lt;br /&gt;
https://www.twitter.com/vermiliongrey&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
and I can contact you somehow via that twitter account if you need. You can contact me via that twitter account or at y (a) whitegrey (dot) co&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thanks&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Vermiliongrey|Vermiliongrey]] ([[User talk:Vermiliongrey|talk]]) 03:36, 19 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I don&#039;t personally have the ability to delete the account itself; I could delete a few specific posts for a good reason (such as sensitive personal information, you can send a private message if that&#039;s the case), but that&#039;s all I&#039;ll personally do.  Someone else may have more moderator rights and/or time. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 03:58, 19 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Error  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The book creater keep reporting error, please fix that.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Log in ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;strike&amp;gt;After the maintenance, I was immediately logged out and I can&#039;t seem to be able to log in again.--[[Special:Contributions/127.0.0.1|127.0.0.1]]&amp;lt;/strike&amp;gt;&lt;br /&gt;
:Fixed. There may or may not have been a problem that was fixed by resetting the password.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== mobile devices  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
unable to view website in mobile devices says ssl connetection page fail never happened before.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
You were trying to view the website through a typical browser on a mobile device (not the bt android app)?  I was able to view the site fine on both mobile devices I tried.  I might try the generic advice of clearing your cookies/cache, but I&#039;m not really sure if that&#039;ll help. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:55, 23 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Masou Gakuen HXH ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
in the smartphone application looked like bitmap was empty&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== connection issues ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
since new maintenance on site has been completed I have been unable to connect to baka tsuki on my mobile devices. it says ssl connection failed the devices worked fine before to view site but now not so much as a home page  for other websites when I try  going to them they work I&#039;ve tried to see what I could do on my end to fix but to no avail everything&#039;s green connectivity to access point router an connection to the net I just cannot connect to the site on device so I do not understand. thank you for your time reading&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== BakaReader Ex fails to update ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The android app fails to update the novels after the recent maintenance.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorry to sound like a broken record... but, recently the app hasn&#039;t been updating itself with new chapters or their subsequent updates. I think it may need to be updated again.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Can&#039;t access the site ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So for some reason I can&#039;t access the site with my 3DS or my Wii U. I can with my PC and my phone but with my Nintendo devices no. If this can help my 3DS gives the error 012-1004 and my Wii U 112-1035.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Please also delete this page (Gekkou Vietnamese) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Please delete [https://baka-tsuki.org/project/index.php?title=Gekkou:Volume_1_Viet| This one], this is also a part of Gekkou Vietnamese, which I forgot to tell you to delete.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:My2ndAngelic|My2ndAngelic]] ([[User talk:My2ndAngelic|talk]]) 06:43, 24 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Done. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:53, 24 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== may want to check certificates I was trying to get on to site and got the text box can not be displayed ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When trying to get in to the www.baka-tsuki.org site received message: The page cannot be displayed because the Web site cannot be authenticated.&lt;br /&gt;
* Are you using Windows XP or the older version of Windows?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== http fetching error ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
it&#039;s can&#039;t update novel please help&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Novel Illustrations cannot be fetched in app ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello admins ^_^ Thank you for working hard.&lt;br /&gt;
I&#039;m currently reading Baka to Test to Shoukanjuu and I noticed that the novel illustrations cannot be fetched from the app. It&#039;s still there when I check your website but I cannot access/fetch it in the app. Thank You :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== /* Archive Baka-Tsuki */  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello, &lt;br /&gt;
I&#039;m from Archive Team [http://www.archiveteam.org/index.php?title=Main_Page archiveteam]&lt;br /&gt;
We are a loose collective of rogue archivists, programmers, writers and loudmouths dedicated to saving our digital heritage. It has came to our Notice that Several time there have been brink of Take-Down and offline requests on Baka-Tsuki website. So as a number of requests from ongoing users at our site to archive Baka-Tsuki and save it for future. We thought to contact you.&lt;br /&gt;
We want to archive this website which is intended to be an offloading point and information depot for a number of archiving projects, all related to saving websites or data that is in danger of being lost. Besides serving as a hub for team-based pulling down and mirroring of data, this site will provide advice on managing your own data and rescuing it from the brink of destruction.&lt;br /&gt;
So, I request all the Administrator here to provide us following:&lt;br /&gt;
1.  Provide the text backups of all of your articles of this website. &lt;br /&gt;
Along with images backups&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
P.S: Paradically publish full text backups of Baka-Tsuki for mirroring and archiving purposes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thanks,&lt;br /&gt;
Archive Team&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Not that I&#039;m necessarily the final voice or anything, but since I&#039;m usually the one to respond on things to this page, I&#039;ll give my opinion.  An archive/mirror would have been a lot more important when we weren&#039;t sure if we would be able to stay online because of server host issues; that was at the beginning of the year, which may be part of the reason you received requests.  We&#039;ve since resolved those issues and will stay up, so I don&#039;t think it&#039;s as relevant anymore.  In fact, there are a couple of reasons I personally would prefer there was not a mirrored/archived version.  --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 07:37, 28 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Error 502: Bad Gateway when accessing the &amp;quot;Sekai no Owari no Encore&amp;quot; translation page ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I cannot access the project page of &amp;quot;Sekai no Owari no Encore&amp;quot; and displays this: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Error 502 Ray ID: 2a9fe78e13a6050e • 2016-05-28 07:13:32 UTC&lt;br /&gt;
Bad gateway&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Can you check please?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Rixlanchy|Rixlanchy]] ([[User talk:Rixlanchy|talk]]) 07:33, 28 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Alternative Languaje Project: Daybreak on Hyperion ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greetings to the Baka-Tsuki Administration. I&#039;m Exilius, and I want to inform about my new project, the Spanish translation for the &amp;quot;Daybreak on Hyperion&amp;quot; original light novel series written by Aiorii. I have already uploaded some translations, but since I&#039;m new contributiong on wikis there may be some errors. In any case, you can find the Project Overview Page here: [[Daybreak_on_Hyperion_~_Spanish]]&lt;br /&gt;
I hope there will be no problems with this project.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Have a pleasant day.&lt;br /&gt;
--[[User:Exilius|Exilius]] ([[User talk:Exilius|talk]]) 13:09, 28 May 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Unable to access Baka-Tsuki using smartphone. ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi.&lt;br /&gt;
Since about a week ago, I&#039;m unable to access the website using my smartphone. I tried different browsers, wiping the cache and cookies, but nothing helps. I can access every other website without any problems.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Site is not viewable on Kindle ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I use my Kindle often to go on the site but recently (after the maintenance) any attempts to get on the site with my Kindle has failed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Just some more info, my device is a Kindle Touch (an e-reader not a tablet) and I can&#039;t access any part of the site. Yup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Dunno about sig thing)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[Special:Contributions/127.0.0.1|127.0.0.1]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9:06 5/29/16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New series: Youjo Senki ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I created the project page for Youjo Senki and linked the translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: [[Youjo Senki]]. --[[User:SifaV6|SifaV6]] ([[User talk:SifaV6|talk]]) 04:28, 3 June 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello I was wording if I am the online on that cannot access the website: baka-tsuki, certain light novels. I cannot get into light novels like Tokyo Ravens for some reason as it keeps saying the website is down, despite the maintenance happening over two weeks ago.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cannot reach any of the projects ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I try to view one of the projects I get a server error.  You might want to look into it when you have a chance.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
⤷ This should have been now corrected, if not please contact me. [[User:Lery|Lery]] ([[User talk:Lery|talk]]) 17:29, 30 July 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Removal of Inactive Editor ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Good evening,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I am writing this letter to ask that [[user:Simonoz|Simonoz]] be removed from the Active Editors list on [[Maria-sama ga Miteru]], and from the editor&#039;s list in general. Since &amp;quot;joining&amp;quot; the project, he has not contributed in the last year [[https://baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Simonoz &#039;&#039;source&#039;&#039;]]. Additionally, he added himself to the Editors list, which is against Baka-Tsuki&#039;s Editor Conventions rules. We currently do not have a project manager for Marimite, so I must bring this issue up with the admin staff.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thank you for your time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--[[User:Lunar Vitae|Lunar Vitae]] ([[User talk:Lunar Vitae|talk]]) 05:50, 6 June 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Hello Lunar Vitae. General supervisors/admins (and this page) don&#039;t usually get involved with the minor details of individual projects.  The project manager, or lacking that (as in this case) an active translator, are generally the leaders for their projects and likely the most appropriate person to decide on who should be listed as an editor. In this particular case, it seems fairly obvious the person never got to editing, so removing their name would likely be reasonable by anyone involved in the project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:37, 7 June 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Baka Tsuki Android App Novel Download ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Wrong Version of Key Store&amp;quot; this is the message i get anytime i try to download anything now. even older novels i once had I can no longer get images and some chapters.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, Lumina94, have started a new project for Fate/Apocrypha and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Apocrypha_%7E_(Italiano).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Project - Monogatari Series (Czech) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello, Baka-Tsuki administration,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, [[User:Robin997|Robin997]], have created the Overview Page for [[Monogatari_-_Česky|Monogatari Series (Czech)]] (link from the English Overview page included) and added the [[Monogatari_CZ:Bakemonogatari/Hitagi_Krab_001|first chapter]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I have already finished translating &#039;&#039;Hitagi Crab&#039;&#039; and will be releasing it on a monthly basis in order to buy time for translation of &#039;&#039;Mayoi Snail&#039;&#039; (I am half-way through the second chapter). I plan only to translate Hitagi Crab and Mayoi Snail, though I am considering translating &#039;&#039;Kizumonogatari&#039;&#039; and the &#039;&#039;Bakemonogatari Official Anime Guidebook&#039;&#039; chapters.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Excuse any errors of mine in regards to following the Overview Page guidelines. If you&#039;ve found any mistakes, I&#039;ll be sure to correct them immediately.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
For the sake of clarity, link to Overview page here: [[Monogatari_-_Česky]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Good luck with your project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 02:27, 20 July 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Request for new project ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translation Group Name: I dont have. I work alone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Name of Representative: Daniel&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Series for Affiliation:    Rakuin no Monshou&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desired Affiliation Type (Hosted/Linked): Linked ( I have my own page)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Does Your Group Use Machine Translation or Machine-assisted Translation Tools? If yes, elaborate:  No&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Describe the Source Material Your Translation Group Uses: I would like to translate from English form baka tsuki to Polish.&lt;br /&gt;
(e.g. Is it a webnovel or light novel? Japanese or Chinese source?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Specific Accommodations/Rules Desired: Translator&lt;br /&gt;
(e.g.: Minor typo corrections are okay, but Baka-Tsuki contributors shouldn&#039;t make stylistic edits)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Email and contact information:  My email: danielggg@onet.pl&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PS: that is my internet page, I did not translate single chapter yet , but I will start as soon as possible.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
          http://rakuinnomanshou.za.pl/&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Not able to register email ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I&#039;m trying to register my email address, but I keep getting this error message&lt;br /&gt;
&amp;quot; authentication failure [SMTP: Invalid response code received from server (code: 534, response: 5.7.9 Please log in with your web browser and then try again. Learn more at 5.7.9 https://support.google.com/mail/answer/78754 pf5sm4906073wjb.42 - gsmtp)] &amp;quot;&lt;br /&gt;
I changed from using my handy to my laptop, and changed to an other of my email address&#039;s, no change in the message.&lt;br /&gt;
Clicking the link doesn&#039;t work, copying it brings me to an &amp;quot;this page has either been deleted or never existed in the first place&amp;quot; kind of site and searching the error number or the complete link didn&#039;t help...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This might be related to the problem above: I was curious and wanted to test the [[Special:EmailUser]] PM system on myself, but I get this error:&lt;br /&gt;
&amp;lt;pre style=&amp;quot;white-space: pre-wrap;&amp;quot;&amp;gt;authentication failure [SMTP: Invalid response code received from server (code: 534, response: 5.7.9 Please log in with your web browser and then try again. Learn more at 5.7.9 https://support.google.com/mail/answer/78754 q65sm10041399wmd.24 - gsmtp)]&amp;lt;/pre&amp;gt;&lt;br /&gt;
Just to let you guys know. [[User:RS|RS]] ([[User talk:RS|talk]]) 18:06, 31 August 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Sorry for not getting back earlier, but it appears all BT email services are down right now.  For the wiki, I don&#039;t think accounts require emails; however, this means no one will be able to create new forum accounts until that&#039;s fixed.  I&#039;ve sent an email (not through BT) to the sysadmin, and hopefully he&#039;ll have time to fix it soon. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 21:27, 10 September 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Can&#039;t register in the forums ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello administration of Baka Tsuki.&lt;br /&gt;
I&#039;ve been wanting to register in the forums but my activation email doesn&#039;t arrive.&lt;br /&gt;
I tried clicking the resend ativation email feature some times but it just doesn&#039;t arrive, i&#039;ve been waiting for some days and now I&#039;m sure it&#039;s not that it&#039;s slow.&lt;br /&gt;
I also tried registering with other emails to see if it was just a bug on the first one i&#039;ve been using, but seemingly no.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The username is Usirber if you need it&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
EDIT: Now I&#039;ve seen the answer.  Shouldn&#039;t been fixed by now?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Webnovel Yaoshenji/Tales of Demons and Gods in German ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wanted to submit my first part of a German translation for the webnovel Yaoshenji to the forums and ask for a project approval, but with the email confirmation problem i can&#039;t register there. Should I just directly ask for an approval and upload it on a file hosting site so you can check it? Do German translations of a Webnovel even have a chance to get approved, since both the German forum and the webnovel part seem to be pretty empty anyways?&lt;br /&gt;
--[[User:Hackfruchtsalat|Hackfruchtsalat]] ([[User talk:Hackfruchtsalat|talk]]) 22:28, 18 September 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
:Forum registration/emails should be fixed now. If it&#039;s not working for you still, let me know the username you registered with and I can activate it manually. --[[User:Cloudii|Cloudii]] ([[User talk:Cloudii|talk]]) 13:17, 23 September 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Project Management For &#039;&#039;Hentai Ouji&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hentai Ouji To Warawanai Neko&amp;quot;, aka &amp;quot;The Hentai Prince And Stony Cat&amp;quot;. There is no project manager for this series at the moment, therefore, I&#039;d be willing to manage and help translate the volumes of the series. And as well as have this be a full project, since one volume is completed at the moment.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
From Xftg123&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Hentai Ouji&#039;&#039; was licensed by DMG, which is why Nanodesu decided to stop translating the series. Also, to sign with your username and timestamp in the wiki, simply use four tildes: &amp;lt;nowiki&amp;gt;~~~~&amp;lt;/nowiki&amp;gt; --[[User:Zzhk|Zzhk]] ([[User talk:Zzhk|talk]]) 01:44, 23 September 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Will It Or Will it Not Finish? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I&#039;m not an impatient person or anything like that, but, for some reason, it says on Noucome&#039;s LN page that it&#039;s been active for 3 months. I check the updates, and it last updated around June 2015. Can you guys change it to &amp;quot;HALTED&amp;quot;, and also, will the project manager, Talinnilat, ever continue finishing the rest of the &amp;quot;Noucome&amp;quot; series?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:It&#039;s a wiki, so anyone who sees something that should be changed like a project activity status can do so; admins don&#039;t need to be the one to change it.  And I have not idea what Talinnilat would do, he/she&#039;d probably be the likeliest person to know. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 22:50, 23 September 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== New Teaser Project: Vandread ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, JeruTz, have started a new project for Vandread and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: {https://baka-tsuki.org/project/index.php?title=Vandread}. --[[User:JeruTz|JeruTz]] ([[User talk:JeruTz|talk]]) 03:25, 7 October 2016 (UTC)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Good luck with your new project. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:09, 12 October 2016 (CEST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Baka-Tsuki android app problem. ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hey there, your app Baka-Tsuki Ex is giving problem when attempted to read any of the novels. The error says Bitmap empty and then gives another error which is pretty long. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This error is happening with other people as well because in the app store people have written that they too get the same error. I have tried redownloading the app but it didn&#039;t work, I tried deleting and downloading the novel cache but it doesn&#039;t do anything so I wanted to report this to you people. I hope it gets fixed soon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Hmm... I&#039;m not sure what&#039;s the problem.  The developer posted the following advice in the forums, perhaps it will resolve it: &amp;quot;For BakaReaderEx users, please disable Load App KeyStore in Settings -&amp;gt; Update and Notification as it use the old cert.&amp;quot; --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 01:09, 12 October 2016 (CEST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Seirei Tsukai no Blade Dance page broken ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When going to the page https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Seirei_Tsukai_no_Blade_Dance, it shows this error: 502 Bad Gateway&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Seirei Tsukai no Blade Dance is not working ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi. I would like to inform that I cannot access to the page Seirei Tsukai no Blade Dance. I get page error when I click on the link in the website and the same too when using on the app. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I saw it&#039;s on the up to date section so I doubt it&#039;s removed. If it&#039;s removed, then please just ignore this message. Thanks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Seirei Tsukai No Blade Dance ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It seems that the page of serei tsuakai no blade dance is broken the links display a bad gateway error.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Konjiki no Wordmaster ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I went to read some of the konjiki no wordmaster chapters but when I went to the main area for the web novel it gave me a &amp;quot;bad gateway&amp;quot; response.  I tried multiple methods of accessing the chapters but all ended up giving me the same response.  I am not sure whether this is a server error due to coding or what is responsible but I felt I should inform you of this issue.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Seirei Tsukai no blade dance page error 502 bad gateway ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I was re-reeading it and then the server died, and all that appears on the seirei&#039;s page was error 502 bad gateway&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Absolute Duo either Stalled or Active again ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I don&#039;t know if this LN is stalled or not, it remained stalled and I saw chapter 1 of volume 6 was edited  October 3, 2016 and the &amp;quot;Updates&amp;quot; on the page are not being updated even though the prolouge of vol 6 and incomplete release of its chapter 1.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indeed, a new translator is working on vol 6 (external for now), but the person who added it didn&#039;t think of updating the project page (I&#039;ll do that now). --[[User:RS|RS]] (&amp;lt;span style=&amp;quot;white-space: nowrap; position: relative;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;position: absolute; font-size: .8em; top: -11px; left: 50%; white-space: nowrap; letter-spacing: normal; color: inherit; font-weight: inherit; font-style: inherit;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;position: relative; left: -50%;&amp;quot;&amp;gt;[[User talk:RS|talk]]&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;display: inline-block; color: inherit; letter-spacing: normal; font-size: 1.0em; font-weight: inherit;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;small&amp;gt;[https://discord.gg/YC65KzZ discord]&amp;lt;/small&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;) 21:17, 13 October 2016 (CEST)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== novels in app not updating ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
i am not able to update novels in ur android app after showdown. pls correct it&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Mahou Shoujo Ikusei Keikaku (Spanish) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I, MahoIkuESP, have started a new project for Mahou Shoujo Ikusei Keikaku (in Spanish) and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: [[Mahou_Shoujo_Ikusei_Keikaku_(Spanish)]]. --MahoIkuESP 12 November 2016&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Madan no Ou to Vanadis (Polish) ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hi, I, GoToHell, have started a new project for Madan no Ou to Vanadis and uploaded some translations. &lt;br /&gt;
The link to the project overview page is here: https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Madan_no_Ou_to_Vanadis_(Polski). --[[User:GoToHell|GoToHell]] ([[User talk:GoToHell|talk]]) 17:09, 5 December 2016 (CET)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Approval for full project status ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Requesting for the series [[Youjo Senki|youjo senki]] to be upgraded into full project status. [[User:SifaV6|SifaV6]] ([[User talk:SifaV6|talk]]) 05:03, 14 December 2016 (CET)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Done. --[[User:Cthaeh|Cthaeh]] ([[User talk:Cthaeh|talk]]) 07:36, 15 December 2016 (CET)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Need Assistance ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hello admin&lt;br /&gt;
I&#039;m Ibnu Psycho, i need your assist about a account on bakatsuki, Urgently.&lt;br /&gt;
account&#039;s name is [[User:SATRIA|SATRIA]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
we grouped on Bakatsuki update indonesian, but i can&#039;t touch him anymore. this is about project translation and progression group, so i want to contact him but i don&#039;t know his contact except for his account on bakatsuki and his no longer active in here.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
so respectfully i need your assistance, i want to know his email address when he sign up on bakatsuki to contact him. may you give me his email? i&#039;m very helped if you does that.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
need your answer..ASAP&lt;br /&gt;
thanks for your attention.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=509331</id>
		<title>Kamisu Reina Series (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=509331"/>
		<updated>2016-12-31T15:08:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Kamisu_Reina_1.jpg|200px|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; juga dapat dibaca dalam bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Kamisu_Reina_Series|Inggris]]&lt;br /&gt;
*[[Reina Kamisu ~ Français|French (Français)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kamisu Reina Series&#039;&#039;&#039; adalah serial &amp;lt;i&amp;gt;Light Novel&amp;lt;/i&amp;gt; yang ditulis oleh [[:Category:Mikage Eiji|Eiji Mikage]]. Serial ini terdiri dari 2 jilid yang berjudul &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&amp;quot; (Reina Kamisu Berada Di Dini) dan &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&amp;quot; (Reina Kamisu Terpecah Di Sini).&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- &#039;&#039;&#039;Tolong dicatat bahwa tidak ada komedi dalam serial ini, jadi mungkin cerita ini bukanlah selera Anda jika Anda penggemar kisah yang tidak berbobot.&#039;&#039;&#039; --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;p style=&amp;quot;max-width: 700px; font-size: 15px; line-height: 1.6em; font-family: &#039;Palatino Linotype&#039;, &#039;Book Antiqua&#039;, Palatino, serif; margin-left: 15px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 48px; line-height: 1em; float: left; margin-right: 5px;&amp;quot;&amp;gt;R&amp;lt;/span&amp;gt;eina Kamisu adalah teman para penyendiri, pembantai keluarga, penyelamat dunia, dan pembunuh kekasih — ia pun &amp;lt;i&amp;gt;begitu&amp;lt;/i&amp;gt; cantik. Siapakah dia dan apa tujuannya? Pencarian identitasnya yang sesungguhnya dimulai dari Fumi Saito, yaitu seorang pelajar kesepian, yang teman dan pendukungnya hanyalah Reina, dan dia menyalahkan hal-hal yang tidak dia lakukan...&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;display: block; margin: 5px 0;&amp;quot;&amp;gt;Ini adalah cerita tentang delusi, keputusasaan dan penghancur keindahan.&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Update ==&lt;br /&gt;
* 31 Desember 2016 - proyek dimulai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; oleh Eiji Mikage ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 1: Reina Kamisu Berada Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_1|Teks Penuh]]) ===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Fumi Saito|Bab 1: Fumi Saito]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure|Bab 2: Atsushi Kogure]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui|Bab 3: Shizuka Wakui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kazuaki Toyoshina|Bab 4: Kazuaki Toyoshina]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 2: Reina Kamisu Terpecah Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_2|Teks Penuh]])===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Yukimi Mitsui|Bab 1: Yukimi Mitsui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Ryoji Kamisu|Bab 2: Ryoji Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Sakura Kawai|Bab 3: Sakura Kawai]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Reina Kamisu|Bab 4: Reina Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Staf Proyek ==&lt;br /&gt;
=== Manajer Proyek ===&lt;br /&gt;
*[[User:Baka-Tsuki Update Indonesia|Baka-Tsuki Update Indonesia]]&lt;br /&gt;
=== Translator ===&lt;br /&gt;
*[[User:Ibnu Psycho|Ibnu Psycho]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link-link pendukung ==&lt;br /&gt;
* [http://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88%E3%82%B7%E3%83%AA%E3%83%BC%E3%82%BA Kamisu Reina article] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_Forms Theory of Forms] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://bookwalker.jp/series/9566/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88/ Buy the e-books] (BOOK☆WALKER)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Publikasi ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3238-5, December 2005&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3267-9, January 2006&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=509330</id>
		<title>Kamisu Reina Series (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Kamisu_Reina_Series_(Indonesia)&amp;diff=509330"/>
		<updated>2016-12-31T15:07:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Kamisu_Reina_1.jpg|200px|thumb]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; juga dapat dibaca dalam bahasa:&lt;br /&gt;
*[[Kamisu_Reina_Series|Inggris]]&lt;br /&gt;
*[[Reina Kamisu ~ Français|French (Français)]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kamisu Reina Series&#039;&#039;&#039; adalah serial &amp;lt;i&amp;gt;Light Novel&amp;lt;/i&amp;gt; yang ditulis oleh [[:Category:Mikage Eiji|Eiji Mikage]]. Serial ini terdiri dari 2 jilid yang berjudul &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&amp;quot; (Reina Kamisu Berada Di Dini) dan &amp;quot;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&amp;quot; (Reina Kamisu Terpecah Di Sini).&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- &#039;&#039;&#039;Tolong dicatat bahwa tidak ada komedi dalam serial ini, jadi mungkin cerita ini bukanlah selera Anda jika Anda penggemar kisah yang tidak berbobot.&#039;&#039;&#039; --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;p style=&amp;quot;max-width: 700px; font-size: 15px; line-height: 1.6em; font-family: &#039;Palatino Linotype&#039;, &#039;Book Antiqua&#039;, Palatino, serif; margin-left: 15px;&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 48px; line-height: 1em; float: left; margin-right: 5px;&amp;quot;&amp;gt;R&amp;lt;/span&amp;gt;eina Kamisu adalah teman para penyendiri, pembantai keluarga, penyelamat dunia, dan pembunuh kekasih — ia pun &amp;lt;i&amp;gt;begitu&amp;lt;/i&amp;gt; cantik. Siapakah dia dan apa tujuannya? Pencarian identitasnya yang sesungguhnya dimulai dari Fumi Saito, yaitu seorang pelajar kesepian, yang teman dan pendukungnya hanyalah Reina, dan dia menyalahkan hal-hal yang tidak dia lakukan...&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;display: block; margin: 5px 0;&amp;quot;&amp;gt;Ini adalah cerita tentang deilusi, keputusasaan dan penghancur keindahan.&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Update ==&lt;br /&gt;
* 31 Desember 2016 - proyek dimulai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Kamisu Reina&#039;&#039; oleh Eiji Mikage ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 1: Reina Kamisu Berada Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_1|Teks Penuh]]) ===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Fumi Saito|Bab 1: Fumi Saito]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure|Bab 2: Atsushi Kogure]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Shizuka Wakui|Bab 3: Shizuka Wakui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kazuaki Toyoshina|Bab 4: Kazuaki Toyoshina]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jilid 2: Reina Kamisu Terpecah Di Sini ([[Kamisu_Reina:Jilid_2|Teks Penuh]])===&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Prolog|Prolog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Yukimi Mitsui|Bab 1: Yukimi Mitsui]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Ryoji Kamisu|Bab 2: Ryoji Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Sakura Kawai|Bab 3: Sakura Kawai]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Reina Kamisu|Bab 4: Reina Kamisu]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Epilog|Epilog]]&lt;br /&gt;
* [[Kamisu Reina Indo:Jilid 2 Kata Penutup|Kata Penutup]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Staf Proyek ==&lt;br /&gt;
=== Manajer Proyek ===&lt;br /&gt;
*[[User:Baka-Tsuki Update Indonesia|Baka-Tsuki Update Indonesia]]&lt;br /&gt;
=== Translator ===&lt;br /&gt;
*[[User:Ibnu Psycho|Ibnu Psycho]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link-link pendukung ==&lt;br /&gt;
* [http://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88%E3%82%B7%E3%83%AA%E3%83%BC%E3%82%BA Kamisu Reina article] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_Forms Theory of Forms] (Wikipedia)&lt;br /&gt;
* [http://bookwalker.jp/series/9566/%E7%A5%9E%E6%A0%96%E9%BA%97%E5%A5%88/ Buy the e-books] (BOOK☆WALKER)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Publikasi ==&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Iru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3238-5, December 2005&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Kamisu Reina wa Koko ni Chiru&#039;&#039; ISBN 4-8402-3267-9, January 2006&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Ibnu_Psycho&amp;diff=509298</id>
		<title>User:Ibnu Psycho</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=User:Ibnu_Psycho&amp;diff=509298"/>
		<updated>2016-12-31T01:10:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Ibnu Psycho: Created page with &amp;quot;Hai, I&amp;#039;m Ibnu Psycho. &amp;lt;br /&amp;gt; stay tune for the next chapter.&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hai, I&#039;m Ibnu Psycho. &amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
stay tune for the next chapter.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Ibnu Psycho</name></author>
	</entry>
</feed>