<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Meido+-+Moe</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Meido+-+Moe"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Meido_-_Moe"/>
	<updated>2026-05-03T05:16:05Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=542027</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=542027"/>
		<updated>2018-06-26T18:04:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Minggu, 7 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedari kecil aku tinggal bersama kakek-nenekku, hanya kami bertiga saja. Beberapa waktu sebelum aku masuk sekolah dasar seorang ‘paman yang tidak aku kenal’ membelikanku mainan dan mengajak makan siang di restoran.&lt;br /&gt;
Waktu itu aku berpikir ‘orang ini pasti Sinterklas’. Ditambah, Sinterklas ini datang mengunjungiku tanpa mempedulikan musim.&lt;br /&gt;
Karena saat itu aku masih kecil aku lupa tentangnya. Aku hanya mengingat bahwa kami sangat bahagia setiap kali menghabisakan waktu bersama.&lt;br /&gt;
Belakangan ini, aku mengetahui bahwa paman itu adalah ayah kandungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terjadi pada pemakaman paman— pemakaman Taishido Jinya. Jika berbicara tentang perusahaan Taishido itu pasti mengarah pada perusahaan swasta kereta api. Aset totalnya berjumlah satu triliun empat ratus miliar yen.&lt;br /&gt;
Pemimpin tertinggi perusahaan besar itu tiba-tiba meninggal karena kecelakaan di awal tahun.&lt;br /&gt;
Saat ini aku sedang meneguk segelas kopi di lounge hotel bersama penasihat umum perusahaan sekaligus orang kepercayan Taishido Jinya-- --Shinonome Murasaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kunaikan jarak pandang, aku melihat wanita cantik bertubuh langsing dengan kacamata tanpa rim. Dia sedang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki rambut pendek, mengenakan setelan pun sangat cantik. Dia mungkin memakai make-up tipis atau bahkan tidak menggunakan sama sekali. Usia nya... mungkin sekitar dua puluhan. Untuk dirinya yang sampai bisa menjadi penasihat umum perusahaan Taishido, dia pasti adalah orang hebat. Murasaki-san membuka mulut tipisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku akan membahas tentang masalah warisan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warisan.... ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengatakan itu saat kita pertama kali bertemu namun ada cukup warisan yang bisa digunakan untuk kau habiskan. Tentu saja, aku yang akan mengurus beberapa prosedur seperti pajak. Kau bisa menyerahkan dua orang yang berada di kediaman Domon pada kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T- terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang bisa aku lakukan hanya berterima kasih. Aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa mendapatkan hal semacam itu, dengan menyerahkan semua prosedur kepada Murasaki-san benar-benar melegakan. Ngomong-ngomong, dua orang yang berada di kediaman Domon mengarah pada kakek dan nenek. Mereka berdua akan menikmati masa pensiun mereka di Hawaii pada kondominium milik perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pam... apakah kau akan memperlihatkan surat terakhir milik ayah? Atau mungkin dengan mengijinkan untuk menyentuh atau meliriknya sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai penghormatan terakhir, Saya, Orang kepercayaan beliau diharuskan menyampaikan isi surat tersebut tanpa memperlihatkannya kecuali memang diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-M Maaf, karena menanyakan hal yang tidak masuk akal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, saya juga minta maaf karena sudah lancang. Tidak ada gunanya anak kecil sepertimu untuk khawatir. Di saat seperti sekarang ini orang dewasalah yang harus bertindak cerdik... apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usiamu, tiga ukuran, dan tipe pria yang kau suka... mari hindari obrolan payah di tempat seperti ini dan di depan Murasaki-san yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... aku tak bisa memikirkan hal lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Kau sama seperti gadis-gadis SMP barusan. Jangan lakukan hal yang merepotkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sekolah musim semi ini... hey, apa barusan aku mendengar sesuatu yang sangat penting?&lt;br /&gt;
“Ah... tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiba-tiba saja kau menaikan suaramu, apa ada yang menggangu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan kau mengatakan sesuatu, ’kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan lakukan hal yang merepotkan... itulah yang barusan aku katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu! Sebelumnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukaan itu! Ya ampun, apakah ini sifat asli Murasaki-san?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kau mengatakan kalau sebentar lagi aku akan menjadi anak SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mulai musim semi tahun ini, kau akan mendaftar di sekolah swasta yang berafiliasi dengan Perusahaan Taishido yaitu Akademi Shichiyou.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada meneruskan kalimat itu, bukankah kau tadi mengatakan ‘sama seperti gadis-gadis itu’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Selain dirimu Taishido Jinya juga memliki beberapa anak perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah mendengar soal itu... tidak pernah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku memiliki tubuh yang lemah dan dia meninggal di umur yang terbilang muda. Kakek tidak mengatakan sesuatu bahwa aku memiliki adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan itu diberikan pada Yoichi-san. Itulah yang aku ingin bahas denganmu hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoichi-san kau punya lima adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang cangkir kopi di tanganku sekejap tubuhku menjadi kaku seolah mengalami kelumpuhan. Di sisi lain, Murasaki-san sedang meneguk kopi dari cangkirnya. Alhasil, kutaruh cangkir kopi ke atas meja lalu membetulkan postur tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Li-lima adik perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ada enam perempuan yang melahirkan anak dari Taishdo Jinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enam perempuan... tidak mungkin mereka semua memiliki ibu yang berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Apa ada masalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah jelas itu masalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu adalah fakta, saya mohon terima kenyataanya. Yoichi-san adalah anak tertua. Lalu ada anak perempuan tertua, anak perempuan kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Seperti itulah silsilah keluargamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... mereka semua gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Untuk sekarang masih terlalu awal untukmu memanggil mereka adik perempuan. Lebih tepatnya, kandidat adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kandidat..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut isi surat wasiat kau hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin hal yang tidak masuk akal seperti itu tertulis dalam surat wasiat... aku tidak tahu alasanya, tapi surat itu harus ditulis sesuai aturan! Sesuai aturan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya telah mengonfirmasi kelegalan suratnya. Saya diperbolehkan menggunakan apapun dan dengan cara apapun termasuk amunisi hidup untuk merayumu jika memang itu diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Amunisi hidup, itu terdengar sangat mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega tidak bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menggunakan uang untuk membujuk seseorang, bukankah itu melanggar hukum?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taishido menggariskan hukum dan peraturan. Aku baru saja meniru perkataan beliau. Menurut mereka, aku harus membuat rencana dahulu. Meski begitu, aku senang Yoichi-san dapat memahami ini dengan cepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin sudah mengerti, namun aku sama sekali belum setuju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua adik perempuan sudah memberikan persetujuan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini terlalu berlebihan hingga membuat kepalaku mulai sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama Taishida Jinya masih hidup semua adik perempuan akan mendapat bantuan keuangan, tapi... bantuan itu akan segera dicabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu juga tertulis di surat wasiat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Dia mengatakan akan terus menjaga mereka selama dia masih hidup. Ditambah, ibu mereka yang menghilang dan menelantarkan mereka semua.”&lt;br /&gt;
Aku masih memiliki kakek dan nenek, namun mereka sudah tidak punya keluarga sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan kini hidup sendiri. Mereka diberi biaya sebesar sepuluh juta yen per tahun,  bahkan setelah dikurangi pengeluaran seperti sewa rumah dan uang sekolah mereka masih menyimpan uang sekitar empat ratus ribu yen per bulan yang bisa mereka gunakan sesukanya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka seperti artis saja. Tidak, meski begitu... jika bantuan itu benar-benar dicabut mereka tidak akan punya apapun, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Batas akhir pemilihan kandidat adalah dua minggu. Di sisa waktu itu, Yoichi-san hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa hanya satu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah yang tertulis dalam surat wasiat... saya hanya dapat menyampaikannya seperti itu. Warisan akan dibagi sama rata untuk Yoichi-san dan adik perempuan yang terpilih. Walaupun hanya sebagian, jangan khawatir, itu sudah lebih dari cukup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa membayangkan besarnya nominal uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar semua adik perempuan itu anak Taishido Jinya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Tanpa perlu diragukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mereka semua juga bisa menjadi adik perempuanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menyangkal secara berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, tapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu tunjukan suratnya padaku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti itulah... yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menatapku tajam dengan mata dingin miliknya. Begitu tajam sepertinya aku akan tersayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah para adik perempuan setuju dengan hal tidak masuk akal seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, lebih tepatnya 『mereka tidak memiliki hak pilih.』itu jika kau menginginkan kalimat yang lebih jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertekan, rasanya seperti tumpukan batu ditaruh di atas perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika aku tidak memilih satu pun pada waktu yang ditentukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka Yoichi-san akan kehilangan warisannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya mengatakan itu, Murasaki-san memberiku sebuah benda yang mirip USB. Ukurannya cukup kecil untuk muat dalam genggamanku, pada layar LCD muncul nomor 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kunci rumah baru milikmu. Karena itu adalah kunci pintar tolong jaga baik-baik agar tidak hilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menatap kunci yang baruan kuterima, Murasaki-san berdiri dari kursinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu saja. Jika ada sesuatu yang kau butukan, hubungi saja nomorku. Baiklah, semoga beruntung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tu-Tunggu sebentar Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau masih punya pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan mereka orangnya seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan tahu sendiri jika sudah bertemu mereka. Juga jangan lupa bahwa nyawa mereka ada di tanganmu Yoichi-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san melayangkan kata terakhirnya, membawa struk pembayaran dan meninggalkan lounge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mansion mewah tujuh tingkat-- -- kediaman Taishido menjulang di atas bukit kecil. Tidak ada gedung lain yang seperti ini disekitarnya.&lt;br /&gt;
Di lantai teratas mansion merupakan tempat khusus dan tidak terpisah menjadi apartemen-apartemen kecil. Pada pelat pintu tertulis nomor 701.&lt;br /&gt;
Pintu itu terbuka dengan sendirinya merespon kunci pintar pemberian Murasaki-san.&lt;br /&gt;
Kamar 701 merupakan tipe 6LDK yang dilengkapi dengan ruangan pribadi dan sebuah walk-in-closet, tempat yang terlalu megah untuk ditempati satu orang.&amp;lt;ref&amp;gt;6LDK merupakan tipe apartemen multifungsi yang terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan lainnya. Untuk informasi lebih lengkap ada di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Housing_in_Japan#Modern_homes &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sambil membawa koperku ke ruangan paling kecil yang ada di tempat ini. Meski tadi aku bilang ‘kecil’ luas ruangan itu mencapai sepuluh tatami. Karena aku terbiasa tinggal di ruangan yang luasnya hanya enam tatami ini terasa sangat lebar. Entah kenapa, aku merasa hampa dan kesepian.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541513</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541513"/>
		<updated>2018-06-11T14:35:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan kini sudah tak terkunci. Jika aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa digunakan para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, cukup kecil untuk dipegang di ketiak kemudian diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia mengenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda sambil menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lapisan luarnya bersih yang terbuat dari keramik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan diri, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541512</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541512"/>
		<updated>2018-06-11T14:30:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan kini sudah tak terkunci. Jika aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa digunakan para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, cukup kecil untuk dipegang di ketiak kemudian diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia mengenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda sambil menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan diri, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541511</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541511"/>
		<updated>2018-06-11T14:28:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan kini sudah tak terkunci. Jika aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa digunakan para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, cukup kecil untuk dipegang di ketiak kemudian diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia mengenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda sementara menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan diri, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541428</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541428"/>
		<updated>2018-06-09T08:44:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan diri, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541427</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541427"/>
		<updated>2018-06-09T08:41:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541426</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541426"/>
		<updated>2018-06-09T08:40:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541425</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541425"/>
		<updated>2018-06-09T08:37:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
OOSY v01 005.jpg&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541424</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541424"/>
		<updated>2018-06-09T08:30:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan beruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?” [[OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541423</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541423"/>
		<updated>2018-06-09T08:29:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendiri, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan eruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?” [[OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541422</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 6</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_6&amp;diff=541422"/>
		<updated>2018-06-09T08:28:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Jum’at, 12 April&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  ==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==   Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kura...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Jum’at, 12 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan kelima. Siswi SD. Beruang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada istirahat makan siang Mariko bertanya padaku apakah dia bisa mampir. Aku merasa itu sedikit kurang pantas untuk seorang gadis mengunjungi seseorang yang tinggal sendiri. Saat ini, sekolah telah usai dan aku tidak bisa kembali ke ruanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepis semua topik pembicaraan dengan kesulitan demi menyembunyikan rangkaian keadaan di kediaman Taishido. Mariko sudah pasti khawatir tentangku yang hidup seorang diri. Itulah mengapa aku bahagia hanya dengan perasaanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai gantinya, aku menjanjikan untuk berbelanja bersama di lain hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian di sekolah, aku mendengar suara dari interkom setelah menderingkan bel di ruangan 201.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini siapa? Layanan pesan antar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suara gadis muda. Karena ada kamera yang terhubung dengan interkom, diriku sudah pasti terlihat di sisi lain...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh, umm... namaku Taishido Yaichi. Bukan layanan pesan antar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau Nii-chama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nii-chama? Mungkin yang dia maksud Nii-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Maukah kau membuka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“’Kau tidak boleh membukakan pintu pada orang asing’ itu yang dikatakan Nee-chama yang tinggal bersebelahan dengan Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nee-chama mungkin maksudnya Nee-sama...hey, apakah ada orang sebaik itu yang tinggal di sebelah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci pintar juga berfungsi sebagai kunci pintu, dan sudah terbuka. Jka aku masuk dengan paksa mungkin dia akan kaget. Suara gadis itu terdengar sangat muda. Aku menduga kalau dia berada di kelas pertama di SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi namamu Mii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Nama Mii-chan adalah Ookuma Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita berdua sudah saling mengenal. Bisakah kau buka pintunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kubuka pintunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir caraku mengatakanya terdengar seperti kalimat yang biasa dipakai para kriminal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Interkom terputus dan pintu terbuka setelah beberapa detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari celah pintu muncul gadis yang sangat kecil, dia cukup kecil untuk dipegang di ketiak lalu diangkat. Dia membuka pintu dengan tangan kiri. Dia megenakan gaun lolita berumbai dengan warna merah muda dan menggendong boneka beruang di tangan kanan. Seorang anak kecil. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya dia tetaplah anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha-halo. Mika-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Mii-chan. Halo Nii-chama. Eh? Tidak ada salam untukku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam sendirian, aku menatap wajah boneka beruang yang dia gendong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu yang dikatakan si beruang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan eruang. Namanya Maple. Jadi panggil dia Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu, Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama kau bisa mengerti. Senang bertemu denganmu! Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah akhienya dimaafkan oleh Mika dan Maple, aku masuk ke dalam ruangan. Kalau begini, kelihatannya akan sedikit sulit juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku merangkum semua adik perempuan yang telah aku temui sampai sekarang akan menjadi seperti ini, seorang hikikomori pembuat pakaian, gadis penggila kompetisi dengan hobi laki-laki, gadis serius dan pembohong (?), dan gadis dengan otak laki-laki yang ingin menjadi perempuan. Itu cukup beragam dan terakhir adalah gadis loli ortodoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangannya lebih bersih dari yang kupikirkan. Yang mengejutkan apakah gadis sekecil ini bisa tinggal seorang diri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Furnitur diruangan ini kebanyakan berwarna merah muda, berkat itu ruangan ini mempunyai suasana imut dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja, terdapat celengan babi besar, ada randoseru berwarna merah muda yang ditaruh di sofa. Aku melirik kearah dapur, tapi kelihatannya itu tidak digunakan sama sekali. Aku penasaran apa yang dia makan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelas tahun!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kau adalah siswi kelas enam SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Tapi aku murid yang paling kecil di kelas. Aku ingin besar seperti Nii-chama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lebih muda dari umur aslinya! Kelas enam yang artinya dia satu kelas di bawah Selene. Dengan ini, aku memiliki gambaran penuh dari semua adik perempuan. Yang tertua yaitu Tomomi, gadis SMA kelas satu dan termuda Mika, kelas enam SD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-msing slisih satu tahun, sementara aku dan Tomomi satu angkatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan desahan dalam kepala kemudian duduk pada kursi kecil yang berada dekat meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Itu kursi khusus punya Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Maaf Maple.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, sebelah sini. Tempat yang cocok untuk menonton TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pindah ke sofa yang berada di depan TV. TV-nya memilki kabel dekoder dan sebuah perekam HDD yang terhubung. Aku menunjuk pada perekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa menggunakannya dengan baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama yang tinggal di sebelah mengajariku cara menggunakanya. Namanya Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan Murasaki-san?! Dia tinggal di kediaman Taishido, gajah dipelupuk mata tak tampak ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga di merawat Mika-chan dengan baik. Dia sempurna dalam pekerjaanya... namun aku memiliki kesan kalau dia orang yang dingin, itu pasti karena kesalahpahamanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku juga kenal Murasaki-san. Dia adalah orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Dia adalah calon pengantin Maple. Saat Maple mencapai usia yang diperbolehkan menikah, mereka akan mulai berkencan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika kelihatannya akrab dengan Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeluk Maple kemudian duduk di kursi khusus yang Maple duduki dan sambil melihatku dengan mendongak dia bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mii-chan menjadi adik perempuan Nii-chama, dia akan jadi kaya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, dia bertanya dengan blak-blakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak 500 yen yang aku dapat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa banyak eh...banyak sekali... kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bertanya-tanya apakah semua uangnya muat pada Bu-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada celengan babi lalu bergumam khawatir. Polos sekali. Dan juga, dia kelihatan tidak nyaman. Dia muda, jadi tidak ada yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa 500 koin yen? Biasanya orang lebih memilih uang 10000 yen, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kuat, besar dan keren. Benar, ‘kan Maple?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menggengam leher Maple lalu menganggukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“500 yen keren?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak suka uang kertas. Daripada uang kertas 10000, dua puluh koin 500 yen jelas lebih bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika bergumam lirih. Jika dia punya 10000 yen, dia akan memilih koin daripada Yukichi-san, sungguh cerdik. Sepertinya aku tidak boleh terlalu lalai hanya karena dia gadis kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali! Nii-chama, peluk Bu-chan. Ini barang berharga Mika!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap celengan babi di atas meja. Lapisannya bersih dari keramik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menjatuhkannya! Pelan-pelan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kuangkat celengan babi dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berat. Itu cukup berat. Koinnya berdenting dan berdencing di dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia makan cukup banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski itu adalah celengan babi dimana koin dimasukan lewat punggung, mengatakan kalau itu makan terdengar aneh, tapi Mika mengangguk dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Bu-chan menjadi sangat berat Mii-can tidak bisa lagi menganggkatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kau ingin aku membawanya ke suatu tempat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nn. Dia ada di sebelah sana. Dia juga salah satu favorit Mii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koleksi kau bilang...tidak, tapi, kau sudah menyimpan banyak, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar dengar! Saat berbelanja, aku membuatnya supaya ada kembalian koin 500 yen. Itu karena Mii-chan sangat pandai dalam manajemen kekayaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pikir itu sedikit berbeda dari manajemen kekayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Nee-chama yang tinggal di sebelah memeluk Mii-chan da mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me-memeluk?” [[OOSY v01 005.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Karena Mii-chan selalu memeluk Maple dia tahu itu diperlukan untuk pemenuhan nyata, Nee-chama pasti kesepian. Dia berkata tidak masalah kalau memeluk, dia memelukku dengan sangat erat dan memberiku 500 yen. Seperti penggalangan dana. Ah... apa yang harus kulakukan. Mii-chan diberitahu kalau ini rahasia, itu yang Nee-chama bilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dia membocorkan rahasianya, Mika menundukan kepalanya dan tampak tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan uang galang dana melainkan uang tutup mulut untuk mendisiplinkannya. Aku merasa telah melihat sisi Murasaki-san yang penuh perhitungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa kali dia memelukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seminggu sekali sejak aku pindah ke sini. Sepuluh kali?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu kembalikan sebanyak itu. Jika kau melakukannya, kebohongan itu tidak akan terhitung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan logika yang konyol bahkan jika kukatakan untuk diriku sendiri, tapi saat Mika mendengarkan suaraku pupil matanya yang bulat sempurna mulai bersinar dengan terang. Pipinya menjadi merah muda dengan perasaan lega dan membuka lebar mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apakah Nii-chama jenius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pujian yang berlebihan. Aku tidak bisa langsung mengatakan “kembalikan uangnya”, itu akan jadi aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm...mengembalikan uangnya kembali pasti aneh...bagaimana kalau Mika diam-diam bertanya tentang ulang tahunnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk membelikan sebuah hadiah ulang tahun. Jika kau membeli hadiah ulang tahun dengan harga 5000 yen itu akan menjadi sempurna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mii-chan akan melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulang tahun Murasaki-san mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi itu jelas lebih baik daripada mengembalikan uangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan juga umm...apakah Mika benci dipeluk oleh Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Tidak baik dan juga buruk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang cukup lembut untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau tidak membencinya, dan kau tidak butuh uang, semisal kau mengatakan tidak masalah untuk berpelukan bukankah Murasaki-san akan menjadi senang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Nii-chama berpikir itu hal yang baik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu akan kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang dia percaya padaku sepenuhnya, namun aku takut dia sedikit terlalu lugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mencari sesuatu untuk diminum, ku menemukan bubuk coklat instan dan susu. Itu yang tersisa di dalam kulkas yang hampir kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Mika menyiapkan makanan sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama yang tinggal di sebelanh mengatakan “Itu berbahaya tunggu hingga kau SMP”. Dan begitulah, aku hanya membuat coklat sampai Nee-chama datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Ngomong-ngomong, jam berapa biasanya dia datang kemari?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia datang sekali dalam dua hari. Juga, dia memelukku di akhir pekan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup sering. Tidak heran tanggal kadaluarsa susu di kulkas selalu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apalagi yang dia katakan padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nee-chama tidak sering bicara. Kita selalu menyesap coklat bersama, menonton TV, dan bersih-bersih. Terkadang kita pergi berbelanja dan makan cemilan, tapi dia tidak sering bicara. Aku penasaran apakah Nee-chama membenci Mika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tidak berpikir dia membencimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, sepertinya dia menujukan insting keibuan milkinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa ruangan Mika bersih seperti ini juga karena Murasaki-san. Namun sepertinya dia tidak campur tangan dengan kandidat adik permpuan lain, kura karen Mika adalah yang terkecil jadi mau bagaimana lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau makan saat makan malam saat Murasaki-san tidak datang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mika suka pizaa dari layanan pesan antar. Yang bentuknya bulat. Maple juga suka pizza. Topping madunya untukku. Katanya! Maple sungguh kekanak-kanakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak begitu mengerti dengan sifat Maple...tapi itu ya itu dan ini ya ini, layanan pesan antar pizza ya, itu cukup mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan lapar. Nii-chama! Ayo makan pizza! Karena Nii-chama hari ini berkunjung jadi kita pesan pizza berukuran besar. Mii-chan yang bayar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa benar aku akan ditraktir oleh adik perempuanku sendiri (kandidat)! Itulah yang ingin kukatakan, tapi aku menahan diri. Sekarang ini, aku sudah ditraktir makanan oleh kandidat adik perempuan lain, jadi aku akan memperlakukan mereka sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika memesan pizza lewat telepon. Karena itu kedai pizza langgananya, dia hanya mengatakan “Pizza yang biasa tapi ukuran besar.” Dan dengan itu dia mengakhiri panggilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara waktu sebelum pizza datang, kami menonton TV kabel pada saluran khusus anime bersama, dan aku sekeliling ruangan memastikan apakah ada buklet seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menemuka apapun di sini, mungkin Murasaki-san menyembunyikan itu di suatu tempat agar tidak bisa dilihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, bel berdering dengan suara *ding-dong*. Mika memeriksa lorong kediaman Taishido melalui layar interkom. Itu layanan pesan antar pizza. Mika berkata “Aku buka pintunya. Terima kasih.” Memberi tanda kepada pengantar pizza lalu membuka kunci pintunya. Petugas pengantar pizza pasti sudah terbiasa dengan ini, sebab dalam waktu singkat suara dering bel terhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sini Nii-chama!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita pergi ke pintu bersama dan menerima pizza. Mika mulai menggerai punggung Maple dan membuka resleting. Dari dalam dia menarik dompet berwarna merah muda, lalu membayar dengan uang sepuluh ribu yen. Pengantar pizza memberi uang kembalian kemudian pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama. Uang kembalian hari ini jumlahnya 6520 yen. Dapat uang koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mungkin, kau membayar dengan 10000 yen demi mendapatkan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Kau tahu, Mii-chan suka koin 500 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menaruh uang kembalian ke dalam dompet, dan setelah memasukannya ke dalam Maple dia menempatkan koin 500 yen dalam punggung celengan babi yang berada di ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap sisa uang 20 yen dengan mata muda miliknya. Aku kebingungan selagi memegang kotak dengan pizza yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koin 10 yen yang didapat hari ini tidak terlalu bagus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu bagus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Mereka bagus saat masih bersinar, tapi hari ini dekil sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang kembalian yang didapat juga termasuk nominal yang lebih kecil, koin baru biasanya lebih indah dan bersinar, terutama uang koin 10 yen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang sekali. Ayo makan sebelum dingin. Dan juga, ini sangat besar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Ayo makan ayo makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil beberapa piring dari rak piring di dapur dan menatanya di atas meja pada ruang tamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kantung berisi saus tabasco yang ditempel pada kotak pizza. Karena tidak ada saus tobasco di dalam kulkas Mika, aku akan gunakan ini sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kotak terbuka, uap keluar dari kotak. Pizza-nya sangat panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat kapan terakhir kali memesan pizza. Nenek rutin menyiapkan makan malam...meski sedikit, tapi aku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pizza Quatro, itu dibuat agar kau bisa menikmati berbagai macam pizza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada potongan dengan isi salami, sosis, dan daging; potongan dengan seafood dilapisi saus basil; potongan yang hanya ada keju; dan sebuah potongan yang sederhana dan diisi dengan keju mozarrella dan tomat segar. Pizza yang cukup besar hingga membuatku kenyang hanya dengan melihat ukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waa. Hari ini Mii-chan mau mencoba yang keju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku tidak bisa langsung menghabiskannya, aku memanaskan itu untuk dimakan nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara makan yang cukup menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, karena Nii-chama hari ini bersamaku, mungkin akan enak jika aku makan semuanya sekaligus. Nii-chama, ambil lagi terus makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja diperintah oleh anak SD. Mika mengambil pizza dengan banyak taburan pizza lalu menempatkan itu pada piringnya. Aku menaruh potongan pizza daging dan seafood ke piringku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Au...rintangannya dimulai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi wajah Mika tiba-tiba menjadi serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu. Aku memerlukannya. Mii-chan selalu bermasalah dengan pizza karena itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mengambil saus tobasco yang menempel di kotak pizza menggunakan satu tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memerlukannya, maksudmu saus tobasco?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Meskipun pizza-nya tetap lezat tanpa itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya karena itu ada bukan berarti kau harus menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Memang seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia bertahan dengan pizza yang pedas sampai sekarang. Kasihan sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu bagaimana. Apa Nii-chama akan menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan menghabiskannya! Sia-sia jika kau membuangnya tanpa digunakan. Mulai sekarang, katakan pada mereka tidak usah memberikan saus tobasco...tidak, tunggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengingat sesuatu dari acara TV sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjamkan sepuluh yen yang kau dapat dari kembalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika menyerahkan uang koin sepuluh yen yang berceceran di atas meja. Dan juga, aku meminta beberapa tisu darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa yang akan kau lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memasukan koin ini ke dalam saus tobasco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu enak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berencana memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menuangakan sedikit saus tobasco, kemudian aku masukan koin dan membersihkannya dengan tisu. Dengan itu, koin sepuluh yen menjadi bersinar dalam sekejap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang koin sepuluh yen dibuat dari tembaga, itu adalah besi yang rentan terhadap oksidasi. Komponen yang ada dalam saus tobasco bisa membersihkan kotoran lewat reaksi redoks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersih dan bersinar pada kedua sisinya, aku mengambaikan itu ke Mika. Mata besar miliknya bercahaya dan berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan uang koin sepuluh yen lain di tanganya, Mika bergumamam sambil bolak-balik memandang uang koin dan wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama penyihir?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kata-kata yang aku dengar dari acara TV, tapi melihat betapa senang dirinya, aku senang bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika melihat koin yang bersih, dan tetap tersenyum. Itu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Luar biasa luar biasa! Sekarang Mii-chan menghormati Nii-chama. Aku akan memberitahu temanku di sekolah lain kali. Nii-chama, bolehkah aku memberitahukannya? Apa boleh dipaten dan lainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ti-tidak masalah. Mari makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan semangat. Setiap gerak tubuhnya sungguh imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“”Terima kasih makanannya.””&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua selesai makan pizza. Perut Mika kekenyangan setelah melahap potongan keju dan daging. Aku telah berhasil menaklukan keempat jenisnya dan kewalahan oleh ukurannya. Rasanya enak, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimakan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai makan kami tutup dengan minum coklat susu. Pada akhirnya, pizza yang tidak habis disimpan dalam kulkas setelah dibungkus ke piring. Selagi menatap hampa pada saluran anime yang tayang, Mika menempatkan sejumlah origami ke atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, ayo main origami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tenang dan damai. Jika dibandingkan dengan gim tembak-menembak, ini jauh lebih kekewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang akan kita buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika akan membuat bangau, karena dia bisa melakukan apapun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika berseru *ehem* dengan rasa bangga. Dia menampilkan ekspesi angkuh. Ah, sungguh imut. Itulah satu-satunya kesan yang terlintas dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, maukah kau mengajariku cara melipat bangau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okay! Umm, begini. Pertama, pilh kertasnya. Hari ini Mika suka warna jingga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku juga...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil secarik kertas origami dari dalam tumpukan kertas. Oh...beruntung. warna yang kudapat adalah emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘T-tidak! Nii-chama tidak boleh menggunakan yang warna emas! Masukan kembali! Cepat masukan kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Mika hampir menangis, aku menaruh kembali dengan cepat dan menarik kertas biru sebagai gantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warna emas tidak bagus, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu sangat berharga, jadi harus digunakan dengan baik! Nii-chama tidak pantas untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, biasanya hanaya ada satu warna emas dan perak dalam satu pak. Itu langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat bentuk bangau seperti yang Mika ajarkan. Aku dulu bisa melakukannya tapi aku sudah tidak bisa mengingat caranya dan harus diajari oleh Mika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangau biru dan jingga akhirnya selesai dan Mika dengan riang menatanya di atas TV. Bangau biru bentuknya sedikit aneh. Melihat lipatan milik Mika yang begitu rapi membuatku ingin mengulanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bangau buatan Mika dan Nii-chama terbang bersebelahan satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Benar sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat akan sesuatu, Mika menoleh ke arah jam yang menempel di dinding ruanagan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh! Aku harus cepat! Nii-chama tolong tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menaruh Maple ke kursi kecil. Pergi ke kamar tidur dan segera setelah dia kembali. Dia menggengam tablet di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika membuka aplikasi di tablet miliknya. Aplikasi yang populer di kalangan anak-anak tentang menumbuhkan jamur. Dia menggeser jamur yang tumbuh dekat gelondongan kayu menggunakan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Popopo〜〜n!* bersamaan dengan efek cahaya dan suara, jamur yang sudah tumbu dipanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau menyukai jamur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Mera sanagt imut. Dan juga, mereka bisa diambil! Nii-chama juga bisa mencoba mengambil mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, oke. Akan kuambil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ambil dua baris dengan jariku, Mika menaikan suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Nii-chama mengambil semuanya sekaligus, jangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya melakukan seperti yang kaukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, tapi mengambil jamur dalam jumlah yang banyak itu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa Mika tersipu malu. Setelah kukembalikan tablet-nya dia menanam jamur agar tumbuh kembali kemudian menutup aplikasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fuu..leganya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika tidak dilakukan dengan benar, mereka tidak bisa diambil besok, dengan ini semuanya akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar sekali, nona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh! Nii-chama ayo membaca buku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, aku akan membacakan buku apa saja yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika meminjamkan tabletnya lagi kepadaku. Aku melihat e-book. murasaki-san pasti sudah membelikan dan mengajari Mika cara membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memverifikasi akun, e-book terbuka. Nama Murasaki-san terdaftar di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam daftar isi ada banyak buku bergambar yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buku mana yang ingin aku bacakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sekarang kelas enam SD. Dia lulus pelajaran membaca buku bergambar tahun lalu. Dia seorang Onee-san, tapi karena banyak kanji itu jadi menyusahkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menyusahkan...jika ini benar buku untuk anak, harusnya banyak furiganan-nya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan memilih dan membeli bukunya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu. Mika berlebihan membeli bukanya dan ingin aku membacakan buku yang dia beli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, yang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menggeser halaman di daftar isi, Mika menyentuh sampul bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampulnya muncul dalam sekejap, ada sosok gadis dalam ilustrasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Judulnya tertampil dngan cepat, judulnya 『Putri Kesatria Maria』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, cepat bacakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu tentang isinya, tapi kelihatannya genrenya fantasi. Aku membacakan dengan lantang kalimat pertamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku tidak ingin melahirkan bayi orc...TUNGGU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chama, apa itu orc? Melahirkan bayi? Bayi kecil?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seolah Mika sedang memojokanku dengan sengaja, sungguh cerdik. Namun, itu tidak seperti dia melakukan untuk kepuasannya sendiri. Dengan kata lain, itu alami. Lugu, mengerikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey Mika, buku ini untuk orang dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mii-chan sudah dewasa! Dia ibunya Maple!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-buku ini hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. hukumnya tertulis seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hukum? Sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya. Jadi kita hentikan saja membacanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nuu! Kuharap aku tidak pernah membeli buku itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah. Aku manjalnkan tabletnya dan mengubah peraturan umur untuk buku yang bisa dibeli oleh anak berusia ‘dua belas tahun’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari kita coba buku yang lain. Mulai dari sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Jika Nii-chama memaksa, mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sekarang, aku ingin bisa mengabulkan semua permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tahu, Mii-chan selalu ingin bisa membantu. Sebelumnya dia telah berkonsultasi dengan Maple. Dia berkata “Mii-chan bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, dia wanita yang hebat.” Akko-chan dan Kenta-kun bantu-bantu di rumah mereka masing-masing, rasanya aneh cuma Mii-chan yang tidak harus melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak membantu Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal itu tidak ada dalam kontrak, jadi jangan...membantu adalah yang dia katakan. Yang Mii-chan lakukan hanya melihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu menggetarkan dadaku. Jadi Murasaki-san rutin memeriksa Mika hanya karena wasiat Taishido Jinya saja? aku tidak ingin menganggapnya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jadi Mika ingin membantu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! ‘Jika kau membantu kau akan mendapat upah.’ Katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia memiliki etika bekerja yang lebih kuat daripada Selene. Memiliki niatan untuk membantu demi mendaptkan upah itu sama seperti memiliki motif tersembunyi...tapi ingin bekerja bukanlah hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski bukan upah, jika Mika melakukannya dengan baik seharusanya ada sejenis penghargaan yang lebih sepadan...sebuah penghargaan, ya? Apa yang dia inginkan selain uang... aku sama sekali tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alu tidak tahu tentang upah...tapi aku sangat mengerti kalau kau hanya ingin membantu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senang Ni-chama bisa mengerti dengan cepat...fuaaa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika mnguap matanya lalu menguap, waktu masih menunjukan pukul 9 malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mika, jam berapa biasanya kau tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jam sembilan. Maple ingin begadang tapi rasa kantuk adalah musuh yang kuat. Nii-chama, bolehkah Mii-chan tidur? Dia sudah mandi sebelum Nii-cham datang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Maaf tidak mennyadari itu sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mika pergi ke kamar mandi dengan langkah yang sempoyongan lalu menggosok giginya. Matanya sudah setengah tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh benar aku akan menyelimutimu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup. Terima kasih Nii-chama. Aku menyayangimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia lekas pergi ke kamar tidur, sepertinya itu sudah pada batasnya. Setelah dengan dramatis menjatuhkan dirinya ke atas kasur dia memeluk Maple dan tidur lelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik selimut. Sesaat sebelum mematikan lampu an menutup pintu, dia berguling di kasur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mii-chan juga menginginkan keluarga.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541421</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541421"/>
		<updated>2018-06-09T08:24:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;.&#039;&#039;&#039;Kamis, 11 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dari nasi kepal, telur goreng; bayam rebus dan tomat cherry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mariko sedikit khawatir kalau telurnya sedikit gosong, tapi rasanya sangat enak. Meski begitu, makan siang buatan gadis memang sangat kecil. Mariko bertanya “Ingin makan sebagian milikku? Gadis mudah menjadi gemuk, itu membuatku iri kepada para lelaki.” Atau sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak terlihat memiliki lemak berlebih, tapi para gadis cukup sensitif ketika menyangkut masalah kelebihan berat badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin Mariko menginginkan bentuk tubuh yang langsing dan keren seperti model? Kupikir dia cukup imut dengan tubuh kecilnya... yah, itu juga bukan urusanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah, aku berdiri di depan ruang 401 di kediaman Taishido lalu mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan diri. Setelah aku siap secara mental kemudian kuderingkan bel, pintunya langsung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu! Namaku Tachibana Yuuki. Kelas tiga SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Taichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan keempat—— Tubuh Tachibana Yuuki tinggi. Seperti yang kuperkirakan, tubuhnya tidaklah terlalu tinggi hingga membuatku menoleh ke atas saat menatapnya, tetapi kelihatannya dia akan menguungguli tinggi badanku dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya sekitar 170 sentimeter. Rambut panjang miliknya dikuncir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian milik Yuuki sangat tomboy, penampilannya acak-acakan, mengenakan jeans dan sebuah kaus. Kaki dan pinggangnya cukup panjang, wajahnya kecil. Dia berbicara dengan senyuman di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang! Masuklah, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku dipegang lalu ditarik ke dalam ruangan. Cara bicaranya kelaki-lakian. Dan juga, tiba-tiba menggandeng tangan... itu sedikit memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf menggang〜”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kemudian melepas sepatu di dekat pintu. Perabotan di dalam ruang tamu berwarna hijau dan biru, memberikan perasaan yang menyegarkan. Walaupun dalamnya cukup bersih, ruangannya terasa seperti seseorang tengah mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berada pada spektrum yang sangat berbeda dengan Tomomi, namun mereka berdua sama-sama tomboy. Seragamnya digantung di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan gakuran. Aku tidak mengerti. Bukankah itu seragam laki-laki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu, bukan milikmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika teman laki-lakinya mampir lalu meninggalkan seragamnya digantung seperti itu, aku menjadi agak khawatir sebagai kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada bicaranya begitu lembut, dia tidak kelihatan berbohong. Postur tubuhnya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku mempunyai kesan bahwa dirinya adalah seorang gadis karena rambut panjang miliknya, kalau dia memiliki rambut pendek apakah dia akan terlihat seperti lelaki tampan. Kecantikannya memancarkan sebuah perasaan tanpa jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah memiliki gakuran sedikit aneh? Maksudku, gakuran itu seragam untuk laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas. Tidak masalah jika aku tidak mengenakan seragam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kalau begitu tidak masalah... mustahil aku mengatakannya. Hanya karena kau boleh mengenakan apapun yang kau mau bukanlah alasan untuk mengenakan seragam laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya... aku mengerti. Memang benar itu aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki duduk pada sofa di ruang tamu. Walaupun dia akan terlihat feminim saat duduk dengan menyilangkan kaki, justru dia melebarkan kaki memperlihatkan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir, saat Tomomi berbicara seperti laki-laki, bentuk tubuh dan cara duduknya terlihat feminim. Aku merasakan apa yang tak dimiliki oleh Yuuki. Dia menatapku selagi aku duduk di bangku sebelah meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terlintas di pikiran Nii-san ketika melihatku? Aku ingin kau mengatakan dengan jujur kesan pertamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri. Kesan pertamaku adalah... kau tidak mengetahui jenis kelaminmu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mengetahui jenis kelamin... yep, itu cukup akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau perempuan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara biologis, aku perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan cara dirinya mengatakan itu, dia tidak terlihat seperti perempuan secara kejiwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dirimu yang di dalam berbeda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kau salah. Aku ingin... menjadi... perempuan seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku menjadi sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang ingin jadi perempuan, tapi bukankah kau itu perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memalingkan pandangannya ke bawah lalu terdiam. Setelah melihat ekspresi kesepiannya, kelihatannya aku terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, itu salahku. Cara bertanyaku salah. Tolong ceritakan secara bertahap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san... maukah kau mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih! Nii-san adalah orang baik yang membuat diriku bahagia. Umm.. ah, maaf Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki berdiri dari sofa seolah memantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lupa. Aku segera menyiapkan kopi. Aku kurang baik dalam hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam memarahi dirinya sendiri. Kelihatannya dia depresi dan kurang percaya diri. Aku menanggapi agar dia senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, jangan pelit dengan gula dan susunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik! Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki bergegas pergi ke dapur dan setelah mendidihkan air di ceret, dia membuat kopi instan sesuai pesananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu suka dengan kopi instan, tetapi gula dan susu bisa menutupi rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik nafas panjang menyeruput kopi susu yang kupesan. Ngomong-ngomong, susu buatan Yuuki warnanya hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminum kopi hitam instan adalah sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Tentu saja, ada kopi instan mahal yang mungkin rasanya cukup enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menaruh cangkir ke atas meja Yuuki mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku kelas dua SD, seorang anak laki-laki di kelasku berkata 『&amp;quot;Pakaian wanita tidak cocok untukmu! 『&amp;quot;Perempuan jantan&amp;quot;』... sewaktu kecil aku lebih tinggi dari anak-anak seumuranku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau dirundung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu, umm... daripada perundungan... aku menggapnya sebagai saran. Karena kepribadianku yang positif, aku menjadi diriku seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saran... seberapa positif sih dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa malu saat aku membalasnya dengan ketus. Meski malu, dia memiliki senyuman yang cerah dan bahagia. Entah kenapa terlihat keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku tidak begitu peduli dengan perbedaan jenis kelamain, setiap kali aku berpakaian seperti anak laki-laki dia senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu, Yuuki juga sudah berpisah dengan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Empat tahun lalu sebuah surat terkirim dari Brazil. Sepertinya dia menemukan istri di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia meninggalkan anak perempuannya dan menikah lagi di luar negeri... Apa? Istri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Sepertinya ibuku sudah menjadi ayah tanpa kusadari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman yang menyegarkan, aku mencoba memahami perkataanya dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Jika ibuku menjadi ayahku, itu artinya dia telah melakukan sesuatu di kehidupan barunya. Selain itu aku ingin terus membuat ibuku—— ayahku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua kandungnya bahkan lebih aneh dari karakter fiksi. Yah, bukannya aku juga pantas mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kembali ke cerita. Apa yang terjadi di SD setelah kejadian itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemudian, ketika anak yang mengatakan 『”Perempuan jantan”』melihatku dengan pakaian wanita, dia tidak mengatakan apa pun... rasanya cukup sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu hanya ingin mendapatkan perhatian Yuuki, dia mungkin tidak akan percaya kalau Yuuki kembali berpakaian seperti anak laki-laki karena perkataanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Guru SD juga berkata『”Mereka menghormati kebebasan individu”』, alhasil aku terus berpakaian seperti anak laki-laki... tanpa kusadari, aku terlalu malu dan sungguh mustahil untukku mengenakan rok...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu ya... dan itu terus berlanjut sampai gakuran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke seragam di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas, aku juga berusaha dalam belajar. Karena aku rutin mengenakan seragam itu, banyak pelajar yang menyangka kalau aku ini laki-laki... namun seperti yang diduga, teman kelasku tahu kalau aku adalah seorang perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan toilet?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ramai aku bisa masuk toilet laki-laki, tidak ada masalah untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa tanpa ada sedikit pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apa ada suatu hambatan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Yuuki langsung &#039;&#039;*kshh*&#039;&#039; kemudian menjadi lebih merah daripada tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kalau itu, umm, bukannya menyombongkan diri namun aku menjadi populer di kalangan para gadis... aku juga ditembak oleh dua gadis di saat yang bersamaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hohoo. Tidak menyombongkan diri, populer yah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Yuuki menggerakan tangannya, dia terlihat seperti model, bentuk tubuhnya cukup feminim atau malah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menggodaku Nii-san. Keperjakaankeperjakaanku hampir direbut... um, lupakan. Dilihat dari mana pun, mereka berdua terlihat sangat mencintaiku dan karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku meminta nasihat pada seorang guru. Setelah itu, mereka berdua dilarang mendekatiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kata keperjakaankeperjakaan tadi terdengar aneh, namun jangan singgung tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau menolak mereka berdua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yep. Entah seberapa tomboy-nya diriku, tidak mungkin aku jatuh cinta pada perempuan... daripada itu, aku sunguh mengerti kalau aku harus memaksa diriku menjadi perempuan. Kenyataanya aku memanglah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja. Yuuki adalah perempuan. Dua gadis itu jatuh cinta padanya ketika dia berada dalam pakaian laki-laki, jika saja dia kembali berperilaku layaknya perempuan mereka tidak akan mempunyai pilihan selain menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa kau kesal karena itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya aku terkejut... namun aku mengerti keadaanmu sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, itu senyuman yang menyegarkan. Walaupun jenis kelamin kita sama... tidak tunggu, aku hampir terkecoh. Yuuki adalah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman miliknya yang memikat orang lain. Tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san! Aku ingin menjadi perempuan. Namun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan juga tidak ada orang yang bisa aku andalkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi intinya kau ingin aku membantumu?”	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku ingin menjadi adik perempuan (sementara) Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskannya. Ditambah, apa yang kau maksud dengan (sementara)...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf Nii-san! Tentu saja aku ingin menjadi adik perempuanmu. Selain itu, kau juga orang yang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menatapku. Rasa hormat yang ditunjukan lewat matanya menghilangkan segala keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti aku mempunyai sesuatu yang pantas dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa, Nii-san! Tidak peduli seberapa buruk caranya, jika aku dilihat sebagai adik perempuan seseorang, kewanitaanku akan tumbuh dengan sendirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti...hey, apa memang kata “kewanitaan” digunakan seperti itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya bisa bergantung padamu... dan juga, aku sudah menekan beberapa perubahanku sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mencoba melepaskan bajunya. Perutnya terlihat dari bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Hentikan! Aku mengerti! Aku mengerti jadi jangan dilepas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf! Kita belum jadi saudara ya. Aku meminta maaf membuatmu melihat hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli itu (sementara) atau saudara, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kau tunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Lalu, apa yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau ingin lebih feminim, kenapa kau tidak mencoba berkonsultasi dengan teman perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-ka-kalau itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tidak punya teman? Jadi seperti itu, teman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-benar. Mereka semua baik. Namun mereka menjaga jarak... setelah dua gadis itu mendekatiku. Gadis-gadis lain menatap sambil mengatakan sesuatu seperti 『satu gadis saja sudah cukup』. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau mereka salah tapi... dan juga, karena dua gadis itu mengancam mereka, aku jadi kesulitan ketika berurusan dengan para gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok gadis memang merepotkan ya. Sebelum Yuuki menyadirinya, situasi menjadi rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai mana masalahmu saat berurusan dengan para gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan saling menatap itu sudah membuatku resah... juga sulit bagiku untuk berbicara dengan pegawai kasir wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup parah. Daripada dengan diriku, dia seharusnya berkonsultasi dengan spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ingin menjadi perempuan, kau tidak boleh terlalu bergantung pada gadis SMP. Ditambah ibumu yang menjadi ayahmu sekarang sedang berada di tempat yang jauh... benar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengatakannya, Yuuki menganggukan kepalanya beberapa kali. Gerakannya yang seperti itu mengingatkan pada seekor anak anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak berbohong, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa memastikannya sendiri jika kau mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat dia memiliki banyak sekali situasi khusus yang saling tumpang tindih, aku pikir adalah hal yang bodoh jika tidak mencurigainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membahas tentang ini dengan Murasaki-san, aku akan mengetahui apakah cerita Yuuki dan situasinya itu hanyalah karangan atau bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku percaya padamu. Maaf sudah curiga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan aku sendiri menganggap itu aneh. Aku memang seperti ini tapi... mohon bimbing aku. Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika rasa takutnya dengan wanita hilang dan dia mendapatkan kepercayaan diri layaknya perempuan normal, Yuuki mungkin akan menjadi manusia super, terbuka, dan gadis cantik yang sempurna. Meski membimbingnya itu berlebihan, akan aku coba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir bisa berbuat banyak untuk membantumu. Kewanitaan... apa arti kewanitaan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memiringkan leherku dalam kebingungan, Yuuki melakukan hal yang sama, menirukan gerak tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu... artinya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengincar sesuatu yang tidak kau ketahui!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Kata itu populer di internet, jadi secara tidak sadar...aku menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tehepero*, Yuuki menjulurkan lidah kemudian mengedipkan matanya. Barusan, kewanitaanya cukup tinggi. Aku tidak terlalu mengerti apa itu kewanitaan, tetapi aku merasa itu sama seperti yang dilakukannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kata itu memang kau ketahui dari internet, bagaimana jika kita mencari sesuatu di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hore! Nii-san adalah seseorang yang bisa diandalkan. Itu membuatku sangat, sangat bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia memujiku, sejujurnya aku tidak memiliki rasa percaya diri apakah aku bisa memenuhi ekspektasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan browser pada smartphone miliku lalu menuliskan ‘kewanitaan’ pada kolom pencarian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya adalah beberapa artikel tentang kewanitaan, ringkasnya yaitu pada cara gadis berdandan, bertingkah laku, dan berbicara. Ada beberapa kategori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apakah ada suatu cara untuk meningkatkan kewanitaan milikku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menempel padaku dan mengatakan itu sambil menatap layar smartphone. Rambutnya memiliki bau mint. Memberikan kesan pemuda yang keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shampoo milikmu, bukankah itu yang digunakan para pria?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang untuk wanita baunya terlalu manis, tetapi aku menggunakan produk wanita untuk membersihkan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita mulai dari situ. Kau perlu membilas itu lalu menggantinya dengan perawatan yang cocok. Itu sia-sia mengetahui kau memiliki rambut yang indah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menyentuh rambutnya dan tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rambutku indah ya. Baik, aku akan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mulai dari sekarang. Untuk saat ini, aku meringkas semua informasi yang kudapatkan dari internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya, kewanitaan itu tentang memoles diri sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memoles... diri sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuki memiliki peralatan yang bagus untuk berdandan, dia akan menjadi cantik dengan mudah. Coba pikirkan saja, Mariko menjadi khawatir dengan berat badannya meski sama sekali tidak gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah... mungkin aku sudah melihat kewanitaan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa saja bersinar di keadaan yang masih kasar, kupikir itu adalah hal yang bagus untuk mempercantik dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memoles katamu, tapi aku masih tidak tahu harus melakukan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggulung tubuhnya. Ketika dia terlihat lebih kecil, kesan dirinya yang keren menjadi imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm.. yah yang seperti itu. Kau tidak memiliki masalah dengan berat badan, jadi tidak harus melakukan diet. Bagaimana kalau memakai make-up?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu cara memakainya. N-namun aku membeli beberapa kosmetik dengan keinginan bisa menghadapinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki pergi ke kamar di sebelah ruang tamu, dan kembali tidak lama kemudian. Dia memegang keranjang kecil berisi kosmetik. Aku tidak tahu harga untuk barang-barang ini, tetapi sekilas... barang-barang itu tidak terlihat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa uang yang kau bayar untuk barang-barang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing seratus yen. Aku pikir seorang pemula tidak seharusnya membeli yang mahal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau harus berinvestasi lebih untuk barang seperti ini, Yuuki-san. Yah meski begitu, dapat mempersiapkan dirinya saja sudah mengaggumkan, sebagai kakak aku perlu menyemangatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajarinya dengan informasi yang kutemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut informasi dari internet, menggunakan lotion kulit itu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku sudah membelinya! Jika aku tidak salah, itu digunakan setelah selesai membasuh wajahku. Jika aku memakainya apakah kewanitaanku akan meningkat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil botol kecil yang belum terbuka sambil menggoyangkan tubuhnya kesana kemari dengan semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lotion yang dibuat dari kedelai. Warnanya seputih susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau belum mencobanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir tak akan ada yang berubah meski aku memakai lotion, juga aku terlalu takut memakainya. Namun jika Nii-san yang mengatakannya... aku merasa seperti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Yuuki! Basuh wajahmu dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Akan aku lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Kemudian dia kembali sambil mengelap tetesan air dengan handuk. Yuuki, jika kau menggantung handuk di lehermu seperti itu, kewanitaanmu akan menurun hingga level pria tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh menyegarkan! Rasanya enak setelah membasuh wajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terasa liar, seperti pria dewasa setelah membasuh wajahnya. Namun aku akan diam saja untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau kita langsung memakai lotion dan melihat hasilnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Nii-san. Umm, berapa banyak yang harus kupakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kudapat dari internet, daripada memakai lotion yang harganya mahal, akan lebih baik uangnya dibelanjakan untuk yang murah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mencari tahu tentang itu, tetapi aku tidak menemukan cara untuk memakainya. Tapi yang lebih penting adalah membuat kewanitaan Yuuki bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dibelanjakan untuk yang murah. Kalau begitu... yang ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan, tapi Yuuki membuka penutup lotion dan setelah menaikan dagu lalu mengangkat wajahnya menghadap langit-langit dia mulai mengoleskan lotion ke wajahnya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan putih yang lengket dan menggumpal menutupi wajah Yuuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apa kewanitaanku sudah naik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tes tes tes tes tes tes tes plop plop tes tes tes tes tes plop*. Wajahnya benar-benar tertutup oleh cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat susah untuk meningkatkan kewanitaan. Lotion-nya bahkan sampai menetes ke dadaku dan bajuku jadi lengket semua. Waahaahaha! Anehnya, aku merasa kewanitaanku perlahan meningkat! Lotion kulit memang luar biasa. ‘kan, Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kalau itu... meski sulit mengatakannya, tetapi kewanitaanmu mungkin... sudah menurun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Yuuki membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“N-Nii-san! Kenapa kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya informasi seperti ini cuma tipuan belaka. Ayo kita coba cara lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendesah setelah melihat wajahnya yang seolah akan menangis sembari masih ditutupi cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu informasi yang aku fokuskan adalah hipotesis lain mengenai kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewanitaan adalah kekuatan pakaian dalam. Menjadi modis pada tempat yang tak terlihat adalah kunci untuk meningkatkan kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, aku pernah berpikir kalau Tomomi itu feminim... bra berwarna merah muda miliknya bisa dilihat dari kausnya... hey, apa yang aku pikirkan sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, aku akan mengganti kaus ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki kembali mengenakan kaus satin berwarna hitam dengan model open neck. Kerahnya naik... dia terlihat seperti tuan rumah. Setelah dia mengenakan kaus yang keren kelaki-lakiannya bertambah, tidak terasa ada yang janggal sedikitpun.[[Image: OOSY v01 004.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana caranya aku mengatakan kepada seorang gadis kalau kewanitaan = kekuatan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, celana dalam milikmu warnanya apa? Umm, maksudku bukan dalam artian yang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kupikir dengan melihatnya akan jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Pertanyaanku terlalu berlebihan, tetapi Yuuki adalah orang bodoh dari lahir. Ketika di deoanku, dia mengendurkan sabuk celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu tunggu tunggu! Pertanyaanku cukup aneh, tetapi bukankah lebih aneh jika kau melepaskan bahkan sampai memperlihatkannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah... k-kau benar. Meski kita adalah saudara tidaklah baik memperlihatkannya ya. Ngomong-ngomong, warna celana dalam seperti apa yang harus kukenakan untuk meningkatkan kewanitaanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kutemukan di internet, bukan hanya warnanya tapi desainnya juga penting. Kau tidak perlu melepaskannya, namun jenis pakaian apa yang kau kenakan? Itu merupakan pertanyaan tanpa ada motif terselubung dan hanya untuk memastikan saja, aku tidak memiliki perasaan bersalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Nii-san. Umm, celana dalam yang kukenakan seperti celana dalam boxer dengan pola yang penuh warna. Memang benar, trunks kurang nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa dan dengan malu memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan b-bra?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadaku diikat dengan perban, tetapi sudah tidak bisa lagi digunakan. Sebenarnya, aku tidak tahu jenis pakaian dalam apa yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menurunkan bahunya. Sepertinya kewanitaan miliknya bertambah ketika sedang sedih. Namun karismanya meruntuhkan ketika itu terjadi. Aku ingin membantunya mendapatkan kewanitaan dengan segala kemampuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya bersinar, dan dia menatapku dengan penuh keyakinan. Ditambah, Yuuki sama sekali tidak terlihat memiliki tanda–tanda ironi atau niat jahat. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau memandangku dengan penuh rasa hormat begitu, aku merasa seperti dipuji karena mengatakan sesuatu yang mesum. Aku tidak berpengetahuan luas, tetapi jika kau tidak bisa berbicara dengan pegawai kasir wanita kau masih bisa berbelanja lewat internet, ‘kan? Mari manfaatkan kelebihan teknologi informasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku cukup sering berbelanja lewat internet. Aku bahkan berani memesan baju seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baju seperti itu, maksudmu pakaian wanita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan bahunya dan menjadi semakin kecil seperti kehilangan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. A-aneh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Yuuki sungguh hebat. Syukurlah masalah ini hampir sepenuhnya hilang. Sama seperti kau memesan baju lewat internet, kau juga bisa membeli bra yang imut untuk dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-membeli bra yang imut untuk diriku?! Mustahil, pilih kan satu untukku Nii-san. Meski bra itu tembus pandang atau yang seksi... aku mau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang memutuskan sendiri. Bukankah penting untukmu menentukan mana yang kau anggap『Imut』?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menemukan.... imut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kau harus mengetahui mana yang menurutmu imut. Nantinya itulah yang menjadi cara mempercantik dirimu sendiri dan di saat yang bersamaan kewanitaanmu akan meingkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengatakan dengan lantang pendapat yang kubaca di internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ka-kalau begitu... maukah kau mencarinya... bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki tersipu dan menatap ke arah wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. sekarang mari kita cari lewat smartphone atau PC milikmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan mengambilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali dari kamar dan membawa sebuah laptop. Itu merupakan tipe besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, boleh aku memeriksa Twitter dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Aku tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuka situs kesukaanya. Dia memeriksa akun milik artis internet lokal “Undying Cicada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak men-tweet. Aku pensaran apakah Cicada-san baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau penggemar orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Nii-san juga tahu Cicada-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, umm..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artian luas, bisa dikatakan kita tinggal di atap yang sama... kemudian, Yuuki meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Cicada-san tidak men-tweet sejak minggu lalu, aku jadi sedikit khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa orang ini menjadi begitu terkenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cicada-san membuat banyak pakaian. Namun dia tidak membuatkan untuk sembarang orang, dia terkenal karena membuatkan pakaian untuk orang yang dia sukai saja lho?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu pakaian yang dia buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Itu merupakan kehormatan sekaligus keberuntungan bisa mendapatkannya. Sampai-sampai, baju itu dikirim ke tempatku sehari setelahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kau tidak mengenakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kewanitaanku yang sekarang aku belum bisa memakainya... namun suatu saat nanti, aku berharap menjadi perempuan yang cantik lalu mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja mengetahui suatu hubungan yang mengejutkan di tempat yang tak terduga. Tetapi, mengingat bagaimana Yuuki dan Selene terhubung, akan lebih baik kalau aku tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mungkin akan senang mengetahui orang yang dia kagumi adalah adik perempuannya sendiri, kalau Selene mungkin dia akan malu. Mari ubah topik pembicaraanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo kita cari situs pakaian dalam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Mari berjuang Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetik “Pakaian dalam wanita” pada kolom pencarian dan melihat di pencarian gambar. Hasilnya merupakan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san! Seberapa banyak kewanitaan pada bintang keberuntungan yang menempel didada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saring hal seperti itu dari otakkmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Celana dalam yang dikenakan wanita ini kenapa tak ada kain lain dipinggangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya itu dinamakan C-string, itu sengaja dibuat agar bentuk celana dalam tidak terlihat. Mungkin akan cocok dengan yukata tapi kita lewati saja hal yang semakin nyeleneh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang ini ada lubang ditengahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lewat lewat lewat! Kita pindah ke situs yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku penasaran apa tali juga termasuk celana dalam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jadi... tidak. Jelas tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Gambarnya imut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Yuuki menemukan standar ‘imutnya’, itu merupakan celana dalam seorang gadis dari Pretty Girls Rangers Fruity.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Celana dalam seperti itu biasa dipakai oleh anak SD.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Ini sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku dan Yuuki mencari di beberapa situs dan akhirnya menemukan celana dalam dengan lingrie imut khusus remaja wanita. Setelah memebel berbagai macam pakaian kami selesai berbelanja. Selesai menutup laptop miliknya Yuuki meregangkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san. Aku merasa kewanitaanku meningkat drastis jika mengenakannya. Sudah saatnya makan malam, kau pasti lapar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Aku kelaparan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malamnya adalah makanan beku. Meskipun jika dia memasak kewanitaannya akan meningkat, tetapi kelihatannya Yuuki tidak bisa memasak. Kami berdua memakan nasi, satu hamburger kecil dengan ayam goreng sebagai lauk yang sempurna untuk makanan kotak dan sayuran rebus di wadah kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Yuuki bersiap mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau mandi bareng, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau laki-laki, aku mau-mau saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Aku tidak begitu keberatan lho... kau mandi duluan, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku tidak akan menolak. Jangan mengintip ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin aku melakukannya. Nii-san aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega Yuuki menertawakannya. Berbeda dengan Sayuri yang menerobos waktu itu, aku bisa selesai mandi dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hingga waktunya selesai, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV dengan Yuuki. Saluran khusus anime sedang menyiarkan Pretty Girls Rangers Fruity. Kelihatannya itu siaran ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengejutkan ternyata Nii-san juga menonton anime.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benci anime?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali, malah aku menyukainya. Aku cenderung bertingkah laku seperti Orange-chan, namun aku ingin seperti Grape-chan yang penuh dengan karisma dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Yuuki anime mungkin bisa menjadi bahan meningkatkan kewanitaanya. Meski acaranya ditujukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai menonton satu episode, waktu menunjukan hampir setengah dua belas, tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingin menginap untuk malam ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ini kamar milik kandidat adik perempuanku, aku tetap tidak bisa. Aku harus kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku mengerti. Sayang sekali tapi mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat senyuman Yuuki saat dia mengantarku ke pintu depan, dadaku sedikit sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah dia dapat merasa seperti perempuan berkat latihan kewanitaan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap dapat membantunya layaknya seorang kakak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541181</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541181"/>
		<updated>2018-06-04T06:37:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;.&#039;&#039;&#039;Kamis, 11 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dari nasi kepal, telur goreng; bayam rebus dan tomat cherry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mariko sedikit khawatir kalau telurnya sedikit gosong, tapi rasanya sangat enak. Meski begitu, makan siang buatan gadis memang sangat kecil. Mariko bertanya “Ingin makan sebagian milikku? Gadis mudah menjadi gemuk, itu membuatku iri kepada para lelaki.” Atau sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak terlihat memiliki lemak berlebih, tapi para gadis cukup sensitif ketika menyangkut masalah kelebihan berat badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin Mariko menginginkan bentuk tubuh yang langsing dan keren seperti model? Kupikir dia cukup imut dengan tubuh kecilnya... yah, itu juga bukan urusanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah, aku berdiri di depan ruang 401 di kediaman Taishido lalu mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan diri. Setelah aku siap secara mental kemudian kuderingkan bel, pintunya langsung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu! Namaku Tachibana Yuuki. Kelas tiga SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Taichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan keempat—— Tubuh Tachibana Yuuki tinggi. Seperti yang kuperkirakan, tubuhnya tidaklah terlalu tinggi hingga membuatku menoleh ke atas saat menatapnya, tetapi kelihatannya dia akan menguungguli tinggi badanku dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya sekitar 170 sentimeter. Rambut panjang miliknya dikuncir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian milik Yuuki sangat tomboy, penampilannya acak-acakan, mengenakan jeans dan sebuah kaus. Kaki dan pinggangnya cukup panjang, wajahnya kecil. Dia berbicara dengan senyuman di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang! Masuklah, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku dipegang lalu ditarik ke dalam ruangan. Cara bicaranya kelaki-lakian. Dan juga, tiba-tiba menggandeng tangan... itu sedikit memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf menggang〜”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kemudian melepas sepatu di dekat pintu. Perabotan di dalam ruang tamu berwarna hijau dan biru, memberikan perasaan yang menyegarkan. Walaupun dalamnya cukup bersih, ruangannya terasa seperti seseorang tengah mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berada pada spektrum yang sangat berbeda dengan Tomomi, namun mereka berdua sama-sama tomboy. Seragamnya digantung di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan gakuran. Aku tidak mengerti. Bukankah itu seragam laki-laki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu, bukan milikmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika teman laki-lakinya mampir lalu meninggalkan seragamnya digantung seperti itu, aku menjadi agak khawatir sebagai kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada bicaranya begitu lembut, dia tidak kelihatan berbohong. Postur tubuhnya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku mempunyai kesan bahwa dirinya adalah seorang gadis karena rambut panjang miliknya, kalau dia memiliki rambut pendek apakah dia akan terlihat seperti lelaki tampan. Kecantikannya memancarkan sebuah perasaan tanpa jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah memiliki gakuran sedikit aneh? Maksudku, gakuran itu seragam untuk laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas. Tidak masalah jika aku tidak mengenakan seragam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kalau begitu tidak masalah... mustahil aku mengatakannya. Hanya karena kau boleh mengenakan apapun yang kau mau bukanlah alasan untuk mengenakan seragam laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya... aku mengerti. Memang benar itu aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki duduk pada sofa di ruang tamu. Walaupun dia akan terlihat feminim saat duduk dengan menyilangkan kaki, justru dia melebarkan kaki memperlihatkan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir, saat Tomomi berbicara seperti laki-laki, bentuk tubuh dan cara duduknya terlihat feminim. Aku merasakan apa yang tak dimiliki oleh Yuuki. Dia menatapku selagi aku duduk di bangku sebelah meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terlintas di pikiran Nii-san ketika melihatku? Aku ingin kau mengatakan dengan jujur kesan pertamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri. Kesan pertamaku adalah... kau tidak mengetahui jenis kelaminmu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mengetahui jenis kelamin... yep, itu cukup akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau perempuan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara biologis, aku perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan cara dirinya mengatakan itu, dia tidak terlihat seperti perempuan secara kejiwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dirimu yang di dalam berbeda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kau salah. Aku ingin... menjadi... perempuan seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku menjadi sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang ingin jadi perempuan, tapi bukankah kau itu perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memalingkan pandangannya ke bawah lalu terdiam. Setelah melihat ekspresi kesepiannya, kelihatannya aku terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, itu salahku. Cara bertanyaku salah. Tolong ceritakan secara bertahap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san... maukah kau mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih! Nii-san adalah orang baik yang membuat diriku bahagia. Umm.. ah, maaf Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki berdiri dari sofa seolah memantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lupa. Aku segera menyiapkan kopi. Aku kurang baik dalam hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam memarahi dirinya sendiri. Kelihatannya dia depresi dan kurang percaya diri. Aku menanggapi agar dia senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, jangan pelit dengan gula dan susunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik! Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki bergegas pergi ke dapur dan setelah mendidihkan air di ceret, dia membuat kopi instan sesuai pesananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu suka dengan kopi instan, tetapi gula dan susu bisa menutupi rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik nafas panjang menyeruput kopi susu yang kupesan. Ngomong-ngomong, susu buatan Yuuki warnanya hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminum kopi hitam instan adalah sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Tentu saja, ada kopi instan mahal yang mungkin rasanya cukup enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menaruh cangkir ke atas meja Yuuki mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku kelas dua SD, seorang anak laki-laki di kelasku berkata 『&amp;quot;Pakaian wanita tidak cocok untukmu! 『&amp;quot;Perempuan jantan&amp;quot;』... sewaktu kecil aku lebih tinggi dari anak-anak seumuranku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau di rundung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu, umm... daripada perundungan... aku menggapnya sebagai saran. Karena kepribadianku yang positif, aku menjadi diriku seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saran... seberapa positif sih dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa malu saat aku membalasnya dengan ketus. Meski malu, dia memiliki senyuman yang cerah dan bahagia. Entah kenapa terlihat keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku tidak begitu peduli dengan perbedaan jenis kelamain, setiap kali aku berpakaian seperti anak laki-laki dia senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu, Yuuki juga sudah berpisah dengan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Empat tahun lalu sebuah surat terkirim dari Brazil. Sepertinya dia menemukan istri di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia meninggalkan anak perempuannya dan menikah lagi di luar negeri... Apa? Istri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Sepertinya ibuku sudah menjadi ayah tanpa kusadari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman yang menyegarkan, aku mencoba memahami perkataanya dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Jika ibuku menjadi ayahku, itu artinya dia telah melakukan sesuatu di kehidupan barunya. Selain itu aku ingin terus membuat ibuku—— ayahku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua kandungnya bahkan lebih aneh dari karakter fiksi. Yah, bukannya aku juga pantas mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kembali ke cerita. Apa yang terjadi di SD setelah kejadian itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemudian, ketika anak yang mengatakan 『”Perempuan jantan”』melihatku dengan pakaian wanita, dia tidak mengatakan apa pun... rasanya cukup sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu hanya ingin mendapatkan perhatian Yuuki, dia mungkin tidak akan percaya kalau Yuuki kembali berpakaian seperti anak laki-laki karena perkataanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Guru SD juga berkata『”Mereka menghormati kebebasan individu”』, alhasil aku terus berpakaian seperti anak laki-laki... tanpa kusadari, aku terlalu malu dan sungguh mustahil untukku mengenakan rok...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu ya... dan itu terus berlanjut sampai gakuran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke seragam di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas, aku juga berusaha dalam belajar. Karena aku rutin mengenakan seragam itu, banyak pelajar yang menyangka kalau aku ini laki-laki... namun seperti yang diduga, teman kelasku tahu kalau aku adalah seorang perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan toilet?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ramai aku bisa masuk toilet laki-laki, tidak ada masalah untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa tanpa ada sedikit pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apa ada suatu hambatan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Yuuki langsung *kshh* kemudian menjadi lebih merah daripada tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kalau itu, umm, bukannya menyombongkan diri namun aku menjadi populer di kalangan para gadis... aku juga ditembak oleh dua gadis di saat yang bersamaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hohoo. Tidak menyombongkan diri, populer yah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Yuuki menggerakan tangannya, dia terlihat seperti model, bentuk tubuhnya cukup feminim atau malah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menggodaku Nii-san. Keperjakaankeperjakaanku hampir direbut... um, lupakan. Dilihat dari mana pun, mereka berdua terlihat sangat mencintaiku dan karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku meminta nasihat pada seorang guru. Setelah itu, mereka berdua dilarang mendekatiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kata keperjakaankeperjakaan tadi terdengar aneh, namun jangan singgung tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau menolak mereka berdua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yep. Entah seberapa tomboy-nya diriku, tidak mungkin aku jatuh cinta pada perempuan... daripada itu, aku sunguh mengerti kalau aku harus memaksa diriku menjadi perempuan. Kenyataanya aku memanglah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja. Yuuki adalah perempuan. Dua gadis itu jatuh cinta padanya ketika dia berada dalam pakaian laki-laki, jika saja dia kembali berperilaku layaknya perempuan mereka tidak akan mempunyai pilihan selain menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa kau kesal karena itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya aku terkejut... namun aku mengerti keadaanmu sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, itu senyuman yang menyegarkan. Walaupun jenis kelamin kita sama... tidak tunggu, aku hampir terkecoh. Yuuki adalah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman miliknya yang memikat orang lain. Tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san! Aku ingin menjadi perempuan. Namun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan juga tidak ada orang yang bisa aku andalkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi intinya kau ingin aku membantumu?”	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku ingin menjadi adik perempuan (sementara) Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskannya. Ditambah, apa yang kau maksud dengan (sementara)...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf Nii-san! Tentu saja aku ingin menjadi adik perempuanmu. Selain itu, kau juga orang yang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menatapku. Rasa hormat yang ditunjukan lewat matanya menghilangkan segala keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti aku mempunyai sesuatu yang pantas dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa, Nii-san! Tidak peduli seberapa buruk caranya, jika aku dilihat sebagai adik perempuan seseorang, kewanitaanku akan tumbuh dengan sendirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti...hey, apa memang kata “kewanitaan” digunakan seperti itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya bisa bergantung padamu... dan juga, aku sudah menekan beberapa perubahanku sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mencoba melepaskan bajunya. Perutnya terlihat dari bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Hentikan! Aku mengerti! Aku mengerti jadi jangan dilepas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf! Kita belum jadi saudara ya. Aku meminta maaf membuatmu melihat hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli itu (sementara) atau saudara, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kau tunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Lalu, apa yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau ingin lebih feminim, kenapa kau tidak mencoba berkonsultasi dengan teman perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-ka-kalau itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tidak punya teman? Jadi seperti itu, teman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-benar. Mereka semua baik. Namun mereka menjaga jarak... setelah dua gadis itu mendekatiku. Gadis-gadis lain menatap sambil mengatakan sesuatu seperti 『satu gadis saja sudah cukup』. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau mereka salah tapi... dan juga, karena dua gadis itu mengancam mereka, aku jadi kesulitan ketika berurusan dengan para gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok gadis memang merepotkan ya. Sebelum Yuuki menyadirinya, situasi menjadi rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai mana masalahmu saat berurusan dengan para gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan saling menatap itu sudah membuatku resah... juga sulit bagiku untuk berbicara dengan pegawai kasir wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup parah. Daripada dengan diriku, dia seharusnya berkonsultasi dengan spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ingin menjadi perempuan, kau tidak boleh terlalu bergantung pada gadis SMP. Ditambah ibumu yang menjadi ayahmu sekarang sedang berada di tempat yang jauh... benar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengatakannya, Yuuki menganggukan kepalanya beberapa kali. Gerakannya yang seperti itu mengingatkan pada seekor anak anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak berbohong, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa memastikannya sendiri jika kau mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat dia memiliki banyak sekali situasi khusus yang saling tumpang tindih, aku pikir adalah hal yang bodoh jika tidak mencurigainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membahas tentang ini dengan Murasaki-san, aku akan mengetahui apakah cerita Yuuki dan situasinya itu hanyalah karangan atau bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku percaya padamu. Maaf sudah curiga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan aku sendiri menganggap itu aneh. Aku memang seperti ini tapi... mohon bimbing aku. Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika rasa takutnya dengan wanita hilang dan dia mendapatkan kepercayaan diri layaknya perempuan normal, Yuuki mungkin akan menjadi manusia super, terbuka, dan gadis cantik yang sempurna. Meski membimbingnya itu berlebihan, akan aku coba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir bisa berbuat banyak untuk membantumu. Kewanitaan... apa arti kewanitaan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memiringkan leherku dalam kebingungan, Yuuki melakukan hal yang sama, menirukan gerak tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu... artinya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengincar sesuatu yang tidak kau ketahui!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Kata itu populer di internet, jadi secara tidak sadar...aku menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tehepero*, Yuuki menjulurkan lidah kemudian mengedipkan matanya. Barusan, kewanitaanya cukup tinggi. Aku tidak terlalu mengerti apa itu kewanitaan, tetapi aku merasa itu sama seperti yang dilakukannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kata itu memang kau ketahui dari internet, bagaimana jika kita mencari sesuatu di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hore! Nii-san adalah seseorang yang bisa diandalkan. Itu membuatku sangat, sangat bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia memujiku, sejujurnya aku tidak memiliki rasa percaya diri apakah aku bisa memenuhi ekspektasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan browser pada smartphone miliku lalu menuliskan ‘kewanitaan’ pada kolom pencarian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya adalah beberapa artikel tentang kewanitaan, ringkasnya yaitu pada cara gadis berdandan, bertingkah laku, dan berbicara. Ada beberapa kategori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apakah ada suatu cara untuk meningkatkan kewanitaan milikku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menempel padaku dan mengatakan itu sambil menatap layar smartphone. Rambutnya memiliki bau mint. Memberikan kesan pemuda yang keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shampoo milikmu, bukankah itu yang digunakan para pria?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang untuk wanita baunya terlalu manis, tetapi aku menggunakan produk wanita untuk membersihkan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita mulai dari situ. Kau perlu membilas itu lalu menggantinya dengan perawatan yang cocok. Itu sia-sia mengetahui kau memiliki rambut yang indah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menyentuh rambutnya dan tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rambutku indah ya. Baik, aku akan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mulai dari sekarang. Untuk saat ini, aku meringkas semua informasi yang kudapatkan dari internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya, kewanitaan itu tentang mempercantik diri sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik... diri sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuki memiliki peralatan yang bagus untuk berdandan, dia akan menjadi cantik dengan mudah. Coba pikirkan saja, Mariko menjadi khawatir dengan berat badannya meski sama sekali tidak gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah... mungkin aku sudah melihat kewanitaan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa saja bersinar di keadaan yang masih kasar, kupikir itu adalah hal yang bagus untuk mempercantik dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik katamu, tapi aku masih tidak tahu harus melakukan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggulung tubuhnya. Ketika dia terlihat lebih kecil, kesan dirinya yang keren menjadi imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm.. yah yang seperti itu. Kau tidak memiliki masalah dengan berat badan, jadi tidak harus melakukan diet. Bagaimana kalau memakai make-up?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu cara memakainya. N-namun aku membeli beberapa kosmetik dengan keinginan bisa menghadapinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki pergi ke kamar di sebelah ruang tamu, dan kembali tidak lama kemudian. Dia memegang keranjang kecil berisi kosmetik. Aku tidak tahu harga untuk barang-barang ini, tetapi sekilas... barang-barang itu tidak terlihat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa uang yang kau bayar untuk barang-barang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing seratus yen. Aku pikir seorang pemula tidak seharusnya membeli yang mahal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau harus berinvestasi lebih untuk barang seperti ini, Yuuki-san. Yah meski begitu, dapat mempersiapkan dirinya saja sudah mengaggumkan, sebagai kakak aku perlu menyemangatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajarinya dengan informasi yang kutemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut informasi dari internet, menggunakan lotion kulit itu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku sudah membelinya! Jika aku tidak salah, itu digunakan setelah selesai membasuh wajahku. Jika aku memakainya apakah kewanitaanku akan meningkat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil botol kecil yang belum terbuka sambil menggoyangkan tubuhnya kesana kemari dengan semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lotion yang dibuat dari kedelai. Warnanya seputih susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau belum mencobanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir tak akan ada yang berubah meski aku memakai lotion, juga aku terlalu takut memakainya. Namun jika Nii-san yang mengatakannya... aku merasa seperti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Yuuki! Basuh wajahmu dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Akan aku lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Kemudian dia kembali sambil mengelap tetesan air dengan handuk. Yuuki, jika kau menggantung handuk di lehermu seperti itu, kewanitaanmu akan menurun hingga level pria tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh menyegarkan! Rasanya enak setelah membasuh wajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terasa liar, seperti pria dewasa setelah membasuh wajahnya. Namun aku akan diam saja untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau kita langsung memakai lotion dan melihat hasilnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Nii-san. Umm, berapa banyak yang harus kupakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kudapat dari internet, daripada memakai lotion yang harganya mahal, akan lebih baik uangnya dibelanjakan untuk yang murah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mencari tahu tentang itu, tetapi aku tidak menemukan cara untuk memakainya. Tapi yang lebih penting adalah membuat kewanitaan Yuuki bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dibelanjakan untuk yang murah. Kalau begitu... yang ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan, tapi Yuuki membuka penutup lotion dan setelah menaikan dagu lalu mengangkat wajahnya menghadap langit-langit dia mulai mengoleskan lotion ke wajahnya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan putih yang lengket dan menggumpal menutupi wajah Yuuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apa kewanitaanku sudah naik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tes tes tes tes tes tes tes plop plop tes tes tes tes tes plop*. Wajahnya benar-benar tertutup oleh cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat susah untuk meningkatkan kewanitaan. Lotion-nya bahkan sampai menetes ke dadaku dan bajuku jadi lengket semua. Waahaahaha! Anehnya, aku merasa kewanitaanku perlahan meningkat! Lotion kulit memang luar biasa. ‘kan, Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kalau itu... meski sulit mengatakannya, tetapi kewanitaanmu mungkin... sudah menurun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Yuuki membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“N-Nii-san! Kenapa kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya informasi seperti ini cuma tipuan belaka. Ayo kita coba cara lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendesah setelah melihat wajahnya yang seolah akan menangis sembari masih ditutupi cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu informasi yang aku fokuskan adalah hipotesis lain mengenai kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewanitaan adalah kekuatan pakaian dalam. Menjadi modis pada tempat yang tak terlihat adalah kunci untuk meningkatkan kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, aku pernah berpikir kalau Tomomi itu feminim... bra berwarna merah muda miliknya bisa dilihat dari kausnya... hey, apa yang aku pikirkan sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, aku akan mengganti kaus ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki kembali mengenakan kaus satin berwarna hitam dengan model open neck. Kerahnya naik... dia terlihat seperti tuan rumah. Setelah dia mengenakan kaus yang keren kelaki-lakiannya bertambah, tidak terasa ada yang janggal sedikitpun.[[Image: OOSY v01 004.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana caranya aku mengatakan kepada seorang gadis kalau kewanitaan = kekuatan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, celana dalam milikmu warnanya apa? Umm, maksudku bukan dalam artian yang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kupikir dengan melihatnya akan jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Pertanyaanku terlalu berlebihan, tetapi Yuuki adalah orang bodoh dari lahir. Ketika di deoanku, dia mengendurkan sabuk celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu tunggu tunggu! Pertanyaanku cukup aneh, tetapi bukankah lebih aneh jika kau melepaskan bahkan sampai memperlihatkannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah... k-kau benar. Meski kita adalah saudara tidaklah baik memperlihatkannya ya. Ngomong-ngomong, warna celana dalam seperti apa yang harus kukenakan untuk meningkatkan kewanitaanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kutemukan di internet, bukan hanya warnanya tapi desainnya juga penting. Kau tidak perlu melepaskannya, namun jenis pakaian apa yang kau kenakan? Itu merupakan pertanyaan tanpa ada motif terselubung dan hanya untuk memastikan saja, aku tidak memiliki perasaan bersalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Nii-san. Umm, celana dalam yang kukenakan seperti celana dalam boxer dengan pola yang penuh warna. Memang benar, trunks kurang nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa dan dengan malu memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan b-bra?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadaku diikat dengan perban, tetapi sudah tidak bisa lagi digunakan. Sebenarnya, aku tidak tahu jenis pakaian dalam apa yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menurunkan bahunya. Sepertinya kewanitaan miliknya bertambah ketika sedang sedih. Namun karismanya meruntuhkan ketika itu terjadi. Aku ingin membantunya mendapatkan kewanitaan dengan segala kemampuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya bersinar, dan dia menatapku dengan penuh keyakinan. Ditambah, Yuuki sama sekali tidak terlihat memiliki tanda–tanda ironi atau niat jahat. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau memandangku dengan penuh rasa hormat begitu, aku merasa seperti dipuji karena mengatakan sesuatu yang mesum. Aku tidak berpengetahuan luas, tetapi jika kau tidak bisa berbicara dengan pegawai kasir wanita kau masih bisa berbelanja lewat internet, ‘kan? Mari manfaatkan kelebihan teknologi informasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku cukup sering berbelanja lewat internet. Aku bahkan berani memesan baju seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baju seperti itu, maksudmu pakaian wanita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan bahunya dan menjadi semakin kecil seperti kehilangan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. A-aneh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Yuuki sungguh hebat. Syukurlah masalah ini hampir sepenuhnya hilang. Sama seperti kau memesan baju lewat internet, kau juga bisa membeli bra yang imut untuk dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-membeli bra yang imut untuk diriku?! Mustahil, pilih kan satu untukku Nii-san. Meski bra itu tembus pandang atau yang seksi... aku mau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang memutuskan sendiri. Bukankah penting untukmu menentukan mana yang kau anggap『Imut』?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menemukan.... imut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kau harus mengetahui mana yang menurutmu imut. Nantinya itulah yang menjadi cara mempercantik dirimu sendiri dan di saat yang bersamaan kewanitaanmu akan meingkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengatakan dengan lantang pendapat yang kubaca di internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ka-kalau begitu... maukah kau mencarinya... bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki tersipu dan menatap ke arah wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. sekarang mari kita cari lewat smartphone atau PC milikmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan mengambilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali dari kamar dan membawa sebuah laptop. Itu merupakan tipe besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, boleh aku memeriksa Twitter dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Aku tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuka situs kesukaanya. Dia memeriksa akun milik artis internet lokal “Undying Cicada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak men-tweet. Aku pensaran apakah Cicada-san baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau penggemar orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Nii-san juga tahu Cicada-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, umm..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artian luas, bisa dikatakan kita tinggal di atap yang sama... kemudian, Yuuki meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Cicada-san tidak men-tweet sejak minggu lalu, aku jadi sedikit khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa orang ini menjadi begitu terkenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cicada-san membuat banyak pakaian. Namun dia tidak membuatkan untuk sembarang orang, dia terkenal karena membuatkan pakaian untuk orang yang dia sukai saja lho?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu pakaian yang dia buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Itu merupakan kehormatan sekaligus keberuntungan bisa mendapatkannya. Sampai-sampai, baju itu dikirim ke tempatku sehari setelahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kau tidak mengenakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kewanitaanku yang sekarang aku belum bisa memakainya... namun suatu saat nanti, aku berharap menjadi perempuan yang cantik lalu mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja mengetahui suatu hubungan yang mengejutkan di tempat yang tak terduga. Tetapi, mengingat bagaimana Yuuki dan Selene terhubung, akan lebih baik kalau aku tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mungkin akan senang mengetahui orang yang dia kagumi adalah adik perempuannya sendiri, kalau Selene mungkin dia akan malu. Mari ubah topik pembicaraanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo kita cari situs pakaian dalam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Mari berjuang Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetik “Pakaian dalam wanita” pada kolom pencarian dan melihat di pencarian gambar. Hasilnya merupakan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san! Seberapa banyak kewanitaan pada bintang keberuntungan yang menempel didada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saring hal seperti itu dari otakkmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Celana dalam yang dikenakan wanita ini kenapa tak ada kain lain dipinggangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya itu dinamakan C-string, itu sengaja dibuat agar bentuk celana dalam tidak terlihat. Mungkin akan cocok dengan yukata tapi kita lewati saja hal yang semakin nyeleneh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang ini ada lubang ditengahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lewat lewat lewat! Kita pindah ke situs yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku penasaran apa tali juga termasuk celana dalam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jadi... tidak. Jelas tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Gambarnya imut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Yuuki menemukan standar ‘imutnya’, itu merupakan celana dalam seorang gadis dari Pretty Girls Rangers Fruity.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Celana dalam seperti itu biasa dipakai oleh anak SD.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Ini sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku dan Yuuki mencari di beberapa situs dan akhirnya menemukan celana dalam dengan lingrie imut khusus remaja wanita. Setelah memebel berbagai macam pakaian kami selesai berbelanja. Selesai menutup laptop miliknya Yuuki meregangkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san. Aku merasa kewanitaanku meningkat drastis jika mengenakannya. Sudah saatnya makan malam, kau pasti lapar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Aku kelaparan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malamnya adalah makanan beku. Meskipun jika dia memasak kewanitaannya akan meningkat, tetapi kelihatannya Yuuki tidak bisa memasak. Kami berdua memakan nasi, satu hamburger kecil dengan ayam goreng sebagai lauk yang sempurna untuk makanan kotak dan sayuran rebus di wadah kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Yuuki bersiap mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau mandi bareng, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau laki-laki, aku mau-mau saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Aku tidak begitu keberatan lho... kau mandi duluan, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku tidak akan menolak. Jangan mengintip ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin aku melakukannya. Nii-san aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega Yuuki menertawakannya. Berbeda dengan Sayuri yang menerobos waktu itu, aku bisa selesai mandi dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hingga waktunya selesai, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV dengan Yuuki. Saluran khusus anime sedang menyiarkan Pretty Girls Rangers Fruity. Kelihatannya itu siaran ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengejutkan ternyata Nii-san juga menonton anime.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benci anime?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali, malah aku menyukainya. Aku cenderung bertingkah laku seperti Orange-chan, namun aku ingin seperti Grape-chan yang penuh dengan karisma dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Yuuki anime mungkin bisa menjadi bahan meningkatkan kewanitaanya. Meski acaranya ditujukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai menonton satu episode, waktu menunjukan hampir setengah dua belas, tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingin menginap untuk malam ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ini kamar milik kandidat adik perempuanku, aku tetap tidak bisa. Aku harus kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku mengerti. Sayang sekali tapi mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat senyuman Yuuki saat dia mengantarku ke pintu depan, dadaku sedikit sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah dia dapat merasa seperti perempuan berkat latihan kewanitaan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap dapat membantunya layaknya seorang kakak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541180</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541180"/>
		<updated>2018-06-04T06:34:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;.&#039;&#039;&#039;Kamis, 11 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dari nasi kepal, telur goreng; bayam rebus dan tomat cherry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mariko sedikit khawatir kalau telurnya sedikit gosong, tapi rasanya sangat enak. Meski begitu, makan siang buatan gadis memang sangat kecil. Mariko bertanya “Ingin makan sebagian milikku? Gadis mudah menjadi gemuk, itu membuatku iri kepada para lelaki.” Atau sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak terlihat memiliki lemak berlebih, tapi para gadis cukup sensitif ketika menyangkut masalah kelebihan berat badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin Mariko menginginkan bentuk tubuh yang langsing dan keren seperti model? Kupikir dia cukup imut dengan tubuh kecilnya... yah, itu juga bukan urusanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah, aku berdiri di depan ruang 401 di kediaman Taishido lalu mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan diri. Setelah aku siap secara mental kemudian kuderingkan bel, pintunya langsung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu! Namaku Tachibana Yuuki. Kelas tiga SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Taichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan keempat—— Tubuh Tachibana Yuuki tinggi. Seperti yang kuperkirakan, tubuhnya tidaklah terlalu tinggi hingga membuatku menoleh ke atas saat menatapnya, tetapi kelihatannya dia akan menguungguli tinggi badanku dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya sekitar 170 sentimeter. Rambut panjang miliknya dikuncir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian milik Yuuki sangat tomboy, penampilannya acak-acakan, mengenakan jeans dan sebuah kaus. Kaki dan pinggangnya cukup panjang, wajahnya kecil. Dia berbicara dengan senyuman di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang! Masuklah, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku dipegang lalu ditarik ke dalam ruangan. Cara bicaranya kelaki-lakian. Dan juga, tiba-tiba menggandeng tangan... itu sedikit memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf menggang〜”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kemudian melepas sepatu di dekat pintu. Perabotan di dalam ruang tamu berwarna hijau dan biru, memberikan perasaan yang menyegarkan. Walaupun dalamnya cukup bersih, ruangannya terasa seperti seseorang tengah mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berada pada spektrum yang sangat berbeda dengan Tomomi, namun mereka berdua sama-sama tomboy. Seragamnya digantung di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan gakuran. Aku tidak mengerti. Bukankah itu seragam laki-laki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu, bukan milikmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika teman laki-lakinya mampir lalu meninggalkan seragamnya digantung seperti itu, aku menjadi agak khawatir sebagai kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada bicaranya begitu lembut, dia tidak kelihatan berbohong. Postur tubuhnya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku mempunyai kesan bahwa dirinya adalah seorang gadis karena rambut panjang miliknya, kalau dia memiliki rambut pendek apakah dia akan terlihat seperti lelaki tampan. Kecantikannya memancarkan sebuah perasaan tanpa jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah memiliki gakuran sedikit aneh? Maksudku, gakuran itu seragam untuk laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas. Tidak masalah jika aku tidak mengenakan seragam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kalau begitu tidak masalah... mustahil aku mengatakannya. Hanya karena kau boleh mengenakan apapun yang kau mau bukanlah alasan untuk mengenakan seragam laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya... aku mengerti. Memang benar itu aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki duduk pada sofa di ruang tamu. Walaupun dia akan terlihat feminim saat duduk dengan menyilangkan kaki, justru dia melebarkan kaki memperlihatkan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir, saat Tomomi berbicara seperti laki-laki, bentuk tubuh dan cara duduknya terlihat feminim. Aku merasakan apa yang tak dimiliki oleh Yuuki. Dia menatapku selagi aku duduk di bangku sebelah meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terlintas di pikiran Nii-san ketika melihatku? Aku ingin kau mengatakan dengan jujur kesan pertamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri. Kesan pertamaku adalah... kau tidak mengetahui jenis kelaminmu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mengetahui jenis kelamin... yep, itu cukup akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau perempuan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara biologis, aku perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan cara dirinya mengatakan itu, dia tidak terlihat seperti perempuan secara kejiwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dirimu yang di dalam berbeda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kau salah. Aku ingin... menjadi... perempuan seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku menjadi sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang ingin jadi perempuan, tapi bukankah kau itu perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memalingkan pandangannya ke bawah lalu terdiam. Setelah melihat ekspresi kesepiannya, kelihatannya aku terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, itu salahku. Cara bertanyaku salah. Tolong ceritakan secara bertahap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san... maukah kau mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih! Nii-san adalah orang baik yang membuat diriku bahagia. Umm.. ah, maaf Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki berdiri dari sofa seolah memantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lupa. Aku segera menyiapkan kopi. Aku kurang baik dalam hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam memarahi dirinya sendiri. Kelihatannya dia depresi dan kurang percaya diri. Aku menanggapi agar dia senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, jangan pelit dengan gula dan susunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik! Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki bergegas pergi ke dapur dan setelah mendidihkan air di ceret, dia membuat kopi instan sesuai pesananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu suka dengan kopi instan, tetapi gula dan susu bisa menutupi rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik nafas panjang menyeruput kopi susu yang kupesan. Ngomong-ngomong, susu buatan Yuuki warnanya hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminum kopi hitam instan adalah sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Tentu saja, ada kopi instan mahal yang mungkin rasanya cukup enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menaruh cangkir ke atas meja Yuuki mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku kelas dua SD, seorang anak laki-laki di kelasku berkata 『&amp;quot;Pakaian wanita tidak cocok untukmu! 『&amp;quot;Perempuan jantan&amp;quot;』... sewaktu kecil aku lebih tinggi dari anak-anak seumuranku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau di rundung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu, umm... daripada perundungan... aku menggapnya sebagai saran. Karena kepribadianku yang positif, aku menjadi diriku seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saran... seberapa positif sih dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa malu saat aku membalasnya dengan ketus. Meski malu, dia memiliki senyuman yang cerah dan bahagia. Entah kenapa terlihat keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku tidak begitu peduli dengan perbedaan jenis kelamain, setiap kali aku berpakaian seperti anak laki-laki dia senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu, Yuuki juga sudah berpisah dengan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Empat tahun lalu sebuah surat terkirim dari Brazil. Sepertinya dia menemukan istri di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia meninggalkan anak perempuannya dan menikah lagi di luar negeri... Apa? Istri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Sepertinya ibuku sudah menjadi ayah tanpa kusadari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman yang menyegarkan, aku mencoba memahami perkataanya dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Jika ibuku menjadi ayahku, itu artinya dia telah melakukan sesuatu di kehidupan barunya. Selain itu aku ingin terus membuat ibuku—— ayahku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua kandungnya bahkan lebih aneh dari karakter fiksi. Yah, bukannya aku juga pantas mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kembali ke cerita. Apa yang terjadi di SD setelah kejadian itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemudian, ketika anak yang mengatakan 『”Perempuan jantan”』melihatku dengan pakaian wanita, dia tidak mengatakan apa pun... rasanya cukup sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu hanya ingin mendapatkan perhatian Yuuki, dia mungkin tidak akan percaya kalau Yuuki kembali berpakaian seperti anak laki-laki karena perkataanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Guru SD juga berkata『”Mereka menghormati kebebasan individu”』, alhasil aku terus berpakaian seperti anak laki-laki... tanpa kusadari, aku terlalu malu dan sungguh mustahil untukku mengenakan rok...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu ya... dan itu terus berlanjut sampai gakuran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke seragam di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas, aku juga berusaha dalam belajar. Karena aku rutin mengenakan seragam itu, banyak pelajar yang menyangka kalau aku ini laki-laki... namun seperti yang diduga, teman kelasku tahu kalau aku adalah seorang perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan toilet?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ramai aku bisa masuk toilet laki-laki, tidak ada masalah untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa tanpa ada sedikit pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apa ada suatu hambatan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Yuuki langsung *kshh* kemudian menjadi lebih merah daripada tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kalau itu, umm, bukannya menyombongkan diri namun aku menjadi populer di kalangan para gadis... aku juga ditembak oleh dua gadis di saat yang bersamaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hohoo. Tidak menyombongkan diri, populer yah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Yuuki menggerakan tangannya, dia terlihat seperti model, bentuk tubuhnya cukup feminim atau malah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menggodaku Nii-san. Keperjakaankeperjakaanku hampir direbut... um, lupakan. Dilihat dari mana pun, mereka berdua terlihat sangat mencintaiku dan karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku meminta nasihat pada seorang guru. Setelah itu, mereka berdua dilarang mendekatiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kata keperjakaankeperjakaan tadi terdengar aneh, namun jangan singgung tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau menolak mereka berdua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yep. Entah seberapa tomboy-nya diriku, tidak mungkin aku jatuh cinta pada perempuan... daripada itu, aku sunguh mengerti kalau aku harus memaksa diriku menjadi perempuan. Kenyataanya aku memanglah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja. Yuuki adalah perempuan. Dua gadis itu jatuh cinta padanya ketika dia berada dalam pakaian laki-laki, jika saja dia kembali berperilaku layaknya perempuan mereka tidak akan mempunyai pilihan selain menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa kau kesal karena itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya aku terkejut... namun aku mengerti keadaanmu sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, itu senyuman yang menyegarkan. Walaupun jenis kelamin kita sama... tidak tunggu, aku hampir terkecoh. Yuuki adalah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman miliknya yang memikat orang lain. Tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san! Aku ingin menjadi perempuan. Namun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan juga tidak ada orang yang bisa aku andalkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi intinya kau ingin aku membantumu?”	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku ingin menjadi adik perempuan (sementara) Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskannya. Ditambah, apa yang kau maksud dengan (sementara)...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf Nii-san! Tentu saja aku ingin menjadi adik perempuanmu. Selain itu, kau juga orang yang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menatapku. Rasa hormat yang ditunjukan lewat matanya menghilangkan segala keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti aku mempunyai sesuatu yang pantas dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa, Nii-san! Tidak peduli seberapa buruk caranya, jika aku dilihat sebagai adik perempuan seseorang, kewanitaanku akan tumbuh dengan sendirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti...hey, apa memang kata “kewanitaan” digunakan seperti itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya bisa bergantung padamu... dan juga, aku sudah menekan beberapa perubahanku sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mencoba melepaskan bajunya. Perutnya terlihat dari bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Hentikan! Aku mengerti! Aku mengerti jadi jangan dilepas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf! Kita belum jadi saudara ya. Aku meminta maaf membuatmu melihat hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli itu (sementara) atau saudara, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kau tunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Lalu, apa yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau ingin lebih feminim, kenapa kau tidak mencoba berkonsultasi dengan teman perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-ka-kalau itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tidak punya teman? Jadi seperti itu, teman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-benar. Mereka semua baik. Namun mereka menjaga jarak... setelah dua gadis itu mendekatiku. Gadis-gadis lain menatap sambil mengatakan sesuatu seperti 『satu gadis saja sudah cukup』. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau mereka salah tapi... dan juga, karena dua gadis itu mengancam mereka, aku jadi kesulitan ketika berurusan dengan para gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok gadis memang merepotkan ya. Sebelum Yuuki menyadirinya, situasi menjadi rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai mana masalahmu saat berurusan dengan para gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan saling menatap itu sudah membuatku resah... juga sulit bagiku untuk berbicara dengan pegawai kasir wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup parah. Daripada dengan diriku, dia seharusnya berkonsultasi dengan spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ingin menjadi perempuan, kau tidak boleh terlalu bergantung pada gadis SMP. Ditambah ibumu yang menjadi ayahmu sekarang sedang berada di tempat yang jauh... benar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengatakannya, Yuuki menganggukan kepalanya beberapa kali. Gerakannya yang seperti itu mengingatkan pada seekor anak anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak berbohong, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa memastikannya sendiri jika kau mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat dia memiliki banyak sekali situasi khusus yang saling tumpang tindih, aku pikir adalah hal yang bodoh jika tidak mencurigainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membahas tentang ini dengan Murasaki-san, aku akan mengetahui apakah cerita Yuuki dan situasinya itu hanyalah karangan atau bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku percaya padamu. Maaf sudah curiga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan aku sendiri menganggap itu aneh. Aku memang seperti ini tapi... mohon bimbing aku. Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika rasa takutnya dengan wanita hilang dan dia mendapatkan kepercayaan diri layaknya perempuan normal, Yuuki mungkin akan menjadi manusia super, terbuka, dan gadis cantik yang sempurna. Meski membimbingnya itu berlebihan, akan aku coba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir bisa berbuat banyak untuk membantumu. Kewanitaan... apa arti kewanitaan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memiringkan leherku dalam kebingungan, Yuuki melakukan hal yang sama, menirukan gerak tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu... artinya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengincar sesuatu yang tidak kau ketahui!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Kata itu populer di internet, jadi secara tidak sadar...aku menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tehepero*, Yuuki menjulurkan lidah kemudian mengedipkan matanya. Barusan, kewanitaanya cukup tinggi. Aku tidak terlalu mengerti apa itu kewanitaan, tetapi aku merasa itu sama seperti yang dilakukannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kata itu memang kau ketahui dari internet, bagaimana jika kita mencari sesuatu di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hore! Nii-san adalah seseorang yang bisa diandalkan. Itu membuatku sangat, sangat bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia memujiku, sejujurnya aku tidak memiliki rasa percaya diri apakah aku bisa memenuhi ekspektasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan browser pada smartphone miliku lalu menuliskan ‘kewanitaan’ pada kolom pencarian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya adalah beberapa artikel tentang kewanitaan, ringkasnya yaitu pada cara gadis berdandan, bertingkah laku, dan berbicara. Ada beberapa kategori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apakah ada suatu cara untuk meningkatkan kewanitaan milikku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menempel padaku dan mengatakan itu sambil menatap layar smartphone. Rambutnya memiliki bau mint. Memberikan kesan pemuda yang keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shampoo milikmu, bukankah itu yang digunakan para pria?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang untuk wanita baunya terlalu manis, tetapi aku menggunakan produk wanita untuk membersihkan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita mulai dari situ. Kau perlu membilas itu lalu menggantinya dengan perawatan yang cocok. Itu sia-sia mengetahui kau memiliki rambut yang indah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menyentuh rambutnya dan tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rambutku indah ya. Baik, aku akan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mulai dari sekarang. Untuk saat ini, aku meringkas semua informasi yang kudapatkan dari internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya, kewanitaan itu tentang mempercantik diri sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik... diri sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuki memiliki peralatan yang bagus untuk berdandan, dia akan menjadi cantik dengan mudah. Coba pikirkan saja, Mariko menjadi khawatir dengan berat badannya meski sama sekali tidak gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah... mungkin aku sudah melihat kewanitaan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa saja bersinar di keadaan yang masih kasar, kupikir itu adalah hal yang bagus untuk mempercantik dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik katamu, tapi aku masih tidak tahu harus melakukan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggulung tubuhnya. Ketika dia terlihat lebih kecil, kesan dirinya yang keren menjadi imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm.. yah yang seperti itu. Kau tidak memiliki masalah dengan berat badan, jadi tidak harus melakukan diet. Bagaimana kalau memakai make-up?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu cara memakainya. N-namun aku membeli beberapa kosmetik dengan keinginan bisa menghadapinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki pergi ke kamar di sebelah ruang tamu, dan kembali tidak lama kemudian. Dia memegang keranjang kecil berisi kosmetik. Aku tidak tahu harga untuk barang-barang ini, tetapi sekilas... barang-barang itu tidak terlihat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa uang yang kau bayar untuk barang-barang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing seratus yen. Aku pikir seorang pemula tidak seharusnya membeli yang mahal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau harus berinvestasi lebih untuk barang seperti ini, Yuuki-san. Yah meski begitu, dapat mempersiapkan dirinya saja sudah mengaggumkan, sebagai kakak aku perlu menyemangatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajarinya dengan informasi yang kutemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut informasi dari internet, menggunakan lotion kulit itu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku sudah membelinya! Jika aku tidak salah, itu digunakan setelah selesai membasuh wajahku. Jika aku memakainya apakah kewanitaanku akan meningkat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil botol kecil yang belum terbuka sambil menggoyangkan tubuhnya kesana kemari dengan semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lotion yang dibuat dari kedelai. Warnanya seputih susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau belum mencobanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir tak akan ada yang berubah meski aku memakai lotion, juga aku terlalu takut memakainya. Namun jika Nii-san yang mengatakannya... aku merasa seperti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Yuuki! Basuh wajahmu dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Akan aku lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Kemudian dia kembali sambil mengelap tetesan air dengan handuk. Yuuki, jika kau menggantung handuk di lehermu seperti itu, kewanitaanmu akan menurun hingga level pria tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh menyegarkan! Rasanya enak setelah membasuh wajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terasa liar, seperti pria dewasa setelah membasuh wajahnya. Namun aku akan diam saja untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau kita langsung memakai lotion dan melihat hasilnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Nii-san. Umm, berapa banyak yang harus kupakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kudapat dari internet, daripada memakai lotion yang harganya mahal, akan lebih baik uangnya dibelanjakan untuk yang murah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mencari tahu tentang itu, tetapi aku tidak menemukan cara untuk memakainya. Tapi yang lebih penting adalah membuat kewanitaan Yuuki bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dibelanjakan untuk yang murah. Kalau begitu... yang ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan, tapi Yuuki membuka penutup lotion dan setelah menaikan dagu lalu mengangkat wajahnya menghadap langit-langit dia mulai mengoleskan lotion ke wajahnya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan putih yang lengket dan menggumpal menutupi wajah Yuuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apa kewanitaanku sudah naik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tes tes tes tes tes tes tes plop plop tes tes tes tes tes plop*. Wajahnya benar-benar tertutup oleh cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat susah untuk meningkatkan kewanitaan. Lotion-nya bahkan sampai menetes ke dadaku dan bajuku jadi lengket semua. Waahaahaha! Anehnya, aku merasa kewanitaanku perlahan meningkat! Lotion kulit memang luar biasa. ‘kan, Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kalau itu... meski sulit mengatakannya, tetapi kewanitaanmu mungkin... sudah menurun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Yuuki membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“N-Nii-san! Kenapa kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya informasi seperti ini cuma tipuan belaka. Ayo kita coba cara lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendesah setelah melihat wajahnya yang seolah akan menangis sembari masih ditutupi cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu informasi yang aku fokuskan adalah hipotesis lain mengenai kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewanitaan adalah kekuatan pakaian dalam. Menjadi modis pada tempat yang tak terlihat adalah kunci untuk meningkatkan kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, aku pernah berpikir kalau Tomomi itu feminim... bra berwarna merah muda miliknya bisa dilihat dari kausnya... hey, apa yang aku pikirkan sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, aku akan mengganti kaus ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki kembali mengenakan kaus satin berwarna hitam dengan model open neck. Kerahnya naik... dia terlihat seperti tuan rumah. Setelah dia mengenakan kaus yang keren kelaki-lakiannya bertambah, tidak terasa ada yang janggal sedikitpun.[[Image: OOSY v01 004.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana caranya aku mengatakan kepada seorang gadis kalau kewanitaan = kekuatan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, celana dalam milikmu warnanya apa? Umm, maksudku bukan dalam artian yang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kupikir dengan melihatnya akan jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Pertanyaanku terlalu berlebihan, tetapi Yuuki adalah orang bodoh dari lahir. Ketika di deoanku, dia mengendurkan sabuk celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu tunggu tunggu! Pertanyaanku cukup aneh, tetapi bukankah lebih aneh jika kau melepaskan bahkan sampai memperlihatkannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah... k-kau benar. Meski kita adalah saudara tidaklah baik memperlihatkannya ya. Ngomong-ngomong, warna celana dalam seperti apa yang harus kukenakan untuk meningkatkan kewanitaanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kutemukan di internet, bukan hanya warnanya tapi desainnya juga penting. Kau tidak perlu melepaskannya, namun jenis pakaian apa yang kau kenakan? Itu merupakan pertanyaan tanpa ada motif terselubung dan hanya untuk memastikan saja, aku tidak memiliki perasaan bersalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Nii-san. Umm, celana dalam yang kukenakan seperti celana dalam boxer dengan pola yang penuh warna. Memang benar, trunks kurang nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa dan dengan malu memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan b-bra?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadaku diikat dengan perban, tetapi sudah tidak bisa lagi digunakan. Sebenarnya, aku tidak tahu jenis pakaian dalam apa yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menurunkan bahunya. Sepertinya kewanitaan miliknya bertambah ketika sedang sedih. Namun karismanya meruntuhkan ketika itu terjadi. Aku ingin membantunya mendapatkan kewanitaan dengan segala kemampuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya bersinar, dan dia menatapku dengan penuh keyakinan. Ditambah, Yuuki sama sekali tidak terlihat memiliki tanda–tanda ironi atau niat jahat. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau memandangku dengan penuh rasa hormat begitu, aku merasa seperti dipuji karena mengatakan sesuatu yang mesum. Aku tidak berpengetahuan luas, tetapi jika kau tidak bisa berbicara dengan pegawai kasir wanita kau masih bisa berbelanja lewat internet, ‘kan? Mari manfaatkan kelebihan teknologi informasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku cukup sering berbelanja lewat internet. Aku bahkan berani memesan baju seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baju seperti itu, maksudmu pakaian wanita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan bahunya dan menjadi semakin kecil seperti kehilangan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. A-aneh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Yuuki sungguh hebat. Syukurlah masalah ini hampir sepenuhnya hilang. Sama seperti kau memesan baju lewat internet, kau juga bisa membeli bra yang imut untuk dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-membeli bra yang imut untuk diriku?! Mustahil, pilih kan satu untukku Nii-san. Meski bra itu tembus pandang atau yang seksi... aku mau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang memutuskan sendiri. Bukankah penting untukmu menentukan mana yang kau anggap『Imut』?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menemukan.... imut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kau harus mengetahui mana yang menurutmu imut. Nantinya itulah yang menjadi cara mempercantik dirimu sendiri dan di saat yang bersamaan kewanitaanmu akan meingkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengatakan dengan lantang pendapat yang kubaca di internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ka-kalau begitu... maukah kau mencarinya... bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki tersipu dan menatap ke arah wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. sekarang mari kita cari lewat smartphone atau PC milikmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan mengambilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali dari kamar dan membawa sebuah laptop. Itu merupakan tipe besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, boleh aku memeriksa Twitter dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Aku tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuka situs kesukaanya. Dia memeriksa akun milik artis internet lokal “Undying Cicada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak men-tweet. Aku pensaran apakah Cicada-san baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau penggemar orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Nii-san juga tahu Cicada-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, umm..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artian luas, bisa dikatakan kita tinggal di atap yang sama... kemudian, Yuuki meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Cicada-san tidak men-tweet sejak minggu lalu, aku jadi sedikit khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa orang ini menjadi begitu terkenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cicada-san membuat banyak pakaian. Namun dia tidak membuatkan untuk sembarang orang, dia terkenal karena membuatkan pakaian untuk orang yang dia sukai saja lho?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu pakaian yang dia buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Itu merupakan kehormatan sekaligus keberuntungan bisa mendapatkannya. Sampai-sampai, baju itu dikirim ke tempatku sehari setelahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kau tidak mengenakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kewanitaanku yang sekarang aku belum bisa memakainya... namun suatu saat nanti, aku berharap menjadi perempuan yang cantik lalu mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja mengetahui suatu hubungan yang mengejutkan di tempat yang tak terduga. Tetapi, mengingat bagaimana Yuuki dan Selene terhubung, akan lebih baik kalau aku tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mungkin akan senang mengetahui orang yang dia kagumi adalah adik perempuannya sendiri, kalau Selene mungkin dia akan malu. Mari ubah topik pembicaraanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo kita cari situs pakaian dalam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Mari berjuang Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetik “Pakaian dalam wanita” pada kolom pencarian dan melihat di pencarian gambar. Hasilnya merupakan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san! Seberapa banyak kewanitaan pada bintang keberuntungan yang menempel didada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saring hal seperti itu dari otakkmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di celana dalam yang dikenakan wanita ini kenapa tak ada kain lain dipinggangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya itu dinamakan C-string, itu sengaja dibuat agar bentuk celana dalam tidak terlihat. Mungkin akan cocok dengan yukata tapi kita lewati saja hal yang semakin nyeleneh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang ini ada lubang ditengahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lewat lewat lewat! Kita pindah ke situs yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku penasaran apa tali juga termasuk celana dalam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jadi... tidak. Jelas tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Gambarnya imut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Yuuki menemukan standar ‘imutnya’, itu merupakan celana dalam seorang gadis dari Pretty Girls Rangers Fruity.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Celana dalam seperti itu biasa dipakai oleh anak SD.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Ini sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku dan Yuuki mencari di beberapa situs dan akhirnya menemukan celana dalam dengan lingrie imut khusus remaja wanita. Setelah memebel berbagai macam pakaian kami selesai berbelanja. Selesai menutup laptop miliknya Yuuki meregangkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san. Aku merasa kewanitaanku meningkat drastis jika mengenakannya. Sudah saatnya makan malam, kau pasti lapar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Aku kelaparan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malamnya adalah makanan beku. Meskipun jika dia memasak kewanitaannya akan meningkat, tetapi kelihatannya Yuuki tidak bisa memasak. Kami berdua memakan nasi, satu hamburger kecil dengan ayam goreng sebagai lauk yang sempurna untuk makanan kotak dan sayuran rebus di wadah kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Yuuki bersiap mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau mandi bareng, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau laki-laki, aku mau-mau saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Aku tidak begitu keberatan lho... kau mandi duluan, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku tidak akan menolak. Jangan mengintip ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin aku melakukannya. Nii-san aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega Yuuki menertawakannya. Berbeda dengan Sayuri yang menerobos waktu itu, aku bisa selesai mandi dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hingga waktunya selesai, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV dengan Yuuki. Saluran khusus anime sedang menyiarkan Pretty Girls Rangers Fruity. Kelihatannya itu siaran ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengejutkan ternyata Nii-san juga menonton anime.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benci anime?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali, malah aku menyukainya. Aku cenderung bertingkah laku seperti Orange-chan, namun aku ingin seperti Grape-chan yang penuh dengan karisma dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Yuuki anime mungkin bisa menjadi bahan meningkatkan kewanitaanya. Meski acaranya ditujukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai menonton satu episode, waktu menunjukan hampir setengah dua belas, tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingin menginap untuk malam ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ini kamar milik kandidat adik perempuanku, aku tetap tidak bisa. Aku harus kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku mengerti. Sayang sekali tapi mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat senyuman Yuuki saat dia mengantarku ke pintu depan, dadaku sedikit sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah dia dapat merasa seperti perempuan berkat latihan kewanitaan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap dapat membantunya layaknya seorang kakak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541179</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541179"/>
		<updated>2018-06-04T06:34:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;.&#039;&#039;&#039;Kamis, 11 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dari nasi kepal, telur goreng; bayam rebus dan tomat cherry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mariko sedikit khawatir kalau telurnya sedikit gosong, tapi itu rasanya sangat enak. Meski begitu, makan siang buatan gadis memang sangat kecil. Mariko bertanya “Ingin makan sebagian milikku? Gadis mudah menjadi gemuk, itu membuatku iri kepada para lelaki.” Atau sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak terlihat memiliki lemak berlebih, tapi para gadis cukup sensitif ketika menyangkut masalah kelebihan berat badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin Mariko menginginkan bentuk tubuh yang langsing dan keren seperti model? Kupikir dia cukup imut dengan tubuh kecilnya... yah, itu juga bukan urusanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah, aku berdiri di depan ruang 401 di kediaman Taishido lalu mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan diri. Setelah aku siap secara mental kemudian kuderingkan bel, pintunya langsung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu! Namaku Tachibana Yuuki. Kelas tiga SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Taichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan keempat—— Tubuh Tachibana Yuuki tinggi. Seperti yang kuperkirakan, tubuhnya tidaklah terlalu tinggi hingga membuatku menoleh ke atas saat menatapnya, tetapi kelihatannya dia akan menguungguli tinggi badanku dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya sekitar 170 sentimeter. Rambut panjang miliknya dikuncir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian milik Yuuki sangat tomboy, penampilannya acak-acakan, mengenakan jeans dan sebuah kaus. Kaki dan pinggangnya cukup panjang, wajahnya kecil. Dia berbicara dengan senyuman di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang! Masuklah, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku dipegang lalu ditarik ke dalam ruangan. Cara bicaranya kelaki-lakian. Dan juga, tiba-tiba menggandeng tangan... itu sedikit memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf menggang〜”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kemudian melepas sepatu di dekat pintu. Perabotan di dalam ruang tamu berwarna hijau dan biru, memberikan perasaan yang menyegarkan. Walaupun dalamnya cukup bersih, ruangannya terasa seperti seseorang tengah mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berada pada spektrum yang sangat berbeda dengan Tomomi, namun mereka berdua sama-sama tomboy. Seragamnya digantung di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan gakuran. Aku tidak mengerti. Bukankah itu seragam laki-laki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu, bukan milikmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika teman laki-lakinya mampir lalu meninggalkan seragamnya digantung seperti itu, aku menjadi agak khawatir sebagai kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada bicaranya begitu lembut, dia tidak kelihatan berbohong. Postur tubuhnya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku mempunyai kesan bahwa dirinya adalah seorang gadis karena rambut panjang miliknya, kalau dia memiliki rambut pendek apakah dia akan terlihat seperti lelaki tampan. Kecantikannya memancarkan sebuah perasaan tanpa jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah memiliki gakuran sedikit aneh? Maksudku, gakuran itu seragam untuk laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas. Tidak masalah jika aku tidak mengenakan seragam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kalau begitu tidak masalah... mustahil aku mengatakannya. Hanya karena kau boleh mengenakan apapun yang kau mau bukanlah alasan untuk mengenakan seragam laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya... aku mengerti. Memang benar itu aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki duduk pada sofa di ruang tamu. Walaupun dia akan terlihat feminim saat duduk dengan menyilangkan kaki, justru dia melebarkan kaki memperlihatkan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir, saat Tomomi berbicara seperti laki-laki, bentuk tubuh dan cara duduknya terlihat feminim. Aku merasakan apa yang tak dimiliki oleh Yuuki. Dia menatapku selagi aku duduk di bangku sebelah meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terlintas di pikiran Nii-san ketika melihatku? Aku ingin kau mengatakan dengan jujur kesan pertamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri. Kesan pertamaku adalah... kau tidak mengetahui jenis kelaminmu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mengetahui jenis kelamin... yep, itu cukup akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau perempuan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara biologis, aku perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan cara dirinya mengatakan itu, dia tidak terlihat seperti perempuan secara kejiwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dirimu yang di dalam berbeda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kau salah. Aku ingin... menjadi... perempuan seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku menjadi sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang ingin jadi perempuan, tapi bukankah kau itu perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memalingkan pandangannya ke bawah lalu terdiam. Setelah melihat ekspresi kesepiannya, kelihatannya aku terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, itu salahku. Cara bertanyaku salah. Tolong ceritakan secara bertahap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san... maukah kau mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih! Nii-san adalah orang baik yang membuat diriku bahagia. Umm.. ah, maaf Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki berdiri dari sofa seolah memantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lupa. Aku segera menyiapkan kopi. Aku kurang baik dalam hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam memarahi dirinya sendiri. Kelihatannya dia depresi dan kurang percaya diri. Aku menanggapi agar dia senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, jangan pelit dengan gula dan susunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik! Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki bergegas pergi ke dapur dan setelah mendidihkan air di ceret, dia membuat kopi instan sesuai pesananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu suka dengan kopi instan, tetapi gula dan susu bisa menutupi rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik nafas panjang menyeruput kopi susu yang kupesan. Ngomong-ngomong, susu buatan Yuuki warnanya hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminum kopi hitam instan adalah sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Tentu saja, ada kopi instan mahal yang mungkin rasanya cukup enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menaruh cangkir ke atas meja Yuuki mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku kelas dua SD, seorang anak laki-laki di kelasku berkata 『&amp;quot;Pakaian wanita tidak cocok untukmu! 『&amp;quot;Perempuan jantan&amp;quot;』... sewaktu kecil aku lebih tinggi dari anak-anak seumuranku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau di rundung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu, umm... daripada perundungan... aku menggapnya sebagai saran. Karena kepribadianku yang positif, aku menjadi diriku seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saran... seberapa positif sih dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa malu saat aku membalasnya dengan ketus. Meski malu, dia memiliki senyuman yang cerah dan bahagia. Entah kenapa terlihat keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku tidak begitu peduli dengan perbedaan jenis kelamain, setiap kali aku berpakaian seperti anak laki-laki dia senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu, Yuuki juga sudah berpisah dengan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Empat tahun lalu sebuah surat terkirim dari Brazil. Sepertinya dia menemukan istri di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia meninggalkan anak perempuannya dan menikah lagi di luar negeri... Apa? Istri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Sepertinya ibuku sudah menjadi ayah tanpa kusadari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman yang menyegarkan, aku mencoba memahami perkataanya dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Jika ibuku menjadi ayahku, itu artinya dia telah melakukan sesuatu di kehidupan barunya. Selain itu aku ingin terus membuat ibuku—— ayahku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua kandungnya bahkan lebih aneh dari karakter fiksi. Yah, bukannya aku juga pantas mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kembali ke cerita. Apa yang terjadi di SD setelah kejadian itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemudian, ketika anak yang mengatakan 『”Perempuan jantan”』melihatku dengan pakaian wanita, dia tidak mengatakan apa pun... rasanya cukup sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu hanya ingin mendapatkan perhatian Yuuki, dia mungkin tidak akan percaya kalau Yuuki kembali berpakaian seperti anak laki-laki karena perkataanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Guru SD juga berkata『”Mereka menghormati kebebasan individu”』, alhasil aku terus berpakaian seperti anak laki-laki... tanpa kusadari, aku terlalu malu dan sungguh mustahil untukku mengenakan rok...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu ya... dan itu terus berlanjut sampai gakuran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke seragam di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas, aku juga berusaha dalam belajar. Karena aku rutin mengenakan seragam itu, banyak pelajar yang menyangka kalau aku ini laki-laki... namun seperti yang diduga, teman kelasku tahu kalau aku adalah seorang perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan toilet?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ramai aku bisa masuk toilet laki-laki, tidak ada masalah untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa tanpa ada sedikit pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apa ada suatu hambatan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Yuuki langsung *kshh* kemudian menjadi lebih merah daripada tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kalau itu, umm, bukannya menyombongkan diri namun aku menjadi populer di kalangan para gadis... aku juga ditembak oleh dua gadis di saat yang bersamaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hohoo. Tidak menyombongkan diri, populer yah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Yuuki menggerakan tangannya, dia terlihat seperti model, bentuk tubuhnya cukup feminim atau malah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menggodaku Nii-san. Keperjakaankeperjakaanku hampir direbut... um, lupakan. Dilihat dari mana pun, mereka berdua terlihat sangat mencintaiku dan karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku meminta nasihat pada seorang guru. Setelah itu, mereka berdua dilarang mendekatiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kata keperjakaankeperjakaan tadi terdengar aneh, namun jangan singgung tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau menolak mereka berdua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yep. Entah seberapa tomboy-nya diriku, tidak mungkin aku jatuh cinta pada perempuan... daripada itu, aku sunguh mengerti kalau aku harus memaksa diriku menjadi perempuan. Kenyataanya aku memanglah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja. Yuuki adalah perempuan. Dua gadis itu jatuh cinta padanya ketika dia berada dalam pakaian laki-laki, jika saja dia kembali berperilaku layaknya perempuan mereka tidak akan mempunyai pilihan selain menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa kau kesal karena itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya aku terkejut... namun aku mengerti keadaanmu sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, itu senyuman yang menyegarkan. Walaupun jenis kelamin kita sama... tidak tunggu, aku hampir terkecoh. Yuuki adalah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman miliknya yang memikat orang lain. Tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san! Aku ingin menjadi perempuan. Namun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan juga tidak ada orang yang bisa aku andalkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi intinya kau ingin aku membantumu?”	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku ingin menjadi adik perempuan (sementara) Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskannya. Ditambah, apa yang kau maksud dengan (sementara)...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf Nii-san! Tentu saja aku ingin menjadi adik perempuanmu. Selain itu, kau juga orang yang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menatapku. Rasa hormat yang ditunjukan lewat matanya menghilangkan segala keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti aku mempunyai sesuatu yang pantas dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa, Nii-san! Tidak peduli seberapa buruk caranya, jika aku dilihat sebagai adik perempuan seseorang, kewanitaanku akan tumbuh dengan sendirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti...hey, apa memang kata “kewanitaan” digunakan seperti itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya bisa bergantung padamu... dan juga, aku sudah menekan beberapa perubahanku sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mencoba melepaskan bajunya. Perutnya terlihat dari bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Hentikan! Aku mengerti! Aku mengerti jadi jangan dilepas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf! Kita belum jadi saudara ya. Aku meminta maaf membuatmu melihat hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli itu (sementara) atau saudara, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kau tunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Lalu, apa yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau ingin lebih feminim, kenapa kau tidak mencoba berkonsultasi dengan teman perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-ka-kalau itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tidak punya teman? Jadi seperti itu, teman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-benar. Mereka semua baik. Namun mereka menjaga jarak... setelah dua gadis itu mendekatiku. Gadis-gadis lain menatap sambil mengatakan sesuatu seperti 『satu gadis saja sudah cukup』. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau mereka salah tapi... dan juga, karena dua gadis itu mengancam mereka, aku jadi kesulitan ketika berurusan dengan para gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok gadis memang merepotkan ya. Sebelum Yuuki menyadirinya, situasi menjadi rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai mana masalahmu saat berurusan dengan para gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan saling menatap itu sudah membuatku resah... juga sulit bagiku untuk berbicara dengan pegawai kasir wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup parah. Daripada dengan diriku, dia seharusnya berkonsultasi dengan spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ingin menjadi perempuan, kau tidak boleh terlalu bergantung pada gadis SMP. Ditambah ibumu yang menjadi ayahmu sekarang sedang berada di tempat yang jauh... benar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengatakannya, Yuuki menganggukan kepalanya beberapa kali. Gerakannya yang seperti itu mengingatkan pada seekor anak anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak berbohong, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa memastikannya sendiri jika kau mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat dia memiliki banyak sekali situasi khusus yang saling tumpang tindih, aku pikir adalah hal yang bodoh jika tidak mencurigainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membahas tentang ini dengan Murasaki-san, aku akan mengetahui apakah cerita Yuuki dan situasinya itu hanyalah karangan atau bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku percaya padamu. Maaf sudah curiga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan aku sendiri menganggap itu aneh. Aku memang seperti ini tapi... mohon bimbing aku. Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika rasa takutnya dengan wanita hilang dan dia mendapatkan kepercayaan diri layaknya perempuan normal, Yuuki mungkin akan menjadi manusia super, terbuka, dan gadis cantik yang sempurna. Meski membimbingnya itu berlebihan, akan aku coba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir bisa berbuat banyak untuk membantumu. Kewanitaan... apa arti kewanitaan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memiringkan leherku dalam kebingungan, Yuuki melakukan hal yang sama, menirukan gerak tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu... artinya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengincar sesuatu yang tidak kau ketahui!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Kata itu populer di internet, jadi secara tidak sadar...aku menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tehepero*, Yuuki menjulurkan lidah kemudian mengedipkan matanya. Barusan, kewanitaanya cukup tinggi. Aku tidak terlalu mengerti apa itu kewanitaan, tetapi aku merasa itu sama seperti yang dilakukannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kata itu memang kau ketahui dari internet, bagaimana jika kita mencari sesuatu di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hore! Nii-san adalah seseorang yang bisa diandalkan. Itu membuatku sangat, sangat bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia memujiku, sejujurnya aku tidak memiliki rasa percaya diri apakah aku bisa memenuhi ekspektasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan browser pada smartphone miliku lalu menuliskan ‘kewanitaan’ pada kolom pencarian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya adalah beberapa artikel tentang kewanitaan, ringkasnya yaitu pada cara gadis berdandan, bertingkah laku, dan berbicara. Ada beberapa kategori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apakah ada suatu cara untuk meningkatkan kewanitaan milikku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menempel padaku dan mengatakan itu sambil menatap layar smartphone. Rambutnya memiliki bau mint. Memberikan kesan pemuda yang keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shampoo milikmu, bukankah itu yang digunakan para pria?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang untuk wanita baunya terlalu manis, tetapi aku menggunakan produk wanita untuk membersihkan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita mulai dari situ. Kau perlu membilas itu lalu menggantinya dengan perawatan yang cocok. Itu sia-sia mengetahui kau memiliki rambut yang indah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menyentuh rambutnya dan tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rambutku indah ya. Baik, aku akan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mulai dari sekarang. Untuk saat ini, aku meringkas semua informasi yang kudapatkan dari internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya, kewanitaan itu tentang mempercantik diri sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik... diri sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuki memiliki peralatan yang bagus untuk berdandan, dia akan menjadi cantik dengan mudah. Coba pikirkan saja, Mariko menjadi khawatir dengan berat badannya meski sama sekali tidak gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah... mungkin aku sudah melihat kewanitaan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa saja bersinar di keadaan yang masih kasar, kupikir itu adalah hal yang bagus untuk mempercantik dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik katamu, tapi aku masih tidak tahu harus melakukan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggulung tubuhnya. Ketika dia terlihat lebih kecil, kesan dirinya yang keren menjadi imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm.. yah yang seperti itu. Kau tidak memiliki masalah dengan berat badan, jadi tidak harus melakukan diet. Bagaimana kalau memakai make-up?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu cara memakainya. N-namun aku membeli beberapa kosmetik dengan keinginan bisa menghadapinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki pergi ke kamar di sebelah ruang tamu, dan kembali tidak lama kemudian. Dia memegang keranjang kecil berisi kosmetik. Aku tidak tahu harga untuk barang-barang ini, tetapi sekilas... barang-barang itu tidak terlihat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa uang yang kau bayar untuk barang-barang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing seratus yen. Aku pikir seorang pemula tidak seharusnya membeli yang mahal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau harus berinvestasi lebih untuk barang seperti ini, Yuuki-san. Yah meski begitu, dapat mempersiapkan dirinya saja sudah mengaggumkan, sebagai kakak aku perlu menyemangatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajarinya dengan informasi yang kutemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut informasi dari internet, menggunakan lotion kulit itu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku sudah membelinya! Jika aku tidak salah, itu digunakan setelah selesai membasuh wajahku. Jika aku memakainya apakah kewanitaanku akan meningkat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil botol kecil yang belum terbuka sambil menggoyangkan tubuhnya kesana kemari dengan semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lotion yang dibuat dari kedelai. Warnanya seputih susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau belum mencobanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir tak akan ada yang berubah meski aku memakai lotion, juga aku terlalu takut memakainya. Namun jika Nii-san yang mengatakannya... aku merasa seperti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Yuuki! Basuh wajahmu dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Akan aku lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Kemudian dia kembali sambil mengelap tetesan air dengan handuk. Yuuki, jika kau menggantung handuk di lehermu seperti itu, kewanitaanmu akan menurun hingga level pria tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh menyegarkan! Rasanya enak setelah membasuh wajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terasa liar, seperti pria dewasa setelah membasuh wajahnya. Namun aku akan diam saja untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau kita langsung memakai lotion dan melihat hasilnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Nii-san. Umm, berapa banyak yang harus kupakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kudapat dari internet, daripada memakai lotion yang harganya mahal, akan lebih baik uangnya dibelanjakan untuk yang murah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mencari tahu tentang itu, tetapi aku tidak menemukan cara untuk memakainya. Tapi yang lebih penting adalah membuat kewanitaan Yuuki bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dibelanjakan untuk yang murah. Kalau begitu... yang ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan, tapi Yuuki membuka penutup lotion dan setelah menaikan dagu lalu mengangkat wajahnya menghadap langit-langit dia mulai mengoleskan lotion ke wajahnya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan putih yang lengket dan menggumpal menutupi wajah Yuuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apa kewanitaanku sudah naik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tes tes tes tes tes tes tes plop plop tes tes tes tes tes plop*. Wajahnya benar-benar tertutup oleh cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat susah untuk meningkatkan kewanitaan. Lotion-nya bahkan sampai menetes ke dadaku dan bajuku jadi lengket semua. Waahaahaha! Anehnya, aku merasa kewanitaanku perlahan meningkat! Lotion kulit memang luar biasa. ‘kan, Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kalau itu... meski sulit mengatakannya, tetapi kewanitaanmu mungkin... sudah menurun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Yuuki membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“N-Nii-san! Kenapa kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya informasi seperti ini cuma tipuan belaka. Ayo kita coba cara lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendesah setelah melihat wajahnya yang seolah akan menangis sembari masih ditutupi cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu informasi yang aku fokuskan adalah hipotesis lain mengenai kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewanitaan adalah kekuatan pakaian dalam. Menjadi modis pada tempat yang tak terlihat adalah kunci untuk meningkatkan kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, aku pernah berpikir kalau Tomomi itu feminim... bra berwarna merah muda miliknya bisa dilihat dari kausnya... hey, apa yang aku pikirkan sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, aku akan mengganti kaus ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki kembali mengenakan kaus satin berwarna hitam dengan model open neck. Kerahnya naik... dia terlihat seperti tuan rumah. Setelah dia mengenakan kaus yang keren kelaki-lakiannya bertambah, tidak terasa ada yang janggal sedikitpun.[[Image: OOSY v01 004.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana caranya aku mengatakan kepada seorang gadis kalau kewanitaan = kekuatan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, celana dalam milikmu warnanya apa? Umm, maksudku bukan dalam artian yang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kupikir dengan melihatnya akan jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Pertanyaanku terlalu berlebihan, tetapi Yuuki adalah orang bodoh dari lahir. Ketika di deoanku, dia mengendurkan sabuk celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu tunggu tunggu! Pertanyaanku cukup aneh, tetapi bukankah lebih aneh jika kau melepaskan bahkan sampai memperlihatkannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah... k-kau benar. Meski kita adalah saudara tidaklah baik memperlihatkannya ya. Ngomong-ngomong, warna celana dalam seperti apa yang harus kukenakan untuk meningkatkan kewanitaanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kutemukan di internet, bukan hanya warnanya tapi desainnya juga penting. Kau tidak perlu melepaskannya, namun jenis pakaian apa yang kau kenakan? Itu merupakan pertanyaan tanpa ada motif terselubung dan hanya untuk memastikan saja, aku tidak memiliki perasaan bersalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Nii-san. Umm, celana dalam yang kukenakan seperti celana dalam boxer dengan pola yang penuh warna. Memang benar, trunks kurang nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa dan dengan malu memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan b-bra?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadaku diikat dengan perban, tetapi sudah tidak bisa lagi digunakan. Sebenarnya, aku tidak tahu jenis pakaian dalam apa yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menurunkan bahunya. Sepertinya kewanitaan miliknya bertambah ketika sedang sedih. Namun karismanya meruntuhkan ketika itu terjadi. Aku ingin membantunya mendapatkan kewanitaan dengan segala kemampuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya bersinar, dan dia menatapku dengan penuh keyakinan. Ditambah, Yuuki sama sekali tidak terlihat memiliki tanda–tanda ironi atau niat jahat. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau memandangku dengan penuh rasa hormat begitu, aku merasa seperti dipuji karena mengatakan sesuatu yang mesum. Aku tidak berpengetahuan luas, tetapi jika kau tidak bisa berbicara dengan pegawai kasir wanita kau masih bisa berbelanja lewat internet, ‘kan? Mari manfaatkan kelebihan teknologi informasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku cukup sering berbelanja lewat internet. Aku bahkan berani memesan baju seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baju seperti itu, maksudmu pakaian wanita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan bahunya dan menjadi semakin kecil seperti kehilangan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. A-aneh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Yuuki sungguh hebat. Syukurlah masalah ini hampir sepenuhnya hilang. Sama seperti kau memesan baju lewat internet, kau juga bisa membeli bra yang imut untuk dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-membeli bra yang imut untuk diriku?! Mustahil, pilih kan satu untukku Nii-san. Meski bra itu tembus pandang atau yang seksi... aku mau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang memutuskan sendiri. Bukankah penting untukmu menentukan mana yang kau anggap『Imut』?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menemukan.... imut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kau harus mengetahui mana yang menurutmu imut. Nantinya itulah yang menjadi cara mempercantik dirimu sendiri dan di saat yang bersamaan kewanitaanmu akan meingkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengatakan dengan lantang pendapat yang kubaca di internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ka-kalau begitu... maukah kau mencarinya... bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki tersipu dan menatap ke arah wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. sekarang mari kita cari lewat smartphone atau PC milikmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan mengambilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali dari kamar dan membawa sebuah laptop. Itu merupakan tipe besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, boleh aku memeriksa Twitter dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Aku tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuka situs kesukaanya. Dia memeriksa akun milik artis internet lokal “Undying Cicada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak men-tweet. Aku pensaran apakah Cicada-san baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau penggemar orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Nii-san juga tahu Cicada-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, umm..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artian luas, bisa dikatakan kita tinggal di atap yang sama... kemudian, Yuuki meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Cicada-san tidak men-tweet sejak minggu lalu, aku jadi sedikit khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa orang ini menjadi begitu terkenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cicada-san membuat banyak pakaian. Namun dia tidak membuatkan untuk sembarang orang, dia terkenal karena membuatkan pakaian untuk orang yang dia sukai saja lho?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu pakaian yang dia buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Itu merupakan kehormatan sekaligus keberuntungan bisa mendapatkannya. Sampai-sampai, baju itu dikirim ke tempatku sehari setelahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kau tidak mengenakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kewanitaanku yang sekarang aku belum bisa memakainya... namun suatu saat nanti, aku berharap menjadi perempuan yang cantik lalu mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja mengetahui suatu hubungan yang mengejutkan di tempat yang tak terduga. Tetapi, mengingat bagaimana Yuuki dan Selene terhubung, akan lebih baik kalau aku tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mungkin akan senang mengetahui orang yang dia kagumi adalah adik perempuannya sendiri, kalau Selene mungkin dia akan malu. Mari ubah topik pembicaraanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo kita cari situs pakaian dalam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Mari berjuang Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetik “Pakaian dalam wanita” pada kolom pencarian dan melihat di pencarian gambar. Hasilnya merupakan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san! Seberapa banyak kewanitaan pada bintang keberuntungan yang menempel didada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saring hal seperti itu dari otakkmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di celana dalam yang dikenakan wanita ini kenapa tak ada kain lain dipinggangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya itu dinamakan C-string, itu sengaja dibuat agar bentuk celana dalam tidak terlihat. Mungkin akan cocok dengan yukata tapi kita lewati saja hal yang semakin nyeleneh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang ini ada lubang ditengahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lewat lewat lewat! Kita pindah ke situs yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku penasaran apa tali juga termasuk celana dalam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jadi... tidak. Jelas tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Gambarnya imut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Yuuki menemukan standar ‘imutnya’, itu merupakan celana dalam seorang gadis dari Pretty Girls Rangers Fruity.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Celana dalam seperti itu biasa dipakai oleh anak SD.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Ini sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku dan Yuuki mencari di beberapa situs dan akhirnya menemukan celana dalam dengan lingrie imut khusus remaja wanita. Setelah memebel berbagai macam pakaian kami selesai berbelanja. Selesai menutup laptop miliknya Yuuki meregangkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san. Aku merasa kewanitaanku meningkat drastis jika mengenakannya. Sudah saatnya makan malam, kau pasti lapar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Aku kelaparan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malamnya adalah makanan beku. Meskipun jika dia memasak kewanitaannya akan meningkat, tetapi kelihatannya Yuuki tidak bisa memasak. Kami berdua memakan nasi, satu hamburger kecil dengan ayam goreng sebagai lauk yang sempurna untuk makanan kotak dan sayuran rebus di wadah kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Yuuki bersiap mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau mandi bareng, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau laki-laki, aku mau-mau saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Aku tidak begitu keberatan lho... kau mandi duluan, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku tidak akan menolak. Jangan mengintip ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin aku melakukannya. Nii-san aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega Yuuki menertawakannya. Berbeda dengan Sayuri yang menerobos waktu itu, aku bisa selesai mandi dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hingga waktunya selesai, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV dengan Yuuki. Saluran khusus anime sedang menyiarkan Pretty Girls Rangers Fruity. Kelihatannya itu siaran ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengejutkan ternyata Nii-san juga menonton anime.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benci anime?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali, malah aku menyukainya. Aku cenderung bertingkah laku seperti Orange-chan, namun aku ingin seperti Grape-chan yang penuh dengan karisma dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Yuuki anime mungkin bisa menjadi bahan meningkatkan kewanitaanya. Meski acaranya ditujukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai menonton satu episode, waktu menunjukan hampir setengah dua belas, tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingin menginap untuk malam ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ini kamar milik kandidat adik perempuanku, aku tetap tidak bisa. Aku harus kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku mengerti. Sayang sekali tapi mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat senyuman Yuuki saat dia mengantarku ke pintu depan, dadaku sedikit sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah dia dapat merasa seperti perempuan berkat latihan kewanitaan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap dapat membantunya layaknya seorang kakak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541095</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541095"/>
		<updated>2018-06-01T16:14:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna menutup matanya lalu berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, rasanya sedikit sepi. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut minta maaf dan beberapa air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan cara memegang poci juga gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, mohon santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat baik... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acara itu untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi akan kucoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Acaranya seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541094</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541094"/>
		<updated>2018-06-01T16:07:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna menutup matanya lalu berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, rasanya sedikit sepi. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut minta maaf dan beberapa air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan cara memegang poci juga gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, mohon santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat baik... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541093</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541093"/>
		<updated>2018-06-01T16:01:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna menutup matanya lalu berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, rasanya sedikit sepi. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut minta maaf dan beberapa air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya memegang poci dan gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, tolong santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat lembut... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541070</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 5</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_5&amp;diff=541070"/>
		<updated>2018-06-01T06:31:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: Created page with &amp;quot;.&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Kamis, 11 April&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  ==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==  Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dar...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;.&#039;&#039;&#039;Kamis, 11 April&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempua keempat. Tampan. Kewanitaannya berkurang.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dia katakan sebelumnya, hari ini Mariko membuatkanku makan siang. Terdiri dari nasi kepal, telur goreng; bayam rebus dan tomat cherry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mariko sedikit khawatir kalau telurnya sedikit gosong, namun itu rasanya sangat enak. Meski begitu, makan siang buatan gadis memang sangat kecil. Mariko bertanya “Ingin makan sebagian milikku? Gadis mudah menjadi gemuk, itu membuatku iri kepada para lelaki.” Atau sesuatu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak terlihat memiliki lemak berlebih, tapi para gadis cukup sensitif ketika menyangkut masalah kelebihan berat badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin Mariko menginginkan bentuk tubuh yang langsing dan keren seperti model? Kupikir dia cukup imut dengan tubuh kecilnya... yah, itu juga bukan urusanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah, aku berdiri di depan ruang 401 di kediaman Taishido lalu mengambil nafas panjang untuk mempersiapkan diri. Setelah aku siap secara mental kemudian kuderingkan bel, pintunya langsung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-senang bertemu denganmu! Namaku Tachibana Yuuki. Kelas tiga SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Taichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan keempat—— Tubuh Tachibana Yuuki tinggi. Seperti yang kuperkirakan, tubuhnya tidaklah terlalu tinggi hingga membuatku menoleh ke atas saat menatapnya, tetapi kelihatannya dia akan menguungguli tinggi badanku dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya sekitar 170 sentimeter. Rambut panjang miliknya dikuncir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian milik Yuuki sangat tomboy, penampilannya acak-acakan, mengenakan jeans dan sebuah kaus. Kaki dan pinggangnya cukup panjang, wajahnya kecil. Dia berbicara dengan senyuman di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang! Masuklah, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku dipegang lalu ditarik ke dalam ruangan. Cara bicaranya kelaki-lakian. Dan juga, tiba-tiba menggandeng tangan... itu sedikit memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf menggang〜”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk kemudian melepas sepatu di dekat pintu. Perabotan di dalam ruang tamu berwarna hijau dan biru, memberikan perasaan yang menyegarkan. Walaupun dalamnya cukup bersih, ruangannya terasa seperti seseorang tengah mendiaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berada pada spektrum yang sangat berbeda dengan Tomomi, namun mereka berdua sama-sama tomboy. Seragamnya digantung di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu merupakan gakuran. Aku tidak mengerti. Bukankah itu seragam laki-laki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Maaf kalau tiba-tiba, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu, bukan milikmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika teman laki-lakinya mampir lalu meninggalkan seragamnya digantung seperti itu, aku menjadi agak khawatir sebagai kakaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seragam itu milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nada bicaranya begitu lembut, dia tidak kelihatan berbohong. Postur tubuhnya santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku mempunyai kesan bahwa dirinya adalah seorang gadis karena rambut panjang miliknya, kalau dia memiliki rambut pendek apakah dia akan terlihat seperti lelaki tampan. Kecantikannya memancarkan sebuah perasaan tanpa jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah memiliki gakuran sedikit aneh? Maksudku, gakuran itu seragam untuk laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas. Tidak masalah jika aku tidak mengenakan seragam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, kalau begitu tidak masalah... mustahil aku mengatakannya. Hanya karena kau boleh mengenakan apapun yang kau mau bukanlah alasan untuk mengenakan seragam laki-laki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya... aku mengerti. Memang benar itu aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki duduk pada sofa di ruang tamu. Walaupun dia akan terlihat feminim saat duduk dengan menyilangkan kaki, justru dia melebarkan kaki memperlihatkan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipikir, saat Tomomi berbicara seperti laki-laki, bentuk tubuh dan cara duduknya terlihat feminim. Aku merasakan apa yang tak dimiliki oleh Yuuki. Dia menatapku selagi aku duduk di bangku sebelah meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terlintas di pikiran Nii-san ketika melihatku? Aku ingin kau mengatakan dengan jujur kesan pertamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri. Kesan pertamaku adalah... kau tidak mengetahui jenis kelaminmu sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mengetahui jenis kelamin... yep, itu cukup akurat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau perempuan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara biologis, aku perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan cara dirinya mengatakan itu, dia tidak terlihat seperti perempuan secara kejiwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi dirimu yang di dalam berbeda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kau salah. Aku ingin... menjadi... perempuan seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranku menjadi sedikit bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang ingin jadi perempuan, tapi bukankah kau itu perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memalingkan pandangannya ke bawah lalu terdiam. Setelah melihat ekspresi kesepiannya, kelihatannya aku terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, itu salahku. Cara bertanyaku salah. Tolong ceritakan secara bertahap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san... maukah kau mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih! Nii-san adalah orang baik yang membuat diriku bahagia. Umm.. ah, maaf Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki berdiri dari sofa seolah memantul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku lupa. Aku segera menyiapkan kopi. Aku kurang baik dalam hal ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bergumam memarahi dirinya sendiri. Kelihatannya dia depresi dan kurang percaya diri. Aku menanggapi agar dia senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, jangan pelit dengan gula dan susunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baik! Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki bergegas pergi ke dapur dan setelah mendidihkan air di ceret, dia membuat kopi instan sesuai pesananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu suka dengan kopi instan, tetapi gula dan susu bisa menutupi rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menarik nafas panjang menyeruput kopi susu yang kupesan. Ngomong-ngomong, susu buatan Yuuki warnanya hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminum kopi hitam instan adalah sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Tentu saja, ada kopi instan mahal yang mungkin rasanya cukup enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menaruh cangkir ke atas meja Yuuki mulai berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku kelas dua SD, seorang anak laki-laki di kelasku berkata 『&amp;quot;Pakaian wanita tidak cocok untukmu! 『&amp;quot;Perempuan jantan&amp;quot;』... sewaktu kecil aku lebih tinggi dari anak-anak seumuranku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau di rundung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu, umm... daripada perundungan... aku menggapnya sebagai saran. Karena kepribadianku yang positif, aku menjadi diriku seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saran... seberapa positif sih dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa malu saat aku membalasnya dengan ketus. Meski malu, dia memiliki senyuman yang cerah dan bahagia. Entah kenapa terlihat keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibuku tidak begitu peduli dengan perbedaan jenis kelamain, setiap kali aku berpakaian seperti anak laki-laki dia senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti itu, Yuuki juga sudah berpisah dengan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Empat tahun lalu sebuah surat terkirim dari Brazil. Sepertinya dia menemukan istri di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia meninggalkan anak perempuannya dan menikah lagi di luar negeri... Apa? Istri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Sepertinya ibuku sudah menjadi ayah tanpa kusadari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman yang menyegarkan, aku mencoba memahami perkataanya dalam pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Jika ibuku menjadi ayahku, itu artinya dia telah melakukan sesuatu di kehidupan barunya. Selain itu aku ingin terus membuat ibuku—— ayahku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua kandungnya bahkan lebih aneh dari karakter fiksi. Yah, bukannya aku juga pantas mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kembali ke cerita. Apa yang terjadi di SD setelah kejadian itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemudian, ketika anak yang mengatakan 『”Perempuan jantan”』melihatku dengan pakaian wanita, dia tidak mengatakan apa pun... rasanya cukup sedih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu hanya ingin mendapatkan perhatian Yuuki, dia mungkin tidak akan percaya kalau Yuuki kembali berpakaian seperti anak laki-laki karena perkataanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga pasti sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Guru SD juga berkata『”Mereka menghormati kebebasan individu”』, alhasil aku terus berpakaian seperti anak laki-laki... tanpa kusadari, aku terlalu malu dan sungguh mustahil untukku mengenakan rok...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, begitu ya... dan itu terus berlanjut sampai gakuran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke seragam di gantungan baju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“SMP-ku memperbolehkan datang ke sekolah mengenakan baju bebas, aku juga berusaha dalam belajar. Karena aku rutin mengenakan seragam itu, banyak pelajar yang menyangka kalau aku ini laki-laki... namun seperti yang diduga, teman kelasku tahu kalau aku adalah seorang perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan toilet?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ramai aku bisa masuk toilet laki-laki, tidak ada masalah untuk itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa tanpa ada sedikit pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apa ada suatu hambatan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Yuuki langsung *kshh* kemudian menjadi lebih merah daripada tomat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kalau itu, umm, bukannya menyombongkan diri namun aku menjadi populer di kalangan para gadis... aku juga ditembak oleh dua gadis di saat yang bersamaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hohoo. Tidak menyombongkan diri, populer yah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi Yuuki menggerakan tangannya, dia terlihat seperti model, bentuk tubuhnya cukup feminim atau malah kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan menggodaku Nii-san. Keperjakaankeperjakaanku hampir direbut... um, lupakan. Dilihat dari mana pun, mereka berdua terlihat sangat mencintaiku dan karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, aku meminta nasihat pada seorang guru. Setelah itu, mereka berdua dilarang mendekatiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupikir kata keperjakaankeperjakaan tadi terdengar aneh, namun jangan singgung tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau menolak mereka berdua?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Y-yep. Entah seberapa tomboy-nya diriku, tidak mungkin aku jatuh cinta pada perempuan... daripada itu, aku sunguh mengerti kalau aku harus memaksa diriku menjadi perempuan. Kenyataanya aku memanglah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja. Yuuki adalah perempuan. Dua gadis itu jatuh cinta padanya ketika dia berada dalam pakaian laki-laki, jika saja dia kembali berperilaku layaknya perempuan mereka tidak akan mempunyai pilihan selain menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa kau kesal karena itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya aku terkejut... namun aku mengerti keadaanmu sekarang ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, itu senyuman yang menyegarkan. Walaupun jenis kelamin kita sama... tidak tunggu, aku hampir terkecoh. Yuuki adalah seorang perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyuman miliknya yang memikat orang lain. Tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san! Aku ingin menjadi perempuan. Namun aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan juga tidak ada orang yang bisa aku andalkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi intinya kau ingin aku membantumu?”	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku ingin menjadi adik perempuan (sementara) Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum memutuskannya. Ditambah, apa yang kau maksud dengan (sementara)...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf Nii-san! Tentu saja aku ingin menjadi adik perempuanmu. Selain itu, kau juga orang yang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menatapku. Rasa hormat yang ditunjukan lewat matanya menghilangkan segala keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti aku mempunyai sesuatu yang pantas dihormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa, Nii-san! Tidak peduli seberapa buruk caranya, jika aku dilihat sebagai adik perempuan seseorang, kewanitaanku akan tumbuh dengan sendirinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti...hey, apa memang kata “kewanitaan” digunakan seperti itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku hanya bisa bergantung padamu... dan juga, aku sudah menekan beberapa perubahanku sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mencoba melepaskan bajunya. Perutnya terlihat dari bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu! Hentikan! Aku mengerti! Aku mengerti jadi jangan dilepas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-maaf! Kita belum jadi saudara ya. Aku meminta maaf membuatmu melihat hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli itu (sementara) atau saudara, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kau tunjukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya dia tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Lalu, apa yang harus kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau ingin lebih feminim, kenapa kau tidak mencoba berkonsultasi dengan teman perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ka-ka-kalau itu....&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki memucat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau tidak punya teman? Jadi seperti itu, teman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-benar. Mereka semua baik. Namun mereka menjaga jarak... setelah dua gadis itu mendekatiku. Gadis-gadis lain menatap sambil mengatakan sesuatu seperti 『satu gadis saja sudah cukup』. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau mereka salah tapi... dan juga, karena dua gadis itu mengancam mereka, aku jadi kesulitan ketika berurusan dengan para gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok gadis memang merepotkan ya. Sebelum Yuuki menyadirinya, situasi menjadi rumit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai mana masalahmu saat berurusan dengan para gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan saling menatap itu sudah membuatku resah... juga sulit bagiku untuk berbicara dengan pegawai kasir wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu cukup parah. Daripada dengan diriku, dia seharusnya berkonsultasi dengan spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ingin menjadi perempuan, kau tidak boleh terlalu bergantung pada gadis SMP. Ditambah ibumu yang menjadi ayahmu sekarang sedang berada di tempat yang jauh... benar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mengatakannya, Yuuki menganggukan kepalanya beberapa kali. Gerakannya yang seperti itu mengingatkan pada seekor anak anjing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak berbohong, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa memastikannya sendiri jika kau mau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat dia memiliki banyak sekali situasi khusus yang saling tumpang tindih, aku pikir adalah hal yang bodoh jika tidak mencurigainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membahas tentang ini dengan Murasaki-san, aku akan mengetahui apakah cerita Yuuki dan situasinya itu hanyalah karangan atau bukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Aku percaya padamu. Maaf sudah curiga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan aku sendiri menganggap itu aneh. Aku memang seperti ini tapi... mohon bimbing aku. Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika rasa takutnya dengan wanita hilang dan dia mendapatkan kepercayaan diri layaknya perempuan normal, Yuuki mungkin akan menjadi manusia super, terbuka, dan gadis cantik yang sempurna. Meski membimbingnya itu berlebihan, akan aku coba...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir bisa berbuat banyak untuk membantumu. Kewanitaan... apa arti kewanitaan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memiringkan leherku dalam kebingungan, Yuuki melakukan hal yang sama, menirukan gerak tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin tahu... artinya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mengincar sesuatu yang tidak kau ketahui!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf. Kata itu populer di internet, jadi secara tidak sadar...aku menggunakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tehepero*, Yuuki menjulurkan lidah kemudian mengedipkan matanya. Barusan, kewanitaanya cukup tinggi. Aku tidak terlalu mengerti apa itu kewanitaan, tetapi aku merasa itu sama seperti yang dilakukannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kata itu memang kau ketahui dari internet, bagaimana jika kita mencari sesuatu di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dengan senyuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hore! Nii-san adalah seseorang yang bisa diandalkan. Itu membuatku sangat, sangat bahagia!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia memujiku, sejujurnya aku tidak memiliki rasa percaya diri apakah aku bisa memenuhi ekspektasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggunakan browser pada smartphone miliku lalu menuliskan ‘kewanitaan’ pada kolom pencarian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya adalah beberapa artikel tentang kewanitaan, ringkasnya yaitu pada cara gadis berdandan, bertingkah laku, dan berbicara. Ada beberapa kategori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apakah ada suatu cara untuk meningkatkan kewanitaan milikku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menempel padaku dan mengatakan itu sambil menatap layar smartphone. Rambutnya memiliki bau mint. Memberikan kesan pemuda yang keren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shampoo milikmu, bukankah itu yang digunakan para pria?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang untuk wanita baunya terlalu manis, tetapi aku menggunakan produk wanita untuk membersihkan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo kita mulai dari situ. Kau perlu membilas itu lalu menggantinya dengan perawatan yang cocok. Itu sia-sia mengetahui kau memiliki rambut yang indah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menyentuh rambutnya dan tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rambutku indah ya. Baik, aku akan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi mulai dari sekarang. Untuk saat ini, aku meringkas semua informasi yang kudapatkan dari internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya, kewanitaan itu tentang mempercantik diri sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik... diri sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Yuuki memiliki peralatan yang bagus untuk berdandan, dia akan menjadi cantik dengan mudah. Coba pikirkan saja, Mariko menjadi khawatir dengan berat badannya meski sama sekali tidak gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah... mungkin aku sudah melihat kewanitaan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bisa saja bersinar di keadaan yang masih kasar, kupikir itu adalah hal yang bagus untuk mempercantik dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempercantik katamu, tapi aku masih tidak tahu harus melakukan apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggulung tubuhnya. Ketika dia terlihat lebih kecil, kesan dirinya yang keren menjadi imut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm.. yah yang seperti itu. Kau tidak memiliki masalah dengan berat badan, jadi tidak harus melakukan diet. Bagaimana kalau memakai make-up?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu cara memakainya. N-namun aku membeli beberapa kosmetik dengan keinginan bisa menghadapinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki pergi ke kamar di sebelah ruang tamu, dan kembali tidak lama kemudian. Dia memegang keranjang kecil berisi kosmetik. Aku tidak tahu harga untuk barang-barang ini, tetapi sekilas... barang-barang itu tidak terlihat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa uang yang kau bayar untuk barang-barang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing seratus yen. Aku pikir seorang pemula tidak seharusnya membeli yang mahal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau harus berinvestasi lebih untuk barang seperti ini, Yuuki-san. Yah meski begitu, dapat mempersiapkan dirinya saja sudah mengaggumkan, sebagai kakak aku perlu menyemangatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengajarinya dengan informasi yang kutemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut informasi dari internet, menggunakan lotion kulit itu baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku sudah membelinya! Jika aku tidak salah, itu digunakan setelah selesai membasuh wajahku. Jika aku memakainya apakah kewanitaanku akan meningkat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil botol kecil yang belum terbuka sambil menggoyangkan tubuhnya kesana kemari dengan semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lotion yang dibuat dari kedelai. Warnanya seputih susu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau belum mencobanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kupikir tak akan ada yang berubah meski aku memakai lotion, juga aku terlalu takut memakainya. Namun jika Nii-san yang mengatakannya... aku merasa seperti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Yuuki! Basuh wajahmu dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Akan aku lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Kemudian dia kembali sambil mengelap tetesan air dengan handuk. Yuuki, jika kau menggantung handuk di lehermu seperti itu, kewanitaanmu akan menurun hingga level pria tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh menyegarkan! Rasanya enak setelah membasuh wajah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terasa liar, seperti pria dewasa setelah membasuh wajahnya. Namun aku akan diam saja untuk sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau kita langsung memakai lotion dan melihat hasilnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Nii-san. Umm, berapa banyak yang harus kupakai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kudapat dari internet, daripada memakai lotion yang harganya mahal, akan lebih baik uangnya dibelanjakan untuk yang murah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sudah mencari tahu tentang itu, tetapi aku tidak menemukan cara untuk memakainya. Tapi yang lebih penting adalah membuat kewanitaan Yuuki bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dibelanjakan untuk yang murah. Kalau begitu... yang ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan, tapi Yuuki membuka penutup lotion dan setelah menaikan dagu lalu mengangkat wajahnya menghadap langit-langit dia mulai mengoleskan lotion ke wajahnya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan putih yang lengket dan menggumpal menutupi wajah Yuuki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana, Nii-san? Apa kewanitaanku sudah naik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*tes tes tes tes tes tes tes plop plop tes tes tes tes tes plop*. Wajahnya benar-benar tertutup oleh cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat susah untuk meningkatkan kewanitaan. Lotion-nya bahkan sampai menetes ke dadaku dan bajuku jadi lengket semua. Waahaahaha! Anehnya, aku merasa kewanitaanku perlahan meningkat! Lotion kulit memang luar biasa. ‘kan, Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kalau itu... meski sulit mengatakannya, tetapi kewanitaanmu mungkin... sudah menurun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Yuuki membeku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“N-Nii-san! Kenapa kau mengatakan sesuatu yang menyakitkan?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya informasi seperti ini cuma tipuan belaka. Ayo kita coba cara lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendesah setelah melihat wajahnya yang seolah akan menangis sembari masih ditutupi cairan yang menggumpal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu informasi yang aku fokuskan adalah hipotesis lain mengenai kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewanitaan adalah kekuatan pakaian dalam. Menjadi modis pada tempat yang tak terlihat adalah kunci untuk meningkatkan kewanitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, aku pernah berpikir kalau Tomomi itu feminim... bra berwarna merah muda miliknya bisa dilihat dari kausnya... hey, apa yang aku pikirkan sih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, aku akan mengganti kaus ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki kembali mengenakan kaus satin berwarna hitam dengan model open neck. Kerahnya naik... dia terlihat seperti tuan rumah. Setelah dia mengenakan kaus yang keren kelaki-lakiannya bertambah, tidak terasa ada yang janggal sedikitpun.[[Image: OOSY v01 004.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana caranya aku mengatakan kepada seorang gadis kalau kewanitaan = kekuatan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, celana dalam milikmu warnanya apa? Umm, maksudku bukan dalam artian yang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kupikir dengan melihatnya akan jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sial. Pertanyaanku terlalu berlebihan, tetapi Yuuki adalah orang bodoh dari lahir. Ketika di deoanku, dia mengendurkan sabuk celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu tunggu tunggu! Pertanyaanku cukup aneh, tetapi bukankah lebih aneh jika kau melepaskan bahkan sampai memperlihatkannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Ah... k-kau benar. Meski kita adalah saudara tidaklah baik memperlihatkannya ya. Ngomong-ngomong, warna celana dalam seperti apa yang harus kukenakan untuk meningkatkan kewanitaanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut yang kutemukan di internet, bukan hanya warnanya tapi desainnya juga penting. Kau tidak perlu melepaskannya, namun jenis pakaian apa yang kau kenakan? Itu merupakan pertanyaan tanpa ada motif terselubung dan hanya untuk memastikan saja, aku tidak memiliki perasaan bersalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, Nii-san. Umm, celana dalam yang kukenakan seperti celana dalam boxer dengan pola yang penuh warna. Memang benar, trunks kurang nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertawa dan dengan malu memiringkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan b-bra?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dadaku diikat dengan perban, tetapi sudah tidak bisa lagi digunakan. Sebenarnya, aku tidak tahu jenis pakaian dalam apa yang harus kubeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki menurunkan bahunya. Sepertinya kewanitaan miliknya bertambah ketika sedang sedih. Namun karismanya meruntuhkan ketika itu terjadi. Aku ingin membantunya mendapatkan kewanitaan dengan segala kemampuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya bersinar, dan dia menatapku dengan penuh keyakinan. Ditambah, Yuuki sama sekali tidak terlihat memiliki tanda–tanda ironi atau niat jahat. Namun...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau memandangku dengan penuh rasa hormat begitu, aku merasa seperti dipuji karena mengatakan sesuatu yang mesum. Aku tidak berpengetahuan luas, tetapi jika kau tidak bisa berbicara dengan pegawai kasir wanita kau masih bisa berbelanja lewat internet, ‘kan? Mari manfaatkan kelebihan teknologi informasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar sekali. Aku cukup sering berbelanja lewat internet. Aku bahkan berani memesan baju seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baju seperti itu, maksudmu pakaian wanita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan bahunya dan menjadi semakin kecil seperti kehilangan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. A-aneh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali. Yuuki sungguh hebat. Syukurlah masalah ini hampir sepenuhnya hilang. Sama seperti kau memesan baju lewat internet, kau juga bisa membeli bra yang imut untuk dirimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-membeli bra yang imut untuk diriku?! Mustahil, pilih kan satu untukku Nii-san. Meski bra itu tembus pandang atau yang seksi... aku mau...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang memutuskan sendiri. Bukankah penting untukmu menentukan mana yang kau anggap『Imut』?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menemukan.... imut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Kau harus mengetahui mana yang menurutmu imut. Nantinya itulah yang menjadi cara mempercantik dirimu sendiri dan di saat yang bersamaan kewanitaanmu akan meingkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengatakan dengan lantang pendapat yang kubaca di internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ka-kalau begitu... maukah kau mencarinya... bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki tersipu dan menatap ke arah wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. sekarang mari kita cari lewat smartphone atau PC milikmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Aku akan mengambilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali dari kamar dan membawa sebuah laptop. Itu merupakan tipe besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san, boleh aku memeriksa Twitter dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentu. Aku tidak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membuka situs kesukaanya. Dia memeriksa akun milik artis internet lokal “Undying Cicada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia tidak men-tweet. Aku pensaran apakah Cicada-san baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau penggemar orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Nii-san juga tahu Cicada-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, umm..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artian luas, bisa dikatakan kita tinggal di atap yang sama... kemudian, Yuuki meneruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Cicada-san tidak men-tweet sejak minggu lalu, aku jadi sedikit khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa orang ini menjadi begitu terkenal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cicada-san membuat banyak pakaian. Namun dia tidak membuatkan untuk sembarang orang, dia terkenal karena membuatkan pakaian untuk orang yang dia sukai saja lho?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu pakaian yang dia buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Itu merupakan kehormatan sekaligus keberuntungan bisa mendapatkannya. Sampai-sampai, baju itu dikirim ke tempatku sehari setelahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kau tidak mengenakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kewanitaanku yang sekarang aku belum bisa memakainya... namun suatu saat nanti, aku berharap menjadi perempuan yang cantik lalu mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru saja mengetahui suatu hubungan yang mengejutkan di tempat yang tak terduga. Tetapi, mengingat bagaimana Yuuki dan Selene terhubung, akan lebih baik kalau aku tidak membocorkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuuki mungkin akan senang mengetahui orang yang dia kagumi adalah adik perempuannya sendiri, kalau Selene mungkin dia akan malu. Mari ubah topik pembicaraanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, ayo kita cari situs pakaian dalam wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik! Mari berjuang Nii-san!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetik “Pakaian dalam wanita” pada kolom pencarian dan melihat di pencarian gambar. Hasilnya merupakan hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-san! Seberapa banyak kewanitaan pada bintang keberuntungan yang menempel didada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saring hal seperti itu dari otakkmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di celana dalam yang dikenakan wanita ini kenapa tak ada kain lain dipinggangnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepertinya itu dinamakan C-string, itu sengaja dibuat agar bentuk celana dalam tidak terlihat. Mungkin akan cocok dengan yukata tapi kita lewati saja hal yang semakin nyeleneh ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang ini ada lubang ditengahnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lewat lewat lewat! Kita pindah ke situs yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku penasaran apa tali juga termasuk celana dalam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jadi... tidak. Jelas tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Gambarnya imut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya Yuuki menemukan standar ‘imutnya’, itu merupakan celana dalam seorang gadis dari Pretty Girls Rangers Fruity.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yuuki. Celana dalam seperti itu biasa dipakai oleh anak SD.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Ini sulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku dan Yuuki mencari di beberapa situs dan akhirnya menemukan celana dalam dengan lingrie imut khusus remaja wanita. Setelah memebel berbagai macam pakaian kami selesai berbelanja. Selesai menutup laptop miliknya Yuuki meregangkan badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Nii-san. Aku merasa kewanitaanku meningkat drastis jika mengenakannya. Sudah saatnya makan malam, kau pasti lapar, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Aku kelaparan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malamnya adalah makanan beku. Meskipun jika dia memasak kewanitaannya akan meningkat, tetapi kelihatannya Yuuki tidak bisa memasak. Kami berdua memakan nasi, satu hamburger kecil dengan ayam goreng sebagai lauk yang sempurna untuk makanan kotak dan sayuran rebus di wadah kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Yuuki bersiap mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau mandi bareng, Nii-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau laki-laki, aku mau-mau saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-begitu ya. Aku tidak begitu keberatan lho... kau mandi duluan, Nii-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku tidak akan menolak. Jangan mengintip ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin aku melakukannya. Nii-san aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega Yuuki menertawakannya. Berbeda dengan Sayuri yang menerobos waktu itu, aku bisa selesai mandi dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hingga waktunya selesai, aku menghabiskan waktu dengan menonton TV dengan Yuuki. Saluran khusus anime sedang menyiarkan Pretty Girls Rangers Fruity. Kelihatannya itu siaran ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengejutkan ternyata Nii-san juga menonton anime.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benci anime?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali, malah aku menyukainya. Aku cenderung bertingkah laku seperti Orange-chan, namun aku ingin seperti Grape-chan yang penuh dengan karisma dewasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Yuuki anime mungkin bisa menjadi bahan meningkatkan kewanitaanya. Meski acaranya ditujukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai menonton satu episode, waktu menunjukan hampir setengah dua belas, tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingin menginap untuk malam ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ini kamar milik kandidat adik perempuanku, aku tetap tidak bisa. Aku harus kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku mengerti. Sayang sekali tapi mau bagaimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat senyuman Yuuki saat dia mengantarku ke pintu depan, dadaku sedikit sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah dia dapat merasa seperti perempuan berkat latihan kewanitaan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap dapat membantunya layaknya seorang kakak.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541069</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541069"/>
		<updated>2018-06-01T06:19:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, alhasil kualihkan pandangan kemudian menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya hingga detil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, ada banyak sekali barang, namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk seperti payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ini seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di dalam bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku segera membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik kearah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa mengerti, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Singkatnya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menunjukan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaus tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi kembali membusungkan dadanya sambil membual. Membubung dengan indahnya, itu merupakan kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa begitu tulus, walau aku sedikit memaksa, kau tetap berkata ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga makan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling suap?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya konstan juga enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang mendingin dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541068</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541068"/>
		<updated>2018-06-01T06:15:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, alhasil kualihkan pandangan kemudian menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya hingga detil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, ada banyak sekali barang, namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk seperti payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ini seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di dalam bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku segera membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik kearah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa mengerti, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Singkatnya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menunjukan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi kembali membusungkan dadanya sambil membual. Membubung dengan indahnya, itu merupakan kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa begitu tulus, walau aku sedikit memaksa, kau tetap berkata ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga makan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling suap?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541067</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=541067"/>
		<updated>2018-06-01T05:57:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna itu menutup matanya dan berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, sepi rasanya. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut meminta maaf dan terlihat dia sedikit air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya memegang poci dan gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, tolong santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat lembut... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541066</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=541066"/>
		<updated>2018-06-01T05:53:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, alhasil kualihkan pandangan kemudian menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya hingga detil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, ada banyak sekali barang, namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk seperti payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ini seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di dalam bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku segera membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik kearah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa mengerti, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Singkatnya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menunjukan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa begitu tulus, walau aku sedikit memaksa, kau tetap berkata ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga makan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling suap?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=541065</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=541065"/>
		<updated>2018-06-01T05:45:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan reuni yang tak terduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai homeroom, aku dikelilingi teman kelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena diwajibkan masuk dalam suatu klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda meski hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada gantungan pakaian. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan dirundung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah dirundung saat SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan ditundung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan dirundung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah buklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca buklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari burung biru kebahagiaan dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi pesan pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan pesan ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang biasa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Prolog&amp;diff=541064</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Prolog</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Prolog&amp;diff=541064"/>
		<updated>2018-06-01T05:41:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Prolog */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Prolog==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya musim semi yang hangat masuk ke dalam kamar melalui celah pada gorden.&lt;br /&gt;
Sudah bisa dipastikan hari ini adalah hari minggu di bulan April.&lt;br /&gt;
Posisi saat aku bangun sangat tidak karuan.&lt;br /&gt;
Aku tak bisa bergerak ataupun berguling pada malam hari.&lt;br /&gt;
Di atas kasur besar yang aku tempati para gadis yang tertidur sedang mengerumuniku.&lt;br /&gt;
Pertama, dua gadis SMP yang masing-masing memeluk erat kaki kanan dan kiriku.&lt;br /&gt;
Salah satu dari gadis itu memeluk kaki kananku layaknya guling, rambut hitam panjang miliknya terurai tak beraturan di kain putih seperti tinta Indian.&amp;lt;ref&amp;gt;Tinta hitam yang biasa digunakan untuk menggambar manga.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satunya tertidur dengan posisi terbalik seraya memalingkan wajah kemudian menggosokan wajahnya dari sisi dalam. Meski dia memiliki lengan dan kaki yang panjang seperti model, yang mengejutka dia meringkuk dan terlihat seperti hewan kecil selagi tertidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, seorang gadis SMA berambut pendek menempel pada lengan kananku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikiranya, dia menggenggam tanganku dengan gaya armbar yang terbalik membuat tanganku tak bisa digerakan. Genggamanya begitu kuat hingga lenganku serasa akan hancur. Jika kugerakan lenganku tanpa berhati-hati sudah pasti aku terluka.&lt;br /&gt;
Di sisi lain, sisi kiri lenganku, berdekatan dengan gadis SMP berambut pendek, dia mengarahkan punggungnya kearahku. Entah kenapa tanganku mengarah pada bahunya kemudian mendarat di dadanya.&lt;br /&gt;
Itu tidak terlalu besar dan lembut, dadanya sangat pas dalam genggaman tanganku. Dengan perlahan kulepaskan tanganku dari dadanya.&lt;br /&gt;
Aku bersumpah bukan aku yang melakukanya.&lt;br /&gt;
Lalu pada bantal yang berada diantara kakiku ada seorang gadis kelas enam SD yang sedang tertidur pulas.&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat tersisa untuk bergerak... Yang benar saja.&lt;br /&gt;
Semua gadis ini adalah... Adik perempuanku.&lt;br /&gt;
Hanya satu dari mereka yang bisa dipilih.&lt;br /&gt;
Dan yang diharuskan untuk memilih tidak lain adalah diriku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540970</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540970"/>
		<updated>2018-05-29T15:29:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Minggu, 7 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedari kecil aku tinggal bersama kakek-nenekku, hanya kami bertiga saja. Beberapa waktu sebelum aku masuk sekolah dasar seorang ‘paman yang tidak aku kenal’ membelikanku mainan dan mengajak makan siang di restoran.&lt;br /&gt;
Waktu itu aku berpikir ‘orang ini pasti Sinterklas’. Ditambah, Sinterklas ini datang mengunjungiku tanpa mempedulikan musim.&lt;br /&gt;
Karena saat itu aku masih kecil aku lupa tentangnya. Aku hanya mengingat bahwa kami sangat bahagia setiap kali menghabisakan waktu bersama.&lt;br /&gt;
Belakangan ini, aku mengetahui bahwa paman itu adalah ayah kandungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terjadi pada pemakaman paman— pemakaman Taishido Jinya. Jika berbicara tentang perusahaan Taishido itu pasti mengarah pada perusahaan swasta kereta api. Aset totalnya berjumlah satu triliun empat ratus miliar yen.&lt;br /&gt;
Pemimpin tertinggi perusahaan besar itu tiba-tiba meninggal karena kecelakaan di awal tahun.&lt;br /&gt;
Saat ini aku sedang meneguk segelas kopi di lounge hotel bersama penasihat umum perusahaan sekaligus orang kepercayan Taishido Jinya-- --Shinonome Murasaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kunaikan jarak pandang, aku melihat wanita cantik bertubuh langsing dengan kacamata tanpa rim. Dia sedang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki rambut pendek, mengenakan setelan pun sangat cantik. Dia mungkin memakai make-up tipis atau bahkan tidak menggunakan sama sekali. Usia nya... mungkin sekitar dua puluhan. Untuk dirinya yang sampai bisa menjadi penasihat umum perusahaan Taishido, dia pasti adalah orang hebat. Murasaki-san membuka mulut tipisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku akan membahas tentang masalah warisan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warisan.... ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengatakan itu saat kita pertama kali bertemu namun ada cukup warisan yang bisa digunakan untuk kau habiskan. Tentu saja, aku yang akan mengurus beberapa prosedur seperti pajak. Kau bisa menyerahkan dua orang yang berada di kediaman Domon pada kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T- terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang bisa aku lakukan hanya berterima kasih. Aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa mendapatkan hal semacam itu, dengan menyerahkan semua prosedur kepada Murasaki-san benar-benar melegakan. Ngomong-ngomong, dua orang yang berada di kediaman Domon mengarah pada kakek dan nenek. Mereka berdua akan menikmati masa pensiun mereka di Hawaii pada kondominium milik perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pam... apakah kau akan memperlihatkan surat terakhir milik ayah? Atau mungkin dengan mengijinkan untuk menyentuh atau meliriknya sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai penghormatan terakhir, Saya, Orang kepercayaan beliau diharuskan menyampaikan isi surat tersebut tanpa memperlihatkannya kecuali memang diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-M Maaf, karena menanyakan hal yang tidak masuk akal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, saya juga minta maaf karena sudah lancang. Tidak ada gunanya orang yang tidak berkepntingan sepertimu untuk khawatir. Di saat seperti sekarang ini orang dewasa harus bertindak cerdik... apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usiamu, tiga ukuran, dan tipe pria yang kau suka... mari hindari obrolan payah di tempat seperti ini dan di depan Murasaki-san yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... aku tak bisa memikirkan hal lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Kau sama seperti gadis-gadis SMP barusan. Jangan lakukan hal yang merepotkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sekolah musim semi ini... hey, apa barusan aku mendengar sesuatu yang sangat penting?&lt;br /&gt;
“Ah... tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiba-tiba saja kau menaikan suaramu, apa ada yang menggangu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan kau mengatakan sesuatu, ’kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan lakukan hal yang merepotkan... itulah yang barusan aku katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu! Sebelumnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukaan itu! Ya ampun, apakah ini sifat asli Murasaki-san?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kau mengatakan kalau sebentar lagi aku akan menjadi anak SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mulai musim semi tahun ini, kau akan mendaftar di sekolah swasta yang berafiliasi dengan Perusahaan Taishido yaitu Akademi Shichiyou.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada meneruskan kalimat itu, bukankah kau tadi mengatakan ‘sama seperti gadis-gadis itu’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Selain dirimu Taishido Jinya juga memliki beberapa anak perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah mendengar soal itu... tidak pernah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku memiliki tubuh yang lemah dan dia meninggal di umur yang terbilang muda. Kakek tidak mengatakan sesuatu bahwa aku memiliki adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan itu diberikan pada Yoichi-san. Itulah yang aku ingin bahas denganmu hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoichi-san kau punya lima adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang cangkir kopi di tanganku seketika tubuhku menjadi kaku seolah divonis kelumpuhan. Di sisi lain, Murasaki-san sedang meneguk kopi dari cangkirnya. Alhasil, kutaruh cangkir kopi ke atas meja lalu membetulkan postur tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Li-lima adik perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ada enam perempuan yang melahirkan anak dari Taishdo Jinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enam perempuan... tidak mungkin mereka semua memiliki ibu yang berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Apa ada masalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah jelas itu masalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu adalah fakta, saya mohon terima kenyataanya. Yoichi-san adalah anak tertua. Lalu ada anak perempuan tertua, anak perempuan kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Seperti itulah silsilah keluargamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... mereka semua gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Untuk sekarang masih terlalu awal untukmu memanggil mereka adik perempuan. Lebih tepatnya, kandidat adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kandidat..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut isi surat wasiat kau hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin hal yang tidak masuk akal seperti itu tertulis dalam surat wasiat... aku tidak tahu alasanya, tapi surat itu harus ditulis sesuai aturan! Sesuai aturan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya telah mengonfirmasi kelegalan suratnya. Saya diperbolehkan menggunakan apapun dan dengan cara apapun termasuk amunisi hidup untuk merayumu jika memang itu diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Amunisi hidup, itu terdengar sangat mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega tidak bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menggunakan uang untuk membujuk seseorang, bukankah itu melanggar hukum?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taishido menggariskan hukum dan peraturan. Aku baru saja meniru perkataan beliau. Menurut mereka, aku harus membuat rencana dahulu. Meski begitu, aku senang Yoichi-san dapat memahami ini dengan cepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin sudah mengerti, namun aku sama sekali belum setuju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua adik perempuan sudah memberikan persetujuan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini terlalu berlebihan hingga membuat kepalaku mulai sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama Taishida Jinya masih hidup semua adik perempuan akan mendapat bantuan keuangan, tapi... bantuan itu akan segera dicabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu juga tertulis di surat wasiat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Dia mengatakan akan terus menjaga mereka selama dia masih hidup. Ditambah, ibu mereka yang menghilang dan menelantarkan mereka semua.”&lt;br /&gt;
Aku masih memiliki kakek dan nenek, namun mereka sudah tidak punya keluarga sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan kini hidup sendiri. Mereka diberi biaya sebesar sepuluh juta yen per tahun,  bahkan setelah dikurangi pengeluaran seperti sewa rumah dan uang sekolah mereka masih menyimpan uang sekitar empat ratus ribu yen per bulan yang bisa mereka gunakan sesukanya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka seperti artis saja. Tidak, meski begitu... jika bantuan itu benar-benar dicabut mereka tidak akan punya apapun, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Batas akhir pemilihan kandidat adalah dua minggu. Di sisa waktu itu, Yoichi-san hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa hanya satu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah yang tertulis dalam surat wasiat... saya hanya dapat menyampaikannya seperti itu. Warisan akan dibagi sama rata untuk Yoichi-san dan adik perempuan yang terpilih. Walaupun hanya sebagian, jangan khawatir, itu sudah lebih dari cukup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa membayangkan besarnya nominal uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar semua adik perempuan itu anak Taishido Jinya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Tanpa perlu diragukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mereka semua juga bisa menjadi adik perempuanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menyangkal secara berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, tapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu tunjukan suratnya padaku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti itulah... yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menatapku tajam dengan mata dingin miliknya. Begitu tajam sepertinya aku akan tersayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah para adik perempuan setuju dengan hal tidak masuk akal seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, lebih tepatnya 『mereka tidak memiliki hak pilih.』itu jika kau menginginkan kalimat yang lebih jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertekan, rasanya seperti tumpukan batu ditaruh di atas perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika aku tidak memilih satu pun pada waktu yang ditentukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka Yoichi-san akan kehilangan warisannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya mengatakan itu, Murasaki-san memberiku sebuah benda yang mirip USB. Ukurannya cukup kecil untuk muat dalam genggamanku, pada layar LCD muncul nomor 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kunci rumah baru milikmu. Karena itu adalah kunci pintar tolong jaga baik-baik agar tidak hilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menatap kunci yang baruan kuterima, Murasaki-san berdiri dari kursinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu saja. Jika ada sesuatu yang kau butukan, hubungi saja nomorku. Baiklah, semoga beruntung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tu-Tunggu sebentar Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau masih punya pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan mereka orangnya seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan tahu sendiri jika sudah bertemu mereka. Juga jangan lupa bahwa nyawa mereka ada di tanganmu Yoichi-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san melayangkan kata terakhirnya, membawa struk pembayaran dan meninggalkan lounge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mansion mewah tujuh tingkat-- -- kediaman Taishido menjulang di atas bukit kecil. Tidak ada gedung lain yang seperti ini disekitarnya.&lt;br /&gt;
Di lantai teratas mansion merupakan tempat khusus dan tidak terpisah menjadi apartemen-apartemen kecil. Pada pelat pintu tertulis nomor 701.&lt;br /&gt;
Pintu itu terbuka dengan sendirinya merespon kunci pintar pemberian Murasaki-san.&lt;br /&gt;
Kamar 701 merupakan tipe 6LDK yang dilengkapi dengan ruangan pribadi dan sebuah walk-in-closet, tempat yang terlalu megah untuk ditempati satu orang.&amp;lt;ref&amp;gt;6LDK merupakan tipe apartemen multifungsi yang terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan lainnya. Untuk informasi lebih lengkap ada di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Housing_in_Japan#Modern_homes &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sambil membawa koperku ke ruangan paling kecil yang ada di tempat ini. Meski tadi aku bilang ‘kecil’ luas ruangan itu mencapai sepuluh tatami. Karena aku terbiasa tinggal di ruangan yang luasnya hanya enam tatami ini terasa sangat lebar. Entah kenapa, aku merasa hampa dan kesepian.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540969</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540969"/>
		<updated>2018-05-29T15:18:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Minggu, 7 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedari kecil aku tinggal bersama kakek-nenekku, hanya kami bertiga saja. Beberapa waktu sebelum aku masuk sekolah dasar seorang ‘paman yang tidak aku kenal’ membelikanku mainan dan mengajak makan siang di restoran.&lt;br /&gt;
Waktu itu aku berpikir ‘orang ini pasti Sinterklas’. Ditambah, Sinterklas ini datang mengunjungiku tanpa mempedulikan musim.&lt;br /&gt;
Karena saat itu aku masih kecil aku lupa tentangnya. Aku hanya mengingat bahwa kami sangat bahagia setiap kali menghabisakan waktu bersama.&lt;br /&gt;
Belakangan ini, aku mengetahui bahwa paman itu adalah ayah kandungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terjadi pada pemakaman paman— pemakaman Taishido Jinya. Jika berbicara tentang perusahaan Taishido itu pasti mengarah pada perusahaan swasta kereta api. Aset totalnya berjumlah satu triliun empat ratus miliar yen.&lt;br /&gt;
Pemimpin tertinggi perusahaan besar itu tiba-tiba meninggal karena kecelakaan di awal tahun.&lt;br /&gt;
Saat ini aku sedang meneguk segelas kopi di lounge hotel bersama penasihat umum perusahaan sekaligus orang kepercayan Taishido Jinya-- --Shinonome Murasaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kunaikan jarak pandang, aku melihat wanita cantik bertubuh langsing dengan kacamata tanpa rim. Dia sedang menatapku.&lt;br /&gt;
Dia memiliki rambut pendek mengenakan setelan pun sangat cantik. Dia mungkin memakai make-up tipis atau bahkan tidak menggunakan sama sekali. Usia nya... mungkin sekitar dua puluhan. Untuk dirinya yang sampai bisa menjadi penasihat umum perusahaan Taishido, dia pasti adalah orang hebat. Murasaki-san membuka mulut tipisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku akan membahas tentang masalah warisan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warisan.... ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengatakan itu saat kita pertama kali bertemu namun ada cukup warisan yang bisa digunakan untuk kau habiskan. Tentu saja, aku yang akan mengurus beberapa prosedur seperti pajak. Kau bisa menyerahkan dua orang yang berada di kediaman Domon pada kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T- terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang bisa aku lakukan hanya berterima kasih. Aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa mendapatkan hal semacam itu, dengan menyerahkan semua prosedur kepada Murasaki-san benar-benar melegakan. Ngomong-ngomong, dua orang yang berada di kediaman Domon mengarah pada kakek dan nenek. Mereka berdua akan menikmati masa pensiun mereka di Hawaii pada kondominium milik perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pam... apakah kau akan memperlihatkan surat terakhir milik ayah? Atau mungkin dengan mengijinkan untuk menyentuh atau meliriknya sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai penghormatan terakhir, Saya, Orang kepercayaan beliau diharuskan menyampaikan isi surat tersebut tanpa memperlihatkannya kecuali memang diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-M Maaf, karena menanyakan hal yang tidak masuk akal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, saya juga minta maaf karena sudah lancang. Tidak ada gunanya orang yang tidak berkepntingan sepertimu untuk khawatir. Di saat seperti sekarang ini orang dewasa harus bertindak cerdik... apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usiamu, tiga ukuran, dan tipe pria yang kau suka... mari hindari obrolan payah di tempat seperti ini dan di depan Murasaki-san yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... aku tak bisa memikirkan hal lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Kau sama seperti gadis-gadis SMP barusan. Jangan lakukan hal yang merepotkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sekolah musim semi ini... hey, apa barusan aku mendengar sesuatu yang sangat penting?&lt;br /&gt;
“Ah... tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiba-tiba saja kau menaikan suaramu, apa ada yang menggangu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan kau mengatakan sesuatu, ’kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan lakukan hal yang merepotkan... itulah yang barusan aku katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu! Sebelumnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukaan itu! Ya ampun, apakah ini sifat asli Murasaki-san?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kau mengatakan kalau sebentar lagi aku akan menjadi anak SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mulai musim semi tahun ini, kau akan mendaftar di sekolah swasta yang berafiliasi dengan Perusahaan Taishido yaitu Akademi Shichiyou.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada meneruskan kalimat itu, bukankah kau tadi mengatakan ‘sama seperti gadis-gadis itu’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Selain dirimu Taishido Jinya juga memliki beberapa anak perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah mendengar soal itu... tidak pernah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku memiliki tubuh yang lemah dan dia meninggal di umur yang terbilang muda. Kakek tidak mengatakan sesuatu bahwa aku memiliki adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan itu diberikan pada Yoichi-san. Itulah yang aku ingin bahas denganmu hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoichi-san kau punya lima adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang cangkir kopi di tanganku seketika tubuhku menjadi kaku seolah divonis kelumpuhan. Di sisi lain, Murasaki-san sedang meneguk kopi dari cangkirnya. Alhasil, kutaruh cangkir kopi ke atas meja lalu membetulkan postur tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Li-lima adik perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ada enam perempuan yang melahirkan anak dari Taishdo Jinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enam perempuan... tidak mungkin mereka semua memiliki ibu yang berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Apa ada masalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah jelas itu masalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu adalah fakta, saya mohon terima kenyataanya. Yoichi-san adalah anak tertua. Lalu ada anak perempuan tertua, anak perempuan kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Seperti itulah silsilah keluargamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... mereka semua gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Untuk sekarang masih terlalu awal untukmu memanggil mereka adik perempuan. Lebih tepatnya, kandidat adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kandidat..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut isi surat wasiat kau hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin hal yang tidak masuk akal seperti itu tertulis dalam surat wasiat... aku tidak tahu alasanya, tapi surat itu harus ditulis sesuai aturan! Sesuai aturan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya telah mengonfirmasi kelegalan suratnya. Saya diperbolehkan menggunakan apapun dan dengan cara apapun termasuk amunisi hidup untuk merayumu jika memang itu diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Amunisi hidup, itu terdengar sangat mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega tidak bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menggunakan uang untuk membujuk seseorang, bukankah itu melanggar hukum?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taishido menggariskan hukum dan peraturan. Aku baru saja meniru perkataan beliau. Menurut mereka, aku harus membuat rencana dahulu. Meski begitu, aku senang Yoichi-san dapat memahami ini dengan cepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin sudah mengerti, namun aku sama sekali belum setuju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua adik perempuan sudah memberikan persetujuan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini terlalu berlebihan hingga membuat kepalaku mulai sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama Taishida Jinya masih hidup semua adik perempuan akan mendapat bantuan keuangan, tapi... bantuan itu akan segera dicabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu juga tertulis di surat wasiat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Dia mengatakan akan terus menjaga mereka selama dia masih hidup. Ditambah, ibu mereka yang menghilang dan menelantarkan mereka semua.”&lt;br /&gt;
Aku masih memiliki kakek dan nenek, namun mereka sudah tidak punya keluarga sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan kini hidup sendiri. Mereka diberi biaya sebesar sepuluh juta yen per tahun,  bahkan setelah dikurangi pengeluaran seperti sewa rumah dan uang sekolah mereka masih menyimpan uang sekitar empat ratus ribu yen per bulan yang bisa mereka gunakan sesukanya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka seperti artis saja. Tidak, meski begitu... jika bantuan itu benar-benar dicabut mereka tidak akan punya apapun, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Batas akhir pemilihan kandidat adalah dua minggu. Di sisa waktu itu, Yoichi-san hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa hanya satu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah yang tertulis dalam surat wasiat... saya hanya dapat menyampaikannya seperti itu. Warisan akan dibagi sama rata untuk Yoichi-san dan adik perempuan yang terpilih. Walaupun hanya sebagian, jangan khawatir, itu sudah lebih dari cukup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa membayangkan besarnya nominal uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar semua adik perempuan itu anak Taishido Jinya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Tanpa perlu diragukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mereka semua juga bisa menjadi adik perempuanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menyangkal secara berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, tapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu tunjukan suratnya padaku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti itulah... yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menatapku tajam dengan mata dingin miliknya. Begitu tajam sepertinya aku akan tersayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah para adik perempuan setuju dengan hal tidak masuk akal seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, lebih tepatnya 『mereka tidak memiliki hak pilih.』itu jika kau menginginkan kalimat yang lebih jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertekan, rasanya seperti tumpukan batu ditaruh di atas perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika aku tidak memilih satu pun pada waktu yang ditentukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka Yoichi-san akan kehilangan warisannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya mengatakan itu, Murasaki-san memberiku sebuah benda yang mirip USB. Ukurannya cukup kecil untuk muat dalam genggamanku, pada layar LCD muncul nomor 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kunci rumah baru milikmu. Karena itu adalah kunci pintar tolong jaga baik-baik agar tidak hilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menatap kunci yang baruan kuterima, Murasaki-san berdiri dari kursinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu saja. Jika ada sesuatu yang kau butukan, hubungi saja nomorku. Baiklah, semoga beruntung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tu-Tunggu sebentar Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau masih punya pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan mereka orangnya seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan tahu sendiri jika sudah bertemu mereka. Juga jangan lupa bahwa nyawa mereka ada di tanganmu Yoichi-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san melayangkan kata terakhirnya, membawa struk pembayaran dan meninggalkan lounge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mansion mewah tujuh tingkat-- -- kediaman Taishido menjulang di atas bukit kecil. Tidak ada gedung lain yang seperti ini disekitarnya.&lt;br /&gt;
Di lantai teratas mansion merupakan tempat khusus dan tidak terpisah menjadi apartemen-apartemen kecil. Pada pelat pintu tertulis nomor 701.&lt;br /&gt;
Pintu itu terbuka dengan sendirinya merespon kunci pintar pemberian Murasaki-san.&lt;br /&gt;
Kamar 701 merupakan tipe 6LDK yang dilengkapi dengan ruangan pribadi dan sebuah walk-in-closet, tempat yang terlalu megah untuk ditempati satu orang.&amp;lt;ref&amp;gt;6LDK merupakan tipe apartemen multifungsi yang terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan lainnya. Untuk informasi lebih lengkap ada di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Housing_in_Japan#Modern_homes &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sambil membawa koperku ke ruangan paling kecil yang ada di tempat ini. Meski tadi aku bilang ‘kecil’ luas ruangan itu mencapai sepuluh tatami. Karena aku terbiasa tinggal di ruangan yang luasnya hanya enam tatami ini terasa sangat lebar. Entah kenapa, aku merasa hampa dan kesepian.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540968</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 1</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_1&amp;diff=540968"/>
		<updated>2018-05-29T15:14:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Minggu, 7 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Murasaki-san. Percakapan Penting. Relasi Warisan.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedari kecil aku tinggal bersama kakek-nenekku, hanya kami bertiga saja. Beberapa waktu sebelum aku masuk sekolah dasar seorang ‘paman yang tidak aku kenal’ membelikanku mainan dan mengajak makan siang di restoran.&lt;br /&gt;
Waktu itu aku berpikir ‘orang ini pasti Sinterklas’. Ditambah, Sinterklas ini datang mengunjungiku tanpa mempedulikan musim.&lt;br /&gt;
Karena saat itu aku masih kecil aku lupa tentangnya. Aku hanya mengingat bahwa kami sangat bahagia setiap kali menghabisakan waktu bersama.&lt;br /&gt;
Belakangan ini, aku mengetahui bahwa paman itu adalah ayah kandungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu terjadi pada pemakaman paman— pemakaman Taishido Jinya. Jika berbicara tentang perusahaan Taishido itu pasti mengarah pada perusahaan swasta kereta api. Aset totalnya berjumlah satu triliun empat ratus miliar yen.&lt;br /&gt;
Pemimpin tertinggi perusahaan besar itu tiba-tiba meninggal karena kecelakaan di awal tahun.&lt;br /&gt;
Saat ini aku sedang meneguk segelas kopi di lounge hotel bersama penasihat umum perusahaan sekaligus orang kepercayan Taishido Jinya-- --Shinonome Murasaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kunaikan jarak pandang, aku melihat wanita cantik bertubuh langsing dengan kacamata tanpa rim. Dia sedang menatapku.&lt;br /&gt;
Dia memiliki rambut pendek mengenakan setelan pun sangat cantik. Dia mungkin memakai make-up tipis atau bahkan tidak menggunakan sama sekali. Usia nya... mungkin sekitar dua puluhan. Untuk dirinya yang sampai bisa menjadi penasihat umum perusahaan Taishido, dia pasti adalah orang hebat. Murasaki-san membuka mulut tipisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku akan membahas tentang masalah warisan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Warisan.... ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengatakan itu saat kita pertama kali bertemu namun ada cukup warisan yang bisa digunakan untuk kau habiskan. Tentu saja, aku yang akan mengurus beberapa prosedur seperti pajak. Kau bisa menyerahkan dua orang yang berada di kediaman Domon pada kami.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T- terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang bisa aku lakukan hanya berterima kasih. Aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa mendapatkan hal semacam itu, dengan menyerahkan semua prosedur kepada Murasaki-san benar-benar melegakan. Ngomong-ngomong, dua orang yang berada di kediaman Domon mengarah pada kakek dan nenek. Mereka berdua akan menikmati masa pensiun mereka di Hawaii pada kondominium milik perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pam... apakah kau akan memperlihatkan surat terakhir milik ayah? Atau mungkin dengan mengijinkan untuk menyentuh atau meliriknya sedikit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai penghormatan terakhir, Saya, Orang kepercayaan beliau diharuskan menyampaikan isi surat tersebut tanpa memperlihatkannya kecuali memang diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-M Maaf, karena menanyakan hal yang tidak masuk akal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, saya juga minta maaf karena sudah lancang. Tidak ada gunanya orang yang tidak berkepntingan sepertimu untuk khawatir. Di saat seperti sekarang ini orang dewasa harus bertindak cerdik... apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usiamu, tiga ukuran, dan tipe pria yang kau suka... mari hindari obrolan payah di tempat seperti ini dan di depan Murasaki-san yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... aku tak bisa memikirkan hal lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Kau sama seperti gadis-gadis SMP barusan. Jangan lakukan hal yang merepotkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sekolah musim semi ini... hey, apa barusan aku mendengar sesuatu yang sangat penting?&lt;br /&gt;
“Ah... tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiba-tiba saja kau menaikan suaramu, apa ada yang menggangu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan kau mengatakan sesuatu, ’kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan lakukan hal yang merepotkan... itulah yang barusan aku katakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu! Sebelumnya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau punya pertanyaan selain isi dari surat wasiat itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukaan itu! Ya ampun, apakah ini sifat asli Murasaki-san?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat kau mengatakan kalau sebentar lagi aku akan menjadi anak SMP.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mulai musim semi tahun ini, kau akan mendaftar di sekolah swasta yang berafiliasi dengan Perusahaan Taishido yaitu Akademi Shichiyou.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada meneruskan kalimat itu, bukankah kau tadi mengatakan ‘sama seperti gadis-gadis itu’?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Selain dirimu Taishido Jinya juga memliki beberapa anak perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah mendengar soal itu... tidak pernah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku memiliki tubuh yang lemah dan dia meninggal di umur yang terbilang muda. Kakek tidak mengatakan sesuatu bahwa aku memiliki adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan itu diberikan pada Yoichi-san. Itulah yang aku ingin bahas denganmu hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keputusan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yoichi-san kau punya lima adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku memegang cangkir kopi di tanganku seketika tubuhku menjadi kaku seolah divonis kelumpuhan. Di sisi lain, Murasaki-san sedang meneguk kopi dari cangkirnya. Alhasil, kutaruh cangkir kopi ke atas meja lalu membetulkan postur tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Li-lima adik perempuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ada enam perempuan yang melahirkan anak dari Taishdo Jinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enam perempuan... tidak mungkin mereka semua memiliki ibu yang berbeda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu benar. Apa ada masalah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah jelas itu masalah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu adalah fakta, saya mohon terima kenyataanya. Yoichi-san adalah anak tertua. Lalu ada anak perempuan tertua, anak perempuan kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Seperti itulah silsilah keluargamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... mereka semua gadis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Untuk sekarang masih terlalu awal untukmu memanggil mereka adik perempuan. Lebih tepatnya, kandidat adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kandidat..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurut isi surat wasiat kau hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak mungkin hal yang tidak masuk akal seperti itu tertulis dalam surat wasiat... aku tidak tahu alasanya, tapi surat itu harus ditulis sesuai aturan! Sesuai aturan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya telah mengonfirmasi kelegalan suratnya. Saya diperbolehkan menggunakan apapun dan dengan cara apapun termasuk amunisi hidup untuk merayumu jika memang itu diperlukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Amunisi hidup, itu terdengar sangat mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku uang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lega tidak bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak boleh menggunakan uang untuk membujuk seseorang, bukankah itu melanggar hukum?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Taishido menggariskan hukum dan peraturan. Aku baru saja meniru perkataan beliau. Menurut mereka, aku harus membuat rencana dahulu sebelumnya. Meski begitu, aku senang Yoichi-san dapat memahami ini dengan cepat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin sudah mengerti, namun aku sama sekali belum setuju.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua adik perempuan sudah memberikan persetujuan mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini terlalu berlebihan hingga membuat kepalaku mulai sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selama Taishida Jinya masih hidup semua adik perempuan akan mendapat bantuan keuangan, tapi... bantuan itu akan segera dicabut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu juga tertulis di surat wasiat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Dia mengatakan akan terus menjaga mereka selama dia masih hidup. Ditambah, ibu mereka yang menghilang dan menelantarkan mereka semua.”&lt;br /&gt;
Aku masih memiliki kakek dan nenek, namun mereka sudah tidak punya keluarga sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan kini hidup sendiri. Mereka diberi biaya sebesar sepuluh juta yen per tahun,  bahkan setelah dikurangi pengeluaran seperti sewa rumah dan uang sekolah mereka masih menyimpan uang sekitar empat ratus ribu yen per bulan yang bisa mereka gunakan sesukanya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka seperti artis saja. Tidak, meski begitu... jika bantuan itu benar-benar dicabut mereka tidak akan punya apapun, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Batas akhir pemilihan kandidat adalah dua minggu. Di sisa waktu itu, Yoichi-san hanya diperbolehkan memilih satu adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa hanya satu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah yang tertulis dalam surat wasiat... saya hanya dapat menyampaikannya seperti itu. Warisan akan dibagi sama rata untuk Yoichi-san dan adik perempuan yang terpilih. Walaupun hanya sebagian, jangan khawatir, itu sudah lebih dari cukup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa membayangkan besarnya nominal uang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar semua adik perempuan itu anak Taishido Jinya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Tanpa perlu diragukan lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa mereka semua juga bisa menjadi adik perempuanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menyangkal secara berurutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti, tapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itulah yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu tunjukan suratnya padaku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti itulah... yang tertulis dalam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san menatapku tajam dengan mata dingin miliknya. Begitu tajam sepertinya aku akan tersayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah para adik perempuan setuju dengan hal tidak masuk akal seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, lebih tepatnya 『mereka tidak memiliki hak pilih.』itu jika kau menginginkan kalimat yang lebih jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertekan, rasanya seperti tumpukan batu ditaruh di atas perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana jika aku tidak memilih satu pun pada waktu yang ditentukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka Yoichi-san akan kehilangan warisannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya mengatakan itu, Murasaki-san memberiku sebuah benda yang mirip USB. Ukurannya cukup kecil untuk muat dalam genggamanku, pada layar LCD muncul nomor 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kunci rumah baru milikmu. Karena itu adalah kunci pintar tolong jaga baik-baik agar tidak hilang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku menatap kunci yang baruan kuterima, Murasaki-san berdiri dari kursinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu saja. Jika ada sesuatu yang kau butukan, hubungi saja nomorku. Baiklah, semoga beruntung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tu-Tunggu sebentar Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau masih punya pertanyaan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Para kandidat adik perempuan mereka orangnya seperti apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan tahu sendiri jika sudah bertemu mereka. Juga jangan lupa bahwa nyawa mereka ada di tanganmu Yoichi-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murasaki-san melayangkan kata terakhirnya, membawa struk pembayaran dan meninggalkan lounge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mansion mewah tujuh tingkat-- -- kediaman Taishido menjulang di atas bukit kecil. Tidak ada gedung lain yang seperti ini disekitarnya.&lt;br /&gt;
Di lantai teratas mansion merupakan tempat khusus dan tidak terpisah menjadi apartemen-apartemen kecil. Pada pelat pintu tertulis nomor 701.&lt;br /&gt;
Pintu itu terbuka dengan sendirinya merespon kunci pintar pemberian Murasaki-san.&lt;br /&gt;
Kamar 701 merupakan tipe 6LDK yang dilengkapi dengan ruangan pribadi dan sebuah walk-in-closet, tempat yang terlalu megah untuk ditempati satu orang.&amp;lt;ref&amp;gt;6LDK merupakan tipe apartemen multifungsi yang terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan lainnya. Untuk informasi lebih lengkap ada di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Housing_in_Japan#Modern_homes &amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk sambil membawa koperku ke ruangan paling kecil yang ada di tempat ini. Meski tadi aku bilang ‘kecil’ luas ruangan itu mencapai sepuluh tatami. Karena aku terbiasa tinggal di ruangan yang luasnya hanya enam tatami ini terasa sangat lebar. Entah kenapa, aku merasa hampa dan kesepian.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Prolog&amp;diff=540967</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Prolog</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Prolog&amp;diff=540967"/>
		<updated>2018-05-29T14:34:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Prolog */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;==Prolog==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya musim semi yang hangat masuk ke dalam kamar melalui celah pada gorden.&lt;br /&gt;
Sudah bisa dipastikan hari ini adalah hari minggu di bulan April.&lt;br /&gt;
Posisi saat aku bangun sangat tidak karuan.&lt;br /&gt;
Aku tak bisa bergerak ataupun berguling pada malam hari.&lt;br /&gt;
Di atas kasur besar yang aku tempati para gadis yang tertidur sedang mengerumuniku.&lt;br /&gt;
Pertama, dua gadis SMP yang masing-masing memeluk erat kaki kanan dan kiriku.&lt;br /&gt;
Salah satu dari gadis itu memeluk kaki kananku layaknya guling, rambut hitam panjang miliknya tersebar tak beraturan pada kain putih seperti tinta Indian.&amp;lt;ref&amp;gt;Tinta hitam yang biasa digunakan untuk menggambar manga.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satunya tertidur dengan posisi terbalik seraya memalingkan wajah kemudian menggosokan wajahnya dari sisi dalam. Meski dia memiliki lengan dan kaki yang panjang seperti model, yang mengejutka dia meringkuk dan terlihat seperti hewan kecil selagi tertidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, seorang gadis SMA berambut pendek menempel pada lengan kananku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikiranya, dia menggenggam tanganku dengan gaya armbar yang terbalik membuat tanganku tak bisa digerakan. Genggamanya begitu kuat hingga lenganku serasa akan hancur. Jika kugerakan lenganku tanpa berhati-hati sudah pasti aku terluka.&lt;br /&gt;
Di sisi lain, sisi kiri lenganku, berdekatan dengan gadis SMP berambut pendek, dia mengarahkan punggungnya kearahku. Entah kenapa tanganku mengarah pada bahunya kemudian mendarat di dadanya.&lt;br /&gt;
Itu tidak terlalu besar dan lembut, dadanya sangat pas dalam genggaman tanganku. Dengan perlahan kulepaskan tanganku dari dadanya.&lt;br /&gt;
Aku bersumpah bukan aku yang melakukanya.&lt;br /&gt;
Lalu pada bantal yang berada diantara kakiku ada seorang gadis kelas enam SD yang sedang tertidur pulas.&lt;br /&gt;
Tidak ada tempat tersisa untuk bergerak... Yang benar saja.&lt;br /&gt;
Semua gadis ini adalah... Adik perempuanku.&lt;br /&gt;
Hanya satu dari mereka yang bisa dipilih.&lt;br /&gt;
Dan yang diharuskan untuk memilih tidak lain adalah diriku.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540640</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540640"/>
		<updated>2018-05-23T00:26:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna itu menutup matanya dan berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, sepi rasanya. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut meminta maaf dan terlihat dia sedikit air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya memegang poci dan gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, tolong santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat lembut... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540440</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540440"/>
		<updated>2018-05-19T10:03:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada gantungan pakaian. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan dirundung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah dirundung saat SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan ditundung.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan dirundung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah buklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca buklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari burung biru kebahagiaan dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540439</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540439"/>
		<updated>2018-05-19T10:01:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada gantungan pakaian. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan dirundung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah buklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca buklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari burung biru kebahagiaan dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540413</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540413"/>
		<updated>2018-05-19T04:42:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan? */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip seperti kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna itu menutup matanya dan berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, sepi rasanya. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut meminta maaf dan terlihat dia sedikit air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya memegang poci dan gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, tolong santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat lembut... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540412</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 4</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_4&amp;diff=540412"/>
		<updated>2018-05-19T04:42:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Rabu, 10 April.&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;   ==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==   Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip seper...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Rabu, 10 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik perempuan ketiga. Makanan lezat. Pelajar teladan?==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saat makan siang, aku pergi ke kantin. Kantin milik Akademi Shichiyou mirip seperti kafe berkelas dan menunya berpusat pada masakan barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen masakan jepang buatan nenek... saat aku mengatakannya, Mariko mengatakan dia akan menerima tantangannya dan membuatkan bento dengan hidangan ala jepang. Sebenarnya tidak apa-apa juga dia tidak begitu perhatian kepadaku. Tetap saja, aku menghargainya. Teman masa kecil memang seharusnya seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul empat sore aku berdiri di depan ruang 501 di kediaman Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kutarik nafas dan menderingkan bel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli apa yang akan muncul nanti, tak ada lagi yang bisa menakutiku. Dalam hal keeksentrikan dan keanehan, mungkin... tidak, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Selene dan Tomomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah pasti tidak ada adik perempuan yang bisa lebih aneh dari mereka. Aku akan menunggu balasan, namun jika memang tidak ada yang menanggapi terpaksa aku menyusup lagi... dan ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan 501 terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kandidat adik perempuan datang ke depan pintu untuk menyambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia gadis berambut pendek. Bajunnya sederhana, dia mengenakan pakaian yang normal, pakaian yang feminim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kesan pertama menggambarkan gadis pandai dan rasional, dia tidak memiliki aura dingin seperti Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa jika aku masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja. Saya telah menunggu. Silakan masuk. Dan juga Onii-sama, menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuanmu itu terlalu kaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bahasa sopan ketika berbicara dengan adik perempuan itu terlalu kaku? Sialan, setelah mengunjungi mereka berdua, aku dituduh ‘terlalu sopan’. Tapi bukankah dengan menjadi sopan dan ramah adalah hal yang indah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar panggilan dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Halo! Halo!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menoleh dengan takut, seekor burung Myna yang berada di kandang besar di belakang ruangan terlihat, paruhnya menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;............&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membalas, burung Myna itu menutup matanya dan berpaling. Kelihatannya aku sedang diacuhkan, sepi rasanya. Kandidat adik perempuan tertawa. Dia menunjukan raut meminta maaf dan terlihat dia sedikit air mata keluar dari matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan miliknya rapi dan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada karpet biru yang menutupi lantai. Meja kecil yang menyerupai meja makan, dan dua bantal kecil ditaruh disampingnya. Di ujung ruangan terlihat TV LCD yang ditempatkan di atas rak TV dengan kabel putih yang menjulur sampai laci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu berputar kearahnya dan menunduk perlahan, aroma mint segar menyebar ketika rambutnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nama saya Mashima Sayuri. Kelas dua SMP. Senang bertemu dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yaichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, percakapan ini menjadi terlalu sopan. mungkin terasa kaku, tetapi sejauh ini cukup menyenangkan. Sayuri tersenyum dengan lembut dan mempersilakanku duduk di bantal kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silakan duduk di sini, Onii-sama..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-dengan senang hati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Anda ingin minum teh hijau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Sayuri kembali dengan membawa poci dan cangkir. Dia menuangkan teh ke dalam poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya memegang poci dan gerakan jari telunjuknya terlihat elegan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penampilan dirinya juga merefleksikan kecantikan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ini hanya teh sederhana, namun silakan dinikmati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh berterima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh Onii-sama, tolong santailah sedikit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena senyuman dewasa yang muncul di wajah Sayuri, aku menjadi sedikit santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Tidak, aku hanya sedikit gugup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda pasti telah bertemu dengan kandidat adik perempuan yang lain. Jika benar Anda pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, benar ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kegugupanku adalah Sayuri yang terlalu sopan... sulit menyampaikan ini kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah Sayuri juga sedikit kaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seperti inilah diriku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengarahkan pandanganya ke bawah. Sikapnya yang malu-malu juga terasa asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada unsur pemaksaan, sungguh rendah hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu karena sesuatu! Maaf, itu salahku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf karena membuat Onii-sama cemas. Anda sangat lembut... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya dia menatapku dengan malu, mata Sayuri terlihat sedikit lembab. Matanya begitu indah dan jelas, aku membayangkan seolah aku terhisap masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“L-lembut... aku tidak seperti itu... t-terima kasih untuk tehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meneguk teh ke dalam mulutku. Mengatakan kalau ini teh yang biasa saja itu berlebihan. Aku mengecap sedikit manis dari teh yang elegan. Entah mengapa mengingatkanku pada teh yang biasa nenek buat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Teh ini... sungguh enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“........”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kuat kupegang cangkir tehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yuup, aku tidak bisa menemukan topik untuk dibicarakan. Karena dirinya tidak memberikan balasan, aku tidak tahu harus membicarakan apa. ... Ah benar! Untuk sekarang ayo buat Sayuri membicarakan sesuatu tentang dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi Sayuri, apa kau benar-benar tingaal sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan ibumu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat menghubunginya, sudah empat tahun dari sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya tiba-tiba bertanya adalah sebuah kesalahan. Namun Sayuri tidak keberatan. Dia terlihat sangat tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika aku tidak salah kau tinggal di mansion ini mulai awal tahun ini, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya pindah ke sini pada bulan Februari. Sebelumnya, saya berpindah dari satu apartemen ke apartemen lain di kota. Saya sangat bersyukur tinggal di kediaman Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sayuri perlahan menunduk, aku merasakan sebuah perasaaan yang kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jika kau menundukan kepalamu seperti itu aku merasa tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan seperti itu. Onii-sama adalah penerus perusahaan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu langkah dan kalimat itu bisa berubah menjadi ironi, tetapi karena pribadi Sayuri yang fleksibel, tidaklah terasa begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini topik yang sulit, tetapi karena aku sudah terlanjur mendengarnya dari mereka berdua, aku mencoba mengatakan hal ini dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayuri, maukah kau mengatakan padaku alasanmu ingin menjadi adik perempanku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 003.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya belum memikirkan alasan mengapa ingin menjadi adik perempuan. Dengan alasan yang sama, saya tidak bermaksud membuat Anda memilih saya. Saya akan menghormati keputusan Onii-sama. Itulah mengapa saya mempersiapkan untuk tinggal seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mempersiapkan... Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin saja sudah menabung jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya berkeinginan masuk Akademi Shichyou dan mencari beasiswa di sana, setelah itu saya ingin masuk ke unversitas jurusan ekonomi. Saya telah mempersiapkan segala sesuatunya dan juga menabung sejumlah uang yang diberikan sebagai bantuan, jadi Onii-sama tidak perlu merasa khawatir atau tidak enak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengatakan itu dengan tenang selagi menatapku. Sungguh adik perempuan yang mandiri (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa. Berkeinginan menjadi pelajar penerima beasiswa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dilihat dari try out ujian nasional, seharusnya nilai saya sudah cukup untuk dapat lolos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki aura yang menandakan bahwa dia mampu untuk hidup sendiri. Apa dia mempersiapkan semuanya sendiri agar aku tidak khawatir? Kemudian dia kembali berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak ingin bergantung pada Onii-sama atau perusahaan Tashido lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang hanya melaju di atas rel buatan ayahku sangat malu mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu luar biasa, Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Dibandingkan dengan beban yang Onii-sama pikul... aku hanyalah merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana membalas perkataanya. Aku berpikir bahwa aku harus membalas Sayuri yang menunjukan begitu besar rasa kemandirian agar tidak membebaniku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm... jika kau ingin, kau bisa sedikit manja padaku, loh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak dapat melakukan itu. Saya masih kandidat adik perempuan dan belum... menjadi bagian keluarga Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi Sayuri memerah. Saat itu juga, burung Myna membuka matanya lalu melebarkan sayapnya bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya dapat memiliki Onii-sama! Saya dapat memiliki keluarga! Senangnya! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi burung Myna mengatakan itu dengan nada tinggi, Sayuri menjadi gelagapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya akan sangat bahagia jika memiliki Onii-sama! Senangnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikan! Kyuu-chan tenanglah. Onii-sama ini bukan apa-apa, hanya salah paham.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung Myna hanya mengulang kata-kata manusia. Mereka menirunya. Apakah mungkin Sayuri berbicara pada burungnya? Seperti mendengarkan sesuatu yang ada dalam lubuk hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyuu-chan hanya sedang meniru kalimat dari drama TV.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan simbol keluarga ini terlihat!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, kalimat ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar Kyuu-chan, teruskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Saya tak akan membiarkan Onii-sama melihatnya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya campur aduk. Meski begitu, Myna adalah burung yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Burung Myna benar-benar bisa meniru perkataan manusia, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-benar. Pada mulanya adalah dia dirawat oleh induk Kyuu-chan, namun sejak induknya menghilang dia selalu... umm, me-menjadi keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Sayuri memerah karena malu, Kyuu-chan menggelengkan kepalanya dan berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Jika kita memiliki keluarga, akankah Kyuu-chan bahagia?&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semuanya semakin memburuk, Sayuri menunduk dan mengaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya minta maaf. Saya sangat bahagia saat mendengar bahwa memiliki kakak... lalu saya berbicara pada Kyuu-chan tentang itu, sepertinya dia masih mengingatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku juga bahagia bisa bertemu Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Sayuri yang masih menunduk dan di saat yang bersamaan Kyuu-chan berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
『&amp;quot;Ayo kita putuskan ini untuk sekarang dan selamanya!&amp;quot;』&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa Kyuu-chan cukup pandai memilih kalimat dari drama sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri melipat tangannya seakan sedang berdoa, lalu dia bergumam dengan ragu dan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Onii-sama, meski sekarang masih terlalu cepat, maukah membantu saya menyiapkan makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Membantumu? Aku ragu bisa melakukan itu. Sejujurnya, keahlianku hanyalah makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa. Lewat sini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Sayuri menuntunku ke beranda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan ini beranda rasanya kurang tepat. Tempat ini cukup luas seperti taman kecil. Banyak sekali tumbuhan yang ditanam di sini. Itu adalah taman dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Komatsuna-nya sudah dapat dimakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengumpulkan itu sesuai yang diajarkan Sayuri. Sejujurnya, berkebun adalah hobi yang tidak biasa. Begitu indah dan damai, sebuah tambahan yang mengejutkan untuk pribadi miliknya yang kuat dan anggun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dia sangat ingin berdiri di sampingku. Meski dia sedikit formal, mengingat ini pertemuan pertama kami kurasa tidak ada yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia serius dan bagus dalam belajar. Cara dirinya mengekspresikan perasaan ke burung Myna miliknya, Kyuu-chan dan bagaimana dia mengaku tentang itu memberi kesan kepribadiaan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempurna. Dia terlalu sempurna... entah kenapa itu membuatku takjub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri memasak semuanya seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara dari air yang mendidih dan aroma ikan bakar sungguh membuat kangen. Figur Sayuri yang berapron saat bebalik ke arahku memancarkan aura seorang ibu yang tidak begitu kuingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau memerlukan bantuan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu. Saya telah menyiapkan semuanya sebelum Onii-sama tiba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uap putih keluar dari penanak nasi, aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan malam selesai setelah sepuluh menit. Menunya adalah sup miso dengan tahu dan rumput laut, ikan bakar dan salmon asin, nikujaga disiapkan di akhir dan komatsuna rebus yang barusan aku kumpulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah menu yang sangat cocok dengan seleraku. Hidangan ala jepang. Aku sangat berterima kasih padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukatakan sekali lagi, ini luar biasa. Kau terus membuatku kagum. Ngomong-ngomong, kau pandai dalam menyiapkan hidangan jepang ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-ya. Silakan dinimati selagi masih hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, selamat makan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan segera aku mengambil favoritku yaitu nikujaga dengan sumpit. Kentang manis di dalam nikujaga yang dibuat Sayuri masih hangat dan memiliki rasa saus yang lezat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menatapku dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah rasanya cocok dengan selera Anda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat enak. Sayuri pasti akan menjadi istri yang baik kelak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengalihkan pandanganya ke bawah dan pipinya memerah, dia bahagia dan juga malu. Imut. Jika dia bukan adik perempuanku (kandidat), aku pasti sudah jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, kenapa nikujaga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhhh, ummm... karena nikujaga... senada dengan masakan rumah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Sayuri kehilangan kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya. Yup. Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada buklet yang berisi data tentang diriku, tertulis bahwa makanan kesukaanku adalah hidangan ala jepang dan favoritku adalah nikujaga. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa aku bisa takjub setelah menikmati nikujaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri terlalu hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Selene tidak memberi tahu keberadaan buklet itu, aku akan merasa terlena dengan makan malam ini dan menganggap pertemuanku dengan Sayuri adalah takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menikmati makan malam selagi memikirkan itu. Komatsuna yang aku kumpulkan juga enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku berdiri untuk membersihkan piring setelah selesai makan, Sayuri berkata “Duduk saja, Onii-sama.” Kemudian aku kembali duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dengan cepat membersihkan piringnya, Sayuri menyiapkan teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi benar-benar lezat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu menunjukan pukul tujuh petang. Masih ada waktu sekitar lima jam lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sesuatu seperti mengamati dirinya yang sedang belajar, aku ingin melakukan sesuatu yang biasa dilakukan kakak pada adiknya, tetapi aku takut akan menjadi guru yang payah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau menonton TV?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri menekan remote dan menyalakan TV-nya. Pada saat yang benar-benar pas, sebuah drama sejarah dimulai. Selagi lagu pembuka terdengar, Shogun yang mengendarai kuda putih sedang melintas di pantai dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya pada Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau suka drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya baru-baru ini menonton acaranya dengan untuk mempelajari sejarahnya lalu akhirnya ketagihan... bukankah Onii-sama lebih paham dengan acaranya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai merasa khawatir. Bukankah menonton drama sejarah dengan niat mempelajarinya terasa sedikit menyakitkan? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku akan mencoba menjadi sedikit lebih kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak terlalu mengerti soal drama sejarah. Itu terasa seperti bau orang-orang tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat, cahaya menghilang dari pupil Sayuri dan otot di tubuhnya mulai menegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tidak mungkin. Drama sejarah seharusnya adalah favorit Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang boleh memilih, aku akan mengatakan Pretty Girls Rangers Fruity adalah acara favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aaaaaapa itu?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya tahu itu. Itu ada... ada kaitannya dengan buah , ‘kan? Umm, armada... kapal-kapal, benar? Tentang seorang gadis yang mengantarkan buah dengan kapal... tu-tunggu sebentar, saya mohon, saya pasti dapat menjelaskannya sekarang juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara milik Sayuri bergetar dan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak menyembunyikan kerisauannya sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau benar-benar tahu tentang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja Onii-sama. Sebagai kandidat adik perempuan mustahil saya tidak tahu kesukaan Onii-sama. Fakta bahwa saya berada di sisi Onii-sama saja sudah diputuskan oleh takdir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengatakan kalau ini adalah takdir adalah terdengar berlebihan. Sayuri sama sekali tidak curiga kalau yang kukatakan barusan itu aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, siapa yang paling Sayuri suka dari kelima fruity rangers?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeruk yang memiliki sifat ceria, Apel adalah karakter utama yang berdedikasi, Anggur dengan tipe kakak perempuan, Persik yang bertingkah seperti anak manja dan Nanas si pengubah suasana. Saat membicarakan buah-buahan, pasti merujuk ke mereka berlima. Aku sudah diberitahu tentang ini dari Selene.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“D-DDD-Durian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar ada Durian di kelompok itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? A- ada. Hanya Onii-sama saja yang belum tahu tentang dia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barusan, bahasa hormat jepang milik Sayuri rusak. Kelihatannya itu membuat dirinya kesal. Akan berbahaya jika aku memojokannya lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bercanda. Tadi hanya lelucon. Favoritku adalah drama sejarah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Le- lelucon...hahahaha... benar. Tadi sangat mengejutkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Sayuri yang semula kaku menjadi santai seakan kelelahan.&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, darimana kau kau tahu kalau kesukaanku itu drama sejarah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-I ittttttt- itu umm... ah! Ah, benar, Onii-sama. Mau mandi? Saya segera menghangatkan airnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri berdiri seolah ingin melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya benar. Sayuri adalah seorang pembohong. Dan juga, dia tidak bisa berimprovisasi. Kalau memang begitu, aku tidak tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia memiliki sebuah keluarga dia akan senang, itulah yang dia katakan pada burungnya, Kyuu-chan dan dengan itu dia akan mengubah dirinya untuk memuaskanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesan pertama yang dilihat dari Sayuri adalah sosok pelajar teladan, namum masih ada kemungkinan dirinya lebih bermasalah dari Selene atau Tomomi. Daripada mempermasalahkan dia yang sudah berbohong, fakta bahwa Sayuri tidaklah sempurna... membuatku lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku membasuh bahuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOO-Onii-sama. Apakah airnya sudah cukup panas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Airnya sungguh nyaman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-saya akan membasuh punggung Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, aku sudah membersihkan tubuhku dengan baik sebelum masuk ke bak mandi.”&lt;br /&gt;
Ketika aku belum selesai berbicara, Sayuri sudah masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengenakan handuk besar yang menutupi tubuhnya. Bahunya yang putih terlihat. Dia memiliki pinggang yang langsing. Pergelangan kakinya... hey apa yang kulakukan sih, memeriksa tubuhnya dari atas hingga bawah segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O-Onii-sama. Untuk mengeratkan hubungan kita sebagai saudara, a-ayo kita berkomunikasi dengan saling menyentuhkan kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-kenapa jadi seperti ini... pokoknya, tidak bisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kita tidak melakukan ini, benang takdir akan putus... jika Onii-sama memperbolehkan, saya akan menggunakan tubuh ini sebagai spons untuk membersihkan tubuh Onii-sama. Jika kita menjadi saudara, saya akan me-me-melayani Onii-sama setiap hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mendekatiku dengan kedua tanganya yang menyentuh dada, wajahnya sangat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keluarlah! Kumohon!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Onii-sama ingin dibasuh oleh adik perempuannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karaktermu benar-benar berbeda, tenanglah Sayuri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukanlah karakter. Inilah diriku yang sebenarnya. Sebuah spons adik perempuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidaklah normal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengerti, Onii-sama. Jadi handuk ini menghalangi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menekan ujung handuk lalu mencoba membukannya dari situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pakai saja handuknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, apakah saya boleh membersihkan punggungmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan jika menolak permintaanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Tapi sebagai balasan kau membersihkan punggungku, umm... gunakan spons normal. Dan juga, tutup matamu sampai aku memperbolehkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-karena kita adalah saudara tidak perlu malu meski saling terlihat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Melihat dan dilihat adalah hal yang memalukan! Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu dan kita belum menjadi saudara. Juga, apakah kau sendiri tidak malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-t-tidak sama sekali. Dapat terlihat seperti telanjang pasti karena uap yang keluar dari bak mandi. Saya tidak merasa malu sedikitpun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku mengejang lagi. Ini bohongan, ‘kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memastikan kalau dia bersunguh-sungguh. Tapi jika itu gagal, aku akan menjadi orang mesum. Namun, aku percaya pada rasa malu yang dimiliki Sayuri. Aku percaya bahwa dia memiliki hati seorang gadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, jika kau memang sangat ingin... biarkan aku menunjukan cara mengatasi rasa maluku padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku berdiri dari bak mandi. Seperti monster besar yang muncul tiba-tiba dari kedalaman laut, aku bergerak maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Sayuri benar-benar seorang gadis, dia akan lari sebelum sesuatu terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 091.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayuri mengangkat kedua tangannya ke wajah. Kemudian, handuk yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah. Karena barusan dia mencoba melepaskannya, handuknya sudah hampir lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdiri dan terus menatap tubuh telanjang adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;U-UWAAaaaaaaaaaaaaaaaa! Sayuri! Handuk! Handuk!!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Onii-sama BODOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari menutupi wajahnya, Sayuri keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Seolah sedang mengejarnya, aku berlari ke arah pintu keluar dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu yang terhubung ke ruang ganti. Kejadian tadi merupakan... sebuah tumbuhan perangkap lalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sayuri sudah berpakaian dan kini duduk di seiza. Dia menunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tentang sebelumnya, saya minta maaf. Saat saya memikirkan tentang menyentuh tubuh Onii-sama, um, saya lupa diri...artinya...saya kehilangan kendali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-iya. Aku juga minta maaf. Air di bak mandi masih panas, bagaimana kalau kau mandi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Akan saya lakukan sesuai perintah Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan murung menurunkan bahunya, Sayuri mengambil baju tidur untuk salin dan pergi menuju ruang ganti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku penasaran tentang masalah milik Sayuri. Untuk Selene adalah ‘pergi ke luar’. Kalau Tomomi adalah ‘kerja sama’. Dan Sayuri... mungkin ‘memalsukan sikapnya.’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat seseorang mengubah dirinya sendiri itu tidak sopan... itulah yang kupikirkan, namun aku tidak bisa membiarkannya. Mungkin saja, mereka bertiga bukan lagi orang asing di mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Sayuri keluar dari kamar mandi, aku mencoba membuat dirinya lupa tentang apa yang terjadi dan memikirkan tentang topik yang umum. Tetapi, dia enggan untuk berbicara dan saat waktu terus berjalan aku tetap tidak bisa memahami perasaan Sayuri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pukul sebelas malam. Saat dia pindah ke bantal kecil yang berada di dekatku, dia terkantuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Sayuri, dapat terjaga hingga waktu seperti ini bisa dikatakan begadang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih lama lagi, tinggalah lebih lama lagi...fuaa... Onii-sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yakin mau tidur di sini? Jam berapa biasanya kamu tidur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidur...fuaa... jam sepuluh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan paksakan dirimu dan tidurlah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya... takdir... meski Onii-sama hanya mampir...aku ingin...lebih dekat...kuh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahu Sayuri jatuh ke arahku lalu dengan lembut kutopang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bersandar pada dadaku, dia mulai tidur dengan nyenyak. Wajah tidurnya terbebas dari ketegangan dan terlihat seperti wajah anak kecil. Ini mungkin Sayuri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir, huh. Selene juga mengatakannya. Aku... tidak, kita semua tidak berdaya dihadapan takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membiarkan Sayuri seperti ini. Aku menggendonggnya dengan kedua lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua pintu di ruang tamu. Kubuka salah satunya. Terlihat sebuah lemari pakaian, meja belajar, dan tempat tidur berukuran kecil, itu adalah kamar yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lembut kubaringkan Sayuri ke kasur dan menyelimutinya. Saat melakukan itu, aku berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembunyikan buku yang tidak boleh dilihat orang lain adalah peraturan paling dasar para pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak berpikir gadis seperti Sayuri melakukan itu, kuulurkan tanganku ke bawah kasur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukletnya... ketemu. Ada penanda buku di dalamnya, dan hal-hal yang penting di stabilo. Sayuri telah menyiapkan dirinya tanpa ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelan-pelan kutaruh buklet ke dalam kasur. Semua sikapnya yang dia tunjukan tadi adalah diri Sayuri yang sesungguhnya. Ketika kukatakan &#039;Pretty Girls Rangers Fruity’ adalah kesukaanku, bagaimana dia menunjukan ekspersi kesalnya sangatlah luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa melakukan semua persis seperti yang ada di buku petunjuk, namun sangat lemah saat dihadapkan dengan peristiwa yang tidak diperhitungkan... itulah Sayuri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kembali ke ruang tamu, aku menghabisakan waktu sendirian mengerjakan PR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pintunya terkunci otomatis, jadi saat tengah malam tiba, aku bisa keluar dari ruangannya tanpa menimbulkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan tentang Sayuri. Meski sikapnya yang sopan dan rapi hanya di permukaan, bisa jadi dia lebih sulit ditangani dari Selene dan Tomomi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540218</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540218"/>
		<updated>2018-05-16T04:53:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, alhasil kualihkan pandangan kemudian menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya hingga detil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, ada banyak sekali barang, namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk seperti payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau ini seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di dalam bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku segera membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa mengerti, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Singkatnya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menunjukan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540217</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540217"/>
		<updated>2018-05-16T04:47:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, alhasil kualihkan pandangan kemudian menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya hingga detil?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, ada banyak sekali barang, namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk seperti payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540065</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540065"/>
		<updated>2018-05-13T02:06:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sudah berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak merespon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540053</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540053"/>
		<updated>2018-05-12T15:12:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya dan kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mau berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak menanggapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540052</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540052"/>
		<updated>2018-05-12T15:09:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan para camper yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya juga kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mau berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak menanggapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540045</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540045"/>
		<updated>2018-05-12T04:27:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan campers yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya juga kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mau berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak menanggapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, ketika dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540044</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540044"/>
		<updated>2018-05-12T04:26:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan campers yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya juga kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mau berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak menanggapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, saat aku dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540043</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 3</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_3&amp;diff=540043"/>
		<updated>2018-05-12T04:22:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Selasa, 9 April.&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  ==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==  Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirah...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Selasa, 9 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Adik Perempuan Kedua. Gamer. Kompetisi-Gila.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penawaran bergabung ke dalam klub makin ramai, aku harus berlari mengitari sekolah selama jam istirahat. Setelah berhasil kabur dari klub model dan klub bertahan hidup, aku didatangi anggota inti klub budaya salah satunya klub permainan papan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya gosip tentang identitas asliku telah menyebar ke seluruh sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk klub yang akan segera dibubarkan, nama Taishido sangatlah menggiurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang menyelamatkan diriku dari kesulitan adalah teman masa kecilku, Mariko. Ketika kami makan siang bersama, penawaran klub tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku tidak berpacaran dengan Mariko, tetapi para perekrut menganggap kami begitu. Kupikir bersembunyi dibaliknya adalah hal yang buruk, tapi hingga penawarannya berakhir, aku memutuskan untuk terus berada di dekatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sepertinya Mariko suka memasak. Seketika kami memasuki ruangan klub penelitian makanan, perbincangan ‘buatkan aku makan siang’ terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengatakan ‘cicipi masakanku.’ Dan begitulah... aku menjadi pencicip masakan Mariko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengingat kejadian yang terjadi di sekolah, aku kembali ke kediaman Taishido dan berdiri di depan pintu ruangan 601. Koridor begitu sunyi. Aku penasaran apakah tidak ada orang lain di kediaman ini, dan mulai merasa cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba membunyikan bel, tapi tidak ada yang menjawab. Seperti dugaanku. Kunci pintar merespon dan kunci terbuka. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk, terdengar sebuah teriakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RADADADADADADADADADADADADADADADADDADASHooShooDA——!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih bisa mendengarnya meski sudah menutup telinga. Mungkin dia sedang menonton film aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski begitu, suara itu benar-benar keras, kututup pintu dan masuk ke dalam. Suara tembakan api dan ledakan kehilangan jalan keluar dan terserap dalam ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya begitu riuh, namun tidak ada yang bisa terdengar dari lorong hingga pintunya dibuka. Seperti yang dikatakan Selene, ‘sistem kedap suara di apartemen sangat baik’, sepertinya benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampilan ruangan 601 sama seperti milik Selene, ruangan tipe 2LDK. Saat aku berjalan menuju ruang keluarga, aku melihat TV layar datar yang ditempel pada dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengitari ruangan, pengeras suara berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sofa di depan TV, terdapat seorang gadis yang mengenakan kaus dan celana pendek. Dia memakai headset dan menatap layar selagi memegang contoller di kedua tangannya. Tubuhnya condong ke depan seperti terhisap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Oraoraoraora! Hentikan noob camping kalian!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya itu sebuah gim perang. Dia tengah berada dalam baku tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak menyadari kalau aku berada di belakangnya, gadis itu terus bermain. Sulit untuk memanggilnya sekarang... saat aku memikirkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Aku akan segera membereskannya jadi tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sadar aku di belakangnya di tengah keributan ini karena aku didekatnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Oh, iya. Baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bertanya-tanya mengapa aku bisa menyadarimu, bukan? Merasakan keberadaan dirimu. Jangan dipikir, rasakan... seperti itulah caranya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan tidak menatapku saat berbicara. Sepertinya kandidat adik perempuan yang satu ini ingin menyelesaikan gim-nya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagus! Sekarang waktunya serangan udara!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengeboman udara meledakan medan pertempuran secara bersamaaan mengikuti perintahnya. Lima musuh terjebak dalam pengeboman dan meledak berkeping-keping, gim berakhir. Saat kembali ke layar utama, para musuh mundur satu per satu dan ketika tidak ada cukup pemain untuk melanjutkan gim menu utama menutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan, itulah kenapa para pecundang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melempar controller lalu mengistirahatkan punggung dan kepalanya pada sofa yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memutar lehernya dia menatapku dengan menengadah. Postur itu secara alami membuat dadanya menonjol, juga membuat dada miliknya terlihat sangat besar. Tatapan mataku tertuju pada dua bukit itu, oleh karena itu aku mengalihkan pandangan dan menatap wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau adalah Nii-chan ya? Aku Himura Tomomi. Murid baru tahun ini. Jika ulang tahunku duluan daripada Nii-chan, mungkin akulah yang menjadi Nee-chan lho... pokoknya, senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberiku kesan gadis tomboy. Meski begitu, dia memiliki rambut agak pendek, dari tengkuk hingga garis leher menuju ke tulang leher lalu belahan dada, dia termasuk gadis cantik dan montok... hey, kenapa aku malah memeriksanya sampai detil seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari manapun, Himura Tomomi adalah gadis yang aktif dengan wajah yang sangat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku Taishido Yoichi. Senang bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai memperkenalkan diri, aku kembali melihat seisi ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini tidak begitu berantakan seperti ruangan milik Selene, banyak sekali barang-barang namun semuanya ditata dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung ruangan, beberapa senjata api ditata hinga membentuk kesan payung. Pada lemari buku di sebelahnya, ada banyak wadah gim yang berjejer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah TV, dalam lemari kaca terdapat model plastik robot dengan pose yang menarik perhatian dan diletakan dengan susunan yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Nii-chan! Koleksiku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata api itu hanya tiruan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hentikaaan hentikan nada sopan itu! Aku mohon, seperti biasa saja. Juga, bukankah aku akan ditangkap jika senjata api itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar juga. Apakah Himura-san menyukai gim yang menggunakan senjata api?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada memanggilku dengan nama belakang, lebih baik panggil aku dengan nama depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis bernama Tomomi ini sepertinya kebingungan dengan sikap sopanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, seperti yang dia katakan, aku akan berbicara dengannya seakan dia adalah teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tomomi, kau suka gim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada suka itu lebih seperti... aku tidak dapat hidup kecuali aku bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bermain untuk hidup? Seorang manusia yang membutuhkan gim untuk tetap hidup?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa hobiku mengoleksi model plastik. Lebih tepatnya, model itu hanyalah satu dari beberapa yang masih bisa berdiri dengan dua kaki. Aku benci setengah-setengah, jika sudah memutuskan sesuatu aku akan melakukannya hingga ke tingkatan yang ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua model plastiknya memiliki warna yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dia serius dengan bermain dan mengoleksi, berkeinginan menjadi seorang gamer... itulah yang dia maksud. Tomomi dengan sigap berdiri dan menatapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara gim dan model plastik, mana yang lebih kau suka, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dua hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau adalah seorang laki-laki, itu cukup memprihatinkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menurunkan bahunya, di ujung TV tanda pesan berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepetinya kau dapat pesan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja tenang saja, itu hanya pembakaran rutin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pembakaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan pasti setidaknya tahu apa itu FPS, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu merupakan gim dimana kau berjibaku dengan senjata api, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup! Tapi kau tidak menembak dari depan, melainkan membaca aliran pergerakan musuh dan mendekat dari belakang garis lawan untuk melakukan pembersihan. Itu adalah cara mengalahkan campers yang bersembunyi di bangunan! Ditambah, membunuh lawan yang sedang menyerang juga menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Tomomi bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa benar tidak apa-apa membiarkanya begitu saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan berarti mereka ingin aku membalas... Ehm, jika kau ingin tahu lebih banyak aku bisa menunjukannya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengambil controller dan berbalik ke arah TV, dia membuka pesan yang barusan diterima. Dalam pesan isinya ‘cheater brengsek, keluar, atau ‘berhenti membunuh pemain yang sedang lag, ‘sampah, dan baca suasananya, sialan’, kata-kata hinaan menumpuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cheater?! Lag? Aku benar-benar tidak mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kata yang bahkan aku sendiri bisa paham, seperti ‘mati’ dan kata-kata intimidasi seperti ‘kubunuh kau’ juga terkirim. Meski itu hanya gim, kupikir melontarkan kata- kata itu pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kehilangan kata-kata, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Banyak sekali kata yang tidak aku mengerti... seperti cheater, apa yang mereka maksud itu hewan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo itu cheetah. Yang benar cheater. Dua kata itu diucapkan dengan cara yang berbeda. Penekanan ‘ta’ dalam cheater lebih kuat. Kesimpulannya, cheater adalah orang yang melakukan kecurangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Curang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya menggunakan kode atau menggunakan berbagai tool.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong gunakan kata-kata yang mudah dipahami.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mereka adalah orang yang melanggar hukum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti. Jadi apa kau melakukannya, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil aku melakukannya. itu tidak asyik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*puu*, Tomomi menggembungkan pipinya. Meski dia tomboy, dia kelihatan imut saat menampilkan eksperesi marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu berarti Tomomi cukup handal hingga dituduh melakukan kecurangan. Meski begitu, hanya karena gim seseorang mengatakan padamu untuk mati saja, itu keterlaluan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Che che che! Itulah gim, Nii-chan. Kalau kau serius, kau tidak akan menikmatinya... oh iya, Nii-chan tidak bermain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mengatakan itu, Tomomi memperlihatkan ekspresi sedih di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitulah... erm, pesannya sungguh buruk, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, melihat hal seperti ini juga cukup menghibur. Itu seperti tangisan para pecundang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu berlebihan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia membusungkan dadanya dengan bangga kemudian tersenyum. Dadanya... sungguh menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, tidak! Itu bukanlah hal yang harus dikhawtirkan. Lagipula pesan seperti ini akan muncul lagi di lain hari, jadi akan lebih baik jika aku menikmatinya, bukan? Meski begitu, aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk membunuh para kill trader, itu terjadi dalam pertempuran deathmatch antar tim kemudian mereka mengirim pesan hinaan dan membunuh tim mereka sendiri... bahkan  itu dilakukan saat pertempuran perebutan rangking, mereka sungguh bodoh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai film dan gim-nya mahal, sudah jelas bahwa barang-barang ini tidak diperuntukan untuk kalangan bawah. Tomomi mengambil konsol gim yang berada dari bawah meja, dan menggunakannya sebagai kipas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang yang terbaik! Dengan hasil ini, mereka pasti akan paham. Sialan, tempat ini semakin panas saja. TV besar itu membuat panas ruangan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik kerah baju kemudian mengipaskannya untuk mendinginkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, sebenarnya aku tahu untuk tidak melihat itu, tapi tatapanku terjerumus begitu saja... eh, apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tatapan mataku terjerumus pada dua bukit miliknya tanpa sadar, terlihat liontin yang bersinar menggantung di lehernya. Aku pernah melihat itu sebelumnya di film... itu sudah pasti adalah dog tag yang dikenakan tentara. Bisa jadi, itu adalah sebuah benda yang ada kaitannya dengan seragam militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengeluarkan banyak keringat, dan bra berwarna pink terlihat di balik kaos tipis miliknya. Ketika mengalihkan mataku, konsol gim yang dia pegang masuk dalam jarak pandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, bukankah gim itu memiliki larangan 18+ tahun ke atas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat huruf Z pada penutup konsol.&amp;lt;ref&amp;gt; http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_Entertainment_Rating_Organization&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah tahu itu. Meski benda ini tidak bisa dibeli oleh seseorang di bawah delapan belas tahun, tidak ada masalah bagiku untuk memainkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu benar? Tidak, tapi apa yang dia maksud dari dia ‘sudah tahu itu’?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hadiah dari seseorang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pacar yang lebih tua contohnya... jika memang begitu, apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ ...Aku mendapatkan itu sendiri... juga, semua barang-barang yang ada di sini. TV, AV; amplifier; pengeras suara; gim ; model plastik dan air gun. Aku tidak menggunakan uang milik Taishido untuk mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membusungkan dadanya lagi seraya mengatakan itu. Menonjol dengan begitu indah, kekuatan dada yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, agar tidak kelihatan menyedihkan seperti Mariko yang belum banyak berubah pada tinggi badannya, aku harus tetap tenang dan tidak terganngu oleh kekuatan tempur Tomomi!... hey, kenapa aku tiba-tiba melakukan sugesti seperti ini. Tomomi adalah adik perempuanku(kandidat). Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatap pada wajahku dengan tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&amp;quot;W-woaaa! Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, aku penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan uang itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, aku mendapatkan hadiah dari turnamen yang disponsori berbagai toko gim, dan karena menjadi orang terkenal di banyak web streaming. Dan juga berkat memenangkan pertandingan-pertandingan dan mengalahkan para penantang, oleh karena itu aku diberi hadiah. Setelah menandatangani kontrak masuk tim profesional, perusahaan memberiku PC, gaming mouse, headset, keyboard... aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-begitu ya. Tomomi memang hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mengatakan isi pikiranku, ekspresi Tomomi menegang kemudian meleleh seperti keju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“P-Puji aku lagi. Dipuji Nii-chan membuatku sangat bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puji aku! Nii-chan puji aku lagi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“B-baiklah. Kau hebat, Tomomi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ahaa〜〜♪&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[OOSY v01 002.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya memerah lalu Tomomi menopang pipi dengan kedua tangan, setelah itu dia mulai berputar dan menggeliat. Dia melakukannya dengan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oke!! Terima kasih untuk pujian yang Nii-chan berikan sekarang aku benar-benar senang! Nii-chan, ini adalah pertandingan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya selagi dia bergerak kesana-kemari, tiba-tiba dia mengacungkan jarinya ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah pertandingan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar benar! Jika Nii-chan menang, aku akan melakukan apapun yang kau minta. Sebaliknya, jika aku menang, Nii-chan harus memilihku sebagai adik perempuanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak berpikir akan menang jika bermain gim. Kita tidak akan bertanding jika tidak adil.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begituuu, kita lakukan dengan hal yang Nii-chan kuasai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal kau tahu saja, aku sangat buruk jika harus bertanding dengan orang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya kita saja yang bertanding, mengeratkan hubungan dengan pertandingan yang bersahabat〜. Ayo kita mulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia seperti akan memanggil roh api, saat dia mengatakan itu dengan semangat, aku hampir mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan coba-coba menipu dan mengancamku dengan cara bicara yang positif seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“M-mengatakan itu adalah ancaman adalah hal yang sangat buruk. Aku hanya ingin bersikap sportif.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari mana sportif-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo begitu, aku akan memberimu pilihan. Jika kau menjadikanku adik perempuanmu, kau bisa memenangkan semua gim di internet tanpa pengecualian? Hal yang luar biasa, bukan? Jika Nii-chan mati aku akan membuat musuhnya membayar dua kali lipat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski hanya gim, tolong jangan bunuh aku begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu artinya Tomomi hanya memaksa, ‘kan? Dan juga, masih ada tiga adik perempuan lagi yang belum aku temui. Aku tidak boleh buru-buru dalam membuat keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah pasti aku tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bukanlah seorang hikikomori dan mungkin lebih baik dari Selene, namun mengatakan tidak akan kalah dengan kandidat adik perempuan yang lain, seberapa kompetitif sih dia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hanya diam saja dan putuskan sekarang. Cepat putuskan. Hey Nii-chan, pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan dalam manajemen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi pada akhirnya kau hanya mengincar warisan Taishido.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin kutanyakan. Namun aku tidak bisa memikirkan alasan lain demi membuat para gadis berperilaku sopan kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengatakan bahwa aku mengincar hartanya itu tidak sopan. Perlu kau ketahui, aku dapat membiayai hidupku sendiri... dengan menjadi gamer profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi pernah mengatakan tentang menandatangani kontrak dengan perusahaan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gamer profesional. Mereka mendapatkan uang dengan bermain gim, itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barusan, kau berpikir ‘memangnya ada pekerjaan semacam itu’, iya, ‘kan? Bahkan juga ada orang yang singgah untuk melakukan scouting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku mengerti, aku mengerti. Maaf karena sudah mencurigaimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seorang wanita cantik berprofesi sebagai gamer profesional yang terkenal di seluruh dunia. Ah! Aku bahkan tidak berpikir akan menjadi seperti itu. Aku sangat payah dalam gim tertentu. Gim simulasi dan pertanian sangat lambat itu benar-benar membuat frustasi. Melakukan kontes tatap mata dengan tumpukan data sangatlah membosakan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan sedikit malu. Ekspresi imut itu membuat dirinya lebih muda dari umur aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, aku sudah siap menjadi gamer profesional kapanpun. Tapi entah kenapa rasanya... sepi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku butuh seseorang yang dapat mengakui dan berada terus di sampingku. Dalam hal ini, Nii-chan sangat cocok. Pujianmu terasa polos, meski aku sedikit memaksa, kau dengan tulus mengatakan ‘kau sudah melakukan yang terbaik’. Aku merasakannya, lagipula kau akan menjadi pemimpin perusahaan Taishido. Jika aku diakui oleh orang seperti itu, orang-orang pasti akan memperhatikanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi seperti itu ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku mendengarkan Tomomi, kelihatannya dia memikirkan hal seperti ‘aku ingin dikenal’ atau aku ingin diperhatikan’. Jika dikaitkan dengan pesan ancaman yang dia terima dalam gim, dan perasaan yang Tomomi rasakan, seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan orang lain terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga! Mau minum sesuatu, Nii-chan? Banyak minuman botol di dalam kulkas. Saat kau ke sana, aku titip cola!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hey hey.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengepalkan tangannya seolah sedang berdoa. Dengan enggan aku berjalan menuju dapur. Tidak terasa kalau dia biasa memasak sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang biasanya kau makan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku biasanya makan makanan bungkus atau makan di luar, meski begitu aku sudah membuat makan siang karena kedatangan Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat panci berwarna emas di atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah jika itu bisa dimakan... tapi aku sedikit khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, aku menantikannya. Nii-chan cepat bawa cola-nya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mengatakan itu dengan suara yang manis dan lembut. Lagipula, dia juga sudah berumur lima belas tahun. Adik perempuan dengan umur yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, ulang tahun Tomomi kapan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangal 3 Agustus, kenapa? Apa Nii-chan akan merayakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu mengandung diriku dengan Taishido Jinya dan bahkan tidak sampai tiga bulan berlalu sebelum Tomomi dikandung. Pada kala itu, ibuku masih hidup. Orang itu, aku berharap dia mati saja. Tidak, sebenarnya dia sudah mati. Yah, aku tidak bisa merendahkan Tomomi karena hal ini. Aku juga bisa mengeluarkan kata seperti ‘mati’. Ditambah, menyalahkan ibu Tomomi juga hal yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi zodiak Tomomi Leo. Simbol keberanian. Sangat cocok untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoo! Sang Raja hutan! Kalau zodiak Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku lahir tanggal 10 mei zodiak-ku Taurus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan membuat steak dari dagingmu dan memakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika memang begitu apa yang akan kau lakukan dengan Aries?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Domba panggang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cancer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamayu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Singa juga memakan manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, bukankah Tomomi sudah membaca biodataku? Murasaki-san seharusanya sudah memberikan buklet pada setiap kandidat adik perempuan yang berisi ringkasan data tentangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan kupikir kau sudah tahu tentangku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil dua setengah liter minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-apa yang kau katakan. Jika memang ada benda seperti itu, pasti sudah kuambil. Aku tidak pernah melihat benda seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar saat dia menerima botol cola. Dia menjadi sungguh kesal. Pandangan Tomomi mengarah pada rak senjata. Di sampingnya, terdapat beberapa buku yang disusun bersentuhan dengan tembok. Di tengahnya, aku melihat sebuah buku dengan sampul putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik serupa yang digunakan ketika menyembunyikan majalah porno diantara buku lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, aku minta maaf tiba-tiba menanyakan ini, tapi untuk apa buku sebanyak itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I-itu semua majalah tentang air gun dan panduan strategi. Aku sudah bosan dengan mereka, jadi aku akan segera membuangnya. Kupikir mereka hanya akan menghalangi jika dibiarkan. Biar aku yang membersihkanya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suaranya bergetar, lalu dengan cepat memindahkan tumpuka buku itu ke ruang belakang. Dia gadis yang mudah dimengerti. Saat dia kembali, dia bertanya dengan senyum yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, Nii-chan, kau pasti sudah lapar, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi sangat khawatir mengingat bahan yang ada dalam panci itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar juga. Apa kau akan mentraktirku makan malam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja! Pertandingan oden pedas yang membara dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa gadis ini tidak mengatakannya secara normal saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum aku bisa membalas, Tomomi perlahan kembali ke dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai meyiapkan kompor gas portable, oden pedas yang mendidih ditaruh di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah apinya terlalu besar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula ini pertandingan pedas yang membara, sudah seharusnya seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam panci terdapat hanpen, tahu goreng isi ganmadoki; ikan lumat; lobak; telur dan kroket ikan. Mie Shirataki dan mochi kinchaku di atasnya. Varian bahan dimasak bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-untuk sekarang, silakan dicoba. Perlu piring?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak usah, jika aku menggunakannya, akan jadi cepat dingin. Lebih panas makanannya lebih enak rasanya! Nii-chan mau yang mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau ingin kita saling menyuapi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita saudara, melakukan hal mesra seperti ini adalah sebuah keharusan! Cinta antar saudara termasuk bahan pada kuah pedas yang membara ini, ayo kita saling menyuapi satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, jadi ini yang dia maksud dengan ‘pertandingan’ oden pedas yang membara. Bukan hanya aku sendiri yang memakannya, tapi juga menyuapi dirinya dengan kuah yang mendidih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo tentukan siapa yang maju pertama dengan batu-gunting-kertas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah, jika terlambat, kau kalah. Batu-gunting-kertas!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi melancarkan serangan dadakan. Oleh karena itu, aku memilih gunting dengan tergersa-gesa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Nii-chan terlambat, itu artinya aku yang menang. Aku maju pertama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak adil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebuah serangan dadakan adalah strategi yang bagus. Ayo kita lihat... bagaimana dengan chikuwabu, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udon-mu akan tercemar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh! Aku tidak akan memaafkanmu jika berani menghina chikuwabu! Rasa kuah disekitarnya juga kuah yang keluar dari dalam, sungguh lezat. Emm, aaa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil chikuwabu dengan sumpit dan mengarahkannya tepat didepanku. Uap yang keluar begitu banyak. Tapi tetap saja, aku menyerah dan membuka mulutku. Tanpa ada sedikitpun rasa kasihan dan keraguan, chikuwabu dimasukan ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“HUAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak? Hey, Nii-chan, enak, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus mempertahankan harga diriku sebagai kakak, dan jangan sampai memuntahkannya. Meski begitu, ini sangat pedas. Jika ini adalah acara TV, pasti akan muncul tulisan “Jangan ditiru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gumpalan tepung semakin tidak enak selagi aku mengunyah, kenapa makanan ini mempunyai nama yang sama dengan bintang di dunia oden, chikuwa-sama? Siapa pelakunya! Aku mengutuk dirinya. Kemudian dengan paksa kutelan chikuwabu ke dalam mulut dengan meminum cola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Haa... haa... baiklah, Tomomi. Buka mulutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mata Nii-chan menakutkan... karena aku adik perempuanmu, lembutlah padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja... makan ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil ganmadoki dari panci, lalu memasukannya ke dalam mulut Tomomi. Ganmadoki mengeluarkan banyak uap dalam kuah yang mendidih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Hafuu...haffu...ha...haaaaaAaaAAAAaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata keluar dari mata Tomomi, di saat ganmadoki masuk ke dalam mulutnya dia mengambil mochi kinchaku dari panci dan menjejalkan itu ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NghhhhhhHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari dalam mochi, keluar cairan putih, lengket, dan panas. Ini buruk... jika terus seperti ini... aku akan tamat! Aku mengambil telur. Di saat yang bersamaan, Tomomi pasti sudah memikirkan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diharapkan dari ikatan saudara. Kami memikirkan hal yang sama. Kami memasukan telur pada saat yang bersamaan. Sama seperti pukulan menyilang, kami memasukan telur ke dalam mulut lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;NNGGyaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!&amp;quot; &lt;br /&gt;
&amp;quot;MUHOoooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serius, apa sih yang sedang kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pertandingan yang kita lakukan tidak ada untungnya, kami setuju untuk melakukan gencatan senjata. Kemudian, kami mengambil piring untuk makan. Rasanya stabil dan enak, saat aku bertanya apa makanan ini dia siapkan sendiri dia mengatakan ‘oden-nya sudah disiapkan terlebih dahulu’. Kelihatannya dia hanya mengupas dan mengiris lobak, bisa dibilang itu bukan masakan buatannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makanannya pedas, kan. Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, sudah jelas karena itu makanan yang biasa dimakan di musim dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi berjalan ke ruang tamu dan mengambil remote yang berada di atas meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mau menyalakan AC malam-malam begini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memiliki metabolisme yang bagus dan sedikit kepanasan. Ditambah, benda-benda seperti konsol gim, AV; amplifier; PC; and layar TV mengeluarkan banyak panas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu benar-benar tidak ekonomis. Udara dingin dari AC mulai bertiup dan meluas ke seluruh ruangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaaaa. aku sungguh berkeringat, rasanya enak sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi merentangkan tubuhnya sambil berdiri di depan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berapa temperatur yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“16°C, ‘kan? Bukankah memang ini yang paling rendah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“S-sepertinya itu terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tubuhku memanas karena oden, sekarang dengan cepat mulai mendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan kurang olahraga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau hentikan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Cheehh. Kalau begitu.. eh? Ehhhh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah mau berapa kali Tomomi menekan tombol remote, AC-nya tetap tidak menanggapi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Remote-nya tidak mau mendengarkanku Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau melakukan itu dengan sengaja, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Lihat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengambil remote dari tangannya lalu mulai memeriksa. Sepertinya bukan karena kehabisan baterai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sensornya mungkin rusak. Aku tidak bisa memperbaiki ini sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat yang seperti ini setiap kali aku menemukan masalah, sejujurnya aku hanya bergantung pada Murasaki-san. Ketika aku mengirimkan pesan kepadanya, balasan masuk. Kelihatannya dia akan mengirim orang secepatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku dengar tukang service itu akan datang dalam satu jam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, kami tidak boleh membiarkannya menyala seperti itu dan harus mematikannya langsung dengan menekan tombol mati di AC-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau punya tangga atau kursi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita tidak boleh membiarkan AC-nya menyala seperti itu hingga tukang service datang, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, ayo lakukan pertandingan dingin ekstrim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai tukang service datang, ayo kita bertanding menentukan siapa yang paling baik bertahan dari hawa dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kupikir dia pergi ke ruangan yang ada di belakang, dia kembali dan membawa selimut. Kelihatannya itu selimut yang ada di kamar tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin kita harus pindah ke kamar tidur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, memaksa masuk ke kamar tidur seorang gadis muda adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak memaksa untuk ingin masuk ke sana!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Paham paham. Sekarang Nii-chan, duduklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma yang samar dan melegakan dari sitrun merebak dari selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengar Nii-chan. Jangan berani-berani meremehkan musim dingin di pegunungan. Jika kau tertidur, kau akan mati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menarik tanganku lalu memeluknya. Selagi aku merasakan dadanya yang menempel pada tanganku, otot-otot di punggungku mengejang. Tidak disangka, dia begitu lembut... dan dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya keringat miliknya menguap lalu mendingin, dan sekarang tubuhnya menjadi dingin seperti es.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey hey, kau terlalu dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah mengapa aku memeluk Nii-chan seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada banyak cara untuk menghangatkan tubuhmu, kau bisa pergi ke luar atau membuka jendela. pertama, jika kita matikan AC-nya, ini akan berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengaku kalah saat berhadapan dengan AC akan sangat memalukan untuk kita, sebagai bagian dari umat manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi mulai mengigil seperti chihuahua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin, terlalu dingin Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa... terserah apa katamu... di-dingin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi membalas dengan “kalau begitu aku tidak akan mundur!” dan tanpa didiuga, dia memelukku. Dog tag yang dia kenakan di leher menempel pada tengkukku dan aku merasakan punggungku mengejang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa, Nii-chan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti memelukku. Jangan tekan dadamu ke tubuhku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak masalah kita ‘kan saudara dan ini hanyalah sentuhan antar kulit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak perlu saling menempel hanya karena kita saudara. Dan juga, dog tag ini sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah... maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta maaf, lalu mengambil rantai yang terhubung dengan dog tag. Dia memindahkan itu sehingga berayun di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu asli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Ibuku... ia adalah tentara bayaran di negara asing, enam tahun lalu dia ditetapkan hilang dalam bertugas saat melakukan operasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentara bayaran kau bilang.. um, apa itu hilang dalam bertugas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Artinya dirinya tidak ditemukan di tengah pertempuran. Hanya benda ini yang ia tinggalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya adalah seorang tentara bayaran, ditambah dia tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tetapi ibu lebih kuat daripada diriku, mengingat dia sangat kuat aku yakin dia pasti selamat. Itulah kenapa, saat aku dewasa aku akan mencari ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[OOSY v01 073.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia sama sekali tidak mendengar kabar darinya selama enam tahun, namun masih percaya ibunya masih hidup. Apa yang harus aku katakan... aku tidak tahu. Dengan lembut kupindahkan tangan Tomomi ke dalam selimut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah..Nii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tomomi menunduduk dan rona merah muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada murung, aku ingin melihat Tomomi yang tersenyum dan gembira, itulah yang kupikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang saatnya aku yang menetapkan sebuah pertandingan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertandingan? Nii-chan melawan diriku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar. Karena masih bergandengan tangan... kalau begitu pertandingan menggelitik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berhasil membuat Tomomi terkejut. aku menggelitik sisi perutnya, dia menggerakan kaki menendang-nendang selimutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hiiiiiii! Kenapa Nii-chan tahu kelemhanku! Jangan! Jangan di situ! Tidaak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak banyak mausia yang bisa bertahan saat sisi perutnya digelitik, itu juga merupakan kelemahanku. Mengetahui bahwa tidak ada serangan balasan yang dilancarkan, aku terus menggelitik sisi perut Tomomi hingga tukang service-nya datang. Air mata muncul di kedua matanya dan dia sudah hampir menangis. Aku tidak begitu mengerti, tetapi kelihatannya ini adalah kemenanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dua orang dari perbaikan AC datang, waktu mengalir dengan cepat. Kemudian, Tomomi mengatakan dia ingin mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nii-chan, bagaimana kalau kita mandi bersama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sekitar tengah malam, aku diantar keluar hingga pintu oleh Tomomi dan kembali ke kamarku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mandi, jadi aku membaringkan tubuhku langsung ke kasur. Aku akan mandi esok hari.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540042</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=540042"/>
		<updated>2018-05-12T04:06:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang gadis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah buklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca buklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Buklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari burung biru kebahagiaan dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538490</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538490"/>
		<updated>2018-04-08T08:14:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari burung biru kebahagiaan dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538375</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538375"/>
		<updated>2018-04-07T01:03:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon dan pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini sangat berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538165</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538165"/>
		<updated>2018-04-04T00:17:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon lalu pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini benar-benar berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Bukan hanya benang saja, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538164</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538164"/>
		<updated>2018-04-04T00:15:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon lalu pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini benar-benar berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara harfiah artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Itu bukan hanya benang biasa, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538131</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538131"/>
		<updated>2018-04-03T00:15:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon lalu pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini benar-benar berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara literal artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua pakaian rapi milikku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Itu bukan hanya benang biasa, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538097</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538097"/>
		<updated>2018-04-02T07:14:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Di saat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon lalu pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini benar-benar berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara literal artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua baju untuk luar ruangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Itu bukan hanya benang biasa, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538096</id>
		<title>Omae wo Onii-chan ni Shite Yarouka (Indonesia): Jilid 1 Bab 2</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Omae_wo_Onii-chan_ni_Shite_Yarouka_(Indonesia):_Jilid_1_Bab_2&amp;diff=538096"/>
		<updated>2018-04-02T07:12:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Meido - Moe: /* Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama. */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Senin, 8 April.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upacara Masuk. Teman Masa Kecil. Adik Perempuan Pertama.==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara masuk di Akademi Shichiyou selesai, aku terkejut dengan pertemuan yang mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman masa kecil yang sudah aku kenal sejak kelas tiga Sekolah Dasar dan pindah rumah karena pekerjaan ayahnya tanpa diduga berada di kelas yang sama denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis yang dulu terkenal dengan tubuh tingginya-- --Sonobe Mariko, kelihatanya sekarang dia sudah pada batas dimana tidak bisa tumbuh lagi dan kini menjadi gadis yang kurus. Karena dulu tubuhku sangat kecil, aku harus mendongak saat menatapnya, entah kenapa sekarang rasanya sedikit canggung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah hasil ujian masuk miliknya. Dia mendapat peringkat teratas tahun ini. Di Akademi Shichiyou terdapat program beasiswa yang diberikan pada murid yang mendapat peringakat sepuluh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dia sadar nama belakangku sudah berubah, Mariko terkejut. Mengetahui bahwa sudah tidak asing satu sama lain, kami merasa lega. Berkat dirinya yang mendapat peringkat teratas, dia menjadi pusat perhatian di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, hal itu hanya bertahan lima menit. Disaat aku memperkenalakan diri, semua orang menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat homeroom selesai, aku dikelilingi teman sekelas. Mereka mengatakan hal seperti ‘Ayo gabung klub bareng.’ Atau ‘Yuk kita berteman.’ Dulu saat nama belakangku ‘Domon’, hal ini tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, aku keluar dari kelas. Aku ingin mengobrol dengan Mariko, tapi tidak ada kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku cukup tertarik dengan klub sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama SMP aku menjabat sebagai anggota OSIS. Mulanya saat di bangku kelas satu aku hanyalah tukang bantu-bantu, lalu di tahun ke dua periode musim gugur dan tahun ketiga musim panas aku menjadi wakil ketua OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena memang aku menyukai mengikuti kegiatan klub, akhirnya aku masuk tapi hanya sebagai anggota bayangan. Bukannya mengikuti kegiatan klub, justru aku membantu pekerjaan OSIS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan itu sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan dan memuaskan. Berkat interaksi yang kulakukan dengan adik kelas, aku mengerti bagaimana cara mengurus orang yang lebih muda walapun hanya anak tunggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu boleh juga, tapi kembali ke aktivitas klub itu agak... . Karena bergabung dengan klub olahraga untuk kali pertama di SMA kelihatan cukup berat. Akan lebih baik jika itu klub budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja... jika seorang Taishido masuk ke sebuah klub pasti akan mendapat perlakuan khusus, dan jumlah anggotanya akan bertambah dua kali lipat. Kalau itu benar-benar terjadi pasti akan sangat mengerikan. Dilihat dari Akademi Shichiyou yang dikelola oleh perusahaan Taishido.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, ada hal yang harus kulakukan sebelum memikirkan tentang aktivitas klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk makan siang di kedai gyudon lalu pulang ke kediaman Taishido sedikit terlambat dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku berdiri di depan pintu ruangan 701 aku bingung. Pintunya tidak mau terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengeluarkan kunci pintar dari dompet. Meski aku sudah memutar kenop pintu itu ke kanan, pintu tidak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba aku pikir sebentar, apa benar kunci ini yang asli?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini tidak mungkin terjadi, ‘kan? Tapi untuk jaga-jaga... &#039;&#039;open sesame&#039;&#039;.”&amp;lt;ref&amp;gt;open sesame adalah referensi dalam cerita &#039;Ali Baba dan empat puluh pencuri&#039;. Dengan mengucapkan itu para pencuri dapat membuka gua yang berisi harta.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya bukan itu kata kuncinya. Pintu apartemen tidak terbuka. Meski kemarin masih aku gunakan seperti biasa, apa sekarang sudah rusak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sia-sia. Aku harus menelpon Murasaki-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilanku tidak terhubung. Mungkin sekarang dia ada di tempat yang tidak memliki sinyal, atau mematikan telepon miliknya. Untuk jaga-jaga aku kirim SMS saja, dan e-mail untuk lebih yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat darimana pun ini terlalu cepat untuk bisa rusak. Pintu ini dilengkapi teknologi canggih...dan, saat aku memeriksa kunci pintar, aku sadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruangan yang muncul pada layar LCD... sudah berubah. Terlihat nomor 101 yang seharusnya 701.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh? Apa-apaan ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, aku sadar bahwa kunci pintar yang diberikan Murasaki-san akan memutuskan ruangan mana yang harus aku masuki secara otomatis, tanpa mempedulikan kehendakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan adik perempuan, rupanya sudah dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melintasi aula depan di lantai bawah, ruangan 101 adalah yang paling jauh dari koridor depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada pelat pengenal di depan pintu. Aku mendekat dan kunci terbuka dengan sendirinya. Kunci ini tidak rusak, justru dia memanggilku untuk masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya canggung seakan aku sedang menerobos tanpa ijin, tapi aku tetap membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ruangan ini, kelihatan seolah badai baru saja menerjang. Tersebar di lantai, terlihat kaos, celana, dan bra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tempat cuci piring dan dapur, terdapat banyak piring kotor. Dengan adanya tempat sampah yang sudah penuh, aku bisa merasakan keberadaan seorang pemalas. Sampah tertumpuk ke atas dengan keseimbangan yang luar biasa dan menjadi sebuah seni &#039;&#039;avant garde.&amp;lt;ref&amp;gt;Avant garde adalah frase dari bahasa prancis yang memiliki arti &#039;garda depan&#039;. Seni di dalamnya merupakan hasil dari eksperimen dan bersifat radikal.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Terlihat sebuah seragam tergantung pada hanger. Itu bukan seragam Akademi Shichiyou, tapi blazernya didesain dengan rinci dan terbungkus plastik. Karena terdapat karakter 「Tengah中」pada logonya, sepertinya itu merupakan seragam SMP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah ruangan, rambut hitam yang panjang terurai di karpet...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis terbaring di sana. Telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“H-hey! Apa kau baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku memanggilnya, gumpalan rambut hitam bereaksi dengan suara ‘nuaaaahhhh’, lalu bangkit perlahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut miliknya cukup panjang hingga bisa menutupi punggungnya, kontras dengan ruangan kapal pecah ini, dirinya terawat, cantik, dan memikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiliki wajah putih kebiruan seakan dirinya dibuat dari keramik dan kedua tangannya sangat ramping. Gadis mirip boneka ini berbicara padaku dengan nada datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, benar. Daripada itu, apa kau benar-benar sudah sadar?! Apa kau terluka?!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku baik-baik saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia berbicara seperti orang linglung, suaranya kuat. Aku mendesah dengan perasaan lega dalam hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ba-Bagus kalau begitu... selanjutnya kenakan pakaianmu. Aku akan menoleh kebelakang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut panjang membungkus seluruh tubuhnya, namun dia masih telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, umm... Namaku Taishido Yoichi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Tamiya Selene. Dua belas tahun. Murid SMP kelas satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:OOSY v01 027.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari belakang terdengar suara. Apa dia sedang memakai baju?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Be-Begitu ya. Umm Tamiya-san...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong panggil namaku dengan kesan yang mencerminkan bahwa kau seorang kakak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita baru saja bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga tidak pernah mengira akan menjadi adik perempuan orang lain. Kalau begitu kita sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kata Tamiya-san... Selene-san pasti juga terkejut mengetahui ‘Onii-chan’ yang tiba-tiba muncul dihadapanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak perlu pake –san. Aku akan berpakaian sekarang, jadi cepat alihkan pandanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengenakan kaos dan celana pendek. Pada kaos miliknya tertulis kalimat ‘I Am Innocent’, dengan bentuk tulisan tangan. Beli dimana kaos kaya gitu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Selene tiba-tiba berbaring di tengah lantai?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku mandi dan mengeringkan rambutku lalu berbaring di lantai, seperti itulah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sering melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk hari ini saja. Saat tahu akan bertemu Onii-chan, aku jadi terlalu memikirkan banyak hal, oleh karena itu aku ketiduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap pada sekeliling ruangan dan mendesah. Walaupun dia mengatakan mandi, tapi apa maksudnya dari keadaan ruangan yang berantakan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan ini benar-benar berantakan untuk ditinggali sampai-sampai tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berpijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak pernah membersihkan ruangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ini merupakan bentuk sempurnanya. Aku tahu dimana letak semua barang-barang bahkan dengan mata tertutup.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski ruangan ini begitu berantakan dimataku, tapi kau dapat menemukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya. dan, aku bisa menemukan pakaian mana yang akan kukenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku perlahan menyentuh dahinya dengan jari tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, tidak, Aku bilang kau harus membersihkan ruanganmu sendiri. Meski datang kesini tanpa ijin membuatku merasa bersalah, tapi tempat ini sungguh tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggembungkan pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sekilas memang berantakan, tapi ini fungsional. Tolong jangan nilai aku sebagai wanita yang tidak bisa merawat diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dari sudut pandang orang lain, bukankah mereka akan berpikiran sama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat aku mengetahui bahwa Selene yang sangat buruk dalam bersih-bersih menjadi adik perempuanku, itu sangatlah sulit diterima. Meski begitu, aku berpikir akan lebih baik untuk tetap membiarkanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan upacara masuk?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku bolos. Namaku sangat mencolok. aku yakin jika masuk ke sekolah pasti akan di-bully.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dia seorang hikikomori dan anthropophobia?&amp;lt;ref&amp;gt;secara literal artinya takut akan manusia. Informasi tambahan ada di sini:https://en.wikipedia.org/wiki/Anthropophobia&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hari pertama saat aku masuk sekolah, nama Taishido juga membuat kegaduhan. Mungkin nama Selene juga menimbulkan hal yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau pernah di-bully ketika SD?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku selalu takut kalau mungkin akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu artinya dia tidak pernah di-bully!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak akan di-bully.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski begitu, aku tidak membutuhkan teman... di dunia nyata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya berlinang, kemudian menarik sebuah laptop dari tumpukan kaus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan. Jika kau punya koneksi internet, kau bisa berbelanja tanpa harus pergi ke luar. Pesanan makananmu juga bisa dikirim. Kau bahkan bisa mendapat teman tanpa harus pergi ke sekolah. Nama asli juga tidak diperlukan. Anonimitas di internet akan membuatku aman.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perkumpulan komputer pribadiku. Selene mengeluarkan suara ‘ehen’, membusungkan dadanya dan mulai browsing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah orang yang mengikutinya di twitter terpampang di layar, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Sudah se-level artis. Kesampingkan hal itu, nama akun miliknya adalah -- -- ‘Undying Cicada’, aku rasa pernah melihat nama ini di re-tweet sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah seorang hikikomori, tapi masih ada keinginan untuk bersosialisasi dalam dirinya. Selena mungkin mirip sepertiku...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mendapat banyak teman memang luar biasa. Tapi itu berbeda. Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengan orang di luar daripada berkomunikasi melalui internet. Juga, jika kau mampu melakukan ini di internet, berbicara dengan orang di dunia nyata pasti bukan perkara sulit untukmu, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggelengkan kepalanya. &#039;&#039;*sshh*&#039;&#039; sambil bergeser, rambut hitam yang berkilauan menari di udara tercium aroma bunga dari shampoo. Ini buruk, barusan hatiku bedegup kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku baik-baik saja meski tidak berbicara langsung dengan orang lain. Juga, aku bisa menonton anime favoritku di internet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mungkin benar, tapi... hey Selene, apa kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku adalah anak masa kini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah gambaran anak masa kini, anak yang berubah menjadi pemalas karena perkembangan teknologi. Walaupun aku sendiri tidak bisa membayangkan hidup tanpa smartphone... tetapi untuk Selene hal itu akan menjadi jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya dengan lahir di zaman seperti sekarang ini tidak ada kaitannya dengan menjadi hikikomori, ‘kan? Juga... apa kau sudah mendengarnya dari Murasaki-san?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan keadaan seperti sekarang ini, aku... akan mati dan menghilang. Jika Onii-chan tidak memilihku, aku akan ditendang keluar dari surga ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatanya dia sudah memahaminya, dia menaikan alisnya dengan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski begitu, kau tetap saja menunjukan sikap malasmu didepanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin kau menerimaku apa adanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun kata-katamu tadi terdengar positif, sayangnya itu sama sekali tidak mengubah penilaianku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku hanya bisa menjadi diriku sendiri, tidak bisa yang lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menggumamkan kata itu dengan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pikirkan saja, Selene tetap duduk di lantai sejak dia berpakaian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus membuatnya mandiri, ‘kan? Sebagai seorang kakak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, untuk mengawalinya, coba berdiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sembari tersipu, Selene meregangkan kedua tanganya seolah dia adalah seorang pemandu sorak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, apa-apaan gerakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tolong angkat aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu. Ya ampun. Mau gimana lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memegang kedua lengan Selene dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuangkaaat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hauaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dia berdiri, lututnya mengeluarkan bunyi ‘krek’. Air mata muncul di matanya menyerupai mutiara hitam dan kedua kakinya terhuyung seperti bayi rusa. Jika hanya berdiri saja sudah menimbulkan masalah, aku jadi khawatir dengan masa depanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa depan? Masa depan bersama anak ini? Aku bahkan belum bisa memutuskan Selene menjadi adik perempuanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata yang keluar, Selene mengambil langkah kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kyaa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teriakan tanpa nada terdengar lalu Selene jatuh ke arahku, aku berhasil menangkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membenamkan wajahnya pada dadaku. &#039;&#039;*munyu*&#039;&#039; ketika kami bersentuhan, aku merasakan pelukan lembut khas wanita disekitar perutku. ...apa yang barusan kulakukan dengan adik perempuanku (kandidat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“K-Kau baik-baik saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jadi seperti ini ya bau Oni-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski kau bilang begitu, aku tidak pernah berpikir bahwa seorang kakak memiliki bau khusus.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...cium cium huum huum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kusingkirkan Selene dari tubuhku. Dia kelihatan tidak senang, dan saat aku menatapnya, dia menggumamkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan apakah aku sudah boleh duduk lagi sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau baru saja berdiri. Untuk sekarang kita bersihkan kamar ini bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kau mau membersihkannya... umm, aku akan mempertimbangakan dirimu menjadi adik perempuanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingin menggunakan hakku seperti ini, tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk memerintah Selene.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baik. aku akan berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menatapku dengan hampa lalu bergumam. Aku lega dia mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tarik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene dengan cepat menarik sampah dari sekumpulan majalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Kumpulkan barang yang kau perlukan, dan yang tidak. Pisahkan sampah-sampah dari barang lainnya. Aku juga akan membantumu, jadi teruslah berusaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dengan ini, apakah kita menjadi saudara yang sah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mustahil! Tapi... setidaknya, aku akan menilaimu lebih jika meneruskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia merespon dengan anggukan. Keimutannya mengingatkanku pada seekor tupai. Maksudku imut sebagai adik perempuan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kami terus membersihkan ruangan dalam diam. Karena kami bekerja sama, pekerjaaan ini menjadi lebih cepat dari perkiraan. Dari ruangan tanpa tempat untuk berpijak, menjadi lantai kayu yang dapat terlihat dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di bawah tumpukan kardus, aku menemukan sebuah mesin yang memiliki bentuk seperti cakram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu adalah... kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, tidak, jangan ngaco.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski dulu hilang... pasti sekarang itu sudah kehabisan daya, takdir yang sungguh kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bisa terjadi karena seseorang mengacaukan tempat ini, takdir yang kejam apanya coba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...membersihkan kekacauan ini adalah pekerjaan kapal tempur penggali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bersimpati pada robot pembersih yang sudah tidak bisa bergerak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus melakukan sesuatu untuk kapal tempur penggali ini. Lain kali, aku yang akan membereskan tumpukan baju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putih bersih dan bejumbai, itu sungguh lembut. Bentuknya mirip seperti sapu tangan... ini, ‘kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan, apa kau tertarik dengan celana dalam adikmu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“U-uwaaa! Bu-Bukan seperti itu! Kau hanya salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Onii-chan mesum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menggumamkan itu dengan ekspresi serius. Aku menaruh kembali celana dalam pada tumpukan baju lalu menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey! Daripada menjadikan aku sebagai kakakmu, bukankah kau lebih ingin menjaga kehidupanmu yang seperti ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu, tapi yang kau butuhkan hanya uang warisannya, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jika ada uang, aku akan bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dia sangat buruk dalam berbohong, atau dia tidak ingin merahasiakannya, Selene mengutarakan secara jujur apa yang ada dipikirannya. Bisa jadi dia tidak ingin berbohong, justru berpikir bahwa hal itu sungguh merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurunkan bahu, aku memasukan setumpuk majalah kedalam kantong plastik. Setelah mengikatnya, aku bertanya pada Selene “Ditaruh dimana ini? Lalu mendapat balasan “...di sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku curiga bahwa dia bermaksud untuk membuatku membersihkan ini dari awal, itu adalah rencana dimana semuanya sudah dipersiapkan dan dirancang dengan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah tidak apa-apa jika aku membuang semua majalah ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...singkirkan semua buku yang tipis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu buku tipis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu rahasia seorang wanita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pipi putihnya memerah. Baiklah. Aku memang tidak paham, tapi aku akan berhenti bertanya. Setelah aku mengumpulkan semua majalah, aku menemukan sebuah booklet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene, apa ini juga dibuang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kalo itu... umm...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sampul terdapat fon sederhana dengan background berwarna putih... daripada itu, sepertinya buku ini tidak masuk dalam peredaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mirip sebuah panduan. Judulnya-- -- Data Taishido Yoichi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana juga terdapat tulisan rahasia. Walaupun hanya ada tiga puluh halaman, semua isinya mengenai diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena masakan enak nenek, masakan jepang menjadi favoritku. Di bawah pengaruh kakek, aku terbiasa menonton drama sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan data pertumbuhanku juga dijelaskan. Selesai membaca booklet ini, semua tentang diriku dapat dengan mudah dipahami. Sungguh detil hingga membuatku malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Booklet apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku dapat dari Murasaki-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Mungkin kandidat adik peremuan yang lain juga mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kurasa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Juga, apa kau tidak keberatan? Mengatakan padaku tentang keberadaan buku ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kenapa tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Umm, bagaimana menjelaskannya ya... setelah mempelajari buku ini dengan cermat, bisa saja salah satu dari mereka akan memerankan karakter adik perempuan yang ideal untuk mendapat perhatianku, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image: OOSY v01 001.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf sudah menyinggungmu. Aku juga tidak berpikir Selene salah satunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene meregangkan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dengan bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baguslah kalau kau sudah mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sombong... tapi, jika kau menggunakan panduan ini, kau bisa terlihat lebih menarik sebagai adik perempuan dimataku, kenapa kau tidak melakukannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...memang benar jika tidak mempunyai uang itu merepotkan, bahkan hanya dengan menyenangkanmu aku akan lebih mudah mendapatkannya, tapi tetap saja aku tidak ingin bekerja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa-bisanya mengatakan itu dengan bangga meski kau hanyalah seorang hikikomori dan pemalas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aauuu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami meneruskan perbincangan sia-sia ini, waktu berlalu dan menunjukan pukul 6 petang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu, dapur, dan ruang makan begitu bersih dan rapi itu terasa kekacauan yang barusan hanyalah mimpi. Selene bergumam sembari meraba-raba perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menyelesaikan pekerjaan ini membuatku lapar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar. Waktunya makan malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...hari ini aku yang akan mentraktirmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu selesai mengatakan itu, dia mengambil mie kemasan dalam kardus di dapur. Sepertinya dia memborong mie itu sekaligus kardusnya. Juga terlihat kardus yang belum terbuka menumpuk bagaikan piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seafood atau kari, mana yang kau suka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski aku juga menyukai mie kemasan, tapi itu hanya sebagai cemilan. Jika aku hidup seperti ini, aku pasti akan mati. Mata Selene tiba-tiba bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka seafood.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalo gitu aku yang kari... ehh ...haa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya menyenandungkan sebuah lagu dengan nada yang datar, Selene menuangkan air panas dari termos ke dalam mie kemasan. Air panas memenuhi mie kemasan rasa seafood.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku juga akan menuangkannya untuk bagian Onii-chan... oh... air panasnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus gimana dong?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...umm, dengan air dingin juga bisa, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berlari menuju dapur dan menaruh ceret yang penuh air ke atas kompor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan caranya membuat mie kemasan sangat mengkhawtirkan hingga membuatku cemas akan masa depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat kemudian, air mendidih dan aku selesai menyeduhnya, tapi tekstur mie ini sangat kaku, Selene menyipitkan kedua matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...makan bersama memang menyenangkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm? Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berpisah dengan kakek dan nenek. Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan bersama dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Selene selalu sendirian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Mama meninggalkanku demi mencari tempat untuk pulang dan sejak itulah aku menjadi sendirian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf aku tidak bermaksud untuk membahasnya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...jangan minta maaf. Menjadi tidak berdaya karena takdir, bukankah Onii-chan juga sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak berdaya, huh. Iya itu sudah jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tersenyum getir, dia ikut tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai kami menghabiskan mie kemasan, kelihatanya semua menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selene punya kemampuan komunikasi yang cukup baik untuk seorang hikikomori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu tidak mungkin! Aku mengidap antropophobia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah kau sedang bicara denganku sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Oni-chan...itu spesial. Juga, aku...bekerja keras hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi seperti ini yang dinamakan ‘kerja keras’ baginya. Bukan, Selene harus lebih dulu dipaksa hingga mau melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu hebat, Selene. Meski kau baru saja mendapat informasi tentang diriku, kau melakukan yang terbaik dalam pertemuan pertamamu dengan Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...sama. Onii-chan juga hebat walaupun tidak mengetahui apapun tentangku, selamat untuk kerja bagusnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas pujiannya. Aku senang bisa mengobrol seperti ini dengan Selene, juga tentang bersih-bersihnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menunduk sembari tersipu lalu bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...luar biasa! Onii-chan rela membersihkan ruangan ini sendirian layaknya maid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan buat aku marah. Juga, bukan hanya aku yang melakukannya. Kita berdua bekerja sama, ‘kan? Bahkan hingga sempat menata semua figur ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atas meja. Terdapat figur anime yang berjejer. Semua yang tadi terlihat dimana-mana, sekarang berkumpul disatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak figur wanita cantik dengan seragam maid dan baju gothic lolita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Favorit Selene adalah gadis berambut pirang dengan model rambut twin-tail dan pakaian tempur berwarna kuning-- -- namanya Pine-chan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rela mengumpulkan ini semua, apa Selene menyukai figur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia juga pakai celana dalam. Lihat? Celana dalam bergaris. Lipatan rok-nya juga sangat detil, kusut bajunya juga terlihat jelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-Aku gak mau liat! Namun, kau sungguh memperhatikan detil-detilnya. Apa Selene suka baju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seragam yang tergantung di dinding juga cukup manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau memilih sekolahmu tergantung seberapa imut seragamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bagaimana kau bisa tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkejut, Selene membiarkan mulutnya terbuka sebagian. Mungkin ini merupakan kesempatan. Entah nantinya dia akan menjadi adikku atau tidak, dia tidak boleh terus seperti ini. Kecuali dia mau berubah... kurasa dia bahkan tidak mau melangkahkan kakinya di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Lain kali kita akan pergi keluar dan membeli beberapa baju bersama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menatapku dengan mata memohon dan mulai gemetar dengan imutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pergi membeli baju, aku tidak punya baju yang bisa dikenakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa..?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dilihat dari evolusi, manusia sudah lama membuang ekor yang tidak diperlukan. Sama halnya dengan diriku, karena aku sudah tidak lagi pergi keluar, aku membuang semua baju untuk luar ruangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku kira dia akan gemetaran, dia berdeham dan dengan bangga membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang bisa dibanggakan. Juga, bukankah kau punya seragam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menunjukan jariku ke arah seragam, Selene menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...itu bukan...apa-apa. Seragam itu bagus selama menjadi hiasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski seragam itu imut, akan sia-sia jika kau tidak mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak akan pernah mau mengenakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meringkuk dan memeluk lututnya. Pose seperti itu membuat dirinya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah...tidak masalah. Bisakah kau nyalakan laptop-mu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apa yang ingin kau lakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mari belanja online bersama. Apakah ada situs yang biasa kau kunjungi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Ada satu situs favoritku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kita belanja di situ.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene membuka website dengan cepat lalu belanja dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...kemudian, ini dan ini, ini juga imut. Tidak lupa, rok ini... karena aku tidak bisa memilih satu jenis, kita masukan semuanya saja ke dalam cart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski penampilan dirinya tampak seperti hewan kecil, dia begitu gesit seperti karnivora yang sedang memburu mangsa. Selene dengan cepat meneruskan belanja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu terlalu cepat? Apa kau memilih semua bajunya dengan benar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku sangat hati-hati memilih mereka semua. Aku tidak tahu apa pakaian indah ini akan cocok denganku atau tidak... tapi baju bagus tetap saja baju bagus. Desainer profesionalnya juga sangat hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, aku terus menatap dirinya yang terus melanjutkan belanja. Selene kembali memilih bermacam pakaian dengan desain yang detail, dan memang benar semua pakaian itu dibuat dengan rinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model pakaian itu disebut gothic lolita. Karena Selene memiliki rambut hitam yang panjang dan ada sedikit aura kelabu dalam dirinya, jenis pakaian itu akan cocok dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pilih-pilih selesai. Klik... eh? Kok tidak bisa dibeli.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak bisa dibeli... itu pasti karena sudah melebihi batas kartu kredit-mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama yang tertampil pada layar peringatan saldo adalah Murasaki-san. Dia pasti sudah melewati berbagai tahapan resmi demi mengubahnya. Wajah Selene menyiratkan kalau dia bisa menangis kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...setelah memilih barang yang kuinginkan... dunia begitu kejam kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencabutan bantuan keuangan sudah ditetapkan, namun tetap saja hal itu pasti akan terjadi di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada itu, Untuk kartu kredit yang telah mencapai batasnya meski ini baru minggu kedua di bulan April...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tunggu, tunggu. Bukan dunia yang kejam, melainkan Selene yang sudah menghabiskan uangnya, ‘kan? Apa sih yang kau beli?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku tidak menghabiskannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene menutup laptop-nya, berdiri dan menunjuk ke arah ruangan belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa di dalam ruangan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Milikku yang berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan itu dengan ekspresi yang serius dan membuka ruangan belakang. Aku ingin menutup mataku. Jadwal pembersihan yang berlanjut hingga pukul delapan malam., tolong selamatkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...masuklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Selene menyalakan lampu ruangan. Yang kutemukan di sana adalah...ruang kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat mesin jahit berukuran besar yang ditaruh di depan. Itu benar-benar terlihat seperti mesin industri, dengan adanya benda itu, kehadian sesuatu yang lebih besar terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gulungan kain tertata dan disusun berdasarkan pola dan warna. Ketika aku membuka lemari pakaian, terlihat laci-laci kecil di dalam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Walaupun ruangannya dipenuhi barang seperti ini, semuanya terorganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ruangan... apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ruangan menjahit. Ini mesin penjahit utama. Itu kunci mesin jahitnya. sistem kedap suara di apartemen sangat baik jadi tidak ada suara yang terdengar bahkan ketika tengah malam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh luar biasa. Alat-alatnya terlihat mutakhir. Apa Selene mahir dalam menjahit?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku suka men-desain, memotong kain sesuai pola lalu menyatukannya di mesin jahit. Aku juga suka memilih renda, kancing, dan pita. Aku juga berlatih menyulam meski aku masih buruk dalam melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bolehkah aku melihat laci-nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku membuka laci, aku menemukan kancing dekoratif. Juga, dalam laci sebelahnya terdapat kancing dengan berbagai jenis. Semua kancingnya bersinar bagaikan kotak permata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku membeli kancing, renda dan manik-manik dari luar negeri...lalu semua uangnya habis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau tunjukan pakaian yang kaubuat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku mendengar dering nada panggilan. Pada mesin jahit, tergeletak sebuah smartphone. Meski dia seorang hikikomori, dia menggunakan laptop dan smartphone sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Sempurna. Pengiriman lainnya sudah sampai tujuan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memeriksa isi mail pada smartphone sambil bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengiriman? Maksudmu kau menjual pakaian yang kau buat?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...menjual sepertinya terlalu berlebihan. Aku membuat itu untuk temanku. Hope-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang kau beri itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...pakaiannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selene memperlihatkan contoh pakaian yang dia buat dengan smartphone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ini satu-satunya kostum buatan sendiri yang ada di dunia. Begitu banyak renda pada gaun hijau yang indah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu berapa harga untuk pakaian seperti ini, namun aku merasa bahwa bahan-bahannya sangat mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memberikan... tidak mungkin kau memberi pakaian ini secara gratis?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku menerima biaya pengirimannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya biaya pengiriman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...dia begitu senang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menampilkan mail ucapan terima kasih pada layar dan menunjukan itu kepadaku dengan ekspresi bangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, mm... apa kau tidak masalah dengan harga ini? Meski jika aku membelinya, bukankah ada dua angka nol yang hilang? Hey orang yang membelinya juga khawatir denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika biaya pengiriman berjumlah seribu yen, dan klien sadar ada dua angka nol hilang, itu artinya jumlahnya seratus ribu yen... seratus ribu yen?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngomong-ngomong, berapa biaya yang dikeluarkan ‘Toko Selene-san’ untuk membuat semua bajunya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...untuk bahan hanya sekitar dua puluh ribu yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar bangkrut. Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membuatnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...seminggu... tapi saat mengerjakannya, aku sampai lupa waktu. Selama orang-orang suka pakaian yang aku buat, aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa aku mengerti kenapa Selene mempunyai banyak pengikut di Twitter. Review yang ditulis temannya dan berita tentang tarif menyebar, lalu menarik banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tamu bisa berantakan karena dia fokus dengan kemampuan dan usahanya menata ruang jahit. Dia sengaja memotong pengeluaran makanan sebab dia tidak memliki cukup uang untuk membeli bahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa menjual baju dengan harga yang tinggi, ‘kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...baju-baju ini aku buat karena hobi, sebab baju ini dibuat oleh penggiat hobi sederhana... menjual mereka akan menjadi penghinaan bagi desiner profesional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hobi yang tanggung...bukan? seperti yang dia katakan. Baju yang dia tunjukan padaku bukanlah sembarang baju yang bisa dikenakan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kostum karakter anime sekelas kostum peragaan. Rumbai-nya begitu banyak. Namun, aku berpikir bahwa baju-baju itu mempunyai daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku punya satu pertanyaan, apa yang kau gunakan sebagai referensi saat membuat pakaiannya? 『Aku ingin orang itu mengenakan ini』atau semacamnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...ada. aku membayangkan gadis dari anime favoritku. Jika Orange-chan mungkin rok pendek akan bagus, karena dia tipe gadis bersemangat. Jika Grape-chan maka butuh aura dewasa dan menonjolkan bagian dada.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, jika dia keluar rumah dan melihat pakaian yang dikenakan gadis di luar sana, imajinasi Selene akan lebih berkembang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bisa membuat pakaian yang tidak hanya cocok untuk karakter anime, tapi juga bisa dikenakan gadis lain. Selene masih belum serius dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja dia berani keluar, dia mungkin bisa menjadi desiner yang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa dengan memiliki bakat hebat yang terus terkubur di sini akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang sudah terlalu larut... tapi bagaimana dengan minggu depan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mustahil. jika pergi keluar... meski ayam terus mengepakan sayapnya, dia tidak akan pernah bisa terbang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan tetap membuatmu keluar apapun caranya, siapkan baju untuk luar ruangan. Jika tidak bisa beli, kau buat saja. Jika kau masih belum mempersiapkan apa-apa, kau harus mengenakan seragam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...apakah aku memang harus pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan muntah. Aku akan muntah karena cemas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk hal itu, kau lebih baik kosongkan dulu perutmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku akan memuntahkan asam lambung. Oh, aku juga punya sakit kepala yang parah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak bisa pergi sekolah jika tidak keluar, ‘kan? Seragam imut ini akan sia-sia. Bukankah Selene ingin ke sekolah dengan memakainya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...meski aku tetap tidak mau, apa kau akan membuatku keluar dengan paksa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertahanan dirinya berubah menjadi pembelaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergi ke sekolah bukanlah hal yang buruk. Jika kau mempunyai teman, kau mungkin bisa membuat pakaian yang cocok dengan kepribadian temanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...mu-mungkin tapi tetap saja, untukku itu terlalu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah penarikan dirinya semakin memburuk. Aku akan coba cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...bukannya tidak ada. Namun, tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Aku tidak bisa naik kereta Yamamoto. Begitu ramai, kematian menantiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tidak perlu naik saat jam sibuk. Meski begitu, saat kau bilang kereta Yamamoto, itu terlalu spesifik. Kau ingin pergi ke mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bukan Shibuya atau Harajuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Nippori memiliki daerah grosir benang. Itu bukan hanya benang biasa, banyak sekali bahan untuk membuat pakaian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti. Jika Selene berperilaku baik, aku akan membawamu ke sana dan melakukan apapun yang kau inginkan, membawa koper atau semacamnya. Itu tidak ada kaitanya apakah aku akan menjadikanmu adik perempuanku atau tidak. Ini adalah janji antara kau dan diriku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...su-sungguh? Janji?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku berjanji. Itulah mengapa kau harus bersiap untuk pergi minggu depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai mengatakan itu, Selene masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku bisa membayangkan berapa banyak tekanan yang ada diperutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku mendesah, bunyi nada panggilan terdengar. Sebuah mail masuk di smartphone-ku, itu dari Murasaki–san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadwal pengingat tentang interaksi dengan adik perempuan... atau lebih tepatnya sebuah konfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dua minggu dari sekarang, aku menghabiskan akhir pekan (Senin hingga Jumat) dengan adik perempuan berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nomor ruang pada kunci pintar akan berubah kembali menjadi 701 pukul 12 malam. Dengan kata lain, aku menghabiskan waktu dengan adik perempuan setiap hari hingga tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, untuk email yang mengingatkan interaksi selanjutnya saat yang sebelumnya akan segera selesai, apakah ini ada dalam perjanjian?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kertika aku memikirkannya, Selene kembali dari toilet. Dia kelihatan lebih segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dari tadi yang kulakukan hanya menuntut Selene, apa ada yang ingin kau minta dariku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...aku ingin bermalas-malasan bersama Onii-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menghabiskan waktu yang tersisa menonton anime favoritnya. Lima gadis bertarung melawan kejahatan, Pretty Girls Rangers Mono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orange, Apple, Grape, Peach, Pine-- --Pretty Girl Rangers digambarkan menurut atribut buah-buahan, itu adalah anime yang ditujukan untuk gadis muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuat Selene mandiri. Jika hanya dia mungkin saja aku bisa memperbaiki penarikan sosial dalam dirinya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kesampingkan dia, masih ada empat kandidat adik perempuan. Dengan jumlah ini mereka bisa saja membentuk Pretty Girl Rangers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas waktu yang terbatas, aku mungkin harus memberikan perhitungan lebih untuk Selene.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Meido - Moe</name></author>
	</entry>
</feed>