<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Silverhammer</id>
	<title>Baka-Tsuki - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://www.baka-tsuki.org/project/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Silverhammer"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Special:Contributions/Silverhammer"/>
	<updated>2026-05-04T08:38:46Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.1</generator>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=19203</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=19203"/>
		<updated>2007-07-25T09:33:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: 75%&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi terdengar seperti seorang guru privat yang sedang mengajar seorang murid dengan ingatan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi Itsuki di dunia nyata dan ‘Koizumi Itsuki’ yang ini adalah dua orang yang berbeda. Aku kira kau tidak bisa mencampur-adukkan diriku dengan tokoh yang aku perankan. Bahkan kalaupun ada orang yang mencampur-adukkan keduanya, orang itu adalah Suzumiya-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih belum bisa tenang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kau katakan itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila dia telah mencampur-adukkan dunia nyata dengan suatu dunia fiktif, dunia ini sudah akan berubah menjadi sebuah dunia fiksi ilmiah. Sudah kukatakan sebelumnya, Suzumiya-san mungkin terlihat sebaliknya, tapi dia berpikir secara logis dalam batas-batas realita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu aku tahu itu, karena jalan pikiran Haruhi selalu ada di dalam mode setengah-fantasi, itulah mengapa aku selalu terlibat dalam segala macam kejadian-kejadian aneh. Lebih parahnya, Haruhi si biang keladi bahkan tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita tidak mempunyai bukti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin suatu hari keadaan akan berkembang sampai kepada suatu tingkat dimana hal itu tidak akan bisa dielakkan lagi, tapi bukan sekarang. Baguslah bahwa pihak-pihak yang diwakili oleh Asahina-san dan Nagato-san juga berpikir sama, jadi aku percaya bahwa tidak apa-apa jika kita menjaga keadaan tetap seperti ini selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga berpikir begitu, karena aku tidak mau melihat dunia diacak-acak. Sayang apabila dunia berakhir sebelum aku bahkan sempat menamatkan video game yang dirilis minggu depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi meneruskan senyumnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada mengkhawatirkan dunia, kau seharusnya lebih memperhatikan dirimu sendiri. Mungkin saja aku dan Nagato-san digantikan oleh orang lain dengan mudah, tapi kau tidak begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar Koizumi tidak melihat pikiranku yang sekarang menjadi kompleks, aku berpura-pura berkonsentrasi mengisi senapan mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Haruhi menghabiskan hari dengan menyuruh Asahina-san mencoba kostum, mengumumkan pembagian tokoh pada semua orang, dan menyelesaikan kegiatan hari ini. Sebetulnya, dia telah berencana untuk menyeret Asahina-san, dalam kostum pelayannya berkeliling sekolah, dan kemudian membuka konferensi pers untuk mempromosikan filmnya. Tapi karena Asahina-san sudah hampir menitikkan air mata, aku mencoba segala hal untuk membatalkan ide itu. Kukatakan pada Haruhi bahwa di sekolah ini tidak ada Perkumpulan Berita, ataupun Perkumpulan Jurnalistik, dan pastinya tidak ada Perkumpulan Periklanan. Haruhi menatapku, mulutnya dimajukan seperti paruh burung, dan melihat ke bawah sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengira dia akan menyerah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik merahasiakan semuanya sampai saat-saat terakhir. Kyon, kau cukup pintar untuk orang dengan tingkat kepandaian sepertimu. Akan merepotkan apabila hal ini telah bocor sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan semacam film aksi Hollywood atau Hong Kong; tidak akan ada orang yang tertarik mencuri ide-ide anehmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu Kyon, kau bertanggung jawab memastikan senjata itu siap sedia hari ini, karena syuting dimulai besok. Kau harus belajar bagaimana menggunakan kamera juga. Oh ya, kau harus mencari software yang bisa memindahkan video klip ke komputer untuk diedit secara digital, dan....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Haruhi menyorongkan setumpuk pekerjaan padaku dan pulang sambil menyenandungkan lagu dari “The Great Escape”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar tahu bagaimana memberikan banyak masalah pada orang-orang bagaimanapun perasaan mereka. Yang benar saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang, Koizumi dan aku sedang sibuk membaca manual penggunaan dan mencari tahu bagaimana menembakkan peluru BB dari senjata mainan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti baju, Asahina-san pulang dengan bahu yang terkulai. Nagato juga menghilang, bahkan tanpa membawa tasnya, dengan kostum penyihir itu, bagai orang yang diundang ke Sabbath. Tampaknya Nagato hanya datang untuk menunjukkan kostumnya pada kami. Melihat dari gayanya, mungkin ada makna tertentu untuknya dengan melakukan hal itu, walaupun mungkin juga dia hanya ingin datang begitu saja. Dia mungkin sedang sibuk melakukan sesuatu di kelasnya, misalnya meramal masa depan dengan menggunakan bola kristal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa bahwa sekolah semakin hari menjadi semakin hidup. Setiap hari setelah jam sekolah, barisan terompet di orkestra-kelas-tiga tidak lagi sumbang dan mulai kompak; ada juga orang-orang yang sedang memotong-motong tripleks dan kayu di setiap pojok sekolah yang tersembunyi; sementara itu jumlah siswa yang memakai pakaian aneh seperti halnya Nagato mulai meningkat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, ini hanyalah suatu kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolah prefek yang sederhana, nampaknya ini tidak akan menjadi suatu kegiatan yang mencengangkan. Menurut pendapatku, paling banyak hanya setengah siswa sekolah yang tidak menyerah untuk bekerja keras dan membuat kehidupan sekolah mereka lebih bisa dinikmati. Di lain pihak, kelas kami, I-5, sudah sejak lama berhenti berusaha bersenang-senang di festival. Mereka yang tidak terikat dengan klub manapun mungkin punya banyak waktu luang saat ini, dan Taniguchi serta Kunikida adalah perwakilan yang sempurna dari “Klub yang Pulang Setelah Sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah ini...” kata Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah saat istirahat makan siang, aku duduk-duduk dengan dengan dua tokoh sampingan yang tidak signifikan ini dan menyantap bekal makan siang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian, sementara Taniguchi menampilkan senyum yang tampak mengerikan, dan tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan senyum elegan Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastilah event yang super.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau tidak terdengar seperti Haruhi? Senyum di wajah Taniguchi pudar dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi event ini tak berhubungan denganku, betul-betul menyebalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini tidak seru sama sekali. Dan orang-orang yang sok sibuk itu benar-benar membuatku sebal, terutama dimana anak-anak laki-laki berpasangan dengan anak perempuan. Aku jadi ingin membunuh mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya inikah yang dinamakan amarah karena cemburu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas kita? Mengadakan survei? Huh! Sangat membosankan! Ini hanya akan jadi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang apa warna kesukaanmu! Memangnya apa tujuannya mengumpulkan informasi semacam itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lain? Mungkin kalau begitu Haruhi tidak akan punya waktu untuk membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menelan sebuah sosis sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan merepotkan diriku sendiri dengan mengajukan usul semacam itu. Hhh, aku tidak keberatan untuk mengajukan usul, cuma aku pasti akan disuruh menjadi ketua panitia kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida berhenti memotong bolu gulungnya dan berkata, “Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya orang-orang bodoh yang berani mengajukan usul, atau orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, misalnya apabila Asakura-san masih disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan nama siswa yang pindah ke Kanada. Aku masih berkeringat dingin setiap kali aku mendengar nama itu. Walaupun Nagato-lah yang membuat Asakura menghilang, akulah penyebab utama kepergiannya. Aku juga tidak berbuat apapun untuk mencegahnya menghilang waktu itu, jadi sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh, memang sayang sekali,” kata Taniguchi. “Kenapa siswa pintar yang sempurna harus pergi? Dia adalah satu-satunya alasan aku merasa bersyukur berada di kelas ini. Sial, aku penasaran apakah sudah terlambat untuk mengajukan permohonan pindah kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelas mana yang menjadi tujuanmu?” Kunikida bertanya, “kelasnya Nagato? Oh, omong-omong, aku melihat dia berkeliaran dengan pakaian tukang sihir, apa sih maksudnya itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, aku juga tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nagato, ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menatapku, matanya tiba-tiba terlihat seperti dia harus menghadapi ujian mendadak matematika, dan berkata seperti baru tersadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kapan itu dimulai? Aku melihat kau memeluknya di ruang kelas dulu. Itu mungkin salah satu skenario Suzumiya. Kau sengaja melakukannya untuk menakut-nakutiku, kan? Kau tidak bisa menipuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baguslah Taniguchi salah membaca situasi, beban di pundakku terangkat dengan seketika.... Tunggu sebentar, bukankah kau kembali ke kelas gara-gara kau lupa mengambil sesuatu? Bagaimana aku tahu kau akan muncul? .... Tentunya, aku tidak memberitahukan hal ini padanya. Taniguchi seorang yang bodoh, dan tidak ada gunanya memberitahu seorang bodoh bahwa dia adalah orang yang bodoh. Kadang-kadang aku bahkan bersyukur bahwa para dewa membuat Taniguchi orang yang bodoh sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, itu hanyalah nonsens.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan penuh syukur, Kunikida sibuk dengan makanannya, sementara aku menengok ke belakang. Bangku Haruhi kosong, apa yang dilakukannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkeliling sekolah mencari tempat untuk syuting film,” kata Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tidak ada lokasi yang cocok. Tidak mungkin kita mendapatkan atmosfernya di dalam sekolah, ayo kita keluar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin tidak menyukai atmosfer di dalam sekolah, tapi dia tidak harus bersusah-payah mencari tempat yang ramai di luar sekolah hanya gara-gara itu. Dia tampaknya benar-benar berniat membuat sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... A...apakah aku harus ikut juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bertanya dengan nada ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Kita tidak bisa terus tanpa bintang utama kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Da...dalam kostum ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bergidik, karena sama seperti kemarin, dia hari ini dipaksa lagi untuk mengenakan kostum pelayan itu, yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana Haruhi mendapatkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi langsung mengangguk, sementara Asahina-san memeluk dirinya sendiri dan bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akan merepotkan kalau kau harus berganti kostum terus-menerus? Kita mungkin malah tidak bisa menemukan tempat untuk ganti baju. Jadi kau sebaiknya memakai kostum itu sepanjang hari, kan? Ayo! Kita pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya bolehkah aku memakai sesuatu di atasnya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini terlalu memalukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus merasa malu untuk menampilkan rasa malu yang hampir tak kentara itu! Bagaimana kau bisa memenangkan Golden Globe kalau begini saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tujuan kita hanyalah memenangkan penghargaan terbaik di festival sekolah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini semua anggota Brigade SOS berkumpul di ruang klub. Koizumi datang juga, skenario untuk teater kelasnya suda diselesaikan, tersenyum melihat interaksi berat sebelah antara Haruhi dan Asahina-san. Nagato ada di sini juga, walaupun masalahnya lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam seperti biasa, itu tak apa-apa, tapi dia terlihat aneh hari ini. Untuk suatu alasan, dia lagi-lagi memakai kostum penyihir yang dia tunjukkan kemarin. Sebetulnya dia bisa saja memakai kostum itu hanya pada hari festival sekolah, dia tidak perlu memakainya dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tampaknya senang sekali dengan jubah hitam dan topi runcing Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peranmu sekarang adalah ‘Penyihir Alien Jahat!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_02.jpg|thumb|&#039;&#039;Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya....&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
Tanpa membuang waktu, dia mengubah skenarionya. Aku memperhatikan selagi Haruhi memberikan Nagato sebuah tongkat konduktor, yang di ujungnya terpasang bintang hiasan, seperti yang biasa digunakan untuk menghias pohon Natal, sementara Nagato berdiri tak bergerak. Karena alasan tertentu, aku bahkan tidak berkeberatan si kutu buku pendiam ini mendapatkan peran penyihir alien. Mungkin peran ini lebih cocok bagi Nagato daripada suatu Entitas Data Terintegrasi, karena dia memang benar-benar mempunyai kekuatan sihir, setidaknya di mataku, jadi hal ini tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tiba-tiba mendorong ujung topinya dan menatapku dengan matanya yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku khawatir tentang bagaimana Haruhi dengan seenaknya memutuskan untuk menggunakan kostum yang aslinya dirancang untuk kegiatan kelas lain di filmnya, tapi untuk dia, masalah semacam ini, sederhananya, tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon! Kau sudah mempersiapkan kameranya? Koizumi-kun, aku mengandalkanmu untuk membawa peralatan yang disana. Mikuru-chan! Mengapa kau masih berpegangan ke meja? Ayo cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya, sementara Koizumi keluar terakhir, mengedip ke arahku, dan lalu menghilang ke koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang menimbang-nimbang apakah masih mungkin bagiku untuk tidak ikut....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Kita tidak bisa membuat film tanpa juru kamera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tubuh atasnya di pintu yang terbuka dan berteriak keras kepadaku dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat kata-kata “Sutradara Besar” tertulis di pita lengan di lengan kiri Haruhi, aku tiba-tiba mempunyai firasat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya perempuan ini benar-benar serius tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi, yang menamakan dirinya “Sutradara Besar” walaupun tidak mempunyai pengalaman menyutradarai apapun sebelumnya, memimpin di depan; si pelayan yang lucu menundukkan kepalanya dan mengikuti dari belakang; si penyihir muda yang suram membuntuti dari belakang bagaikan bayang-bayang; sementara Koizumi membawa kantong-kantong kertas dan tersenyum cerah.... Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk berada sejauh mungkin selagi aku membuntuti kelompok yang eksentrik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menarik perhatian seluruh sekolah selagi berjalan keluar, parade kostum Halloween ini menjadi pusat perhatian begitu melangkah keluar dari sekolah. Asahina berjalan dengan sedih di antara mereka; setelah dua menit berjalan, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin, tiga menit dan wajahnya memerah dengan hebat, lima menit kemudian dia melayang di udara bagaikan hantu yang depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan di depan dengan berbinar-binar, seolah-olah langit akan runtuh, sambil bersenandung dengan lagu tema dari “Heaven and Hell”. Aku tidak tahu kapan dia menyiapkannya, yang jelas aku melihat dia membawa loudspeaker warna kuning di tangan kanannya, dan kursi sutradara di tangan kirinya, berjalan dengan gagah bagaikan pasukan Mongol yang berbaris ke arah barat melewati padang rumput. Selagi aku bertanya-tanya dimana dia selanjutnya akan menyerang, aku menyadari bahwa kami telah sampai di stasiun kereta. Haruhi membeli lima karcis dan membagikannya pada kami, lalu berjalan seperti biasa ke arah pintu putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyuarakan keberatanku sebelum Asahina-san sempat berbicara. Aku mengarahkan telunjukku pada si pelayan yang memakai rok mini, yang menarik pandangan orang dari mana-mana, dan pada si penyihir berjubah hitam, yang hanya berdiri diam seperti seorang penonton, dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau akan membiarkan mereka naik kereta dengan pakaian seperti itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa masalahnya?” Haruhi berpura-pura tidak tahu dan membantah, “Kalau mereka tidak memakai apa-apa, mereka mungkin akan ditahan polisi. Tapi mereka ‘kan berpakaian! Atau kau pikir mungkin kostum bunny-girl lebih cocok? Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku tidak keberatan mengganti judul sementara jadi ‘Battle Bunny-Girl’!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bantahan ini seharusnya tidak berasal dari seseorang yang dengan sengaja membawa-bawa orang lain yang berkostum pelayan.... Omong-omong, kukira kau bilang kau sudah memikirkan konsep untuk film ini? Aku tidak terlalu yakin, tapi bisakah kau mengubah konsep filmnya begitu saja, kapanpun kau suka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menebak apa sebenarnya yang dipikirkan oleh sutradara kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kemampuan beradaptasi terhadap keadaan itu sangat penting. Begitulah caranya kehidupan di muka bumi berevolusi sampai saat ini, melalui survival of the fittest. Kau akan punah kalau kau berhenti berpikir! Kita harus belajar bagaimana beradaptasi untuk bertahan hidup!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adaptasi terhadap apa? Kalau alam mempunyai kesadaran, aku yakin hal pertama yang akan dilakukannya adalah mengusir Haruhi dari muka bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koisumi telah tereduksi menjadi budak tersenyum yang bertugas membawa peralatan, Nagato tetap diam, sementara Asahina-san terlalu lelah untuk berkata-kata. Dengan kata lain, hanya akulah yang mengeluarkan semua bantahan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa aku berharap ada seseorang yang mampu menemukan jalan keluar dari situasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, tampaknya Haruhi mengartikan kebisuan kami sebagai orang-orang yang sedang berpikir keras setelah mendengar pidatonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, keretanya datang! Ayo, Mikuru-chan! Pertunjukkan akan dimulai!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti polisi yang menggiring penjahat perempuan dengan motif yang patut diberi simpati, Haruhi mendorong bagu Asahina-san melewati pintu putar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah keluar dari stasiun tujuan, aku menyadari bahwa ini adalah stasiun yang pernah kami kunjungi waktu itu, pusat perbelanjaan tepat di depan kami. Sebelum aku sempat mencurigainya, aku menyadari bahwa Haruhi bahkan datang ke toko yang tepat sama dengan toko yang pernah dia datangi. Ini adalah toko elektronik tempat dia berhasil mendapatkan kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku datang, sesuai janji!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan masuk dengan enerjik, sementara si manajer toko menjulurkan kepalanya dan mengarahkan pandangan pada Asahina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ho, ho.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si manajer menatap si pemeran utama dengan senyuman yang tampak horny, sementara Asahina-san berdiri kaku seperti karakter game fighting yang baru saja menghabiskan seluruh jatah jurus spesialnya. Si manajer lalu berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia gadis dari hari kemarin? Dia benar-benar tampak berbeda hari ini, ho ho. Baiklah, kami mengandalkanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengandalkan apaan? Aku secara refleks ingin maju selangkah dan melindungi Asahina-san, yang bergetar ketakutan, di belakang punggungku, tapi aku terdorong oleh Haruhi sebelum aku sempat melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertemuan akan dimulai, jadi dengarkan, semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan senyum yang sama dengan senyumnya sewaktu memenangkan lomba lari estafet antar kelas waktu pesta olahraga, Haruhi mengumumkan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mulai syuting iklannya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pe... pemilik toko ini, mmm, dia sangat ramah dan murah hati. Toko ini dibuka oleh kakek dari pemilik yang sekarang, Eijirou-san, dan mereka menjual bermacam-macam barang, mulai dari baterai kering sampai lemari es. Oh, dan... mmm...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pelayan tersenyum kaku selagi dia mencoba sebaik mungkin untuk membaca naskah, sementara Nagato berdiri di sebelahnya sambil memegang papan plastik bertuliskan “Toko Elektronik Oomori”. Kedua orang ini sekarang tertangkap dalam kameraku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memamerkan senyum yang sangat kikuk, sambil memegang mikrofon yang bahkan kabelnya tidak dipasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berdiri di sebelahku dan tersenyum lemah selagi dia membawa plakat yang bertuliskan naskahnya. Plakat ini sebenarnya adalah buku gambar tempat Haruhi menuliskan naskah, bahkan tanpa berpikir, beberapa saat lalu. Koizumi membuka halaman demi halaman buku gambar itu sesuai dengan kecepatan membaca Asahina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdiri di luar pintu masuk toko elektronik itu, yang berada tepat di tengah-tengah daerah pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi duduk di kursi sutradara sambil menyilangkan kaki, dan merengut melihat akting Asahina-san.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OK, cut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memukulkan loudspeaker ke telapak tangannya dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi itu benar-benar tidak ada emosi sama sekali. Kenapa kau tidak bisa mengekspresikannya? Benar-benar tidak ada perasaan ‘ini dia!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berceloteh sambil menggigit-gigit kukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhenyak, aku berhenti merekam. Sambil menggenggam mikrofon dengan kedua tangan, Asahina-san juga berhenti. Nagato dari awalnya tidak pernah bergerak, sedangkan yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pejalan kaki di pusat perbelanjaan ini sekarang berkumpul di belakang kami dengan rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, ekspresimu terlalu kaku. Kau harus tersenyum dengan lebih alami, dari lubuk hatimu. Pikirkanlah sesuatu yang menyenangkan, bukankah kau senang sekarang! Kau kan dipilih menjadi pemeran utama! Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari ini seumur hidupmu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar ingin memberitahunya, &#039;&#039;Berhentilah berbuat konyol!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku harus meringkas percakapan antara Haruhi dan si pemilik toko menjadi dua baris, aku yakin hasilnya akan seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu kami membuat film, kami akan membuat iklan untuk toko ini juga. Jadi maukah anda meminjamkan kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu, tak masalah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pemilik toko rupanya diperdaya untuk mempercayai kata-kata manis Haruhi, sementara Haruhi rupanya sudah gila karena menaruh iklan di tengah-tengah film. Aku belum pernah menonton film dimana pemeran utama wanita harus menjadi juru bicara sebuah produk. Aku tidak berkeberatan dengan &#039;&#039;product placement&#039;&#039; sederhana dengan cara menampilkan nama toko di latar belakang beberapa adegan, tapi sekarang kami malah membuat iklan, dan bukan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tiba-tiba berseru. Apa sekarang yang kau tahu!?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rasanya aneh kalau melihat seorang pelayan keluar dari toko elektronik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itu karena kostum yang kau pilih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi-kun, berikan kantong itu. Yang kecil di sebelah sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil kantong kertas yang disodorkan Koizumi, lalu menyambar tangan Asahina-san yang sedang melamun, dan berjalan ke arah toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Manajer! Apakah ada tempat untuk ganti baju? Mmm, dimanapun bisa. Di kamar mandi juga boleh. Sungguh? Kalau begitu kami akan ke gudang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berhenti, dia lalu menyeret Asahina-san dan menghilang ke dalam toko. Asahina-san yang malang bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan, dan hanya dapat menurut selagi dia diseret oleh kekuatan Haruhi yang menakjubkan. Mungkin saja dia siap melakukan apapun yang dikatakan Haruhi selama dia bisa melepas kostum itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi, Nagato dan aku ditinggal di luar, tanpa pekerjaan. Nagato memakai kostum hitamnya dan terus mengangkat papan plastiknya sambil menatap kamera. Hebat juga, lengannya tidak pernah lelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum lembut kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tampaknya aku belum akan tampil dalam waktu dekat. Aku ikut drama kelas hanya karena semua orang di kelas menginginkanku, sangat melelahkan mencoba mengingat-ingat semua naskahnya, jadi aku berharap tidak ada banyak dialog untuk tokoh yang kuperankan ini... Bagaimana menurutmu? Mengapa kau tidak mencoba menjadi pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi-lah yang menentukan siapa memerankan siapa, jadi kau harus bertanya padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau kira aku sanggup melakukan tugas mengerikan seperti itu? Aku tidak berani membayangkan seorang aktor menasihati produser eksekutif dan sutradara tentang apa yang harus dilakukan, karena perintah Suzumiya-san adalah mutlak. Aku bahkan tidak berani membayangkan tindakan balasan apa yang akan dilakukannya padaku kalau aku berbuat semacam itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 75%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18494</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18494"/>
		<updated>2007-07-02T05:34:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi terdengar seperti seorang guru privat yang sedang mengajar seorang murid dengan ingatan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi Itsuki di dunia nyata dan ‘Koizumi Itsuki’ yang ini adalah dua orang yang berbeda. Aku kira kau tidak bisa mencampur-adukkan diriku dengan tokoh yang aku perankan. Bahkan kalaupun ada orang yang mencampur-adukkan keduanya, orang itu adalah Suzumiya-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih belum bisa tenang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kau katakan itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila dia telah mencampur-adukkan dunia nyata dengan suatu dunia fiktif, dunia ini sudah akan berubah menjadi sebuah dunia fiksi ilmiah. Sudah kukatakan sebelumnya, Suzumiya-san mungkin terlihat sebaliknya, tapi dia berpikir secara logis dalam batas-batas realita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu aku tahu itu, karena jalan pikiran Haruhi selalu ada di dalam mode setengah-fantasi, itulah mengapa aku selalu terlibat dalam segala macam kejadian-kejadian aneh. Lebih parahnya, Haruhi si biang keladi bahkan tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita tidak mempunyai bukti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin suatu hari keadaan akan berkembang sampai kepada suatu tingkat dimana hal itu tidak akan bisa dielakkan lagi, tapi bukan sekarang. Baguslah bahwa pihak-pihak yang diwakili oleh Asahina-san dan Nagato-san juga berpikir sama, jadi aku percaya bahwa tidak apa-apa jika kita menjaga keadaan tetap seperti ini selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga berpikir begitu, karena aku tidak mau melihat dunia diacak-acak. Sayang apabila dunia berakhir sebelum aku bahkan sempat menamatkan video game yang dirilis minggu depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi meneruskan senyumnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada mengkhawatirkan dunia, kau seharusnya lebih memperhatikan dirimu sendiri. Mungkin saja aku dan Nagato-san digantikan oleh orang lain dengan mudah, tapi kau tidak begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar Koizumi tidak melihat pikiranku yang sekarang menjadi kompleks, aku berpura-pura berkonsentrasi mengisi senapan mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Haruhi menghabiskan hari dengan menyuruh Asahina-san mencoba kostum, mengumumkan pembagian tokoh pada semua orang, dan menyelesaikan kegiatan hari ini. Sebetulnya, dia telah berencana untuk menyeret Asahina-san, dalam kostum pelayannya berkeliling sekolah, dan kemudian membuka konferensi pers untuk mempromosikan filmnya. Tapi karena Asahina-san sudah hampir menitikkan air mata, aku mencoba segala hal untuk membatalkan ide itu. Kukatakan pada Haruhi bahwa di sekolah ini tidak ada Perkumpulan Berita, ataupun Perkumpulan Jurnalistik, dan pastinya tidak ada Perkumpulan Periklanan. Haruhi menatapku, mulutnya dimajukan seperti paruh burung, dan melihat ke bawah sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengira dia akan menyerah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik merahasiakan semuanya sampai saat-saat terakhir. Kyon, kau cukup pintar untuk orang dengan tingkat kepandaian sepertimu. Akan merepotkan apabila hal ini telah bocor sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan semacam film aksi Hollywood atau Hong Kong; tidak akan ada orang yang tertarik mencuri ide-ide anehmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu Kyon, kau bertanggung jawab memastikan senjata itu siap sedia hari ini, karena syuting dimulai besok. Kau harus belajar bagaimana menggunakan kamera juga. Oh ya, kau harus mencari software yang bisa memindahkan video klip ke komputer untuk diedit secara digital, dan....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Haruhi menyorongkan setumpuk pekerjaan padaku dan pulang sambil menyenandungkan lagu dari “The Great Escape”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar tahu bagaimana memberikan banyak masalah pada orang-orang bagaimanapun perasaan mereka. Yang benar saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang, Koizumi dan aku sedang sibuk membaca manual penggunaan dan mencari tahu bagaimana menembakkan peluru BB dari senjata mainan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti baju, Asahina-san pulang dengan bahu yang terkulai. Nagato juga menghilang, bahkan tanpa membawa tasnya, dengan kostum penyihir itu, bagai orang yang diundang ke Sabbath. Tampaknya Nagato hanya datang untuk menunjukkan kostumnya pada kami. Melihat dari gayanya, mungkin ada makna tertentu untuknya dengan melakukan hal itu, walaupun mungkin juga dia hanya ingin datang begitu saja. Dia mungkin sedang sibuk melakukan sesuatu di kelasnya, misalnya meramal masa depan dengan menggunakan bola kristal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa bahwa sekolah semakin hari menjadi semakin hidup. Setiap hari setelah jam sekolah, barisan terompet di orkestra-kelas-tiga tidak lagi sumbang dan mulai kompak; ada juga orang-orang yang sedang memotong-motong tripleks dan kayu di setiap pojok sekolah yang tersembunyi; sementara itu jumlah siswa yang memakai pakaian aneh seperti halnya Nagato mulai meningkat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, ini hanyalah suatu kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolah prefek yang sederhana, nampaknya ini tidak akan menjadi suatu kegiatan yang mencengangkan. Menurut pendapatku, paling banyak hanya setengah siswa sekolah yang tidak menyerah untuk bekerja keras dan membuat kehidupan sekolah mereka lebih bisa dinikmati. Di lain pihak, kelas kami, I-5, sudah sejak lama berhenti berusaha bersenang-senang di festival. Mereka yang tidak terikat dengan klub manapun mungkin punya banyak waktu luang saat ini, dan Taniguchi serta Kunikida adalah perwakilan yang sempurna dari “Klub yang Pulang Setelah Sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah ini...” kata Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah saat istirahat makan siang, aku duduk-duduk dengan dengan dua tokoh sampingan yang tidak signifikan ini dan menyantap bekal makan siang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian, sementara Taniguchi menampilkan senyum yang tampak mengerikan, dan tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan senyum elegan Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastilah event yang super.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau tidak terdengar seperti Haruhi? Senyum di wajah Taniguchi pudar dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi event ini tak berhubungan denganku, betul-betul menyebalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini tidak seru sama sekali. Dan orang-orang yang sok sibuk itu benar-benar membuatku sebal, terutama dimana anak-anak laki-laki berpasangan dengan anak perempuan. Aku jadi ingin membunuh mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya inikah yang dinamakan amarah karena cemburu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas kita? Mengadakan survei? Huh! Sangat membosankan! Ini hanya akan jadi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang apa warna kesukaanmu! Memangnya apa tujuannya mengumpulkan informasi semacam itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lain? Mungkin kalau begitu Haruhi tidak akan punya waktu untuk membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menelan sebuah sosis sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan merepotkan diriku sendiri dengan mengajukan usul semacam itu. Hhh, aku tidak keberatan untuk mengajukan usul, cuma aku pasti akan disuruh menjadi ketua panitia kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida berhenti memotong bolu gulungnya dan berkata, “Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya orang-orang bodoh yang berani mengajukan usul, atau orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, misalnya apabila Asakura-san masih disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan nama siswa yang pindah ke Kanada. Aku masih berkeringat dingin setiap kali aku mendengar nama itu. Walaupun Nagato-lah yang membuat Asakura menghilang, akulah penyebab utama kepergiannya. Aku juga tidak berbuat apapun untuk mencegahnya menghilang waktu itu, jadi sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh, memang sayang sekali,” kata Taniguchi. “Kenapa siswa pintar yang sempurna harus pergi? Dia adalah satu-satunya alasan aku merasa bersyukur berada di kelas ini. Sial, aku penasaran apakah sudah terlambat untuk mengajukan permohonan pindah kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelas mana yang menjadi tujuanmu?” Kunikida bertanya, “kelasnya Nagato? Oh, omong-omong, aku melihat dia berkeliaran dengan pakaian tukang sihir, apa sih maksudnya itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, aku juga tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nagato, ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menatapku, matanya tiba-tiba terlihat seperti dia harus menghadapi ujian mendadak matematika, dan berkata seperti baru tersadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kapan itu dimulai? Aku melihat kau memeluknya di ruang kelas dulu. Itu mungkin salah satu skenario Suzumiya. Kau sengaja melakukannya untuk menakut-nakutiku, kan? Kau tidak bisa menipuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baguslah Taniguchi salah membaca situasi, beban di pundakku terangkat dengan seketika.... Tunggu sebentar, bukankah kau kembali ke kelas gara-gara kau lupa mengambil sesuatu? Bagaimana aku tahu kau akan muncul? .... Tentunya, aku tidak memberitahukan hal ini padanya. Taniguchi seorang yang bodoh, dan tidak ada gunanya memberitahu seorang bodoh bahwa dia adalah orang yang bodoh. Kadang-kadang aku bahkan bersyukur bahwa para dewa membuat Taniguchi orang yang bodoh sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, itu hanyalah nonsens.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan penuh syukur, Kunikida sibuk dengan makanannya, sementara aku menengok ke belakang. Bangku Haruhi kosong, apa yang dilakukannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkeliling sekolah mencari tempat untuk syuting film,” kata Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tidak ada lokasi yang cocok. Tidak mungkin kita mendapatkan atmosfernya di dalam sekolah, ayo kita keluar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin tidak menyukai atmosfer di dalam sekolah, tapi dia tidak harus bersusah-payah mencari tempat yang ramai di luar sekolah hanya gara-gara itu. Dia tampaknya benar-benar berniat membuat sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... A...apakah aku harus ikut juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bertanya dengan nada ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Kita tidak bisa terus tanpa bintang utama kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Da...dalam kostum ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bergidik, karena sama seperti kemarin, dia hari ini dipaksa lagi untuk mengenakan kostum pelayan itu, yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana Haruhi mendapatkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi langsung mengangguk, sementara Asahina-san memeluk dirinya sendiri dan bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akan merepotkan kalau kau harus berganti kostum terus-menerus? Kita mungkin malah tidak bisa menemukan tempat untuk ganti baju. Jadi kau sebaiknya memakai kostum itu sepanjang hari, kan? Ayo! Kita pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya bolehkah aku memakai sesuatu di atasnya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini terlalu memalukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus merasa malu untuk menampilkan rasa malu yang hampir tak kentara itu! Bagaimana kau bisa memenangkan Golden Globe kalau begini saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tujuan kita hanyalah memenangkan penghargaan terbaik di festival sekolah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini semua anggota Brigade SOS berkumpul di ruang klub. Koizumi datang juga, skenario untuk teater kelasnya suda diselesaikan, tersenyum melihat interaksi berat sebelah antara Haruhi dan Asahina-san. Nagato ada di sini juga, walaupun masalahnya lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam seperti biasa, itu tak apa-apa, tapi dia terlihat aneh hari ini. Untuk suatu alasan, dia lagi-lagi memakai kostum penyihir yang dia tunjukkan kemarin. Sebetulnya dia bisa saja memakai kostum itu hanya pada hari festival sekolah, dia tidak perlu memakainya dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tampaknya senang sekali dengan jubah hitam dan topi runcing Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peranmu sekarang adalah ‘Penyihir Alien Jahat!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_02.jpg|thumb|&#039;&#039;Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya....&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
Tanpa membuang waktu, dia mengubah skenarionya. Aku memperhatikan selagi Haruhi memberikan Nagato sebuah tongkat konduktor, yang di ujungnya terpasang bintang hiasan, seperti yang biasa digunakan untuk menghias pohon Natal, sementara Nagato berdiri tak bergerak. Karena alasan tertentu, aku bahkan tidak berkeberatan si kutu buku pendiam ini mendapatkan peran penyihir alien. Mungkin peran ini lebih cocok bagi Nagato daripada suatu Entitas Data Terintegrasi, karena dia memang benar-benar mempunyai kekuatan sihir, setidaknya di mataku, jadi hal ini tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tiba-tiba mendorong ujung topinya dan menatapku dengan matanya yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku khawatir tentang bagaimana Haruhi dengan seenaknya memutuskan untuk menggunakan kostum yang aslinya dirancang untuk kegiatan kelas lain di filmnya, tapi untuk dia, masalah semacam ini, sederhananya, tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon! Kau sudah mempersiapkan kameranya? Koizumi-kun, aku mengandalkanmu untuk membawa peralatan yang disana. Mikuru-chan! Mengapa kau masih berpegangan ke meja? Ayo cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya, sementara Koizumi keluar terakhir, mengedip ke arahku, dan lalu menghilang ke koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang menimbang-nimbang apakah masih mungkin bagiku untuk tidak ikut....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Kita tidak bisa membuat film tanpa juru kamera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tubuh atasnya di pintu yang terbuka dan berteriak keras kepadaku dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat kata-kata “Sutradara Besar” tertulis di pita lengan di lengan kiri Haruhi, aku tiba-tiba mempunyai firasat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya perempuan ini benar-benar serius tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi, yang menamakan dirinya “Sutradara Besar” walaupun tidak mempunyai pengalaman menyutradarai apapun sebelumnya, memimpin di depan; si pelayan yang lucu menundukkan kepalanya dan mengikuti dari belakang; si penyihir muda yang suram membuntuti dari belakang bagaikan bayang-bayang; sementara Koizumi membawa kantong-kantong kertas dan tersenyum cerah.... Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk berada sejauh mungkin selagi aku membuntuti kelompok yang eksentrik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menarik perhatian seluruh sekolah selagi berjalan keluar, parade kostum Halloween ini menjadi pusat perhatian begitu melangkah keluar dari sekolah. Asahina berjalan dengan sedih di antara mereka; setelah dua menit berjalan, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin, tiga menit dan wajahnya memerah dengan hebat, lima menit kemudian dia melayang di udara bagaikan hantu yang depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 55%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18493</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18493"/>
		<updated>2007-07-02T05:30:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi terdengar seperti seorang guru privat yang sedang mengajar seorang murid dengan ingatan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi Itsuki di dunia nyata dan ‘Koizumi Itsuki’ yang ini adalah dua orang yang berbeda. Aku kira kau tidak bisa mencampur-adukkan diriku dengan tokoh yang aku perankan. Bahkan kalaupun ada orang yang mencampur-adukkan keduanya, orang itu adalah Suzumiya-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih belum bisa tenang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kau katakan itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila dia telah mencampur-adukkan dunia nyata dengan suatu dunia fiktif, dunia ini sudah akan berubah menjadi sebuah dunia fiksi ilmiah. Sudah kukatakan sebelumnya, Suzumiya-san mungkin terlihat sebaliknya, tapi dia berpikir secara logis dalam batas-batas realita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu aku tahu itu, karena jalan pikiran Haruhi selalu ada di dalam mode setengah-fantasi, itulah mengapa aku selalu terlibat dalam segala macam kejadian-kejadian aneh. Lebih parahnya, Haruhi si biang keladi bahkan tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita tidak mempunyai bukti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin suatu hari keadaan akan berkembang sampai kepada suatu tingkat dimana hal itu tidak akan bisa dielakkan lagi, tapi bukan sekarang. Baguslah bahwa pihak-pihak yang diwakili oleh Asahina-san dan Nagato-san juga berpikir sama, jadi aku percaya bahwa tidak apa-apa jika kita menjaga keadaan tetap seperti ini selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga berpikir begitu, karena aku tidak mau melihat dunia diacak-acak. Sayang apabila dunia berakhir sebelum aku bahkan sempat menamatkan video game yang dirilis minggu depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi meneruskan senyumnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada mengkhawatirkan dunia, kau seharusnya lebih memperhatikan dirimu sendiri. Mungkin saja aku dan Nagato-san digantikan oleh orang lain dengan mudah, tapi kau tidak begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar Koizumi tidak melihat pikiranku yang sekarang menjadi kompleks, aku berpura-pura berkonsentrasi mengisi senapan mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Haruhi menghabiskan hari dengan menyuruh Asahina-san mencoba kostum, mengumumkan pembagian tokoh pada semua orang, dan menyelesaikan kegiatan hari ini. Sebetulnya, dia telah berencana untuk menyeret Asahina-san, dalam kostum pelayannya berkeliling sekolah, dan kemudian membuka konferensi pers untuk mempromosikan filmnya. Tapi karena Asahina-san sudah hampir menitikkan air mata, aku mencoba segala hal untuk membatalkan ide itu. Kukatakan pada Haruhi bahwa di sekolah ini tidak ada Perkumpulan Berita, ataupun Perkumpulan Jurnalistik, dan pastinya tidak ada Perkumpulan Periklanan. Haruhi menatapku, mulutnya dimajukan seperti paruh burung, dan melihat ke bawah sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengira dia akan menyerah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik merahasiakan semuanya sampai saat-saat terakhir. Kyon, kau cukup pintar untuk orang dengan tingkat kepandaian sepertimu. Akan merepotkan apabila hal ini telah bocor sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan semacam film aksi Hollywood atau Hong Kong; tidak akan ada orang yang tertarik mencuri ide-ide anehmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu Kyon, kau bertanggung jawab memastikan senjata itu siap sedia hari ini, karena syuting dimulai besok. Kau harus belajar bagaimana menggunakan kamera juga. Oh ya, kau harus mencari software yang bisa memindahkan video klip ke komputer untuk diedit secara digital, dan....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Haruhi menyorongkan setumpuk pekerjaan padaku dan pulang sambil menyenandungkan lagu dari “The Great Escape”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar tahu bagaimana memberikan banyak masalah pada orang-orang bagaimanapun perasaan mereka. Yang benar saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang, Koizumi dan aku sedang sibuk membaca manual penggunaan dan mencari tahu bagaimana menembakkan peluru BB dari senjata mainan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti baju, Asahina-san pulang dengan bahu yang terkulai. Nagato juga menghilang, bahkan tanpa membawa tasnya, dengan kostum penyihir itu, bagai orang yang diundang ke Sabbath. Tampaknya Nagato hanya datang untuk menunjukkan kostumnya pada kami. Melihat dari gayanya, mungkin ada makna tertentu untuknya dengan melakukan hal itu, walaupun mungkin juga dia hanya ingin datang begitu saja. Dia mungkin sedang sibuk melakukan sesuatu di kelasnya, misalnya meramal masa depan dengan menggunakan bola kristal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa bahwa sekolah semakin hari menjadi semakin hidup. Setiap hari setelah jam sekolah, barisan terompet di orkestra-kelas-tiga tidak lagi sumbang dan mulai kompak; ada juga orang-orang yang sedang memotong-motong tripleks dan kayu di setiap pojok sekolah yang tersembunyi; sementara itu jumlah siswa yang memakai pakaian aneh seperti halnya Nagato mulai meningkat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, ini hanyalah suatu kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolah prefek yang sederhana, nampaknya ini tidak akan menjadi suatu kegiatan yang mencengangkan. Menurut pendapatku, paling banyak hanya setengah siswa sekolah yang tidak menyerah untuk bekerja keras dan membuat kehidupan sekolah mereka lebih bisa dinikmati. Di lain pihak, kelas kami, I-5, sudah sejak lama berhenti berusaha bersenang-senang di festival. Mereka yang tidak terikat dengan klub manapun mungkin punya banyak waktu luang saat ini, dan Taniguchi serta Kunikida adalah perwakilan yang sempurna dari “Klub yang Pulang Setelah Sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah ini...” kata Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah saat istirahat makan siang, aku duduk-duduk dengan dengan dua tokoh sampingan yang tidak signifikan ini dan menyantap bekal makan siang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian, sementara Taniguchi menampilkan senyum yang tampak mengerikan, dan tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan senyum elegan Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastilah event yang super.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau tidak terdengar seperti Haruhi? Senyum di wajah Taniguchi pudar dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi event ini tak berhubungan denganku, betul-betul menyebalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini tidak seru sama sekali. Dan orang-orang yang sok sibuk itu benar-benar membuatku sebal, terutama dimana anak-anak laki-laki berpasangan dengan anak perempuan. Aku jadi ingin membunuh mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya inikah yang dinamakan amarah karena cemburu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas kita? Mengadakan survei? Huh! Sangat membosankan! Ini hanya akan jadi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang apa warna kesukaanmu! Memangnya apa tujuannya mengumpulkan informasi semacam itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lain? Mungkin kalau begitu Haruhi tidak akan punya waktu untuk membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menelan sebuah sosis sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan merepotkan diriku sendiri dengan mengajukan usul semacam itu. Hhh, aku tidak keberatan untuk mengajukan usul, cuma aku pasti akan disuruh menjadi ketua panitia kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida berhenti memotong bolu gulungnya dan berkata, “Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya orang-orang bodoh yang berani mengajukan usul, atau orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, misalnya apabila Asakura-san masih disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan nama siswa yang pindah ke Kanada. Aku masih berkeringat dingin setiap kali aku mendengar nama itu. Walaupun Nagato-lah yang membuat Asakura menghilang, akulah penyebab utama kepergiannya. Aku juga tidak berbuat apapun untuk mencegahnya menghilang waktu itu, jadi sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh, memang sayang sekali,” kata Taniguchi. “Kenapa siswa pintar yang sempurna harus pergi? Dia adalah satu-satunya alasan aku merasa bersyukur berada di kelas ini. Sial, aku penasaran apakah sudah terlambat untuk mengajukan permohonan pindah kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelas mana yang menjadi tujuanmu?” Kunikida bertanya, “kelasnya Nagato? Oh, omong-omong, aku melihat dia berkeliaran dengan pakaian tukang sihir, apa sih maksudnya itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, aku juga tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nagato, ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menatapku, matanya tiba-tiba terlihat seperti dia harus menghadapi ujian mendadak matematika, dan berkata seperti baru tersadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kapan itu dimulai? Aku melihat kau memeluknya di ruang kelas dulu. Itu mungkin salah satu skenario Suzumiya. Kau sengaja melakukannya untuk menakut-nakutiku, kan? Kau tidak bisa menipuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baguslah Taniguchi salah membaca situasi, beban di pundakku terangkat dengan seketika.... Tunggu sebentar, bukankah kau kembali ke kelas gara-gara kau lupa mengambil sesuatu? Bagaimana aku tahu kau akan muncul? .... Tentunya, aku tidak memberitahukan hal ini padanya. Taniguchi seorang yang bodoh, dan tidak ada gunanya memberitahu seorang bodoh bahwa dia adalah orang yang bodoh. Kadang-kadang aku bahkan bersyukur bahwa para dewa membuat Taniguchi orang yang bodoh sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, itu hanyalah nonsens.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan penuh syukur, Kunikida sibuk dengan makanannya, sementara aku menengok ke belakang. Bangku Haruhi kosong, apa yang dilakukannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkeliling sekolah mencari tempat untuk syuting film,” kata Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tidak ada lokasi yang cocok. Tidak mungkin kita mendapatkan atmosfernya di dalam sekolah, ayo kita keluar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin tidak menyukai atmosfer di dalam sekolah, tapi dia tidak harus bersusah-payah mencari tempat yang ramai di luar sekolah hanya gara-gara itu. Dia tampaknya benar-benar berniat membuat sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... A...apakah aku harus ikut juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bertanya dengan nada ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Kita tidak bisa terus tanpa bintang utama kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Da...dalam kostum ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bergidik, karena sama seperti kemarin, dia hari ini dipaksa lagi untuk mengenakan kostum pelayan itu, yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana Haruhi mendapatkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi langsung mengangguk, sementara Asahina-san memeluk dirinya sendiri dan bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akan merepotkan kalau kau harus berganti kostum terus-menerus? Kita mungkin malah tidak bisa menemukan tempat untuk ganti baju. Jadi kau sebaiknya memakai kostum itu sepanjang hari, kan? Ayo! Kita pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya bolehkah aku memakai sesuatu di atasnya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini terlalu memalukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus merasa malu untuk menampilkan rasa malu yang hampir tak kentara itu! Bagaimana kau bisa memenangkan Golden Globe kalau begini saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tujuan kita hanyalah memenangkan penghargaan terbaik di festival sekolah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini semua anggota Brigade SOS berkumpul di ruang klub. Koizumi datang juga, skenario untuk teater kelasnya suda diselesaikan, tersenyum melihat interaksi berat sebelah antara Haruhi dan Asahina-san. Nagato ada di sini juga, walaupun masalahnya lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam seperti biasa, itu tak apa-apa, tapi dia terlihat aneh hari ini. Untuk suatu alasan, dia lagi-lagi memakai kostum penyihir yang dia tunjukkan kemarin. Sebetulnya dia bisa saja memakai kostum itu hanya pada hari festival sekolah, dia tidak perlu memakainya dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tampaknya senang sekali dengan jubah hitam dan topi runcing Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peranmu sekarang adalah ‘Penyihir Alien Jahat!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa membuang waktu, dia mengubah skenarionya. Aku memperhatikan selagi Haruhi memberikan Nagato sebuah tongkat konduktor, yang di ujungnya terpasang bintang hiasan, seperti yang biasa digunakan untuk menghias pohon Natal, sementara Nagato berdiri tak bergerak. Karena alasan tertentu, aku bahkan tidak berkeberatan si kutu buku pendiam ini mendapatkan peran penyihir alien. Mungkin peran ini lebih cocok bagi Nagato daripada suatu Entitas Data Terintegrasi, karena dia memang benar-benar mempunyai kekuatan sihir, setidaknya di mataku, jadi hal ini tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tiba-tiba mendorong ujung topinya dan menatapku dengan matanya yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku khawatir tentang bagaimana Haruhi dengan seenaknya memutuskan untuk menggunakan kostum yang aslinya dirancang untuk kegiatan kelas lain di filmnya, tapi untuk dia, masalah semacam ini, sederhananya, tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon! Kau sudah mempersiapkan kameranya? Koizumi-kun, aku mengandalkanmu untuk membawa peralatan yang disana. Mikuru-chan! Mengapa kau masih berpegangan ke meja? Ayo cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_02.jpg|thumb|&#039;&#039;Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya....&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya, sementara Koizumi keluar terakhir, mengedip ke arahku, dan lalu menghilang ke koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang menimbang-nimbang apakah masih mungkin bagiku untuk tidak ikut....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Kita tidak bisa membuat film tanpa juru kamera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tubuh atasnya di pintu yang terbuka dan berteriak keras kepadaku dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat kata-kata “Sutradara Besar” tertulis di pita lengan di lengan kiri Haruhi, aku tiba-tiba mempunyai firasat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya perempuan ini benar-benar serius tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi, yang menamakan dirinya “Sutradara Besar” walaupun tidak mempunyai pengalaman menyutradarai apapun sebelumnya, memimpin di depan; si pelayan yang lucu menundukkan kepalanya dan mengikuti dari belakang; si penyihir muda yang suram membuntuti dari belakang bagaikan bayang-bayang; sementara Koizumi membawa kantong-kantong kertas dan tersenyum cerah.... Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk berada sejauh mungkin selagi aku membuntuti kelompok yang eksentrik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menarik perhatian seluruh sekolah selagi berjalan keluar, parade kostum Halloween ini menjadi pusat perhatian begitu melangkah keluar dari sekolah. Asahina berjalan dengan sedih di antara mereka; setelah dua menit berjalan, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin, tiga menit dan wajahnya memerah dengan hebat, lima menit kemudian dia melayang di udara bagaikan hantu yang depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 55%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18492</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18492"/>
		<updated>2007-07-02T05:23:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi terdengar seperti seorang guru privat yang sedang mengajar seorang murid dengan ingatan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi Itsuki di dunia nyata dan ‘Koizumi Itsuki’ yang ini adalah dua orang yang berbeda. Aku kira kau tidak bisa mencampur-adukkan diriku dengan tokoh yang aku perankan. Bahkan kalaupun ada orang yang mencampur-adukkan keduanya, orang itu adalah Suzumiya-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih belum bisa tenang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kau katakan itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila dia telah mencampur-adukkan dunia nyata dengan suatu dunia fiktif, dunia ini sudah akan berubah menjadi sebuah dunia fiksi ilmiah. Sudah kukatakan sebelumnya, Suzumiya-san mungkin terlihat sebaliknya, tapi dia berpikir secara logis dalam batas-batas realita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu aku tahu itu, karena jalan pikiran Haruhi selalu ada di dalam mode setengah-fantasi, itulah mengapa aku selalu terlibat dalam segala macam kejadian-kejadian aneh. Lebih parahnya, Haruhi si biang keladi bahkan tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita tidak mempunyai bukti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin suatu hari keadaan akan berkembang sampai kepada suatu tingkat dimana hal itu tidak akan bisa dielakkan lagi, tapi bukan sekarang. Baguslah bahwa pihak-pihak yang diwakili oleh Asahina-san dan Nagato-san juga berpikir sama, jadi aku percaya bahwa tidak apa-apa jika kita menjaga keadaan tetap seperti ini selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga berpikir begitu, karena aku tidak mau melihat dunia diacak-acak. Sayang apabila dunia berakhir sebelum aku bahkan sempat menamatkan video game yang dirilis minggu depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi meneruskan senyumnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada mengkhawatirkan dunia, kau seharusnya lebih memperhatikan dirimu sendiri. Mungkin saja aku dan Nagato-san digantikan oleh orang lain dengan mudah, tapi kau tidak begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar Koizumi tidak melihat pikiranku yang sekarang menjadi kompleks, aku berpura-pura berkonsentrasi mengisi senapan mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Haruhi menghabiskan hari dengan menyuruh Asahina-san mencoba kostum, mengumumkan pembagian tokoh pada semua orang, dan menyelesaikan kegiatan hari ini. Sebetulnya, dia telah berencana untuk menyeret Asahina-san, dalam kostum pelayannya berkeliling sekolah, dan kemudian membuka konferensi pers untuk mempromosikan filmnya. Tapi karena Asahina-san sudah hampir menitikkan air mata, aku mencoba segala hal untuk membatalkan ide itu. Kukatakan pada Haruhi bahwa di sekolah ini tidak ada Perkumpulan Berita, ataupun Perkumpulan Jurnalistik, dan pastinya tidak ada Perkumpulan Periklanan. Haruhi menatapku, mulutnya dimajukan seperti paruh burung, dan melihat ke bawah sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengira dia akan menyerah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik merahasiakan semuanya sampai saat-saat terakhir. Kyon, kau cukup pintar untuk orang dengan tingkat kepandaian sepertimu. Akan merepotkan apabila hal ini telah bocor sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan semacam film aksi Hollywood atau Hong Kong; tidak akan ada orang yang tertarik mencuri ide-ide anehmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu Kyon, kau bertanggung jawab memastikan senjata itu siap sedia hari ini, karena syuting dimulai besok. Kau harus belajar bagaimana menggunakan kamera juga. Oh ya, kau harus mencari software yang bisa memindahkan video klip ke komputer untuk diedit secara digital, dan....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Haruhi menyorongkan setumpuk pekerjaan padaku dan pulang sambil menyenandungkan lagu dari “The Great Escape”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar tahu bagaimana memberikan banyak masalah pada orang-orang bagaimanapun perasaan mereka. Yang benar saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang, Koizumi dan aku sedang sibuk membaca manual penggunaan dan mencari tahu bagaimana menembakkan peluru BB dari senjata mainan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti baju, Asahina-san pulang dengan bahu yang terkulai. Nagato juga menghilang, bahkan tanpa membawa tasnya, dengan kostum penyihir itu, bagai orang yang diundang ke Sabbath. Tampaknya Nagato hanya datang untuk menunjukkan kostumnya pada kami. Melihat dari gayanya, mungkin ada makna tertentu untuknya dengan melakukan hal itu, walaupun mungkin juga dia hanya ingin datang begitu saja. Dia mungkin sedang sibuk melakukan sesuatu di kelasnya, misalnya meramal masa depan dengan menggunakan bola kristal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa bahwa sekolah semakin hari menjadi semakin hidup. Setiap hari setelah jam sekolah, barisan terompet di orkestra-kelas-tiga tidak lagi sumbang dan mulai kompak; ada juga orang-orang yang sedang memotong-motong tripleks dan kayu di setiap pojok sekolah yang tersembunyi; sementara itu jumlah siswa yang memakai pakaian aneh seperti halnya Nagato mulai meningkat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, ini hanyalah suatu kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolah prefek yang sederhana, nampaknya ini tidak akan menjadi suatu kegiatan yang mencengangkan. Menurut pendapatku, paling banyak hanya setengah siswa sekolah yang tidak menyerah untuk bekerja keras dan membuat kehidupan sekolah mereka lebih bisa dinikmati. Di lain pihak, kelas kami, I-5, sudah sejak lama berhenti berusaha bersenang-senang di festival. Mereka yang tidak terikat dengan klub manapun mungkin punya banyak waktu luang saat ini, dan Taniguchi serta Kunikida adalah perwakilan yang sempurna dari “Klub yang Pulang Setelah Sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah ini...” kata Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah saat istirahat makan siang, aku duduk-duduk dengan dengan dua tokoh sampingan yang tidak signifikan ini dan menyantap bekal makan siang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian, sementara Taniguchi menampilkan senyum yang tampak mengerikan, dan tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan senyum elegan Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastilah event yang super.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau tidak terdengar seperti Haruhi? Senyum di wajah Taniguchi pudar dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi event ini tak berhubungan denganku, betul-betul menyebalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini tidak seru sama sekali. Dan orang-orang yang sok sibuk itu benar-benar membuatku sebal, terutama dimana anak-anak laki-laki berpasangan dengan anak perempuan. Aku jadi ingin membunuh mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya inikah yang dinamakan amarah karena cemburu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas kita? Mengadakan survei? Huh! Sangat membosankan! Ini hanya akan jadi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang apa warna kesukaanmu! Memangnya apa tujuannya mengumpulkan informasi semacam itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lain? Mungkin kalau begitu Haruhi tidak akan punya waktu untuk membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menelan sebuah sosis sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan merepotkan diriku sendiri dengan mengajukan usul semacam itu. Hhh, aku tidak keberatan untuk mengajukan usul, cuma aku pasti akan disuruh menjadi ketua panitia kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida berhenti memotong bolu gulungnya dan berkata, “Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya orang-orang bodoh yang berani mengajukan usul, atau orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, misalnya apabila Asakura-san masih disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan nama siswa yang pindah ke Kanada. Aku masih berkeringat dingin setiap kali aku mendengar nama itu. Walaupun Nagato-lah yang membuat Asakura menghilang, akulah penyebab utama kepergiannya. Aku juga tidak berbuat apapun untuk mencegahnya menghilang waktu itu, jadi sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh, memang sayang sekali,” kata Taniguchi. “Kenapa siswa pintar yang sempurna harus pergi? Dia adalah satu-satunya alasan aku merasa bersyukur berada di kelas ini. Sial, aku penasaran apakah sudah terlambat untuk mengajukan permohonan pindah kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelas mana yang menjadi tujuanmu?” Kunikida bertanya, “kelasnya Nagato? Oh, omong-omong, aku melihat dia berkeliaran dengan pakaian tukang sihir, apa sih maksudnya itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, aku juga tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nagato, ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menatapku, matanya tiba-tiba terlihat seperti dia harus menghadapi ujian mendadak matematika, dan berkata seperti baru tersadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kapan itu dimulai? Aku melihat kau memeluknya di ruang kelas dulu. Itu mungkin salah satu skenario Suzumiya. Kau sengaja melakukannya untuk menakut-nakutiku, kan? Kau tidak bisa menipuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baguslah Taniguchi salah membaca situasi, beban di pundakku terangkat dengan seketika.... Tunggu sebentar, bukankah kau kembali ke kelas gara-gara kau lupa mengambil sesuatu? Bagaimana aku tahu kau akan muncul? .... Tentunya, aku tidak memberitahukan hal ini padanya. Taniguchi seorang yang bodoh, dan tidak ada gunanya memberitahu seorang bodoh bahwa dia adalah orang yang bodoh. Kadang-kadang aku bahkan bersyukur bahwa para dewa membuat Taniguchi orang yang bodoh sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, itu hanyalah nonsens.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan penuh syukur, Kunikida sibuk dengan makanannya, sementara aku menengok ke belakang. Bangku Haruhi kosong, apa yang dilakukannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkeliling sekolah mencari tempat untuk syuting film,” kata Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tidak ada lokasi yang cocok. Tidak mungkin kita mendapatkan atmosfernya di dalam sekolah, ayo kita keluar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin tidak menyukai atmosfer di dalam sekolah, tapi dia tidak harus bersusah-payah mencari tempat yang ramai di luar sekolah hanya gara-gara itu. Dia tampaknya benar-benar berniat membuat sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... A...apakah aku harus ikut juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bertanya dengan nada ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Kita tidak bisa terus tanpa bintang utama kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Da...dalam kostum ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bergidik, karena sama seperti kemarin, dia hari ini dipaksa lagi untuk mengenakan kostum pelayan itu, yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana Haruhi mendapatkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi langsung mengangguk, sementara Asahina-san memeluk dirinya sendiri dan bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akan merepotkan kalau kau harus berganti kostum terus-menerus? Kita mungkin malah tidak bisa menemukan tempat untuk ganti baju. Jadi kau sebaiknya memakai kostum itu sepanjang hari, kan? Ayo! Kita pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya bolehkah aku memakai sesuatu di atasnya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini terlalu memalukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus merasa malu untuk menampilkan rasa malu yang hampir tak kentara itu! Bagaimana kau bisa memenangkan Golden Globe kalau begini saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tujuan kita hanyalah memenangkan penghargaan terbaik di festival sekolah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini semua anggota Brigade SOS berkumpul di ruang klub. Koizumi datang juga, skenario untuk teater kelasnya suda diselesaikan, tersenyum melihat interaksi berat sebelah antara Haruhi dan Asahina-san. Nagato ada di sini juga, walaupun masalahnya lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam seperti biasa, itu tak apa-apa, tapi dia terlihat aneh hari ini. Untuk suatu alasan, dia lagi-lagi memakai kostum penyihir yang dia tunjukkan kemarin. Sebetulnya dia bisa saja memakai kostum itu hanya pada hari festival sekolah, dia tidak perlu memakainya dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tampaknya senang sekali dengan jubah hitam dan topi runcing Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peranmu sekarang adalah ‘Penyihir Alien Jahat!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa membuang waktu, dia mengubah skenarionya. Aku memperhatikan selagi Haruhi memberikan Nagato sebuah tongkat konduktor, yang di ujungnya terpasang bintang hiasan, seperti yang biasa digunakan untuk menghias pohon Natal, sementara Nagato berdiri tak bergerak. Karena alasan tertentu, aku bahkan tidak berkeberatan si kutu buku pendiam ini mendapatkan peran penyihir alien. Mungkin peran ini lebih cocok bagi Nagato daripada suatu Entitas Data Terintegrasi, karena dia memang benar-benar mempunyai kekuatan sihir, setidaknya di mataku, jadi hal ini tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tiba-tiba mendorong ujung topinya dan menatapku dengan matanya yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku khawatir tentang bagaimana Haruhi dengan seenaknya memutuskan untuk menggunakan kostum yang aslinya dirancang untuk kegiatan kelas lain di filmnya, tapi untuk dia, masalah semacam ini, sederhananya, tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon! Kau sudah mempersiapkan kameranya? Koizumi-kun, aku mengandalkanmu untuk membawa peralatan yang disana. Mikuru-chan! Mengapa kau masih berpegangan ke meja? Ayo cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya, sementara Koizumi keluar terakhir, mengedip ke arahku, dan lalu menghilang ke koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang menimbang-nimbang apakah masih mungkin bagiku untuk tidak ikut....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Kita tidak bisa membuat film tanpa juru kamera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tubuh atasnya di pintu yang terbuka dan berteriak keras kepadaku dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat kata-kata “Sutradara Besar” tertulis di pita lengan di lengan kiri Haruhi, aku tiba-tiba mempunyai firasat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya perempuan ini benar-benar serius tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi, yang menamakan dirinya “Sutradara Besar” walaupun tidak mempunyai pengalaman menyutradarai apapun sebelumnya, memimpin di depan; si pelayan yang lucu menundukkan kepalanya dan mengikuti dari belakang; si penyihir muda yang suram membuntuti dari belakang bagaikan bayang-bayang; sementara Koizumi membawa kantong-kantong kertas dan tersenyum cerah.... Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk berada sejauh mungkin selagi aku membuntuti kelompok yang eksentrik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menarik perhatian seluruh sekolah selagi berjalan keluar, parade kostum Halloween ini menjadi pusat perhatian begitu melangkah keluar dari sekolah. Asahina berjalan dengan sedih di antara mereka; setelah dua menit berjalan, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin, tiga menit dan wajahnya memerah dengan hebat, lima menit kemudian dia melayang di udara bagaikan hantu yang depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 55%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18491</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18491"/>
		<updated>2007-07-02T05:01:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: terjemah +/- 55%&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi terdengar seperti seorang guru privat yang sedang mengajar seorang murid dengan ingatan pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Koizumi Itsuki di dunia nyata dan ‘Koizumi Itsuki’ yang ini adalah dua orang yang berbeda. Aku kira kau tidak bisa mencampur-adukkan diriku dengan tokoh yang aku perankan. Bahkan kalaupun ada orang yang mencampur-adukkan keduanya, orang itu adalah Suzumiya-san.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku masih belum bisa tenang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa yang kau katakan itu benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila dia telah mencampur-adukkan dunia nyata dengan suatu dunia fiktif, dunia ini sudah akan berubah menjadi sebuah dunia fiksi ilmiah. Sudah kukatakan sebelumnya, Suzumiya-san mungkin terlihat sebaliknya, tapi dia berpikir secara logis dalam batas-batas realita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu aku tahu itu, karena jalan pikiran Haruhi selalu ada di dalam mode setengah-fantasi, itulah mengapa aku selalu terlibat dalam segala macam kejadian-kejadian aneh. Lebih parahnya, Haruhi si biang keladi bahkan tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita tidak mempunyai bukti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin suatu hari keadaan akan berkembang sampai kepada suatu tingkat dimana hal itu tidak akan bisa dielakkan lagi, tapi bukan sekarang. Baguslah bahwa pihak-pihak yang diwakili oleh Asahina-san dan Nagato-san juga berpikir sama, jadi aku percaya bahwa tidak apa-apa jika kita menjaga keadaan tetap seperti ini selamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga berpikir begitu, karena aku tidak mau melihat dunia diacak-acak. Sayang apabila dunia berakhir sebelum aku bahkan sempat menamatkan video game yang dirilis minggu depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi meneruskan senyumnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada mengkhawatirkan dunia, kau seharusnya lebih memperhatikan dirimu sendiri. Mungkin saja aku dan Nagato-san digantikan oleh orang lain dengan mudah, tapi kau tidak begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar Koizumi tidak melihat pikiranku yang sekarang menjadi kompleks, aku berpura-pura berkonsentrasi mengisi senapan mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini, Haruhi menghabiskan hari dengan menyuruh Asahina-san mencoba kostum, mengumumkan pembagian tokoh pada semua orang, dan menyelesaikan kegiatan hari ini. Sebetulnya, dia telah berencana untuk menyeret Asahina-san, dalam kostum pelayannya berkeliling sekolah, dan kemudian membuka konferensi pers untuk mempromosikan filmnya. Tapi karena Asahina-san sudah hampir menitikkan air mata, aku mencoba segala hal untuk membatalkan ide itu. Kukatakan pada Haruhi bahwa di sekolah ini tidak ada Perkumpulan Berita, ataupun Perkumpulan Jurnalistik, dan pastinya tidak ada Perkumpulan Periklanan. Haruhi menatapku, mulutnya dimajukan seperti paruh burung, dan melihat ke bawah sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah, kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengira dia akan menyerah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik merahasiakan semuanya sampai saat-saat terakhir. Kyon, kau cukup pintar untuk orang dengan tingkat kepandaian sepertimu. Akan merepotkan apabila hal ini telah bocor sebelumnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan semacam film aksi Hollywood atau Hong Kong; tidak akan ada orang yang tertarik mencuri ide-ide anehmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu Kyon, kau bertanggung jawab memastikan senjata itu siap sedia hari ini, karena syuting dimulai besok. Kau harus belajar bagaimana menggunakan kamera juga. Oh ya, kau harus mencari software yang bisa memindahkan video klip ke komputer untuk diedit secara digital, dan....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Haruhi menyorongkan setumpuk pekerjaan padaku dan pulang sambil menyenandungkan lagu dari “The Great Escape”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar tahu bagaimana memberikan banyak masalah pada orang-orang bagaimanapun perasaan mereka. Yang benar saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sekarang, Koizumi dan aku sedang sibuk membaca manual penggunaan dan mencari tahu bagaimana menembakkan peluru BB dari senjata mainan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berganti baju, Asahina-san pulang dengan bahu yang terkulai. Nagato juga menghilang, bahkan tanpa membawa tasnya, dengan kostum penyihir itu, bagai orang yang diundang ke Sabbath. Tampaknya Nagato hanya datang untuk menunjukkan kostumnya pada kami. Melihat dari gayanya, mungkin ada makna tertentu untuknya dengan melakukan hal itu, walaupun mungkin juga dia hanya ingin datang begitu saja. Dia mungkin sedang sibuk melakukan sesuatu di kelasnya, misalnya meramal masa depan dengan menggunakan bola kristal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa bahwa sekolah semakin hari menjadi semakin hidup. Setiap hari setelah jam sekolah, barisan terompet di orkestra-kelas-tiga tidak lagi sumbang dan mulai kompak; ada juga orang-orang yang sedang memotong-motong tripleks dan kayu di setiap pojok sekolah yang tersembunyi; sementara itu jumlah siswa yang memakai pakaian aneh seperti halnya Nagato mulai meningkat dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarpun begitu, ini hanyalah suatu kegiatan sekolah yang diadakan oleh sekolah prefek yang sederhana, nampaknya ini tidak akan menjadi suatu kegiatan yang mencengangkan. Menurut pendapatku, paling banyak hanya setengah siswa sekolah yang tidak menyerah untuk bekerja keras dan membuat kehidupan sekolah mereka lebih bisa dinikmati. Di lain pihak, kelas kami, I-5, sudah sejak lama berhenti berusaha bersenang-senang di festival. Mereka yang tidak terikat dengan klub manapun mungkin punya banyak waktu luang saat ini, dan Taniguchi serta Kunikida adalah perwakilan yang sempurna dari “Klub yang Pulang Setelah Sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah ini...” kata Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah saat istirahat makan siang, aku duduk-duduk dengan dengan dua tokoh sampingan yang tidak signifikan ini dan menyantap bekal makan siang kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa dengan festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian, sementara Taniguchi menampilkan senyum yang tampak mengerikan, dan tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan senyum elegan Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pastilah event yang super.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau tidak terdengar seperti Haruhi? Senyum di wajah Taniguchi pudar dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi event ini tak berhubungan denganku, betul-betul menyebalkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini tidak seru sama sekali. Dan orang-orang yang sok sibuk itu benar-benar membuatku sebal, terutama dimana anak-anak laki-laki berpasangan dengan anak perempuan. Aku jadi ingin membunuh mereka!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya inikah yang dinamakan amarah karena cemburu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas kita? Mengadakan survei? Huh! Sangat membosankan! Ini hanya akan jadi pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang apa warna kesukaanmu! Memangnya apa tujuannya mengumpulkan informasi semacam itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lain? Mungkin kalau begitu Haruhi tidak akan punya waktu untuk membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menelan sebuah sosis sambil berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak akan merepotkan diriku sendiri dengan mengajukan usul semacam itu. Hhh, aku tidak keberatan untuk mengajukan usul, cuma aku pasti akan disuruh menjadi ketua panitia kalau begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikida berhenti memotong bolu gulungnya dan berkata, “Kau benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya orang-orang bodoh yang berani mengajukan usul, atau orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, misalnya apabila Asakura-san masih disini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyebutkan nama siswa yang pindah ke Kanada. Aku masih berkeringat dingin setiap kali aku mendengar nama itu. Walaupun Nagato-lah yang membuat Asakura menghilang, akulah penyebab utama kepergiannya. Aku juga tidak berbuat apapun untuk mencegahnya menghilang waktu itu, jadi sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uh, memang sayang sekali,” kata Taniguchi. “Kenapa siswa pintar yang sempurna harus pergi? Dia adalah satu-satunya alasan aku merasa bersyukur berada di kelas ini. Sial, aku penasaran apakah sudah terlambat untuk mengajukan permohonan pindah kelas?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kelas mana yang menjadi tujuanmu?” Kunikida bertanya, “kelasnya Nagato? Oh, omong-omong, aku melihat dia berkeliaran dengan pakaian tukang sihir, apa sih maksudnya itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, aku juga tidak terlalu yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nagato, ya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi menatapku, matanya tiba-tiba terlihat seperti dia harus menghadapi ujian mendadak matematika, dan berkata seperti baru tersadar akan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kapan itu dimulai? Aku melihat kau memeluknya di ruang kelas dulu. Itu mungkin salah satu skenario Suzumiya. Kau sengaja melakukannya untuk menakut-nakutiku, kan? Kau tidak bisa menipuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baguslah Taniguchi salah membaca situasi, beban di pundakku terangkat dengan seketika.... Tunggu sebentar, bukankah kau kembali ke kelas gara-gara kau lupa mengambil sesuatu? Bagaimana aku tahu kau akan muncul? .... Tentunya, aku tidak memberitahukan hal ini padanya. Taniguchi seorang yang bodoh, dan tidak ada gunanya memberitahu seorang bodoh bahwa dia adalah orang yang bodoh. Kadang-kadang aku bahkan bersyukur bahwa para dewa membuat Taniguchi orang yang bodoh sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Omong-omong, itu hanyalah nonsens.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan penuh syukur, Kunikida sibuk dengan makanannya, sementara aku menengok ke belakang. Bangku Haruhi kosong, apa yang dilakukannya sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkeliling sekolah mencari tempat untuk syuting film,” kata Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tidak ada lokasi yang cocok. Tidak mungkin kita mendapatkan atmosfernya di dalam sekolah, ayo kita keluar!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin tidak menyukai atmosfer di dalam sekolah, tapi dia tidak harus bersusah-payah mencari tempat yang ramai di luar sekolah hanya gara-gara itu. Dia tampaknya benar-benar berniat membuat sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... A...apakah aku harus ikut juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bertanya dengan nada ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu. Kita tidak bisa terus tanpa bintang utama kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Da...dalam kostum ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san bergidik, karena sama seperti kemarin, dia hari ini dipaksa lagi untuk mengenakan kostum pelayan itu, yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana Haruhi mendapatkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tentu saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi langsung mengangguk, sementara Asahina-san memeluk dirinya sendiri dan bergetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah akan merepotkan kalau kau harus berganti kostum terus-menerus? Kita mungkin malah tidak bisa menemukan tempat untuk ganti baju. Jadi kau sebaiknya memakai kostum itu sepanjang hari, kan? Ayo! Kita pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya bolehkah aku memakai sesuatu di atasnya....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san memohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi ini terlalu memalukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau harus merasa malu untuk menampilkan rasa malu yang hampir tak kentara itu! Bagaimana kau bisa memenangkan Golden Globe kalau begini saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah tujuan kita hanyalah memenangkan penghargaan terbaik di festival sekolah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini semua anggota Brigade SOS berkumpul di ruang klub. Koizumi datang juga, skenario untuk teater kelasnya suda diselesaikan, tersenyum melihat interaksi berat sebelah antara Haruhi dan Asahina-san. Nagato ada di sini juga, walaupun masalahnya lain lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam seperti biasa, itu tak apa-apa, tapi dia terlihat aneh hari ini. Untuk suatu alasan, dia lagi-lagi memakai kostum penyihir yang dia tunjukkan kemarin. Sebetulnya dia bisa saja memakai kostum itu hanya pada hari festival sekolah, dia tidak perlu memakainya dari sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tampaknya senang sekali dengan jubah hitam dan topi runcing Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peranmu sekarang adalah ‘Penyihir Alien Jahat!’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa membuang waktu, dia mengubah skenarionya. Aku memperhatikan selagi Haruhi memberikan Nagato sebuah tongkat konduktor, yang di ujungnya terpasang bintang hiasan, seperti yang biasa digunakan untuk menghias pohon Natal, sementara Nagato berdiri tak bergerak. Karena alasan tertentu, aku bahkan tidak berkeberatan si kutu buku pendiam ini mendapatkan peran penyihir alien. Mungkin peran ini lebih cocok bagi Nagato daripada suatu Entitas Data Terintegrasi, karena dia memang benar-benar mempunyai kekuatan sihir, setidaknya di mataku, jadi hal ini tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tiba-tiba mendorong ujung topinya dan menatapku dengan matanya yang tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku khawatir tentang bagaimana Haruhi dengan seenaknya memutuskan untuk menggunakan kostum yang aslinya dirancang untuk kegiatan kelas lain di filmnya, tapi untuk dia, masalah semacam ini, sederhananya, tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon! Kau sudah mempersiapkan kameranya? Koizumi-kun, aku mengandalkanmu untuk membawa peralatan yang disana. Mikuru-chan! Mengapa kau masih berpegangan ke meja? Ayo cepatlah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlawanan lemah Asahina-san ternyata sia-sia. Haruhi mencengkeram belakang kerah si pelayan dan menyeret tubuh kecilnya menuju pintu selagi ia merengek tanpa henti. Nagato mengikuti di belakang sambil menyeret ujung jubahnya, sementara Koizumi keluar terakhir, mengedip ke arahku, dan lalu menghilang ke koridor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat ketika aku sedang menimbang-nimbang apakah masih mungkin bagiku untuk tidak ikut....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Kita tidak bisa membuat film tanpa juru kamera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tubuh atasnya di pintu yang terbuka dan berteriak keras kepadaku dengan mulut yang terbuka lebar. Melihat kata-kata “Sutradara Besar” tertulis di pita lengan di lengan kiri Haruhi, aku tiba-tiba mempunyai firasat buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya perempuan ini benar-benar serius tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi, yang menamakan dirinya “Sutradara Besar” walaupun tidak mempunyai pengalaman menyutradarai apapun sebelumnya, memimpin di depan; si pelayan yang lucu menundukkan kepalanya dan mengikuti dari belakang; si penyihir muda yang suram membuntuti dari belakang bagaikan bayang-bayang; sementara Koizumi membawa kantong-kantong kertas dan tersenyum cerah.... Aku berusaha sekeras yang aku bisa untuk berada sejauh mungkin selagi aku membuntuti kelompok yang eksentrik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menarik perhatian seluruh sekolah selagi berjalan keluar, parade kostum Halloween ini menjadi pusat perhatian begitu melangkah keluar dari sekolah. Asahina berjalan dengan sedih di antara mereka; setelah dua menit berjalan, dia menundukkan kepalanya serendah mungkin, tiga menit dan wajahnya memerah dengan hebat, lima menit kemudian dia melayang di udara bagaikan hantu yang depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 55%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=18176</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=18176"/>
		<updated>2007-06-25T04:17:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 1&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c01_01.jpg|thumb|&#039;&#039;“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan meninggalkan kalimat ini, Haruhi melesat dari ruangan bagai kucing yang mendengar suara kaleng makanan kucing yang sedang dibuka. Kupikir tidak ada lagi ditel yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya orang yang akan berkata begitu pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal bukan berburu alien untuk dipamerkan di sirkus, atau menembak jatuh UFO dan memamerkan bagian dalamnya, aku merasa lega.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana aku pernah mendengar hal ini sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si esper murah senyum menutup mulutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula, aku tertarik akan film yang dibuat Suzumiya-san, kurasa aku dapat membayangkan apa yang ada di pikirannya, kurang lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi memandang Asahina, yang sedang membereskan cangkir teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bisa menjadi festival sekolah yang menarik, yang seru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpengaruh oleh Koizumi, mataku juga mengarah pada Asahina. Ketika kami sedang memperhatikan tutup kepalanya yang terayun bersama rambutnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Ka... kalian sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari ada dua laki-laki berpikiran jorok yang sedang menatapnya, Asahina berhenti bekerja sementara wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dalam hati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kostum apa yang akan dibawa Haruhi kali ini?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bersiap-siap untuk pulang... atau tepatnya, sambil menaruh bukunya ke dalam tasnya, Nagato berdiri dalam diam dan berjalan ke arah pintu. Apakah Nagato sedang membaca buku tentang ramalan? Karena bukunya berbahasa asing, bahasa yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi....” Aku bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film, ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku sedikit tertarik juga, walaupun tentu saja ketertarikanku tidak sedalam Koizumi, mungkin kadar kedalamannya bisa dibandingkan dengan kedalaman habitat plankton yang hidup di lautan landas kontinental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin harusnya aku mencoba menanti-nantikannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula tidak ada orang lain yang mengharapkan sesuatu dari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik kembali pernyataanku, aku tidak menanti-nanti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepulang sekolah hari berikutnya, aku sudah merasa menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Dipersembahkan oleh: Brigade SOS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produser Eksekutif/Sutradara/Penulis Skenario: Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Wanita: Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Pria: Koizumi Itsuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Pembantu: Nagato Yuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asisten Sutradara/Sinematografi/Penyunting/Peralatan/Pengumpul Informasi/Tugas Remeh Lain: Kyon&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku melihat apa yang tertulis di buku catatan itu, hanya satu hal yang ada di pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa sebenarnya yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang tertulis di situ, tentunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti konduktor orkestra, Haruhi mengayunkan tongkat konduktornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau adalah pekerja di belakang layar, seperti yang ditulis di daftar pembagian peran dan kru. Kita punya deretan pemeran yang hebat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A... apakah aku pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya dengan suara yang lembut. Hari ini dia mengenakan seragam sekolah yang biasa dan bukannya kostum maid, karena seperti kata Haruhi dia tidak perlu berganti kostum hari ini. Nampaknya Haruhi hari ini akan membawa Asahina ke suatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau mungkin, bisakah peranku hanya peran kecil....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina memohon pada Haruhi dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak,” jawab Haruhi. “Aku akan membuat Mikuru-chan menjadi terkenal, lagipula kau kan semacam merek dagang resmi Brigade SOS. Yang harus kau lakukan hanyalah berlatih membagi tanda tangan. Nanti pada malam premiere, fans-mu akan mengantri demi tanda tanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Premiere? Dimana dia berniat mengadakan event ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina tampaknya tidak terlalu nyaman dengan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tapi aku tidak bisa akting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku akan mengarahkanmu dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ragu-ragu dan takut, Asahina mengangkat kepalanya dan menatapku, dan dengan sedih menurunkan alis matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada tiga orang di sini sekarang, karena Nagato dan Koizumi sedang mengikuti rapat kelas untuk aktivitas di festival, sehingga mereka akan terlambat hari ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang mau tinggal di sekolah untuk mempersiapkan hal semacam ini; maksudku, yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk di sana dan menyelesaikannya. Aku merasa takjub bahwa ada beberapa orang yang serius menanggapi hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sisi lain, Yuki dan Koizumi-kun tdak serius tentang hal ini,” kata Haruhi, merasa kesal. Tidak tahu bagaimana melampiaskan amarahnya, Haruhi mengacungkan telunjuknya padaku, “Aku dengan jelas sudah mengatakan bahwa aktivitas ini mempunyai prioritas lebih tinggi daripada kegiatan lain. Tapi mereka memilih untuk terlambat agar mereka bisa mengikuti aktivitas kelas. Aku benar-benar harus memberikan peringatan pada mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Nagato dan Koizumi-kun mempunyai rasa memiliki yang lebih besar terhadap kelas mereka daripada aku dan Haruhi. Dari perspektif tertentu, sebetulnya keberadaan kami bertiga di sini sekarang lebih tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sesuatu hal terpikir olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san, bukankah kau harus menghadiri pertemuan kelasmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, aku di bagian yang hanya bertanggung jawab melayani pelanggan, jadi yang belum dilakukan hanyalah merancang kostum. Aku masih belum tahu kostum apa yang akan kupakai, tapi aku menanti-nantikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muka Asahina memerah dan tersenyum, tampaknya dia sudah terbiasa dengan cosplay sekarang. Daripada bermain-main dengan Brigade SOS dan terpaksa memakai bermacam-macam kostum tak jelas tanpa alasan yang jelas pula, bukankah lebih baik baginya untuk memakai sesuatu yang pas untuk acara yang tepat pula? Adalah sangat normal apabila seorang pelayan muncul di kedai mi, jauh lebih normal daripada seorang maid di ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya Haruhi berhasil memasukkan hal itu dalam topik pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, Mikuru-chan, kau ingin berpakaian seperti pelayan? Kenapa tidak kau bilang? Itu menjadikan semuanya mudah, aku akan mencarikan kostum untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu keberatan kalau kau mengeluarkan perkataan lucu semacam itu, tapi tidakkah kau pikir bahwa orang-orang di ruangan Klub Sastra tidak pantas mengenakan berbagai macam kostum selain dari seragam mereka? Bahkan kostum perawat yang sebelumnya patut dipertanyakan, tapi jika dia harus mengenakan kostum, aku masih berpendapat kostum maid-lah yang terbaik.... Apakah ini obsesi pribadiku, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menoleh ke arahku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kau tahu apa hal terpenting dalam membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm... Yah, aku berusaha mengingat-ingat tiap adegan film yang berhasil membuatku tergerak dan patut dijadikan referensi. Ketika aku selesai berpikir, aku menjawab dengan percaya diri,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inovasi dan gairah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan hal yang abstrak macam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menolak pemikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamera, tentunya! Bagaimana kita akan melakukan syuting tanpa kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin benar, tapi aku tidak berbicara tentang sesuatu yang pragmatis.... Lupakan saja, ini tidak berarti aku mempunyai banyak ide-ide yang inovatif atau gairah dalam membuat film dan teori film, jadi aku tidak akan membantah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah diputuskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memendekkan tongkat konduktornya dan melemparnya ke meja komandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mengambil kamera.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duk! Terdengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Aku menoleh dan melihat wajah Asahina yang memucat. Aku tidak bisa menyalahkannya; lagipula, Haruhi dengan liar pernah membajak komputer yang ada di ruangan ini dari Klub Komputer, menggunakan Asahina yang malang sebagai tumbal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut coklat Asahina bergetar, lalu dia dengan perlahan membuka bibirnya yang bagaikan bunga ceri dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm... mmm... Su... Suzumiya-san, aku baru saja ingat, aku harus kembali ke kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memasang ekspresi yang mengerikan. Asahina bergidik dan dengan seketika duduk kembali di kursi. Haruhi kemudian tersenyum dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya berkata “jangan khawatir” tidak menjamin bahwa hal-hal yang akan membuat khawatir tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini aku tidak akan menggunakan tubuh Mikuru-chan sebagai persembahan, aku hanya membutuhkan bantuanmu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menatapku dengan mata yang sedih seperti anak sapi yang sedang dinaikkan ke atas truk untuk dikirim ke rumah jagal. Tanpa berteriak dengan keras, aku berkata pada Haruhi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya beritahu kami apa yang harus kami bantu! Atau Asahina-san dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Haruhi berkata, “Kenapa sih dua orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, “Aku akan mencari sponsor, lebih mudah, kan, kalau aku membawa pemeran utama wanita? Kau ikut juga! Karena kau harus mengangkut peralatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Bab 1 selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prolog]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Bab 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18175</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18175"/>
		<updated>2007-06-25T04:13:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Image:Sh_v02c02_01.jpg|thumb|&#039;&#039;Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi.&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 35%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18174</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18174"/>
		<updated>2007-06-25T04:03:27Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 35%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=18173</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=18173"/>
		<updated>2007-06-25T03:58:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 1&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan meninggalkan kalimat ini, Haruhi melesat dari ruangan bagai kucing yang mendengar suara kaleng makanan kucing yang sedang dibuka. Kupikir tidak ada lagi ditel yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya orang yang akan berkata begitu pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal bukan berburu alien untuk dipamerkan di sirkus, atau menembak jatuh UFO dan memamerkan bagian dalamnya, aku merasa lega.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana aku pernah mendengar hal ini sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si esper murah senyum menutup mulutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula, aku tertarik akan film yang dibuat Suzumiya-san, kurasa aku dapat membayangkan apa yang ada di pikirannya, kurang lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi memandang Asahina, yang sedang membereskan cangkir teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bisa menjadi festival sekolah yang menarik, yang seru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpengaruh oleh Koizumi, mataku juga mengarah pada Asahina. Ketika kami sedang memperhatikan tutup kepalanya yang terayun bersama rambutnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Ka... kalian sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari ada dua laki-laki berpikiran jorok yang sedang menatapnya, Asahina berhenti bekerja sementara wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dalam hati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kostum apa yang akan dibawa Haruhi kali ini?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bersiap-siap untuk pulang... atau tepatnya, sambil menaruh bukunya ke dalam tasnya, Nagato berdiri dalam diam dan berjalan ke arah pintu. Apakah Nagato sedang membaca buku tentang ramalan? Karena bukunya berbahasa asing, bahasa yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi....” Aku bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film, ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku sedikit tertarik juga, walaupun tentu saja ketertarikanku tidak sedalam Koizumi, mungkin kadar kedalamannya bisa dibandingkan dengan kedalaman habitat plankton yang hidup di lautan landas kontinental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin harusnya aku mencoba menanti-nantikannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula tidak ada orang lain yang mengharapkan sesuatu dari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik kembali pernyataanku, aku tidak menanti-nanti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepulang sekolah hari berikutnya, aku sudah merasa menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Dipersembahkan oleh: Brigade SOS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produser Eksekutif/Sutradara/Penulis Skenario: Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Wanita: Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Pria: Koizumi Itsuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Pembantu: Nagato Yuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asisten Sutradara/Sinematografi/Penyunting/Peralatan/Pengumpul Informasi/Tugas Remeh Lain: Kyon&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku melihat apa yang tertulis di buku catatan itu, hanya satu hal yang ada di pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa sebenarnya yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang tertulis di situ, tentunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti konduktor orkestra, Haruhi mengayunkan tongkat konduktornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau adalah pekerja di belakang layar, seperti yang ditulis di daftar pembagian peran dan kru. Kita punya deretan pemeran yang hebat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A... apakah aku pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya dengan suara yang lembut. Hari ini dia mengenakan seragam sekolah yang biasa dan bukannya kostum maid, karena seperti kata Haruhi dia tidak perlu berganti kostum hari ini. Nampaknya Haruhi hari ini akan membawa Asahina ke suatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau mungkin, bisakah peranku hanya peran kecil....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina memohon pada Haruhi dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak,” jawab Haruhi. “Aku akan membuat Mikuru-chan menjadi terkenal, lagipula kau kan semacam merek dagang resmi Brigade SOS. Yang harus kau lakukan hanyalah berlatih membagi tanda tangan. Nanti pada malam premiere, fans-mu akan mengantri demi tanda tanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Premiere? Dimana dia berniat mengadakan event ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina tampaknya tidak terlalu nyaman dengan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tapi aku tidak bisa akting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku akan mengarahkanmu dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ragu-ragu dan takut, Asahina mengangkat kepalanya dan menatapku, dan dengan sedih menurunkan alis matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada tiga orang di sini sekarang, karena Nagato dan Koizumi sedang mengikuti rapat kelas untuk aktivitas di festival, sehingga mereka akan terlambat hari ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang mau tinggal di sekolah untuk mempersiapkan hal semacam ini; maksudku, yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk di sana dan menyelesaikannya. Aku merasa takjub bahwa ada beberapa orang yang serius menanggapi hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sisi lain, Yuki dan Koizumi-kun tdak serius tentang hal ini,” kata Haruhi, merasa kesal. Tidak tahu bagaimana melampiaskan amarahnya, Haruhi mengacungkan telunjuknya padaku, “Aku dengan jelas sudah mengatakan bahwa aktivitas ini mempunyai prioritas lebih tinggi daripada kegiatan lain. Tapi mereka memilih untuk terlambat agar mereka bisa mengikuti aktivitas kelas. Aku benar-benar harus memberikan peringatan pada mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Nagato dan Koizumi-kun mempunyai rasa memiliki yang lebih besar terhadap kelas mereka daripada aku dan Haruhi. Dari perspektif tertentu, sebetulnya keberadaan kami bertiga di sini sekarang lebih tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sesuatu hal terpikir olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san, bukankah kau harus menghadiri pertemuan kelasmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, aku di bagian yang hanya bertanggung jawab melayani pelanggan, jadi yang belum dilakukan hanyalah merancang kostum. Aku masih belum tahu kostum apa yang akan kupakai, tapi aku menanti-nantikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muka Asahina memerah dan tersenyum, tampaknya dia sudah terbiasa dengan cosplay sekarang. Daripada bermain-main dengan Brigade SOS dan terpaksa memakai bermacam-macam kostum tak jelas tanpa alasan yang jelas pula, bukankah lebih baik baginya untuk memakai sesuatu yang pas untuk acara yang tepat pula? Adalah sangat normal apabila seorang pelayan muncul di kedai mi, jauh lebih normal daripada seorang maid di ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya Haruhi berhasil memasukkan hal itu dalam topik pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, Mikuru-chan, kau ingin berpakaian seperti pelayan? Kenapa tidak kau bilang? Itu menjadikan semuanya mudah, aku akan mencarikan kostum untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu keberatan kalau kau mengeluarkan perkataan lucu semacam itu, tapi tidakkah kau pikir bahwa orang-orang di ruangan Klub Sastra tidak pantas mengenakan berbagai macam kostum selain dari seragam mereka? Bahkan kostum perawat yang sebelumnya patut dipertanyakan, tapi jika dia harus mengenakan kostum, aku masih berpendapat kostum maid-lah yang terbaik.... Apakah ini obsesi pribadiku, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menoleh ke arahku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kau tahu apa hal terpenting dalam membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm... Yah, aku berusaha mengingat-ingat tiap adegan film yang berhasil membuatku tergerak dan patut dijadikan referensi. Ketika aku selesai berpikir, aku menjawab dengan percaya diri,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inovasi dan gairah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan hal yang abstrak macam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menolak pemikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamera, tentunya! Bagaimana kita akan melakukan syuting tanpa kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin benar, tapi aku tidak berbicara tentang sesuatu yang pragmatis.... Lupakan saja, ini tidak berarti aku mempunyai banyak ide-ide yang inovatif atau gairah dalam membuat film dan teori film, jadi aku tidak akan membantah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah diputuskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memendekkan tongkat konduktornya dan melemparnya ke meja komandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mengambil kamera.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duk! Terdengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Aku menoleh dan melihat wajah Asahina yang memucat. Aku tidak bisa menyalahkannya; lagipula, Haruhi dengan liar pernah membajak komputer yang ada di ruangan ini dari Klub Komputer, menggunakan Asahina yang malang sebagai tumbal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut coklat Asahina bergetar, lalu dia dengan perlahan membuka bibirnya yang bagaikan bunga ceri dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm... mmm... Su... Suzumiya-san, aku baru saja ingat, aku harus kembali ke kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memasang ekspresi yang mengerikan. Asahina bergidik dan dengan seketika duduk kembali di kursi. Haruhi kemudian tersenyum dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya berkata “jangan khawatir” tidak menjamin bahwa hal-hal yang akan membuat khawatir tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini aku tidak akan menggunakan tubuh Mikuru-chan sebagai persembahan, aku hanya membutuhkan bantuanmu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menatapku dengan mata yang sedih seperti anak sapi yang sedang dinaikkan ke atas truk untuk dikirim ke rumah jagal. Tanpa berteriak dengan keras, aku berkata pada Haruhi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya beritahu kami apa yang harus kami bantu! Atau Asahina-san dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Haruhi berkata, “Kenapa sih dua orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, “Aku akan mencari sponsor, lebih mudah, kan, kalau aku membawa pemeran utama wanita? Kau ikut juga! Karena kau harus mengangkut peralatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Bab 1 selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prolog]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Bab 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18172</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab02</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab02&amp;diff=18172"/>
		<updated>2007-06-25T03:57:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: bab 2 35 %&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 2&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim gugur telah datang, tapi karena suatu alasan, cuaca hampir tidak sejuk. Sepertinya planet ini kebingungan menentukan musim dan lupa membawa musim gugur ke Jepang. Musim panas telah diperpanjang untuk selamanya, dan sampai seseorang muncul dan mencetak home run, tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan jika musim panas berakhir, orang akan merasa bahwa musim gugug pun akan disingkirkan oleh musim dingin begitu ia tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita mungkin sudah telat,” kata Haruhi, jadi kami mengambil tas dan meninggalkan sekolah. Haruhi dengan terburu-buru berlari menuruni jalan yang panjang dan berliku. Kemana sih tujuan dia? Aku akan paham kalau tujuan kami adalah Klub Komputer, karena kami adalah klub misterius yang telah berdiri selama enam bulan tanpa tak ada seorangpun yang mengetahui prinsip pendiriannya. Akhir yang logis untuk kami adalah diusir keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menuruni bukit dan menaiki kereta lokal. Tiga terminal berikutnya, dan kami sampai di daerah dengan jalan bunga ceri, tempat Asahina dan aku berjalan bersama beberapa waktu lalu. Di tempat ini terdapat supermarket besar dan suatu jalan pusat perbelanjaan, dan karena itu, tempat ini cukup sibuk dan ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi akhirnya berhenti dan menunjukkan sebuah toko elektronik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mengerti,” jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mungkin akan memeras toko ini untuk peralatan membuat film.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin tahu bagaimana dia akan melakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berdua tunggu di sini, aku akan masuk dan bernegosiasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyorongkan tasnya kepadaku dan tanpa ragu-ragu berjalan memasuki toko yang diliputi kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bersembunyi di belakangku, sambil tanpa henti mengintip ke arah toko, yang diterangi oleh bermacam-macam alat penerangan. Dia tampak seperti anak SD pemalu yang mengunjungi rumah temannya untuk pertama kali. Selagi aku memandangi punggung Haruhi, yang sedang mengayun-ayunkan tangannya sambil berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer toko, hasratku untuk melindungi Asahina menjadi lebih kuat. Apabila Haruhi mencoba melakukan sesuatu yang aneh, aku akan membawa Asahina dengan tanganku dan kabur saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di balik kaca, Haruhi berbicara dan mengacungkan jarinya pertama-tama ke arah peralatan film, lalu ke dirinya sendiri, dan lalu ke arah si manajer. Sementara itu si manajer mengangguk-angguk tanpa henti. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebaiknya memperingatkan dia supaya tidak mudah percaya terhadap apa yang dikatakan Haruhi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa saat, Haruhi berbalik dan mengacungkan jarinya kepada kami, yang sudah siap untuk kabur jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian tersenyum hangat, melambaikan tangannya, dan melanjutkan presentasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang sedang dia lakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya selagi dia berdiri di belakangku, menjulurkan kepalanya keluar dan menariknya kembali. Apabila Asahina, seorang penjelajah waktu dari masa depan, bahkan tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa tahu? Mungkin menuntut mereka untuk memberikan kamera digital terbaik mereka dengan gratis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah tipe orang yang dapat melakukan hal semacam itu tanpa berkedip sedikitpun. Dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pusat alam semesta dan segala hal lainnya berputar mengelilingi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhh, merepotkan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingat pernah mendiskusikan hal semacam ini dengan Nagato beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi percaya bahwa nilai-nilai dan keputusannya adalah mutlak. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan orang lain, atau menyadari bahwa mereka mungkin saja berpikir secara berbeda, atau lebih tepatnya, dari awal tidak pernah terpikir olehnya bahwa jalan pikirannya bisa saja benar-benar berbeda dari jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang-orang menginginkan perjalanan menembus waktu, masukkan saja Haruhi ke dalam kapal luar angkasa. Lagipula dia tidak akan peduli dengan Teori Relativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku membicarakan ini dengan Nagato, yang dikatakan si alien pendiam hanyalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pendapatmu mungkin benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Nagato, hal ini sangat bermakna. Bagi orang lain, Suzumiya Haruhi adalah sebuah lelucon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tampaknya mereka sudah selesai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisikan Asahina menyadarkanku dari lamunan dan membawaku kembali ke realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi muncul dari dalam toko elektronik dengan wajah puas, sambil membawa suat kotak kecil di tangannya. Ada gambar produknya di samping kotaknya, sekaligus dengan mereknya. Kalau aku tidak salah, itu memang kamera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa persisnya ancaman yang dia gunakan untuk mengintimidasi lawan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dia mengancam untuk membakar habis toko? Atau mungkin memulai kampanye boikot? Atau barangkali mengirimkan fax jahil sepanjang malam? Atau mulai marah-marah di situ? Mungkinkah dia mengancam untuk meledakkan dirinya bersama dengan toko itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan konyol! Aku bukan orang yang akan jatuh ke dalam pemerasan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan riang, di bawah atap kaca di jalan pusat perbelanjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita telah menyelesaikan langkah pertama! Ini terlalu mudah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dipaksa membawa kotak berisi kamera selagi aku membuntuti Haruhi. Aku menatap rambut Haruhi yang melambai di belakang punggungnya dan bertanya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau bisa mendapatkan barang yang mahal begini? Apakah karena kau menemukan rahasia gelap si manajer?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kata-kata pertama Haruhi begitu dia keluar dari toko adalah, “Kita mendapatkannya!” Kalau si manajer begitu sudi untuk membagikan barang-barang, aku mau juga mengantri. Jadi kumohon, beritahukan kata-kata sihir yang kau gunakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membalik dan tersenyum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada apa-apa sebenarnya! Aku bilang aku ingin membuat film dan membutuhkan sebuah kamera, dan dia bilang ‘Oke.’ Tidak ada masalah sama sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa bahkan jika semuanya berjalan lancar sampai sekarang, ini tidak akan berakhir semudah itu. Mungkinkah aku terlalu banyak merasa khawatir?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan hiraukan hal-hal kecil, cukup berbahagialah dan jadilah pembantuku, dan segalanya akan baik-baik saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, sampai sekarang, aku masih menyimpan perasaan tidak nyaman sejak musim semi lalu, perasaan seperti menaiki kapal pesiar bernama Titanic. Aku ingin mengirimkan pesan SOS, tapi sedihnya aku tidak mengerti kode Morse, dan aku bukanlah tipe orang yang bisa berbahagia apabila disebut sebagai pembantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah! Ke toko berikutnya sekarang!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keramaian, Haruhi melambaikan tangannya dan melangkah ke depan. Aku bertukar pandang dengan Asahina, lalu dengan terburu-buru mengikuti Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, Haruhi mengunjungi toko model mainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti sebelumnya, Asahina dan aku ditinggal di luar sementara dia masuk untuk bernegosiasi. Aku mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dilakukannya, karena setiap kali dia menunjuk pada kami, jarinya selalu terarah pada Asahina. Kalau tebakanku benar, dia pasti menggunakan Asahina sebagai suatu alat tawar-menawar. Asahina belum menyadari ini, karena dia dengan rasa ingin tahu sedang memperhatikan globe yang dipajang di etalase.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, Haruhi keluar sambil membawa sebuah kotak yang sangat besar. Barang apa kali ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian jawaban Haruhi, lalu dia menyorongkan kotak itu padaku. Aku melihat dengan hati-hati dan menemukan bahwa ini adalah sebuah model plastik; bentuknya seperti sebuah senapan. Apa yang dia inginkan dengan benda ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita membutuhkan ini untuk adegan aksinya, yaitu pertempuran dengan senjata api! Pertempuran yang seru adalah bahan dasar untuk setiap film yang menghibur. Kalau mungkin, aku juga ingin meledakkan sebuah gedung. Kau tahu tempat yang menjual bahan peledak? Aku ingin tahu apakah toko alat-alat berat menyediakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana aku tahu? Setidaknya aku tahu kau tidak akan bisa menemukannya di toko serba ada atau di internet. Mungkin ada sedikit di tambang batu.... Aku tadinya ingin memberitahukan ini pada Haruhi, tapi aku cepat-cepat menyingkirkan pikiran ini, terutama karena dia mungkin akan pergi ke sana pada tengah malam dan mencuri beberapa dinamit beserta kabel-kebelnya untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menurunkan kotak-kotak berisi kamera dan model plastik sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harusnya kita lakukan dengan kotak-kotak ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bawa pulang dulu, lalu bawa ke ruang klub besok. Terlalu merepotkan kalau dibawa ke sekolah sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menyilangkan lengannya dengan ekspresi wajah yang penuh kebajikan. Senyuman ini jarang terlihat di kelas, dan disediakan khusus untuk Brigade SOS, dan setiap kali Haruhi tersenyum seperti ini, aku selalu harus mengurus pekerjaan sisanya. Memangnya aku ini apa di matanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan sopan mengangkat tangannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kulakukan...?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau boleh pulang sekarang, Mikuru-chan. Pekerjaanmu sudah selesai untuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengedipkan matanya dan tampak seperti seekor rubah kecil yang kerasukan. Karena yang dilakukan Asahina hari ini hanyalah membuntuti Haruhi dan aku, dia mungkin tidak tahu mengapa Haruhi memintanya untuk ikut, walaupun aku bisa menebak apa yang dipikirkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan dengan enerjik seperti seorang instruktur gym dan memimpin kami ke arah stasiun. Tampaknya aktivitas Haruhiisme hari ini sudah berakhir. Barang rampasannya terdiri atas sebuah kamera dan beberapa senapan mainan. Barang-barang ini bukannya didapatkan melalui negosiasi yang mahir, melainkan Haruhi kemungkinan mendapatkannya melalui cara-cara yang sangat tidak ortodoks. Tidak ada ongkos pengeluaran. Dengan kata lain, kami mendapatkannya dengan gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu ada pepatah yang berbunyi, “Tidak ada yang lebih menakutkan daripada tidak usah membayar.” Masalahnya, Haruhi tampaknya tidak peduli. Kalau ada orang yang tahu apa yang bisa membuat Haruhi takut, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari berikutnya, selain daripada tasku, aku harus menaiki lereng sambil membawa bagasi tambahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon! Apa yang kau bawa itu? Hadiah untuk siswa teladan tertentu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berlari ke arahku adalah Taniguchi, teman sekelas Haruhi dan aku, suatu organisme bersel tunggal yang sangat sederhana, dan seorang anak sekolah yang paling normal yang bisa kau temukan dimanapun. Normal adalah deskripsi yang hebat untuknya. Sekarang, untukku, normalitas adalah sebuah komoditas yang langka karena kata itu mewakili keajaiban bahasa yang digunakan dalam realita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ragu sesaat, lalu memindahkan kantong supermarket yang lebih ringan di antara dua kantong yang kubawa ke tangan Taniguchi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa-apaan ini, senapan mainan? Aku tidak tahu kau punya hobi seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu bukan hobiku, tapi Haruhi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu menjelaskannya dengan singkat pada Taniguchi, tapi dia benar kalau menganggap ini adalah hobi yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku merasa sulit membayangkan Suzumiya membongkar benda ini dan lalu menyusunnya kembali dan merawatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku juga merasa sulit membayangkannya, jadi siapa lagi selain Haruhi yang bisa membongkar dan menyusun kembali benda-benda ini? Aku rasanya harus memberitahu semua orang bahwa ketika aku masih kecil, aku mencoba menyusun robot mainan, tapi seberapa kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa memasang bahu kanannya dan aku membuangnya gara-gara frustasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tugasmu berat juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi berkata dengan nada yang sama sekali tidak terdengar simpatik,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai sekarang, satu-satunya orang yang mampu melindungi Suzumiya hanyalah kamu. Aku bisa menjamin ini, jadi kau sebaiknya terus bersamanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang kau bicarakan? Tidak mungkin aku mau terus bersama Haruhi! Orang yang harusnya terus bersamaku adalah Asahina. Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, itu tidak mungkin, lagipula, dia adalah malaikat kecil North High, pelipur lara hati para pria. Kalau kau tidak mau disekap dalam karung oleh setengah sekolah, kusarankan kau berhati-hati dalam melangkah. Kukira kau tidak mau kalau aku menikammu dari belakang dengan pisau, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, kalau begitu akn mengambil peringkat kedua dan memilih Nagato.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga tidak bisa. Dia mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi dia mempunyai banyak pengagum rahasia. Kenapa dia tidak memakai kacamata lagi? Apakah dia beralih ke lensa kontak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm... kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanya? Sampai sekarang, betapapun kerasnya aku berusaha, dia tidak mempedulikan segala yang kukatakan. Semua orang di kelas Nagato sangat percaya bahwa setiap-patah-kata-yang-dia-katakan cukup untuk menentukan takdir hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhentilah memperlakukan Nagato bagai dewi. Takhyul macam apa ini? Dia mungkin bukan orang biasa, tapi dalam standarnya, dia sebenarnya cukup normal. Walaupun aku tidak benar-benar tahu standarnya seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimanapun, kau benar-benar cocok dengan Suzumiya. Hanya kau yang bisa bercakap-cakap seperti biasa dengan si idiot itu. Jadi teruslah perhatikan dia dan tekanlah angka korban serendah mungkin. Oh ya, festival sekolah sebentar lagi, acara besar apa yang kalian rencanakan untuk itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan tanya padaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan juru bicara Brigade SOS, tapi Taniguchi berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan kalau aku bertanya pada Suzumiya, dia hanya akan menjawab dengan penuh teka-teki, dan kalau aku tidak bertanya pada waktu yang tepat, aku mungkin akan diserang olehnya. Untuk Nagato Yuki, kau tidak akan mendapatkan apa-apa darinya apapun yang kau tanyakan, sementara Asahina tidak boleh disentuh, karena aku mungkin akan digebuki massa kalau aku mencoba mengobrol dengannya. Jadi pada akhirnya, aku harus bertanya padamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia benar-benar hebat dalam mengarang alasan. Menurut dia, aku hanyalah si baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya memang begitu? Kau tampak seperti tipe orang yang mau terus melangkah ke depan bersama dia, walaupun kau tahu jurang menanti kalian di depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi kami mendekati gerbang sekolah, aku menyambar kantong dari tangan Taniguchi sambil merasa cukup jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahi apa yang menanti di depan kegilaan Haruhi, tapi kukira bukan hal yang baik. Namun, aku bukan satu-satunya yang berjalan bersama Haruhi dalam perjalanan yang berbahaya ini. Setidaknya ada tiga orang yang bersamaku. Dua di antara mereka mungkin dapat mengurus diri mereka sendiri, tapi Asahina akan berada dalam bahaya besar karena dia sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dia seperti bukan berasal dari masa depan. Tapi disitulah letak pesona dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah kenapa,” aku menjelaskan pada Taniguchi, “Seseorang harus melindunginya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itulah yang sepantasnya dikatakan oleh si protagonis pria. Walaupun aku hanya melindunginya dari pelecehan seksual yang dilakukan Haruhi, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melanjutkan dengan tenang,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena aku telah diberikan kesempatan, aku harus melindungi dia. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan cowok-cowok di sekolah, silakan saja kalau kalian ingin membentuk suatu persekutuan laki-laki atau semacamnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taniguchi terus terkikik seperti gremlin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sebaiknya hati-hati melangkah, karena setiap bulan baru adalah hal baru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan tipe ancaman pemerasan yang mungkin digunakan oleh suatu komplotan pencuri, Taniguchi berjalan melewati gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku membawa barang-barangku dan berjalan ke arah koridor di luar ruang kelas, aku melihat Haruhi memasukkan barang-barangnya ke loker. Aku lalu menaruh kamera dan senapan mainan ke dalam loker stainless steel milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kita akan sibuk hari ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berkata selamat pagi, Haruhi membanting pintu lokernya dan memberiku senyuman sehangat awal musim semi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, Yuki, dan bahkan Koizumi-kun, aku tidak akan membolehkan kalian mengeluh! Skenario yang ada di pikiranku hampir selesai sekarang. Aku bisa mendengar gemuruhnya; sekarang yang harus dilakukan hanyalah memindahkannya ke layar lebar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dengan santai, dan memasuki ruang kelas. Bangku yang kutempati adalah bangku kedua dari belakang. Dari awal masuk sekolah, kami telah bertukar bangku berkali-kali, tapi sejauh ini aku belum pernah mendapat tempat di paling belakang karena Haruhi selalu mendapat tempat tepat di belakangku. Aku mulai merasa bahwa hal ini terlalu tak wajar untuk bisa dibilang kebetulan, tapi aku masih ingin mempercayai bahwa ini semua hanyalah suatu kebetulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku tidak mengatakan hal ini pada diriku sendiri, aku akan kehilangan kepercayaan terhadap kata “kebetulan”. Aku memang baik. Aku yakin siapapun yang terlibat dengan Haruhi akan berpikiran sama seperti aku. Aku ibarat seorang pemain tengah yang bertugas menguasai bola liar yang terlepas dari penguasaan kedua tim, sedangkan Haruhi adalah striker super-menyerang yang ada dalam posisi offside dan berlari ke arah gawang. Saking offside-nya, lawan terdekat mungkin berkilo-kilometer jauhnya, jadi meskipun dia mengdapatkan bolanya, asisten wasit tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat bendera offside.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Haruhi, dia mungkin berkata bahwa itu adalah kesalahan si asisten wasit. Dia akan berkata dengan wajah normal bahwa ada yang salah dengan peraturannya dan lalu melanjutkan menggiring bola, berlari melewati tiang gawang, dan menyatakan bahwa dia berhasil mencetak angka. Kalau begitu, aku sarankan dia menjauh dari rugby.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi tingkah lakunya yang tidak memedulikan orang lain, jalan terbaik adalah hanya berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi dan dengan diam-diam meninggalkan tempat kejadian perkara. Atau cukup berhenti berjuang dan menuruti apapun perkataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain daripadaku, kebanyakan teman sekelas telah memilih pilihan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi setelah jam pelajaran keenam, dengan tersisa satu pelajaran lagi, Okabe-sensei dan siswa lain tidak berkomentar tentang bangku di belakangku yang kosong. Apakah mereka tidak tahu? Atau memilih untuk tidak tahu? Atau mungkin tidak bisa diganggu untuk membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu? Bagaimanapun, semua orang setuju bahwa yang paling baik adalah membiarkan dia sendiri, jadi tidaklah penting untuk tahu apa sebabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan ke arah ruang klub dengan perasaan tak enak, sambil membawa kantong berisi kotak-kotak itu, dan berhenti di depan ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira aku mendengar sesuatu. “Ahh!” adalah jeritan manis Asahina, sedangkan “Waahh!” adalah teriakan menakutkan dari Haruhi. Yah, kita mulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau aku membuka pintu sekarang, aku mungkin akan melihat pemandangan yang sangat indah, tapi sebagai laki-laki berakal sehat, aku menahan nafsuku dan menunggu di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kira-kira lima menit, jeritan perlawanan yang lembut itu akhirnya telah surut, karena ujung-ujungnya selalu berakhir dengan Haruhi berkacak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan. Seperti kelinci yang tidak akan bisa mengalahkan ular, Asahina tidak mungkin bisa mengalahkan Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara Haruhi yang enerjik bergema melalui pintu. Aku mencoba menebak apa isi kantong kertas yang dia bawa tadi pagi, selagi membuka pintu, dan memasuki ruang klub. Seperti bisa kuduga, senyum kemenangan Haruhi menyambutku, tapi aku sudah lelah akan ekspresi itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang yang duduk di depan Haruhi di kursi baja, dan aku merasa suhu tubuhku naik dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pelayan duduk di situ, melilhat kepadaku dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rambut yang agak acak-acakan, si pelayan menundukkan kepalanya dan duduk diam bagai Nagato. Haruhi mengikat rambut coklat si pelayan menjadi dua ekor kuda. Ajaibnya, Nagato tak terlihat dimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengus dan bertanya kepadaku. Apa maksud mukamu yang berkata bahwa ini semua berkat kamu? Kecantikan Asahina adalah karunia Tuhan, namun....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku berpikir bahwa dia kelihatan hebat dalam kostum ini. Aku ingin tahu, apa yang dipikirkan Asahina? Dia tidak akan tidak menyetujuiku berpikir semacam ini, kan? Meskipun, bukankah roknya agak terlalu pendek?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai jus buah murni 100%, Asahina sang pelayan menggenggam lengannya erat-erat dalam genggamannya dan duduk kaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kostum ini tampak sangat sempurna buatmu; kelihatannya seperti dibuiat khusus untukmu. Berkat itu, aku dengan diam menatap Asahina selama tiga puluh detik. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan hampir membuatku terlompat ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf tentang kemarin. Kami masih harus merevisi skenarionya hari ini, tapi aku bersikeras untuk pergi lebih dulu karena aku tidak sempat bersiap-siap dengan kalian sejak awal hingga akhir di hari kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi tersenyum dengan wajah tampannya dan kemudian memandang ke dalam ruang klub melewati bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum dengan riang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berjalan melewatiku, menaruh tasnya di meja dan duduk di salah satu kursi baja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... benar-benar cocok denganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengeluarkan pendapatnya secara langsung. Yah, semua orang tahu hal itu. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dilakukan seorang pelayan di sini, di ruangan tua dan jelek, dan bukannya di sebuah kafe atau restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu karena,” kata Haruhi, “aku ingin Mikuru-chan memakai kostum ini dalam film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah dengan kostum maid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maid hanya melakukan pekerjaan tertentu bagi orang-orang kaya di istana mereka. Pelayan berbeda, mereka muncul di sudut jalan, atau di toko, dan menyediakan segala macam pelayanan bagi masyarakat umum dengan upah per jam 730 yen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu apakah upah per jam itu dianggap tinggi atau rendah, tapi bagaimanapun, aku kira Asahina tidak akan berdandan sebagai maid hanya untuk bekerja di sebuah istana. Namun ceritanya berbeda apabila Haruhi benar-benar membayar gajinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhentilah membahas hal-hal kecil! Semuanya bergantung akan bagaimana perasaanmu, dan aku rasa ini terlihat bagus.” Kau boleh berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Asahina?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Suzumiya-san... aku kira kostum ini agak terlalu kecil buatku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mungkin khawatir celana dalamnya akan terlihat, karena dia dengan kuat menarik ujung roknya ke bawah. Tapi kelakuan ini hanya berhasil menggelisahkanku lebih jauh, dan sebelum aku menyadarinya, pandanganku terpancang pada titik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kukira ini pas untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh banyak usaha untuk mengalihkan pandanganku dan mengarahkannya pada Haruhi, yang sedang tersenyum bagai bunga indah yang mekar di tengah-tengah hutan. Haruhi mengarahkan pupil matanya, yang hanya dapat melihat apa yang ada tepat di depannya, ke arahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Konsep untuk film kita kali ini adalah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menunjuk punggung Asahina yang sedang gemetar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kau maksud dengan “ini”? Kau ingin membuat film dokumenter tentang seorang gadis yang bekerja paruh-waktu di kedai teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan! Tidak seru kalau kita membuat acara kamera tersembunyi yang menampilkan kehidupan sehari-hari Mikuru-chan. Kita harus membuat film tentang kehidupan sehari-hari seseorang yang luar biasa, hanya begitulah caranya agar filmnya menarik. Membuat dokumenter tentang kehidupan sehari-hari seorang anak sekolah biasa hanyalah untuk memuaskan ego seseorang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira Asahina tidak akan terpuaskan dengan pembuatan film ini. Aku percaya bahwa ada orang lain yang egonya perlu dipuaskan, dan aku percaya bahwa kehidupan sehari-hari Asahina sudah cukup luar biasa, tapi aku memutuskan untuk tetap diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebagai sutradara di Brigade SOS, aku akan melaksanakan misi untuk menghibur masyarakat. Tunggu saja! Aku akan membuat semua orang berdiri dan bertepuk tangan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat dengan hati-hati dan menyadari bahwa pita lengan “Komandan” milik Haruhi sekarang telah digantikan dengan tulisan “Sutradara”. Dia benar-benar orang yang teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sutradara wanita yang penuh gairah, seorang pemeran utama wanita yang depresi, dan seorang pemeran utama pria yang tersenyum penuh teka-teki seolah ia hanyalah seorang penonton, aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan adegan ini. Pada saat ini, pintu ruang klub terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira itu orang lain, dan untuk sejenak pikiranku dipenuhi rasa takut. Aku kira hidupku yang singkat ini akhirnya telah mencapai ujungnya, karena bahkan malaikat maut datang menjemputku. Bahkan kukira aku ada di belakang layar film dimana Salieri dengan perlahan menghancurkan Mozart selagi dia menulis komposisi Requiem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah pucat Nagato seperti biasa muncul dengan diam dari balik pintu. Dia hanya menunjukkan wajahnya, sementara tubuhnya diliputi kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan satu-satunya yang takut dan terdiam, Haruhi dan Asahina juga tidak lebih baik, bahkan senyum Koizumi yang biasapun membawa sedikit rasa kengerian di dalamnya. Nagato memakai kostum aneh yang bahkan Asahina pun akan terlihat menakutkan memakainya. Dia menutupi dirinya dengan jubah kain hitam, memakai topi runcing yang sama-sama hitam gelap, suatu kostum tukang sihir yang mudah dikenali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah pandangan kami, Nagato, yang berpakaian bagai malaikat maut, dengan diam berjalan ke kursinya yang biasa di pojok, mengeluarkan tas dan buku bersampul tebalnya dari bawah jubahnya, dan menaruhnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikan pandangan kami yang terhenyak, dia mulai membaca bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya ini adalah kostum yang digunakan acara ramalan kelasnya di festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang pertama yang pulih dari rasa terkejut, Haruhi mencecar Nagato dengan serangkaian pertanyaan. Dari jawaban-jawaban satu-katanya, kami sampai pada kesimpulan berikut: pasti ada seorang desainer fashion berbakat di kelasnya untuk bisa membuat Nagato bisa menikmati memakai kostum ini kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato memasuki ruangan dalam kostum mirip boneka yang menakutkan; apakah dia diam-diam memutuskan untuk berkompetisi dengan Asahina-san lewat caranya sendiri? Jalan pikirannya bahkan lebih susah dimengerti daripada jalan pikiran Haruhi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah atmosfer sunyi ini dimana tidak ada seorangpun yang berani berbicara, hanya Haruhi yang berkata dengan bergairah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi akhirnya kau menikmatinya, Yuki! Kostum ini hebat sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato dengan perlahan menggerakkan matanya ke arah Haruhi dan lalu menggerakkan pandangannya kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kostum ini benar-benar cocok dengan konsep penokohanku! Beritahukanku nanti siapa yang merancang kostum ini untukmu, aku ingin mengirimkan telegram kepadanya untuk berterima kasih atas usahanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolonglah, mengirim telegram ucapan terima kasih hanya akan membuat dia lebih curiga, khawatir apakah ada makna tersembunyi di dalamnya. Bisakah kau melihat secara objektif bagaimana orang lain memandangmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi sudah ada di surga ketujuh. Sambil menyenandungkan Rondo ala Turca, dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bertulisan. Dia kemudian membagikan kertas-kertas itu pada setiap orang diantara kami, sambil berbinar bagai Kintarou yang baru saja mengalahkan si beruang hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak punya pilihan lain selain daripada mengarahkan pandanganku pada kertas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di atasnya tertulis hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| “Battle Waitress – Pelayan Tempur: Petualangan Asahina Mikuru (judul sementara)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pemain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina Mikuru – Pelayan Tempur dari masa depan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi Itsuki – pemuda esper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato Yuki – alien jahat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figuran – semua orang lain&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.... Ya Tuhan, apa-apaan ini? Dia ternyata menebak semuanya dengan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar shock. Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kemampuan deduksi yang sangat hebat, ataukah dia menebak begitu saja dan benar semua. Aku bahkan curiga bahwa dia pura-pura tidak tahu. Mampu membuat penilaian yang sangat tepat dengan begitu saja, memangnya kekuatan macam apa itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat, dan baru sadar ketika aku mendengar seseorang yang terkikik di sebelahku. Ini tidak lain pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tampaknya agak senang; aku benar-benar iri terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mengatakannya, ya? Seperti yang diharapkan dari Suzumiya-san, mungkin? Hanya Suzumiya-san yang mampu membuat tokoh-tokoh semacam ini, hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tersenyum ke arahku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina-san menggenggam tumpukan kertas A4 itu dengan tangannya, yang bergetar selagi dia membaca isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berseru dengan lembut dan melihat ke arahku, dengan ekspresi seolah memohon untuk diselamatkan. Aku melihat dengan hati-hati dan memperhatikan bahwa matanya membawa suatu perasaan sedih yang amat sangat, dibarengi dengan tatapan yang sedikit mencela, seperti kakak perempuan ramah yang sedang memarahi anak kecil yang baru berbuat nakal.... Ah, aku ingat sekarang. Setelah kejadian enam bulan lalu, aku memberitahukan Haruhi identitas asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh, duh. Apakah ini salahku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalut aku menoleh ke arah Nagato, dan melihat si Interface Humanoid Hidup buatan alien, mengenakan jubah hitam dan topi runcingnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih membaca bukunya dalam diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bukan masalah yang sebesar itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi berkata dengan optimis. Aku bahkan tidak dalam suasana hati untuk tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tahu ini tidak lucu, tapi tidak suram juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena ini hanyalah pembagian karakter untuk film. Suzumiya-san tidak benar-benar percaya bahwa aku adalah seorang esper, hanya di dunia film yang fiktif ini si tokoh Koizumi Itsuki, yang diperankan olehku, kebetulan adalah seorang esper.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(+/- 35%)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Kembali ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Bab 1]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Teruskan ke [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter3|Bab 3]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=17930</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Halaman Registrasi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=17930"/>
		<updated>2007-06-21T06:07:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: /* List */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;To re-iterate the registration procedure:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;quot;First Come, First Served&amp;quot;: please register your intended chapters here&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*The maximum number of chapters you are recommended to work on is no more then half of any given  volume&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of Translators per volume is two&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of volumes you may be active on is one&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*This is not some Binding Contract of &amp;quot;I must do the work I put down here&amp;quot;. Choices put down here are negotiable between translators (including their own selves who signed up for it).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== List ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Chapter 1 - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 2 - [[User:Nandaka|Nandaka]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 3 - [[User:Nandaka|Nandaka]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 4 - [[User:Nandaka|Nandaka]]&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;   &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Silverhammer|Silverhammer]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 1 - [[User:Silverhammer|Silverhammer]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 2 - [[User:Silverhammer|Silverhammer]]&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:OreKun|OreKun]]&lt;br /&gt;
**The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
**Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
**Mystérique Sign&lt;br /&gt;
**Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
**Prologue - Summer&lt;br /&gt;
**Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
**The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
**Prologue - Winter&lt;br /&gt;
**Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 6 - &#039;&#039;The Trembling of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Live A Live&lt;br /&gt;
**Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
**Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
**Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
**The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀&lt;br /&gt;
**Color Illustrations -&#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨&lt;br /&gt;
**Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
**Wandering Shadow&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Active ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Interview with Tanigawa Nagaru&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.1‎&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.2‎&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Registration Page]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17815</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17815"/>
		<updated>2007-06-18T06:09:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab 1&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan meninggalkan kalimat ini, Haruhi melesat dari ruangan bagai kucing yang mendengar suara kaleng makanan kucing yang sedang dibuka. Kupikir tidak ada lagi ditel yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya orang yang akan berkata begitu pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal bukan berburu alien untuk dipamerkan di sirkus, atau menembak jatuh UFO dan memamerkan bagian dalamnya, aku merasa lega.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana aku pernah mendengar hal ini sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si esper murah senyum menutup mulutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula, aku tertarik akan film yang dibuat Suzumiya-san, kurasa aku dapat membayangkan apa yang ada di pikirannya, kurang lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi memandang Asahina, yang sedang membereskan cangkir teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bisa menjadi festival sekolah yang menarik, yang seru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpengaruh oleh Koizumi, mataku juga mengarah pada Asahina. Ketika kami sedang memperhatikan tutup kepalanya yang terayun bersama rambutnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Ka... kalian sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari ada dua laki-laki berpikiran jorok yang sedang menatapnya, Asahina berhenti bekerja sementara wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dalam hati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kostum apa yang akan dibawa Haruhi kali ini?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bersiap-siap untuk pulang... atau tepatnya, sambil menaruh bukunya ke dalam tasnya, Nagato berdiri dalam diam dan berjalan ke arah pintu. Apakah Nagato sedang membaca buku tentang ramalan? Karena bukunya berbahasa asing, bahasa yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi....” Aku bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film, ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku sedikit tertarik juga, walaupun tentu saja ketertarikanku tidak sedalam Koizumi, mungkin kadar kedalamannya bisa dibandingkan dengan kedalaman habitat plankton yang hidup di lautan landas kontinental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin harusnya aku mencoba menanti-nantikannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula tidak ada orang lain yang mengharapkan sesuatu dari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik kembali pernyataanku, aku tidak menanti-nanti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepulang sekolah hari berikutnya, aku sudah merasa menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Dipersembahkan oleh: Brigade SOS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produser Eksekutif/Sutradara/Penulis Skenario: Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Wanita: Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Pria: Koizumi Itsuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Pembantu: Nagato Yuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asisten Sutradara/Sinematografi/Penyunting/Peralatan/Pengumpul Informasi/Tugas Remeh Lain: Kyon&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku melihat apa yang tertulis di buku catatan itu, hanya satu hal yang ada di pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa sebenarnya yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang tertulis di situ, tentunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti konduktor orkestra, Haruhi mengayunkan tongkat konduktornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau adalah pekerja di belakang layar, seperti yang ditulis di daftar pembagian peran dan kru. Kita punya deretan pemeran yang hebat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A... apakah aku pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya dengan suara yang lembut. Hari ini dia mengenakan seragam sekolah yang biasa dan bukannya kostum maid, karena seperti kata Haruhi dia tidak perlu berganti kostum hari ini. Nampaknya Haruhi hari ini akan membawa Asahina ke suatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau mungkin, bisakah peranku hanya peran kecil....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina memohon pada Haruhi dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak,” jawab Haruhi. “Aku akan membuat Mikuru-chan menjadi terkenal, lagipula kau kan semacam merek dagang resmi Brigade SOS. Yang harus kau lakukan hanyalah berlatih membagi tanda tangan. Nanti pada malam premiere, fans-mu akan mengantri demi tanda tanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Premiere? Dimana dia berniat mengadakan event ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina tampaknya tidak terlalu nyaman dengan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tapi aku tidak bisa akting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku akan mengarahkanmu dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ragu-ragu dan takut, Asahina mengangkat kepalanya dan menatapku, dan dengan sedih menurunkan alis matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada tiga orang di sini sekarang, karena Nagato dan Koizumi sedang mengikuti rapat kelas untuk aktivitas di festival, sehingga mereka akan terlambat hari ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang mau tinggal di sekolah untuk mempersiapkan hal semacam ini; maksudku, yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk di sana dan menyelesaikannya. Aku merasa takjub bahwa ada beberapa orang yang serius menanggapi hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sisi lain, Yuki dan Koizumi-kun tdak serius tentang hal ini,” kata Haruhi, merasa kesal. Tidak tahu bagaimana melampiaskan amarahnya, Haruhi mengacungkan telunjuknya padaku, “Aku dengan jelas sudah mengatakan bahwa aktivitas ini mempunyai prioritas lebih tinggi daripada kegiatan lain. Tapi mereka memilih untuk terlambat agar mereka bisa mengikuti aktivitas kelas. Aku benar-benar harus memberikan peringatan pada mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Nagato dan Koizumi-kun mempunyai rasa memiliki yang lebih besar terhadap kelas mereka daripada aku dan Haruhi. Dari perspektif tertentu, sebetulnya keberadaan kami bertiga di sini sekarang lebih tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sesuatu hal terpikir olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san, bukankah kau harus menghadiri pertemuan kelasmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, aku di bagian yang hanya bertanggung jawab melayani pelanggan, jadi yang belum dilakukan hanyalah merancang kostum. Aku masih belum tahu kostum apa yang akan kupakai, tapi aku menanti-nantikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muka Asahina memerah dan tersenyum, tampaknya dia sudah terbiasa dengan cosplay sekarang. Daripada bermain-main dengan Brigade SOS dan terpaksa memakai bermacam-macam kostum tak jelas tanpa alasan yang jelas pula, bukankah lebih baik baginya untuk memakai sesuatu yang pas untuk acara yang tepat pula? Adalah sangat normal apabila seorang pelayan muncul di kedai mi, jauh lebih normal daripada seorang maid di ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya Haruhi berhasil memasukkan hal itu dalam topik pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, Mikuru-chan, kau ingin berpakaian seperti pelayan? Kenapa tidak kau bilang? Itu menjadikan semuanya mudah, aku akan mencarikan kostum untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu keberatan kalau kau mengeluarkan perkataan lucu semacam itu, tapi tidakkah kau pikir bahwa orang-orang di ruangan Klub Sastra tidak pantas mengenakan berbagai macam kostum selain dari seragam mereka? Bahkan kostum perawat yang sebelumnya patut dipertanyakan, tapi jika dia harus mengenakan kostum, aku masih berpendapat kostum maid-lah yang terbaik.... Apakah ini obsesi pribadiku, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menoleh ke arahku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kau tahu apa hal terpenting dalam membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm... Yah, aku berusaha mengingat-ingat tiap adegan film yang berhasil membuatku tergerak dan patut dijadikan referensi. Ketika aku selesai berpikir, aku menjawab dengan percaya diri,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inovasi dan gairah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan hal yang abstrak macam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menolak pemikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamera, tentunya! Bagaimana kita akan melakukan syuting tanpa kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin benar, tapi aku tidak berbicara tentang sesuatu yang pragmatis.... Lupakan saja, ini tidak berarti aku mempunyai banyak ide-ide yang inovatif atau gairah dalam membuat film dan teori film, jadi aku tidak akan membantah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah diputuskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memendekkan tongkat konduktornya dan melemparnya ke meja komandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mengambil kamera.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duk! Terdengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Aku menoleh dan melihat wajah Asahina yang memucat. Aku tidak bisa menyalahkannya; lagipula, Haruhi dengan liar pernah membajak komputer yang ada di ruangan ini dari Klub Komputer, menggunakan Asahina yang malang sebagai tumbal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut coklat Asahina bergetar, lalu dia dengan perlahan membuka bibirnya yang bagaikan bunga ceri dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm... mmm... Su... Suzumiya-san, aku baru saja ingat, aku harus kembali ke kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memasang ekspresi yang mengerikan. Asahina bergidik dan dengan seketika duduk kembali di kursi. Haruhi kemudian tersenyum dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya berkata “jangan khawatir” tidak menjamin bahwa hal-hal yang akan membuat khawatir tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini aku tidak akan menggunakan tubuh Mikuru-chan sebagai persembahan, aku hanya membutuhkan bantuanmu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menatapku dengan mata yang sedih seperti anak sapi yang sedang dinaikkan ke atas truk untuk dikirim ke rumah jagal. Tanpa berteriak dengan keras, aku berkata pada Haruhi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya beritahu kami apa yang harus kami bantu! Atau Asahina-san dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Haruhi berkata, “Kenapa sih dua orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, “Aku akan mencari sponsor, lebih mudah, kan, kalau aku membawa pemeran utama wanita? Kau ikut juga! Karena kau harus mengangkut peralatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Bab 1 selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17814</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17814"/>
		<updated>2007-06-18T05:58:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab I&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan meninggalkan kalimat ini, Haruhi melesat dari ruangan bagai kucing yang mendengar suara kaleng makanan kucing yang sedang dibuka. Kupikir tidak ada lagi ditel yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya orang yang akan berkata begitu pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal bukan berburu alien untuk dipamerkan di sirkus, atau menembak jatuh UFO dan memamerkan bagian dalamnya, aku merasa lega.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana aku pernah mendengar hal ini sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si esper murah senyum menutup mulutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula, aku tertarik akan film yang dibuat Suzumiya-san, kurasa aku dapat membayangkan apa yang ada di pikirannya, kurang lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi memandang Asahina, yang sedang membereskan cangkir teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bisa menjadi festival sekolah yang menarik, yang seru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpengaruh oleh Koizumi, mataku juga mengarah pada Asahina. Ketika kami sedang memperhatikan tutup kepalanya yang terayun bersama rambutnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Ka... kalian sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari ada dua laki-laki berpikiran jorok yang sedang menatapnya, Asahina berhenti bekerja sementara wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dalam hati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kostum apa yang akan dibawa Haruhi kali ini?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bersiap-siap untuk pulang... atau tepatnya, sambil menaruh bukunya ke dalam tasnya, Nagato berdiri dalam diam dan berjalan ke arah pintu. Apakah Nagato sedang membaca buku tentang ramalan? Karena bukunya berbahasa asing, bahasa yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi....” Aku bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film, ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku sedikit tertarik juga, walaupun tentu saja ketertarikanku tidak sedalam Koizumi, mungkin kadar kedalamannya bisa dibandingkan dengan kedalaman habitat plankton yang hidup di lautan landas kontinental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin harusnya aku mencoba menanti-nantikannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula tidak ada orang lain yang mengharapkan sesuatu dari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik kembali pernyataanku, aku tidak menanti-nanti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepulang sekolah hari berikutnya, aku sudah merasa menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Dipersembahkan oleh: Brigade SOS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produser Eksekutif/Sutradara/Penulis Skenario: Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Wanita: Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Pria: Koizumi Itsuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemeran Pembantu: Nagato Yuki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asisten Sutradara/Sinematografi/Penyunting/Peralatan/Pengumpul Informasi/Tugas Remeh Lain: Kyon&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku melihat apa yang tertulis di buku catatan itu, hanya satu hal yang ada di pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa sebenarnya yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang tertulis di situ, tentunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti konduktor orkestra, Haruhi mengayunkan tongkat konduktornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau adalah pekerja di belakang layar, seperti yang ditulis di daftar pembagian peran dan kru. Kita punya deretan pemeran yang hebat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A... apakah aku pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya dengan suara yang lembut. Hari ini dia mengenakan seragam sekolah yang biasa dan bukannya kostum maid, karena seperti kata Haruhi dia tidak perlu berganti kostum hari ini. Nampaknya Haruhi hari ini akan membawa Asahina ke suatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau mungkin, bisakah peranku hanya peran kecil....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina memohon pada Haruhi dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak,” jawab Haruhi. “Aku akan membuat Mikuru-chan menjadi terkenal, lagipula kau kan semacam merek dagang resmi Brigade SOS. Yang harus kau lakukan hanyalah berlatih membagi tanda tangan. Nanti pada malam premiere, fans-mu akan mengantri demi tanda tanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Premiere? Dimana dia berniat mengadakan event ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina tampaknya tidak terlalu nyaman dengan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tapi aku tidak bisa akting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku akan mengarahkanmu dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ragu-ragu dan takut, Asahina mengangkat kepalanya dan menatapku, dan dengan sedih menurunkan alis matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada tiga orang di sini sekarang, karena Nagato dan Koizumi sedang mengikuti rapat kelas untuk aktivitas di festival, sehingga mereka akan terlambat hari ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang mau tinggal di sekolah untuk mempersiapkan hal semacam ini; maksudku, yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk di sana dan menyelesaikannya. Aku merasa takjub bahwa ada beberapa orang yang serius menanggapi hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sisi lain, Yuki dan Koizumi-kun tdak serius tentang hal ini,” kata Haruhi, merasa kesal. Tidak tahu bagaimana melampiaskan amarahnya, Haruhi mengacungkan telunjuknya padaku, “Aku dengan jelas sudah mengatakan bahwa aktivitas ini mempunyai prioritas lebih tinggi daripada kegiatan lain. Tapi mereka memilih untuk terlambat agar mereka bisa mengikuti aktivitas kelas. Aku benar-benar harus memberikan peringatan pada mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Nagato dan Koizumi-kun mempunyai rasa memiliki yang lebih besar terhadap kelas mereka daripada aku dan Haruhi. Dari perspektif tertentu, sebetulnya keberadaan kami bertiga di sini sekarang lebih tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sesuatu hal terpikir olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san, bukankah kau harus menghadiri pertemuan kelasmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, aku di bagian yang hanya bertanggung jawab melayani pelanggan, jadi yang belum dilakukan hanyalah merancang kostum. Aku masih belum tahu kostum apa yang akan kupakai, tapi aku menanti-nantikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muka Asahina memerah dan tersenyum, tampaknya dia sudah terbiasa dengan cosplay sekarang. Daripada bermain-main dengan Brigade SOS dan terpaksa memakai bermacam-macam kostum tak jelas tanpa alasan yang jelas pula, bukankah lebih baik baginya untuk memakai sesuatu yang pas untuk acara yang tepat pula? Adalah sangat normal apabila seorang pelayan muncul di kedai mi, jauh lebih normal daripada seorang maid di ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya Haruhi berhasil memasukkan hal itu dalam topik pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, Mikuru-chan, kau ingin berpakaian seperti pelayan? Kenapa tidak kau bilang? Itu menjadikan semuanya mudah, aku akan mencarikan kostum untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu keberatan kalau kau mengeluarkan perkataan lucu semacam itu, tapi tidakkah kau pikir bahwa orang-orang di ruangan Klub Sastra tidak pantas mengenakan berbagai macam kostum selain dari seragam mereka? Bahkan kostum perawat yang sebelumnya patut dipertanyakan, tapi jika dia harus mengenakan kostum, aku masih berpendapat kostum maid-lah yang terbaik.... Apakah ini obsesi pribadiku, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menoleh ke arahku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kau tahu apa hal terpenting dalam membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm... Yah, aku berusaha mengingat-ingat tiap adegan film yang berhasil membuatku tergerak dan patut dijadikan referensi. Ketika aku selesai berpikir, aku menjawab dengan percaya diri,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inovasi dan gairah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan hal yang abstrak macam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menolak pemikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamera, tentunya! Bagaimana kita akan melakukan syuting tanpa kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin benar, tapi aku tidak berbicara tentang sesuatu yang pragmatis.... Lupakan saja, ini tidak berarti aku mempunyai banyak ide-ide yang inovatif atau gairah dalam membuat film dan teori film, jadi aku tidak akan membantah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah diputuskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memendekkan tongkat konduktornya dan melemparnya ke meja komandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mengambil kamera.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duk! Terdengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Aku menoleh dan melihat wajah Asahina yang memucat. Aku tidak bisa menyalahkannya; lagipula, Haruhi dengan liar pernah membajak komputer yang ada di ruangan ini dari Klub Komputer, menggunakan Asahina yang malang sebagai tumbal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut coklat Asahina bergetar, lalu dia dengan perlahan membuka bibirnya yang bagaikan bunga ceri dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm... mmm... Su... Suzumiya-san, aku baru saja ingat, aku harus kembali ke kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memasang ekspresi yang mengerikan. Asahina bergidik dan dengan seketika duduk kembali di kursi. Haruhi kemudian tersenyum dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya berkata “jangan khawatir” tidak menjamin bahwa hal-hal yang akan membuat khawatir tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini aku tidak akan menggunakan tubuh Mikuru-chan sebagai persembahan, aku hanya membutuhkan bantuanmu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menatapku dengan mata yang sedih seperti anak sapi yang sedang dinaikkan ke atas truk untuk dikirim ke rumah jagal. Tanpa berteriak dengan keras, aku berkata pada Haruhi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya beritahu kami apa yang harus kami bantu! Atau Asahina-san dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Haruhi berkata, “Kenapa sih dua orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, “Aku akan mencari sponsor, lebih mudah, kan, kalau aku membawa pemeran utama wanita? Kau ikut juga! Karena kau harus mengangkut peralatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Bab 1 selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17813</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17813"/>
		<updated>2007-06-18T05:50:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: Bab 1 Selesai&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab I&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan meninggalkan kalimat ini, Haruhi melesat dari ruangan bagai kucing yang mendengar suara kaleng makanan kucing yang sedang dibuka. Kupikir tidak ada lagi ditel yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi bukankah tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya orang yang akan berkata begitu pastilah Koizumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asal bukan berburu alien untuk dipamerkan di sirkus, atau menembak jatuh UFO dan memamerkan bagian dalamnya, aku merasa lega.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana aku pernah mendengar hal ini sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si esper murah senyum menutup mulutnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lagipula, aku tertarik akan film yang dibuat Suzumiya-san, kurasa aku dapat membayangkan apa yang ada di pikirannya, kurang lebih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi memandang Asahina, yang sedang membereskan cangkir teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini bisa menjadi festival sekolah yang menarik, yang seru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpengaruh oleh Koizumi, mataku juga mengarah pada Asahina. Ketika kami sedang memperhatikan tutup kepalanya yang terayun bersama rambutnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah! Ka... kalian sedang melihat apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari ada dua laki-laki berpikiran jorok yang sedang menatapnya, Asahina berhenti bekerja sementara wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab dalam hati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kostum apa yang akan dibawa Haruhi kali ini?&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil bersiap-siap untuk pulang... atau tepatnya, sambil menaruh bukunya ke dalam tasnya, Nagato berdiri dalam diam dan berjalan ke arah pintu. Apakah Nagato sedang membaca buku tentang ramalan? Karena bukunya berbahasa asing, bahasa yang tidak kumengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi....” Aku bergumam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film, ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, aku sedikit tertarik juga, walaupun tentu saja ketertarikanku tidak sedalam Koizumi, mungkin kadar kedalamannya bisa dibandingkan dengan kedalaman habitat plankton yang hidup di lautan landas kontinental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin harusnya aku mencoba menanti-nantikannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula tidak ada orang lain yang mengharapkan sesuatu dari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutarik kembali pernyataanku, aku tidak menanti-nanti apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sepulang sekolah hari berikutnya, aku sudah merasa menderita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipersembahkan oleh: Brigade SOS&lt;br /&gt;
Produser Eksekutif/Sutradara/Penulis Skenario: Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Wanita: Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
Pemeran Utama Pria: Koizumi Itsuki&lt;br /&gt;
Pemeran Pembantu: Nagato Yuki&lt;br /&gt;
Asisten Sutradara/Sinematografi/Penyunting/Peralatan/Pengumpul Informasi/Tugas Remeh Lain: Kyon&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku melihat apa yang tertulis di buku catatan itu, hanya satu hal yang ada di pikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa sebenarnya yang harus kulakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang tertulis di situ, tentunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti konduktor orkestra, Haruhi mengayunkan tongkat konduktornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau adalah pekerja di belakang layar, seperti yang ditulis di daftar pembagian peran dan kru. Kita punya deretan pemeran yang hebat, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A... apakah aku pemeran utama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bertanya dengan suara yang lembut. Hari ini dia mengenakan seragam sekolah yang biasa dan bukannya kostum maid, karena seperti kata Haruhi dia tidak perlu berganti kostum hari ini. Nampaknya Haruhi hari ini akan membawa Asahina ke suatu tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau mungkin, bisakah peranku hanya peran kecil....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina memohon pada Haruhi dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak,” jawab Haruhi. “Aku akan membuat Mikuru-chan menjadi terkenal, lagipula kau kan semacam merek dagang resmi Brigade SOS. Yang harus kau lakukan hanyalah berlatih membagi tanda tangan. Nanti pada malam premiere, fans-mu akan mengantri demi tanda tanganmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Premiere? Dimana dia berniat mengadakan event ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina tampaknya tidak terlalu nyaman dengan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Tapi aku tidak bisa akting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir, aku akan mengarahkanmu dengan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ragu-ragu dan takut, Asahina mengangkat kepalanya dan menatapku, dan dengan sedih menurunkan alis matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada tiga orang di sini sekarang, karena Nagato dan Koizumi sedang mengikuti rapat kelas untuk aktivitas di festival, sehingga mereka akan terlambat hari ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang mau tinggal di sekolah untuk mempersiapkan hal semacam ini; maksudku, yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk di sana dan menyelesaikannya. Aku merasa takjub bahwa ada beberapa orang yang serius menanggapi hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di sisi lain, Yuki dan Koizumi-kun tdak serius tentang hal ini,” kata Haruhi, merasa kesal. Tidak tahu bagaimana melampiaskan amarahnya, Haruhi mengacungkan telunjuknya padaku, “Aku dengan jelas sudah mengatakan bahwa aktivitas ini mempunyai prioritas lebih tinggi daripada kegiatan lain. Tapi mereka memilih untuk terlambat agar mereka bisa mengikuti aktivitas kelas. Aku benar-benar harus memberikan peringatan pada mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Nagato dan Koizumi-kun mempunyai rasa memiliki yang lebih besar terhadap kelas mereka daripada aku dan Haruhi. Dari perspektif tertentu, sebetulnya keberadaan kami bertiga di sini sekarang lebih tidak tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba sesuatu hal terpikir olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san, bukankah kau harus menghadiri pertemuan kelasmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm, aku di bagian yang hanya bertanggung jawab melayani pelanggan, jadi yang belum dilakukan hanyalah merancang kostum. Aku masih belum tahu kostum apa yang akan kupakai, tapi aku menanti-nantikannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muka Asahina memerah dan tersenyum, tampaknya dia sudah terbiasa dengan cosplay sekarang. Daripada bermain-main dengan Brigade SOS dan terpaksa memakai bermacam-macam kostum tak jelas tanpa alasan yang jelas pula, bukankah lebih baik baginya untuk memakai sesuatu yang pas untuk acara yang tepat pula? Adalah sangat normal apabila seorang pelayan muncul di kedai mi, jauh lebih normal daripada seorang maid di ruangan Klub Sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya Haruhi berhasil memasukkan hal itu dalam topik pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, Mikuru-chan, kau ingin berpakaian seperti pelayan? Kenapa tidak kau bilang? Itu menjadikan semuanya mudah, aku akan mencarikan kostum untukmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak terlalu keberatan kalau kau mengeluarkan perkataan lucu semacam itu, tapi tidakkah kau pikir bahwa orang-orang di ruangan Klub Sastra tidak pantas mengenakan berbagai macam kostum selain dari seragam mereka? Bahkan kostum perawat yang sebelumnya patut dipertanyakan, tapi jika dia harus mengenakan kostum, aku masih berpendapat kostum maid-lah yang terbaik.... Apakah ini obsesi pribadiku, ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, baiklah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menoleh ke arahku,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, kau tahu apa hal terpenting dalam membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm... Yah, aku berusaha mengingat-ingat tiap adegan film yang berhasil membuatku tergerak dan patut dijadikan referensi. Ketika aku selesai berpikir, aku menjawab dengan percaya diri,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inovasi dan gairah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan hal yang abstrak macam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menolak pemikiranku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamera, tentunya! Bagaimana kita akan melakukan syuting tanpa kamera?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau mungkin benar, tapi aku tidak berbicara tentang sesuatu yang pragmatis.... Lupakan saja, ini tidak berarti aku mempunyai banyak ide-ide yang inovatif atau gairah dalam membuat film dan teori film, jadi aku tidak akan membantah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah diputuskan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memendekkan tongkat konduktornya dan melemparnya ke meja komandan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sekarang akan mengambil kamera.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duk! Terdengar suara kursi yang terdorong ke belakang. Aku menoleh dan melihat wajah Asahina yang memucat. Aku tidak bisa menyalahkannya; lagipula, Haruhi dengan liar pernah membajak komputer yang ada di ruangan ini dari Klub Komputer, menggunakan Asahina yang malang sebagai tumbal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambut coklat Asahina bergetar, lalu dia dengan perlahan membuka bibirnya yang bagaikan bunga ceri dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mm... mmm... Su... Suzumiya-san, aku baru saja ingat, aku harus kembali ke kelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memasang ekspresi yang mengerikan. Asahina bergidik dan dengan seketika duduk kembali di kursi. Haruhi kemudian tersenyum dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya berkata “jangan khawatir” tidak menjamin bahwa hal-hal yang akan membuat khawatir tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini aku tidak akan menggunakan tubuh Mikuru-chan sebagai persembahan, aku hanya membutuhkan bantuanmu kali ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menatapku dengan mata yang sedih seperti anak sapi yang sedang dinaikkan ke atas truk untuk dikirim ke rumah jagal. Tanpa berteriak dengan keras, aku berkata pada Haruhi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setidaknya beritahu kami apa yang harus kami bantu! Atau Asahina-san dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspresi Haruhi berkata, “Kenapa sih dua orang ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, “Aku akan mencari sponsor, lebih mudah, kan, kalau aku membawa pemeran utama wanita? Kau ikut juga! Karena kau harus mengangkut peralatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Bab 1 selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17347</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17347"/>
		<updated>2007-06-11T04:02:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab I&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(80% selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Prologue&amp;diff=17346</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Prologue</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Prologue&amp;diff=17346"/>
		<updated>2007-06-11T04:02:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;THE SIGHS OF SUZUMIYA HARUHI&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Keluh-kesah Suzumiya Haruhi&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Prolog&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi nampaknya adalah orang yang tidak mempunyai kecemasan. Tapi, dia punya. Hanya, hal yang dia cemaskan adalah “Dunia ini terlalu membosankan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuknya, “hal-hal yang tidak membosankan” adalah fenomena supranatural apapun, maksudnya dia sering memikirkan hal seperti “Aku tak percaya tidak ada sebatang hidungpun hantu yang muncul di depanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus memberitahumu bahwa “hantu” juga bisa diganti dengan “alien”, “penjelajah waktu”, atau “esper”. Namun, semua orang tahu bahwa makhluk-makhluk ini hanya muncul di novel fiksi. Mereka tidak ada di dunia nyata ini. Berarti, selama Haruhi terus hidup di dunia ini, dia akan terus merasa terganggu oleh fakta ini. Dunia memang seharusnya seperti ini; tanpa hal-hal yang tak biasa. Tetapi beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidupku belum lama ini membuatku sangat sulit untuk mempercayai fakta ini; aku juga merasa terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku tahu bahwa alien, penjelajah waktu, dan esper memang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengarkan aku, aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau selalu menginginkan agar alien, penjelajah waktu atau esper benar-benar ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul. Terus kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, tujuan dari Brigade SOS adalah menemukan orang-orang itu. Betul, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak hanya menemukan, kita juga harus bisa bermain bersama. Menemukan mereka saja tidak cukup, aku ingin ikut berpartisipasi, tidak hanya sebagai bagian dari penonton.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku selalu berharap aku hanya menonton dari pinggir... yah, begitulah. Tapi pernahkah kau berpikir bahwa para alien, penjelajah waktu dan esper mungkin, secara mengejutkan, sangat dekat dengan kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah? Apa maksudmu? Jangan-jangan maksudmu Yuki, Mikuru, atau Itsuki? Kalau itu mereka, berarti itu tidak terlalu “mengejutkan”.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa memang merekalah selama ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau idiot? Tidak mungkin semudah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, dalam standar normal ini akan menjadi terlalu sederhana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu katakan, siapakah aliennya?”&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
“Kau akan sangat senang mendengarnya. Nagato Yuki-lah aliennya. Hmm, bagaimana mengatakannya, ya? Harusnya Entitas bla bla Terintegrasi... atau Entitas bla bla Data... seperti itu lah. Pada dasarnya, diciptakan oleh alien lalu diberikan tubuh manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, lalu bagaimana dengan Mikuru?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san mudah dijelaskan: dia seorang penjelajah waktu. Dia datang dari masa depan. Tidak masalah memanggilnya penjelajah waktu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu dari berapa tahun ke depan dia berasal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu, dia tidak memberitahuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berarti Itsuki adalah esper? Apakah kau dari awal berencana untuk menceritakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaikkan alisnya selagi ia berbicara, lalu secara perlahan menarik nafas, dan berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti itulah, Haruhi benar-benar membuang kebenaran yang buatku sangat susah untuk dikeluarkan. Yah, sudah bisa diduga. Bahkan setelah ketiga orang itu menggunakan cara mereka masing-masing untuk menunjukkan kepadaku bahwa mereka adalah benar-benar alien, penjelajah waktu, dan esper, benakku masih diliputi keraguan. Membuat Haruhi mempercayai ini, terutama mengingat bahwa dia tidak melihat apa yang telah kulihat, adalah hampir tidak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa lagi yang bisa kukatakan? Aku telah menceritakan kepadanya kebenaran yang sebenar-benarnya. Walaupun aku tidak tampak seperti orang yang benar-benar bisa dipercaya, kalau aku tahu bahwa tidak ada manfaat yang bisa didapat dari berbohong, aku akan mengatakan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebenarnya Haruhi juga tidak bisa disalahkan. Kalau seseorang yang ramah mendatangiku dan berkata “Orang yang kau kenal itu sebenarnya adalah seseorang yang sangat luar biasa...” kukira aku juga akan kehilangan kesabaranku dan mulai berteriak padanya. Kalau seseorang mengatakan hal seperti itu padaku dengan muka yang tulus, aku mungkin akan berpikir bahwa otaknya telah diinfeksi semacam virus, atau telah dikacaukan oleh gelombang beracun. Mungkin aku akan merasa simpati untuk orang itu. Bagaimanapun kukira aku akan berhenti mengobrol dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, sekarang, bukankah “seseorang” itu aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, buka telingamu dan dengar baik-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menatapku dengan pandangan berapi-api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak penting apakah itu alien, penjelajah waktu, atau esper. Mereka tidak akan muncul dengan santai di depan kita seperti itu! Apakah kau tahu betapa berharganya mereka? Kalau kita menemukan mereka, kita harus menerkam lehernya, mengikat, lalu menggantung mereka agar tidak bisa kabur! Orang-orang yang aku tarik secara acak dari jalanan untuk bergabung dengan klub kita tidak mungkin begitu langka dan berharga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wow, sebetulnya logis juga. Tapi selain diriku, tiga orang lainnya benar-benar dikaruniai karakteristik supranatural. Aku satu-satunya manusia biasa. Tunggu sebentar, apakah dia bilang tadi dia hanya menarik orang secara acak ke klubnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hhh, mengapa gadis bodoh ini berpikir logis hanya pada topik-topik yang aneh? Kalau dia mau mempercayaiku, semuanya akan menjadi lebih sederhana. Setidaknya Brigade SOS yang aneh ini dapat dibubarkan, karena tujuan satu-satunya klub ini dibentuk adalah menemukan alien et al untuk Haruhi. Begitu dia menemukan hal semacam itu, tidak ada gunanya lagi mengurus klub ini. Setelah itu, dia dapat bermain dengan makhluk-makhluk aneh itu sepuasnya, sementara aku diam di pinggir dan menambahkan sedikit tawa di sana-sini. Kuharap ini terjadi secepatnya, karena sekarang aku merasa seperti binatang sirkus yang dipaksa untuk tampil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika Haruhi mempunyai kesadaran sedikit saja akan apa yang terjadi di sekelilingnya, aku tidak tahu dunia akan seperti apa jadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya, aku harus memberitahumu bahwa hanya dua orang yang ikut dalam dialog ini, sejak awal. Ini terjadi pada kegiatan klub “Brigade SOS berkeliaran di kota (nama sementara)” yang kedua, ketika aku mengobrol dengan Haruhi di dalam restoran dekat stasiun. Aku tidak ragu bahwa Haruhi akan membayar makanannya; aku menjelaskan semua itu dengan sangat natural selagi aku menyeruput kopiku. Tapi dia sama sekali tidak menganggapku serius. Namun aku tidak keberatan. Siapapun yang mempercayai hal semacam itu harus memeriksakan otak mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan denganku, aku tidak peduli untuk menceritakannya lebih spesifik, karena detail-detail dalam hal semacam ini hanya akan menambah kecurigaan. Karena semua hal ini datang dariku: orang yang diseret ke apartemen Nagato dan harus mendengarkan rangkaian penjelasan yang panjang dan membingungkan, tidak ada alasan untuk curiga bahwa ada sesuatu yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mau lagi mendengar lelucon tak lucu seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menelan seluruh jus sayuran kuning kehijauan dari gelasnya, dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo pergi! Kita tidak bisa berpisah menjadi dua kelompok hari ini, jadi kita berputar-putar saja! Oh ya, aku lupa membawa dompet hari ini. Ini bonnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menatap bon delapan ratus tiga puluh yen itu, memikirkan bagaimana caranya memprotes kekejaman ini, Haruhi menyambar kopiku dan menghabiskannya. Ini meninggalkan kesan bahwa dia tidak akan menerima protes apapun. Dia kemudian berjalan keluar dari restoran, dan berdiri di depan pintu otomatis dengan tangan disilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setengah tahun telah berlalu sejak itu. Kalau kupikirkan lagi sekarang, nampaknya aku mengalami banyak fenomena aneh sepanjang enam bulan ke belakang. Nama resmi Brigade SOS masih “Selamatkan Orang-orang sedunia dengan keceriaan Suzumiya Haruhi” (&#039;&#039;“The Save our world by Overloading it with fun Suzumiya Haruhi&#039;s Brigade&amp;quot;&#039;&#039;), yang membuatku merinding. Aku tidak tahu bagaimana klub ini membawa keceriaan. Kupikir hanya Haruhi yang merasakan keceriaan yang harusnya ditimbulkan. Selain itu, alasan keberadaan klub ini masih misterius. Tujuan awalnya adalah sesuatu tentang bermain dengan alien, menculik penjelajah waktu, dan bertarung di sisi para esper. Tapi dari  perspektif Haruhi, tujuan ini masih belum tercapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena Haruhi percaya bahwa dia belum bertemu dengan alien, penjelajah waktu, atau esper. Kesimpulan ini tidak bisa kuubah. Aku sudah menceritakan identitas asli tiga anggota lain, tetapi dia tidak mau mempercayaiku. Jadi ini sudah bukan tanggungjawabku lagi, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Brigade SOS gagal mencapai tujuan yang diinginkan, dengan demikian telah kehilangan alasan keberadaannya, klub ini masih belum dibubarkan. Bahkan sekarang, organisasi yang tak diakui ini masih eksis secara rahasia di Gedung Tua (Old Shack).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, lima anggotanya, termasuk aku, masih memilih untuk nongkrong di ruang klub setiap hari. Organisasi Siswa (OSIS), setelah beberapa rapat dan tingkat analisis yang berbeda, nampaknya telah memilih untuk mengacuhkan kami. Mereka tidak menyetujui berkas-berkas pendaftaran klub, tetapi juga tidak berkomentar mengenai pengambilalihan paksa Klub Sastra. Mungkin karena satu-satunya anggotanya, Nagato Yuki, tidak mempermasalahkan keberadaan kita di sini. Namun, aku pribadi percaya bahwa OSIS tidak mau beradu argumen dengan Haruhi, sehingga mereka pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa tidak ada seorangpun di dunia yang akan dengan sengaja menginjak sesuatu yang bertuliskan “Peringatan: meledak bila diinjak”  dengan lampu neon merah. Bahkan aku tidak berani. Kalau saja aku tahu, aku tak akan berbicara dengan gadis keras kepala itu yang memasang ekspresi tidak bersahabat setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang anak sekolah normal yang secara tidak sengaja menekan tombol pengaktifan bom waktu, dan sekarang terpaksa membawa-bawa bom itu seperti orang goblok – itulah aku. Dan bom waktu bernama “Suzumiya Haruhi” ini bahkan tidak mempunyai penghitung waktu. Aku tidak tahu kapan bom ini akan meledak, seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkan, atau barang apa lagi yang ada di dalamnya. Bahkan yang lebih penting lagi, aku tidak tahu apakah bom ini asli atau tidak. Mungkin ini hanya mainan untuk menipu anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak dapat menemukan tong sampah yang bertuliskan “Hanya untuk Bahan Berbahaya”, betapa kerasnya aku mencarinya. Ini berarti, entitas berbahaya yang telah kuaktifkan ini diliputi oleh lem super, lengket di tanganku, lebih lengket dari hal-hal lain yang mungkin ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hhh... Dimana aku bisa menemukan tempat untuk membuangnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Forward to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17345</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17345"/>
		<updated>2007-06-11T03:58:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab I&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(80% selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Back to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=17344</id>
		<title>Suzumiya Haruhi (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=17344"/>
		<updated>2007-06-11T03:58:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: /* Volume 2 - &amp;#039;&amp;#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&amp;#039;&amp;#039; */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;This is the page for the Indonesian translation, and requires cleanup!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Suzumiya Haruhi series is available in the following languages:&lt;br /&gt;
*[[SPA_Suzumiya_Haruhi|Español (Spanish)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%28version_fran%C3%A7aise%29|Français (French)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Vietnamese_version|Tiếng Việt (Vietnamese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Italian_Version|Italiano (Italian)]] &lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_PT-br|Português do Brasil (Brazilian Portuguese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi|English]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Note: Translation progress varies for each version.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sinopsis Cerita ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cerita tentang anak SMU Jepang biasa! Kyon adalah murid kelas satu di SMU Utara. Duduk di belakangnya adalah murid yang pandai, bersemangat dan sangat kebosanan, Suzumiya Haruhi, yang memperkenalkan dirinya kalau dia tidak berminat pada &amp;quot;manusia normal&amp;quot; dan setiap alien, penjelajah waktu, slider atau esper harus datang dan bergabung dengannya. Mengapa dia sangat menekankan tentang selain manusia normal? &amp;quot;Karena manusia normal tidak menyenangkan sama sekali!&amp;quot; Kyon tiba-tiba langsung terlibat dalam tindakan gadis aneh ini untuk membuat hidup lebih menarik, dan segera menemukan kalau dunia itu lebih mengejutkan dari apa yang boleh Haruhi ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Translation ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|Registration]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translators are asked to [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|register]] which chapters they&#039;re working on (see the [[Format_guideline#Translators|Guideline]] page for usage rules).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Format Standards ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Every Chapter (after editing) must conform to the agreed points highlighted in the below guidelines&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi:Guideline|Project Specific translation and format conventions]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Updates ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*May 25, 2007&lt;br /&gt;
**Indonesian version project page created!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== The &#039;&#039;Suzumiya Haruhi&#039;&#039; series, by [[Tanigawa Nagaru]] ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter1|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter3|Chapter 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter4|Chapter 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter5|Chapter 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter6|Chapter 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter7|Chapter 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Epilogue|Epilogue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Author&#039;s Notes|Author&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Editor&#039;s Notes|Editor&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume2_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]] &lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]] &lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Full Text|Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈]] ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
::*Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
::*Mystérique Sign&lt;br /&gt;
::*Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume4_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume5_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue - Summer&lt;br /&gt;
::*Endless Eight&lt;br /&gt;
::*Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
::*The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
::*Prologue - Winter&lt;br /&gt;
::*Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume6_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Live A Live&lt;br /&gt;
::*Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
::*Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
::*Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
::*The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume7_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 &lt;br /&gt;
::*Chapter 5 &lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Chapter 7&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume8 Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
::*Wandering Shadow&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume9_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Suzumiya Haruhi Theater series ===&lt;br /&gt;
::*Suzumiya Haruhi Theater&lt;br /&gt;
::*Haruhi Theater Act.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Interview with Tanigawa Nagaru|Interview with Tanigawa Nagaru]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Project Staff ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Project Administrator: [[User:thelastguardian|thelastguardian]]&lt;br /&gt;
*Project Supervisor: [[user:Onizuka-gto|Onizuka-gto]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Translators ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Editors ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Series Overview ==&lt;br /&gt;
* Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱 (Published June 6, 2003, ISBN 4-04-429201-9)&lt;br /&gt;
* Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息 (Published September 30, 2003, ISBN 4-04-429202-7)&lt;br /&gt;
* Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈 (Published December 27, 2003, ISBN 4-04-429203-5)&lt;br /&gt;
* Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失 (Published July 31, 2004, ISBN 4-04-429204-3)&lt;br /&gt;
* Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走 (Published September 30, 2004 ISBN 4-04-429205-1)&lt;br /&gt;
* Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺 (Published March 31, 2005, ISBN 4-04-429206-X)&lt;br /&gt;
* Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀 (Published August 31, 2005, ISBN 4-04-429207-8)&lt;br /&gt;
* Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨 (Published May 1, 2006, ISBN 4-04-429208-6)&lt;br /&gt;
* Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂 (Published April 1, 2007, ISBN 978-4-04-429209-6)&lt;br /&gt;
* Volume 10 - &#039;&#039;The Surprise of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第十巻: 涼宮ハルヒの驚愕 (Expected Summer 2007, ISBN N/A)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17343</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Bab01</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Bab01&amp;diff=17343"/>
		<updated>2007-06-11T03:54:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: vol 02 ch 01 80%&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Bab I&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu dari waktu ke waktu, dan sekolahku mengadakan pertandingan olahraga bulan lalu. Waktu Haruhi mengusulkan agar Brigade SOS berpartisipasi dalam lomba lari estafet antar-klub, salah satu dari sekian banyak pertandingan di hari itu, aku merasa agak ragu. Lebih parah lagi, kami akhirnya mengalahkan Klub Atletik dan Klub Rugby di lari estafet ketika Haruhi mengalahkan pelari di peringkat kedua dengan selisih tiga belas meter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkat itu, klub kami beralih dari suatu pantangan yang tidak boleh dibicarakan, hanya diobrolkan secara diam-diam (dengan aku sebagai perkecualian), menjadi gosip terkini di sekolah, mengingatkanku pada anak nakal yang iseng menarik tuas alarm kebakaran. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi hal ini, tetapi masih ada lagi. Tentu saja Haruhilah yang menjadi pelaku utama dalam peristiwa ini, tetapi Nagato, yang menjadi pelari kedua, sama saja bersalah. Aku tak akan bisa melupakan kecepatannya, yang hanya bisa dideskripsikan sebagai pergerakan seketika. Nagato, kau setidaknya harus memberitahuku sebelum kau melakukannya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu aku bertanya pada Nagato tentang sihir macam apa yang dia pakai kali ini, si interface humanoid hidup yang diciptakan alien tanpa emosi menjawab dengan istilah-istilah seperti “penempatan energi”, “dispersi molekul” dan jargon-jargon lain. Tentunya penjelasan seperti itu tidak berarti apa-apa bagiku karena aku sudah memutuskan untuk memahami aspek artistiknya dan meninggalkan aspek ilmiahnya, aspek yang sama sekali tidak kumengerti dan tidak kucoba untuk dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hari pertandingan olahraga yang menggemparkan itu berakhir, sebulan berlalu dan festival sekolah datang. Jadi pada saat ini, sekolah prefektural yang tidak menonjol ini sedang sibuk mempersiapkan diri menjelang festival... walaupun orang-orang yang benar-benar melakukan sesuatu hanyalah para guru dan anggota panitia penyelenggara dan klub-klub seni, karena inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sedikit merenggangkan otot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omong-omong tentang kontribusi klub-klub di festival, Brigade SOS, yang sampai saat ini belm menjadi klub resmi, tidak diharuskan untuk menyumbangkan atraksi kreatifnya. Sebenarnya, kalau dibolehkan sebagai kontribusi klub, aku tidak berkeberatan untuk menyekap kucing liar di kandang dan memasang tanda bertuliskan “Makhluk Asing Dari Luar Bumi”, lalu menampilkannya seperti atraksi sampingan di sirkus, dan menghasilkan uang. Walaupun kalau kupikir lagi, hal ini tidaklah bijak karena orang-orang yang ridak memiliki rasa humor akan merasa sangat marah sementara orang-orang yang memiliki rasa humor hanya akan mentertawakan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atraksi jenis ini tidak memerlukan pertimbangan serius tentang nilai-nilai moral ataupun kesuksesan – bahkan tidak memerlukan suatu usaha yang nyata. Hal inipun berlaku bagi atraksi yang lainnya. Festival sekolah di dunia nyata memang bisa separah ini. Kalau kau mengira aku hanya bercanda, coba saja kunjungi festival sekolah yang manapun. Kau akan menyadari bahwa atraksi semacam itu dianggap sebagai hal yang wajar pada festival sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain, apa sih yang akan dilakukan kelas I-5, kelasku dan Haruhi, pada hari itu? Ternyata kami akan menyebarkan semacam angket yang bodoh. Aku menganggapnya sebagai alasan agar kami tampak seperti mengerjakan sesuatu untuk festival. Sejak Asakura Ryouko menghilang musim semi ini, kelas kami tidak lagi mempunyai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Jadi karena tidak adanya partisipasi siswa, ide yang tidak kreatif ini dimunculkan dengan susah-payah oleh Okabe-sensei pada waktu sesi pertemuan-dengan-wali-kelas yang panjang dan membosankan. Tanpa ada yang berkeberatan atau menolak, usulan ini disetujui, dan sesi pertemuan wali kelas pun berakhir. Tapi angket macam apa? Siapa yang benar-benar tertarik melakukan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seorangpun, kukira. Tapi, karena ini sudah ditetapkan, selamat berjuang kawan-kawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, dengan mengidap sindroma apatis, aku berjalan dengan gontai ke ruang klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa aku pergi ke sana, katamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, karena seorang gadis dominan yang mendatangiku dan mengoceh tanpa henti, “Angket apaan? Ini bodoh sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata dengan wajah marah, “Maksudku, dimana serunya? Aku sama sekali tak mengerti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa kau tidak mengusulkan sesuatu yang lebih baik? Bukankah kau ada di sana juga, menatap Okabe-sensei yang berdiri seperti yang hantu kesepian, tidak tahu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, aku toh tidak pernah berniat mengikuti kegiatan kelas apapun. Tidak menyenangkan beraktivitas dengan anak-anak itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah kau berkontribusi pada kelas dengan memenangkan semua lomba lari antar kelas di hari pertandingan olahraga? Kukira itu kamu yang mendapat giliran terakhir di lari estafet jarak dekat, sedang, dan jauh. Ataukah ingatanku yang salah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu beda.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apanya yang beda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah adalah festival sekolah, atau dengan kata lain, pesta kampus. Walaupun sekolah umum jarang disebut sebagai kampus, tapi itu tidak penting. Lagipula, bukankah festival sekolah adalah aktivitas paling penting di sepanjang tahun ajaran?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul sekali!” Dia mengangguk dengan semangat, lalu berputar menghadapku dan mengumumkan hal berikut ini, “Brigade SOS akan melakukan sesuatu yang sangat menarik!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah Suzumiya Haruhi kini bersinar dengan determinasi yang sama seperti Hannibal, yang memutuskan untuk menyeberangi pegunungan Alpen pada Perang Punic Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya boleh bersinar, tapi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan belakangan, apapun yang Haruhi anggap “menarik” sama sekali tidak menarik bagiku, dan keinginannya berhasil melelahkanku. Setidaknya begitu bagiku dan Asahina, tapi karena kami hanyalah manusia biasa. Dari pandanganku, adalah rahasia umum bahwa Haruhi bukanlah orang normal, sementara Koizumi memiliki pola pikir yang tidak bisa ditemukan pada pikiran orang biasa. Sedangkan Nagato, dia bahkan bukan manusia dari awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul dengan orang-orang ini, bagaimana aku dapat melewati kehidupan sekolah yang luar biasa ini dengan tenang? Aku benar-benar tidak mau terlibat dalam hal-hal konyol lagi. Hanya memikirkannya saja cukup untuk mendorongku menodongkan pistol pada dahiku, atau mengambil dan membakar sel-sel otak yang menyimpan ingatan itu. Meskipun aku tidak tahu apa kira-kira komentar Haruhi tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghapus memori-memori masa lalu itu karena aku tidak menangkap apa yang diocehkan gadis menyebalkan yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, Kyon, kau mendengarkan tidak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak, sampai dimana tadi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Festival sekolah! Kau seharusnya lebih semangat! Festival sekolah kan hanya setahun sekali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin benar, tapi kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu saja aku harus memikirkannya! Bukan festival sekolah namanya kalau tidak seru. Harusnya seperti pesta-pesta kampus yang kutahu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kau melakukan sesuatu yang konyol waktu SMP?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, waktu itu sama sekali tidak seru. Jadi tidak wajar kalau festival sekolah tidak seru juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi apa yang menurutmu menarik?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misalnya hantu betulan yang muncul di rumah hantu; jumlah undakan di tangga sekolah tiba-tiba bertambah; misteri-misteri sekolah bertambah jumlahnya dari tujuh menjadi tiga belas; gaya Afro tiga kali lebih besar dari ukuran normal tiba-tiba muncul di rambut kepala sekolah; gedung sekolah berubah menjadi robot raksasa dan bertempur melawan monster bawah laut; atau bahkan mengapa musim gugur dipenuhi bunga sakura yang mekar...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan setengah jalan, aku berhenti memperhatikan ocehan Haruhi, jadi aku lupa apa katanya setelah jumlah tangga. Kalau ada orang yang mendengarkan, tolong beri tahu aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...Hhh, lupakan saja. Aku ceritakan lebih jauh waktu kita sampai di ruangan klub.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melangkah dengan langkah-langkah panjang ke arah ruangan klub, dan sebentar kemudian kami sampai di pintu. Papan nama di atas pintu bertuliskan “Klub Sastra”; di bawahnya ada selembar kertas yang ditempel dengan isolasi, dan bertuliskan “bersama Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kita sudah menempati ruangan ini selama setengah tahun, kukira tidak ada yang keberatan kalau kita mengambil alih ruangan ini untuk kita sendiri.” Haruhi secara sepihak mengumumkan kedaulatannya atas ruangan itu dan awalnya ingin melepas papan nama yang asli, tapi aku mencegahnya. Lagipula, adalah hal penting bagi manusia untuk berhati-hati dalam setiap tindakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi membuka pintu tanpa mengetuk, dan di dalam ruangan ada seorang peri kecil. Waktu mata kami bertemu, dia tersenyum bagai bunga lili yang sedang merekah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh... halo.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengenakan kostum maid dan sedang menyapu ruangan adalah gadis pembuat teh terbaik, kebanggaan Brigade SOS – Asahina Mikuru-san. Seperti biasanya, dia tersenyum manis – senyum yang pantas bagi peri penunggu ruangan klub ini – dan menyambut kedatanganku. Mungkin dia benar-benar peri yang sedang menyamar. Dia terasa lebih mirip dengan peri daripada penjelajah waktu dari masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina diseret secara paksa oleh Haruhi pada waktu pendirian Brigade SOS, karena seperti kata Haruhi, “kita membutuhkan maskot.” Lalu atas perintah Haruhi, dia dipaksa mengenakan kostum maid dan sejak saat itu menjadi pelayan resmi Brigade SOS. Setiap hari setelah sekolah dia akan berubah menjadi maid yang sempurna. Ini bukan karena ada sekrup yang lepas di otaknya, tapi lebih karena dia begitu jujur dan tulus, sehingga aku hampir menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina pernah berpakaian sebagai bunny girl, perawat dan segala macam kostum lainnya untuk Brigade SOS. Namun aku berpikir bahwa kostum maid-lah yang paling cocok dengannya. Sederhananya, ini karena kostum ini tidak mempunyai makna terselubung atau innuendo, oleh karena itu aku berharap dia akan terus begitu. Mungkin aku harus menekankan sesuatu: tingkah laku Haruhi hampir tidak mempunyai makna di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tingkah lakunya seringkali menjadi pemicu bagi hal lain, hal yang menimbulkan banyak kesusahan bagi kami. Jadi sebenarnya aku merasa akan lebih baik bila tindakannya benar-benar tidak bermakna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si eksentrik Haruhi jarang sekali melakukan sesuatu dengan benar, atau bisa dibilang dia hanya pernah sekali melakukan hal yang benar, yaitu memilih kostum maid untuk Asahina. Saking cocoknya kostum itu dengannya, penampilannya bisa membuat orang tertegun dan pusing. Inilah satu-satunya tindakan eksentrik Haruhi yang bisa kupuji. Aku tidak tahu dimana dia membelinya dan berapa harganya, tapi Haruhi memiliki selera tersendiri untuk urusan kostum-kostum yang elegan. Walaupun kukira Asahina akan terlihat hebat mengenakan pakaian apapun, persis seperti model profesional. Dan kostum favoritku dari semuanya adalah kostum maid. Pasti kostum ini mempunyai makna tersendiri, karena kostum ini selalu berhasil memuaskan indera penglihatanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat teh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata dengan suara lembutnya yang menawan. Dia menyimpan sapu di lemari pembersih dan berjalan dengan panik ke arah lemari dapur, mengeluarkan cangkir untuk semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku tiba-tiba merasakan sakit yang sangat, dan ketika aku sadar kembali, aku sadar Haruhi baru saja menyikutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Matamu sekarang telah menyipit sampai setipis garis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin aku terlalu tergerak oleh gerak-gerik manis Asahina, jadi secara alamiah mataku menyipit sampai hanya menyisakan celah kecil. Aku percaya semua orang akan bereaksi sama setelah melihat Asahina yang manis, elegan dan pemalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berjalan menuju meja dengan piramid hitam kecil yang bertuliskan “Komandan”, dan mengeluarkan pita lengan yang juga bertuliskan “Komandan” dari laci, lalu memakainya. Dia kemudian menendang keluar kursi baja dari bawah meja dan mendudukinya, menghadap ke ruangan klub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duduk di sudut meja sambil membaca sebuah buku tebal, adalah anggota brigade yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang duduk penuh konsentrasi dalam membaca bukunya adalah tidak lain dari Nagato Yuki, siswa kelas satu anggota Klub Sastra, yang di mata Haruhi adalah seperti “hadiah langsung dari pengambilalihan ruangan Klub Sastra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaannya setipis nitrogen di atmosfer, tapi dari semua siswa kelas satu anggota Brigade, dia adalah yang paling luar biasa. Keluarbiasaannya jauh melebihi Haruhi. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Haruhi, tapi meskipun aku tahu sedikit tentang Nagato, hal ini malah membuat dia semakin membingungkan. Kalau apa yang dikatakan Nagato benar, berarti anak sekolah mungil berambut pendek yang pendiam dan tanpa ekspresi, emosi dan empati ini bukanlah manusia, melainkan suatu interface humanoid hidup yang diciptakan oleh alien untuk berinteraksi dengan manusia. Hal ini masih terdengar sangat absurd. Tapi karena dia sendiri yang bilang begitu, aku tidak bertanya lebih jauh karena terdengar nyata. Tentu saja, Haruhi tidak tahu-menahu soal ini; Haruhi masih menganggapnya sebagai “anak kutu buku yang agak aneh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun secara objektif, mengatakan “agak” di sini terlalu mengecilkan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memelototi Asahina dengan pandangannya yang tajam. Asahina bergidik sebentar, lalu berkata, “Eh... d..dia belum datang, dia agak terlambat hari ini...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengeluarkan daun teh dari kalengnya dengan hati-hati dan menempatkannya di teko teh kecil. Aku iseng melihat rak gantung di pojok ruangan klub. Segala macam kostum tergantung di sana, seperti ruang ganti di teater. Dari kiri, ada kostum perawat, kostum bunny girl, kostum maid untuk musim panas, yukata, blus putih, kostum kulit macan tutul, kostum katak dari wol, dan bermacam-macam kostum lain yang tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama enam bulan ke belakang, semua kostum ini pernah menyentuh kulit hangat Asahina. Biar kujelaskan lebih jauh, sebetulnya tidak ada alasan sama sekali bagi Asahina untuk memakai kostum-kostum ini, selain untuk memuaskan ego Haruhi. Mungkin dia pernah mengalami suatu trauma di masa lalu? Misalnya tidak mempunyai boneka yang dia inginkan waktu kecil, sehingga sekarang dia melihat Asahina sebagai boneka besar untuk bermain. Berkat hal ini, luka-luka emosi Asahina bertambah seiring bertambahnya hari, sementara indera penglihatanku menjadi terangsang dan menimbulkan kebahagiaan bagiku. Yah, secara umum, kukira tidak banyak orang yang mendapat manfaat dari hal ini, jadi sebaiknya aku tidak berkata apa-apa tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan, teh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh.. ya! Segera!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina dengan terburu-buru menuangkan teh hijau ke dalam cangkir bertuliskan “Haruhi” dan membawanya dengan baki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mengambil cangkir teh, meniup uapnya lalu menyeruput tehnya. Dia lalu berbicara seperti guru merangkai bunga yang mencela muridnya yang malas, “Mikuru-chan, aku ingat pernah memberitahumu sebelumnya. Kau sudah lupa, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?” Asahina memeluk bakinya dengan sedikit takut. “A...ada apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memiringkan kepalanya, seperti burung gelatik Jawa yang sedang mengingat-ingat rasa biji-bijian yang dia makan kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaruh cangkirnya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waktu mengantarkan teh, kau harus tersandung dan menumpahkan cangkir teh secara tidak sengaja, sekali tiap tiga kali! Kau benar-benar tidak mirip seperti maid yang ceroboh!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, eh... m...maaf.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina mengangkat bahu kecilnya. Ini pertama kalinya aku mendengar aturan semacam itu; memangnya gadis ini benar-benar percaya bahwa maid haruslah ceroboh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau mempunyai kesempatan sekarang. Mikuru-chan, gunakanlah Kyon untuk latihan. Waktu membawa teh, pastikan kau menumpahkan teh ke atas kepalanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina berkata demikian, lalu menoleh kepadaku. Aku benar-benar ingin mengebor kepala Haruhi dan mengganti isinya. Sayangnya, aku tidak menemukan apa-apa di dalamnya dan hanya bisa mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina, cuma orang yang otaknya rusak yang bisa memikirkan sesuatu seperti yang dikatakan Haruhi barusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Jadi teruslah bekerja dengan baik!&#039;&#039; Aku ingin menambahkan itu, tapi kuputuskan tidak jadi akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi mendengarnya dan mendelik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Si bodoh yang di sana, aku tidak bercanda! Aku selalu serius.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti masalahnya lebih parah lagi; kau mungkin butuh CT scan. Lagipula, aku ingin tahu apakah jika aku marah padamu karena kau memanggilku bodoh berarti aku tidak punya rasa humor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lupakan saja, biar aku memberi contoh. Lalu ikuti apa yang kulakukan, Mikuru-chan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi melompat dari kursi baja dan menyambar baki dari Asahina yang tergagap. Dia lalu mengangkat teko teh dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang bertuliskan namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku melihat adegan ini sambil tertegun, Haruhi dengan kasar menaruh cangkir di baki, menumpahkan teh kemana-mana, lalu menatap tempat aku duduk dan mengangguk untuk menandakan dia akan mendatangiku. Aku langsung mengambil cangkirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei! Jangan mengganggu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa maksudmu jangan mengganggu? Orang-orang yang dengan senang hati duduk diam dan menunggu seseorang menumpahkan teh panas ke atas kepala mereka hanyalah orang-orang yang terlalu baik atau sedang berusaha menipu perusahaan asuransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aku berdiri dan meminum teh hijau yang dibuatkan Haruhi untukku sambil berpikir: meskipun berasal dari daun teh yang sama, mengapa teh buatan Asahina terasa sangat berbeda dari buatan Haruhi? Jawaban sudah jelas, bahkan tanpa dipikir. Perbedaannya adalah bahan bernama “cinta”. Jika Asahina adalah mawar putih yang tumbuh liar, maka Haruhi adalah mawar jenis tertentu yang tidak berbunga dan penuh duri; bahkan mungkin tidak berbiji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memandangku dengan pandangan menegur selagi aku meminum teh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmph.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyibak rambutnya dengan kasar dan kembali ke tempat duduknya. Mukanya tampak seperti dia baru saja menelan jamu yang pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menghela nafas lega dan kembali mengantar teh seperti biasa, menuangkan teh ke cangkir Nagato dan menaruhnya di depan si gadis yang sedang membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato tidak bergerak, matanya tetap terfokus pada buku. Kau harusnya mencoba mengekspresikan semacam rasa terima kasih! Kalau kau adalah Taniguchi, kau mungkin harus menunggu tiga hari untuk bisa meminum teh buatan Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato membalik halaman buku tanpa mengangkat kepala. Karena memang dia biasanya begitu, Asahina tidak terlalu peduli dan mulai mempersiapkan tehnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu, anggota kelima datang, walaupun tidak ada yang berkeberatan kalau dia tidak datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, aku terlambat. Pertemuan kelas ternyata lebih lama dari yang kukira.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sedang berdiri di pintu memperlihatkan senyumnya yang mempesona dan tak berbahaya adalah Koizumi Itsuki, siswa pindahan yang misterius. Wajahnya yang tampan, yang tak akan kuperlihatkan pada pacarku seandainya aku punya, tersenyum seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nampaknya akulah yang terakhir datang. Kalau rapatnya terhambat gara-gara aku, aku mohon maaf dengan tulus. Mungkin lebih baik apabila kita makan dulu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat? Rapat apa? Aku tidak tahu ada rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pasti lupa kalau kau tidak membicarakannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menidurkan kepalanya di meja, Haruhi berkata kepadaku, “Aku sudah memberitahukannya ke semua pada saat istirahat makan siang. Kukira aku bisa memberitahumu kapan saja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau punya waktu untuk pergi ke kelas lain, tapi kau tidak berusaha untuk memberitahuku, yang kebetulan duduk tepat di depanmu di kelas yang sama?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah itu penting? Toh sama saja. Masalahnya bukan kapan kau menerima pesannya, tapi apa yang kita lakukan sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah caranya mengurus masalah. Apapun yang dikatakan Haruhi, aku tidak akan merasa lebih baik. Semua orang tahu itu sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang lebih penting adalah, kita perlu mendiskusikan apa yang telah kita lakukan dalam waktu dekat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong! Betulkan dulu kalimatmu! Kau bahkan tidak menjelaskan siapa yang harus melakukan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita semua, tentunya! Ini kan kegiatan Brigade SOS.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukannya aku baru saja mengatakannya? Kapan lagi kita bisa mengadakan kegiatan selain selama festival sekolah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti ini bukan kegiatan klub, tapi kegiatan sekolah. Kalau kau benar-benar ingin membuat festival sekolah lebih hidup, kau harusnya mendaftar menjadi panitia festival. Dengan begitu kau akan punya banyak tugas remeh yang harus kau kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu tidak ada maknanya sama sekali. Yang kita butuhkan adalah kegiatan dengan gaya Brigade SOS! Perlu kerja keras untuk mengembangkan brigade ini sampai ke keadaan sekarang! Tidak ada orang di sekolah yang tidak tahu siapa kita! Tidakkah kau mengerti?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sih yang dimaksud dengan kegiatan bergaya Brigade SOS? Mengingat kembali aktivitas Brigade SOS selama enam bulan ke belakang, aku tiba-tiba merasa sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengatakan apapun yang muncul di benakmu, mudah bagimu, tapi apakah kau tahu betapa menderitanya aku dan Asahina enam bulan ini? Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Koizumi hanyalah tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Nagato tidak banyak membantu, kau harusnya lebih mengasihani orang seperti aku, yang selalu ada di sampingmu. Oh, Asahina mungkin tidak normal juga, tapi karena dia sangat cantik, tidak apa-apa buatku. Karena yang perlu dia lakukan hanyalah berdiri di situ, membiarkan mataku menikmati pemandangan dan mengisi hatiku yang hampa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus melakukan sesuatu yang sesuai dengan harapan orang-orang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian Haruhi bergumam, sambil terlihat tertekan. Omong-omong, memangnya siapa yang mengharapkan sesuatu dari Brigade SOS? Nah, itu pertanyaan yang cocok untuk dibuat angket! Brigade SOS bahkan belum berkembang, jumlah anggotanya masih tetap, masih jauh dari meningkat menjadi sebuah Asosiasi. Sementara mempertahankan status quo lebih baik, tapi cepat atau lambat, Kereta Ekspres Haruhi akan anjlok. Hanya ada lima orang penumpang di kereta ini, setidaknya carikan pengganti buatku. Atau mungkin tolong berikan gaji per jam, bahkan 100 yen pun cukup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menghabiskan tiga puluh detik menghabiskan tehnya, lalu meminta cangkir kedua ke Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana denganmu, Mikuru-chan? Punya rencana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... Kalau kau maksud kelasku... Kami berencana menjual mi dan teh...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mikuru-chan nampaknya jadi pelayan, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Asahina melebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kau tahu? Tadinya aku ingin memasak, tapi semua orang ingin aku supaya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi terlihat tertarik, matanya seperti mata cerdik yang tidak berniat baik. Pandangannya bergeser ke arah rak baju, memperjelas pikirannya bahwa dia belum pernah memakaikan kostum pelayan pada Asahina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ekspresi Haruhi nampak penuh pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan kelas Koizumi-kun?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koizumi mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami memutuskan untuk menampilkan drama, tapi pendapat kelas terpecah. Sebagian orang menginginkan naskah buatan sendiri, sementara yang lain ingin menampilkan drama klasik. Festival sekolah sebentar lagi, tapi kami masih berdebat dengan sengit tentang hal ini. Masih perlu beberapa waktu sampai muncul suatu keputusan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kelas yang hidup tentunya jauh lebih baik, walau kadang-kadang merepotkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Haruhi kini beralih pada si anggota pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan Yuki?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si alien yang senang membaca kini mengangkat kepalanya seperti luak yang merasakan datangnya hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menjawab tanpa emosi, seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ramalan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memotong dan bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, yang bahkan wajahnya tidak terlihat seperti sedang bernafas, mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau yang bertugas meramal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nagato, ahli nujum? Ramalan apa yang akan dia buat? Aku dapat membayangkan Nagato memakai topi runcing hitam, jubah hitam dan membawa-bawa bola kristal, lalu membayangkan suatu adegan dimana dia memberitahu sepasang orang yang berpacaran, “Hubungan kalian berdua akan putus dalam waktu lima puluh delapan hari tiga jam dan lima menit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kau mengarang kebohongan yang lebih baik? Tapi apakah Nagato benar-benar bisa meramal masa depan adalah misteri lain yang tidak akan bisa kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelas Asahina akan membuka warung makanan, Koizumi akan bermain drama, sedangkan kelas Nagato membuka jasa ramalan? Mengapa kegiatan kelas lain kedengarannya jauh lebih menarik daripada kegiatan angket kelas kami? Oh, ya, bagaimana menurutmu? Bagaimana kalau kita gabungkan semua dan mengadakan drama tentang meramal dalam pesta teh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pembicaraan bodohnya, rapat dimulai sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapatku ditendang dengan kasar oleh Haruhi, yang sedang berjalan ke white board. Dia memanjangkan tongkat penunjuk sampai sepanjang antena radio dan memukulkannya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisannya di situ, apa yang harusnya kulihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan ada tulisannya sebentar lagi. Mikuru-chan, kau bertugas menulis. Catatlah dengan hati-hati segala perkataanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kapan Asahina menjadi notulen? Kukira tidak ada yang tahu, karena Haruhi baru saja memutuskannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, pembuat teh dan notulen, mengambil spidol white board dan duduk di dekat white board, menatap wajah Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berkata dengan nada bergairah, “Brigade SOS akan membuat film!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar tidak mengerti cara kerja otak Haruhi. Tidak begitu penting, dia memang selalu seperti itu. Tapi kalau begitu ini bukanlah rapat, melainkan kesempatan untuk memamerkan keinginan pribadimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah selama ini selalu begitu?” Koizumi berkata dengan lembut, sambil tersenyum dengan tampan, saking tampannya orang akan bergegas ingin menggambarnya. Koizumi membuka mulutnya dengan elegan, “Suzumiya-san mungkin sudah memutuskan apa yang ingin dia lakukan sejak awal, jadi kukira tidak ada hal yang akan didiskusikan. Apakah kau menceritakannya sesuatu yang harusnya tidak kau ceritakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak ingat bercerita tentang film hari ini. Mungkin dia menonton suatu film kelas C tadi malam, merasa sangat bosan dan sekarang dia mencari jalan untuk melampiaskan rasa frustasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Haruhi yakin pidatonya telah menyentuh seluruh penonton dan terlihat sangat gembira, “Kukira kalian ingin bertanya sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya ingin mempertanyakan cara kerja otakmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau serial TV tamat, biasanya karakter utamanya mati, tapi bukankah hal itu tidak alami? Kenapa dia harus mati di akhir cerita? Sama sekali tidak logis, jadi aku benci cerita-cerita dimana seseorang mati di akhirnya. Aku tidak akan pernah membuat film semacam itu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sedang membicarakan film atau serial TV?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah tadi kubilang kita akan membuat film? Bahkan telinga patung haniwa-pun lebih besar dari telingamu. Ingatlah setiap kata yang baru saja kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku mengingat-ingat nama setiap stasiun kereta terdekat daripada mengingat-ingat retorika darimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina, yang tidak kelihatan seperti anggota Klub Kaligrafi, menuliskan kata-kata “Pembuatan Film” dengan elegan di white board. Haruhi menganggukkan kepalanya dengan puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah, kau mengerti sekarang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berbicara seperti peramal cuaca ceria yang memperkirakan hujan muson akan berhenti sebentar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajar kalau aku bertanya demikian. Aku hanya mengerti “Pembuatan Film”. Dimana dia bisa menemukan studio film yang mau membiayai filmnya? Apakah dia sudah menemukan studio?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupil mata Haruhi yang gelap berkilat-kilat selagi dia tersenyum cerah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, intelegensimu sudah berkurang ya? Tentu saja kita yang akan membuat filmnya. Film ini akan dipertunjukkan di festival sekolah, dengan caption “Brigade SOS Mempersembahkan” di bagian awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sejak kapan kita berubah menjadi Klub Film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang kau ocehkan? Kita akan selalu menjadi Brigade SOS! Aku tidak tahu ada Klub Film di sekitar sini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa perasaan, Haruhi mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat marah anak-anak Klub Film kalau mereka mendengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini sudah diputuskan sejak lama! Tidak ada peninjauan kembali! Permohonan banding selanjutnya akan ditolak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pemimpin juri Brigade SOS berkata demikian, kukira hal ini tidak akan bisa dibatalkan. Siapa sih sebenarnya yang mendorong Haruhi ke atas tahta komando Brigade SOS? Tidak, tunggu sebentar, kalau dipikir lagi, dia sendirilah yang mengklaim tahta itu untuk dirinya sendiri. Di dunia manapun kau berada, pastilah orang-orang bersuara keras dan megah yang mempunyai ego yang terus melambung. Berkat hal ini, orang-orang seperti aku dan Asahina, yang cenderung mengikuti arus, akan selalu merasa bingung. Inilah konflik dalam realitas yang kejam dan dingin; ini juga hal yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi pikiranku menyelam ke dalam pertanyaan filosofis tentang apa yang menjadi persyaratan sebuah masyarakat ideal....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi begitu,” kata Koizumi, seolah-olah dia mengerti semuanya. Dia membagi rata senyumnya antara aku dan Haruhi sambil berkata, “Aku mengerti sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, Koizumi, jangan begitu saja menerima bom yang baru saja dijatuhkan Haruhi! Tidakkah kau punya pendapat sendiri tentang hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan jarinya, Koizumi menyibak belahan rambutnya dengan ringan, “Dari apa yang kulihat, kita akan membuat film sendiri untuk menarik pengunjung agar mau menontonnya. Betulkah begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tepat!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi memukulkan “antena”nya pada white board.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina bergidik, namun masih mempunyai keberanian untuk berkata, “Tapi... kenapa memutuskan membuat film?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi malam, aku tidak bisa tidur,” Haruhi memegang antena di depan matanya dan mengayunkannya seperti wiper kaca mobil, “jadi aku menyalakan TV dan, ujung-ujungnya, menonton film yang aneh. Awalnya aku tak tertarik, tapi karena tak ada hal lain yang bisa kukerjakan, aku memutuskan untuk menontonnya juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat seperti dugaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Film itu membosankan sekali, saking membosankannya aku sangat ingin menelepon saluran internasional dan menjahili si sutradara di rumahnya, jadi aku mendapat ide ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujung tongkat konduktor kini menunjuk pada wajah Asahina yang mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau film semacam itu bisa muncul, berarti aku pasti bisa membuat yang lebih baik dari itu!” Haruhi membusungkan dadanya dengan percaya diri dan berkata, “Itulah mengapa aku ingin mencobanya, apa ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asahina menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti ketakutan. Bahkan jika dia mempunyai pendapat sendiri, Asahina kemungkinan tidak akan mengatakan apa-apa, sementara Koizumi adalah yes-man yang hanya mengangguk-angguk, dan Nagato biasanya juga tidak pernah berbicara, jadi satu-satunya orang yang akan mengatakan sesuatu pastilah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tampaknya sangat ingin menjadi sutradara dan produser film, kami tak berkeberatan, itu pilihanmu dan kau bisa mengejar impianmu seperti yang kau inginkan. Itu berarti kami sekarang bisa maju dan mengejar mimpi kami juga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir Haruhi maju keluar seperti bebek. Dengan sabar aku menjelaskan analisis detailku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau bilang kau ingin membuat film, tapi kami belum berkomentar apapun. Bagaimana jika kami tidak menyukai usul ini? Sebuah film tidak bisa dibuat hanya dengan sutradara seorang diri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang, aku sudah membuat skenarionya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan, bukan itu maksudku....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lakukan saja apa yang kusuruh, jadi jangan khawatir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biarkan aku yang melakukan perencanaan, aku akan mengurus semuanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku lebih khawatir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uhh, kau memang menyebalkan! Aku akan mengerjakan apa yang kubilang akan kukerjakan. Targetnya adalah peringkat pertama dalam polling festival sekolah! Siapa tahu, orang-orang bodoh di OSIS akhirnya akan mengakui Brigade SOS sebagai klub resmi... Tidak! Aku akan &#039;&#039;membuat&#039;&#039; mereka mengakui kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita mesti mengarahkan opini publik agar mendukung kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini publik dan polling tidak selalu berbanding lurus, lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba bertahan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan biaya produksi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau maksudmu anggaran, kita punya kok.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mana? Aku tidak percaya OSIS akan mau mengucurkan anggaran dana ke organisasi bawah tanah yang beraktivitas secara terbuka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah Klub Sastra punya anggaran juga?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu anggaran dana milik Klub Sastra! Kau tidak bisa memakainya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi Yuki bilang tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh. Aku memandang wajah Nagato, sementara Nagato dalam gerak lambat mengangkat kepalanya untuk menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, dia dengan perlahan bergerak kembali ke bukunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bukankah ada orang yang mungkin ingin masuk Klub Sastra?&#039;&#039; Aku tidak bermaksud mengeluarkan pertanyaan ini, karena mungkin saja Nagato sengaja mengatur agar Klub Sastra berada di jurang pembubaran. Dia tampaknya sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Haruhi; sangat disayangkan apabila ada orang lain yang ingin bergabung dengan Klub Sastra sekarang. Aku sangat menginginkan ada orang yang mengambil kembali Klub Sastra dari cengkeraman Haruhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi tidak mengetahui apa yang kupikirkan, dan sambil mengayun-ayunkan antenanya dengan gembira, ia berkata, “Semuanya sudah mengerti sekarang? Anggaplah aktivitas ini lebih penting daripada aktivitas kelasmu! Apabila ada yang berpendapat lain, bilang kepadaku setelah festival sekolah, OK? Perintah sutradara adalah mutlak!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi berpidato penuh gairah, seperti beruang grizzly di kebun binatang yang sedang menggenggam es batu di tengah-tengah musim panas. Lingkugan sekitarnya tidak lagi penting baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya dia komandan brigade, kini dia ingin jadi sutradara? Jalur karir mana yang diinginkannya? ... dan jangan katakan kau ingin menjadi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hari ini sekian! Aku harus memikirkan pemilihan pemain dan kru serta mencari sponsor. Ada banyak hal yang terlibat dalam pembuatan film.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak yakin apa saja yang terlibat dalam pembuatan film, tapi apa sih yang dia inginkan? Sponsor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Bluk!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bunyi keras yang menggema di sekeliling ruangan. Aku menoleh dan melihat Nagato menutup bukunya. Bunyi itu kini sudah menjadi aba-aba tak resmi bagi berakhirnya kegiatan Brigade SOS hari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita diskusikan ditelnya besok!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(80% selesai)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| border=&amp;quot;1&amp;quot; cellpadding=&amp;quot;5&amp;quot; cellspacing=&amp;quot;0&amp;quot; style=&amp;quot;margin: 1em 1em 1em 0; background: #f9f9f9; border: 1px #aaaaaa solid; padding: 0.2em; border-collapse: collapse;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| Return to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
| Go to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version|Main Page]]&lt;br /&gt;
| Back to [[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=16997</id>
		<title>Suzumiya Haruhi (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=16997"/>
		<updated>2007-06-07T03:54:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: /* Volume 2 - &amp;#039;&amp;#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&amp;#039;&amp;#039; */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;This is the page for the Indonesian translation, and requires cleanup!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Suzumiya Haruhi series is available in the following languages:&lt;br /&gt;
*[[SPA_Suzumiya_Haruhi|Español (Spanish)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%28version_fran%C3%A7aise%29|Français (French)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Vietnamese_version|Tiếng Việt (Vietnamese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Italian_Version|Italiano (Italian)]] &lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_PT-br|Português do Brasil (Brazilian Portuguese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi|English]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Note: Translation progress varies for each version.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Story Synopsis ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Not your average Japanese High School Story! Kyon is a first year student at North High. Sitting behind him is an intelligent, energetic and very bored Suzumiya Haruhi who introduces herself as having no interest in &amp;quot;normal humans&amp;quot; and that any aliens, time travelers, sliders, or espers should come forward and join her. Why is she so particular about non-humans? &amp;quot;Because humans are no fun at all!&amp;quot; Kyon is soon wrapped up in this unusual girl&#039;s attempts to make life more interesting, and quickly discovers the world is a lot more amazing than Haruhi could ever be allowed to know.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Translation ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|Registration]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translators are asked to [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|register]] which chapters they&#039;re working on (see the [[Format_guideline#Translators|Guideline]] page for usage rules).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Format Standards ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Every Chapter (after editing) must conform to the agreed points highlighted in the below guidelines&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi:Guideline|Project Specific translation and format conventions]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Updates ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*May 25, 2007&lt;br /&gt;
**Indonesian version project page created!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== The &#039;&#039;Suzumiya Haruhi&#039;&#039; series, by [[Tanigawa Nagaru]] ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter1|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter3|Chapter 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter4|Chapter 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter5|Chapter 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter6|Chapter 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter7|Chapter 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Epilogue|Epilogue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Author&#039;s Notes|Author&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Editor&#039;s Notes|Editor&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume2_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]] &lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Chapter01|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
::*Chapter 2  &lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Full Text|Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈]] ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
::*Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
::*Mystérique Sign&lt;br /&gt;
::*Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume4_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume5_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue - Summer&lt;br /&gt;
::*Endless Eight&lt;br /&gt;
::*Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
::*The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
::*Prologue - Winter&lt;br /&gt;
::*Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume6_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Live A Live&lt;br /&gt;
::*Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
::*Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
::*Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
::*The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume7_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 &lt;br /&gt;
::*Chapter 5 &lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Chapter 7&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume8 Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
::*Wandering Shadow&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume9_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Suzumiya Haruhi Theater series ===&lt;br /&gt;
::*Suzumiya Haruhi Theater&lt;br /&gt;
::*Haruhi Theater Act.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Interview with Tanigawa Nagaru|Interview with Tanigawa Nagaru]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Project Staff ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Project Administrator: [[User:thelastguardian|thelastguardian]]&lt;br /&gt;
*Project Supervisor: [[user:Onizuka-gto|Onizuka-gto]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Translators ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Editors ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Series Overview ==&lt;br /&gt;
* Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱 (Published June 6, 2003, ISBN 4-04-429201-9)&lt;br /&gt;
* Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息 (Published September 30, 2003, ISBN 4-04-429202-7)&lt;br /&gt;
* Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈 (Published December 27, 2003, ISBN 4-04-429203-5)&lt;br /&gt;
* Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失 (Published July 31, 2004, ISBN 4-04-429204-3)&lt;br /&gt;
* Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走 (Published September 30, 2004 ISBN 4-04-429205-1)&lt;br /&gt;
* Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺 (Published March 31, 2005, ISBN 4-04-429206-X)&lt;br /&gt;
* Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀 (Published August 31, 2005, ISBN 4-04-429207-8)&lt;br /&gt;
* Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨 (Published May 1, 2006, ISBN 4-04-429208-6)&lt;br /&gt;
* Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂 (Published April 1, 2007, ISBN 978-4-04-429209-6)&lt;br /&gt;
* Volume 10 - &#039;&#039;The Surprise of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第十巻: 涼宮ハルヒの驚愕 (Expected Summer 2007, ISBN N/A)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=16996</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Halaman Registrasi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=16996"/>
		<updated>2007-06-07T03:48:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;To re-iterate the registration procedure:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;quot;First Come, First Served&amp;quot;: please register your intended chapters here&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*The maximum number of chapters you are recommended to work on is no more then half of any given  volume&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of Translators per volume is two&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of volumes you may be active on is one&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*This is not some Binding Contract of &amp;quot;I must do the work I put down here&amp;quot;. Choices put down here are negotiable between translators (including their own selves who signed up for it).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== List ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Chapter 1 - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 2 - [[User:Nandaka|Nandaka]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 3 - [[User:Nandaka|Nandaka]]&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;   &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Silverhammer|Silverhammer]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 1 - [[User:Silverhammer|Silverhammer]]&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
**Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
**Mystérique Sign&lt;br /&gt;
**Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
**Prologue - Summer&lt;br /&gt;
**Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
**The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
**Prologue - Winter&lt;br /&gt;
**Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 6 - &#039;&#039;The Trembling of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Live A Live&lt;br /&gt;
**Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
**Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
**Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
**The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀&lt;br /&gt;
**Color Illustrations -&#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨&lt;br /&gt;
**Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
**Wandering Shadow&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Active ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Interview with Tanigawa Nagaru&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.1‎&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.2‎&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Registration Page]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Prologue&amp;diff=16995</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Jilid2 Prologue</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Jilid2_Prologue&amp;diff=16995"/>
		<updated>2007-06-07T03:41:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: vol 02 prolog draft 01&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;THE SIGHS OF SUZUMIYA HARUHI&lt;br /&gt;
Keluh-kesah Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prolog&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi nampaknya adalah orang yang tidak mempunyai kecemasan. Tapi, dia punya. Hanya, hal yang dia cemaskan adalah “Dunia ini terlalu membosankan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuknya, “hal-hal yang tidak membosankan” adalah fenomena supranatural apapun, maksudnya dia sering memikirkan hal seperti “Aku tak percaya tidak ada sebatang hidungpun hantu yang muncul di depanku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus memberitahumu bahwa “hantu” juga bisa diganti dengan “alien”, “penjelajah waktu”, atau “esper”. Namun, semua orang tahu bahwa makhluk-makhluk ini hanya muncul di novel fiksi. Mereka tidak ada di dunia nyata ini. Berarti, selama Haruhi terus hidup di dunia ini, dia akan terus merasa terganggu oleh fakta ini. Dunia memang seharusnya seperti ini; tanpa hal-hal yang tak biasa. Tetapi beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidupku belum lama ini membuatku sangat sulit untuk mempercayai fakta ini; aku juga merasa terganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku tahu bahwa alien, penjelajah waktu, dan esper memang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengarkan aku, aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukankah kau selalu menginginkan agar alien, penjelajah waktu atau esper benar-benar ada?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul. Terus kenapa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan kata lain, tujuan dari Brigade SOS adalah menemukan orang-orang itu. Betul, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak hanya menemukan, kita juga harus bisa bermain bersama. Menemukan mereka saja tidak cukup, aku ingin ikut berpartisipasi, tidak hanya sebagai bagian dari penonton.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku selalu berharap aku hanya menonton dari pinggir... yah, begitulah. Tapi pernahkah kau berpikir bahwa para alien, penjelajah waktu dan esper mungkin, secara mengejutkan, sangat dekat dengan kita?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah? Apa maksudmu? Jangan-jangan maksudmu Yuki, Mikuru, atau Itsuki? Kalau itu mereka, berarti itu tidak terlalu “mengejutkan”.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm... sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa memang merekalah selama ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kau idiot? Tidak mungkin semudah itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar, dalam standar normal ini akan menjadi terlalu sederhana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Lalu katakan, siapakah aliennya?”&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
“Kau akan sangat senang mendengarnya. Nagato Yuki-lah aliennya. Hmm, bagaimana mengatakannya, ya? Harusnya Entitas bla bla Terintegrasi... atau Entitas bla bla Data... seperti itu lah. Pada dasarnya, diciptakan oleh alien lalu diberikan tubuh manusia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmm, lalu bagaimana dengan Mikuru?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Asahina-san mudah dijelaskan: dia seorang penjelajah waktu. Dia datang dari masa depan. Tidak masalah memanggilnya penjelajah waktu, kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu dari berapa tahun ke depan dia berasal?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tahu, dia tidak memberitahuku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, aku mengerti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betulkah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berarti Itsuki adalah esper? Apakah kau dari awal berencana untuk menceritakan itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menaikkan alisnya selagi ia berbicara, lalu secara perlahan menarik nafas, dan berteriak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti itulah, Haruhi benar-benar membuang kebenaran yang buatku sangat susah untuk dikeluarkan. Yah, sudah bisa diduga. Bahkan setelah ketiga orang itu menggunakan cara mereka masing-masing untuk menunjukkan kepadaku bahwa mereka adalah benar-benar alien, penjelajah waktu, dan esper, benakku masih diliputi keraguan. Membuat Haruhi mempercayai ini, terutama mengingat bahwa dia tidak melihat apa yang telah kulihat, adalah hampir tidak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa lagi yang bisa kukatakan? Aku telah menceritakan kepadanya kebenaran yang sebenar-benarnya. Walaupun aku tidak tampak seperti orang yang benar-benar bisa dipercaya, kalau aku tahu bahwa tidak ada manfaat yang bisa didapat dari berbohong, aku akan mengatakan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebenarnya Haruhi juga tidak bisa disalahkan. Kalau seseorang yang ramah mendatangiku dan berkata “Orang yang kau kenal itu sebenarnya adalah seseorang yang sangat luar biasa...” kukira aku juga akan kehilangan kesabaranku dan mulai berteriak padanya. Kalau seseorang mengatakan hal seperti itu padaku dengan muka yang tulus, aku mungkin akan berpikir bahwa otaknya telah diinfeksi semacam virus, atau telah dikacaukan oleh gelombang beracun. Mungkin aku akan merasa simpati untuk orang itu. Bagaimanapun kukira aku akan berhenti mengobrol dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, sekarang, bukankah “seseorang” itu aku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kyon, buka telingamu dan dengar baik-baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menatapku dengan pandangan berapi-api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak penting apakah itu alien, penjelajah waktu, atau esper. Mereka tidak akan muncul dengan santai di depan kita seperti itu! Apakah kau tahu betapa berharganya mereka? Kalau kita menemukan mereka, kita harus menerkam lehernya, mengikat, lalu menggantung mereka agar tidak bisa kabur! Orang-orang yang aku tarik secara acak dari jalanan untuk bergabung dengan klub kita tidak mungkin begitu langka dan berharga!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wow, sebetulnya logis juga. Tapi selain diriku, tiga orang lainnya benar-benar dikaruniai karakteristik supranatural. Aku satu-satunya manusia biasa. Tunggu sebentar, apakah dia bilang tadi dia hanya menarik orang secara acak ke klubnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hhh, mengapa gadis bodoh ini berpikir logis hanya pada topik-topik yang aneh? Kalau dia mau mempercayaiku, semuanya akan menjadi lebih sederhana. Setidaknya Brigade SOS yang aneh ini dapat dibubarkan, karena tujuan satu-satunya klub ini dibentuk adalah menemukan alien et al untuk Haruhi. Begitu dia menemukan hal semacam itu, tidak ada gunanya lagi mengurus klub ini. Setelah itu, dia dapat bermain dengan makhluk-makhluk aneh itu sepuasnya, sementara aku diam di pinggir dan menambahkan sedikit tawa di sana-sini. Kuharap ini terjadi secepatnya, karena sekarang aku merasa seperti binatang sirkus yang dipaksa untuk tampil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, jika Haruhi mempunyai kesadaran sedikit saja akan apa yang terjadi di sekelilingnya, aku tidak tahu dunia akan seperti apa jadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya, aku harus memberitahumu bahwa hanya dua orang yang ikut dalam dialog ini, sejak awal. Ini terjadi pada kegiatan klub “Brigade SOS berkeliaran di kota (nama sementara)” yang kedua, ketika aku mengobrol dengan Haruhi di dalam restoran dekat stasiun. Aku tidak ragu bahwa Haruhi akan membayar makanannya; aku menjelaskan semua itu dengan sangat natural selagi aku menyeruput kopiku. Tapi dia sama sekali tidak menganggapku serius. Namun aku tidak keberatan. Siapapun yang mempercayai hal semacam itu harus memeriksakan otak mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan denganku, aku tidak peduli untuk menceritakannya lebih spesifik, karena detail-detail dalam hal semacam ini hanya akan menambah kecurigaan. Karena semua hal ini datang dariku: orang yang diseret ke apartemen Nagato dan harus mendengarkan rangkaian penjelasan yang panjang dan membingungkan, tidak ada alasan untuk curiga bahwa ada sesuatu yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mau lagi mendengar lelucon tak lucu seperti ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruhi menelan seluruh jus sayuran kuning kehijauan dari gelasnya, dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo pergi! Kita tidak bisa berpisah menjadi dua kelompok hari ini, jadi kita berputar-putar saja! Oh ya, aku lupa membawa dompet hari ini. Ini bonnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi aku menatap bon delapan ratus tiga puluh yen itu, memikirkan bagaimana caranya memprotes kekejaman ini, Haruhi menyambar kopiku dan menghabiskannya. Ini meninggalkan kesan bahwa dia tidak akan menerima protes apapun. Dia kemudian berjalan keluar dari restoran, dan berdiri di depan pintu otomatis dengan tangan disilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setengah tahun telah berlalu sejak itu. Kalau kupikirkan lagi sekarang, nampaknya aku mengalami banyak fenomena aneh sepanjang enam bulan ke belakang. Nama resmi Brigade SOS masih “Selamatkan Orang-orang sedunia dengan keceriaan Suzumiya Haruhi” (“The Save our world by Overloading it with fun Suzumiya Haruhi&#039;s Brigade&amp;quot;), yang membuatku merinding. Aku tidak tahu bagaimana klub ini membawa keceriaan. Kupikir hanya Haruhi yang merasakan keceriaan yang harusnya ditimbulkan. Selain itu, alasan keberadaan klub ini masih misterius. Tujuan awalnya adalah sesuatu tentang bermain dengan alien, menculik penjelajah waktu, dan bertarung di sisi para esper. Tapi dari  perspektif Haruhi, tujuan ini masih belum tercapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena Haruhi percaya bahwa dia belum bertemu dengan alien, penjelajah waktu, atau esper. Kesimpulan ini tidak bisa kuubah. Aku sudah menceritakan identitas asli tiga anggota lain, tetapi dia tidak mau mempercayaiku. Jadi ini sudah bukan tanggungjawabku lagi, kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Brigade SOS gagal mencapai tujuan yang diinginkan, dengan demikian telah kehilangan alasan keberadaannya, klub ini masih belum dibubarkan. Bahkan sekarang, organisasi yang tak diakui ini masih eksis secara rahasia di Gedung Tua (Old Shack).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, lima anggotanya, termasuk aku, masih memilih untuk nongkrong di ruang klub setiap hari. Organisasi Siswa (OSIS), setelah beberapa rapat dan tingkat analisis yang berbeda, nampaknya telah memilih untuk mengacuhkan kami. Mereka tidak menyetujui berkas-berkas pendaftaran klub, tetapi juga tidak berkomentar mengenai pengambilalihan paksa Klub Sastra. Mungkin karena satu-satunya anggotanya, Nagato Yuki, tidak mempermasalahkan keberadaan kita di sini. Namun, aku pribadi percaya bahwa OSIS tidak mau beradu argumen dengan Haruhi, sehingga mereka pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa tidak ada seorangpun di dunia yang akan dengan sengaja menginjak sesuatu yang bertuliskan “Peringatan: meledak bila diinjak”  dengan lampu neon merah. Bahkan aku tidak berani. Kalau saja aku tahu, aku tak akan berbicara dengan gadis keras kepala itu yang memasang ekspresi tidak bersahabat setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang anak sekolah normal yang secara tidak sengaja menekan tombol pengaktifan bom waktu, dan sekarang terpaksa membawa-bawa bom itu seperti orang goblok – itulah aku. Dan bom waktu bernama “Suzumiya Haruhi” ini bahkan tidak mempunyai penghitung waktu. Aku tidak tahu kapan bom ini akan meledak, seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkan, atau barang apa lagi yang ada di dalamnya. Bahkan yang lebih penting lagi, aku tidak tahu apakah bom ini asli atau tidak. Mungkin ini hanya mainan untuk menipu anak kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak dapat menemukan tong sampah yang bertuliskan “Hanya untuk Bahan Berbahaya”, betapa kerasnya aku mencarinya. Ini berarti, entitas berbahaya yang telah kuaktifkan ini diliputi oleh lem super, lengket di tanganku, lebih lengket dari hal-hal lain yang mungkin ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hhh... Dimana aku bisa menemukan tempat untuk membuangnya?&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=16841</id>
		<title>Suzumiya Haruhi (Indonesia)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_(Indonesia)&amp;diff=16841"/>
		<updated>2007-06-04T06:07:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: /* Volume 2 - &amp;#039;&amp;#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&amp;#039;&amp;#039; */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;This is the page for the Indonesian translation, and requires cleanup!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Suzumiya Haruhi series is available in the following languages:&lt;br /&gt;
*[[SPA_Suzumiya_Haruhi|Español (Spanish)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%28version_fran%C3%A7aise%29|Français (French)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Vietnamese_version|Tiếng Việt (Vietnamese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Italian_Version|Italiano (Italian)]] &lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi_PT-br|Português do Brasil (Brazilian Portuguese)]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi|English]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Note: Translation progress varies for each version.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Story Synopsis ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Not your average Japanese High School Story! Kyon is a first year student at North High. Sitting behind him is an intelligent, energetic and very bored Suzumiya Haruhi who introduces herself as having no interest in &amp;quot;normal humans&amp;quot; and that any aliens, time travelers, sliders, or espers should come forward and join her. Why is she so particular about non-humans? &amp;quot;Because humans are no fun at all!&amp;quot; Kyon is soon wrapped up in this unusual girl&#039;s attempts to make life more interesting, and quickly discovers the world is a lot more amazing than Haruhi could ever be allowed to know.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Translation ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|Registration]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Translators are asked to [[%7EIndonesian%7E_Suzumiya_Haruhi_Registration|register]] which chapters they&#039;re working on (see the [[Format_guideline#Translators|Guideline]] page for usage rules).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Format Standards ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Every Chapter (after editing) must conform to the agreed points highlighted in the below guidelines&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*[[Format_guideline|General Format/Style Guideline]]&lt;br /&gt;
*[[Suzumiya_Haruhi:Guideline|Project Specific translation and format conventions]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Updates ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*May 25, 2007&lt;br /&gt;
**Indonesian version project page created!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== The &#039;&#039;Suzumiya Haruhi&#039;&#039; series, by [[Tanigawa Nagaru]] ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Prologue|Prologue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter1|Chapter 1]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter2|Chapter 2]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter3|Chapter 3]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter4|Chapter 4]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter5|Chapter 5]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter6|Chapter 6]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Chapter7|Chapter 7]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Epilogue|Epilogue]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Author&#039;s Notes|Author&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume1_Editor&#039;s Notes|Editor&#039;s Notes]]&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume2_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi_%7E_Indonesian_Version:Volume2_Prologue|Prologue]] &lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2  &lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Full Text|Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈]] ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume3_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
::*Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
::*Mystérique Sign&lt;br /&gt;
::*Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume4_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4&lt;br /&gt;
::*Chapter 5&lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume5_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue - Summer&lt;br /&gt;
::*Endless Eight&lt;br /&gt;
::*Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
::*The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
::*Prologue - Winter&lt;br /&gt;
::*Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume6_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Live A Live&lt;br /&gt;
::*Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
::*Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
::*Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
::*The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya_Haruhi:Volume7_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Chapter 4 &lt;br /&gt;
::*Chapter 5 &lt;br /&gt;
::*Chapter 6&lt;br /&gt;
::*Chapter 7&lt;br /&gt;
::*Epilogue&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume8 Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
::*Wandering Shadow&lt;br /&gt;
::*Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; ===&lt;br /&gt;
::*[[Suzumiya Haruhi:Volume9_Illustrations|Color Illustrations]]&lt;br /&gt;
::*Prologue&lt;br /&gt;
::*Chapter 1&lt;br /&gt;
::*Chapter 2&lt;br /&gt;
::*Chapter 3&lt;br /&gt;
::*Translator&#039;s Notes and References&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Suzumiya Haruhi Theater series ===&lt;br /&gt;
::*Suzumiya Haruhi Theater&lt;br /&gt;
::*Haruhi Theater Act.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===[[Interview with Tanigawa Nagaru|Interview with Tanigawa Nagaru]] ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Project Staff ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Project Administrator: [[User:thelastguardian|thelastguardian]]&lt;br /&gt;
*Project Supervisor: [[user:Onizuka-gto|Onizuka-gto]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Translators ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Editors ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;ACTIVE&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Series Overview ==&lt;br /&gt;
* Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱 (Published June 6, 2003, ISBN 4-04-429201-9)&lt;br /&gt;
* Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息 (Published September 30, 2003, ISBN 4-04-429202-7)&lt;br /&gt;
* Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈 (Published December 27, 2003, ISBN 4-04-429203-5)&lt;br /&gt;
* Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失 (Published July 31, 2004, ISBN 4-04-429204-3)&lt;br /&gt;
* Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走 (Published September 30, 2004 ISBN 4-04-429205-1)&lt;br /&gt;
* Volume 6 - &#039;&#039;The Wavering of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺 (Published March 31, 2005, ISBN 4-04-429206-X)&lt;br /&gt;
* Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀 (Published August 31, 2005, ISBN 4-04-429207-8)&lt;br /&gt;
* Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨 (Published May 1, 2006, ISBN 4-04-429208-6)&lt;br /&gt;
* Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂 (Published April 1, 2007, ISBN 978-4-04-429209-6)&lt;br /&gt;
* Volume 10 - &#039;&#039;The Surprise of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第十巻: 涼宮ハルヒの驚愕 (Expected Summer 2007, ISBN N/A)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=16840</id>
		<title>Suzumiya Haruhi ~ Indonesian Version:Halaman Registrasi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://www.baka-tsuki.org/project/index.php?title=Suzumiya_Haruhi_~_Indonesian_Version:Halaman_Registrasi&amp;diff=16840"/>
		<updated>2007-06-04T06:00:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Silverhammer: /* List */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;To re-iterate the registration procedure:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;quot;First Come, First Served&amp;quot;: please register your intended chapters here&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*The maximum number of chapters you are recommended to work on is no more then half of any given  volume&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of Translators per volume is two&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Maximum number of volumes you may be active on is one&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*This is not some Binding Contract of &amp;quot;I must do the work I put down here&amp;quot;. Choices put down here are negotiable between translators (including their own selves who signed up for it).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== List ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 1 - &#039;&#039;The Melancholy of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第一巻: 涼宮ハルヒの憂鬱&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Chapter 1 - [[User:Orekun|Orekun]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 2 - [[User:Nandaka|Nandaka]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Chapter 3 - [[User:Nandaka|Nandaka]]&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 2 - &#039;&#039;The Sighs of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第二巻: 涼宮ハルヒの溜息&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - [[user:velocity7|velocity7]] - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;   &lt;br /&gt;
**Prologue - [[User:Silverhammer|Silverhammer]]&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 3 - &#039;&#039;The Boredom of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第三巻: 涼宮ハルヒの退屈&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**The Boredom of Suzumiya Haruhi&lt;br /&gt;
**Bamboo Leaf Rhapsody&lt;br /&gt;
**Mystérique Sign&lt;br /&gt;
**Lone Island Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 4 - &#039;&#039;The Disappearance of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第四巻: 涼宮ハルヒの消失&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 5 - &#039;&#039;The Rampage of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第五巻: 涼宮ハルヒの暴走&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
**Prologue - Summer&lt;br /&gt;
**Prologue - Autumn&lt;br /&gt;
**The Day of Sagittarius&lt;br /&gt;
**Prologue - Winter&lt;br /&gt;
**Snow Mountain Syndrome&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 6 - &#039;&#039;The Trembling of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第六巻: 涼宮ハルヒの動揺&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
**Live A Live&lt;br /&gt;
**Asahina Mikuru&#039;s Adventure Episode 00&lt;br /&gt;
**Charmed at First Sight LOVER&lt;br /&gt;
**Where did the Cat Go?&lt;br /&gt;
**The Melancholy of Asahina Mikuru&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 7 - &#039;&#039;The Intrigues of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第七巻: 涼宮ハルヒの陰謀&lt;br /&gt;
**Color Illustrations -&#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
**Chapter 4&lt;br /&gt;
**Chapter 5&lt;br /&gt;
**Chapter 6&lt;br /&gt;
**Chapter 7&lt;br /&gt;
**Epilogue&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 8 - &#039;&#039;The Indignation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第八巻: 涼宮ハルヒの憤慨&lt;br /&gt;
**Editor in Chief★Straight Ahead!&lt;br /&gt;
**Wandering Shadow&lt;br /&gt;
**Author&#039;s Notes&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Active ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Volume 9 - &#039;&#039;The Dissociation of Suzumiya Haruhi&#039;&#039; / 第九巻: 涼宮ハルヒの分裂&lt;br /&gt;
**Color Illustrations - &#039;&#039;&#039;Completed&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
**Prologue&lt;br /&gt;
**Chapter 1&lt;br /&gt;
**Chapter 2&lt;br /&gt;
**Chapter 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Interview with Tanigawa Nagaru&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.1‎&lt;br /&gt;
*Haruhi Theater act.2‎&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Registration Page]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Silverhammer</name></author>
	</entry>
</feed>