<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Seiri</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Seiri"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Seiri"/>
	<updated>2026-05-03T07:35:00Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=223153</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=223153"/>
		<updated>2013-01-30T03:19:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Dia hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-geriknya secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika ia mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan vampir atau sejenisnya kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa seperti vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan perahu mesin di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas perahu mesin yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=223152</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=223152"/>
		<updated>2013-01-30T03:16:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing pemburu yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, sebatas itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai ke tahap dimana Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa Kiritsugu mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuh Irisviel sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama seperti Kiritsugu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya adalah – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, pencapaian Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan keselamatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanan dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=223151</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=223151"/>
		<updated>2013-01-30T03:13:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah belati survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk bergerak, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali dari ketenangan yang biasa menyertainya pada larut malam, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang berturut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa kekejaman belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama artinya dengan sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat bantuan atau semacamnya menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, melebihi Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapan yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit pun rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei memmpunyai ide yang langka, ingin bicara dengan ayahnya, Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222380</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222380"/>
		<updated>2013-01-26T01:31:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali dari ketenangan yang menyertainya pada larut malam, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang berturut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222379</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222379"/>
		<updated>2013-01-26T01:30:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali dari ketenangan yang menyertainya pada larut malam, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222378</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=222378"/>
		<updated>2013-01-26T01:22:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada tanda-tanda rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir secara teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu bagi Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menghujam ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218009</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218009"/>
		<updated>2013-01-06T14:57:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -84:15:32 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218008</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218008"/>
		<updated>2013-01-06T14:53:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218007</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218007"/>
		<updated>2013-01-06T14:52:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun familiar yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=218006</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=218006"/>
		<updated>2013-01-06T14:51:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing pemburu yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, sebatas itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai ke tahap dimana Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya adalah – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, pencapaian Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan keselamatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanan dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218004</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218004"/>
		<updated>2013-01-06T14:45:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -84:15:32 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--DO NOT delete page markers. Thank you. --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 163 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun familiar yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para &#039;&#039;Master&#039;&#039; selain Sola juga akan menerima &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; tambahan,&amp;lt;!-- ==== Page 164 ==== --&amp;gt; tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; yang mengikat dirinya dengan &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 165 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 166 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita &#039;&#039;magus&#039;&#039; yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah.&amp;lt;!-- ==== Page 167 ==== --&amp;gt; Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan &#039;&#039;Master&#039;&#039; barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai &#039;&#039;Master&#039;&#039;, bahkan walaupun mereka kehilangan &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　　　　　　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 168 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 169 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para &#039;&#039;Master&#039;&#039; lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 170 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan &#039;&#039;magecraft&#039;&#039; pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039; masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5~ Indonesian Version|Bagian 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218002</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218002"/>
		<updated>2013-01-06T14:37:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -84:15:32 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--DO NOT delete page markers. Thank you. --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 163 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun familiar yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun Command Seals di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para Master selain Sola juga akan menerima Command Seal tambahan,&amp;lt;!-- ==== Page 164 ==== --&amp;gt; tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan Command Seal yang mengikat dirinya dengan Servant-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga Command Seals yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 165 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali Command Seals itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 166 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita magus yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, Command Seals yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;- Ada apa, Maiya?”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. Command Seals-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah.&amp;lt;!-- ==== Page 167 ==== --&amp;gt; Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan Master barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai Master, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai Master, bahkan walaupun mereka kehilangan Command Seals.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;×　　　　　　×&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 168 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 169 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para Master lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 170 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan magecraft pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran Command Seals masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_10_Part_5|Act 10, Part 5]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_11_Part_2|Act 11, Part 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218001</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218001"/>
		<updated>2013-01-06T14:30:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--DO NOT delete page markers. Thank you. --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 163 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun familiar yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun Command Seals di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para Master selain Sola juga akan menerima Command Seal tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan Command Seal yang mengikat dirinya dengan Servant-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga Command Seals yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali Command Seals itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita magus yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, Command Seals yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ada apa, Maiya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. Command Seals-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan Master barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai Master, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai Master, bahkan walaupun mereka kehilangan Command Seals.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
×　　　　　　×&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para Master lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan magecraft pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran Command Seals masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218000</id>
		<title>Fate/Zero:Act 11 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_11_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=218000"/>
		<updated>2013-01-06T14:27:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: Created page with &amp;quot;Act 11 === -84:15:32 ===  &amp;lt;!--DO NOT delete page markers. Thank you. --&amp;gt;  &amp;lt;!-- ==== Page 163 ==== --&amp;gt; Act 11 -84:15:32  Dari atas atap sebuah ba...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v03_161.png|thumb|Act 11]]&lt;br /&gt;
=== -84:15:32 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--DO NOT delete page markers. Thank you. --&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!-- ==== Page 163 ==== --&amp;gt;&lt;br /&gt;
Act 11&lt;br /&gt;
-84:15:32&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas atap sebuah bangunan Shinto yang cukup jauh, Sola mengamati sosok sang monster laut raksasa yang ditelan oleh cahaya menyilaukan, dan menghilang perlahan-lahan dalam kabut malam di sisi seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangannya tidak jelas dalam kabut itu, dan ditambah dengan jarak yang cukup jauh, ia tak bisa mengikuti perkembangan pertempuran tadi dengan mata telanjangnya. Dia tak menyiapkan satu pun familiar yang bisa segera digunakan untuk keperluan pengintaian, dia tak punya pilihan selain memandangi tepian sungai dimana sang monster laut raksasa dan jet-jet tempur menari dengan ganas, sambil menyimpan rasa khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun itu, tampaknya babak pertama dari pertempuran telah usai, namun Command Seals di tangan kanannya masih ada. Itu berarti Lancer masih bertahan dalam pertempuran dengan kondisi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau disergap hembusan angin kencang yang mengamuk di ketinggian, Sola kini merasa lega. Lancer mungkin akan segera kembali membawa kabar baik. Seandainya Lancer harus berbagi kemenangan dengan para Servant lain, para Master selain Sola juga akan menerima Command Seal tambahan, tapi itu tidak begitu penting. Saat ini, ia sudah cukup senang dengan mendapatkan kembali tiga goresan Command Seal yang mengikat dirinya dengan Servant-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tidak ada suara riuh angin yang berhembus, Sola mungkin akan lebih cepat menyadari kehadiran seorang penyerang yang  menyelinap dari tangga hingga ke belakang punggungnya tanpa ia ketahui. Perhatiannya terpusat pada pertempuran di sisi seberang, dan ia membiarkan kewaspadaannya menurun. Namun bagi seorang wanita yang bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang cara mempertahankan diri, apalagi mendapat latihan perang, dia tidak bisa disalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba ia jatuh. Bahkan setelah tersungkur ke lantai beton dengan wajah terangkat pun, ia tidak sempat memahami apa yang telah terjadi. Secara refleks ia mengangkat tangan kanannya untuk mencari pertolongan, namun tangan itu digenggam dengan kasar oleh seseorang. Orang itu jelas tak punya sedikit pun niat untuk menolong Sola yang terjatuh. Justru, serangan rasa sakit yang luar biasa mendera pergelangan tangan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaa—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pergelangan tangannya yang halus dan ramping, bagaikan pipa patah, darah segar menyembur keluar. Sola memandang penuh perhatian, ia tidak percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanannya tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan satu serangan, tangan itu dipotong bersih. Jemari dan kuku-kuku yang ia banggakan dan tak pernah lupa ia rawat, dan juga Command Seals yang lebih berharga dari apapun, secara bersamaan menghilang dari lengan kanan Sola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari rasa sakit dan dingin akibat hilangnya darah, seluruh rasa putus asa akibat kehilangan menutupi pikiran Sola dengan warna hitam pekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aa, aaaa, aaaaahhhhhh! AAAAAAHHHH!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil mengeluarkan teriakan menggila, Sola merangkak di lantai, mencoba mencari keberadaan tangan kanannya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak! Akan jadi masalah kalau aku tak punya ITU! Aku tak bisa memanggil Diarmuid. Aku tak akan diperhatikan oleh Diarmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila terjadi kemungkinan terburuk, ia akan menghabiskan seluruh goresan dan memerintahkannya untuk “Cintai aku!”, dan itu seharusnya bisa mengikatnya. Itulah mengapa tangan kanannya menjadi masalah baginya. Apapun yang terjadi, bahkan dengan bayaran nyawanya, ia akan mendapatkan kembali Command Seals itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah pandangannya yang semakin kabur akibat kehilangan darah berat, masih terkulai di lantai, Sola memandang ke atas dan melihat seorang wanita berambut hitam yang tidak ia kenal. Bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi, apalagi rasa kasihan, wanita itu tanpa ekspresi memandangi Sola, yang hampir pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangan... Tangan... ku...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tangan kirinya yang masih ada, ia menangkap sepatu boots wanita itu, memeganginya – setelah itu ia kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menyisakan sedikit pun perasaan, Hisau Maiya melemparkan tangan kanan sang wanita magus yang ia potong dengan seluruh tenaganya menggunakan sebilah pisau survival. Dengan cara yang tepat, Command Seals yang tertinggal di tangan kirinya mungkin bisa dipulihkan, tetapi karena Maiya tidak memiliki teknik seperti itu saat ini, hal itu sama sekali tak ada artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya segera mengikat pergelangan tangan itu untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi, setelah ia membopong si target yang tidak sadar itu di bahunya, dan dengan tangan sebelahnya yang kosong, menghubungi Emiya Kiritsugu dengan telepon genggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ada apa, Maiya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengamankan Sola Nuada-Re Sophia-Ri di Shinto. Command Seals-nya terpotong bersama tangan kanannya, tetapi kondisinya tidak kritis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Tinggalkan tempat itu secepatnya. Lancer mungkin akan segera kembali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengakhiri pembicaraan sangat singkat itu dan menutup panggilan teleponnya, Maiya melesat menuruni tangga dengan cepat dan sampai ke lantai bawah. Pada tulang rusuk homunculus yang ditanamkan melalui perantaraan tangan Irisviel, masih terasa nyeri tumpul akibat belum terbiasa dengan tubuhnya, namun untuk pergerakannya, tidak ada masalah sama sekali. Berkat itu, seperti sebelum ia terluka, Maiya bisa membuntuti Lancer dan Master barunya, dan berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk menangkap Sola ketika Lancer tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, perhitungan Kiritsugu tepat, tetapi sama seperti sebelumnya, ia masih memandang Kayneth yang telah kehilangan haknya sebagai Master, sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aturan dari Kiritsugu adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang terpilih sebagai Master, bahkan walaupun mereka kehilangan Command Seals.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sebenarnya menyuruh Maiya menangkap Sola adalah untuk menanyainya tentang tempat persembunyian Kayneth. Interogasi itu tentu akan menjadi pengalaman yang kejam bagi Sola, namun meskipun begitu, tidak akan ada simpati atau belas kasihan dari Maiya.&lt;br /&gt;
Dalam situasi dimana manusia bertarung melawan manusia, kekejaman bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan Maiya sendiri pun memahami kenyataan sederhana itu apa adanya, apalagi Kiritsugu. &lt;br /&gt;
×　　　　　　×&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketenangan larut malam yang menyertai jalanan malam di Shinto terlihat jauh sekali, ketika ambulans dan mobil-mobil patroli terus melintas kesana-kemari. Bagi orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil menyorotkan lampu emergensi, mereka mungkin tidak akan mengerti keadaan seperti apa yang telah memaksa mereka untuk terburu-buru di ujung malam, maupun gambaran keseluruhan dari situasi itu. Mungkin mereka juga tidak akan mengerti bahkan sampai besok ataupun hari-hari selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan seorang pria tinggi berpakaian pendeta yang berjalan sendirian di sebuah jalan kecil pada saat larut malam, akan cukup untuk menjadi sasaran pertanyaan petugas sebagai orang yang mencurigakan dalam keadaan normal, namun malam ini mereka hampir semuanya bekerja mati-matian akibat menerima permintaan bantuan dan instruksi blokade yang bertutrut-turut, sehingga mereka bahkan tidak mungkin punya waktu untuk memperhatikan seorang pejalan kaki biasa. Di antara mobil-mobil patroli yang berkali-kali melewati Kotomine Kirei, tak ada satu pun yang mempedulikan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei yang diam-diam terburu-buru kembali ke Gereja Fuyuki, dan larut dalam pemikiran mendalam di dalam kepalanya, ia tidak menyisihkan perhatian sama sekali terhadap kekacauan kota dimana sisa-sisa penghancuran belum reda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selalu setia pada perintah, patuh pada tanggung jawab, ketat terhadap etikanya. Kirei telah berusaha begitu keras sampai hari ini. Tindakannya tidak pernah perlu diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tepatnya mengapa – ini adalah pertama kalinya ia menyimpan kebingungan akibat tidak bisa mengira maksud di balik tindakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula, Kirei segera menuju tempat pertarungan Tohsaka Tokiomi dengan maksud memberi bantuan pada gurunya – tetapi pada saat ia melihat bahwa lawan Tokiomi adalah Matou Kariya, Kirei memilih tidak bergabung dengannya sebagai bala bantuan, namun hanya bersembunyi di balik bayang-bayang; suatu tindakan yang sama seperti sabotase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas adalah benar bahwa ia mengetahui perbedaan kekuatan antara Tokiomi dan Kariya, dan keadaan itu membuat hal-hal seperti bantuan menjadi tidak berarti sejak awal. Jadi bahkan bila ia hanya berdiri di sisi pertempuran sebagai penonton, bisa dikatakan bahwa keputusannya ini sejalan dengan prinsipnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya setelah itu, adalah benar-benar penyimpangan dari tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat Tokiomi membuat Kariya jatuh dari atas atap apartemen, seolah menganggap itu sebagai kemenangan seutuhnya, ia bahkan tidak memeriksa mayat lawannya. Walaupun setengah-terkejut dengan kenekatan gurunya, Kirei bergerak memeriksa tubuh Kariya sebagai tindak-lanjut....... Ketika ia melihat sosok itu tak berdaya di lorong belakang tak lama setelah itu, Kariya masih bernafas.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semestinya, kalau ia adalah anjing pemburu dari pihak Tohsaka, segera memberikan pukulan terakhir adalah tugas yang jelas. Meskipun demikian, yang berlalu-lalang dalam pikiran Kirei setelah itu, adalah isi percakapannya dengan Archer pagi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Kotomine Kirei ingin memahami dirinya sendiri, bukan hanya Emiya Kiritsugu – tidak, mempriorotaskan lebih dari Kiritsugu, ia harus mengamati nasib Matou Kariya – itulah nasihat yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, itu adalah percakapn yang tidak menyenangkan. Suatu lelucon yang tidak pantas mendapatkan waktunya untuk didengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tetap saja, dengan pertunjukan kekuatan Tokiomi dan Kariya di hadapannya, apakah gerangan yang membuat Kirei memilih tindakan berdiri di samping sebagai penonton? Tidak ada perlunya ia tetap di sana kalau ia sudah memutuskan bahwa bantuan tidak diperlukan. Apakah lebih berarti baginya mencari para Master lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian, pada saat api yang dibentuk Tokiomi memerangkap Kariya...... Hal yang ada dalam pikirannya, bukankah itu perasaan kesal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia tiba-tiba menyadari apa yang sedang ia lakukan, Kirei sudah mulai memberikan magecraft pengobatan pertolongan-pertama pada tubuh Kariya. Membawa Kariya, yang kondisinya telah stabil walaupun dalam tidur yang dalam akibat tindakannya, ia meninggalkan medan pertempuran, dan meninggalkan Kariya di depan kediaman Matou sambil diam-diam menyembunyikan dirinya dari pandangan publik – Itu terjadi 15 menit yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukiran Command Seals masih ada di tangan Kariya. Kirei tidak menyaksikan pertempuran di Sungai Mion sampai akhir, namun seberapa pun luka yang ditimbulkan, Berserker sepertinya masih hidup.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menempuh jarak yang jauh dari Kota Miyama ke pinggiran daerah Shinto dengan langkah lambat, selama perjalanannya melalui Kota Fuyuki, Kirei masih tertekan oleh pertanyaannya-sendiri tanpa muncul jawaban – Mengapa gerangan ia melakukan hal seperti itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sama sekali berbeda dengan membeli dan menyimpan anggur yang ia tidak tahu rasanya. Itu bukan tindakan yang mengurangi keuntungan. Sampai sekarang, Kirei juga telah melakukan hal-hal rahasia tanpa izin Tokiomi, dan juga memberikan laporan palsu berulang kali kadang-kadang, namun itu bukanlah sesuatu yang bisa menghambat Tokiomi secara langsung. Harapannya akan konfrontasi dengan Emiya Kiritsugu dan kepemilikan Tokiomi atas Cawan Suci – bukanlah hal yang bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, tindakannya memperpanjang hidup Matou Kariya yang tadi memburu Tokiomi sebagai pembalasan dendam, tidak salah lagi telah mengubahnya menjadi musuh Tokiomi. Suatu tindakan pengkhianatan tanpa alasan yang bisa diterima. Dalam keadaan bahkan tak memiliki tujuan jelas, ia telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal. Malam ini, Kirei jelas telah menyeberang dari menjadi pelayan setia Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ia sadar akan gawatnya tindakannya, mengapa Kirei tidak memiliki sedikit rasa menyesal di dalam hatinya, namun justru kegembiraan yang tak dapat dijelaskan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Archer – apakah ia telah ditipu oleh heroic spirit Raja Para Pahlawan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan kakinya yang sedang berjalan, pikirannya sangat kelelahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja, Kirei merasa terbersit ide yang jarang terpikirkan, ingin bicara dengan ayahnya Risei. Sementara ia jujur pada Kirei hampir di segala bidang, ia adalah seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mengerti kekhawatiran Kirei. Meskipun begitu, kalau dipikir, bukankah Kirei tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan ayahnya sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun akhirnya ia akan membuat ayahnya sangat kecewa, kalau ia hanya mengutarakan isi pikirannya saja tanpa ada ketakutan – sementara hubungannya dengan ayahnya pasti akan berubah, tidakkah itu akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi Kirei?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pengharapan samar-samar ini dalam hatinya, mengesampingkan kekhawatirannya untuk sementara, Kirei terus berjalan menuju malam.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=217999</id>
		<title>Fate/Zero ~ Indonesian Version (Registration)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=217999"/>
		<updated>2013-01-06T14:24:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Fate/Zero */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Category:Registration Page]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan registrasi sangat gampang:&lt;br /&gt;
*Yang mau bantu langsung tulis nama user disamping chapter yang lu mau.&lt;br /&gt;
*Harus selesai satu-satu, jadi jangan ga bisa langsung ambil dua.&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak, &amp;quot;gw mesti abisin ampe selesai&amp;quot;, yang jadi tanggung jawab lo cuman 1 act yang lu mau klo ga slese, bisa langsung apus nama lu di samping chapter yang tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero==&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
*Prolog - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 8 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 3 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 1 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*Act 1&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Aquatorrent|Aquatorrent]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 2&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 3&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 4&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 - &lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup&lt;br /&gt;
**1 -&lt;br /&gt;
**2 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 5&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 6&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 7&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 8&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 9&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 10&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 11&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 12&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Selingan - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 13&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 14&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 15&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 16&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -&lt;br /&gt;
**Bagian 7 -&lt;br /&gt;
**Bagian 8 -&lt;br /&gt;
**Bagian 9 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 10 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 11 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 12 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Epilog&lt;br /&gt;
**Keesokan Harinya - [[user:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Setengah Tahun Kemudian -&lt;br /&gt;
**Lima Tahun Kemudian -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
*Komentar -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero - Cerita Lain==&lt;br /&gt;
*Heart of Freaks - [[User:Yamimaliq|Yamimaliq]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=217691</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=217691"/>
		<updated>2013-01-05T07:37:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* –48:11:28 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada tanda-tanda rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir secara teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu bagi Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menyergap ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=217690</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=217690"/>
		<updated>2013-01-05T07:35:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* –48:11:28 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada tanda-tanda rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir dengan teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu bagi Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menyergap ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=212744</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=212744"/>
		<updated>2012-12-15T02:32:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, sebatas itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai ke tahap dimana Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya adalah – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, pencapaian Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan keselamatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanan dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211841</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211841"/>
		<updated>2012-12-11T14:24:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Dia hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-geriknya secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika ia mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan hal-hal semacam vampir kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa semacam vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan perahu mesin di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas perahu mesin yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211839</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211839"/>
		<updated>2012-12-11T14:22:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, sebatas itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai ke tahap dimana Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya adalah – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, pencapaian Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanan dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211838</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211838"/>
		<updated>2012-12-11T14:18:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, sebatas itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai ke tahap dimana Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya adalah – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanan dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211331</id>
		<title>Fate/Zero ~ Indonesian Version (Registration)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211331"/>
		<updated>2012-12-09T14:59:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Fate/Zero */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Category:Registration Page]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan registrasi sangat gampang:&lt;br /&gt;
*Yang mau bantu langsung tulis nama user disamping chapter yang lu mau.&lt;br /&gt;
*Harus selesai satu-satu, jadi jangan ga bisa langsung ambil dua.&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak, &amp;quot;gw mesti abisin ampe selesai&amp;quot;, yang jadi tanggung jawab lo cuman 1 act yang lu mau klo ga slese, bisa langsung apus nama lu di samping chapter yang tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero==&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
*Prolog - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 8 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 3 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 1 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*Act 1&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Aquatorrent|Aquatorrent]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 2&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 3&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 4&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 - &lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup&lt;br /&gt;
**1 -&lt;br /&gt;
**2 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 5&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 6&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 7&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 8&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 9&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 10&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 11&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 12&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Selingan - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 13&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 14&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 15&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 16&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -&lt;br /&gt;
**Bagian 7 -&lt;br /&gt;
**Bagian 8 -&lt;br /&gt;
**Bagian 9 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 10 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 11 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 12 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Epilog&lt;br /&gt;
**Keesokan Harinya - [[user:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Setengah Tahun Kemudian -&lt;br /&gt;
**Lima Tahun Kemudian -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
*Komentar -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero - Cerita Lain==&lt;br /&gt;
*Heart of Freaks - [[User:Yamimaliq|Yamimaliq]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211329</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211329"/>
		<updated>2012-12-09T14:52:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Suatu saat, suatu tempat */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Dia hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-geriknya secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika ia mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan hal-hal semacam vampir kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa semacam vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan perahu mesin di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas perahu mesin yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211328</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211328"/>
		<updated>2012-12-09T14:48:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permohonan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211326</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211326"/>
		<updated>2012-12-09T14:47:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -37:02:47 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat menuju Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211324</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211324"/>
		<updated>2012-12-09T14:45:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -47:42:07 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah tak bepenghuni di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan tak berpenghuni yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi oleh banyak faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Wadah’ Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Wadah bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak untuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus melangkah keluar tanpa berbalik lagi satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211323</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211323"/>
		<updated>2012-12-09T14:41:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -37:02:47 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah untuk saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat ke arah Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211322</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211322"/>
		<updated>2012-12-09T14:38:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat ke arah Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211321</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211321"/>
		<updated>2012-12-09T14:19:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada tanda-tanda rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir dengan teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu untuk Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menyerang ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211320</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211320"/>
		<updated>2012-12-09T14:19:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah tak bepenghuni di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan tak berpenghuni yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Wadah’ Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Wadah bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus melangkah keluar tanpa berbalik lagi satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211319</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211319"/>
		<updated>2012-12-09T14:17:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah tak bepenghuni di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan tak berpenghuni yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Wadah’ Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Wadah bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211318</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211318"/>
		<updated>2012-12-09T14:16:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau &#039;&#039;familiar&#039;&#039;. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (&#039;&#039;Third Magic&#039;&#039;)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (&#039;&#039;Greater Grail&#039;&#039;). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai wadah bagi Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi wadah bagi ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi suatu ‘wadah’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk berbincang dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat ke arah Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun &#039;&#039;familiar&#039;&#039; yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211300</id>
		<title>Fate/Zero ~ Indonesian Version (Registration)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211300"/>
		<updated>2012-12-09T11:24:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Jilid 4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Category:Registration Page]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan registrasi sangat gampang:&lt;br /&gt;
*Yang mau bantu langsung tulis nama user disamping chapter yang lu mau.&lt;br /&gt;
*Harus selesai satu-satu, jadi jangan ga bisa langsung ambil dua.&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak, &amp;quot;gw mesti abisin ampe selesai&amp;quot;, yang jadi tanggung jawab lo cuman 1 act yang lu mau klo ga slese, bisa langsung apus nama lu di samping chapter yang tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero==&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
*Prolog - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 8 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 3 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 1 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*Act 1&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Aquatorrent|Aquatorrent]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 2&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 3&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 4&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 - &lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup&lt;br /&gt;
**1 -&lt;br /&gt;
**2 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 5&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 6&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 7&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 8&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 9&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 10&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 11&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 12&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Selingan - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 13&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 14&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 15&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 16&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -&lt;br /&gt;
**Bagian 7 -&lt;br /&gt;
**Bagian 8 -&lt;br /&gt;
**Bagian 9 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 10 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 11 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 12 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Epilog&lt;br /&gt;
**Keesokan Harinya - [[user:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Setengah Tahun Kemudian -&lt;br /&gt;
**Lima Tahun Kemudian -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
*Komentar -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero - Cerita Lain==&lt;br /&gt;
*Heart of Freaks - [[User:Yamimaliq|Yamimaliq]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211299</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211299"/>
		<updated>2012-12-09T11:23:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau familiar. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (Third Magic)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (Greater Grail). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai pembawa Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi pembawa ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi seorang ‘pembawa’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk berbincang dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat ke arah Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun familiar yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211298</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 4~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_4~_Indonesian_Version&amp;diff=211298"/>
		<updated>2012-12-09T11:22:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: Created page with &amp;quot;=== -37:02:47 ===   Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang b...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -37:02:47 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel membuka matanya lagi, hal pertama yang jatuh ke dalam pandangannya adalah cahaya matahari terbenam yang mewarnai jendela tinggi di gudang bawah tanah dengan kilau merah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kehilangan kesadaran, ia telah tenggelam dalam tidur lelap dan merasa seolah satu hari telah berlalu. Daripada tertidur, tubuhnya yang melemah lebih tepat dikatakan memasuki keadaan mendekati kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rasanya nyaman untuk saat itu, jadi mungkin istirahat panjang itu ada efeknya. Ia masih tidak punya cukup tenaga untuk duduk, namun setidaknya ia bisa mengumpulkan cukup nafas untuk bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel melihat ke samping dan menemukan Hisau Maiya masih duduk di sudut ruangan, masih seperti sebuah lukisan. Ia masih di tempat yang sama dengan sikap yang sama seperti sebelum Irisviel jatuh tertidur, tetapi pandangan setajam pisau yang terpancar dari matanya tak menunjukkan sedikit pun kelelahan atau kepenatan. Ia hanya memandang kosong ke udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terlihat bisa diandalkan, ia bisa dengan mudah disangka sebagai robot atau familiar. Bahkan Irisviel pun merasakan ketakutan pada taraf tertentu terhadapnya. Latihan seperti apa dan kemauan sekuat apa yang harus ia miliki untuk bisa mempertahankan fokus setingkat itu? Tidak bisa dibayangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kekaguman, Irisviel tiba-tiba menyadari – wanita bernama Hisau Maiya ini mungkin telah mencapai satu tingkatan di atas dunia yang dikejar Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hei, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel memanggil pelan. Bagaikan anjing yang tiba-tiba mendengar terompet pemanggilnya, Maiya segera mengalihkan pandangannya pada Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa... kau bertarung untuk Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku tak punya apapun lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia menyadari bahwa yang ia jaga tidak berada dalam kesakitan atau ketidaknyamanan dan hanya ingin mengobrol, Maiya sedikit mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang dan menjawab setelah berhenti sebentar untuk berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa mengingat apapun tentang keluargaku atau namaku. Nama ini, Hisau Maiya, diberikan padaku oleh Kiritsugu ketika ia membuatkanku paspor palsu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keterkejutan di wajah Irisviel, sudut mulut Maiya tertarik membentuk senyuman kecil. Untuk seseorang seperti dirinya, yang tak menunjukkan emosi yang tampak, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan suasana hatinya yang lebih santai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang bisa kuingat hanyalah negeri yang sangat miskin. Tak ada harapan, tak ada masa depan. Yang tersisa hanya kebencian komunal dan konflik memperebutkan makanan untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perang tak akan pernah usai. Tak ada dana lagi untuk membiayai tentara, namun saling bunuh terus berlanjut tanpa ada jeda... tak seorang pun ingat usul siapa itu, namun saat itu seseorang mengatakan bahwa lebih cepat mengirim anak-anak maju ke garis depan daripada menyewa tentara dan melatih mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena itu, aku tak mengingat apapun sebelum aku memegang senapan di tanganku. Aku hanya bisa terus membunuh yang lain demi memperpanjang hidupku. Membidik musuhku, menarik pelatuk; hanya itulah fungsi keberadaaanku. Selain itu, semuanya disingkirkan... anak-anak yang tak bisa melakukan itu dibunuh oleh anak-anak yang bisa melakukannya. Aku hidup tanpa tujuan seperti itu sampai aku bertemu Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Maiya bicara, ia menundukkan kepalanya dan memandangi tangannya. Jemari yang panjang, ramping itu tak memiliki kelembutan seorang wanita, dan hanya bisa dibandingkan dengan senjata tajam untuk membunuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai manusia, hatiku sudah mati. Hanya tubuhku yang masih berfungsi, memelihara perilaku sebagai manusia. Orang yang memungutku dan mempertahankan ‘hidup’ku adalah Kiritsugu; karena itu, ia bisa menggunakan hidupku dengan cara apapun yang ia inginkan... Itulah alasan mengapa aku masih ada di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Irisviel sudah lama menduga bahwa Maiya memiliki masa lalu yang tragis, hal yang ia katakan jauh melebihi bayangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terdiam dan tak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Kali ini, justru Maiya yang membuka mulutnya dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Oh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak menyangka Maiya mengatakan hal seperti itu dan hanya bisa merasa terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda selalu hidup di dalam kastil terpencil seperti itu dan hanya mengetahui sedikit tentang dunia luar. Mengapa Anda mendukung Kiritsugu, yang bersumpah untuk mengubah dunia, sampai-sampai Anda rela mengorbankan nyawa Anda sendiri...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya sekali lagi membuat Irisviel tenggelam dalam pemikiran yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, suaminya, pria dengan impian ‘menyelamatkan dunia’. Kini ketika Irisviel mengetahui bahwa ia mencari Cawan Suci yang tersembunyi dalam tubuhnya sendiri, apakah dirinya saat ini masih memegang cita-cita yang sama sepertinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Benar. Sejujurnya, aku tidak memahami cita-cita Kiritsugu sedalam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, jawabannya itu – negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada akhirnya, aku mungkin hanya berpura-pura memahami. Mungkin ini hanya agar aku bisa bersama-sama dengan orang yang kucintai. Seperti yang kau katakan, Maiya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang dunia yang ingin diubah Kiritsugu. Cita-cita dalam hatiku mungkin hanyalah sesuatu yang diajarkan Kiritsugu padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau berpikir begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah perasaan yang luar biasa bagi Irisviel. Di hadapan orang ini ia telah mengatakan sesuatu yang tak akan pernah ia katakan di depan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaaan seperti apapun, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mempercayai bahwa dia benar. Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku demi idealismenya. Aku berpura-pura memiliki idealisme yang sama sepertinya. Kalau aku meyerahkan nyawaku demi idealisme yang kami yakini bersama – dibandingkan seorang wanita yang semata-mata mengorbankan diri demi suaminya, bukankah aku akan menjadi beban yang lebih ringan bagi Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintanya pada Kiritsugu dan kepercayaannya pada Saber adalah dua perasaan yang sama sekali berbeda. Bagi Irisviel, perasaan mengandalkan seseorang ini, perasaan yang baru pertama kali ia miliki, mungkin bisa disebut ‘persahabatan’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu, &#039;&#039;Madam&#039;&#039;, tidakkah Anda memiliki permintaan Anda sendiri?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ditanya pertanyaan ini lagi, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain teringat pertempuran yang ia dan Maiya hadapi bersama di hutan. Saat itu, dihadapkan pada kehadiran Kotomine Kirei yang dahsyat dan jauh melebihinya, dari mana datangnya gelora semangat bertarung itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mungkin memiliki... satu permohonan. Aku ingin Kirisugu dan Saber mendapatkan kemenangan. Aku, demi mereka, ingin mereka mendapatkan Cawan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, itu juga berarti kematian Irisviel, perpisahan selamanya dengan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, walaupun begitu, permohonan ini – menjadi sumber yang memberikan dorongan keberanian dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu... yang dikatakan permohonan keluarga Einsbern, keberhasilan mendapatkan Magis Ketiga (Third Magic)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku bahkan tak peduli kalau kita tak mendapatkan Cawan Agung (Greater Grail). Yang kuharapkan adalah berakhirnya peperangan untuk selamanya. Sama dengan apa yang dicari Kiritsugu; mengubah susunan dunia ini dan mengakhiri seluruh pertempuran. Pertempuran memperebutkan Cawan Suci di Kota Fuyuki ini juga bukan pengecualian, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah yang keempat kalinya, dan aku memohon supaya ini menjadi &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; terakhir, dan mengenai homunculus yang dikorbankan sebagai pembawa Cawan – aku harap aku akan menjadi yang terakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Illyasviel von Einsbern. Makhluk dengan segala pencapaian hebat alkemi terkumpul dalam dirinya, dilahirkan dari rahim seorang homunculus dan dibuahi dengan sperma seorang magus. Walaupun ia belum pernah melihatnya dengan matanya sendiri, Maiya sudah mendengar keberadaannya sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah rencana sang kepala keluarga. Untuk ‘penjaga Cawan’ setelahku, ia berencana menggunakan homunculus dengan mekanisme yang bahkan lebih hebat lagi. Ia tidak hanya menanamkan rahasia Cawan Suci pada embrio, ia juga menambahkan Sirkuit Magis pada penampilan luarnya dan membuat tubuh fisiknya mampu menjadi pembawa ‘Cawan’ dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kepala keluarga kami telah memperkirakan kemungkinan adanya ‘putaran Kelima’ sebelum &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; keempat dimulai, dan ia mengizinkanku melahirkan Ilya. Kalau Kiritsugu dan aku gagal, anak itu akan menjadi bahan percobaan untuk ‘&#039;&#039;Dress of Heaven&#039;&#039;’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, suara Irisviel dipenuhi kelembutan dan rasa cinta pada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah bukti nyata bahwa sang homunculus yang bernama Irisviel ini bukanlah semata-mata mesin buatan. Ia memiliki hati seorang manusia, kebaikan cinta, senyum kebahagiaan, dan air mata kesedihan. Perasaan hangat yang mengembang di hatinya adalah bagian terpenting untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketika aku menggendong anak itu dan menyusuinya...aku juga sangat menyadari bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdir menjadi seorang ‘pembawa’ pada akhirnya. Bisakah kau memahami perasaan seorang ibu yang merasakan keputusasaan tanpa akhir ketika memandangi anak yang disayanginya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya terdiam dan tak menjawab. Irisviel melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, itu adalah takdir yang dipikul homunculus keluarga Einzbern. Apakah itu anakku atau cucuku, kesedihan ini akan terasa lagi dan lagi setiap kali seorang anak perempuan lahir. Takdir ini akan berulang setiap kali Cawan Suci Fuyuki turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, aku berharap rasa sakit ini bisa berakhir di sini bersamaku, menggunakan tubuhku untuk mengakhiri permohonan bodoh keluarga Einsbern. Kalau permohonanku bisa terwujud, maka putriku akan terbebas dari takdir yang tragis ini. Anak itu mungkin akan bisa menjalani seluruh hidupnya sebagai manusia dan tidak berurusan dengan Cawan Suci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu perasaan seorang ibu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah ketika Maiya menanyakan ini, Irisviel menyadari bahwa ia menunjukkan terlalu banyak perasaannya. Ia memberikan senyuman malu-malu, dan pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin. Mungkin kau merasa sulit untuk memahaminya, Maiya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak terlalu sulit. Aku sendiri juga pernah menjadi seorang ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jawaban yang mengejutkan. Irisviel hampir meragukan telinganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa sedikit menyesal telah mengejutkan Irisviel, Maiya menceritakan kejadian itu dengan suara tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... sebenarnya pernah mengalami kehamilan dan persalinan, walaupun bisa dikatakan itu suatu kecelakaan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau pernah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Aku tak tahu siapa ayahnya. Selama perang, setiap malam di barak, prajurit laki-laki akan mendatangi kami prajurit perempuan dan... aku tak bisa mengingat kapan mulainya... yang jelas, aku hamil segera setelah aku menjadi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak itu tidak diberi nama dan aku tak tahu apakah ia masih hidup. Kalau ia tidak mati, ia pasti masih ada di suatu sudut yang jauh di medan pertempuran, bertarung demi hidupnya. Anak-anak di sana semuanya diberi senapan dan dikirim ke medan perang segera setelah mereka menginjak usia lima tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana bisa...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ia mendengar mantan prajurit anak-anak di hadapannya ini menceritakan kembali kisah-kisahnya di masa lalu, Irisviel tak bisa berbuat apa-apa selain merasa tertegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda terkejut? Tetapi itu jelas bukan hal yang baru di dunia ini, bukan? Para teroris modern dan kelompok-kelompok gerilyawan perang semua mengetahui keuntungan menggunakan anak-anak sebagai prajurit, dan yang cepat berhasil sepertiku juga menjadi buktinya. Karena itu, anak-anak yang mengalami hal yang sama denganku ini tidak berkurang jumlahnya di zaman modern, tetapi justru meningkat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya bercerita dengan tenang, matanya tampak semakin dan semakin tidak hidup. Kesedihan dan kebencian juga mulai menghilang dari suaranya. Mungkin yang tersisa dalam ingatannya hanyalah keputusasaan tanpa akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&#039;&#039;Madam&#039;&#039;, mungkin Anda berpikir dunia yang Anda lihat untuk pertama kalinya dengan mata Anda sendiri sangat indah dan Anda iri pada orang-orang yang hidup bahagia di sana. Bagaimanapun, aku sangat iri pada Anda, yang selalu tinggal di kastil itu. Anda tidak mengalami satu pun ketakutan dan keburukan dunia ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun tak ada rasa iri hati atau benci dalam pemikiran Maiya, Irisviel merasa agak malu mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya tampak menyadari perasaan Irisviel, sehingga ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dunia yang seperti itu benar-benar bisa diubah... maka tak peduli bagaimanapun Kiritsugu akan menggunakan hidupku sampai akhir, aku tak akan mengucapkan sepatah pun kata penolakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tak tahu cara melakukan apapun selain bertarung – Maiya bergumam pelan pada dirinya sendiri. Tanpa tujuan dan tanpa harapan, hatinya segersang lahan tandus yang habis dilalap api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun perasaan dalam dirinya sangat berbeda dengan Kiritsugu, ajaibnya mereka mirip sebagai prajurit. Keberadaan Maiya selalu menjadi pengingat bagi Kiritsugu, dan pada saat yang sama memberikan contoh baginya. Karena ada Maiya di dekatnya, Kiritsugu telah mengunci dirinya dalam pilihan ini dan menjadikan dirinya sendiri mesin pembunuh kejam yang tak mengenal kasihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa... yang ingin kau lakukan setelah Kiritsugu mendapatkan permohonannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Irisviel menanyakan ini, mata Maiya sekali lagi tampak bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku tak pernah membayangkan bisa menyelesaikan tugas ini dan tetap hidup. Kalau aku benar-benar berhasil bertahan hidup, aku tak akan punya alasan untuk tetap hidup. Tak akan ada tempat bagiku di dunia yang sudah diubah oleh Kiritsugu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu dunia tanpa peperangan tak punya tempat untuk seseorang seperti dirinya, seseorang yang tak mengetahui apapun selain pertempuran. Bagi Maiya, itu adalah kesimpulan yang masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan sedih, melankolis seperti itu membuat Irisviel bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu tidak benar. Maiya, kau masih punya hal yang harus kau lakukan setelah perang berakhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel meneruskan bicara sambil menatap mata yang kebingungan milik sang prajurit wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus mencari keluargamu dan namamu sebenarnya, dan keberadaan anakmu. Itu adalah hal-hal yang tak boleh dilupakan. Hal-hal yang harus diingat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitukah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontras dengan semangat Irisviel, jawaban Maiya penuh dengan ketiadaan emosi dan ketidakpedulian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kita benar-benar bisa menyongsong dunia tanpa perang, maka kenangan-kenangan milik orang-orang sepertiku akan jadi tak lebih dari mimpi buruk. Mengingatnya hanya akan membuatku semakin merasa sakit. Apakah Anda ingin aku membawa benih kebencian ke dalam utopia yang akhirnya bisa kita ciptakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak benar. Hidupmu bukanlah mimpi. Hidupmu berisi kenyataan yang benar-benar terjadi. Perdamaian yang diciptakan dengan mengubur semua kenangan itu dalam kegelapan tidak lain hanyalah kebohongan penuh dosa. Kurasa kedamaian dunia sejati tidak boleh begitu saja melupakan rasa sakit di masa lalu itu. Justru, kita harus dengan khidmat mengingat rasa sakit dan pengorbanan di masa lalu itu agar kita tidak jatuh ke jalan kesedihan yang sama dan bisa terus menciptakan dunia baru yang damai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap Irisviel dalam diam – lalu berkata dengan wajah yang sedikit lebih lega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anda mestinya mengatakan hal itu pada Kiritsugu lebih cepat. Seandainya Anda dulu melakukannya, mungkin ia sudah mendapatkan pembebasan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata Maiya membawa kegembiraan sekaligus kesepian ke dalam hati Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin – karena ia sudah berada di ambang kehancuran, ia tak akan pernah punya kesempatan untuk berbincang dengan suaminya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Maka, Maiya, kupercayakan padamu untuk menyampaikan kata-kata itu padanya. Katakan padanya aku mengatakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menjawab sambil mengangkat bahunya sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan melakukan apa yang kuanggap pantas. Tapi itu nanti setelah perang berakhir. Kita tidak boleh gegabah saat ini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara Maiya sangat dingin, Irisviel masih mendengar candaan dalam suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar, kau ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Irisviel selesai bicara, gudang bawah tanah itu tiba-tiba mulai berguncang hebat.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Maiya melesat ke arah Irisviel dan memegang bahunya, segera beralih ke mode pertempuran. Tatapannya menjadi setajam pisau, dan ia meraih senapan mesin ringan miliknya dengan tangan kanannya dan mengarahkannya ke pintu besi gudang bawah tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gudang bawah tanah itu berguncang sekali lagi. Kali ini, pintu besi yang tebal dan berat itu dirusak oleh hantaman keras dari luar, seolah seseorang di luar memukulnya dengan kuat. Itu adalah perbuatan hebat yang hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan alat mekanik. Bagi dua peserta &#039;&#039;Heaven’s Feel&#039;&#039; ini, ini bukanlah sesuatu yang cukup mengejutkan – justru, mereka hanya merasakan keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu benar-benar seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang mencoba menyerang ke dalam gudang bawah tanah, maka senjata milik Maiya akan sama sekali tidak berguna untuk menghadapinya. Terlebih lagi, mereka bahkan tak bisa melarikan diri dalam situasi saat ini, benar-benar terjebak di sudut mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, bahkan sebelum ketakutan bisa melintasi pikiran mereka, ada suatu kebingungan yang sulit dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang mungkin mengetahui bahwa Irisviel tengah bersembunyi di gudang bawah tanah ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawar perlindungan seharusnya sudah mengenali penerawangan apapun maupun familiar yang datang. Bagaimanapun, musuh tidak melakukan pengintaian apapun dan langsung mengirimkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; ke rumah Irisviel yang aman dengan sedemikian tepatnya; mungkinkah musuh sudah mengetahui tempat ini sejak lama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guncangan ketiga. Sebelum pintu besi dihancurkan, dinding tanah di sekelilingnya sudah tak sanggup lagi menerima hantaman yang demikian kuat dan runtuh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diiringi kepulan debu, pintu besi itu jatuh ke gudang bawah tanah. Matahari terbenam yang bersinar melalui celah pintu, mewarnai ruangan dengan bayangan merah darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sosok raksasa yang membayang di balik puing-puing dan debu itu tak diragukan lagi adalah – &#039;&#039;Servant&#039;&#039; Rider, Raja Para Penakluk, Alexander.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya hanya bisa menggenggam senapan mesin ringan di tangannya dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]] &lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_14_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211241</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211241"/>
		<updated>2012-12-09T04:21:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Suatu saat, suatu tempat */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Dia hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-geriknya secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika ia mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan hal-hal semacam vampir kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa semacam vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan motor boat di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan &#039;&#039;Shura&#039;&#039; yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas motor boat yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211238</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211238"/>
		<updated>2012-12-09T04:17:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Dia hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-geriknya secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika ia mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan hal-hal semacam vampir kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa semacam vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan motor boat di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan Shura berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan Shura yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas motor boat yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211232</id>
		<title>Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Jeda~_Indonesian_Version&amp;diff=211232"/>
		<updated>2012-12-09T04:07:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_005.png|thumb|Jeda.]]&lt;br /&gt;
=== Suatu saat, suatu tempat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau tahu dari mana nama pulau ini berasal, bukan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley bertanya dengan santai sambil mengendalikan setir mobil yang berderit-derit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak laki-laki yang dipanggil Kerry, yang duduk di kursi penumpang, menggelengkan kepalanya dan bergumam “Tidak terlalu,” seolah takut goncangan kuat dari kendaraan itu akan membuat dia menggigit lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Truk pick-up yang mereka berdua kendarai adalah kendaraan yang sangat antik yang mungkin saja berasal dari masa ketika penggunaan kereta kuda baru saja ditinggalkan. Ditambah lagi, jalan dimana mereka berkendara saat ini bukanlah jalanan beraspal rata, melainkan jalanan tanah. Bahkan gerobak-sapi pun harus mengurangi kecepatan di jalanan seperti ini. Saat ini, mereka merasa hampir seperti sedang duduk di perahu kecil yang terapung di lautan di tengah badai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kendaraan ini tampak seperti seonggok sampah yang sudah tidak bisa dipakai lagi, ini adalah satu dari hanya tiga atau empat kendaraan yang berharga di Pulau Arimago – selain itu, sebagai desa nelayan dengan hanya sekitar 300 keluarga, orang yang memerlukan kendaraan tidak cukup banyak di Pulau Arimago. Orang yang kerepotan hidup tanpa kendaraan mungkin hanya keluarga si anak laki-laki tadi dan Shirley, sang pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah si anak laki-laki yang terpisah jauh, cukup jauh dari desa nelayan, benar-benar tidak ada sarana transportasi lain selain truk usang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Arimago... artinya kepiting raksasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengangguk dan menjawab pertanyaan si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaman dahulu kala, pulau ini adalah tempat yang digunakan untuk meletakkan persembahan kepada dewa laut. Tetapi, pada suatu saat, ada seorang gadis yang tidak punya apa-apa untuk memberi makan ibunya yang sakit, dan harus mencuri persembahan untuk sang dewa. Lalu, gadis itu mendapat hukuman langit, dan wujudnya dirubah menjadi kepiting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita yang mengerikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, dikatakan bahwa kalau kau memakan kepiting yang ditangkap di pulau ini, penyakit apapun akan sembuh. Ibu si gadis tadi juga sembuh dari penyakitnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu lebih parah. Benar-benar dewa laut yang kejam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, cerita rakyat seperti ini, seperti yang terekam dalam berbagai media semacam lukisan permadani, bukanlah sesuatu yang langka. Bila dilihat secara seksama, cerita seperti ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Um, apakah kuil tempat orang-orang memberikan persembahan kepada dewa ini masih ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menghilang sejak lama. Lagipula, tak seorang pun tahu apakah kuil itu benar-benar ada. Berdasarkan cerita, kelihatannya kuil itu dibangun tepat di samping kediaman Kerry sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan si gadis yang dirubah menjadi kepiting itu benar-benar pergi ke jantung pedalaman hutan yang jauh ini hanya untuk mencuri persembahan? Padahal jauh lebih praktis menangkap ikan di pantai saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cerita itulah alasan mengapa penduduk desa tidak mau dekat-dekat dengan rumahmu. Legenda mengatakan bahwa tempat itu berbahaya, dan kau akan kena kutukan kalau kau terlalu sering mendekatinya. Aku juga sudah diperingatkan tentang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bagaimana! ... Lalu bagaimana denganku, yang tinggal di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry kan pendatang. Tapi walaupun begitu, bukankah penduduk desa melihatmu sebagai adik laki-lakiku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun kata ‘adik laki-laki’ itu tidak benar-benar membuat si anak laki-laki merasa lega, dibandingkan ayahnya, yang tidak pernah melangkah keluar rumah, Kerry memang perlu membantu Shirley berbelanja setiap hari. Dengan demikian, mereka akan naik truk untuk pergi ke desa setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah hampir setahun sejak anak laki-laki itu pindah ke pulau ini. Seluruh penghuni pulau akan menyapa si anak laki-laki dengan hangat kapanpun mereka menjumpainya. Bahkan anak-anak laki-laki lain di desa, yang semula selalu mengajaknya berkelahi kapanpun mereka berjumpa, sekarang juga sudah mengolok-olok orang bersama dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun berada di tanah asing yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, si anak laki-laki tetap sangat menyukai tempat bernama Pulau Arimago ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun setiap hari dia merasa sangat bosan selama minggu-minggu pertama setelah kepindahannya, matahari selatan yang mempesona dan ombak lautan selatan yang berkilau warna-warni perlahan-lahan telah menawan hati Kerry. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagi ayahnya, yang tidak pernah mendekati siapapun dan tak pernah melangkah keluar rumah sama sekali, akan sulit untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang menyenangkan di sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saja ayah mau lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di desa, dia pasti akan jadi sedikit berbeda...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, entah ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil dengan mahir mengendalikan setir menghindari batu-batu cadas besar yang mencuat keluar di jalanan, Shirley tersenyum pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapa Simon tidak pernah menyukai perbuatan ayahmu, dan sering menceramahiku dengan hal-hal seperti cepat atau lambat aku akan terkena jeratan iblis kalau aku masih bekerja di rumah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu ya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tak bisa berbuat apa-apa selain merasa agak sedih ketika mengetahui bahwa Bapa Simon, yang selalu tampak baik hati, akan menilai ayahnya seperti itu di belakangnya. Tapi apa boleh buat. Daripada itu, ia justru merasa lega karena tanggapannya hanya sampai sebatas itu. Bapa Simon pasti akan mengusir baik sang ayah maupun anak keluar dari pulau kecil ini kalau ia benar-benar mengetahui apa yang dilakukan ayah dari si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley  menepuk punggung bawahnya, dan memberi isyarat pada Kerry untuk melihat pedang perak pendek di sabuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat pisau ini. Bapa Simon  memaksaku membawanya dan tak mau aku meninggalkannya. Katanya ini adalah jimat yang sangat berguna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah itu pisau yang selalu kau pakai untuk mengupas buah-buahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm, itu karena pisau ini sangat tajam dan mudah digunakan. Pasti ini sesuatu yang sangat berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley melanjutkan bicaranya dengan nada tenang. Berbeda dengan si anak laki-laki, ia tampak tidak merasakan kesuraman apapun dalam topik pembicaraan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah kau takut, Shirley? Tidakkah kau takut pada ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun si anak laki-laki sedikit ragu-ragu, ia menanyakan pertanyaan ini juga akhirnya. Shirley mengangguk mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti ayahmu bukanlah orang normal, dan dengan perilakunya itu bukannya tidak masuk akal juga kalau penduduk desa jadi berjaga-jaga terhadapnya. Bagaimanapun, karena dia melakukan penelitian seperti itu, apa boleh buat kalau ia harus meninggalkan kota dan datang ke pulau terpencil begini untuk hidup seperti pertapa. Tapi ini menunjukkan bahwa ayahmu benar-benar orang yang mengagumkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menyadari bahwa entah kenapa, Shirley akan tiba-tiba menjadi lebih dewasa dan perasa kapanpun mereka bicara tentang ayahnya. Shirley hanyalah seorang gadis yang lebih tua 4 tahun darinya, tentu dia tidaklah sematang orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau mengambil sesuatu dari pengetahuan dan penemuannya, itu akan menjadi penemuan besar yang bisa mengubah semua di dunia. Tentu saja, siapapun akan takut untuk mengetahui hal itu, dan tak ada pilihan selain menyimpannya sebagai rahasia... tapi bagiku, aku sungguh percaya bahwa kekuatan seperti itu bisa sangat menolong dunia ini. Aku selalu sangat mempercayai itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah hal seperti itu, benar-benar mungkin bisa terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia mungkin sudah menyerah terhadap hal itu. Tapi Kerry, kalau itu kau, aku percaya pasti akan berhasil!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu dengan ekspresi serius di wajahnya. Namun malah si anak laki-laki berkata dengan kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu? Bukankah kau, Shirley, adalah murid kesayangan ayahku? Bukankah Shirley yang akan meneruskannya kalau itu terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley, yang sering datang ke rumah si anak laki-laki, tidak hanya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti merapikan rumah; ia juga membantu sebagai asisten dalam pekerjaan ayahnya. Ayahnya itu pernah berkata bahwa gadis yang bernama Shirley ini memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa, dan sungguh sayang membiarkannya begitu saja di pulau terpencil ini. Adalah menunjukkan sesuatu tentang bakat Shirley kalau ayahnya, yang selalu merahasiakan segala sesuatu, mau mempercayai seorang perempuan asing sampai sejauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Shirley sendiri tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bukan murid atau apapun. Paling bagus juga aku cuma seorang asisten, orang yang mengerjakan sembarang pekerjaan dan membantu-bantu. Dengan begitu, aku tak mengetahui apapun tentang bagian pentingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kerry, kau berbeda denganku. Kau pasti akan mewarisi karya ayahmu. Penelitian yang dilakukan ayahmu saat ini akan harus kau teruskan suatu saat nanti. Apakah kau siap untuk itu? Meskipun agak terlalu cepat bagimu membicarakan hal itu.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan itu semua dengan jelas, layaknya seorang kakak perempuan yang khawatir akan adik laki-lakinya. Untuk sesaat, si anak laki-laki terperangkap dalam perasaan-perasaan rumit di hatinya dan tak bisa bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak punya ingatan apapun tetang ibunya, yang meninggal dunia tepat setelah ia lahir.&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, yang disebutnya keluarga hanya terdiri dari ayahnya. Walaupun ayahnya itu aneh dan sangat keras, ia adalah seorang ayah yang sangat baik dan hebat. Dia adalah orang yang paling dihormati dan dicintai di seluruh dunia oleh si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pada awalnya, hati si anak laki-laki memberontak saat ia mengetahui bahwa sang ayah, yang paling dikaguminya, lebih memilih seorang asisten daripada putranya sendiri. Bahkan ada suatu masa dimana ia merasakan kebencian terhadap Shirley. Tetapi perangai ceria dan sikap lembut Shirley telah mengurai simpul di hatinya, dan masa itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seperti ada anggota baru dalam keluarganya. Shirley menghormati ayah si anak laki-laki seperti ayahnya sendiri, dan mengurus si anak laki-laki seperti benar-benar adik laki-lakinya. Bagi si anak laki-laki, yang tidak mempunyai kerabat perempuan, kata ‘kakak perempuan’ itu jauh melampaui makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak... mungkin tidak sebesar ini pada awalnya, tapi saat ini perasaan aneh itu telah muncul dalam dada si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sangat mengetahui kelembutan, keceriaan, dan kebaikan Shirley. Tapi lebih dari itu, bahkan gerak-gerik Shirley secara tidak sadar – seperti sosoknya saat ini yang sedang mengendalikan setir sambil bersenandung – juga tampak begitu indah. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerry, kau ingin jadi orang seperti apa? Dan kalau kau mewarisi karya ayahmu, bagaimana kau ingin menggunakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... eh?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki yang sedang melamun tiba-tiba ditarik kembali pada kenyataan oleh pertanyaan Shirley. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan untuk mengubah dunia. Suatu hari kau akan mendapatkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warisan ayahnya. Adalah bohong kalau ia bilang tak pernah memikirkannya. Si anak laki-laki sepenuhnya mengerti nilainya dan bagaimana pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi si anak laki-laki sendiri tampak cenderung ragu-ragu untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, terutama di depan Shirley. Ia tidak mau orang lain mengatakan impiannya itu naif, terutama Shirley.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Itu rahasia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley tertawa tanda mengerti, lalu bertanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku akan menggunakan mataku sendiri untuk memastikan apa yang ingin Kerry lakukan ketika ia tumbuh dewasa. Sampai aku mendapatkan jawabannya, aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lakukan sesukamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seolah merasa malu, si anak laki-laki memalingkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi walaupun begitu, senyuman si gadis yang hampir seperti kakak perempuannya itu masih jauh terlalu mempesona bagi si anak laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulit seputih lilin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urat nadi hitam-kebiruan yang menyeruak mencabik penampilannya hingga berkeping-keping. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi, sarat dengan kebencian mendekati-kematian, memenuhi wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mati – itu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun dia akan mati, dia masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau itu ekspresi seorang manusia, maka manusia ini akan segera menjadi sesuatu yang bukan manusia – hati si anak laki-laki memahami ini dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam di luar. Tentu saja, tidak ada lampu jalan di pulau ini. Meskipun begitu, cahaya putih dingin yang berasal dari bulan yang terang dan murni di luar menerangi pemandangan tragedi ini dalam diam melalui jendela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kandang ayam di pinggiran desa. Ketika mencari Shirley, yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, si anak laki-laki berjalan melewati setiap inchi desa sepanjang hari. Si anak laki-laki tidak menyerah dan tetap mencari hingga malam. Lalu ia sampai kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai-bangkai ayam yang sudah dimakan, dan si “Mati” yang terus gemetar dan menangis jauh di dalam kandang ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si “Mati” yang berwajah sama dengan wanita yang paling ia sukai memohon padanya sambil terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, pedang perak pendek yang dilemparkan dekat kaki si anak laki-laki memantulkan dingin dan pucatnya cahaya bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya sendiri—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Karena itu, kumohon. Bunuh aku—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Selagi masih ada waktu—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal seperti itu...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggelengkan kepalanya, si anak laki-laki mundur ke belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku tak bisa melakukannya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kau berubah wujud menjadi apapun, Shirley adalah Shirley. Kita berjanji untuk bersama-sama selamanya. Dia adalah keluarga yang paling berharga—tidak, dia bahkan lebih berharga dari keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Shirley terengah kesakitan. Perlahan suaranya menggila. Bersamaan dengan isakan memilukan, si gadis mengeluarkan suara engahan bagaikan binatang buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Sudah—berakhir—sebelum aku sepenuhnya kehilangan kendali atas diriku—cepat—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Shirley mulai menggigil hebat seolah terkena malaria, lalu ia tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyembur... suara darah memercik keluar memasuki gendang telinga si anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kumohon—&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara memohon yang terus-menerus menenggelamkan jeritan tragis si anak laki-laki. Si anak laki-laki berlari keluar dari kandang ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menimbulkan ketakutan pada si anak laki-laki lebih dari Shirley yang ada di depannya – adalah cahaya yang berasal dari pedang pendek di sebelah kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan dia tidak ingin mengetahuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, yang dimohonkan anak laki-laki itu dalam doanya hanyalah hadirnya seseorang untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki sungguh-sungguh percaya bahwa pasti ada seseorang yang bisa melepaskan mereka dari ketakutan mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley pasti akan diselamatkan. Seseorang pasti akan menyelamatkan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berulang-ulang mengatakan itu pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke gereja Bapa Simon kalau ia berlari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki berlari demi hidupnya sambil menangis. Baik nyeri di kakinya maupun kesedihan dalam hatinya, ia tidak bisa lagi merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia Kaminski. Wanita itu berkata itulah namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini mengenakan jas panjang hitam bagai tinta yang sangat tidak cocok untuk malam di daerah tropis, tapi ia tak tampak berkeringat. Daripada dingin dan kejam, roman mukanya lebih tepat disebut tanpa ekspresi. Yang bahkan akan membuat orang lain ragu apakah benar-benar ada darah yang mengalir dalam dirinya, dan apakah dia memiliki panas tubuh layaknya orang normal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah penampilan sang penyelamat yang menyelamatkan si anak laki-laki dari huru-hara yang membinasakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, nak. Saatnya kau menjawab beberapa pertanyaan untukku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan punggung membelakangi suara dingin wanita itu, si anak laki-laki hanya terpaku menatap desa nelayan yang jauh yang sudah terbakar rata dengan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa yang masih begitu damai bahkan sampai kemarin, desa yang masih terlelap di bawah sunyi cahaya bulan hanya beberapa jam yang lalu, benar-benar sedang terbakar dalam api yang tak berkesudahan. Ia masih tak bisa mempercayai pemandangan di depan matanya bahkan walaupun ia berdiri di atas perbukitan di seberang perkampungan itu dan melihatnya sendiri; ia berpikir ini semua hanyalah mimpi buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak akan pernah melihat wajah-wajah yang akrab dan ramah di desa itu lagi – dia tak bisa mempercayainya apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apa yang, sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki bertanya dengan suara kering. Natalia mendengus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akulah yang lebih dulu bertanya. Nak, bukankah sudah saatnya kembali pada akal sehatmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki tiba-tiba menolehkan kepalanya. Bahkan walaupun ia berhutang nyawa pada wanita itu, sungguh menjengkelkan ketika wanita itu mengabaikan perasaannya, tak menjawab pertanyaannya, dan sebaliknya justru terus dan terus bersikukuh pada pertanyaan si wanita itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sepi yang lama melekat, Natalia tampak mulai memahami pikiran si anak laki-laki. Lalu, ia menghela nafas pasrah, dan memberi penjelasan singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saat ini, ada dua kelompok yang menyebabkan tragedi di desa itu. Kelompok yang satu adalah Executor yang bekerja untuk Gereja Suci. Mereka sangat berbeda dengan pendeta-pendeta ramah yang kau kenal. Mereka adalah orang-orang kejam yang meyakini bahwa semua yang mengkhianati Tuhan harus dibunuh. Tentu saja, mereka akan tanpa ampun memusnahkan hal-hal semacam vampir kalau mereka melihatnya. Kalau mereka tak punya waktu untuk memeriksa satu per satu orang yang darahnya dihisap, mereka akan menghancurkan seluruh tersangka. Dengan kata lain, orang-orang itu tak punya banyak waktu saat ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kelompok satunya lagi dinamakan Asosiasi. Ini agak sulit dijelaskan – pada dasarnya mereka adalah kelompok yang hanya menginginkan hal luar biasa semacam vampir. Dengan sendirinya, untuk menjadi pemilik tunggal, mereka akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang apapun yang berhubungan dengan itu. Tak ada artinya kalau tak melakukannya sampai tuntas demi menghancurkan bukti dan menyembunyikan kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, bocah, kau sangat beruntung. Kau mungkin satu-satunya penghuni pulau ini yang saat ini bertahan hidup dari penumpasan yang dilakukan orang-orang itu.”  &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Si anak laki-laki menerima kenyataan itu bahkan lebih mudah dari yang diperkirakan Natalia. Seolah si anak laki-laki telah melihat alasan orang-orang berbahaya itu datang ke Pulau Arimago sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si anak laki-laki buru-buru ke tempat Bapa Simon untuk mencari bantuan, dan sang pendeta yang menerima permintaan ini menghubungi beberapa orang. Berberapa orang di luar pulau pasti telah menerima informasi ini ketika sang pendeta menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas dari rangkaian peristiwa itu, setidaknya awal dari tragedi ini jelas berhubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya tadi si anak laki-laki mendengarkan permohonan Shirley dan berani menancapkan pedang perak putih pendek itu ke dada gadis yang paling dia sayangi, maka tragedi saat ini tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tadi dia melakukannya, maka walaupun saat ini ia akan berubah menjadi cangkang kosong tanpa jiwa atau bahkan walaupun ia tak pernah bisa lagi tertidur di malam hari – nyawa sebanyak ini tak akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi si anak laki-laki, itu sama seperti dia sendiri yang telah menyulut api di tempat penuh kenangan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Lalu, kau ada di sisi mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seperti penjual untuk Asosiasi. Pekerjaanku adalah mencari rahasia yang menarik perhatian mereka, melindungi rahasia itu supaya tak diketahui orang lain dan menyerahkannya ke tangan mereka. Tentu saja, harus dijual pada mereka sebelum insiden besar seperti ini terjadi. Tidak bisa dijual lagi sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia mengangkat bahu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Wanita berpakaian hitam itu seolah memancarkan aroma kematian dari seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Nak, kembali pada pertanyaan tadi. Sudah saatnya kau menjawab pertanyaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebut Lambang Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation&#039;&#039;) – kau tahu apa artinya itu? Juga, dimana si Magus jahat, dimana pelaku insiden vampir ini, bersembunyi di pulau ini? Apa kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun terdengar begitu dalam bagi si anak laki-laki, sebenarnya kata-kata itu tepat mengenai inti permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerry bukanlah nama asli anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama anak laki-laki itu, yang terlahir di suatu negeri yang asing, dan jauh, sangat sulit diucapkan orang-orang di sini. Pada awalnya Shirley-lah yang menyingkat namanya menjadi Kerry, lalu seluruh penduduk desa terbiasa memanggilnya Kerry. Si anak laki-laki juga merasa bahwa, daripada dipanggil dengan nama aneh seperti ‘Keritougu’, ‘Kerry’ kedengaran jauh lebih akrab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama asli anak laki-laki itu adalah – Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra dari Magus yang telah mendapatkan Lambang Penyegelan, Emiya Norikata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kedalaman malam, Kiritsugu kembali ke vila kayunya di pedalaman hutan, dan melihat ayahnya menyambutnya dengan ekspresi khawatir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, Kiritsugu. Kau baik-baik saja? Syukurlah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya memeluknya. Sudah bertahun-tahun sejak ia merasakan bahu lebar ayahnya.&lt;br /&gt;
Sangat jarang ayahnya yang kuat itu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melepaskan Kiritsugu dari pelukannya, ekspresi ayahnya tiba-tiba menjadi keras dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kubilang kau tidak boleh keluar dari sawar hutan ini hari ini apapun yang terjadi. Kenapa kau tak mematuhiku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Karena aku mengkhawatirkan Shirley...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya tiba-tiba mengalihkan matanya ke samping ketika mendengar nama gadis itu. Satu gerakan itu saja sudah bisa sepenuhnya memastikan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, apakah Ayah tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya? Itukah sebabnya Ayah tak mengijinkanku pergi keluar?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tentang gadis itu, sungguh kasihan. Walaupun sudah kubilang reagen itu sangat berbahaya dan jangan pernah menyentuhnya, tampaknya dia tetap tak bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun nada bicara ayahnya dipenuhi kegetiran, tak ada penyesalan atau rasa malu di dalamnya. Ia seperti sedang bicara pada seorang bocah yang memecahkan vas bunga hanya dengan nada bicara menyalahkan dan marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah, mengapa Ayah menyelidiki tentang Utusan Maut (&#039;&#039;Dead Apostle&#039;&#039;)?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja itu bukan tujuanku yang sebenarnya. Bagaimanapun, karena ini penelitian kita, keluarga Emiya, kita harus berusaha menemukannya walau sesulit apapun. Aku harus mendapatkan cara mengatasi penuaan, setidaknya sebelum generasimu. Raga, yang terbelenggu oleh takdir kematian, sungguh terlalu jauh dari ‘akar’.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemandangan memilukan Shirley yang dilihatnya di bawah cahaya bulan sekali lagi muncul di depan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah... akankah nanti ayah juga mengubah wujudku menjadi seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong kosong. Orang yang tak bisa mengendalikan keinginannya sebagai vampir dan berubah jadi Utusan Maut adalah kegagalan... Sudah kukatakan itu pada Shirley sejak lama. Sepertinya hasil penelitian ini tak sebaik yang kukira. Aku harus mulai dari awal dan mengubah teoriku lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya berniat untuk melanjutkan. Tak perlu mempedulikan pengorbanan yang hanya sampai seperti ini saja. Ia masih harus mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
“Kiritsugu, nanti saja kita membicarakan ini. Saat ini prioritas utama kita adalah segera melarikan diri – aku khawatir tak ada waktu lagi untuk berkemas. Orang-orang dari Asosiasi akan segera melihat di balik sawar hutan yang tebal ini. Kita harus segera pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya ayahnya sudah melakukan persiapan untuk pergi sejak tadi. Dua kopor besar sudah dikemas dan bertengger di tengah ruangan. Alasannya untuk menunda sampai saat ini – mungkin menunggu putranya sendiri kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita keluar dari sini? Sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak dulu aku sudah tahu bahwa hari seperti ini akan tiba, jadi aku sudah menyiapkan motor boat di pantai selatan sebelumnya. Kau tak pernah bisa terlalu siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya membawa sebuah kopor di masing-masing tangannya, berbalik dan berjalan menuju beranda – tentu saja, saat ini ia sama sekali tidak berjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, Kiritsugu mengambil pistol yang diberikan Natalia dari saku celananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pistol berkaliber 32. Kalau ditembakkan dari sudut mati, bahkan seorang anak kecil pun bisa dengan mudah melakukannya tepat sasaran. Wanita berpakaian hitam itu meyakinkannya. Setelah itu, maka semua tergantung pada Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mengarahkan pistolnya pada punggung ayahnya yang tak terlindung, pemandangan desa yang terbakar rata dengan tanah menyesakkan hati si anak laki-laki – juga, seluruh kenangan yang ia miliki saat hidup bersama ayahnya selama sepuluh tahun, dan perasaan lembut yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya mencintainya, dan penuh harapan padanya. Ia pun sangat mencintai ayahnya, dan membanggakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai perasaan yang tak berujung berkecamuk dan Kiritsugu ingin menutup matanya. Tetapi, berlawanan dengan perasaannya, Kiritsugu justru membuka matanya dan membidik, lalu dengan cepat menekan pelatuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dor – suara itu tak terduga, kering, dan renyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya, yang tertembak di belakang leher, jatuh ke depan. Lalu Kiritsugu melangkah dan melanjutkan menembak ke belakang kepalanya dua kali. Lalu ia berhenti, dan melanjutkan dua tembakan lagi di punggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri tak mempercayainya. Bahkan Kiritsugu sendiri takut pada sifat dinginnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia ragu-ragu sampai saat terakhir. Tentu ada perlawanan dalam hatinya. Tetapi, tangannya bergerak seolah segalanya telah diatur sebelumnya dan berada di luar kendalinya. Tubuhnya sepenuhnya mengabaikan pikiran dalam hatinya, dan hanya melakukan apa ‘yang harus dilakukan’ layaknya mesin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku ini bisa disebut sebagai bakat – pemikiran itu selintas saja terbersit dalam hatinya. Setelah itu, Kiritsugu sekali lagi tenggelam dalam kehampaan, tanpa merasa telah menyelesaikan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantai kayu itu perlahan terwarnai merah oleh darah. Ayah sudah tak ada lagi. Yang terbaring di sana tak lebih dari mayat. Benda ini adalah penjahat. Benda ini merampas semua yang ia miliki, membunuh semua orang di pulau, dan membakar desa hingga rata dengan tanah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shirley mengatakan ia adalah orang yang hebat, seseorang dengan kekuatan untuk mengubah dunia. Kiritsugu juga pernah berpikir begitu pada suatu saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu apa dua anak muda ini tentang dunia magis? Dan apa yang mereka harapkan dari seorang magi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, Kiritsugu tak menyadari bahwa dirinya menangis. Bahkan ia tidak tahu apakah perasaannya saat ini sedih atau menyesal. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan seolah dirinya dikuras sampai ke dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pistol di tangan kanannya terasa sangat berat, hampir terlalu berat untuk diangkat. Namun, ia tak dapat melemparkannya. Jemarinya membeku di atas pelatuk dan tak bisa bergerak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bahkan mengambil risiko menembak tanpa sengaja dan mengayunkan tangan kanannya ke segala arah hanya untuk melemparkan pistol itu. Tapi percuma; jemarinya menggenggam pistol itu erat-erat seolah memang ditempelkan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, seseorang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya, dan dengan mudah menyingkirkan pistol itu dari tangannya. Barulah saat itu Kiritsugu menyadari Natalia telah muncul di sampingnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayolah, bidang berbatas (bounded field) di sini tidak sekuat yang kau bilang. Aku masuk dengan mudah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata dengan nada lebih seperti mengomel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau marah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menurutmu? Aku tidak pernah memberikan benda ini untuk mainan anak-anak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia melirik pistol yang diambilnya dari Kiritsugu, lalu memasukkannya kembali ke sakunya setelah mengunci kembali pengamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, tergantung keberuntunganmu apakah kau bisa melakukannya tepat waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, kalau semua itu tidak terjadi saat ini, Emiya Norikata tentu sudah melarikan diri dengan selamat dan pergi bersembunyi lagi, lalu memulai lagi penelitiannya tentang Utusan Maut entah dimana. Mungkin tragedi yang tercetus di pulau ini akan terjadi sekali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan keberuntungan. Ini adalah sesuatu yang harus dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang ini, ada alasan dia harus dibunuh – aku tak punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bahkan mendorong seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri; aku benar-benar orang yang sangat jahat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata, berkecil hati. Mendengar itu, Kiritsugu tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kau, orang yang baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia menatap, terpaku, pada senyuman Kiritsugu. Lalu ia menghela nafas dan mengangkat mayat Emiya Norikata di bahunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membawamu keluar dari pulau ini. Kau harus menentukan sendiri apa yang terjadi setelah itu – adakah sesuatu yang ingin kau bawa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu... Kiritsugu menghabiskan tahun-tahun berikutnya di sisi Natalia Kaminski.&lt;br /&gt;
Sudah sewajarnya, Natalia tidak merawatnya seperti seorang anak yatim atau anak angkat, tetapi menyuruh-nyuruh Kiritsugu layaknya asisten atau pembantu. Bagaimanapun, inilah yang diinginkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mempelajari keterampilan Natalia dan melatih kemampuannya sendiri secara bersamaan demi menempuh jalan yang sama seperti Natalia – untuk menjadi ‘pemburu’. Ini adalah jalan yang tak bisa diubah lagi yang telah dipilih Kiritsugu untuk hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragedi di Pulau Arimago bukanlah peristiwa yang langka. Tragedi seperti itu terus berulang dan berulang lagi sebagai kejadian sehari-hari di  berbagai tempat yang tertutup bayangan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para magi yang ingin menimbulkan kerusakan di dunia fana demi mendapatkan pengetahuan yang mereka cari, dan dua organisasi besar yang menggunakan segala cara untuk menyembunyikan kenyataan tersebut; pertempuran-pertempuran yang mengelilingi peristiwa-peristiwa misterius itu terus terjadi di tempat-tempat tersembunyi. Jelas karena inilah, ada uang yang bisa dihasilkan oleh Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melenyapkan magi seperti Emiya Norikata sungguh masih terlalu jauh dari cita-cita mencegah tragedi-tragedi seperti itu terulang lagi – hampir bisa dikatakan Emiya Norikata hanyalah setetes air di lautan yang luas, suatu keberadaan yang hampir bisa diabaikan sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatannya pada hari itu, membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri; kalau dia ingin membuat peristiwa itu berarti dan bernilai...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu berarti semua magi sesat seperti ayahnya harus dibunuh. Hanya dengan itulah dia bisa benar-benar mencegah terjadinya tragedi seperti itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penegak Perlambangan Penyegelan (&#039;&#039;Sealing Designation Enforcers&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjing yang memburu para iblis yang melampaui batas kewajaran. Si anak laki-laki memilih jalan Shura berduri ini tanpa keraguan sedetikpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia bukan milik organisasi manapun, dan hanyalah seorang pekerja lepas yang berburu dengan tujuan mencari hadiah. Targetnya adalah para magi dengan Lambang Penyegelan yang memiliki hasil penelitian yang bernilai tinggi, namun telah meninggalkan Asosiasi Magi dan mengadakan penelitian rahasia sendiri. Berbeda dengan Gereja Suci yang bertindak atas nama mengadili seluruh orang sesat dan membunuh mereka semua, Asosiasi Magi lebih mengutamakan terjaminnya keselamatan hasil-hasil penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang paling berharga dari semua itu adalah Magic Crest yang terukir pada daging sang magi. Magic Crest yang diciptakan melalui penelitian beberapa generasi bisa menghasilkan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi ketika diserahkan pada penerusnya, terutama bagi keluarga magi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui negosiasi yang dilakukan Natalia dengan Asosiasi, satu bagian dari Magic Crest yang dikumpulkan dari tubuh Emiya Norikata boleh diwarisi oleh anaknya, Emiya Kiritsugu. Walaupun bagian-bagian yang penting telah disita oleh Asosiasi dan hanya satu ‘serpihan’ dari hampir separuh dari aslinya yang boleh diwarisi Emiya Kiritsugu, itu cukup bagi Kiritsugu untuk bisa memanfaatkan kemampuannya sebagai magus. Selain itu, sejak awal pun Kiritsugu tidak berniat mengikuti wasiat ayahnya sebelum mati untuk melanjutkan penelitian magis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kiritsugu, dunia magis bukanlah pilihan karir seumur hidupnya, namun hanyalah suatu alat yang  ia gunakan untuk mencapai tujuan. Terlebih lagi, alat ini hanyalah satu dari banyak ‘alat’ yang dipelajari Kiritsugu dari sang wanita pemburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelacakan, pembunuhan, penggunaan berbagai senjata – seekor anjing tidak bisa hanya menggunakan satu ‘taring’ saja. Segala macam pengetahuan dan kemampuan perlu ia kuasai untuk bisa mendekati mangsanya dalam situasi dan kondisi apapun, lalu menjatuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa dikatakan, sejarah umat manusia adalah sejarah pembunuhan. Manusia tak ada habisnya menggunakan waktu dan pengetahuan untuk mengembangkan keterampilan ‘membunuh orang’ demi memburu ‘binatang buas berkaki dua’ yang tampak persis seperti diri mereka sendiri. Kiritsugu telah membuat tubuhnya menguasai semua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun berbalut darah dan bubuk mesiu berlalu dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emiya Kiritsugu, yang mengalami cobaan berupa terlalu banyak pertempuran yang kejam di masa sensitifnya sebagai remaja, tidak lagi memiliki kepolosan masa muda di wajahnya. Sebagai orang oriental yang umurnya tak diketahui, dalam ketiga pasport palsunya ia tercatat sebagai orang dewasa dan tak sekali pun orang menanyainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, kalau hanya dilihat dari penampilannya, walaupun badannya tidak terlalu tinggi dan kumisnya tipis saja, pandangannya yang suram dan dingin jelas bukanlah sesuatu yang mestinya dimiliki seorang remaja laki-laki.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Suatu hari –&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika ia tahu bahwa guru sekaligus kawannya – Natalia – menghadapi bahaya paling hebat selama hidupnya, Kiritsugu tetap tidak menunjukkan keraguan emosi dan dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak peduli betapapun gelisah dan ragu hatinya, tak ada satu pun cara untuk menolong Natalia. Itu karena medan pertempurannya ada di dalam sebuah pesawat komersial raksasa dengan ketinggian lebih dari 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimulai dengan pengejaran seorang magus yang dikenal sebagai “Pengguna Lebah Iblis” (&#039;&#039;Demonic Bees User&#039;&#039;), Od Volsack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahwa magus ini berhasil menciptakan Utusan Maut dan dapat  mengendalikan Lebah Iblis (&#039;&#039;Demonic Bees&#039;&#039;) untuk menggunakan sengatan beracun demi menambah jumlah Ghoul yang dikuasainya; memang seorang pria yang sangat berbahaya. Apalagi, ia mengubah nama dan wajahnya dan berpura-pura menjadi orang biasa, tanpa ada informasi tentang dirinya sama sekali.Bagaimanapun, empat hari yang lalu, ada informasi bahwa ia menggunakan Penerbangan A300 dari Paris ke New York. Dalam keadaan tidak mengetahui nama dan wajah orang itu sama sekali, Natalia menerima tugas menyusahkan ini, menemukan targetnya di antara 287 penumpang dan ‘melenyapkannya’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai partnernya, Kiritsugu tidak ikut naik pesawat, melainkan pergi lebih dahulu ke New York untuk menyelidiki identitas palsu Volsack. Sang guru dan murid berkomunikasi menggunakan radio dan dengan tenang dan yakin mengunci lokasi mangsanya di tempat tersegel di atas 3000 kaki di langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tiga jam setelah lepas landas – tanpa disangka pembunuhan itu terlaksana dengan mulus. Bagaimanapun, itu adalah awal dari tragedi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebah Ghoul yang dibawa Volsack ke dalam pesawat dengan tipuan tertentu itu menimbulkan kekacauan hebat setelah kematian pengendalinya. Lebah Ghoul yang tidak dihancurkan Natalia tepat waktu menyerbu para penumpang satu persatu, dan dalam sekejap mata kabin pesawat komersial raksasa itu berubah menjadi neraka hidup yang dipenuhi oleh Ghoul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dihadapkan pada tempat tertutup tanpa bisa melarikan diri kemanapun dan Ghoul yang menguasai tanpa ada habisnya, bahkan seseorang sekuat Natalia pun merasakan keputusasaan yang tak berujung. Dihadapkan pada keadaan yang terus memburuk ini, Kiritsugu tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu komunikasi radio. Dia tidak boleh melewatkan sedikit pun kesempatan untuk membuktikan bahwa Natalia masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan paling dasar yang terus diajarkan Natalia lagi dan lagi adalah – ‘tak peduli harus menggunakan cara apapun, kau harus yakin akan keselamatan dirimu’. Karena Natalia memiliki prinsip seperti itu, Kiritsugu percaya bahwa saat ini pun sang wanita pemburu berpengalaman itu bisa menyelamatkan diri. Setelah dua jam, radio itu masih terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, ketika cahaya bintang-bintang di langit malam tertutup bayangan jingga fajar, suara seorang wanita yang kelelahan ditransmisikan diiringi gangguan gelombang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Bisakah kau mendengarku? Nak... kau tidak ketiduran, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keras dan jelas, Natalia. Kita berdua sama-sama berada di waktu paling mengantuk tepat sebelum fajar, setelah terjaga semalaman suntuk.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja. Kalau kau berani pulang dan tidur tadi malam aku pasti akan membunuhmu nanti... baiklah, ada berita baik dan berita buruk. Yang mana yang ingin kau dengar lebih dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tertawa pendek dan berkata demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kita berjanji untuk mulai dari berita baik dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah. Jadi berita baiknya dulu. Pertama-tama, aku masih hidup. Pesawatnya juga tidak mengalami kerusakan. Aku baru saja memastikan keamanan kokpit, baik si kapten maupun ko-pilot telah menyetel perimeter penerbangan sebelum mereka mati. Aku juga bisa kalau cuma mengemudikannya. Sepertinya kontrolnya sama seperti Cessna.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah berkomunikasi dengan menara kontrol?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bicara dengan mereka. Awalnya mereka pikir ini lelucon, tapi sekarang mereka mengarahkanku dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Lalu, berita buruknya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – aku adalah satu-satunya yang tidak kena gigitan. Semua penumpang dan awak pesawat, seluruh 300 orang dari mereka, tewas dan menjadi Ghoul. Sisi lain kokpit ini, yang hanya dibatasi oleh papan, sudah menjadi kota mati terbang. Jangan terkejut sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini  adalah situasi terburuk yang telah dipikirkan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam keadaan seperti ini, bisakah kau... kembali hidup-hidup?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, pintu ini cukup keras. Walaupun saat ini agak terguncang-guncang, tak perlu khawatir pintu ini akan hancur – Justru, pendaratan nanti yang lebih membuatku cemas. Bisakah benda raksasa ini benar-benar mendarat dengan aman?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Kalau itu kau, kau pasti bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau menyemangatiku? Aku senang mendengarnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tertawa pahit, Natalia menghela nafas tak berdaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada 50 menit sebelum tiba di bandar udara. Masih terlalu cepat untuk berdoa – nak, mengobrollah denganku sebentar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku tak keberatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mereka memulai sembarang percakapan. Pertama, mereka mulai dengan membicarakan tentang dua jam ketika komunikasi terputus. Lalu mereka membicarakan satu per satu perbuatan keji almarhum Volsack secara rinci. Akhirnya, mereka berdua begitu saja teringat para magus dan Utusan Maut yang telah mereka hancurkan, dan medan-medan Shura yang telah mereka berdua hadapi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang biasanya pendiam, entah karena alasan apa menjadi banyak bicara hari ini. Raungan samar para Ghoul yang berasal dari kabin berpadu dengan suara mereka mendobrak pintu kokpit terus-menerus. Mengobrol adalah satu-satunya pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian dari hal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Ketika kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau ingin meniti jalan karir  ini, aku benar-benar merasa sakit kepala sampai waktu yang cukup lama. Apalagi, kau tak mau merubah pikiranmu walau bagaimanapun aku memaksamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku sedemikian tidak menjanjikannya sebagai murid?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak... itu karena kau terlalu menjanjikan, kau punya terlalu banyak potensi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia berkata sambil tertawa pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau bisa melakukan tindakan dengan sepenuhnya menyingkirkan perasaanmu – pembunuh biasa baru bisa mendapatkan hal seperti itu setelah mencoba bertahun-tahun. Tetapi, kau memilikinya sejak lahir. Betapa mengejutkannya bakat itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi hei, tidaklah benar kalau kau memilih jalan hidupmu semata-mata berdasarkan bakat dan kemampuanmu saja. Keyakinan dan perasaan seseorang lebih penting dari bakat; itulah kunci untuk menentukan kehidupan seseorang. Kalau tak ada itu, seseorang tak bisa lagi disebut sebagai orang. Kalau mereka mempertimbangkan ‘apa yang harus dilakukan’ sebelum mempertimbangkan ‘apa yang ingin kulakukan’ dan hanya bertindak berdasarkan aturan itu... maka mereka bukan orang, namun hanya bisa disebut sebagai mesin, yang sudah terlepas jauh dari kehidupan seorang manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata sang guru yang telah mengamati pertumbuhannya itu meluncur melewati hati si anak laki-laki bagaikan es beku yang dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku, yah... kupikir kau seorang yang sangat dingin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudnya itu, setelah semua ini? Bukankah hal itu benar? Pernahkah aku bersikap lembut padamu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Kau selalu sangat keras, benar-benar tanpa ampun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Biasanya, mendisiplinkan anak laki-laki adalah tugas seorang ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ujung lain radio, Natalia terdiam untuk sesaat, lalu melanjutkan setelah menghela nafas lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, aku memegang tanggung jawab pada taraf tertentu karena membuatmu tidak memperoleh didikan dari seorang ayah... sepertinya tidak ada cara untuk melepaskan tanggung jawab itu dariku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Aku hanya bisa mengajarimu beberapa keterampilan untuk menyelamatkan diri; aku tak berguna untuk hal lain –&#039;&#039; Natalia menambahkan seolah mengejek dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Kau ingin menjadi ayahku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan mencampuradukkan pria dan wanita, bocah kurang ajar. Setidaknya kau mesti memanggilku ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benar. Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun jawaban Kiritsugu bernada sangat tenang, ekspresinya tampak sangat terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Radio tak bisa menunjukkan wajah orang yang diajak bicara dan tentunya tak bisa melihat ekspresi mereka pula. Dengan demikian, Natalia tak bisa mengetahui perasaan Kiritsugu saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sudah lama, aku merasakan darah dan bau amisnya sendiri saja. Aku hampir lupa akan kenyataan bahwa aku ini sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, yah... Haha, hampir lucu. Seolah-olah kita ini keluarga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku juga—“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya mengatakan hal ini sekarang? Kiritsugu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati sambil melanjutkan bicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Aku, juga menganggapmu seperti ibuku. Aku merasa aku tidak sendirian, dan aku bahagia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kiritsugu. Agar kita tidak merasa canggung saat bertemu lagi nanti, mari berhenti membicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi kebingungan Natalia bisa tertangkap samar-samar dari kata-katanya. Sepertinya ia masih tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ‘rasa malu’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, keadaannya makin parah. Aku akan mendarat dalam 20 menit. Aku tak mau melakukan kesalahan fatal di saat penting seperti itu hanya karena teringat sesuatu yang konyol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu meminta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia tidak perlu memilih melakukan pendaratan darurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga tidak akan bertemu Kiritsugu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kiritsugu yang mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tidak mungkin Natalia bisa selamat sebelum semua Ghoul ini dihancurkan seluruhnya. Satu-satunya cara untuk menghadapi pesawat udara yang penuh berisi Ghoul ini adalah menceburkannya ke Samudera Atlantik. Operasi melenyapkan sang “Pengguna Lebah Iblis” ini terlaksana dengan tebusan nyawa seluruh penumpang dan awak pesawat dan Natalia Kaminski – Kiritsugu sudah siap untuk akhir yang seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Kiritsugu tahu gurunya itu pasti akan menunjukkan kemampuan yang menakjubkan pada saat-saat terakhir. Natalia, yang berpegang pada prinsip ‘harus selamat apapun yang terjadi’, mungkin akan mencegah hancurnya badan pesawat demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Kiritsugu harus mempertimbangkan ini juga – itu adalah akibat terburuk yang tak bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia, yang mengutamakan nyawanya di atas segalanya, pasti akan memilih akhir seperti ini tanpa ragu-ragu setelah mempertimbangkan risikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendaratkan pesawat udara berisi 300 Ghoul di bandar udara dan melepaskan orang-orang mati yang kelaparan ini – dia jelas akan memilih cara ini kalau tak ada pilihan lain. Kiritsugu telah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan 1000 banding 1 ini dengan tepat karena Kiritsugu telah terlalu mengenalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi mencegah bencana itu meluas lebih jauh, pesawat A300 itu tidak boleh dibiarkan mendarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan tanpa memandang keselamatan Natalia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu telah mengelilingi hampir separuh New York sejam yang lalu dan akhirnya mendapatkan sebuah pelontar misil militer portabel darat-ke-udara dari pasar gelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, Kiritsugu berdiri di atas motor boat yang terapung di laut, menunggu pesawat Natalia muncul dalam pandangannya. Pesawat udara raksasa itu perlu berputar beberapa saat sebelum mendarat di Bandar Udara Internasional New York; posisi Kiritsugu saat ini memungkinkan untuk menempatkan pesawat itu ke dalam jangkauan misilnya secara kasar.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ketika membeli persenjataan dan memilih lokasi untuk menembak, Kiritsugu sekali lagi meragukan konstruksi mentalnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari perspektif menghindari tragedi yang lebih besar, menghadapi kematian Natalia dengan tenang adalah keputusan yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, makhluk apakah dirinya yang menyerah pada ‘keajaiban’ terakhir yang bisa menyelamatkan wanita yang ia sayangi, dan justru membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah baiknya bila semua itu hanyalah sebuah asumsi, namun saat ini Emiya Kiritsugu tengah menghadapi kenyataan yang kejam. Segera, ia akan melenyapkan Natalia dengan tangannya sendiri. Saat ini, A300 itu telah muncul di fajar yang merekah dengan sayap peraknya yang berkilauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Mungkin aku, benar-benar telah kehilangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Natalia masih percaya tanpa ragu bahwa Kiritsugu, di sisi lain radio, sedang berada di sebuah hotel di New York, sehingga ia mengatakannya dengan santai tanpa ada sikap berhati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin aku tidak akan mengatakan hal seperti itu pada akhirnya kalau kesalahan besar begini tidak terjadi. Sepertinya waktuku juga sudah habis. Haruskah aku berhenti...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Kalau kau berhenti, lalu apa rencanamu selanjutnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu masih berpura-pura bersuara tenang. Sementara itu, kedua tangannya telah mulai memasang pelontar misil pada bahunya, dan mengarahkan misilnya pada pesawat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau aku kehilangan pekerjaanku... haha, maka aku mungkin akan benar-benar menjadi ibumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan air mata berlinangan dari matanya, ia masih bisa menentukan jarak menuju targetnya dengan tepat... kurang dari 1500 meter. Satu tembakan pasti.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
“Kau... benar-benar keluargaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berkata pelan, lalu ia meluncurkan misilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa detik dimana misil itu perlu diarahkan secara manual, Kiritsugu harus mempertahankan sasarannya pada pesawat udara tempat Natalia berada dan seluruh kenangan tentang Natalia muncul kembali dalam pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siksaan itu tidak berlangsung lama. Misil itu segera terkunci dalam radiasi panas yang dipancarkan oleh pesawat udara komersial raksasa. Misil itu lepas dari kendali Kiritsugu, dan melesat tanpa ampun menuju targetnya bagaikan hiu kelaparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misil itu membentur tepat pada tangki gas di bawah sayap pesawat; dan Kiritsugu menyaksikan pesawat itu miring dan jatuh ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuhnya pesawat setelah itu bagaikan gambar di atas pasir yang berserakan tertiup angin badai – massa besi yang kehilangan daya dorongnya terpecah bagai kayu lapuk, dan menjadi gumpalan debu halus yang jatuh ke permukaan laut dalam keheningan. Puing-puing pesawat yang jatuh dalam pijaran terbitnya pagi, menari laksana confetti dalam pesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkas cahaya pagi pertama yang bersinar dari sisi lain ufuk bahkan tidak sempat menyentuh wajah Natalia pada akhirnya. Berjemur sendirian dalam cahaya pagi, Emiya Kiritsugu mulai menangis tanpa suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, ia telah menyelamatkan serombongan wajah yang tidak ia kenal. Tanpa seorang pun mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kau lihat itu, Shirley?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku telah membunuh lagi kali ini. Membunuh sebagaimana aku dulu membunuh ayahku. Aku tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan yang kulakukan padamu dahulu. Aku, ingin menyelamatkan lebih banyak orang...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya perbuatan dan niat Kiritsugu diketahui orang-orang lain, akankah mereka berterima kasih pada Kiritsugu? Akankah para penumpang di bandar udara yang terselamatkan dari kematian akibat ancaman Ghoul memuja Kiritsugu sebagai pahlawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bercanda... Jangan bercanda denganku! Bangsat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggenggam erat pelontar misil yang sisa-sisa panasnya mulai berkurang, Kiritsugu meraung menghadap langit yang mulai cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak menginginkan prestasi atau penghargaan. Ia hanya ingin melihat wajah Natalia sekali lagi. Ia hanya ingin memanggilnya ‘ibu’ secara langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah hasil yang ia inginkan. Ini hanyalah keputusan yang tepat, tanpa ada pilihan lain dan tak ada celah untuk membantah. Keputusan Kiritsugu ‘tepat’. Ia melenyapkan orang yang perlu mati dan menyelamatkan orang yang tak punya alasan untuk mati. Kalau ini bukan ‘keadilan’, lalu apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tak bisa kembali lagi. Ia teringat wajah yang jauh itu yang dahulu kala bertanya padanya, “Kau ingin jadi orang seperti apa?” dengan wajah lembut di bawah matahari pagi yang menyilaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu mestinya menjawab – kalau ia punya kekuatan untuk mengubah dunia dengan bebas, kalau keajaiban bisa berada di tangannya; ‘Aku ingin menjadi pahlawan keadilan!’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu saat itu masih belum mengetahui apa yang akan dirampas oleh neraca bernama ‘keadilan’ itu darinya, dan apa yang neraca itu bawa padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Keadilan’ telah merebut ayahnya, dan kini juga merebut ibunya. Yang disisakan hanyalah sensasi darah di tangannya. Bahkan haknya untuk mengingat mereka pun juga dilucuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang ia cintai. Suara mereka, wajah mereka, tak satu pun yang bisa kembali. Sebaliknya, mereka akan muncul lagi dan lagi dalam mimpi-mimpi buruk Kiritsugu, yang merenggut nyawa mereka dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pilihan ‘keadilan’. Harga demi mengejar idealismenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Kiritsugu tak bisa lagi berbalik ke belakang. Apa yang ia cari akan menghilang bahkan dengan keraguan atau kebimbangan sesaat. Kalau itu terjadi, semua harga yang telah ia bayar, dan seluruh pengorbanannya, akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinkah ia akan mengikuti cita-cita dalam hatinya sampai bisa terpenuhi sementara ia mengutuk dan membencinya di saat yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu bersumpah dalam diam di dalam hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia akan menerima kutukan itu. Ia akan menerima kemurkaan ini. Di saat yang sama, ia berdoa agar suatu hari ia bisa mengeringkan seluruh air matanya dan menggapai utopia yang tenteram dan teramat jauh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kekejaman yang dibawa kedua tangannya adalah batas bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka biarkan dirinya sendiri menghapus seluruh air mata di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah hari terakhir dari masa muda Kiritsugu – &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia dengan yakin memutuskan untuk melangkah menuju jalan yang berduri dan tak adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Volume_3_Postface~ Indonesian Version|Penutup]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211231</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211231"/>
		<updated>2012-12-09T04:04:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah tak bepenghuni di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan tak berpenghuni yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa’ Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211230</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211230"/>
		<updated>2012-12-09T04:01:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa’ Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211229</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211229"/>
		<updated>2012-12-09T03:56:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika ia menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211228</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211228"/>
		<updated>2012-12-09T03:54:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui &#039;&#039;Madam&#039;&#039;?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati ambang kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211106</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211106"/>
		<updated>2012-12-08T15:14:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* –48:11:28 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada tanda-tanda rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum kecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir dengan teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu untuk Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menyerang ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211105</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211105"/>
		<updated>2012-12-08T15:13:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui Madam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (&#039;&#039;Magic Circle&#039;&#039;) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati tepi kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211104</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211104"/>
		<updated>2012-12-08T15:12:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* -47:42:07 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui Madam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (Magic Circle) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati tepi kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211103</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211103"/>
		<updated>2012-12-08T15:10:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada era sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsbern, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; melalui &#039;&#039;Command Seals&#039;&#039;-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan &#039;&#039;Servant&#039;&#039; musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tōsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tōsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang &#039;&#039;Master&#039;&#039;-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga &#039;&#039;Servant&#039;&#039; sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang kemari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan bangkit itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri sebagai senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan yang melintas, seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui Madam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (Magic Circle) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam ruang kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun saja harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati tepi kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –saat ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai &#039;&#039;&#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039;&#039;&#039; milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039;. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya &#039;&#039;Noble Phantasm&#039;&#039; yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi &#039;&#039;Master&#039;&#039; dari Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211102</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211102"/>
		<updated>2012-12-08T14:44:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== -47:42:07 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suatu bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada zaman dahulu. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsben, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang Servant melalui Command Seals-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan Servant musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tohsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tohsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang Master-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga Servant sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang ke sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan mentas itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan melintas seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui Madam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (Magic Circle) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah dari keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam tempat kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati tepi kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, Noble Phantasm ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai Noble Phantasm milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang Servant. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun Noble Phantasm ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan Noble Phantasm ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya Noble Phantasm yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi Master Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Act_13_Part_1~ Indonesian Version|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_3~ Indonesian Version|Bagian 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211100</id>
		<title>Fate/Zero ~ Indonesian Version (Registration)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero_~_Indonesian_Version_(Registration)&amp;diff=211100"/>
		<updated>2012-12-08T14:38:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* Jilid 4 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Category:Registration Page]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peraturan registrasi sangat gampang:&lt;br /&gt;
*Yang mau bantu langsung tulis nama user disamping chapter yang lu mau.&lt;br /&gt;
*Harus selesai satu-satu, jadi jangan ga bisa langsung ambil dua.&lt;br /&gt;
*Ini bukan kontrak, &amp;quot;gw mesti abisin ampe selesai&amp;quot;, yang jadi tanggung jawab lo cuman 1 act yang lu mau klo ga slese, bisa langsung apus nama lu di samping chapter yang tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero==&lt;br /&gt;
===Jilid 1===&lt;br /&gt;
*Prolog - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 8 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 3 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
** 1 tahun lalu - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*Act 1&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[User:Felxihe3x|Felxihe3x]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Aquatorrent|Aquatorrent]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 2&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 3&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 4&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 - &lt;br /&gt;
**Bagian 3 - [[User:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup&lt;br /&gt;
**1 -&lt;br /&gt;
**2 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 2===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 5&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 6&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 7&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 8&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 3===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 9&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 10&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 11&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 12&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Jilid 4===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Selingan - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 13&lt;br /&gt;
**Bagian 1 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 2 - [[user:Seiri|Seiri]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 - [[user:Seiri|Seiri]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 14&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -&lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 15&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -&lt;br /&gt;
**Bagian 2 -&lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -&lt;br /&gt;
**Bagian 5 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Act 16&lt;br /&gt;
**Bagian 1 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 2 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 3 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 4 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 5 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 6 -&lt;br /&gt;
**Bagian 7 -&lt;br /&gt;
**Bagian 8 -&lt;br /&gt;
**Bagian 9 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 10 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 11 -  &lt;br /&gt;
**Bagian 12 -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Epilog&lt;br /&gt;
**Keesokan Harinya - [[user:Killen Heartallion|Killen Heartallion]] &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Setengah Tahun Kemudian -&lt;br /&gt;
**Lima Tahun Kemudian -  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Penutup -&lt;br /&gt;
*Komentar -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Fate/Zero - Cerita Lain==&lt;br /&gt;
*Heart of Freaks - [[User:Yamimaliq|Yamimaliq]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Halaman Utama]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211099</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 2~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_2~_Indonesian_Version&amp;diff=211099"/>
		<updated>2012-12-08T14:38:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: Created page with &amp;quot;-47:42:07  Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.  Itu adalah suatu bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang ...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;-47:42:07 &lt;br /&gt;
Dalam udara pagi yang dingin, Emiya Kiritsugu muncul di depan sebuah rumah kosong di Miyama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah suatu bangunan tua yang dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tanpa pernah dilakukan renovasi atau perawatan. Halamannya bahkan memiliki sebuah ruangan gudang yang dibangun pada zaman dahulu. Lebih tepatnya, ini adalah tempat yang ia beli sebagai persiapan markas untuk Irisviel. Mengingat bahwa bahkan kastil Einsben, yang lokasinya jauh dari batas kota, sudah diserang oleh musuh, maka jelas bahwa membeli tempat persembunyian ini jauh dari sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saber tidak ada di sini. Biasanya, ia bisa merasakan keberadaan sang Servant melalui Command Seals-nya, tetapi saat ini ia tak merasakan apapun. Barangkali Saber sedang dalam perjalanan menuju markas Rider. Menyadari hal ini, Kiritsugu memutuskan untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah membunuh seorang magus magang seperti Waver begitu tempat persembunyiannya diketahui – bagaimanapun, ia baru bisa bergerak bila Saber sudah menjauhkan Servant musuh. Kiritsugu juga telah mengikuti Tohsaka Tokiomi, yang telah meninggalkan Gereja Fuyuki seorang diri, sepanjang jalan menuju kediaman Tohsaka tadi malam, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Ia telah merasakan bahwa Archer mengawasi situasi itu dari tempat yang tidak diketahui. Apabila ia nekat menyerang Master-nya dalam keadaan seperti itu, sama saja artinya dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun telah memastikan lokasi targetnya, Kiritsugu tidak langsung pergi ke tempat itu. Justru, ia buru-buru menuju ke bangunan kosong yang digunakan sebagai markas sementara ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Ini bukanlah intuisinya, melainkan firasat yang dipengaruhi banyak oleh faktor... ia takut ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk berkomunikasi dengan istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, dengan tiga Servant sudah tumbang dalam pertempuran, Kiritsugu sangat menyadari keadaan yang menyelimuti Irisviel, sang ‘Pembawa” Cawan Suci. Seandainya hatinya rapuh, ia tidak akan pernah datang ke sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan dengan istrinya saat ini adalah ujian bagi Kiritsugu, bisa dikatakan hukuman baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengorbanan yang dibutuhkan demi Cawan Suci yang ia cari adalah nyawa wanita yang sangat ia cintai – ia harus menghadapi kenyataan itu tanpa menunjukkan secuil pun keraguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia bisa menghadapi ujian ini, maka Emiya Kiritsugu yang akan mentas itu akan mampu mengalahkan semua perasaan di hatinya dan menghilangkan semua keraguan. Dengan hati-hati dan jelas, layaknya mesin, sudah pasti ia akan meraih Cawan Suci itu di tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, baginya yang menyebut dirinya sendiri senjata perang, ini adalah ujian terakhir dan terberat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ia tak bisa menghadapinya... maka itu berarti seluruh impian dalam dada pria bernama Kiritsugu tak ada artinya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri di depan pintu menuju gudang bawah tanah, Kiritsugu mengetuk sesuai sandi yang telah mereka sepakati. Segera, Maiya membuka pintu besi yang berat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menyadari perubahan pada Maiya sebelum sepatah kata pun terucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang matanya selalu dipenuhi ketidakpedulian dan kekosongan dalam setiap situasi, kini menunjukkan segaris kegelisahan melintas seolah kemunculan Kiritsugu membuatnya terguncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Apakah kau datang untuk menemui Madam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk tanpa suara. Maiya menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keadaannya saat ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu, aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Kiritsugu perlu melihat pemandangan di gudang bawah tanah ini dengan matanya sendiri. Lagipula, ia sudah lama siap untuk ini secara mental – karena memahami ini, Maiya tak mengatakan apa-apa lagi dan menyingkir dari jalan Kiritsugu, lalu berjalan menuju ke luar gudang bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel terbaring diam dalam Lingkaran Magis (Magic Circle) berisi pulsasi prana di sudut gudang bawah tanah yang redup. Sosok ini membangkitkan ingatan Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan pertama Kiritsugu dan Irisviel juga seperti ini. Dibawa oleh sang ayah dari keluarga itu, Acht, ke bagian terdalam tempat kerja keluarga Einsbern, ia pernah berdiri di depan seorang Irisviel yang tertidur lelap di dalam genangan cairan mirip amnion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Pembawa bagi Cawan – mengapa sebuah alat yang kegunaannya hanya beberapa tahun harus mereka berikan penampilan seindah ini? Saat itu, ia sungguh merasa hal itu tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah benda ini Cawan Suci? Ketika Kiritsugu menanyakan pertanyaan ini pada sang magus tua di sampingnya, ia yang tengah tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata yang menatapnya melalui cairan mirip amnion yang mengambang di depan wajahnya, tatapan berisi warna merah gelap itu, telah sepenuhnya memikat Kiritsugu. Ia tak bisa melupakannya sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini sama seperti saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel membuka matanya. Ia dan Kiritsugu saling memandang satu sama lain, lalu ia memberikan satu senyuman kecil, lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh – Kiritsugu –”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel menjulurkan tangannya dan membelai wajah Kiritsugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan gerakan sederhana seperti itu menuntut Irisviel saat ini untuk menggunakan tenaga yang cukup besar – jemarinya yang sedingin es sedikit menegang menunjukkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“—Apakah ini mimpi? Kau benar-benar – datang menemuiku lagi – ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh, ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih mudah dari yang ia pikirkan, dan ia masih bisa bicara bebas. Sama seperti ketika ia harus menenggelamkan Natalia. Bahasa dan tindakan sama sekali tidak terpengaruh. Betapapun berkecamuk hatinya atau betapapun kalut emosinya, kedua tangannya masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa meraih kemenangan – ia sangat mempercayai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, Emiya Kiritsugu sudah siap untuk apapun dan bisa sepenuhnya menjamin kelayakan fungsi-fungsinya. Kekuatan manusia tidak pernah mengganggu Kiritsugu. Tidak ada kebingungan atau kesedihan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya. Bagi Kiritsugu, sistem mentalnya yang menetapkan tujuan dan bertindak utuk mendapatkannya bisa berfungsi tanpa terganggu faktor apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang ini – ia adalah alat yang paling sempurna karena ia mempunyai kelemahan fatal sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... merasa sangat bahagia...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel dengan lembut membelai pipi pria yang hanya bisa disebut sebagai mesin itu dan berkata lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa jatuh cinta padamu... menikah denganmu... memiliki seorang suami, seorang putri. Dalam beberapa tahun yang singkat ini... kau memberikan kepadaku semua yang kuinginkan... Aku tak punya penyesalan lagi. Semua, semua kebahagiaan di dunia, aku sudah...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Maaf, ada banyak, banyak janji yang tak bisa kupenuhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubilang aku akan mengeluarkanmu dari istana musim dingin abadi itu dan membawamu melihat bunga-bunga bermekaran di luar, melihat laut yang ombaknya berkilau cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pernah berjanji padamu bahwa suatu hari aku akan membawamu bersamaku dan melihat semua itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ketika ia mengingatnya, betapa janji itu tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, itu sudah cukup bagus. Mmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Irisviel tidak mengeluhkan janji-janji yang tak bisa dipenuhi itu dan berkata sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua kebahagiaan yang tidak kualami itu... semua yang kutinggalkan tanpa bisa kulakukan, tolong berikan semua itu pada Ilya. Putrimu – Ilya kita yang paling berharga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, Kiritsugu akhirnya memahami sebab mengapa Irisviel, yang mendekati tepi kehancuran, masih bisa tersenyum dengan kekuatan seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus, membawa anak itu ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ibu yang melimpahkan harapannya kepada anaknya tak mempunyai rasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa ia bisa menghadapi kematiannya sendiri dengan senyuman, tanpa ada tanda ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan anak itu, melihat semua yang tak bisa kulihat untuk menggantikanku... biarkan ia melihat, sakura di musim semi, awan di musim panas...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebuah mesin yang hanya tahu cara mendapatkan Cawan Suci, ini adalah tindakan sia-sia dan satu lagi janji tak berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun begitu, ia tetap akan mengangguk sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ia mendapatkan Cawan Suci dan memenuhi permohonannya menyelamatkan dunia... sang mesin yang telah menyelesaikan tugasnya akan berubah kembali menjadi manusia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, ia tentu akan mengingat janjinya kepada istrinya. Dan pada saat itu, ia akan melakukan tugas seorang ayah yang baik dan sepenuhnya menyayangi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Yang akan menjadi kenyataan hanya dalam beberapa hari yang singkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun –ini bukanlah saatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... perlu dikembalikan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gemetar, Irisviel meletakkan tangannya di dadanya dan mememusatkan seluruh prana dalam dirinya ke ujung-ujung jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, di tangannya yang kosong suatu cahaya keemasan mulai bersinar, menyelimuti seluruh ruangan gudang dengan selubung gemerlap yang hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menahan nafasnya, Kiritsugu memandang semua yang terjadi di depannya. Cahaya itu perlahan-lahan membentuk siluet, lalu berubah menjadi suatu objek dengan kilau metalik dan jatuh ke tangan Irisviel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sarung pedang emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iri...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini... adalah seesuatu yang sangat penting untukmu. Dalam pertempuran akhir, ini pasti akan berguna...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Irisviel terdengar bahkan lebih lemah daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bisa diduga. Irisviel, yang bersembunyi dalam Lingkaran Magis di gudang bawah tanah ini untuk memperlambat laju kehancurannnya, telah melepaskan hal terakhir yang melindunginya, Noble Phantasm ajaib – Avalon • Segalanya adalah Utopia yang Jauh, yang disegel dalam dirinya sebagai Senjata Konseptual – dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku... akan baik-baik saja. Maiya ada di sini untuk melindungiku... jadi...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya, sebagai Noble Phantasm milik Saber, Avalon memiliki kemampuan untuk menyediakan prana kepada sang Servant. Kini, karena Irisviel sudah tak bisa lagi berpartisipasi dalam pertempuran di garis depan bersama Saber, terus memakaikan Avalon padanya sudah tidak memiliki makna strategis lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan walaupun Noble Phantasm ini bisa memperlambat laju kehancurannya, hal ini tidak membuahkan hasil apapun dalam kerangka yang lebih luas – pilihan paling tepat saat ini adalah melepaskan Noble Phantasm ini dari dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu menerima sarung pedang emas itu, meletakkan tubuh lemah istrinya di lantai yang sedingin-es, berdiri, dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku pergi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm – hati-hatilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata perpisahan itu sangat singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiritsugu berbalik dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya, yang tengah berdiri dan menunggu di luar, hanya bisa menarik nafas tajam ketika ia melihat Kiritsugu keluar dari gudang bawah tanah. Tentu saja, ia tidak tahu arti sesungguhnya Noble Phantasm yang berkilau cahaya di tangan Kiritsugu. Sesungguhnya, yang mengejutkan Maiya adalah perubahan pada Kiritsugu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita akan menghabisi Master Rider hari ini. Saber sudah berangkat, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ya. baru saja pagi ini, tidak lama sebelum kau datang ke sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat bagus – Maiya, aku akan tetap mempercayakan tugas melindungi Irisviel padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siap... Hm, Kiritsugu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika Kiritsugu akan melangkah keluar pintu, Maiya menghentikannya dengan suara bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maiya menatap sesaat mata yang beralih padanya itu, lalu menghela nafas pelan dan berkata setelah menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya kembali juga. Ekspresi yang dulu kau miliki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Benarkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyahut pelan, Kiritsugu terus berjalan keluar tanpa berbalik satu kali pun.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211021</id>
		<title>Fate/Zero:Act 13 Part 1~ Indonesian Version</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Fate/Zero:Act_13_Part_1~_Indonesian_Version&amp;diff=211021"/>
		<updated>2012-12-08T02:21:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Seiri: /* –48:11:28 */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Image:FZ_v04_045.png|thumb|Act 13.]]&lt;br /&gt;
=== –48:11:28 ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu belum pagi. Kotomine Kirei sudah menunggu di pintu kediaman Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tak pernah datang ke tempat ini sejak memanggil Archer sepuluh hari yang lalu. Ini adalah bangunan bergaya-Barat tempat ia menghabiskan waktunya sebagai seorang magus magang tiga tahun yang lalu, satu-satunya tempat di Fuyuki yang ia rasakan lebih dekat bahkan daripada gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat datang, Kirei. Aku sudah menunggumu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sang tamu datang pada jam yang tidak biasa, Tōsaka Tokiomi segera muncul di pintu setelah mendengar suara bel. Barangkali ia sama sekali tidak tidur sejak meninggalkan gereja Fuyuki malam sebelumnya. Kirei membungkuk dalam-dalam sebagai sopan santun seorang murid terhadap gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada Anda sebelum meninggalkan Fuyuki, dan setelah itu saya harus berpamitan kepada Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya jadi seperti ini... dan semuanya begitu cepat. Harus berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini—aku juga merasa menyesal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi mengucapkan kata-kata itu, tetapi tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Hal itu bisa diduga. Tokiomi mengerti bahwa Kotomine Kirei hanyalah sebuah bidak yang dipinjam keluarga Tōsaka dari Gereja Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kirei, &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; takkan menghasilkan imbalan apapun, dan hanya merupakan amanat tugas yang ditetapkan oleh kekuatan dari atas yang tak terlihat. Perpisahan Kirei dari Tokiomi bukanlah penolakan atau pengkhianatan, melainkan pelepasan dari tugas. Datang untuk berpamitan semata-mata hanyalah tindakan formalitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu fajar, saya akan naik pesawat dan menuju Italia. Mula-mula, saya harus menyerahkan barang milik ayah saya kepada markas besar. Saya mungkin tidak bisa kembali ke Jepang untuk beberapa saat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... Masuklah. Kau punya waktu untuk bicara?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mn. Tidak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei menyimpan perasaannya di dalam hati dan melangkah sekali lagi melewati pintu depan keluarga Tōsaka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;center&amp;gt;※※※※※&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semakin aku berpikir tentang keberangkatanmu, semakin aku merasa enggan. Apapun yang akan terjadi, kuharap kau bisa meneruskan perintah terakhir ayahmu dan membantu keluarga Tōsaka memenuhi harapan yang selalu kami inginkan...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini Tokiomi adalah satu-satunya penghuni kediaman Tōsaka, namun ruang tamu itu tetap terawat tanpa noda. Mungkin beberapa &#039;&#039;familiar&#039;&#039; level rendah yang ia kendalikan yang membersihkannya untuk menjaga ketenangan tempat itu bahkan dalam masa peperangan yang hebat ini. Untuk seorang Tokiomi, hal itu bisa diduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walau aku menyayangkan kegagalan tindakanmu terhadap keluarga Einsbern, aku mengerti bahwa kau memiliki niat baik. Mungkin seperti inilah cara Eksekutor bekerja, tetapi aku berharap lain kali kau mesti memberitahuku tentang situasinya sebelum dan setelah kau bertindak. Sehingga aku bisa bersiap-siap.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap baik Tokiomi membuat Kirei menundukkan kepalanya lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untuk memberikan Anda, guru saya, masalah sebesar ini pada saat terakhir... Saya benar-benar merasa malu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan di mata Tokiomi, dan berkata pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Adalah benar bahwa kita bertemu hanya karena &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039;, tetapi pada keadaan seperti apapun, aku sangat bangga memiliki murid sepertimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ini, sesaat Kirei kehilangan kendali atas emosinya dan tertawa keras. Namun Tokiomi, menyalahartikan niat muridnya, melanjutkan bicaranya dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bakat bukanlah sesuatu yang bisa didapat dengan paksaan atau kemauan, tetapi sikapmu yang tulus dalam latihan sebagai orang yang berjalan di jalan ini adalah sesuatu yang bahkan membuat aku, gurumu, sangat terkesan. Kirei, mulai hari ini kau bisa terus bertarung untuk kepentingan keluarga Tōsaka sebagaimana yang dilakukan ayahmu sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa meminta lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei tersenyum tipis dan mengangguk. Tokiomi, yang dalam tiga tahun terakhir terus menyalahartikan karakter dan isi hati muridnya, kini juga menyalahartikan makna senyuman Kirei. Dan ia melanjutkan bicara bahkan lebih senang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau membuatku bisa tenang. Aku berharap putriku bisa belajar darimu. Setelah &#039;&#039;Heaven&#039;s Feel&#039;&#039; ini berakhir, Kirei, kau harus menjadi guru bagi Rin, dan membimbingnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Tokiomi mengambil sebuah surat yang sebelumnya diletakkan di sudut meja dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Guru, apa ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Walaupun ditulis secara sederhana, barangkali ini bisa dianggap semacam surat wasiat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi bicara demikian, tersenyum kecut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya—dan kemungkinannya sangat kecil tetapi tetap sebuah kemungkinan—kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku, maka aku telah menuliskan di sini bahwa keluarga Tōsaka akan diwarisi oleh Rin dan kau akan menjadi walinya sampai ia dewasa. Serahkan surat ini pada &#039;&#039;Clock Tower&#039;&#039;, dan seluruh prosedur selanjutnya akan diurus sebagaimana mestinya oleh Asosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, Kirei tidak hanya berpura-pura menyetujui secara verbal, tetapi dengan sungguh-sungguh menerima tanggung jawab yang dipercayakan Tokiomi padanya dari dalam hati. Bagaimanpun, Kirei berasal dari kependetaan. Adalah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dengan kejujuran dan kehandalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mohon percayalah pada saya. Bahkan walaupun kemampuan murid Anda ini terbatas, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab merawat putri Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Kirei.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun singkat, kata-kata itu menyimpan rasa terima kasih yang dalam. Selanjutnya, Tokiomi mengambil sebuah kotak hitam tipis, panjang yang ada di sebelah surat tadi dan menyerahkannya pada Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukalah dan lihat. Ini adalah hadiah pribadiku untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei membuka kotak itu. Pada bagian dalamnya yang dilapisi beludru tersimpan rapi sebuah pisau yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pisau Azoth. Telah diukir dengan teliti dengan permata pusaka. Setelah diisi dengan prana, pisau ini bisa digunakan sebagai &#039;&#039;Mystic Code&#039;&#039;. Kau telah mempelajari dan melatih ilmu magis Tōsaka, maka gunakan ini sebagai bukti kelulusanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei memegang pisau itu di tangannya dan memeriksanya dengan teliti. Pandangannya jatuh pada mata-pisau yang tajam dan untuk beberapa saat tidak berpindah dari sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Kirei, tanpa ada ekspresi, pasti tampak penuh rasa terima kasih dari sudut pandang Tokiomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai dermawan... saya tidak akan pernah bisa membalas perhatian Anda yang besar atau hidup sesuai harapan Anda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku, kau adalah imbalan terbaik, Kotomine Kirei. Dengan ini, aku bisa maju menuju final, pertempuran penentuan, tanpa ada penyesalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi berkata dengan senyum yang cerah, lalu bangkit dari sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei percaya bahwa saat itu telah diatur oleh takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah rentetan kebetulan, maka bagaimana bisa Tōsaka Tokiomi memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyediakan pisau itu untuk Kotomine Kirei dalam bentuk hadiah? Bukankah ini semua menunjukkan sesuatu yang tak terhindarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sungguh minta maaf telah menahanmu begitu lama. Apakah kau masih bisa tiba tepat waktu untuk penerbanganmu—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Kini Tokiomi menghadap ke arah pintu keluar ruang tamu, sepenuhnya tanpa pertahanan dengan punggungnya menghadap Kirei. Mungkinkah ini juga kebetulan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Tidak, kau tak perlu khawatir, Guru.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—Atau bisa dikatakan bahwa ini pun sesuatu yang tak terhindarkan, bahwa ini pun takdir? Bahwa walau betapapun banyaknya ia berdoa atau berharap, semuanya akan segera ditarik ke dalam jurang pengkhianatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mulai tertawa keras, tawa yang lebih gembira dari biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak awal pun tak pernah ada penerbangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Kirei sendiri pun tak tahu ia bisa tertawa dengan sepenuh hati. Terlebih lagi, pisau di tangannya menyerang ke arah punggung tanpa pertahanan yang ada di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Ah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pisau Azoth yang telah menjadi bukti kasih sayang dan kepercayaan terselip di antara tulang-tulang rusuk dan langsung menembus jantung Tokiomi. Satu serangan oleh seorang Eksekutor yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya ini bisa dikatakan tepat mematikan. Tak ada niat membunuh, dan tak ada tanda-tanda untuk itu. Mungkin bahkan Tokiomi, yang telah tertusuk, tak bisa memahami arti dari gelombang rasa sakit di dadanya untuk sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokiomi terhuyung-huyung ke depan. Menolehkan kepalanya, ia hanya melihat Kirei, tersenyum cerah, tangannya berlumuran darah segar—tetapi tidak pernah ada sedikit pun tanda pemahaman di mata Tokiomi bahkan hingga akhir. Hanya dengan ekspresi kebingungan, tanpa ada kemarahan, ia jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat terakhirnya, sang magus tentu dengan cerobohnya mempercayai pemahamannya sendiri dan menolak untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya. Tanpa pernah salah mengikuti jalan yang telah ia pilih, maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun setiap saat – betapa seorang pria, yang tak bisa menyadari kenyataan bahkan setelah jatuh ke dalam jurang tak berdasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu aura menyilaukan tiba-tiba berhembus di samping mayat Tokiomi yang mendingin dengan cepat. Bersinar dengan cahaya yang terang, sang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; emas membentuk wujudnya di depan Kirei.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hn—betapa akhir yang mengecewakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ekspresi merendah menyusup dari pupil berwarna merah itu. Archer menyenggol mayat &#039;&#039;Master&#039;&#039; lamanya dengan ujung kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berharap dia akan melakukan perlawanan terakhir sebelum mati. Lihat ekspresinya. Kalah sepenuhnya. Ia tidak menyadari kebodohannya sendiri bahkan sampai akhir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena &#039;&#039;Servant&#039;&#039;-nya berada dalam wujud roh di sampingnya. Bukan tidak masuk akal juga kalau ia tdak berjaga-jaga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar sindiran Kirei, Archer mulai tertawa keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sudah bisa belajar membuat lelucon? Kirei, perkembanganmu sungguh hebat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ekspresi serius, Kirei bertanya pada Archer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau benar-benar tidak menyesal dengan ini, Gilgamesh, Raja Para Pahlawan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya sampai aku bosan padamu. Begitu kau tidak menarik lagi, kau akan menemui nasib yang sama seperti bangkai yang terbaring di sini. Kalau ada seseorang di sini yang harus menyadari sesuatu, itu tentu adalah kau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu sangat tajam, tetapi Kirei tak menunjukkan tanda keraguan dan mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, ia tidak bisa mempercayakan hidupnya pada karakter yang berbahaya seperti itu. Bisa dikatakan bahwa ini adalah perjanjian dengan iblis. Seorang &#039;&#039;Servant&#039;&#039; yang berkuasa dan kejam tanpa memiliki moral atau kesetiaan, yang ketertarikannya sulit untuk dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi—jelas karena ini, mereka adalah pasangan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang memiliki moralitas terbaik tidak memberi Kirei jawaban yang sebenarnya; sesungguhnya &#039;&#039;Heroic Spirit&#039;&#039; inilah, yang sepenuhnya aneh dalam hal moralitas, yang bisa menjadi tujuan Kirei bertempur sejak saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kirei mennggulung satu lengan bajunya, menunjukkan &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di lengannya, dan merapal dengan khidmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan tubuhmu istirahat di bawah kuasaku, biarkan takdir istirahat dalam pedangmu. Jika kau memenuhi panggilan Cawan Suci, dan jika kau mematuhi pikiran ini, alasan ini, maka kau harus menjawab—”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maka aku bersumpah. Penawaranmu akan menjadi daging dan darahku. Kotomine Kirei, &#039;&#039;Master&#039;&#039; baruku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber prana terbuka di saat kontrak terpenuhi. &#039;&#039;Command Seal&#039;&#039; di tangan kirinya, berfungsi sekali lagi, menyala seperti semula, diiringi ledakan rasa sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakta itu telah berakhir; dan dengan begitu tim terkuat, paling kejam yang terlibat dalam pertempuran memperebutkan Cawan Suci—di sini, dalam kondisi yang tak diketahui oleh semua peserta lain—telah terlahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi haruskah kita mulai, Kirei?... Kau harus memerintahkan dan mengangkat tirai untuk pertunjukan ini. Sebagai hadiah kecil, aku akan memberikanmu Cawan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak masalah. Raja Para Pahlawan, kau tentu juga akan mendapatkan kesenangan dari hal ini. Sebelum menemukan jawaban yang kau harapkan, nikmatilah sorak-sorai pertempuran ini sepuas hatimu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatapan pupil merah yang dipenuhi sinar kegembiraan dan pupil hitam yang terbenam dalam rasa terima kasih, saling bertaut satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Back to [[Fate/Zero:Jeda~ Indonesian Version|Jeda]]&lt;br /&gt;
| Return to [[Fate/Zero ~ Indonesian Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Fate/Zero:Act_13_Part_2~ Indonesian Version|Bagian 2]] &lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Seiri</name></author>
	</entry>
</feed>